Ya, readers sekalian. Kali ini Ray gabung aja chapter 8 sama 9, ya!
Nanti pada protes kalau kependekan. Walaupun pendek, Ray tetap minta reviewnya!
Bagian 8
Katakan Cinta
Hinata berjalan sendirian malam ini. Weddingnya ditunda sebulan lagi. Ya, paling tidak bisa memiliki waktu untuk menghilangkan Naruto dari pikirannya.
Naruto.
Ah, cinta!
Malam begitu hening. Hinata berjalan ditaman sembari melihat bunga chacomile didekatnya. Namun, tiba-tiba ia merasa mulutnya ditutup oleh seseorang dan diseret menuju suatu rumah. Ini..., rumah Naruto.
Sosok yang menculiknya membawa Hinata masuk kedalam rumah itu dan memasuki ruangan yang tak asing lagi baginya.
Kamar Naruto. Tempat dimana cintanya tumbuh.
Seketika Hinata merasa tubuhnya terlempar ke dinding. Dan ia melihat jelas siapa yang menculiknya.
Naruto. Kasihnya.
Seketika Hinata berontak dan berusaha lari. Namun, Naruto mengunci pergerakan Hinata. Membuat gadis Hyuuga itu tak bisa bergerak dan hanya menyandarkan punggungnya ke dinding.
" Hinata." lirih Naruto menatap wajah Hinata.
Hinata serasa ketakutan.
" Lepaskan, Naruto." Hinata memberontak.
Seketika Naruto mencium lembut bibir gadis Hyuuga tersebut. Membawa Hinata terbang jauh melalui awan impian. Namun, segera ditampiknya.
" Eh..." Hinata mendorong tubuh Naruto.
Namun, Naruto segera melemparkan cintanya tersebut ke tempat tidurnya saat Hinata mencoba untuk lari.
" Kau takkan kemana-mana, Sayangku." kata Naruto membelai rambut Hinata.
Seketika mata Hinata mengeluarkan air. Ia menangis saat Naruto mencoba mendekati wajahnya.
" Lepaskan aku, Naruto. Ku mohon." kata Hinata menutup matanya.
" Kenapa kau menangis Hinata? Kau tahu, aku lebih sakit saat mengetahuinya. Kau tahu itu!" bentak Naruto.
" Maafkan aku." kata Hinata.
" Maaf? Kau pikir cinta ku bisa ditukar dengan hanya kata maaf, heh?" kata Naruto.
Hinata hanya bisa menutup matanya.
" Di mana hatimu Hinata? Di mana?" kata Naruto lagi.
" Aku, aku hanya ingin kau bahagia Naruto." kata Hinata.
" Bahagia kau bilang? Aku takkan bahagia melihatmu menikah dengan orang lain Hinata."
Hinata masih menangis sesenggukan.
" Kau menangis sementara kau akan menikah? Ironis sekali." kata Naruto.
Naruto semakin mendekati wajah Hinata, membuat gadis Hyuuga itu makin tak tahan melihatnya. Tak ada rasa sayang kali ini. Yang ada hanya rasa kebencian yang mendalam.
" Kau tega sekali, ini bukan Hinata yang ku kenal selama ini." kata Naruto.
" Katakan Hinata, walau itu bahkan takkan mengubah takdir." kata Naruto.
Hinata memejamkan mata. Membisikkan kelimat yang dulu diucapkan Naruto.
" Aku mencintaimu, Sayangku." kata Hinata lirih, membuat Naruto begitu terenyuh. Melepaskan Hinata pergi untuk selamanya.
Hinata langsung berlari ke rumahnya dan menangis sejadi-jadinya, Kami-sama, ini begitu sakit.
Saatnya baginya membangun istana yang retak-retak.
Surga yang retak-retak, aku tak ingin memilikimu, namun ini terpaksa.
Bagian 9
The Wedding
" Selamat, Hinata-sama, akhirnya Anda akan menikah hari ini." kata Neji.
Hari yang paling menyakitkan telah tiba.
Istana yang retak siap di huni.
Sakit yang begitu dalam.
Hinata dirias sedemikian rupa, menambah ayu wajahnya. Namun, tidak dengan hatinya.
" Ada masalah Hinata-sama?" tanya Neji.
Hinata menggeleng pelan. Saking pelannya, jika Neji tak jeli, mungkin ia tak melihat Hinata menggeleng.
Siap, riasnya sudah selesai.
" Hinata, kita pergi dua menit lagi ke tempat pernikahan." kata ayahnya.
Dua menit menuju nerakanya. Kami-sama, semoga ini menjadi kebahagiaan lelaki yang pernah mengetuk pintu hatinya.
Mobil porche putih milik Hiashi melaju dengan pesat, menuju ke tempat pernikahan putri sulungnya itu. Di ikuti oleh mobil milik keluarga besar Hyuuga di belakangnya.
" Ada apa Hinata? Kau kelihatan murung?" tanya Hiashi.
Hinata menggeleng dalam balutan kecantikan wajahnya.
" Sudah kau undang teman-teman mu?" tanya Hiashi.
" Ya." lirih Hinata.
" Siapa saja?" tanya Hiashi.
" Ino Yamanaka, Tenten Liu, Kiba Inuzuka, Shikamaru Nara, Chouji Akimichi, Temari, Gaara, Shino Aburame, dan masih banyak lagi." kata Hinata.
" Bagaimana dengannya?" kata Hiashi.
Hinata mendongak, siapa?
" Siapa, ayah?" tanya Hinata.
Hiashi hanya menatap tajam anaknya itu. Siapa lagi? Apakah anaknya tersebut terjatuh dan kepalanya terhentak.
" Naruto Uzzumaki." kata Hiashi.
Hinata meredup. Matanya menyimpan kabut yang tebal. Memejamkan matanya sebentar, lantas mengangguk.
" Seharusnya, kau tak perlu mengundangnya, Hinata! Tak perlu kau mengundangnya." kata Hiashi.
" Mengapa?" tanya Hinata.
Hiashi mengehela nafas.
" Itu hanya akan menambah luka di hatimu, Hinata." kata Hiashi.
Hinata terkejut setengah mati. Bagaimana mungkin?
" Ayah tahu, tidak semudah itu kau mengambil keputusan. Apalagi, kau pernah memberi tahu bahwa kau mencintainya. Perasaan seorang gadis takkan berubah sampai kapanpun, Hinata. Kau menerima lamaran Lee, hanya karena kau ingin lari dari lukamu. Namun, inilah keputusanmu. Kau lah yang akan membangun Surga itu, walaupun retak-retak." Kata Hiashi.
Kali ini Hinata tak mampu membendung air matanya.
" Ayah..."
" Namun, ayah bukanlah yang akan menjalaninya, Hinata. Kau sudah dewasa. Ayah yakin kau mampu mengambil keputusan yang terbaik." kata Hiashi.
" Aku hanya ingin dia bahagia, Ayah." kata Hinata.
" Kau hanya akan menambah luka, Hinata. Kau juga akan semakin terluka." kata Hiashi.
" Lalu aku harus bagaimana, Ayah? Tak mungkin aku membatalkan wedding ini." kata Hinata.
Hiashi menatap lurus kedepan.
" Hinata, pikirkanlah! Buat keputusanmu! Ayah yakin, keputusanmu adalah yang terbaik." kata Hiashi.
Air mata Hinata menetes menghiasi wajahnya. Rembulan di matanya semakin meredup.
