Wait For You

Chapter 9 : Restart

Balasan Review :

Kikyu RKY : Makasih ya Kikyu, untuk reviewnya apalagi^^


Sakura meninggalkan meja belajarnya, ia berjalan ke ranjangnya dan merebahkan dirinya di ranjang queen size yang empuk dan nyaman itu. Ia layangkan pikirannya ke masalah dirinya dan Sasuke. Sunggu dia dibuat pusing tujuh keliling karna masalah dirinya dan Sasuke. Sebenarnya apa salahnya jika Sasuke mengetahui identitas Happiness Girl? Bukannya itu bagus, dan itu membuat tak ada lagi fake Happiness Girl?

Sakura menghela nafasnya panjang. Kalau seperti ini dia hanya bisa menyalahkan otaknya yang kelewat jenius ini. Kenapa selalu saja ia menjadi manusia yang dingin bila berhadapan dengan Sasuke padahal dia merasa jantungnya berdetak sangat kencang saat itu. Kenapa otaknya selalu saja bekerja berlawan dengan perasaannya? Lagi-lagi Sakura hanya bisa menghela nafas karna bingung memikirkan alasan dibalik kelakuannya itu.

Mungkin saja sifat dinginnya yang ia lakukan khusus untuk Sasuke itu ia lakukan karna ia tak mau Sasuke dekat dengan Sasuke karna setiap kali ia dekat-dekat dengan cowok berambut pantat ayam itu jantunganya berdetak dua kali lebih cepat. Atau mungkin saja karna ia ter…

Tok… Tok…Tok…

Lamunan Sakura terpatahkan karna mendengar pintu kamarnya diketuk. Segera ia bangkit dari ranjangnya dan membukakan pintu kamarnya. Setelah membukanya, jantung Sakura berdetak lebih cepat. "Panjang umur sekali orang ini, baru dipikirkan sudah muncul," batin Sakura, namun tetap ia tampilkan wajah dinginnya untuk menutupi jantungnya yang berdebar.

"Ada apa?" tanya Sakura dengan datar.

"Sasori-nii menyuruhku memanggilmu untuk makan siang," jawab Sasuke tak kalah datar.

"Oh, makasih," balas Sakura lalu berjalan duluan meninggalkan Sasuke agar debaran jantungnya yang makin keras itu tak terdengar.

Di meja makan, makanan yang Sakura tahu siapa yang memasaknya tertata rapi. Sakura memilih untuk duduk di sebelah kakaknya. Aroma semua masakan yang dimasak Sasori begitu menggoda hasrat Sakura untuk segera menyantap semua makanan yang telah disiapkan Sasori. Ia membuka piringnya setelah semua membuka piring masing-masing, lalu ia menyendokkan nasi yang uapnya masih mengepul ke dalam piringnya, dan mengambil lauk-pauk yang terhidang, begitu juga dengan yang lainnya.

Seperti biasa, acara makan siang bersama ini ditemani dengan atmosfir keheningan dan juga awan sunyi-senyap. Memang hening, tapi bukannya mereka tak melakukan apa-apa. Emerald dan onyx hitam Sasuke sering kali bertemu pandang, dan yang menyaksikan, Sasori dan Itachi hanya saling melempar senyum. Sakura dan Sasuke kembali bertemu pandang, tetapi secepatnya ia alihkan pandanganya ke arah Sasori, dan ia mendapati Sasori tengah saling melempar senyum dengan Itachi.

"Kenapa tersenyum?" tanya Sakura. Bahu Sasori dan Itachi langsung tegang mendengar teguran Sakura.

"Hm? Tidak, tidak apa-apa kok," jawab Sasori. Mendengar jawaban Sasori, Sakura langsung melanjutkan acara makannya.

Setelah selesai, Sakura mencuci piring-piring serta semua yang kotor. Setelah itu, dia langkahkan kakinya menju halaman belakang. Di sana ia kembali merenung sembari menikmati angin yang berhembus yang menerbangkan helaian-helaian surai permen kapasnya. Tak sengaja Sasuke yang sudah lama berada di situ melihat Sakura yang sedang membuat helaian rambutnya ke belakang telinganya, sungguh cantik. Ingin ia menghampiri Sakura, namun seketika itu juga rasa gugup menguasai dirinya dengan cepat. Lagipula dia juga bingung bagaimana ia ingin menghampiri Sakura, jika Sakura berkata bahwa dia tak mau mendengar sepatah kata dari mulutnya.

Namun Sasuke mnggelengkan kepalanya, dia harus segera me-restart hubungannya dengan Sakura agar ia dapat memulai rencana untuk mendapatkan Sakura. Dengan langkah yang pasti, Sasuke berjalan ke Sakura yang sedang duduk di ayunan yang tak jauh dari kolam renang.

"Sakura," tegurnya pelan. Sakura yang sedari tadi melamun pun terlonjak kaget dibuatnya. Jantungnya mulai berdebar lagi, ia tautkan kedua alisnya.

"Bisakah, kau berhenti bersikap dingin padaku?" tanya Sasuke langsung. Mendengar pertanyaan yang menurut Sakura mengagetkan itu, ia bulatkan kedua bola mata emeraldnya.

"Apa kau tak ingat kalau aku bilang, aku tak mau mendengar septah kata lagi darimu," balas Sakura dingin.

"Baiklah. Akan kulakukan itu, jika kau beri aku sebuah alasan yang masuk akal," balas Sasuke.

Bahu Sakura langsung menegang mendengar syarat yang Sasuke ajukan, sekarang ia mati kutu. Dia saja tak tahu kenapa dia bisa berbuat seperti itu, jadi sekarang dia harus jawab apa? Melihat ekspresi Sakura yang cemas sekilas, ia menyeringai puas. Tentu saja, dengan begini ia dapat memperbaiki hubungannya dengan Sakura kan? Dengan kekalahan di tangan Sakura pula, sungguh beruntungnya dia hari ini.

"Jadi, kenapa Sakura?" tanya Sasuke dengan seringai yang membuatnya semakin tampan di mata Sakura, namun disamping hal itu Sakura kesal setengah mati karna ia kalah dengan Sasuke.

"Kalau begitu apakah kita bisa berdamai?" lanjut Sasuke. Dengan pasrah, Sakura menganggkukkan kepalanya.

"Kalau begitu, mungkin kau bisa memanggilku dengan sebutan Sasuke," sambung Sakura yang tanpa ia sadari ia setujui.

"Hhh, maafkan aku. Tingkahku padamu terlalu kekanak-kanakan," ujar Sakura jujur.

"Hn. Tentang itu, tidak usah dipikirkan lagi. Yang lalu biarlah berlalu," balas Sasuke bijak.

Sementara itu, dibalik pohon yang berada di dekat Sasuke dan Sakura, kedua kakak mereka, Sasori dan Itachi tengah asyik meningtip mereka yang sekarang telah berbaikan. Senyuman bahagia merekah di wajah mereka masing-masing. Namun, tanpa Sasori ketahui, tempat ia berdiri ialah sarang semut merah. Akhirnya, semut merah itu menggigit kaki Sasori.

"AAAAW… SAKIT!" teriak Sasori keras yang sukses membuat Sasuke dan Sakura terkejut dan mengetahui keberadaan Sasori dan Itachi.

Itachi yang sempat menertawai Sasori kini kena karma digigit semut merah juga, jadilah mereka berdua seperti cacing kepanasan. Itachi tak sengaja menabrak Sasori hingga Sasori jatuh ke kolam renang.

"Sasori-nii!" seru Sakura panik.

"ITACHI…!" teriak Sasori kesal.

"Ups! Maaf Saso," ujar Itachi lalu mengulurkan tangannya pada Sasori. Dengan sengaja, Sasori menerima uluran tangan Itachi lalu menariknya dengan kuat sehingga Itachi kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjun ke kolam renang bersama Sasori.

"Sangat childish!" cibir Sakura kesal lalu meninggalkan Itachi dan Sasori yang tercebur di kolam renang serta Sasuke yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kakaknya dan kakak Sakura. Akhirnya Sasuke pun meninggalkan mereka yang sekarang sibuk saling menyipratkan air untuk menyusul Sakura.

Obsidian Sasuke bergerak ke sana kemari mencari kepala dengan warna rambut yang mencolok milik Sakura. Di ruang makan, ruang tamu, dan kamarnya Sakura tak ada. Jadi karna itu ia putuskan untuk mencari Sakura ke halaman depan mengikuti instingnya. Ternyata benar gadis beriris emerald terang itu sedang duduk di teras menatapi taman depan mereka. Namun, Sasuke tidak menghampiri Sakura terlebih dahulu, dia malah pergi ke garasi terbuka. Matanya melihat ada sepeda warna putih yang lengkap dengan spion serta bangku di belakang dan juga keranjang.

"Pasti punya Sakura," gumam Sasuke. Seketika itu juga muncul suatu ide di kepala Sasuke yang akan membuat hubungan mereka semakin membaik.

Sasuke pun mengiring sepeda bercat putih itu keluar dari garasi, dan memasang standartnya, lalu ia menghampiri Sakura.

"Sakura, mau jalan-jalan? Daripada kau dipusingkan oleh tingkah anikiku dan anikimu," ujar Sasuke langsung. Seulas senyum langsung tercipta di wajahnya Sakura yang tadi berekspresi datar.

"Ide bagus, ayo!" balas Sakura gembira. Sasuke segera membuka gerbang lebar-lebar dan naik ke sepeda putih itu. Begitu pula dengan Sakura, setelah Sasuke merasa Sakura mencengkram bajunya, Sasuke langsung menggerakkan kakinya untuk mengayuh pedal sepeda.

Sasuke mengayuh dengan pelan, sehingga Sakura merasa sangat nyaman. Tidak seperti dengan Sasori yang selalu saja mengajaknya kebut-kebutan yang membuat nyawa mereka merenggang karna hampir tertabrak mobil dulu. Tanpa Sakura sadari, dari tadi Sasuke terus menampilkan senyum di wajahnya karna Sakura yang memeluk pinggangnya. Sesampainya di dekat kedai es krim, Sasuke menghentikan laju sepedanya. Lalu Sakura pun turun, setelah itu Sasuke juga turun dari sepeda.

"Kita mau makan es krim?" tanya Sakura.

"Iya, memangnya untuk apa aku berhenti tepat di kedai ini? Ayo!" jawab Sasuke lalu menarik tangan Sakura untuk masuk ke kedai es krim itu.

Banyak sekali pengunjung kedai ini. Pasangan muda-mudilah yang mendominasi banyaknya pengunjung di sini. Sasuke dan Sakura pun mengambil tempat terdekat dengan pintu masuk. Seorang pelayan pun menghampiri mmeja dimana Sasuke dan Sakura tempati untuk mengobrol.

"Maaf, nona, tuan, ingin pesan apa?" tanya pelayan tersebut dengan senyumnya lalu menyodorkan buku menu pada Sasuke dan Sakura.

"Triplle chocolate," ujar Sasuke yang telah selesai melihat menu.

"Tolong, strawberry sundaynya," pesan Sakura.

"Baiklah, terima kasih. Mohon ditunggu," balas pelayan yang telah selesai mencatat pesanan Sakura dan Sasuke, kemudian pelayan itu pun pergi.

"Baru pertama ke sini?" tanya Sasuke untuk memulai sebuah pembicaraan dengan Sakura. Sakura menganggukkan kepalanya.

"Ya, begitulah," jawab Sakura seadanya.

"Memangnya apa saja kerjaanmu di rumah?" tanya Sasuke heran.

"Hanya belajar. Aku belajar untuk mewakili sekolah dalam berbagai macam lomba," jawab Sakura dengan pandangan menerawang.

"Kalau kau lelah atau bosan, tolak saja," saran Sasuke.

"Saranmu boleh juga. Kurasa aku bisa ubah pikiranku tentangmu, aku pikir kau baik. Terima kasih," balas Sakura, Sasuke membalasnya dengan anggukan kepala.

"Ternyata semua orang punya kedok masing-masing yang menyembunyikan karakter asli orang tersebut," komentar Sakura.

"Hn. Kau dan aku juga melakukan itu," balas Sasuke.

"Maaf menganggu. Tetapi ini pesanannya! Ittadakimasu!" sahut seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Sasuke dan Sakura. Lalu pelayan itu pun segera pergi.

Keadaan yang saling diam kembali melingkupi dua insan yang saling memendam perasaan ini. Mereka menyantap es krim mereka dalam diam. Onyx kelam Sasuke memperhatikan wajah Sakura yang terpahat sempurna di matanya, hanya saja ada noda kecil yang menganggu. Karna itu Sasuke mengerakkan ibu jarinya ke sudut bibir Sakura untuk menghapus noda es krim itu, Sakura hanya membeku mendapat perlakuan tersebut, jantungnya pun memacu kinerjanya memompa darahnya dua kali lipat lebih cepat. Namun entah kenapa kepala Sasuke mulai maju mendekat ke wajah Sakura yang sekarang sudah merona. Jarak diantara mereka hanya tersisa lima centimeter lagi. Dan wajah mereka makin mendekat, mendekat, dan mendekat, lalu…

"Sasuke kau ingin apa?" tanya Sakura polos. Sasuke pun segera menjauhkan kepalanya dari wajah Sakura dengan kikuk.

"Tidak ada. Maaf," jawab Sasuke.

"Kau sudah selesai? Kalau begitu ayo kita pulang," ujar Sasuke lalu beranjak dari bangkunya dan berjalan ke arah kasir dan membayar semuanya.

Lalu Sasuke dan Sakura kembali naik ke sepeda. Sasuke mengayuhnya agak cepat karna awan mendung, ia takut jika mereka kehujanan, dan karna itu Sakura yang tadinya hanya memegang baju Sasuke kini mencengkramnya. Tanpa mreka sadari, sedari tadi ada iris hazel dan obsidian yang mengawasi mereka dengan saksama. Dan di wajah mereka terukir senyuman penuh arti.

Sasuke dan Sakura pun sampai di rumah. Sasuke segera mengiring sepeda putih itu kembali ke tempat asalnya. Lalu ia berjalan masuk ke rumah. Setelah Sasuke berada di dalam rumah, sekelebat hujan pun turun dengan deras. Sakura muncul dengan membawa dua mug yang uapnya masih mengepul ke udara. Kemudian Sakura duduk di samping Sasuke.

"Ini untukmu," ujar Sakura sambil menyodorkan sebuah mug pada Sasuke. Sasuke menyunggingkan senyum tipisnya dan menerima mug itu.

"Terima kasih," ucap Sasuke tulus lalu menyerupu hot chocolate yang dibuat Sakura itu.

"Kembali kasih. Tetapi harusnya aku yang berterima kasih padamu, hari ini kau baik sekali," balas Sakura setelah dia meminum hot chocolatennya, mendengar balasan Sakura, Sasuke hanya tersenyum tipis.

Duak… Duak… Duak…

Pintu rumah diketuk dengan sangat kuat seperti ditendang. Sakura pun meletakkan mug yang dipegangnya dan berjalan untuk membuka pintu. Setelah ia buka pintunya, ternyata itu Sasori dan Itachi yang pakaiannya basah kuyup.

"Astaga! Untuk apa kalian hujan-hujanan begini?! Ayo, masuk dulu!" seru Sakura, Sasori dan Itachi hanya bisa menunduk mendengar seruan Sakura lalu masuk, setelah itu Sakura menutup pintu.

Buru-buru Sakura mengambil handuk dari lemari pakaiannya dan kembali lagi ke ruang keluarga dan memberikan handuk itu pada Sasori dan Itachi.

"Ini! Keringkan dulu tubuh kalian!" seru Sakura keras.

Sungguh ia tak habis pikir dengan tingkah kakaknya yang semata wayang dengan temannya ini. Cobalah, untuk apa mereka berdua mandi hujan seperti anak kecil? Kalau sakit bagaimana? "Dasar childish!" batin Sakura kesal. Melihat ekspresi kesal Sakura, Sasuke mencoba untuk menenangkan Sakura dengan mengusap-usap punggung Sakura, dan benar saja, emosi Sakura hilang begitu saja.

"Ya sudahlah. Mending Sasori-nii dan Itachi-nii mandi dulu lalu salin," sambung Sakura ketika emosinya sudah menurun.

"Baiklah. Maaf," balas Sasori lalu beranjak dari kursi begitu pula dengan Itachi.

.

.

Setelah menyalin pakaiannya, Sasori dan Itachi segera turun dari lantai dua untuk kembali ke lantai bawah. Di ruang keluarga mereka berkumpul, saling meneruput hot chocolate yang dibuat oleh Sakura untuk menghangatkan badan masing-masing.

"HATCHI!" Itachi bersin dengan keras.

"Hmph. Lihat, akibat dari perbuatan bodoh kalian yang mandi hujan. Imbalannya sakit!" komentar Sakura sarkastik. Sakura pun menempelkan punggung tangannya pada kening Sasori yang ada di dekatnya, dan hangatlah yang ia rasakan.

"Hm. Yang satu demam, yang satu lagi flu. Masih mau mengulangi Sasori-nii, Itachi-nii?" lanjut Sakura. Sasori dan Itachi pun menggelengkan kepala mereka dengan lemah.

"Hhh, kalau begitu, sekarang kalian istirahat saja. Aku mau membuatkan makanan untuk makan malam untuk kita," sambung Sakura lalu pergi ke dapur.

Itachi dan Sasori pun segera berlalu dari ruang keluarga untuk masuk ke kamar Sasori. Setelah sampai di kamar, Sasori langsung berbaring di ranjangnya. Sementara Itachi duduk di tepi ranjang dan bermain dengan ponselnya.

"Ng.. halo, Kaa-san," sapa Itachi dengan suara yang berubah karna hidungnya tersumbat.

"DISENSOR"

"Ini semua karna kami mengawasi anak itu! Aku jadi … Hatchi!" balas Itachi kesal.

"DISENSOR"

"Hn. Baiklah," ucap Itachi dengan pelan lalu memutus sambungan teleponnya.


To Be Continue

Wkwkwk…

Bagaimana chpater ini?

Makasih untuk para reader yang telah membaca.

Tapi dengan keikhlasan hati, bisakah tinggalkan review untuk fic ini?