Remake dari Novel milik E.L James.
Fifty Shades of Choi.
Rate : M, BL, Romance, OOC.
Choi Siwon x Cho Kyuhyun.
Disclaimer : Cerita asli milik EL James, saya hanya meremake dengan citarasa Korea.
-Fifty Shades of Choi-
Cahaya memenuhi kamar, membuatku terjaga dari tidur nyenyak. Aku menggeliat dan membuka mata, sedikit terkejut karena Choi Siwon sedang tidur nyenyak. Aku heran dia masih di tempat tidur dengan menghadapku dan aku belum pernah memiliki kesempatan untuk melihatnya lebih dekat. Wajah tampannya, lekukan bibir sensualnya sedikit terbuka dan rambutnya berkilau sedikit berantakan.
Aku bisa menatap dirinya sepanjang hari, tapi sekarang aku harus ke kamar mandi. Turun dari tempat tidur, aku menemukan kemeja putih di lantai dan memakainya. Aku berjalan membuka pintu dan berpikir mungkin ini kamar mandi, tapi ternyata lemari pakaian yang luasnya sama dengan kamar tidurku. Berderet-deret jas mahal, kemeja, sepatu, dan dasi. Bagaimana bisa ada orang yang membutuhkan begitu banyak pakaian?
Aku mencoba pintu lainnya, akhirnya aku menemukan kamar mandi yang sangat luas. Aku menatap diriku pada cermin besar di atas wastafel. Apa aku terlihat berbeda? Aku merasa berbeda, dan rasa sakit ini membuatku sadar jika aku sudah berbeda. Berbeda dengan Kyuhyun yang selama ini tidak pernah keluar dari 'jalur aman'. Aku memang terlalu berani dan Henry... Astaga aku melupakan Henry!
Aku membutuhkan Henry tapi aku tidak bisa banyak bercerita padanya. Ini sudah menjadi kesepakatanku dengan Siwon! Siwon... Yah, orang yang baru saja tidur denganku. Orang yang tidak mencintaiku tapi aku mencintainya. Mungkin aku sudah gila, cukup gila untuk mengikuti semua permainan pria itu, permainan tidak masuk akal dengan sistem kontrak. Aku tertawa, mentertawakan diriku sendiri di depan cermin.
Sudah cukup Kyuhyun! Tidak ada yang perlu aku sesalkan atas semua ini, aku menyukainya dan aku cukup menikmati semua ini walaupun sekarang perutku terasa sangat lapar. Lupakan soal semalam, aku berjalan keluar dan pergi ke dapur. Dapur yang luas, bersih dan modern. Modern? Tentu saja, semua alat mutahir lengkap disini. Memasak mungkin menjadi hal yang mudah untuk semua orang.
Membuka lemari es, tentu isinya begitu penuh dan lengkap. Tapi apa yang bisa aku masak mengingat kemampuan memasakku yang nol besar. Dalam hidupku, aku tidak pernah berpikir untuk menjadi orang yang mengolah makanan di dapur, tapi setelah apa yang terjadi... Mungkin aku mulai mengetahui apa posisiku. Posisiku di ranjang dan... Sudahlah, aku terlalu banyak berpikir.
Aku mengambil telur dan berniat membuat pancake. Setidaknya aku pernah membuat ini saat camping bersama ayahku dulu, saat kami memancing bersama. Oh Dad, aku sangat merindukanmu dan maafkan aku karena telah berbuat kesalahan besar seperti ini. Aku telah datang ke sini untuk menghabiskan malam di tempat tidur Choi Siwon, meskipun dia tak membiarkan siapa pun di tempat tidurnya. Aku menyeringai, aku bingung tentang memori semalam.
Aku mulai mengocok telur, mengocoknya sambil terus tersenyum. Saat aku berbalik, Siwon tengah duduk di salah satu kursi bar sarapan dengan tangan menumpu wajahnya. Dia masih mengenakan t-shirt yang dipakai waktu tidur. Rambutnya benar-benar berantakan, sangat pas untuknya. Dia sepertinya geli sekaligus kebingungan. Aku membeku, memerah, kemudian aku sadar, rasanya lututku lunglai saat melihatnya.
''Selamat pagi Mr Cho, kau terlihat sangat baik pagi ini.''
''Iya, karena... Aku tidur dengan nyenyak semalam.'' Aku tergagap saat memberikan penjelasan, bodoh! Dia tahu kalau aku gugup. ''Apa kau lapar?'' Tanyaku kemudian.
''Hmm, iya sangat lapar.'' Jawabnya dengan tatapan kuat.
''Aku hanya bisa membuat pancake, apa tidak masalah?''
''Apapun itu, aku akan memakannya.''
Aku semakin memerah, dengan cepat aku berbalik dan kembali mengocok telur. Berusaha dengan sekuat tenaga agar tidak terlihat tegang di matanya. Entah bagaimana ekspresi dia sekarang, aku hanya memakai kemeja panjang (kemeja Siwon) tanpa menggunakan apapun di dalamnya.
''Apa kau ingin minum teh?'' Dia bertanya.
''Hmm, boleh.'' Jawabku yang mulai menuang adonan ke dalam wajan. Sedikit melihat kebelakang, Siwon tengah membuat kopi. Aku sedikit tersenyum dan merasa jika ini seperti yang ada di drama. Ya, kami seperti pengantin baru. Ya Tuhan, apa yang kau pikirkan Kyuhyun!
Setelah selesai, aku meletakan dua piring pancake di atas meja makan. Dia tersenyum lalu menarik kursi untukku, ''Duduklah, Kyuhyun.'' Katanya. Oh, dia memanggil namaku, bukan lagi Mr seperti biasanya.
Aku duduk di sebelahnya, walaupun terasa sedikit perih dan membuatku meringis. Wajah suram syarat khawatir terlihat di wajahnya, ''Apa masih terasa perih?'' Dia bertanya, oh Choi aku melihat sedikit amarah di matamu.
''Hmm, hanya sedikit.'' Aku mencoba untuk tersenyum.
''Aku ingin melanjutkan latihan dasarmu.''
Oh, Tuhan.. Latihan seperti apa itu.
''Hmm, sangat enak.'' Dia tersenyum lebar sambil mencoba masakanku. Aku mengikutinya sarapan walaupun aku masih bingung dengan latihan yang dia maksud.
''Hmm, jenis latihan apa yang kau maksud?'' Aku meminum tehku setelah bertanya, aku harus mulai sering bertanya atas apa yang tidak aku ketahui.
''Kau masih merasa sakit, mungkin kita akan latihan dengan indra yang lainnya.'' Dia tersenyum kecil, tatapan matanya mengarah pada bibirku. Jangan-jangan...
"Itupun jika kau ingin tinggal." Tambahnya. Aku melirik dia, berusaha memulihkan keseimbanganku. Ekspresinya tidak bisa dibaca dan membuatku sangat frustasi.
''Aku akan tinggal hari ini, tapi besok aku harus bekerja.''
''Besok kau bekerja jam berapa?''
''Sekitar jam 9 pagi.''
''Jam 9? Hmm, aku pastikan kau sampai di tempatmu bekerja tepat waktu.''
''Maksudku, aku akan pulang malam ini. Aku butuh pakaian bersih.''
''Kita bisa membelinya disini.''
Apa maksudnya itu? Aku tidak mempunyai uang lebih untuk membeli pakaian. Apalagi membeli pakaian di Seoul, tentu butuh uang yang tidak sedikit.
''Aku benar-benar harus pulang hari ini.''
''Baiklah.'' Dia sedikit emosi, ''Sekarang habiskan makananmu!''
Pikiran dan perutku kacau. Nafsu makanku sudah hilang. Aku menatap sarapanku yang tinggal separuh, aku tidak lapar.
''Aku benar-benar tidak lapar.''
''Aku sangat ingin kau menghabiskan sarapanmu.''
''Sebenarnya ada apa antara kau dan makanan?''
''Aku sudah bilang, aku punya masalah dengan makanan yang terbuang. Jadi, makan Kyuhyun!'' Bentaknya.
Rahasia apa yang dia punya? Aku mengambil garpuku dan makan secara perlahan, mencoba untuk mengunyah. Aku harus ingat untuk tidak menempatkan begitu banyak di piringku. Ekspresinya melembut saat aku pelan-pelan menghabiskan sarapanku. Aku memperhatikan dia mengambil piringnya. Dia menungguku untuk menyelesaikannya dan kemudian ia mengambil piringku.
"Kau sudah memasak, aku yang mencuci piring."
"Wow, itu sangat adil."
''Setelah aku menyelesaikan ini, kita akan mandi berendam."
"Oh, oke!'' Tapi aku lebih suka mandi pancuran.
Telponku berdering, menyela lamunanku. Aku tersenyum padanya lalu mulai menjauhinya untuk menerima panggilan dari Henry.
"Hai." Aku berjalan ke pintu kaca balkon, menjauhi dia.
''Kyuhyun, kenapa kau tidak mengirimkan pesan tadi malam?" Dia marah.
"Maaf, semalam aku cukup sibuk.''
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik."
"Apakah kau?" Dia memancing untuk memberi informasi, nadanya penuh harap. Aku memutar mataku. "Henry, aku tidak ingin bicara lewat telepon." Siwon melirik ke arahku.
"Kau sudah... Baiklah, aku tahu."
Bagaimana dia bisa tahu? Dia menggertak, dan aku tidak bisa bicara tentang ini. Aku telah menandatangani perjanjian sialan itu.
"Tolonglah, Henry."
"Bagaimana rasanya? Apakah kau merasa baik?"
"Aku sudah bilang aku baik-baik saja."
"Apakah dia lembut?"
"Aku mohon Henry!" Aku tak bisa menyembunyikan kejengkelanku.
"Tolong, jangan menyembunyikan ini dariku. Aku sudah menunggunya selama empat tahun.''
"Henry, aku akan bertemu denganmu malam ini." Aku menutup telepon, sedikit menghembuskan nafas yang terasa berat.
Maafkan aku Henry, aku tidak bisa memberitahumu atas apa yang telah terjadi padaku. Tapi aku tidak bisa menurutinya begitu saja, mungkin kita bisa bernegosiasi untuk hal ini. Aku berjalan ke arah Siwon, ''Hmm, perjanjian itu apa mencakup semuanya?'' Aku bertanya padanya.
''Memangnya kenapa?''
''Aku mempunyai beberapa pertanyaan, aku harus bertanya pada Henry. Aku pikir... Dia lebih berpengalaman dariku.''
''Kau bisa bertanya padaku kalau begitu.''
''Oh, Siwon.. Aku mohon padamu, ada beberapa hal yang hanya bisa aku tanyakan pada orang yang memiliki posisi sama denganku. Percayalah, hanya dia yang bisa menjawabnya.''
''Dengan Kyuhyun, teman sekamarmu itu bisa bermuka dua dengan saudaraku. Akan lebih baik jika kau tetap diam.''
''Apa keluargamu tahu soal... Kesukaanmu ini?''
''Tentu tidak, ini bukanlah urusan mereka.'' Siwon berjalan mendekatiku, ''Apa yang ingin kau tanyakan?''
''Untuk saat ini, aku masih bingung. Hmm, tapi aku ingin tahi perasaanmu semalam?''
''Menyenangkan.'' Dia tersenyum lebar, ''Aku belum pernah berhubungan secara tradisional sebelumnya. Banyak yang bisa dikatakan untuk itu, tapi mungkin karena itu denganmu." Dia menyentuh bibir bawahku.
Hubungan secara tradisional? Apa di pikir apa yang kami lakukan semalam adalah jenis hubungan tradisional. Jadi hubungan yang mungkin abnormal yang dia sukai, bukan hubungan normal seperti semalam.
''Aku kita mandi.'' Dia membungkuk dan menciumku. Hatiku melompat dan gairah menggenang turun rendah ke bawah.
-Fifty Shades of Choi-
Bak mandi terbuat dari batu putih dengan berbentuk oval. Siwon membungkuk dan mengisinya dari keran di dinding keramik. Dia menuangkan sedikit sabun mandi cair yang mahal kedalam air. Busanya memenuhi bak mandi dan bau Jasmine yang manis menggoda. Dia berdiri dan menatapku, matanya gelap, kemudian melepas t-shirtnya dan melemparkan ke lantai.
"Kyuhyun." Dia mengulurkan tangannya.
Aku berdiri di ambang pintu, dengan mata terbelalak dan waspada. Melangkah pelan-pelan sambil mengagumi fisiknya. Bawah sadarku tak sadarkan diri dan pingsan di suatu tempat di belakang kepalaku. Aku mengambil tangannya, dia membawaku masuk ke bak mandi sementara aku masih mengenakan kemejanya. Aku menuruti perintahnya. Aku harus membiasakan diri jika aku mau menerima tawarannya.
"Berbalik, pandanglah aku." Perintahnya, suaranya lembut. Aku lakukan apa yang diminta. Dia menatapku penuh perhatian.
Dia memegang ujung bawah kemeja putihku, mengangkatnya ke atas kepalaku dan membuangnya ke lantai. Dia berdiri kembali untuk menatapku. Ya ampun aku telanjang. Mukaku merah padam dan menunduk menatap tanganku, sejajar dengan dasar perutku, dan aku sangat ingin menghilang ke dalam air panas dan busa, tapi aku tahu dia tak akan menginginkan hal itu.
"Hei." Ia memanggilku. Aku mengintip ke arahnya dan dia memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Kyuhyun, kau baik dan manis. Jangan menundukkan kepalamu karena malu. Kau tak punya sesuatu yang membuatmu merasa malu dan aku benar-benar bahagia berdiri di sini dan menatapmu." Dia memegang daguku dan memiringkan kepalaku hingga bisa melihat matanya.
"Kau bisa masuk bak mandi sekarang." Dia menghentikan pikiranku yang kemana-mana dan aku masuk ke dalam air hangat. Aku berbaring dan memejamkan mata sebentar, santai dalam kehangatan yang menenangkan. Ketika aku membukanya, ia menatap ke arahku.
Dia melepas celana piyamanya dan mengambil posisi duduk di belakangku. Air naik saat ia duduk dan menarikku ke dadanya. Ia menempatkan kakinya yang panjang diantara tubuhku, lututnya ditekuk dan membuka kakiku. Aku terkesiap kaget, hidungnya di rambutku dan dia menghirup dalam-dalam.
"Baumu harum, Kyuhyun."
Sebuah getaran berjalan ke seluruh tubuhku. Aku telanjang, satu bak mandi dengan Siwon yang telanjang. Dia meraih sebotol sabun mandi dari rak di samping bak mandi dan menyemprotkan beberapa ke tangannya. Ia menggosok kedua tangannya, menciptakan busa dan mulai menyabuni leher dan bahuku, memijat dengan jari-jarinya yang kuat. Aku mengerang, pijatan tangannya terasa nikmat.
"Kau suka?" Aku mendengar senyumnya.
"Hmm."
Tangannya berpindah ke bawah lenganku, lalu menyabuni ketiakku dengan lembut. Tangannya berpindah ke dadaku dan aku menarik napas panjang saat jari-jarinya melingkarinya dan mulai meremas dengan lembut. Tak lama kemudian tangannya berpindah ke perutku. Napasku meningkat, dan jantungku berpacu. Aku merasakan sesuatu bertambah keras menempel di bokongku.
Dia berhenti dan meraih waslap, tanganku bertumpu pada pahanya yang berotot. Menyemprotkan sabun ke waslap, ia membungkuk dan menyabuni di antara kedua kakiku. Aku menahan napas, jari-jarinya dengan terampil merangsangku melalui waslap. Saat sensasi menguasai, aku memiringkan kepalaku ke belakang, mataku memutar ke bagian belakang kepalaku, mulutku membuka, dan aku merintih.
"Rasakan ini, sayang~" Siwon berbisik di telingaku dan menggigit dengan lembut daun telingaku. "Rasakan ini untukku." Kedua kakiku ditahan ke sisi bak mandi, menahanku, memberikan akses dengan mudah ke bagian paling pribadi dalam diriku.
"Oh, tolonglah~" Bisikku. Aku mencoba menggerakkan kakiku saat tubuhku menjadi kaku.
"Aku pikir kau cukup bersih sekarang." Bisiknya dan dia berhenti. Apa! Tidak! Tidak! Tidak!
"Kenapa kamu berhenti?" Aku terkesiap.
"Karena aku punya rencana lain untukmu Kyuhyun."
"Berbalik, aku perlu disabuni juga." Bisiknya.
Oh! Beralih menghadapnya, aku terkejut melihat ereksinya sudah membesar dan keras dalam genggamannya, sama seperti milkku tapi tentu saja miliknya lebih besar.
"Ini salah satu latihan dasar itu, Kyuhyun.''
Ereksinya ada diatas garis air, air juga menetes dipinggulnya. Aku meliriknya dan dia menyeringai nakal. Dia menikmati ekspresi terkejutku. Aku menyadari bahwa aku sedang menatap. Aku menelan ludah, itu pernah berada dalam diriku! Rasanya tak mungkin. Dia ingin aku menyentuhnya?
Aku tersenyum padanya dan meraih sabun mandi, menyemprotkan sabun ke tanganku. Persis seperti yang dilakukannya, menggosok sabun di tanganku sampai berbusa. Aku tak mengalihkan pandangan darinya. Bibirku terbuka untuk menyesuaikan pernapasanku, kemudian menjalankan lidahku di atasnya, menelusuri gigiku. Matanya serius dan gelap, melebar saat lidahku menelusuri bibir bawahku.
"Seperti ini, perhatikan!" Dia menggerakkan tangannya naik turun dengan mencengkeram jariku, jari-jariku bertambah erat disekitarnya. Dia menutup matanya lagi, napasnya tersengal-sengal. Saat membuka lagi, tatapan mata hitamnya terbakar dan meleleh. "Seperti itu, Sayang."
Dia melepaskan pegangan pada tanganku untuk aku meneruskan sendiri dan menutup matanya saat aku bergerak naik dan turun. Dia menegang, secara refleks pinggulnya sedikit maju saat aku pegang lebih erat lagi. Sebuah erangan rendah keluar dari dalam tenggorokannya. Aku ingat dia mendorong ibu jarinya ke mulutku dan memintaku untuk mengisap keras. Mulutnya menganga sedikit saat napasnya meningkat.
"Kyuhyun, terus~" Matanya terbuka, dan aku menghisap lebih keras. "Ya Tuhan." Dia mengerang dan menutup matanya kembali.
Bergeser turun, aku mendorongnya ke dalam mulutku. Dia mengerang lagi. Aku bisa melakukan ini, semakin bersemangat saat lidahku berputar di sekitar ujungnya lagi dan pinggulnya menegang. Matanya terbuka sekarang, membara. Giginya yang terkatup saat dia menegang lagi, aku mendorongnya lebih dalam ke mulutku, menyangga diriku pada pahanya. Aku merasa kakinya menegang di bawah tanganku.
"Oh sayang~ Ini terasa nikmat." Bisiknya. Aku hisap lebih keras, menjalankan lidahku di ujung ereksinya yang mengesankan. Membungkus gigi dengan belakang bibirku, menjepit mulutku disekitarnya. Napasnya mendesis diantara giginya dan dia mengerang.
''Kau sangat pandai Kyuhyun, sangat pandai.''
Aku menariknya lebih dalam ke dalam, aku bisa merasakan dia di belakang tenggorokanku dan kemudian ke depan lagi. Lidahku berputar sekitar ujungnya, miliknya adalah es lolipop-ku. Aku menghisap lebih keras dan lebih keras, mendorongnya lebih dalam dan lebih dalam, lidahku berputar-putar. Aku tak tahu memberi kenikmatan bisa menjadi begitu mengairahkan, mengawasinya menggeliat dengan halus dengan mendambakan sesuatu.
"Kyuhyun, aku akan keluar di dalam mulutmu." Nada desahnya memperingatkan. "Jika kau mau aku tak melakukannya, berhenti sekarang." Dia menekan pinggulnya lagi, matanya melebar, waspada, dan penuh nafsu.
Dia berteriak dan diam, aku bisa merasakan cairan hangat asin mengalir ke tenggorokanku. Aku menelan cepat, aku tak yakin tentang hal ini. Tapi ketika aku melihat dia keluar di bak mandi karena aku, aku jadi tak peduli. Aku duduk dan menontonnya, senyum sombong penuh kemenangan tersungging di sudut bibirku. Napasnya tak teratur, membuka mata dan melotot ke arahku.
"Kenapa kau tidak tersedak?" Tanyanya heran "Ya Tuhan, itu benar-benar nikmat. Sungguh tak terduga. Kau lulus di latihan tahap pertama!"
Aku tersenyum dan dengan sadar menggigit bibirku. Dia menatapku curiga, "Apa kau pernah melakukan itu sebelumnya?"
"Tidak." Dan aku tak bisa menahan sedikit semburat kebanggaan dalam penyangkalanku.
"Bagus!" Katanya puas, ''Pertama kali yang luas biasa sukses!''
''Kalau begitu, aku behutang padamu.'' Dia berbisik, ''Berhutang orgasme.'' Wajahku langsung memerah mendengarnya. Apa kami akan melakukannya lagi? Ya... Aku mendadak tidak sabar menantikannya.
-Fifty Shades of Choi-
Dia ambruk di atasku, aku merasa berat tubuhnya membuatku terdesak ke dalam kasur. Aku menarik tanganku dan memeluknya sebisaku. Aku tahu pada saat ini aku akan melakukan apa saja untuk pria ini. Aku miliknya, ini melebihi apapun yang kubayangkan. Dan dia ingin mengambil lebih jauh, sangat jauh ke dalam kepolosanku. Oh... Apa yang harus kulakukan?
Dia melepaskan pelukanku, mata hitamnya menatapku tajam. "Lihat alangkah menyenangkannya saat kita bersama.'' Dia tersenyum, "Jika kau memberikan dirimu padaku, akan jauh lebih baik. Percayalah Kyuhyun, aku bisa membawamu ke tempat-tempat yang kau bahkan tidak tahu itu ada."
Kata-katanya menggemakan pikiranku, dia mengusap hidungnya ke hidungku. Aku masih belum pulih dari pengaruh fisiknya yang luar biasa, aku menatapnya kosong untuk memahami pikirannya dengan jelas. Tiba-tiba kita berdua menyadari ada suara-suara di luar pintu kamar tidurnya. Butuh beberapa saat untuk mengetahui apa yang dapat aku dengar.
"Jika dia masih di tempat tidur, dia pasti sakit. Dia tidak pernah di tempat tidur pada saat seperti sekarang ini. Siwon jarang tidur sampai siang."
"Tolonglah, Mrs Choi."
"Teddy, kau tidak bisa menahanku dari putraku."
"Mrs Choi, dia tidak sendirian."
"Apa maksudmu dia tidak sendirian?"
"Dia bersama seseorang."
"Benarkah?''
Bahkan aku mendengar rasa tak percaya dalam suaranya. Siwon berkedip cepat, menatapku, mata terbelalak kegelian. ''Itu ibuku.''
''Apa?''
-Fifty Shades of Choi-
"Kita harus berpakaian, itu pun kalau kau ingin bertemu ibuku." Dia menyeringai, turun dari tempat tidur dan menarik celana jinsnya, dia tidak mepakai celana dalam! Aku kesulitan untuk duduk karena tanganku masih terikat.
"Siwon, aku tidak bisa bergerak."
Senyumnya melebar, sambil membungkuk, dia melepas ikatan dasi. Bentuk dasinya telah meninggalkan bekas sekitar pergelangan tanganku. Dia menatapku, matanya menari penuh kegembiraan. Dia mencium keningku dengan cepat dan berseri-seri. "Pertama kali yang sukses besar.'' Dia tersenyum semakin lebar.
"Aku tidak punya pakaian bersih di sini." Tiba-tiba aku merasa panik mengingat apa yang baru saja aku alami, aku jadi merasakan kepanikan luar biasa. Ibunya! Aku tidak punya pakaian bersih, "Mungkin aku harus tinggal di sini."
"Tidak bisa, Kyuhyun!" Ancam Siwon. "Kau bisa memakai baju atau t-shirt ku." Dia memakai t-shirt putih dan tangannya menyisir rambutnya yang berantakan.
"Berhenti panik dan cepat berpakaian. Aku ingin kau bertemu dengan ibuku. Segeralah berpakaian, aku akan keluar untuk menenangkannya." Mulutnya menekan menjadi garis keras. "Aku mengharapkanmu keluar dalam lima menit, kalau tidak aku akan datang dan menyeretmu keluar dari sini." Sejenak matanya melihatku dengan curiga, kemudian meninggalkan kamar.
-Fifty Shades of Choi-
"Kenalkan." Siwon berdiri dari tempat dia duduk di sofa.
Ekspresinya hangat dan menghargai. Di sampingnya wanita berambut hitam berbalik dan berseri-seri melihatku, senyum penuh kesenangan. Dia juga berdiri. Dia tanpa cela memakai gaun sweater rajut berwarna kalem dengan sepatu yang sepadan. Dia tampak rapi, elegan, indah, dan aku jadi rendah diri saat tahu bahwa aku terlihat berantakan.
''Mom, dia Kyuhyun. Kyuhyun, dia ibuku Choi Soo Jin.''
"Senang sekali bertemu denganmu." Gumamnya.
Jika aku tidak salah, sepertinya takjub mungkin heran dan sedikit lega dalam nada suaranya dan mata hitam bersinar hangat. Aku jabat tangannya dan aku tidak bisa menahan senyum, membalas kehangatannya.
''Senang bertemu denganmu juga, Nyonya.''
"Jadi bagaimana kalian berdua bertemu?" Dia memberikan pandangan bertanya pada Siwon, tidak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Kyuhyun mewawancaraiku untuk koran mahasiswa karena aku akan menganugerahkan gelar disana minggu ini."
"Jadi kau lulus minggu ini?" Tanya Ibu Siwon.
"Iya.'' Aku tersenyum cerah, syukurlah... Aku pikir ibu Siwon itu orang yang sombong dan dingin.
Ponselku berbunyi, ini pasti Henry!
"Maaf." Aku berjalan ke dapur dan bersandar di meja sarapan, tanpa memeriksa nomor.
"Henry.''
"Hallo, Kyu." Sialan, ini Changmin. Dia terdengar putus asa. "Kau dimana? Aku berusaha untuk menghubungimu. Aku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf atas perlakuanku waktu itu. Kenapa kau tidak membalas pesanku?''
"Maaf Changmin, sekarang bukan saat yang tepat." Aku melirik cemas ke arah wajah Siwon yang menatapku tajam, saat ia bergumam sesuatu pada ibunya. Aku langsung membelakanginya.
''Kau dimana sebenarnya? Henry tidak pernah mau memberitahuku soal keberadaanmu.'' Dia merengek.
"Aku di Seoul.''
"Apa yang kau lakukan disana? Apakah kau bersama dia?"
"Min, aku akan meneleponmu nanti. Aku tidak bisa bicara denganmu sekarang." Aku langsung menutup telepon.
Aku berjalan santai kembali ke Siwon dan ibunya. Ibu Siwon masih asyik berbicara dengan Siwon.
"Zhoumi menelepon dan mengatakan kau berada disini. Aku tidak melihatmu selama dua minggu, sayang."
"Apa dia sekarang senang mencampuri urusanku?" Bisik Siwon, sekilas dia menatapku.
"Kupikir kita bisa makan siang bersama, tapi aku bisa mengerti kamu memiliki rencana lain, dan aku tak ingin mengganggu harimu." Dia mengambil mantel krem yang panjang dan berbalik memberikan pipinya. Siwon mencium sekilas dengan manisnya.
"Aku harus mengantar Kyuhyun, pulang Mom." Siwon ikut berdiri dari duduknya.
"Tentu saja, Sayang. Kyuhyun, menyenangkan sekali bertemu denganmu. Aku berharap kita bertemu lagi." Dia mengulurkan tangannya padaku, matanya bersinar dan kami bersalaman.
"Mrs. Choi?" Tanya Teddy tiba-tiba muncul.
"Terima kasih, Teddy." Dia mengantar keluar ruangan dan melalui pintu ganda ke ruang depan. Apa Teddy ada di sini sepanjang waktu? Sudah berapa lama dia berada di sini? Dimana dia?
Siwon melotot ke arahku, "Jadi si fotografer menelpon?"
"Iya."
"Apa yang dia inginkan?"
"Hanya untuk minta maaf soal kejadian waktu itu.''
Siwon berjalan ke dapur dan mengambil I Phone-nya, aku pikir dia membaca beberapa email. Mulutnya menekan garis keras dan dia menelpon. Aku tidak tahu apa yang dia katakan, tapi terlihat dia sedang dalam kondisi tidak baik. Mungkin juga dia marah.
Dia menutup telepon. Kehangatan di matanya telah menghilang. Dia tampak menakutkan, dan melirik sekilas padaku, dia masuk ke ruang kerjanya dan kembali sesaat kemudian.
"Ini kontrak. Bacalah, kita akan membicarakannya akhir pekan depan. Aku menyarankan padamu untuk melakukan penelitian, supaya tahu kau terlibat dengan apa." Dia berhenti, "Itupun jika kau setuju dan aku sangat berharap kau melakukannya." Dia menambahkan, nadanya lebih lembut dan gelisah.
-Fifty Shades of Choi-
TBC.
