Ketika disuruh mendeskripsikan seorang Kim Mingyu, Jeon Wonwoo akan menjadi orang pertama yang akan menjawabnya lantang-lantang.
Kim Mingyu. Bodoh. Ceroboh. Tidak peka. Naif. Cassanova cap kodok.
Namun, ketika ia disuruh menyebutkan alasan ia bertahan di sisinya hingga saat ini, Wonwoo tidak akan pernah menemukan jawabannya. Jawaban paling umum yang ia berikan hanyalah satu ulasan senyum dari bibirnya.
Lain lagi ketika orang-orang berkata bahwa ia beruntung mendapatkan seorang pria macam Mingyu, balasannya pasti Wonwoo tertawa dengan hebohnya. Ia tertawa dengan cara yang tidak tertolong hingga tak segan-segan memukul orang di sekitarnya. Tawanya bekumandang sekeras itu bukan berarti tidak ada alasan yang jelas.
Semua yang terlihat di Mingyu itu jauh, sangat jauh dari yang kau pikirkan.
Ya, Mingyu masih menjadi manusia dewasa yang normal, dan sering berbuat kesalahan.
Nyatanya banyak orang yang tidak percaya akan hal itu. Salahkan saja kepiawaian Mingyu menyembunyikan kebodohannya selama ini.
Kim Mingyu yang orang-orang kenal adalah seorang pria dewasa yang mapan yang dapat memenuhi kebutuhan lahir batinmu. Jangan lupakan keramahan dan ketegasannya dalam mengelola orang membuat awam terkesan. Poin tambahan yang lain, Mingyu memiliki baik ketrampilan maupun visual yang mematikan. Pantas saja Mingyu pernah masuk dalam artikel Pria yang paling ingin dinikahi di salah satu majalah terkenal. Tampan, ditambah chocolate abs yang sesekali terpampang di social medianya. Ditambah ia terampil dalam mengolah pangan, sayang anak kecil, dapat mengurus rumah, bahkan dalam hal seni menjahit pun ia bisa.
Bagaimana bisa pria se-perfect Mingyu kau kata buruk Won?
Mungkin Wonwoo dapat memberikan tour untuk mengikuti aktivitas Mingyu. Oh, mungkin ia dapat mencetak kamus cepat Mari mengenal Keburukan Mingyu, pastilah akan diserbu orang-orang. Em.. kemungkinan lain, dirinya bisa tambah dibenci oleh penggemar Mingyu. Mengingat terror penggemar Mingyu saat kekasihnya naik daun membuat Wonwoo terkikik.
Banyak orang yang membencinya akibat jawaban jujurnya mengenai Mingyu, kebanyakan berkata bahwa dirinya arrogant dan tak tahu diri. Wonwoo yang menghadapinya hanya tersenyum dengan lebar sambil berkata terimakasih keras-keras. Kebanyakan kasus, dirinya langsung dianggap gila oleh penggemar kekasihnya.
Biarkan orang berkata apa, nyatanya toh hanya dia yang dapat merasakan dekapan hangat dari Mingyu setiap harinya.
Beda lagi dengan tanggapan orang terdekat, orang-orang yang mengikuti perjuangan kisah Mingyu-Wonwoo sejak sekolah. Ketika orang-orang di luar sana berlomba-lomba membandingkan kasta Mingyu dan Wonwoo yang dianggap tidak seimbang, orang terdekatnya malah berbuat sebaliknya.
Mingyu yang seharusnya bersyukur mendapatkan Wonwoo.
Jika teman lamanya dikumpulkan di suatu tempat bersama pasangan ini, pasti pembahasannya tak jauh dari konteks ini. Mingyu di masa-masa meluluhkan Wonwoo merupakan kenangan yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Bagaimana rasa suka Mingyu yang tak tertolong untuk mendapatkan Wonwoo.
Tak hanya itu, mereka selalu membahas tentang Mingyu yang dulu bodoh dapat berubah dengan keberuntungan menimpanya keras-keras. Ya, keberuntungan yang ia terima bermula sejak menggapai Wonwoo di dalam genggamannya. Kawannya yang dekatpun sering memuji keberuntungan yang Mingyu dapat. Bagaimana tidak, ia mendapat seorang Jeon Wonwoo yang berkorban banyak untuk Mingyu.
Namun, di tengah perbincangan serius seperti itu, pastilah ada sesi menggoda Wonwoo— godaan yang Wonwoo sangat benci. Pelaku utama biasanya dipelopori oleh Soonyoung yang terang-terangan mengejek Wonwoo dengan nada main-mannya. "Eh.. tapi dimana ya Si Perfect Jeon Wonwoo? Ku rasa ini karma. Lihat Mingyu yang kau katai bodoh setiap saat, kini duduk di kursi tertinggi perusahaannya sendiri."
Jawaban yang dapat dipastikan dari Wonwoo adalah acungan jari tengah untuk Soonyoung, yang disambut tawa puas dari Soonyoung. Biasanya Mingyu hanya tersenyum sambil mengelus rambut Wonwoo, dan berakhir Wonwoo yang marah dengan Mingyu.
Tapi jauh di dalam lubuk Mingyu, memanglah ia yang harus bersyukur mendapatkan Jeon Wonwoo. Di luar umpatan kasarnya, Wonwoo adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Tak perlu ditanya, seberapa besar pengorbanan Wonwoo untuk Mingyu. Wonwoo rela melepaskan pekerjaannya yang menjanjikan di salah satu pabrik besar di Jepang, dan memilih menjadi jurnalis paruh waktu di Korea dengan gaji tidak seberapa. Mengingat waktu terberat Mingyu saat itu selalu membuat bantalnya basah dengan Wonwoo yang ia peluk erat sepanjang hari.
Kisah mereka bukanlah satu paket puzzle yang lengkap tersusun, jalan mereka masih panjang untuk saling mengutuhkan satu sama lain. Kisah mereka bukanlah cerita kanak-kanak yang naif, yang percaya akan happily ever after. Masih banyak jalan yang perlu mereka berdua lalui dengan realistis. Biar orang lain mengolok mereka atau salah satu dari mereka, nyatanya yang mengolok belum tentu dapat melewati masalah yang mereka hadapi dengan tuntas.
Kisah romansa mereka sebenarnya jauh dari manis, karena hingga menginjak hubungan terbilang matang ini sebagian besar terisi umpatan dan olokan. Mungkin itu yang membuat orang awam meremehkan hubungan mereka, tapi kembali lagi biarlah orang berkata apa. Mereka menjalani hubungan dengan cara mereka, dengan cinta mereka. Ya, seperti saat ini perbuatan 'cinta' dari Jeon Wonwoo yang membuat Mingyu gemas bukan main.
Setelah semalam keduanya tertidur dengan bacaan 'dongeng' buku harian Kim Mingyu, Wonwoo bangun dengan cepat pagi ini—efek dari ia tidur cepat juga. Jika kalian membayangkan posisi tidur mereka setelah membuka mata pagi-pagi adalah saling berpelukan, sayang sekali hal itu jarang terjadi di antara mereka.
Hal paling biasa terjadi adalah kaki kanan Mingyu menyilang hingga pinggang atas Wonwoo, lengan kiri Wonwoo berada di wajah Mingyu. Baju Mingyu selalu tersingkap sebatas dada—kebiasaan Mingyu yang selalu bergerak dalam tidurnya— dimana menunjukkan rambut 'kelakiannya' yang ada di sekeliling pusar. Wonwoo yang tertidur dengan mulut terbuka. Jangan lupakan kebiasaan Mingyu yang senang buang angin di pagi hari sering membuat Wonwoo otomatis menjambak bulu kaki Mingyu. Romantis bukan?
Tapi kali ini Wonwoo tidak melakukan hal anarkis itu, yang pertama kali ia lakukan adalah menyingkirkan kaki Mingyu dari pinggangnya. Setelah itu membuka lengan Mingyu lebar-lebar dan merebahkan kepalanya di atas lengan kekar itu. Mingyu hanya bergumam tak jelas dan kembali tidur.
Wonwoo tersenyum melihat wajah bantal Mingyu yang sungguh jelek baginya—ia tak menyadari bahwa wajahnya juga masih membengkak. Dengan niat jahilnya, ia menempelkan jarinya di bawah hidung Mingyu, menghalau pernafasan kekasihnya. Beberapa kali Mingyu merengek agar tidak diganggu, hingga akhirnya Mingyu membuka matanya separuh dan membalikkan badannya berlawanan dengan Wonwoo.
Wonwoo yang kehilangan objek keusilannya hanya mencibir, lalu ia beranjak dari tempat tidur.
Tak lama berselang, ia kembali naik ke atas tempat tidur dengan spidol kerja Mingyu di tangan. Ya benar, Wonwoo sebentar lagi menjadikan Mingyu kanvas gambarnya.
Ia mendekati Mingyu yang masih terlelap dan mulai menggoreskan spidol itu di ujung hidung Mingyu. Satu goresan, dua goresan hingga wajahnya menghasilkan sebuah hasil karya baru dari Wonwoo. Mingyu yang tidur seperti kerbau tidak terganggu sama sekali dengan ulah Wonwoo.
Hidung Mingyu terdapat bulatan hitam, dengan garis-garis tebal di kedua pipinya, di bawah dagu Mingyu terdapat tulisan 'Pikachu' dengan huruf seadanya. Puas dengan hasil karyanya, Wonwoo segera mengambil ponselnya dan mengambil foto sebanyak yang ia bisa.
Hingga tiba-tiba Mingyu bangkit dan membuang ponselnya entah kemana, sedangkan dirinya sudah dikunci kuat-kuat oleh kekasihnya.
"Bodoh! Ponselku kalau rusak bagaimana? Aduh.. kepalaku pusing gara-gara kau tarik begini."
"Biar saja rusak, nanti kau bisa beli lagi. Mana tanganmu?"
"Apa?"
"Spidolnya?"
"S-spidol apa?" elak Wonwoo.
Mingyu mendekatkan wajahnya ke arah Wonwoo, dan menekan paha dalamnya.
"Ingin jadi anak nakal Jeon?"
"Me-mesum!! Menyingkir dariku!!"
"Kemarikan spidolnya!"
"Iya, iya! Ish.. Sekarang menyingkir dariku! Nafasmu bau sial!" Wonwoo meronta untuk kesekian kalinya.
"Hahhhhh…. Bhaghaimana Jheon? Bhau khan?" tanya Mingyu sambil sengaja menghembuskan nafas paginya di depan wajah kekasihnya.
"Kim Mingyu!!! Sialan, aku sudah memberikan spidolnya~"
Lantas Mingyu menegakkan tubuhnya, namun masih dalam posisi menduduki perut Wonwoo dan mengunci kedua tangan Wonwoo dengan tangan kanannya. Ia cabut tutup spidol kerjanya menggunakan gigi dan membuangnya dengan sensual.
"Waktunya hukuman sayang."
Wonwoo memejamkan matanya pasrah ketika ia merasakan guratan abstrak terbentuk di wajahnya. Mingyu tertawa puas dengan hasilnya. Tulisan 'Wonkachu' ada di dahi Wonwoo dengan guratan garis tiga di masing-masing pipi Wonwoo. Setelah selesai, Mingyu mendaratkan kecupan di ujung hidung Wonwoo.
"Sudah selesai!" ujar Mingyu ceria.
Wonwoo memincingkan matanya seraya meronta minta dilepaskan. Setelah itu Mingyu mengijinkan Wonwoo turun dari tempat tidur dan berkaca. Tawa lepas terdengar dari kamar mandi.
Lantas Mingyu menyusul Wonwoo yang masih terbahak melihat wajahnya sendiri.
Mingyu yang melihat gambar di wajahnya sendiri pun mau tak mau ikut tebahak. Bagaimana bisa mereka berdua memiliki ide 'Pikachu' yang sama. Kebetulan yang konyol.
"Ya Kim! Apa-apaan ini Wonkachu? Menjijikkan."
Mingyu berdiri bersisihan dengan Wonwoo menghadap kaca."Gambarmu buruk, seperti biasa."
Mendengar olokan itu, lantas Wonwoo memberi cubitan kecil di perut Mingyu. Mingyu yang kesakitan segera menarik tangan Wonwoo yang membuat Wonwoo menubruk bahu Mingyu keras.
"Sakit bodoh!"
Mingyu tersenyum melihat ekspresi lucu yang Wonwoo berikan dan memberikan kecupan ringan di dahinya. Untuk sepersekian detik, Wonwoo terdiam dan mengamati manik mata Mingyu. Keduanya saling mendekatkan wajah masing-masing, hanyut akan situasi yang memungkinkan mereka berbagi kasih.
5 senti.
4 senti.
3 senti.
"Hatchi!"
"Kim Mingyu Sialan! Aku membencimu!!"
Special Chapter End.
Hai!!! Ini masih hari Minggu kan ya masuknya hehehe (Iya, soalnya authornya masih masuk WIB) .. Ini ada special chapter buat yang minta tahun 2020nya :DD
Maaf kalau aneh, typo, udah konslet ini menghadapi besok udah kuliah lagi :"
Terimakasih support yang diberikannn *0*
Maaf naik ratingnya baru bisa aku kasih chapter depan sehubungan cerita yang masih latar 2014 :D
O ya, buat yang tanya lirik lagu yang ada di chapter 6, itu lirik lagu Fronting
Di tunggu feedbacknya ya, makin dikit nih kayaknya yang baca :") Tunjukkanlah eksistensi kalian biar paling tidak jadi penyemangatku *
Buat yang lebih fast respond, bisa me akun Wattpadku juga :) @jeonwoNUDE_17 Bisa curhat,kenalan, tapi gak bisa cari jodoh loh ya.. hehehe
Mau curhat juga nih.. Aku sedih, dunia per-ff an Meanie dilanda krisis :(( Banyak author meanie yang tutup lapak.. Mungkin salah satu alasannya udah capek sama sider HEHEHE. :') Gak sih.. wkwkwk.. tapi bener deh ff meanie sepi banget sekarang dan aku kehilangan..
Ah udahlah kebanyakan ngomong, see you in next chapter \(0)/
