~ Love or Lost ~

.

.

.

YeWook Fanfiction © R'Rin4869

.

Rated : M

Genre : Romance

Disclaimer : semua tokoh yang disini milik diri mereka sendiri, orangtua, dan para fansnya

Warning : YAOI, cerita GaJe, typos, alur berantakan, tidak sesuai EYD, OOC

.

.

.

O.o.O

.

.

.

Yesung sibuk berkutat dengan pikirannya sementara sebagian konsentrasinya tersita pada kegiatan mengemudi mobilnya. Memikirkan beberapa kemungkinan keberadaan kekasihnya yang bisa dibilang hilang sejak kemarin. Memang belum jelas apakah Ryeowook hilang atau bukan, tapi yang jelas Ryeowook tidak dapat dihubungi selama dua hari ini serta pengaduan Heechul yang mengatakan jika Ryeowook bahkan tidak ada di rumah semua temannya. Dan hal itu cukup untuk membuat Yesung merasakan gejolak aneh di perutnya.

Ia pernah merasakannya. Dulu sekali. Saat orang yang disayanginya menghilang darinya. Tentu saja dia berusaha mencari gadisnya dulu, tapi ketidak jelasan itu membuatnya terpuruk. Kegagalannya menjaga orang yang berarti baginya itu, membuat dadanya terasa ditikam perlahan. Segala ketakutan yang dulu pernah dirasakannya seakan kembali muncul di hadapannya.

Dengan rasa frustasi itu Yesung memukul stir mobilnya.

"Sial!"

Ia tak ingin mengulangi hal itu lagi. Tak ingin merasakannya lagi. Ia amat memcemaskan keselamatan Ryeowook saat ini.

Tapi semua ini berbeda dengan keadaan gadis itu dulu, pikir Yesung.

Ryeowook tak pernah punya masalah pelik seperti Jiyeon, setidaknya itu yang dipikirkannya. Tidak ada alasan untuk Ryeowook menghilangkan dirinya seperti ini.

Sesaat kemudian Yesung meraba saku kemejanya saat ia merasa ponselnya bergetar pelan di sana.

Sebuah pesan masuk, nomor yang tidak dikenalnya. Dengan malas Yesung membuka pesan itu, membacanya sekilas setelah memastikan jalanan di depannya aman, tidak akan membuatnya beresiko celaka.

". . . . ."

Mata Yesung melebar saat membaca pesan itu. Tampak mengingat-ingat sesuatu.

Kemudian ia meraih ponselnya lagi, menghubungi nomor terakhir yang ada di daftar panggilannya dan menunggu sesaat sebelum telepon itu diangkat oleh pemiliknya.

"Halo, Heechul hyung? Ya ini aku, aku harus pergi dulu ke suatu tempat, aku akan kesana secepatnya!" tanpa banyak basa-basi Yesung mematikan panggilannya sebelum menunggu jawaban Heecul terlebih dahulu.

Setelahnya namja berwajah tampan itu mempercepat laju mobilnya. Yesung memutar balik di persimpangan depan dengan kecepatan yang di atas normal. Apartemen di pinggir kota Seoul, itu yang sekarang dituju olehnya.

'Apa-apaan ini...'

.

.

.

O.o.O

.

.

.

Kamar nomor 14, 21th floor.

Yesung melihat lagi alamat yang dikirimkan ke alamatnya dalam bentuk pesan singkat tersebut. Pesan yang mengatakan Ryeowook berada di sana sekarang. Sekarang Yesung sudah berada di depan pintu kamar tersebut.

Mata sipitnya menelusuri lorong tempatnya berada saat ini. Di apartemen semewah ini, sedang apa kekasihnya? Menghilang selama dua hari, dan kini ia dikirimkan pesan oleh seseorang yang entah siapa.

Dengan agak ragu Yesung akhirnya memencet bel yang ada di sana, kemudian menunggu dengan resah sampai pintu itu terbuka. Ada yang tidak beres di sini, perasaannya agak tidak tenang.

Sampai akhirnya daun pintu bercat krem itu mengayun ke dalam, memperlihatkan wajah cantik seorang yeoja yang berada di baliknya. Tersenyum padanya seolah tak ada masalah apapun.

"Jiyeon,"

"Ne?"

"Ini apartemenmu?" tanya Yesung dengan nada dingin.

"Tentu, masuklah oppa," Jiyeon mempersilakan.

Yesung tetap diam di tempatnya.

"Di mana Ryeowook?"

Jiyeon tersenyum kecil. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tak bersemangat. "Ada di dalam, masuk saja,"

.

.

.

O.o.O

.

.

.

Yesung merasa tak punya pilihan lain selain mengikuti ajakan gadis itu. Ia masuk tanpa berkata apapun lagi. Mengikuti langkah kaki yeoja yang berada di depannya itu tanpa banyak bertanya.

Ruangan yang dilewatinya benar-benar sesuai dugaannya. Cukup luas hanya untuk sebuah apartemen yang dihuni seorang gadis yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Interiornya terlihat begitu natural. Wallpaper berwarna cream memberi kesan hangat di ruangan itu.

Dalam diam Yesung mengamati barang-barang yang berada di tempat itu. Tidak ada yang aneh. Ia malah tak menyalahkan dirinya saat ia sadar cukup mengagumi apartemen yang disulap bagaikan rumah mewah ini. Kenyataannya apartemen ini memang salah satu apartemen mahal di Seoul.

"Duduklah oppa," suara Jiyeon terdengar.

"Aku tanya sekali lagi, di mana Ryeowook?" Yesung menatap gadis itu tajam.

Tapi Jiyeon tetap dengan ketenangannya yang ganjil. "Dia ada, aku hanya mau bicara sedikit pada oppa,"

Mata Yesung memicing. Tangannya bersedekap di depan dada. "Apa yang mau kau bicarakan?"

"Hanya sedikit obrolan tentang...masa lalu mungkin," Jiyeon mengedikkan bahunya santai. Seakan mereka adalah teman lama yang tidak bertemu bertahun-tahun. Sikapnya begitu santai, berbeda jauh dengan Yesung yang mencoba menebak-nebak di mana Ryeowook sekarang ini.

"Bisakah kau percepat?" nada Yesung berubah sinis. Kesabarannya seakan diuji untuk saat ini. Ia kesini hanya untuk menemui kekasihnya! Tidak untuk yang lain. Tapi gadis di depannya malah bersikap seolah tidak ada apapun.

Jiyeon meraba tengkuknya yang tertutup dengan rambut panjangnya. Ia mengambil seuntai tali berwarna perak tipis di sana. Kemudian melemparkannya pada Yesung. Namja itu menangkapnya dengan sigap walaupun tak mengerti maksudnya.

"Masih ingat?"

Deg!

Yesung terbelalak. Seuntai kalung yang baru saja ditangkapnya itu, liontin berbentuk hati dengan permata kecil di sebelah kirinya dengan inisial 'J'. Ia mengenali motif ini. Sangat mengenalinya.

Dengan buru-buru ia merogoh sakunya. Mengeluarkan satu lagi kalung dengan motif serupa. Hanya saja permata itu berada di sebelah kanannya, liontin yang nyaris sama persis dengan yang diberikan Jiyeon padanya barusan padanya. Sekarang liontin itu kembali menjadi sepasang...

Kembali menjadi sepasang, setelah 5 tahun kehilangan pasangannya.

Yesung menatap gadis di depannya itu lekat-lekat.

"Darimana kau mendapatkan ini?" sentak Yesung.

"Dari seorang namja di masa laluku tentu saja, dari seorang ketua osis tampan yang biasanya bertengkar denganku setiap harinya, tapi kemudian dia malah memintaku menjadi pacarnya. Namja dingin yang terkadang marah padaku saat aku menjadi lemah, namja yang..." pandangan Jiyeon mengarah pada Yesung setelah sebelumnya menunduk. "Sangat kucintai."

Yesung merasa kepalanya dihantam sebuah bongkahan keras. Seperti mendapatkan sesuatu yang hilang, tapi justru kini malah salah tempat.

Ia menatap gadis itu lagi, yang kini tersenyum.

'Ini bukan yang kucari...'

Senyum itu berbeda, bukan lagi senyum yang ia rindukan, bukan lagi senyum yang diimpikannya untuk bisa dilihatnya lagi dalam hidupnya. Bukan lagi senyum yang ia tunggu kehadirannya...

.

.

.

O.o.O

.

.

.

"Jeon Jiyeon." bisik Yesung.

"Itu pertanyaan?" ujar Jiyeon.

Yesung menggeleng. "Kau bukan dia!"

Jiyeon tersenyum. Kepahitan ini semakin terasa. Terus dan terus menyakiti hatinya. Ini seperti membunuh dirinya secara perlahan.

"Oppa butuh bukti?" Jiyeon mendekati Yesung. "Apa aku harus menelanjangi diriku di depan oppa sekarang juga untuk memperlihatkan bekas luka bakar yang masih aku punyai? Apa aku harus memotong rambutku seperti dulu agar oppa memgenaliku?"

"Kau selamat," desis Yesung, masih tak percaya dengan kenyataan yang ada di depannya.

"Tentu saja," Jiyeon tertawa pelan, dan sumbang. "Sendirian dan tragis. Cocok untuk kisah-kisah tragis yang bisa diterbitkan menjadi buku roman."

Yesung agak berjengit di tempatnya. Nada sinis itu. Ucapan tanpa basa-basi itu, yang menertawakan diri sendiri di atas rasa sakit yang dimilikinya...

Benar-benar ciri khas seorang Jeon Jiyeon.

"Kupikir..."

"Aku mati di dalam kobaran api itu? Begitu?" Jiyeon memotong ucapan Yesung dengan cepat.

Mau tak mau Yesung mengangguk kaku. Ia tak pernah menyangka mimpinya menjadi sebuah kenyataan kini.

"Hah! Sayangnya tidak, jika oppa masih mengharapkan hal itu agar oppa bisa mencari penggantiku dengan bebas."

"Apa maksudmu?!" bentak Yesung marah.

Gadis di depannya ini, Yesung yakin ia tak pernah mengetahui jika Jiyeon memiliki dua kepribadian. Beberapa hari yang lalu ia mengenalnya sebagai yeoja feminin yang lembut, sopan, bahkan terkesan lemah. Tapi sekarang? Bayangan Jeon Jiyeon benar-benar terpatri di sana! Bahkan Yesung meragukan jika dua sosok itu salah satunya adalah akting belaka. Gadis ini aktris yang baik...atau justru penipu yang lihai?

"Maksudku? Bukankah sudah jelas?" tatapan Jiyeon menajam. "Aku menagih janjimu oppa! Kau lupa? Butuh pengingat? Yang selama ini selalu terbayangi janji kosongmu itu?"

Tangan Yesung mengepal. Ia marah saat ini, tapi sekaligus kecewa, sedih, bahkan bahagia di saat yang bersamaan.

"Apa oppa pernah mencariku?" suara Jiyeon melembut. Tatapannya sangat berharap pada namja di depannya.

Lagi-lagi Yesung mengangguk.

Perasaan hangat itu, walaupun hanya sedikit, masih bisa Jiyeon rasakan mulai memasuki rongga kosong hatinya.

"Apa oppa menungguku?"

Yesung tercekat. Ingin sekali ia menjawab dengan lantang jika ia memang pernah menunggu Jiyeon, memimpikannya untuk kembali, dalam keadaan hidup padanya. Tapi Yesung akan menegaskan jika itu dulu! Bukan lagi saat ini. Ketika seorang namja dengan sifat polos yang begitu manis di matanya mulai memenuhi hatinya sampai tak tersisa lagi tempat untuk bayangan gadis masa lalunya. Walaupun masa lalu itu tetap ada, jauh dalam memorinya.

Jiyeon tetap menunggu jawaban Yesung dengan sabar.

"Ya,"

Dan jawaban yang diharapkannya pun tiba sudah.

"Tapi itu dulu. Sekarang? Mianhae, aku tak lagi menunggumu. Aku sudah memutuskan jika kau hanyalah kenangan masa remajaku yang akan kusimpan selamanya."

". . . . . ."

Kenangan? Sekecil itukah sekarang dirinya berada? Batin Jiyeon.

"Hanya itu oppa?" lirih Jiyeon. Tawa kecil terdengar dari bibirnya. "HANYA ITU YANG INGIN KAU KATAKAN?"

Yesung cukup terlonjak dengan reaksi Jiyeon. Tapi ia tak bisa melihat setitikpun air mata di mata gadis itu.

"Kau tahu berapa lama aku menunggumu oppa?"

"Jiyeon ah,"

"Kau tahu berapa banyak usaha yang kulakukan demi melihatmu lagi? Berapa banyak operasi yang kujalani sampai aku bisa berdiri di sini?"

"Jebal, aku minta maaf." Yesung mendekati tubuh Jiyeon. Gadis itu selalu terlihat rapuh di matanya.

Jiyeon mundur beberapa langkah untuk menghindari Yesung. "Apa kau tahu apa saja yang aku korbankan demi ada di sini?!" Jiyeon membentak. "Diriku sendiri yang menjadi alatnya!"

"Tapi kau sudah tahu aku memiliki orang lain. Kau tahu aku sangat mencintai Ryeowook!"

"Aku merelakan seluruh diriku dipertaruhkan di sini. Aku melepas nama keluargaku dulu, aku diangkat sebagai anak oleh psikopat yang mengaku dirinya sebagai malaikat dengan membuatku menjadi gadis yang setingkat dengan boneka. Cantik dan tak berotak."

"Jiyeon! Cukup!"

"Membuatku menuruti apa yang menjadi perintah mereka dengan patuh, seolah aku dirancang untuk mendengarkan perintah mereka. Hanya karena mereka berani mengadopsiku dari kungkungan rumah sakit. Aku tak punya lagi kepribadianku yang dulu."

"Jeon Jiyeon!" teriak Yesung frustasi. Ia ingin melakukan apapun asal gadis itu berhenti untuk berbicara seperti itu.

"Aku bukan Jeon Jiyeon! Aku Park Jiyeon oppa!" sahut Jiyeon sinis.

"Apa maumu?" tanya Yesung cepat.

Jiyeon tersenyum, dan entah mengapa Yesung merasa jika senyum itu mengandung arti yang sangat banyak untuknya.

"Darah... Jiyeon," Yesung tak bisa menyembunyikan raut paniknya saat melihat setetes darah menetes dari hidung gadis cantik itu.

Jiyeon meraba bagian atas bibirnya dan merasakan bau anyir darah di indera penciumannya. Tapi dengan santai ia menyeka darah itu dengan punggung tangannya seolah tak peduli sama sekali.

'Aku benar, ini sudah lebih dari selesai... Sebentar lagi, ya hanya sebentar lagi...'

Langkah tenang Jiyeon mulai mendekati Yesung. "Apa oppa pernah memilih sesuatu? Memilih di antara dua hal yang penting?" jemari lentiknya mengusap pipi Yesung, membawanya pada getaran aneh yang sudah lama tak lagi dirasakannya.

"Jangan berbelit-belit!"

Jiyeon terkekeh. "Kau masih seperti dulu. Selalu sinis padaku." ujarnya mengenang. "Apa oppa mencintai Ryeowook?"

Kening Yesung berkerut mendengarnya. Pertanyaan lelucon macam apa itu?

"Tentu saja! Aku sangat mencintainya Jiyeon ah, jadi jangan ganggu dia!" Yesung mencekal pergelangan tangan Jiyeon.

'Game over...'

Gadis itu meringis pelan. Matanya menatap Yesung dalam ekspresi yang tak dapat diartikan.

"Aku tak menganggunya," dalih Jiyeon. "Hanya sedikit bermain dengannya."

Wajah Yesung mengeras saat mendengarnya. Tanpa sadar ia mempererat cekalannya.

"Apa oppa mau ikut bermain?" Jiyeon masih mempertahankan suaranya agar tetap tenang. "Ini akan cukup menyenangkan."

Gigi Yesung bergemeletuk menahan amarahnya. "Aku memperingatkanmu, Park Jiyeon." suara itu begitu mengancam.

Jiyeon tak akan membiarkan semuanya hancur begitu saja, ia akan menyelesaikan semuanya. Secepat yang ia bisa.

"Biar aku jelaskan aturan mainnya. Sederhana saja, oppa hanya perlu memilih." ucap Jiyeon. "Aku menempatkan namja manismu itu satu tempat yang kedap udara di rumah ini."

"Apa?!" Yesung terbelalak tak percaya. Gadis ini gila!

Mengurung seseorang? Di dalam ruangan kedap udara? Nyawa Ryeowook sedang terancam sekarang!

Yesung melepaskan tangan Jiyeon sampai gadis itu terhuyung ke belakang.

"Yang perlu oppa lakukan sekarang hanyalah memilih. Pilih aku, cinta masa lalumu? Atau pilih Ryeowook, cintamu yang sekarang?"

Ucapan tegas dari bibir gadis itu bersamaan dengan tetesan darah yang terciprat ke lantai tempatnya berada.

Dengan senyum tipis di wajah pucatnya Jiyeon memperlihatkan luka sayatan tipis yang ada di dekat pembuluh nadi pergelangan tangannya.

"Saranghae, Jongwoon oppa,"

"JIYEON!"

.

.

.

O.o.O

.

.

.

[ T . B . C ]

.

.

.

Haiiii Rin balik bawa lanjutan fic ini~~

Lagi lagi telat dan INI PENDEK BANGET! *sujud*

Maaf maaf Rin memang menunggu waktu yang tepat buat kasih konflik dan klimaksnya. Chap ini ngga ada YeWook moment sama sekali dan hanya ada YeYeon moment! *slapped hard* Hei tapi chapter ini punya banyak clue buat ke chapter berikutnya!

Kalo kalian bisa nebak pasti bakal tau chapter depan itu gimana jadinya. Ryeowook meninggalkah? Yesung pilih siapa? Jiyeon punya rencana apa lagi?

Silakan ditebak! *ditimpukin*

Eh gini ya Rin mau jelasin sedikit~

Rin itu update tiap ff emang nyaris selalu sebulanan sekali per chapter, tapi itu karena Rin punya tiga ff ;; jadi aslinya Rin update tiga chapter sebulan! Jadi maaf kalau ada yang bilang lama. Rin berusah fokus ke semuanya, bukan salah satunya biar reader di salah satu ff itu juga ngga kecewa sama Rin. Lagian Rin takut lupa sama plotnya kalau harus tunda update. Jadi sesibuk apapun Rin usahain sebulan harus update satu chapter per tiap ff.

Nah mohon pengertiannya ^^v

Mohon maaf juga ga bisa balas review untuk chapter kemarin. Semua review isinya penasaran apa rencananya Jiyeon cehahaha... Tuh yang mau dijawab Yesung masih cinta ga ke Jiyeon, Yesung mau mainin Ryeowook atau ngga, Jiyeon jahat atau ngga, Jiyeon bakal jadi orang ketiga dll bakal ada di chap depan! Doain aja urusan Rin cepet beres jadi Rin bisa update secepatnya ^^

Jangan bash karakter Jiyeon ne? Rin hanya buat dia antagonis untuk di ff kok :)))

Udah deh sesi cuap cuapnya. Banyak banyak minta kritik dan saran aja untuk chap ini~

Last, mind to gimme your review? ^^