A/N :

Bosen ya liat kanon? Ahhaha XDD jangan dulu donkk~ ni kanon kasih chap akhir dari last story,,

Semoga ceritanya berkesan untuk kalian ya.. tapi buat yang bosen liat kanon.. gomen nih.. nanti bakal liat kanon lagi. Soalnya masih punya hutang 1 cerita hehehe ^^… makasih buat dukungan selama ini yaa

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei

Rate : T

genre : Romance, Hurt/Comfort

Pairing : SasuNaru

warning : agak OOC, AU, typo(s) miss typo, dll lahh~

dozoo~

have a nice read ^_^

Last Story

Part 9- end

000ooo000

.

"Apapun keputusanmu akan aku terima, jika kau tetap menginginkan tetap tinggal disana aku akan rela mengorbankan tak bertemu denganmu, tetapi hargailah penawaran Neji ia menginginkan kamu maju dobe." Sasuke mengeratkan pelukannya

"Iya.. akan kupikirkan, terima kasih Sasuke." Naruto membalas pelukan Sasuke

"Hn." Sasuke makin mengeratkan pelukannya.

"A-ano Sasuke.." Naruto berbicara dengan tergagap dan mendorong dada bidang Sasuke

"Jangan merusak suasana, dobe!" Sasuke ga perduli dengan perkataan Naruto.

"Aku ngerti kita sudah berbaikan tetapi," Naruto memberikan jeda pada katanya dan meletakan kedua tangannya di wajah Sasuke dan tentu saja wajah Sasuke sedikit merona.

"Tetapi.., kau TAK PERLU BERLAKU MESUM SEPERTI ITU!" Naruto segera mencubit kedua pipi Sasuke "Sialan kau teme! Siapa bilang kau berhak menciumku begitu saja dan memeluk ku seenaknya." Naruto mendorong tubuh Sasuke hingga terjatuh dari tempat duduk.

"Sakit dobe." Rungut Sasuke sambil membersihkan celananya yang kotor terkena debu dan mengusap kedua pipinya yang perih akibat cubitan maut sang Uzumaki, namun seulas senyuman tipis terpancar di wajahnya sambil memperhatikan Naruto yang sudah pergi meninggalkannya.

.

.

Sudah 3 hari Neji pamit pada Naruto bahwa ia ada urusan pekerjaan di luar negeri. Saat ini ia sedang berada di salah satu sudut kota yang bisa dibilang bukan di London, karena suasana jauh lebih modern dan fashionable berbeda sekali dengan di London yang walaupun bisa dikatakan modern tetapi sangat kuno karena masih kentalnya kehidupan mengenai bangsawan dan kerajaan.

Ia duduk di sebuah café yang bisa dikatakan tidak begitu ramai dikunjungi orang tetapi pemandangan di luar café tersebut memperlihatkan pemandangan salah satu menara yang paling menjadi perhatian dunia.

"Sorry, I'm so late Hyuuga-sama." Seru seseorang pada Neji yang sedang membaca koran.

"It's Okay please sitdown." ujar Neji pada pria dihadapannya itu.

"Jadi ada apa Hyuuga-sama memanggil saya hingga harus berpergian sejauh ini?" tanya pria itu kembali sambil tetap menyunggingkan senyumannya.

"Kau sudah mengertikan apa rencana yang kuberitahukan padamu lewat telpon, kau kupanggil jauh-jauh dari Konoha kesini untuk melakukan yang ku perintahkan sekaligus sebagai penanggung jawab disini hingga semuanya selesai." Neji menjelaskan panjang lebar pada pria itu, dan pria itu memperhatikan dengan seksama semua perkataan yang dilontarkan kepala keluarga Hyuuga tersebut.

"Baiklah aku tak keberatan atas tugas yang kau beri, tapi ada hal yang ingin kutanyakan pada anda, kenapa anda mau melakukan semua hal ini demi dirinya? Apa anda ada perasaan khusus?" tanya pria itu tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya.

"Tidak ada perasaan macam itu, hanya saja melihatnya seperti melihat diriku sama-sama tersakiti oleh orang yang dicintai sehingga aku ingin melindunginya. Dirinya tak cocok dengan aura kegelapan, matanya yang biru cerah itu harus bersinar. Dan yang kulakukan ini hanyalah semata-mata hadiah terakhir dariku untuknya." Neji memandang lurus kearah jendela, dan pria dihadapannya tersenyum memaklumi cerita sang Hyuuga karena ia telah lama mengenal sosok dihadapannya itu.

"Baiklah untuk sahabatku Neji, dengan senang hati akan kulakukan karena si blonde itu Kohai kesayanganku ia juga yang berhasil menghilangkan kepalsuan di diriku."

"Terima kasih, Sai.."

.

.

Hari-hari Naruto dijalani dengan lancar, walaupun sang majikan masih belum kembali dari perjalanan pekerjaannya. Hanya beberapa kali ia menelpon sekedar memberi kabar dan menanyakan keadaan di kediamannya. Sasuke pun sekarang sudah tidak berada di London ia kembali ke Jepang karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ditinggalkannya selama di London.

"Hahh~.."Naruto menghela Napasnya seperti menghilangkan beban dipikirannya.

"Hey.. tuan Uzumaki kenapa kau menghela napas seprti itu? Seperti kakek-kakek saja." ujar salah seorang maid berambut merah memakai kacamata bernama, Karin.

"Aku bosan Karin apa tak ada pekerjaan untukku?" keluh Naruto sambil menaruh dagunya di atas meja.

"Kamu kan baru saja kembali dari kediaman nona Yamanaka untuk melukis pesanannya kan? Apa kau tak lelah?" ujar Karin lagi sambil menyiapkan makan siang dan menyuguhkan sepriring kue "Ini di coba dulu, kue kreasiku."

"Thank's Karin," Naruto memasukan sepotong kue yang diberikan Karin. "Wow.. enak bangettt.. dibuat dari apa ini Karin?" Naruto takjub dengan kue buatan Karin.

"Benarkah? Aku hanya mencoba-coba saja, Kue ini dibuat dari jeruk dan blueberry dengan gaya cheese cake. Syukurlah kau menyukainya." Senyum Karin melihat temannya tersenyum memakan kue buatannya.

"Karin tau aja jeruk kesukaanku, boleh nambah?" Naruto memberikan piringnya pada Karin lalu di balas Karin dengan meletakan sepotong kue lagi.

"Silahkan dinikmati.."

5 potong kue kreasi terbaru Karin habis dilahap Naruto, setelah kekenyangan makan kue yang disukainya itu ia memutuskan berjalan di dekat kolam renang dimana sedang ada Kakashi duduk dibawah pohon sambil membaca buku orange kesayangannya.

"Yo, Naruto!" Kakashi menyapa Naruto tanpa melepaskan pandangannya dari buku orangenya itu.

"Kakashi, aku mau bertanya," Naruto duduk disebelah Kakashi dan Kakashi langsung fokus memperhatikan pria pirang disebelahnya. "Jika kau dikasih dua pilihan antara hidup bebas tetapi jauh dari saudaramu apa tetap bersama saudaramu tetapi hidupmu dibatasi, mana yang kau pilih?"

"Pilihan pertama." jawab Kakashi singkat

"Kenapa? Apa kau tak sedih meninggalkannya? Padahal hanya kau saudara yang dimilikinya?" Cecar Naruto pada Kakashi meminta penjelasan lebih lanjut.

"Sedih, tentu saja apalagi ia menjadi sendirian lagi. Tapi apakah kau tak berpikir bahwa itu keinginan saudaramu, ia ingin kau merasakan kebebasan setidaknya saat kalian berjauhan kan masih saling berkomunikasi dan ikatan itu tak akan pernah putus." Jelas Kakashi membuat Naruto tertegun.

"Arigatou Kakashi.." Naruto memberikan senyuman terbaiknya, kata-kata dari Kakashi tadi memberikan pencerahan mengenai apa yang harus ia lakukan.

.

.

"Ah tinggal sedikit lagi dan persiapan selesai," gumam Sai saat melihat pekerjaan yang diberikan Neji padanya sudah 98% selesai. "Tinggal satu sentuhan lagi."

Sai yang sudah sekitar seminggu mendekor semua tempat dan mengawasi para pekerja dalam meletakan barang-barang berharga dan sedikit bantuan dari Deidara berdecak kagum melihat hadiah yang akan diberikan Neji untuk Naruto.

"Bagaimana keadaan disana Sai?" ujar Neji lewat telpon

"Lancar, tinggal menunggu jawabannya saja tapi Neji, bagaimana jika dia memilih tetap tinggal bersamamu?"

"Tenang saja aku percaya dengan perkiraanku ini."

"Baiklah kalau kau sudah ada kabar segera hubungiku ya."

"Sure, now I'll back to London to meet him."

"Good luck."

.

Setelah menutup telpon dengan Sai, Neji menghubungi seseorang lagi yang di kiranya sudah memberikan pencerahan untuk Naruto.

"Bagaimana Kakashi?"

"Lancar mudah-mudahan sesuai perkiraan anda."

"Semoga, baiklah Kakashi setelah pesawatku sampai tolong jemput di bandara dan pastikan ia tak kemana-mana."

"Baik Hyuuga-sama." Telponpun diakhiri oleh Kakashi, lalu Neji duduk menyandar dikursi sambil memejamkan matanya

'Ini kado untukmu my brother' batin Neji dalam hati sambil membayangkan wajah Naruto yang sedang tesenyum.

.

.

-next day-

Naruto yang mengetahui bahwa Neji telah kembali dari perjalanan bisnisnya segera menemuinya di tempat biasa di perpustakaan tempat Neji biasa menyendiri.

Brak, suara pintu di buka dengan paksa oleh Naruto. Matanya sekeliling mencari sosok majikannya yang sudah sekitar 2 minggu tak kembali, baginya itu merupakan perjalanan bisnis terlama selama ia mengenal Neji. Setelah mencari-cari terlihatlah sosok Neji dalam balutan baju yang santai namun gaya kebangsawanannya masih sangat telihat.

"Neji-san.. kenapa tak memberi kabar jika sudh kembali?" Naruto mengintrogasi orang di depannya.

"Gomen Naru-kun, pulangnya mendadak. Nah sekarang aku mau mendengar apa jawabanmu mengenai tawaran ku tempo hari?" Neji langsung to the point menanyakan hal itu.

"Harus sekarang ya?"

"Hum.."

Naruto menarik napas ia telah siap dengan jawaban yang akan diberikannya. "A-aku akan keluar untuk melihat dunia." Jawabnya mantap

"Kau yakin?"

"Ya! Sangat yakin. Aku minta maaf padamu Neji-san jika selama aku berkerja di kediaman mu ini selalu merepotkan dan menjaga jarak darimu, tetapi kau sudah kuanggap seperti kakak." Naruto menundukan wajahnya dan menahan genangan air yang akan meluncur dari kelopak matanya

"Bagus Naruto, itu yang kuharapkan. Kau pelukis harus melihat dunia luar karena disana banyak objek yang bisa kau lukis jangan hanya terpaku pada duniaku saja. Jika kau rindu padaku, Kakashi, Karin dan semua yang ada disini kau bisa mampir. Kediamanku selalu terbuka untukmu." Neji tersenyum dan mengelus rambut pirang Naruto.

"Hontou ni Arigatou Neji.." tanpa sadar naruto memeluk Naruto dan dibalas dengan pelukan kasih sayang dari Neji.

"Hm..hm.." sebuah suara menginterupsi kegiatan Naru dan Neji. "Sudah acara pelukannya?"

"Sasuke?" Naruto kaget melihat sosok Sasuke muncul dibalik rak buku berjalan kearah mereka dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celananya.

"Hn."

"Kenapa kau ada disini? Bukannya kau berada di Konoha?" Naruto terkejut melihat kedatangan Sasuke di London

"Sesuka ku donk dobe."

"Grr teme!" sebelum dimulai perkelahian antar kekasih itu Neji segera menginterupsi.

"Yak sudah sudah.. sekarang kamu bersiap-siap Naru besok kita kan berangkat ke suatu tempat."

"Kemana Neji-san?" Naruto menatap bingung kearah Neji.

"Nanti kau juga tau sekarang biarkan aku tidur karena aku masih sangat mengantuk. Dan kau Uchiha aku tidak akan segan-segan membawa Naruto pulang jika sampai kau membuatnya sakit lagi untuk kedua kalinya." ancam Neji sebelum Sasuke dan Naruto keluar dari ruangan itu.

"Hn.."

.

.

Naruto sekarang berada di kamarnya, menuruti perkataan Neji untuk membereskan pakaian dan peralatan melukisnya. Entah pa yang direncanakan Neji ia tak tau. Baginya 4 tahun ini memberikannya pelajaran yang berarti dan membuatnya lebih dewasa. Tanpa sadar karena sibuk membereskan bajunya, Sasuke segera memeluk Naruto dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di pundak Naruto.

"Hum,, bau citrusmu masih tetap sama." ujar Sasuke, sdangkan wajah Naruto sudah sukses memerah menerima perlakuan dari si Uchiha satu ini.

"Te-teme, apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Naruto menggeliat mencoba melepaskan diri dari pelukan Sasuke

"Sebentar saja, aku rindu." Sasuke malah makin mempererat pelukannya hingga menghentikan aktivitas Naruto dan Naruto membiarkan kekasihnya itu dalam posisi begitu.

"Nee teme, jika aku keliling dunia bagaimana denganmu?"

"Ku ikuti kau."

"Pekerjaanmu?"

"Ada baka aniki dan Iruka." Jawabnya masih dalam posisi memeluk Naruto

"Jangan begitu, itukan tanggung jawabmu masa di berikan pada Itachi-nii."

"Kalau begitu kita harus menikah dulu."

"Heh! Kenapa me-menikah?" Naruto melepaskan pelukan Sasuke dan menghadpkan wajahnya dihadapan si raven itu.

"Hn, biar kau tak dilirik wanita atau pria lain di negri sana, dan kau sudah menjadi milikku." Sasuke mengecup pipi kenyal Naruto

"Ta-tapi.." Naruto merasa ini masih terlalu cepat baginya untuk menikah dengan Sasuke, walaupun diakuinya bahwa ia sangat mencintai peria dihadapannya ini.

"Aku mengerti ini terlalu cepat, tetapi tawaranku untuk menikah hanya dibuka untukmu dan akan kutunggu sampai kau siap."

CUP "Arigatou Sasuke" Naruto mengecup bibir Sasuke sekilas dan sukses membuat wajah pria yang terkenal dengan tanpa ekspresi ini mensemburatkan rona merah di wajah porslennya dan langsng memluk kembali tubuh mungil Naruto.

Bagi Naruto, akhirnya masa-masa suram itu telah berlalu sekrang ia telah kembali merasakan hangatnya cahaya matahari yang selama ini tertutup dengan awan mendung dan ia telah siap menuju hari yang baru yang lebih baik bersama orang-orang yang mencintainya.

.

.

Semua orang sibuk mondar mandir mempersiapkan kedatangan sesorang yang ditunggu-tunggu. Sedangkan orang itu sedang asik memperhatikan pemandangan diluar jendela dengan wajah yang berbinar-binar. Tak berapa lama kemudia sampailah mereka di Alesia studio - Paris 14, sebuah tempat yang berada di dekat menara Eiffel.

"Kita sudah sampai?" tanya Naruto begitu melihat Sasuke dan Neji turun dari mobil.

"Hn.." kemudian jalanlah mereka berdua ke sebuah bangunan kaca berbentuk bulatan seperti matahari dengan berbagai tanaman bunga matahari di tamannya, semakin dibuat takjub oleh Naruto begitu melihat keindahan bangunan itu. Apalagi di dekat museum yang menyimpan lukisan monalisa karya Leornado Davinchi.

Byar… Jrgerr..

Terdengar sura kembang api yang dinyalakan dan keluarlah orang-orang dari dalam bangunan itu. Melihat orang-orang yang baru keluar itu membuat Naruto menitikan air mata kebhagiaan karena orang-orang itu adalah Itachi, Deidara, Sai, Shion, Kakashi dan orang-orang yang Naruto kenal dengan baik.

"Nii-sann.." Shion langsung menghambur memeluk Naruto

"Shion.." Naruto segera membalas pelukan shion dan berlanjut memeluk Itachi, Deidara dan Sai.

Air mata Naruto benar-benar tak bisa terbendung lagi, melihat semua orang yang menyayanginya ada disekelilingnya. Sasuke dan Neji yang berdiri tak jauh darinya ikut tersenyum memperhatikan tingkah Naruto.

"Baiklah, acra peluk-pelukannya sudahan dulu sekarang Naruto kamu potong pita ini sebagai peresmian." Ujar Sai yang berdiri disebelah Naruto dan memberikan gunting.

"Heh? Emang ini apaan?" Naruto memiringkan wajahnya yang kebingungan.

"Ini hadiah dariku Naru-kun, sebuah Gallery lukisan untukmu. Semua karya-karyamu sejak kamu masih bersama Sai hingga bersamaku sudah ku pajang disini semua, dan kuharap lukisanmu yang lain saat berkeliling dunia kau letakan disini." Jelas Neji yang membuat Naruto mengeluarkan lagi air matanya.

"Cepatlah dobe, cengen dasar." Sasuke berkata dengan cueknya karena tidak suka dengan pandangan Naruto yang terlalu berbinar-binar pada Neji.

"Teme! Kau merusak suasana." Lalu Naruto memotong pita yang telah disiapkan Sai lalu disambut tepuk tangan dari semua orang.

"Thank you Neji..tapi sebelum itu aku juga punya hadiah untukmu." Naruto berlari kedalam mobil membawa sebuah barang yang tak cukup besar yang telah dibungkus oleh kertas lalu menyerahkannya pada Neji.

"Boleh kubuka?" hanya dibalas anggukan oleh Naruto. Begitu dibuka terlihatlah sebuah lukisan dimana ia dan Neji sedang duduk di bangku dekat taman bunga matahari milik Neji, lukisan itu ia buat saat Neji membicarakan tentang penawarannya melepaskan Naruto ke dunia luar. Bagi Naruto ekspresi Neji saat itu memancarkan kelembutan sehingga ia membuatnya tanpa sepengetahuan dari Neji.

"Terima kasih Naruto, ini hadiah paling indah yang kuterima." Neji memeluk Naruto.

"Sama-sama dan terima kasih juga dariku kau sudah mau menjagaku selama 4 tahun ini, maafkan jika aku memiliki kesalahan."

"Iya." Neji tersenyum lembut.

.

"Yap sodara-sodara ayo kita masuk kedalamm." Teriak Shion memechakan keharuan yang ada

Seperti yang diajakan Shion, mereka semua masuk kedalam gallery itu. Gallery yang lumayan besar dengan gaya modern dan tradisional japan membuat serasa berada di ruamah dan ada pula satu ruangan yang berwarna orang, dimana ruangan itu terdapat lukisan-lukisan Sasuke yang melukis tentangnya. Ruangan itu dinamakan My summer. Semua orang menikmati suasana kebersamaan itu Hingga Sasuke menginterupsi semuanya.

"Maaf saya meminta perhatian sejenak, selain Neji akupun memiliki kejutan buat Naruto. Dobe bisa kesini." Dengan perintah Sasuke, Naruto maju kedepan lalu tiba-tiba Sasuke berlutut dihadapannya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil

"Will you marry me, Naruto?" ujar Sasuke sambil mengeluarkan isi kotak tersebut yang berupa cincin dengan batu permata berwarna biru

"Harus sekarang?" dengan Ragu Naruto mencoba menjawab

"Terima TerimaTerima.." teriak para tamu.

"Answare now dobe!" Sasuke sedikit meninggikan suaranya

"Hum.. I do." Ucapnya mantap.

"Hn?"

"Aku bersedia teme! Jangan jadi budek deh." Jawab Naruto lebih kencang. Langsung disematkan cincin yang tadi keluarkan Sasuke plus kecupan yang lumayan lama semakin riuh tepuk tangan dari semuanya. Dari jauh Naruto melihat Shion dan Deidara memberikan kedua jempolnya untuk Naruto.

Suasana di gedung itu penuh dengan kehangatan dan sukacita, dimana tak ada rasa benci dan dendam menyelimuti sosok pirang itu. Baginya masa lalu adalah pelajaran yang berharga dan itu sudah berlalu sekarang masa depannya bersama orang-orang yang mencintainya. Apalagi janji setia dari kekasih hatinya diucapkan di negara yang terkenal sebagai negara romantis yaitu, Paris.

Lukisan yang hitam itu telah berubah kembali menjadi putih bersih, bagaikan hati yang telah bersih dari segala hal-hal negatif. Siapa bilang lukisan yang rusak tak bisa diperbaiki, justru dari yang rusak itu bisa dibenahi menjadi lukisan baru yang bernilai estetika lebih tinggi.

.

.

OWARI…

.

Horeyyy! Tamat nihh gomen yaa kalo endingnya kurang berkesan T-T

Kanon berusaha agar bisa bagus endingnya maaf kalau mengecewakan ….

YOSH! Makasih buat dukungan para reader selama ini, para senpai.. hhuhu …

+HUGS ALL+

Thanks to para reader :

CcloveRuki

Yamamura Ayumu

NaruDobe Listachan

Chary Ai TemeDobe

Namichiha yuu-chan

Ttixz lne cone bebe

Naomi Arai

Misyel

Shiki Raven-sakurai

Ashahi Kagiri-kun

Ryuki lollypopz

Ina alay

Dan semua para silent reader dan pembaca lainnya yang udah kasih masukan.. gomen ya reviewnya ga kanon bales,,

Ehheheh ^^

SEE ON NEXT STORYY…

Masih mau review di pertemuan akhir?

Hahha ^_^