Cerita sebelumnya:
Reiko mencoba kembali tidur setelah mengalami mimpi buruk. Izuna meyakinkan Reiko bahwa ia akan terus berada di sisinya. Izuna terus mendampingi kakak iparnya meski Reiko telah tertidur lelap. Ia bahkan tidak melepas genggaman tangannya seolah tidak mau Reiko pergi dari sisinya.
あなただけ - Only You
Author: Namikaze Miku-chan
Rate: T
Genre: Friendship, hurt/comfort, romance(?), family
Warning: main chara OC, typo dimana-mana, abal, OOC
Pair: Slight NaruHina
Chapter 9: The Lost Memory
Izuna dan Reiko tengah duduk bersama di sebuah cafe yang menjadi tempat favorit Reiko, berbincang seraya menikmati secangkir hangat coffee latte di siang yang dingin ini. Maklum, Jepang telah memasuki musim dingin. Reiko hanya mengaduk-aduk coffee lattenya.
"Ada apa nee-san?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Reiko.
"Apa nee-san tengah memikirkan mimpi nee-san semalam?" tanya Izuna.
"Tidak kok," jawab Reiko.
"Tidak perlu bohong nee-san," ujar Izuna. Reiko menghela nafas, "Aku ini memang tidak pandai berbohong ya," ucap Reiko.
SKIP TIME
"... Aku tidak mengenal mereka, namun kenapa hatiku sakit melihat mereka bergandengan? Yang lebih membuat ku bingung adalah sosok wanita itu memanggilku Ako-chan."
Raut wajah Izuna berubah sedih. Ia hanya diam dan menundukan kepalanya mendengar semua penuturan Reiko. Reiko bahkan harus memanggil Izuna beberapa kali. Ia bingung dengan sikap Izuna yang jadi aneh setelah mendengar ceritanya.
"Kau tidak apa kan?" tanya Reiko.
"Ya, aku tidak apa," jawab Izuna. Meski Izuna mengatakan seperti itu, Reiko tetap
tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan Izuna darinya. Seorang pria datang mendekati mereka. Pria itu mengecup pipi Reiko.
"Ohayou, koi."
"Jangan disini, ada Izuna," ujar Reiko.
"Tidak apa nee-san," jawab Izuna.
"Tuh kan, Izuna aja bilang tidak apa," ujar Madara.
"Ya terserah kau saja lah," ucap Reiko yang sedikit kesal dengan sikap Madara. Madara yang mengetahui bahwa mood Reiko sedang jelek bertanya ada apa. Reiko hanya menjawab tidak apa. Madara kembali bertanya apakah dirinya membuat suatu kesalahan hingga Reiko terlihat kesal terhadapnya. Reiko tidak menjawab. Madara kembali bertanya apa yang membuat Reiko marah. Reiko memalingkan wajahnya menghadap Madara.
"Aku malu dengan sikap mu yang menciumku di depan Izuna."
"Kenapa harus malu? Kita suami isteri kan?" ujar Madara membela d ri.
"Aku tetap tidak suka."
"Oke oke. Aku minta maaf." Reiko diam saja mengacuhkan permintaan maaf yang tulus dari Madara.
Madara mengeluarkan sebuket bunga mawar pink yang sudah dibawanya dan sebenarnya akan di berikan pada Reiko tadi, tapi karena Reiko marah kepadanya maka baru diberikan sekarang sebagai pemintaan maaf. Reiko melihat ke arah buket yang dibawa Madara untuknya. Reiko tertegun melihat bunga mawar dihadapannya. Bukan karena indahnya bunga tetapi ada suatu hal lain yang membuatnya tidak berkedip. Ada perasaan aneh menyelimuti dirinya. Sesuatu yang tidak asing, tapi Reiko tidak tahu apa itu.
"Kenapa kau begitu menyukai bunga mawar?"
"Karena mereka memiliki banyak makna."
"Banyak makna?"
"Ya. Misalkan mawar kuning ini, ia melambangkan rasa persahabatan yang tinggi, keceriaan, kekeluargaan serta kegembiraan. Lalu mawar putih ini, ia melambangkan rasa cinta yang sejati, kemurnian hati, kesucian juga keanggunan. Bisa juga mawar putih ini diberikan kepada sahabat kita karena warna putih melambangkan persahabatan yang sejati."
"Reiko-chan, Reiko!" Madara mencoba untuk menyadarkan Reiko yang cukup lama tertegun.
"Eh iya, ada apa?" tanya Reiko yang menyadari namanya dipanggil.
"Harusnya aku yang tanya ada apa. Kau kenapa?" tanya Madara berjongkok di depan Reiko.
"Memang aku kenapa?" tanya Reiko balik. Ia memang bingung dengan dirinya sendiri. Ia merasa roh nya pergi meninggalkan tubuhnya sendiri.
"Kau diam saja sejak aku tunjukan bunga mawar yang kubawa untukmu. Cukup lama. Sekitar 10-15 menit. Kau tidak apa kan?"
"Kita pulang saja." Reiko mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Apa kau sakit?" tanya Madara yang terlihat khawatir.
"Ya, kepala ku pusing sekali," jawab Reiko.
Memang kepala Reiko sangat pusing mengingat kilasan aneh tadi. Jalannya saja bahkan sampai limbung. Madara menggandeng Reiko pulang. Izuna hanya menatap mereka dalam diam dengan kesedihan terukir di wajahnya.
Di dalam mobil pun hanya ada keheningan. Keduanya tidak bicara sama sekali. Reiko memilih untuk memejamkan matanya dan Madara fokus pada kemudinya. Mobil jaguar hitam yang dikemudikan Madara berhenti di depan Manshion Uchiha. kediamannya. Pintu pagar yang terbuat dari besi terbuka otomatis, jadi Madara tidak perlu repot-repot membunyikan klakson agar maid di dalam rumah membukakan pintu.
Madara awalnya berniat untuk membangunkan Reiko, namun ternyata istri tercintanya tidur dengan nyenyak. Secara perlahan Madara menggendong Reiko dengan bridal style.
"Selamat datang tuan," ucap seorang butler menyambut Madara di depan pintu utama.
"Buka pintu kamar nyonya."
"Baik tuan."
Butler ini segera berlari ke kamar tidur tuannya di lantai 2. Sesudah pintu terbuka Madara membaringkan tubuh Reiko ke tempat tidur secara perlahan.
"Kalau nyonya sudah bangun siapkan obat yang biasa diminum nyonya. Kau mengerti?"
"Saya mengerti tuan."
"Kalau nyonya tanya aku dimana bilang aku di kantor."
"Baik tuan."
Madara pun pergi meninggalkan Reiko dan ia segera pergi ke Uchiha industries dengan mobil jaguarnya.
.
.
.
~Only You~
.
.
.
*Uchiha Industries*
"Maaf pertemuan kita saat itu harus tertunda," ucap Madara pada seseorang di hadapannya. Sosok itu memiliki mata yang dingin dan kejam. Rambut jingganya dibiarkan tumbuh panjang hingga melebihi bahu. Di wajahnya tertoreh sebuah luka memanjang dari hidung hingga rahang. Luka yang mengingatkannya pada sebuah keluarga.
"Tidak apa," jawabnya singkat.
Madara bertanya pada sosok ini mengapa ia tidak melakukan tugasnya dengan benar saat itu. Madara kembali bertanya mengapa 'anak itu' masih hidup hingga sekarang. Sosok bernama Kurama ini menjawab bahwa ibu dari 'anak itu' melindungi anaknya dan menghalangi dirinya untuk menghabisi nyawa 'anak itu'. Kurama juga berkata bahwa ia telah melukai anak itu yang pasti anak itu menderita luka di sekujur tubuhnya dan tidak mungkin 'anak itu' masih hidup.
BRAAAK! Madara memukul meja kerjanya dengan sangat keras.
" 'Anak itu' masih hidup! Ia ada dihadapanku!" Seluruh urat di wajah dan leher Madara menegang. Tangannya gemetar menahan amarahnya yang akan kembali meledak. "Kau tidak melakukan tugasmu dengan benar!"
"Maafkan saya," ucap Kurama.
"Lakukan lagi tugasmu dengan benar! Ikuti 'anak itu' 24 jam. Dan ambil waktu yang tepat untuk membunuhnya!"
"Baik Madara-sama."
"Kau boleh pergi." Kurama pergi dari posisinya. "Oh ya, Kurama," panggil Madara. Kurama menghentikan langkahnya, "Laporkan padaku semua pergerakan 'anak itu'" Dan Kurama pun menghilang di balik pintu.
*Kelas 2-3, Tokyo Gakuen*
Liburan musim dingin sebentar lagi tiba. Murid-murid sudah tidak sabar menanti. Tapi sayangnya ketika liburan mereka malah dibebani banyak tugas dari guru mereka. Kalau tugas dari guru seksi seperti Anko-sensei sih nggak apa. Lha ini dapat banyak tugas dari guru banci, Orochimaru sensei. Mereka jadi malas mengerjakan tugas, padahal kalo tidak dikerjakan mereka bisa dijadikan objek foto bugil, jadi terpaksa mereka mengerjakan dengan setengah hati.
"Kau tidak katakan sekarang Hinata-chan?" bisik Naruto saat jam pelajaran terakhir usai.
"Ka-Katakan apa Naruto-kun?"
"Rencana mu itu. Apa perlu aku dan Gaara yang mengatakannya?"
"Ter-Terserah Naruto-kun saja," jawab Hinata.
Menerima jawaban tersebut Naruto bergegas ke depan kelas menahan beberapa murid yang akan pulang. Naruto mengatakan bahwa mereka tidak boleh pulang dulu, karena ada hal yang harus disampaikan. Naruto memanggil Gaara ke depan. Naruto membisikan sesuatu pada Gaara.
"Apa yang aku katakan ini adalah kata-kata yang baru saja Naruto bisikan padaku. Hm, begini. Minggu depan ada moment yang spesial untuk salah satu teman kita disini. Tepatnya tanggal 27 Desember, teman kita Hyuuga Hinata akan berulang tahun. Maka itu Hinata mengundang kita semua untuk datang ke rumahnya,"ucap Gaara selaku ketua kelas tanpa ekspresi.
Naruto merangkul pundak Gaara dengan erat. "Datar banget ya wajah ketua kelas kita. Padahal dia tampan, eh masih lebih tampan aku," seru Naruto yang ditanggapi tawa riuh dari teman-temannya, "kalian bisa pulang sekarang."
Naruto menggenggam erat tangan Hinata seolah tidak mau melepaskannya. Seraya
mereka berjalan ke tempat parkir semua mata anak Tokyo Gakuen melihat mereka. Semua saling berbisik satu sama lain.
"Kok mau ya Naruto-kun sama gadis Hyuuga itu? Padahal sifat mereka bertolak belakang."
"Biar dia gadis pendiam tapi orang tuanya adalah orang yang berpengaruh di Jepang. Katanya dia masih keturunan bangsawan."
"Masa sih?"
"Iya. Lagi pula Hinata-chan cantik. Cocok jika bersama Naruto-kun yang tampan."
"Hari ini ke rumah ku ya," ucap Naruto seraya memberikan helm pada Hinata di tempat parkir.
"Aku tidak bisa Naruto-kun. Ayahku meminta ku untuk pulang cepat hari ini," jawab Hinata.
"Souka."
"Gomen ne Naruto-kun."
"Hahaha tidak apa kok." Senyuman tersungging di wajah Naruto.
Mereka yang tengah asyik mengobrol tidak menyadari akan keberadaan Kurama di dekat mereka. Memang, sudah semenjak tadi Kurama terus memperhatikan Naruto. Kurama mengambil hp di saku celananya.
"Bagaimana?" tanya suara di seberang.
"Tidak ada yang mencurigakan. Akan ada pesta ulang tahun di keluarga Hyuuga. Hanya itu."
"Begitu, lakukan terus tugasmu."
"Baik tuan," ucap Kurama.
Madara menyudahi telepon dengan Kurama. Di tangan kirinya terdapat sebuah undangan dari keluarga Hyuuga untuk pesta ulang tahun putri pertama mereka, Hyuuga Hinata. Tidak ada ekspresi terpancar di wajah Madara. Hanya ada kegelapan menyelimuti matanya.
.
.
.
~Only You~
.
.
.
*27 Desember xxxx*
Manshion Hyuuga terlihat ramai hari ini. Banyak mobil mewah berjejer rapi di luar manshion. Terlihat orang-orang penting dan semua murid kelas 2-3 Tokyo Gakuen. Tentu saja karena hari ini putri sulung keluarga Hyuuga berulang tahun. Umurnya kini tepat 17 tahun. Ruang keluarga disulap menjadi nuansa lavender untuk acara spesial hari ini. Anak-anak kelas 2-3 kagum dengan semua dekorasi ruangan. Ruangan menjadi bau lavender.
Naruto datang bersama Fugaku, Mikoto dan Sasuke. Selain mereka ada direktur utama Namikaze corp, Hiruzen Sarutobi. Sebenarnya ia hanya wakil bagi Naruto sejak Kayako 'meninggal'. Ada juga Hashirama datang bersama kedua adiknya, Tobirama dan Tsunade, juga Jiraiya suami dari Tsunade. Selain mereka yang sudah disebutkan tadi ada juga turut hadir orang tua dari Gaara, Ino, Shikamaru, Chouji, Kiba, Shino dan lainnya yang masuk juga dalam list orang penting. Intinya semua tamu adalah orang penting.
Namun itu semua belum lengkap tanpa kehadiran Uchiha Madara, direktur utama Uchiha Industries. Ia datang bersama Reiko. Dan malam ini Reiko terlihat cantik, rambut bergelombangnya ia biarkan terurai. Ia datang tanpa softlens jadi matanya memperlihatkan iris hazel yang indah. Ia mengenakan gaun panjang dengan tali kecil berwarna biru muda.
Madara membawa Reiko menemui Hiashi. "Oh ini nyonya Uchiha? Saya Hyuuga Hiashi," ucap Hiashi seraya mengulurkan tangan.
Reiko tersenyum dan membalas jabatan tangan Hiashi, "senang bertemu dengan anda. Saya Reiko, Uchiha Reiko."
Mata Hiashi sempat terpaku pada mata Reiko yang mengingatkannya pada Kayako. Sampai-sampai Reiko memalingkan wajahnya menghindar tatapan mata amaethys Hiashi.
"Apa kita pernah bertemu Reiko-san? Saya merasa tidak asing bertemu dengan anda."
"Maaf Hyuuga-san, ini pertemuan pertama kita. Saya baru kali ini bertemu dengan anda."
"Berarti hanya perasaan saya saja karena anda mengingatkan saya pada seseorang."
Reiko hanya tersenyum dan Madara terlihat tidak senang dengan perkataan Hiashi barusan. "Dimana putri yang ulang tahun?" tanya Madara.
"Itu dia." Hiashi berkata seraya menunjuk seseorang yang tengah berjalan menuruni
tangga.
Hinata sangat cantik. Rambut lavendernya tergerai dengan indah ditambah dengan hiasan permata yang ia kenakan. Gaun panjang berwarna putih terlihat pas di tubuhnya. Gaun itu tanpa tali yang otomatis mengekspos punggung mulus Hinata. Semua mata tertuju pada Hinata yang tambil anggun bagai seorang putri.
"Kirei~~" gumam Naruto yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hinata sebentar saja.
Acara pesta pun dimulai. Hinata meniup lilin ulang tahunnya dan memotong kue ulang tahun yang sudah tersedia untuknya. Potongan pertama ia berikan pada Hiashi. Potongan kedua diberikan pada Neji, nii- channya. Potongan ketiga diberikan pada Hanabi, imoutonya. Dan potongan keempat diberikan pada Naruto. Semua tamu mengucapkan selamat pada Hinata atas pertambahan usia Hinata.
Madara menemui para tamu yang lain namun tidak dengan Reiko. Ia memilih untuk berjalan-jalan sendiri. Reiko bertemu dengan Mikoto yang tengah bersama keluarganya. Dengan ramah Mikoto menyapa kakak iparnya. Ia bertanya mengapa Reiko berjalan sendiri. Reiko menjawab bahwa ia bosan terus bersama Madara.
"Apa nee-chan tengah ada masalah dengan Madara-nii?"
"Tidak ada. Aku hanya..." Reiko menghentikan jeda di akhir kalimatnya, "ada yang berbeda dengannya sejak bertemu dengan Naruto."
Mikoto mengkerutkan keningnya mendengar jawaban Reiko, "berbeda? Apa itu?"
"Entahlah. Hal yang berbeda itu membuatku tidak nyaman."
"Nee-chan..."
"Hm?"
Sejenak Mikoto diam, hanya memandang Reiko, "Aku baru sadar Nee-chan mirip dengan seseorang."
"Mirip?"
"Ya. Nee-chan sangat mirip dengan sahabatku."
"Apakah begitu mirip?"
"Ya. Hanya warna rambut kalian yang membedakan."
Reiko berkata bahwa ia jadi penasaran seperti apa sahabat Mikoto tersebut. Wajah Mikoto menjadi sedih. Ia mengatakan bahwa sahabatnya sudah meninggal lama. Tiba-tiba Reiko jadi ingin tahu mengapa sahabat yang dimaksud Mikoto meninggal. Mikoto mulai bercerita, sahabatnya adalah seorang wanita yang kuat. Ia tegar dan penyabar. Masa lalunya tentang cinta tidak berjalan dengan baik. Mikoto juga mengatakan bahwa sahabatnya itu juga sahabat dari orang tua kandung Naruto.
"Orang tua kandung Naruto?"
"Iya. Mereka bersahabat sangat dekat dengan sahabatku."
"Boleh ku tahu siapa nama sahabatmu?" tanya Reiko.
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin tahu saja. Aku merasa tertarik."
"Namanya Honjo Kayako. Tapi aku dan kedua orang tua Naruto memanggilnya Ako-chan."
Bagaimana reaksi Reiko mendengar nama itu? Ia tersentak. Nafasnya memburu dan detak jantungnya bertambah cepat, "Ako-chan..."
"Daijoubu nee-chan? Wajah nee-chan jadi pucat."
"Tidak apa. Aku hanya sedikit pusing."
"Apa perlu kupanggil nii-chan?"
"Tidak. Aku hanya perlu menenangkan diri."
Reiko beranjak pergi meninggalkan Mikoto dengan penuh kebingungan.
Angin malam bertiup cukup kencang dari balkon atas. Nafas Reiko belum kembali
teratur.
"Ako-chan, kenapa aku semakin tidak asing mendengar nama itu?" gumam Reiko.
Sekali lagi kilasan balik muncul dibenaknya. Kali ini wajah-wajah itu semakin jelas namun ia tidak tahu siapa mereka. Kali ini ia berada di sebuah nisan. Ia menangis dengan pedih seorang diri.
"Disini kau rupanya." Sebuah tangan merangkul lengan Reiko dengan lembut. "Aku mencarimu kemana-mana, rupanya disini. Pakailah ini." Madara menyampirkan jas miliknya ke bahu polos Reiko yang terbuka jelas, "kau bisa sakit nanti."
Reiko membalikan badan menghadap Madara. Madara terkejut melihat wajah Reiko yang sangat pucat. Air mata mengalir keluar membasahi kedua pipinya. Tak ada kata keluar dari mulut Reiko.
"Reiko! Kau kenapa?"
"..."
"Reiko!"
Reiko jatuh ke tubuh Madara. Madara mencoba memanggil nama Reiko berkali-kali untuk menyadarkannya. Tapi percuma. Tidak ada respon sama sekali dari Reiko.
.
.
.
~Only You~
.
.
.
Tubuh itu terbaring lemah di tempat tidur. Cairan infus mengalir melalui selang dan jarum yang menusuk kulit punggung tangannya. Sudah 3 hari ini Reiko belum sadarkan diri sejak ia pingsan di pesta ulang tahun Hinata. Dan selama 3 hari itu pula Izuna setia menemani kakak iparnya. Ia genggam dengan lembut tangan Reiko. Tangan itu terasa dingin dibandingkan dengan tangan hangat Izuna. Meski Reiko memejamkan matanya dan dalam mimpi panjang namun otaknya tidak tidur.
Selama 3 hari ini pula ia berada di sebuah mimpi, tepatnya kenangan.
Reiko ada di pinggir sebuah jalan yang sepi berdiri dibawah pohon sakura. Angin meniup rambutnya dengan perlahan dan menjatuhkan kelopak-kelopak bunga sakura. Matanya menangkap sosok gadis kecil berdiri di seberangnya tepat di bawah pohon sakura juga. Gadis itu melamun. Lalu datang seorang anak laki-laki mendekati si gadis kecil. Anak laki-laki ini berbicara pada gadis kecil di hadapannya, tapi di gadis hanya diam saja. Cukup lama anak laki-laki ini mencoba berbicara pada sosok di hadapannya hingga akhirnya si gadis cilik itu menyadari kehadiran anak laki-laki di hadapannya. Anak laki-laki itu tersenyum dan Reiko menyadari bahwa wajah si gadis kecil bersemu merah. Reiko memegang pipinya.
'Kenapa wajahku terasa panas melihat senyum bocah laki-laki itu? senyum itu... Terasa familiar'
Waktu seakan berjalan dengan cepat karena kini Reiko berada di tempat berbeda. Ia berada di ruang kelas. Berdiri di dekat pintu seakan menunggu seseorang. Masuklah seorang pria muda bersama seorang gadis berambut merah menembus tubuh Reiko.
'Rambutnya merah? Ah! Apakah gadis ini yang selalu muncul di dalam mimpiku?'
Lalu berdirilah seorang pemuda yang memperkenalkan diri sebagai ketua kelas. Reiko tahu bahwa pemuda ini adalah anak laki-laki yang pertama kali dilihatnya tadi. Reiko melihat bahwa murid baru ini wajahnya bersemu merah. Reiko melihat seorang gadis yang duduk disebelah ketua kelas juga menyadari perubahan raut wajah si anak baru. Reiko juga tahu bahwa gadis ini adalah gadis cilik tadi yang ia kenali dari warna rambut honeynya.
'Ketua kelas ini mirip siapa ya? Aku tidak asing'
Semua bergerak dengan sangat cepat lagi. Reiko kini berada di sebuah taman hiburan melihat sesuatu yang mengejutkan berdiri tepat di hadapannya. Pemuda yang ia ketahui adalah ketua kelas tadi tengah berciuman dengan gadis anak baru dan ada seseorang yang melihat mereka selain Reiko.
Gadis berambut honey tadi juga melihat. Sangat jelas di hadapan Reiko gadis ini menangis. Tidak hanya gadis itu yang menangis. Mata Reiko terasa hangat dan hatinya sangat sakit. Reiko juga turut menangis seolah mengerti perasaan si gadis berambut honey.
'Mengapa terasa sesakit ini?'
Izuna menyadari nee-channya menangis meskipun mata itu masih terpejam dan Reiko belum bangun dari tidurnya. Dengan lembut Izuna menghapus air mata yang keluar dari kedua mata Reiko.
'Apakah nee-chan melihat sesuatu yang menyakitkan hingga nee-chan menangis?'
Porche hitam terparkir di halaman sebuah Rumah sakit. Seorang wanita berambut honey panjang keluar dari dalamnya. Reiko mengikuti wanita ini memasuki Rumah sakit.
Mereka sampai di meja resepsionis. Wanita itu menuliskan namanya dan keperluannya. Reiko terkejut mengetahu wanita ini bernama Honjo Kayako yang ia lihat dari daftar pengunjung.
'Jadi ini sahabat Mikoto?'
Wanita bernama Kayako mengikuti seorang perawat yang membawa mereka ke ruangan penuh bayi. Perawat tersebut mengambil seorang bayi. Bayi berabut kuning cerah. Perawat itu membawa bayi tersebut dan memberikannya kepada wanita bernama Kayako tersebut. Kayako menerima dan memeluknya penuh kasih dalam gendongannya.
Reiko mendengar wanita ini mengucapkan sesuatu.
"Mulai sekarang aku adalah ibumu, Naruto-kun."
Betapa terkejutnya Reiko mendengar penuturan wanita bernama Kayako ini. Reiko mendengar sesuatu lagi dari wanita ini.
"Aku akan merawat, menjaga dan membesarkanmu seperti anakku sendiri. Ibu sangat menyayangi mu Naruto-kun sama seperti ibu menyanyangi kedua orang tua
kandungmu. Aku berjanji Minato... Kushina."
Reiko sangat terkejut mendengar kedua nama itu disebut. Ia ingat saat berada di dalam kelas ia mendengar bahwa ketua kelas tersebut bernama Minato dan anak baru itu bernama Kushina.
'Wanita bernama Kayako ini adalah ibu angkat Naruto? Lalu mengapa Naruto dirawat Mikoto?'
Seolah waktu mendengar pertanyaan Reiko, kini ia berada di pinggir sebuah tebing curam. Angin malam bertiup kencang. Mata Reiko menangkap sosok wanita ada di dekatnya berdiri tidak terlalu jauh. Wanita itu diketahuinya bernama Kayako. Kayako berjalan mendekati tebing dengan botol anggur di tangan kiringya. Reiko sadar bahwa Kayako tengah dalam kondisi mabuk. Jalannya saja sempoyongan. Kayako semakin dekat dengan tebing.
"Berhenti! Kau bisa jatuh nanti!" seru
Reiko yang jelas tidak di dengar Kayako
"Minato! Hey! Kau mendengar ku kan?!" seru Kayako pada hamparan laut luas. "Aku
mencintaimu! Sangat! Tapi kenapa kau tidak mencintaiku dan memilih Kushina?! Apa kurangnya diriku?! Aku lebih cantik dari Kushina! Lebih cerdas darinya! Kenapa kau pergi meninggalkan aku selamanya hah?! Hey! Anakmu, Naruto begitu mirip denganmu! Melihatnya tiap hari membuat diriku sakit! Sakit sekali karena harus ia mengingatkan ku pada dirimu!"
Reiko terkejut mendengar pengakuan Kayako.
'Pantas saja saat itu ia menangis'
Tiba-tiba angin kencang kembali bertiup membuat tubuh Kayako tidak imbang di tambah pijakan Kayako yang mulai retak. Tidak hanya Kayako yang mulai limbung. Reiko pun juga. Keduanya pun jatuh ke dalam laut yang sebelumnya mereka sempat
berpegangan pada pinggir tebing.
Reiko membuka matanya, ia tidak berada di laut lagi tapi ada di kamarnya sendiri. Nafasnya masih memburu melihat semua kejadian itu. Izuna yang sangat senang dengan sadarnya Reiko langsung memeluknya erat.
"Nee-chan!" panggil Izuna.
Reiko tidak menjawab. Ia kini mengerti mengapa Naruto dirawat Mikoto dan siapa sebenarnya Ako-chan.
.
.
.
~Only You~
.
.
.
Reiko kini telah pulih. Ia mulai kembali beraktifitas seperti biasa. Reiko duduk dengan santai di sebuah ruangan di rumah keluarga Mikoto. Ia di undang untuk makan siang bersama Mikoto. Mikoto beralasan mengundang Reiko karena ia sendiri di rumah dan semua tengah pergi.
"Dimana Naruto?" tanya Reiko.
"Tumben nee-chan bertanya mengenai Naruto. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Apa aku tidak boleh bertanya?"
"Hahaha. Masih sekolah nee-chan. Tapi paling sebentar lagi pulang," jawab Mikoto.
"Souka. Boleh ku tanya sesuatu?" tanya Reiko.
"Boleh," jawab Mikoto.
"Sejak kapan Naruto kau rawat?"
"Ehm sejak Naruto berusia 4 tahun. Kenapa?"
"Tidak apa. Aku hanya ingin tahu."
"Hm~"
"Aku ke kamar mandi dulu."
"Ya nee-chan."
Reiko telah selesai dengan urusannya di kamar mandi. Ketika ia hendak kembali ke ruang tamu ia melihat pintu kamar di lantai 2 sedikit terbuka. Reiko merasa tertarik
masuk ke kamar itu. Memang tidak sopan tapi ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk melihat kamar siapa itu.
Reiko membuka lebar pintu bercat putih tersebut dan mendapati kamar bernuansa orange. Hampir semua ornamen berwarna orange dan hitam. Dari tempat tidur, gorden, sofa, karpet, cat dinding, semua mayoritas berwarna orange. Reiko tahu ini
adalah kamar Naruto dari adanya foto Naruto dan Hinata di dinding. Reiko tertarik dengan foto-foto yang terpasang di dinging. Semua foto Naruto yang masih bayi dan fotonya bersama keluarga Mikoto.
Hingga Reiko mendapati sebuah foto yang berada di meja belajar Naruto. Ia meraih
foto itu dan mendekatkannya pada kedua matanya untuk melihat lebih jelas foto apa itu. Foto itu menampilkan salah satu moment terindah selama kita hidup, pernikahan.
Bukan pernikahan Mikoto dengan Fugaku yang ditampilkan. Melainkan foto pernikahan kedua orang tua kandung Naruto, Minato dan Kushina. Reiko juga mendapati sosok Kayako berada di sisi Kushina tengah tersenyum.
Kepala Reiko sangat pusing. Ia berusaha tidak jatuh dengan berpegangan pada pinggir meja belajar Naruto. Wajah Minato dan Kushina berkelebat dengan cepat di
kepala Reiko membuatnya semakin pusing. Reiko memejamkan matanya mencoba menghilangkan rasa pusing tersebut.
"Apa yang bibi Reiko lakukan di kamarku?"
Sebuah suara baritone mengagetkan Reiko. Reiko menengok ke asal suara.
"Naruto..." gumam Reiko.
Reiko berlari keluar kamar Naruto mengabaikan panggilan Naruto dan terus berlari keluar menahan tangisnya membuat Mikoto dan Sasuke yang melihatnya menjadi bingung. Naruto mengambil foto yang sempat dipegang Reiko.
Di dalam mobil tangan Reiko terus gemetar menahan tangisnya yang terus mendesak keluar dari matanya.
.
.
.
~Only You~
.
.
.
Reiko melangkah dengan gontai. Langkah kaki membawa dirinya ke sebuah nisan dengan 2 nama terukir disana. Sebuket bunga mawar putih ada di tangannya. Pandangan mata Reiko kosong. Reiko pun jatuh tersungkur di depan nisan tersebut. Air matanya keluar dengan sangat deras.
"Maafkan aku Minato. Maafkan aku Kushina. Aku meninggalkan Naruto sendiri. Maafkan aku yang bahkan selama 13 tahun ini tidak pernah menengok kalian."
Kenangan indah bersama Minato dan Kushina berkelebat dibenaknya. Semua datang silih berganti. Reiko telah kembali ke dirinya yang dulu, Honjo Kayako.
Naruto berjalan santai ke suatu tempat. Tempat yang tidak asing baginya. Ia sampai di tempat tujuannya. Batu nisan itu tertutup oleh salju. Ia meletakan bunga lily di depan nisan.
FLASHBACK
Seraya menunjukan sebuah foto Mikoto menceritakan sesuatu.
"Wanita yang ada di sebelah ibumu ini adalah ibumu juga Naruto," ucap Mikoto seraya menunjuk Kayako yang berada di foto, "Dia wanita yang merawatmu dari lahir hingga kau berusia 4 tahun. Ia sangat menyayangi mu seperti anaknya sendiri. Namun sayang hal buruk menimpanya. Ibumu mengalami kecelakaan. Tubuhnya jatuh ke laut dari tebing yang sangat tinggi dan curam hanya mobilnya saja yang ada di pinggir tebing. Polisi mengatakan penyebab meninggalnya ibumu adalah karena minuman beralkohol tapi aku tidak peercaya hal itu. Ibumu bukanlah seorang peminum."
"Lalu?" tanya Naruto.
"Polisi menutup kasus ini dan menyatakan ia telah meninggal karena bunuh diri padahal tubuhnya tidak pernah ditemukan hingga sekarang."
END FLASHBACK
Naruto mengatupkan kedua telapak tangannya memanjatkan doa di depan nisan yang ia datangi.
"Hari ini sangat dingin, apakah Kayako kaa-san merasa hangat disana bersama mereka?"
Ketika tengah dalam perjalan menuju motornya Naruto melihat seorang wanita yang tengah menangis tersungkur di depan nisan kedua orang tuanya.
"Reiko-san?"
Kenangan ku
Aku mengingat semuanya, masa itu.
Jika aku memejamkan mataku.
Hal yang sangat kecil pun terlihat.
Kau sangat jauh.
Tempat dimana aku tak dapat menjangkau mu.
Aku tak dapat berkata 'aku mencintaimu' dan menantimu.
Aku sudah lama berada di dalam dadaku.
Meskipun banyak waktu berlalu.
Aku melaluinya meskipun berada sangat jauh darimu.
Aku ingin mencintaimu selamanya.
::TBC::
A/N: ne ne chapter 9 sudah keluar tapi review masih sangat sedikit #pundungSuram oooh kalau ada yang tidak dimengerti silahkan review. Dan yg review dengan akun nanti ku balas lewat PM
