Title: The Holy Grail War
Cast: Exo Members (ot12), other idols, OCs
Pairing: (Main) KaiSoo, ChanBaek, Slight!KaiBaek, other will be revealed later.
Rating: T/M for later chapters
Warning: Fate/Stay Night!AU, yaoi, typo, tidak sesuai dengan EYD
Disclaimer: Member EXO milik Tuhan dan keluarganya. Fate/Stay Night ©TYPE-MOON. I don't own anything except my OCs.
A/N: Kata-kata yang diketik dengan huruf italic adalah dialog dalam hati atau telepati(?). FF ini terinspirasi dari Visual Novel Fate/Stay Night jadi akan ada sedikit kemiripan ^^.
Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, baru kali ini Kim Jongin melihat sosok yang semenarik ini. Wajahnya terlihat tampan tapi ia juga terlihat cantik. Kulitnya putih pucat namun tampak berkilau terkena cahaya sinar bulan yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu. Rambutnya berwarna hitam legam, sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Matanya lebar dan memberikan kesan innocent, tapi ada sesuatu di dalam kedua bola mata hitam itu yang membuat Jongin merasa terpesona dan terintimidasi dalam waktu yang bersamaan.
Pemuda pemilik pemilih bibir merah muda berbentuk hati itu kemudian berkata,
"Kau telah memanggilku kemari dan aku menjawab jawablah kau adalah Master-ku?"
Pagi itu Kim Eunhee sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk adik tiri kesayanganya Kim Jongin dan teman lelakinya, Do Kyungsoo. Wanita berusia 25 tahun itu melirik jam yang menempel di dinding dapur, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi tapi adik laki-lakinya itu belum keluar juga dari kamarnya. Eunhee menghela nafas panjang kemudian melepas apron yang ia gunakan, dia berfikir apakah sebaiknya ia membangunkan Jongin atau tidak karena semalam bocah itu pulang terlambat. Akhirnya Eunhee mengurungkan niatnya lalu membuatkan dirinya secangkir kopi, tak lama kemudian seseorang memasuki ruang makan.
"Pagi Noona.." Ujar Jongin, sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Oh kau sudah bangun ternyata. Mana Kyungsoo?"
"Dia masih tidur, aku rasa dia masih kelelahan karena semalam ia terjaga sampai larut malam."
"UHUK! UHUK!" Eunhee tersedak kopinya, dengan segera Jongin menepuk-nepuk punggung Noonanya itu,
"Noona, kau tidak apa-apa kan? Ini minumlah air putih." Ujar Jongin sambil memberikan segelas air putih untuk kakak perempuannya itu. Eunhee meneguk air itu sampai habis lalu meletakkanya di atas meja, ia memicingkan matanya ke arah Jongin.
"Kelelahan karena terjaga sampai larut malam?" Desisnya. Jongin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Eunhee menarik telinga adiknya dengan kasar, "Yah! Kan sudah kubilang jangan lakukan 'itu' jika aku sedang dirumah! Aisssh anak ini! Kontrol sedikit hormonmu itu!"
"Awawawawaw! Noona sakit! Aku tidak melakukan apapun dengan Kyungsoo…AW! Noonaaaa lepaskan." Eunhee melepaskan tangannya dari telinga Jongin yang mulai memerah.
"Terserah kau mau bilang apa, dasar anak muda zaman sekarang." Gumamnya lalu ia mengiris pancakenya dengan ukuran yang besar dan melahapnya dalam satu suapan.
Jongin diam saja dan memotong pancakenya sambil menggumamkan sesuatu seperti—Noona kan juga pernah melakukan 'itu' sewaktu masih SMA dulu—. Tapi Eunhee berpura-pura tidak mendengarnya dan memainkan tabnya.
Tiba-tiba dua bersaudara itu mendengar bunyi langkah kaki mendekati ruang makan, yang ternyata adalah Kyungsoo yang baru bangun dari tidurnya. Rambut hitamnya acak-acakan seperti sarang burung, ia menggunakan sweater milik Jongin—yang sudah jelas kebesaran untuknya, dan ia tidak menggunakan celana.
Biar ku ulangi, ia tidak menggunakan celana.
Tidak-menggunakan-celana.
Kyungsoo-tanpa-celana.
Pant-less.
Eunhee menjerit histeris dan Jongin hanya bisa menatap lelaki di depannya itu dengan tatapan kosong, ia menelan ludahnya ketika ia melihat paha Kyungsoo yang putih dan mulus itu. Lelaki berkulit tan itu menggelengkan kepalanya sebelum ia membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Jongin!" Ujar Kyungsoo, membuat Eunhee berhenti berteriak dan membuyarkan lamunan Jongin.
"Iya Soo?"
"Kita perlu bicara. Sekarang." Kata Kyungsoo, ia terdengar serius dan ada sedikit rasa kesal di dalam suaranya itu. Tanpa disuruh dua kali, Jongin beranjak dari tempat duduknya kemudian mengikuti Servantnya itu keluar dari ruang makan.
"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Jongin.
Kyungsoo menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya secara perlahan, alisnya mengekerut dan bibirnya ditekuk ke bawah, mata lebarnya menatap Jongin dengan tajam. Sudah jelas sekali kalau ia terlihat sedang kesal.
"Kau..sedang marah ya?" Tanya Jongin lagi, kali ini ia berjalan mundur satu langkah. Takut kalau-kalau Kyungsoo akan memotongnya menjadi potongan-potongan kecil.
"Jongin.." Kata Kyungsoo sambil mengatur nafasnya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kenapa kau melanggar janjimu padaku kemarin?"
"Eh..itu—"
"Yah! Kalian berdua, sarapanlah terlebih dahulu. Nanti saja bertengkarnya." Teriak Eunhee dari ruang makan. Kyungsoo, mendengar kata 'sarapan' langsung berjalan meninggalkan Jongin, dan sebelum memasuki ruang makan ia melirik Masternya dengan tatapan jangan-coba-coba-untuk-kabur. Jongin tidak punya pilihan lain selain mengkuti apa yang Servantnya itu inginkan. Dan hal ini membuatnya berfikir, sebenarnya siapakah yang menjadi Master saat ini? Dirinya atau Kyungsoo?
Eunhee menatap lelaki mungil di depannya dengan takjub, untuk ukuran tubuh se kecil itu porsi makan Kyungsoo bisa dibilang sangat banyak. Ini sudah piring ke empatnya dan lelaki berambut hitam itu masih saja melahap pancakenya,
"Boleh aku minta tambah lagi?" Ujar Kyungsoo, sambil menyodorkan piringnya kea rah Eunhee, wanita itu hanya berkedip sambil mengamati piring makan yang bersih tak bernoda di depannya itu.
"Kyungsoo-ya, ini piring ke empatmu. Kau yakin mau tambah?"
Kyungsoo menganggukan kepalanya tanpa ragu,dan Eunhee meletakkan beberapa buah pancake lagi diatas piringnya. Kyungsoo menggumamkan terimakasih kemudian kembali memakan sarapannya, tidak mempedulikan Jongin yang sedari tadi menatapnya. Melihat adik lelakinya itu Eunhee menyenggol lengan lelaki itu dengan sikutnya,
Jongin menolehkan kepalanya ke arah Noonanya, "Ada apa Noona?" Bisiknya.
"Kalian berdua.." Bisik Eunhee sambil melirik Kyungsoo yang sedang menuangkan sirup maple keatas pancakenya, "Sebenarnya apa yang terjadi semalam?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya pulang terlambat dan Kyungsoo tidak senang dengan hal itu."
"Kau tidak berbuat yang macam-macam kan?" Tanya Eunhee.
Jongin memutar bola matanya, "Noona, sudah berapa kali aku bilang padamu kalau aku tidak akan berbuat yang macam-macam—"
"Aku sudah selesai dengan makanku. Terimakasih atas makanannya Eunhee-ssi." Potong Kyungsoo tiba-tiba, membuat dua kakak beradik itu menghentikan pembicaraanya.
"Ah, iya sama-sama. Oh, sudah jam segini rupanya." Ujar Eunhee setelah ia melirik jam, kemudian wanita itu beranjak dari tempat duduknya, "Aku pergi dulu ya? Kalian berdua cepat selesaikan masalah kalian. Dan jangan lupa gunakan pengaman kalau-kalau nanti kalian—"
"Noona!" Rengek Jongin dengan pipi yang memerah, membuat kakak perempuannya itu tertawa terbahak-bahak sambil berlalu.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Jongin menatap Kyungsoo yang dari tadi melemparkan pandangannya ke arah lain. Diam-diam Jongin beranjak dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan Kyungsoo sendirian tanpa suara, tapi percuma saja. Kursi yang ia duduki berderit saat ia dengan tidak sengaja menyenggolnya dengan kakinya membuat Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke arah Jongin yang membatu di tempatnya berdiri.
"Kau pikir kau mau kemana Jongin? Masih ada hal yang harus kita bicarakan." Ujar Kyungsoo. Jongin menghela nafas panjang kemudian kembali ke tempat duduknya. Ia memangku dagunya dengan kedua telapak tangannya, menunggu kapan Kyungsoo membuka mulutnya. Tapi lelaki berambut hitam itu hanya diam saja sambil menatap Jongin dengan wajah datar.
15 Menit berlalu, dan mereka berdua sedari tadi hanya diam saja sambil beradu pandang. Jongin memutuskan kontak mata mereka dengan melihat jam di ponselnya, setengah jam lagi ia harus sudah berada di sekolah. Lelaki berkulit tan itu lalu berkata,
"Soo, kalau kau berniat untuk membicarakan sesuatu padaku bicaralah. Jangan hanya diam saja dan menatapku seperti itu."
Lagi-lagi Kyungsoo hanya diam saja. Kesal, Jongin beranjak dari tempat duduknya, "Aku harus pergi sekarang. Kita bicarakan saja lagi nanti."
"Kenapa kau melanggar janjimu padaku kemarin?"
Jongin menolehkan kepalanya ke arah Kyungsoo. Akhirnya servantnya itu bicara juga, "Umm..aku tidak punya pilihan lain." Jawab Jongin asal, membuat kerutan di dahi Kyungsoo makin dalam.
"Aku ingat sekali kalau aku menyuruhmu untuk memanggilku dengan command spell milikmu jika kau sedang berada dalam bahaya. Tetapi kau malah tidak melakukannya dan lebih memilih melawan Rider sendirian."
"Eh, itu—" Jongin menggaruk pipinya, "Aku tidak memiliki banyak waktu untuk memanggilmu. Jadi, yeah..kau tahu sendiri kan?"
Kyungsoo tidak berkata apa-apa dan hanya memandang wajah Masternya itu dengan tajam, tak lama kemudian ia berkata, "Rider menyerangmu, dan kau anggap hal itu bukanlah hal yang berbahaya? Begitukah?"
"….."
"Selain itu kau juga tidak terlihat serius dengan statusmu sebagai seorang Master." Ujar Kyungsoo sambil menuangkan orange juice ke dalam gelasnya kemudian meneguknya. "Lalu, seharusnya kau berdiskusi denganku jika kau akan membuat aliansi dengan Baekhyun."
"Oh..jadi kau tidak setuju?"
"Bukan begitu. Justru sebaliknya, karena pengetahuanmu tentang sihir masih sangat sedikit aku harap kau bisa belajar dari Baekhyun yang notabene berasal dari keluarga magus yang kuat. Tapi Baekhyun juga seorang Master Jongin, ia adalah musuh yang suatu hari nanti pasti akan kau hadapi. Karena itulah aku ingin kau lebih berhati-hati dalam membuat kesepakatan dengannya."
Jongin menundukkan kepalanya, "Kau benar Soo, tapi kau tidak perlu khawatir karena Baekhyun—"
DING DONG
Bel rumah milik keluarga Kim berbunyi. Jongin menatap Kyungsoo meminta izin apakah ia boleh membukakan pintu atau tidak dan Kyungsoo menganggukan kepalanya,
"Aku pakai celanaku dulu." Ujar lelaki bertubuh mungil itu sambil beranjak dari tempat duduknya. Jongin sama sekali lupa kalau dari tadi Kyungsoo tidak menggunakan celananya, karena itulah wajahnya terasa panas ketika ia melihat Kyungsoo berjalan keluar dari ruang makan dan dengan tidak sengaja sweater yang ia gunakan sedikit terangkat, memperlihatkan paha mulus milik lelaki itu.
"Kontrol dirimu Kim Jongin!" Batin Jongin sambil menepuk pipinya. Lagi-lagi bel rumahnya bordering, kali ini terdengar lebih cepat seakan-akan yang menekan tombol itu sudah tidak sabar.
"Tunggu sebentar!" Sahut Jongin kemudian berjalan ke arah pintu utama dan membukanya. Dibalik pintu itu berdirilah Byun Baekhyun yang sedang melipat kedua tangannya sambil memicingkan matanya, pipinya menggembung dan bibir merah mudanya mengerucut kesal. Beberapa kali ia menghentak-hentakkan kakinya keatas tanah dengan kesal.
"Baekhyun?"
"Ya, itu namaku. Selamat pagi Kim, sampai kapan kau akan membiarkanku menunggu di depan rumahmu hah?"
"Me-menunggu?"
"Iya menunggu. Mulai hari ini kita akan berangkat sekolah bersama-sama. Mengerti?" Tukas Baekhyun sambil berkacak pinggang, Lelaki berambut sandy brown itu sedikit mencondongkan kepalanya dan mengintip Kyungsoo yang sudah berdiri di belakang Jongin. "Kyungsoo-ya! Annyeong! Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?"
Kyungsoo mengerutkan alisnya, tetapi tetap menganggukan kepalanya. Membuat Baekhyun menjerit kecil kemudian berjalan menghampiri Kyungsoo dan memeluknya gemas. "Aigoo, kau manis sekali. Kau baru bangun ya? Jongin memperlakukanmu dengan baik kan?"
"Ugh.."
"Baek, kau membuatnya takut." Ujar Jongin sambil membantu Kyungsoo melepaskan dirinya dari Baekhyun. Lelaki berambut hitam itu kemudian merapikan kemeja miliknya. Jongin baru sadar kalau ia sudah mengganti pakaiannya.
"Kau mau kemana? Rapi sekali." Tanya Jongin, Kyungsoo melirik Masternya itu lalu berkata, "Aku akan ikut kalian berdua ke sekolah." Jawabnya datar.
Baekhyun melebarkan matanya kemudian melirik Jongin, "Hee~ jadi semalam kau mendengarkan omelanku dengan baik sampai-sampai kau menyuruh Servantmu ikut denganmu kemanapun kau pergi?" ujarnya sambil tersenyum jahil. Dengan cepat Jongin menggelengkan kepalanya, "Tidak! Aku tidak pernah menyuruhnya untuk ikut denganku kemanapun aku pergi. Kyungsoo, apa maksud dari semua ini? Sebaiknya kau—"
"Tinggal dirumah saja?" Potong Kyungsoo sambil sedikit memiringkan kepalanya, kemudian lelaki pemilik bibir berbentuk hati itu menyunggingkan seulas senyum yang terlihat terpaksa sambil menggelengkan kepalanya. "Jongin, sudah berapa kali aku bilang padamu kalau kau dan aku adalah seorang Master dan Servant. Dan sudah seharusnya aku, sebagai seorang Servant melindungimu, Masterku."
"Tapi—"
"Hey-hey kalian berdua, kenapa malah ribut-ribut didepanku begini? Kyungsoo-ya, aku tahu sebenarnya niatmu baik. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan." Ujar Baekhyun, menengahi Kyungsoo dan Jongin.
Servant berkelas Saber itu mengangkat satu alisnya, "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bagaimana caranya kau menutupi identitasmu? Jongin tidak memiliki mana yang cukup banyak untuk membuatmu tidak terlihat seperti apa yang dilakukan Chanyeol."
"Chanyeol? Dia disini?" Tanya Jongin. Baekhyun memutar bola matanya, "Daritadi dia sudah berada disini Jonginnie. Jadi Kyung? Bagaimana?"
Kyungsoo terlihat tidak yakin beberapa saat, "Mungkin aku bisa menunggu di tempat lain?"
Baekhyun menyilangkan kedua lengannya membentuk tanda 'X' "Tidak. Aku rasa Jongin benar, kau harus menunggu saja dirumah."
Kyungsoo hendak menjawab perkataan Baekhyun tetapi lelaki cerewet itu sudah memotong perkataanya lagi, "Aku akan membuat Jongin menggunakan command spell miliknya jika terjadi apa-apa."
"Tapi Baekhyun, kemarin aku sudah menyuruhnya untuk menggunakannya tapi ia tidak menggunakannya sama sekali."
Baekhyun menatap Jongin dengan tatapan cepat-buatlah-perjanjian-dengannya-kita-sudah-terlambat dan langsung dimengerti oleh lelaki berkulit tan itu. Kemudian ia berjalan mendekati Kyungsoo dan menempatkan kedua tangannya di atas bahu sempit milik Servant bertubuh mungil itu,
"Soo, aku berjanji kali ini aku akan menggunakannya jika aku sedang dalam bahaya." Ujar Jongin, dilihat dari cara bicaranya ia terlihat serius bahkan tangan lelaki itu menggenggam erat bahunya, seakan-akan ia sedang meyakinkan Kyungsoo agar ia mempercayainya.
Well, dia memang sedang berusaha meyakinkan Kyungsoo.
Dan ternyata berhasil, Kyungsoo menghela nafas panjang kemudian menganggukan kepalanya. "Pastikan kali ini kau menepati janjimu. Mengerti?" Gumamnya. Jongin tersenyum kecil kemudian ia mendekatkan wajahnya dengan Kyungsoo dan menyentuh pipinya dengan lembut.
"Iya, aku berjanji." Bisiknya sambil menempelkan dahinya dengan dahi milik Kyungsoo sampai hidung mereka bersentuhan. Jongin bisa melihat wajah Kyungsoo sedikit memerah karena jarak diantara mereka berdua.
"Manis sekali."
Baekhyun membubarkan mereka berdua dengan suara batuk yang sangat dibuat-buat, kemudian ia berkata, "Sudah selesai mesra-mesraanya? Bisakah kalian berdua terutama kau Kim Jongin, melihat jam? 15 menit lagi bel sekolah berbunyi dan kita masih ada disini, dan aku harus melihat drama pagi-pagi begini!? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?" Celoteh Baekhyun membuat Jongin terkekeh lalu menghampiri lelaki cerewet itu dan merangkulnya.
"Hey Baek tenanglah, aku bisa menteleportasi kita berdua ke sekolah dalam sekejap."
"Aku tahu, tapi aku sama sekali tidak meminta drama diantara kalian berdua pagi ini—"
"Duh, Baiklah aku minta maaf soal drama yang harus terjadi pagi ini." Ujar Jongin sambil melirik Kyungsoo yang menyunggingkan senyum tipis ke arah mereka berdua. "Tapi bisakah kau diam sebentar jadi aku bisa berkonsentrasi dan menteleportasi kita berdua?"
"Hmph, baiklah. Kyungsoo-ya kami pergi dulu ya? Sampai berjumpa nanti, Annyeong!" Teriak Baekhyun sebelum mereka berdua menghilang dari hadapan Kyungsoo.
Servant bertubuh mungil itu melambaikan tangannya kemudian menengadahkan kepalanya dan menatap langit kota Seoul yang cukup cerah pagi ini. Tiba-tiba Kyungsoo teringat dengan apa yang dilakukan Jongin beberapa saat yang lalu, wajah mereka berdekatan dan kalau saja salah satu dari mereka bergerak mendekat sedikit lagi maka mereka akan—
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Ada apa dengan dirimu Kyungsoo? Jangan bertingkah laku seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta." Gumam Kyungsoo pada dirinya sendiri.
"Jongin adalah Master-mu dan kau adalah Servantnya. Dan tidak seharusnya Master dan Servant saling jatuh cinta, dan ditambah lagi kalian berdua adalah laki-laki."
Kemudian Kyungsoo terdiam beberapa saat. Yeah, itu benar Jongin dan Kyungsoo adalah laki-laki dan tidak seharusnya sesama lelaki saling jatuh cinta kan? Apalagi di Korea Selatan, hubungan sesama jenis masih dianggap hal yang sangat taboo.
"Tapi tangan milik Jongin sangat hangat dan membuatku merasa nyaman." Batin Kyungsoo. "Ditambah lagi dengan caranya menatapku dan— AGH! HENTIKAN SEMUA INI DO KYUNGSOO!"
Kyungsoo mengacak-acak rambut hitamnya frustasi, ia yakin kalau ada orang yang melihatnya saat ini pasti ia dianggap sedang frustasi atau semacamnya.
Dan Kyungsoo memang sedang frustasi.
Kesal dengan dirinya sendiri, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Mungkin tidur bisa membuatnya merasa lebih baik.
-TBC-
[A/N]: *celingukan* umm..hai? UWAAAAA MAAFIN AUTHOR, UDAH BERBULAN-BULAN AUTHOR GA UPDATE YA TT TT. Blame college and writer block . udah lama ngga nulis jadi harap maklum kalau banyak kesalahan muncul di sana sini *sighs*. Well, I hope you enjoy this short crappy chapter, author sedikit nambahin kaisoo moment disini biarpun ngga se fluff yang readernim ekspetasiin. Anggap aja calm before the strom ya ufufu.
Kritik dan saran sangat diterima demi kemajuan ff dan cara penulisan author~!
Yours,
-kimkainekiken-
PS: Chapter selanjutnya bakalan di update dua hari lagi mungkin? Promise!
