"Ka-Kak Neji?"
Jaket parka yang dikenakan lelaki itu sedikit basah. Bulir-bulir air tampak di bahunya. Di luar memang sedang gerimis. Presipitasi jatuh menyentuh siapa saja yang berdiri di bawahnya.
Hinata mundur dua langkah. Hatinya menyesalkan alasan mengapa sang kakak harus datang ke sini.
"Hinata?"
Perempuan itu enggan menjawab. Dalam hatinya, Hinata masih bertanya-tanya. Sebelum pindah, tak sekali pun ia pernah minta ditengok. Lalu apa yang kakaknya lakukan sekarang? Ingin menjemput dan membawanya pulang? Ia bahkan belum berkata jujur perihal siapa dirinya kepada Naruto.
Pemuda itu sedang makan di belakang. Kalau sampai dia ke depan dan mengenali bau, atau suara Neji, itu akan menyebabkan Hinata ada dalam posisi bahaya.
"Untuk apa Kakak ke sini?"
"Kau tidak suka dengan kehadiran kakak ya?"
"Bu-bukan begitu, tapi Kak, aku sama sekali tidak pernah bilang untuk dijenguk. Kakak harus percaya padaku dong, jika aku dapat menjaga diriku sendiri."
"Iya, kakak tahu kok. Kakak ke sini memang ingin memastikan keadaanmu. Apa kau tidak rindu denganku dan Shion?"
Hinata mengalihkan arah pandangannya pada gerimis yang jatuh menimpa daun keladi di halaman rumah.
Tak lama ... terdengar Hinata mendesah.
"Tentu aku merindukan kalian," jawab Hinata seraya menunduk.
"Shion sedang hamil 3 bulan. Kakak ke sini untuk mengabari itu."
"... Ka-kak Shion hamil?"
"Iya, dia bilang ingin agar kau mengusap perutnya. Namun yang lebih penting, kau ingat teman SMA-mu yang rambutnya selalu dicepol dua itu? Dia datang ke rumah 2 kali mencarimu."
Bercepol 2?
"... Te-Tenten?! Ke-kenapa Kakak tak langsung menghubungiku lewat telepon sih?"
"Hahaha ... bukankah hal yang wajar, seorang kakak menengok adiknya?" Neji mendekat, ia lalu mengacak-acak poni Hinata. "kau tak merindukanku, huh?" ujarnya seraya membuka tangan.
"Bodoh, tentu aku merindukan Kakak dan kak Shion." Hinata membalas pelukan Neji.
"Jadi ... kapan kau akan kembali ke rumah, Hinata?"
.
"Haruki?"
Naruto berujar kala bau lavendel tercium samar membaui hidung. Wangi khas, yang rasanya hanya dimiliki oleh dua orang: gadis itu; dan tentu 'dia' yang di masa lalu.
Hinata menarik kursi, lantas kembali duduk di samping Naruto. Tadi kakaknya sudah pulang. Neji juga membawakannya bahan-bahan makanan. Hinata terpaksa menyembunyikan dulu dan akan memasukkannya ke dalam lemari pendingin setelah Naruto selesai makan, lalu pergi tidur.
Naruto akan curiga bila ia terdengar membawa kantung plastik, atau suara berisik darinya saat memasukkan semua bahan makanan tersebut ke tempat yang benar.
"Tadi siapa yang memencet bel?"
"Ah ..." Hinata tersentak.
Aku harus menjawab apa?
"... Haruki?"
"Ha-hanya orang berteduh. Di luar gerimis kan? Dia tadi sekalian meminjam telepon untuk menghubungi temannya. Mobilnya kehabisan bahan bakar di dekat danau.
Tak jauh dari rumah mereka memang ada danau yang dibuka sebagai area wisata. Namun, aneh bukan, bila tidak ada penjual bahan bakar? Atau bahan bakar sekarang sedang langka?
"Laki-laki?" Naruto bertanya sekali lagi.
"Y-ya, tapi sekarang dia sudah pergi." Hinata was-was bila lelaki tersebut menyadari kebohongannya seperti biasa. Selama ini, Naruto selalu tahu saat ia sedang berbohong.
A-aku tidak terlihat gugup di depan Naruto kan?
"Oh ..." Naruto tampak tak menanggapi lebih lanjut. Dia memilih untuk menghabiskan ramennya.
Meski bukan seperti Naruto yang biasa menanggapinya dengan argumen-argumen yang sulit ia bantah, hari ini rasanya Naruto cenderung lebih lembut dan tak banyak membalah.
Hinata turut memakan ramennya yang sekarang terasa dingin.
Mungkin ... setelah ini ia harus izin untuk pulang sebentar, besok. Ia ingin memastikan apa yang diinginkan Tenten, sampai wanita itu dua kali mendatangai rumahnya.
Tadi kakaknya sempat memberikan nomor telepon Tenten. Gadis itu memberikan nomor teleponnya ketika bertamu ke rumah Hinata.
Ini pasti ada hubungan dengan perjumpaan mereka di The Song of Evening kemarin.
.
.
.
Tokyo,
Hari ini angin seperti biasa menerbangkan dedaunan maple yang mengering. Walau hujan tidak turun, ternyata lumayan banyak orang yang membawa payung di tangannya guna berjaga-jaga.
Untung Naruto tidak bertanya macam-macam. Dia hanya bilang hati-hati dan sampaikan salamku pada keluargamu.
Hinata juga sudah menghubungi Tenten kemarin. Gadis itu membalas tak acuh, dan terkesan cukup dingin. Namun yang pasti, Tenten setuju mereka bertemu. Hari ini jam 2 siang di kafe yang tak jauh dari sekolah mereka dulu saat SMA. Hendak nostalgia? Entahlah, Hinata hanya bisa mengedikkan bahu. Jika dulu mereka seperti sepasang sepatu yang sulit dipisahkan, kini keduanya justru sama-sama menjadi asing. Semoga saja setelah pertemuan ini Tenten berhenti salah paham padanya.
Sebelum menemui Tenten, Hinata berjalan-jalan dulu di kawasan pertokoan distrik Kichijoji. Tempat ini cukup rekomendasi bagi mereka yang ingin berbelanja dengan suasana tenang. Orang-orang paham betul bagaimana ramainya lingkungan yang tak pernah tidur seperti Shibuya dan Shinjuku. Di sana sangat berisik, bahkan untuk sekadar berjalan, kadang harus berdesak-desakan. Sebaliknya, di Kichijoji, orang-orang dapat melangkahkan kaki dengan tenang seraya memilih toko yang ingin dimasuki.
Suasana menjelang musim dingin kental terasa di sini. Toko-toko sudah mengganti baju musim panas mereka dengan pakaian-pakaian tebal. Hinata membuka pintu salah satu toko yang dari luar terlihat klasik. Pintunya berwarna hijau dengan ukir-ukiran daun di bagian tepi. Saat ia membukanya, lonceng di depan pintu terdengar berbunyi. Seseorang di meja kasir kemudian terlihat membungkukkan badan ke arahnya sebagai ucapan selamat datang. Pandangan Hinata lantar mengedar ke sekeliling. Atensi matanya langsung terarah pada jaket laki-laki yang dipasang di mannequin. Ia ingin membelikan Naruto jaket. Sebentar lagi musim dingin. Pemuda itu pasti sangat butuh.
.
Pot menggantung di depan jendela; bunga-bunga cantik yang tertanam di atasnya, mengingatkan ia pada 3-4 tahun lalu kala terakhir mengunjungi kafe ini.
White Red Flowers, nama itu tetap terukir pada papan kayu di atas pintu. Dari dulu, kafe ini tak pernah berubah; sangat khas dengan hiasan tumbuhan hidup, bunga-bunga, desain yang sederhana, sofa yang nyaman, serta alunan musik yang niscaya mampu menambah gairah pengunjung untuk betah berlama-lama duduk.
Hinata sudah memesan segelas macchiato; espresso yang ditambah sedikit susu. Minumannya bahkan habis separuh.
Suara hujan di luar cafe terdengar bercampur irama nada dari sebuah lagu yang diputar. Lirik melankolisnya terasa pas dengan ketenangan yang ia dapat di tempat ini. Seakan-akan dirinya turut ada dalam lirik tersebut, turut berperan menjadi pelakunya.
Di balik jendela, orang-orang tampak berhamburan mencari tempat berteduh. Mereka berlari dengan berlindung apa saja yang dapat menutupi kepala; tas, tangan, buku, hingga jaket. Di antara langkah-langkah cepat itu, seseorang memakai payung bening terlihat berjalan menuju kafe. Langkahnya santai, tidak lambat, tidak juga terburu-buru. Rambut pendek sebahu yang biasanya ia cepol kini dibiarkan terurai. Dia memakai sweater hijau lumut yang besarnya sampai lutut. Celana jeans biru dipadukan boot hitam, gadis itu terlihat modis dan kekinian dibanding dirinya yang sebatas memakai jaket parka berbulu, serta celana panjang dan sneakers.
Hinata segera memperbaiki posisi duduknya kala pintu kafe ia lihat membuka. Gadis itu masuk ke dalam setelah menutup kembali payungnya. Sorot matanya yang dingin membalas tatapan Hinata. Perempuan tersebut mendekat-sementara di lain pihak-Hinata tak tahu harus bagaimana mengawali semua ini agar suasana mampu mencair. Setidaknya-bila tak seperti dulu-mereka dapat berbicara selayak orang yang baru kenal, bukan seperti dua orang yang saling bermusuhan.
"Te-Tenten ..." Hinata melambaikan tangan.
Tenten langsung duduk di depannya, serta memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman.
Hinata menggaruk belakang rambut. Dia tidak tahu harus berucap apa lagi.
"Kau sudah lama?" terdengar Tenten membuka obrolan dengan nada datar.
"Hehehe ... ba-baru kok. Aku baru saja duduk."
"Oh ..." iris kakao tersebut lalu melirik arah minuman Hinata yang sudah habis setengah. "cukup sebentar untuk memesan dan meneguk minumanmu sampai nyaris habis. Hmm ... dari dulu kau memang pandai berbohong ya, Hinata-chan?"
Tanpa basa-basi lagi, gadis itu langsung menyerangnya.
Gigi Hinata terdengar bergemeletuk. Jauh dalam hati ia kesal, marah, bahkan jengkel pada Tenten.
Kenapa dia langsung berkata seperti itu?
Namun, Hinata tetap mencoba untuk memasang mimik bersahabat dengan terus mengumbar senyumannya.
"Hehehe ... ketahuan ya?"
Tak lama Tenten menoleh lantaran minuman yang dipesannya sudah datang. Segelas smoothie mangga tersaji tak jauh dari gelas Hinata. Setelah pelayan tersebut pergi, Tenten tampak mengaduk minuman itu sebentar.
"Hari ini aku tak punya banyak waktu. Jadi aku akan langsung ke poinnya."
Degg ...
Hinata sempat terkejut mendengar pernyataan itu.
Tenten terlihat meneguk minuman dingin tersebut, "Bukankah kau sudah menikah?"
Jelas sekali, alasan Tenten mendatangi rumahnya tak lain dan tak bukan adalah guna membahas masalah Naruto.
Mungkinkah, kakaknya sempat berkata yang sesungguhnya ketika gadis itu mengunjungi rumahnya?
"Aku tahu, karena kau pernah mengirimkan undangan pernikahanmu kan? Lalu apa? Kau yang sudah bersuami ini mendekati pria lain yang dulu menyukaimu?"
Deggg ...
... sepertinya Tenten belum mengetahuinya.
"Ma-maksudmu?"
"Haaah ... tak perlu berpura-pura bodoh deh, Hinata. Kau selalu ingin dikelilingi laki-laki kan?"
Suara musik memang tenggelam dalam gemericik air hujan. Namun tidak dengan suara Tenten yang ditangkap begitu jelas oleh indera pendengarannya. Yang dicerna sebagai ''kau wanita jalang tak tahu diri''. Hinata tidak mau membela diri. Jika ia ingin memperbaiki hubungannya dengan gadis itu, maka berpikir dengan kepala dinginlah satu-satunya cara. Entah Tenten tahu dari mana Naruto menyukainya. Waktu itu permasalahan mereka bukan sebab Naruto suka padanya dan Tenten mengetahui fakta tersebut, tetapi lantaran surat ajakan berkencan yang terbongkar.
Hinata meneguk kembali macchiato-nya.
Mata Tenten terlihat mengekor setiap tindak yang ia lakukan.
"Kau gugup? Atau sedang sibuk mencari alasan?"
Tenten rupanya memang tak mau beramah-tamah dengannya. Jika begini, mungkin sebaiknya ia menceritakan apa yang sudah terjadi.
"Te-Tenten ... se-sebenarnya aku-"
"Kau sudah menjadi janda?"
"...?!"
Tak pelak Hinata terkesiap. Tenten tahu?
"Suamimu sudah meninggal karena kecelakaan, kan?"
Dua kali mendatangi rumah Hinata dan tak membuahkan hasil apa pun, tentu yang ketiga kalinya Tenten memikirkan sebuah cara. Ia tidak mau yang ketiga ini menjadi sia-sia lagi.
Saat itu yang ada di rumah adalah istri dari kakak Hinata, Shion. Lelaki berambut panjang tersebut jam 12 siang pasti sedang berada di kantornya. Jadi hanya Shion seorang yang berada di rumah.
Shion sekadar berkata bila Hinata pindah rumah, tanpa spesifik menunjukkan lokasinya di mana. Tenten berpura-pura persahabatan mereka masih baik-baik saja, dan mendatangi rumah Hinata hanya untuk sebatas nostalgia masa-masa SMA. Ia menanyakan pada Shion apakah Hinata sekarang sudah punya hamil-mengingat, sebelumnya ia pernah mendapat undangan pernikahan-dan Shion berkata suami Hinata sudah meninggal dalam kecelakaan. Bahkan mereka belum sempat berbulan madu.
"Kau sedang mencari pelampiasan untuk rasa sepimu itu? Kau memanfaatkan keadaan Naruto yang sekarang untuk kepentingan sebelah pihakmu?"
Tenten benar-benar salah sangka. Dia berpikir Naruto hanya jadi pelarian Hinata karena kehilangan orang yang ia cintai.
"Dengan keterbatasan fisik Naruto-kun yang sekarang, dia pasti jadi bergantung padamu, dan untuk membayar semua itu, kau memanfaatkan hatinya yang polos. Kau pikir aku tidak tahu? Apa mentang-mentang Naruto-kun orang berbakat, orang yang dikenal publik, mantan model, seorang pianis, sehingga kau numpang nama dan ingin dianggap sebagai orang paling baik sedunia karena telah banyak menolongnya? Padahal yang sebenarnya terjadi, kau hanya memanfaatkan Naruto-kun untuk kepentinganmu!"
"Tenten, kenapa kau bisa berkata seperti itu-!"
"Alah, kau pikir aku tidak tahu siapa kau, hah! Apa menurutmu memainkan hati seseorang itu masih sangat, sangat, sangat menyenangkan-!"
Brakkk ...!
Hinata berdiri. Ia lelah untuk mengalah lagi. Tremor menjalari tangannya yang masih bertahan pada meja yang baru ia gebrak.
Kepala Hinata tertunduk. Napasnya terdengar kurang beraturan, menegaskan jika sekuat tenaga ia menahan emosi.
"Apa? Kau kesal mendengar kata-kataku?" Tenten berujar lagi.
Orang-orang yang ada di kafe itu jadi memperhatikan mereka. Suara gebrakan meja Hinata terdengar cukup keras, meski hujan di luar sana tengah deras-derasnya.
Tenten melirik orang-orang itu. Terlihat di antara mereka ada yang berbisik, ada pula yang memandang penuh tanya.
Tenten mengalihkan pandangannya lagi pada Hinata.
"Kau puas sekarang? Atensi orang-orang jadi tertuju pada kita. Memang ya, kau ini kesepian sehingga ingin semua orang memperhatikanmu."
Bukan seperti itu ...
Bukan seperti itu ...
Bukan seperti itu ...!
Kali ini Hinata tak mampu lagi meredam emosinya. Darahnya seakan mendidih. Kenapa Tenten harus memojokkannya seperti ini?! Seolah ini semua salahnya. Seolah ia tidak berhak dekat-dekat dengan Naruto.
"Terserah padamu! Sekali pun kau mau mau menilaiku seperti apa, yang jelas, apa yang kau pikirkan sama sekali tidak benar! Kau salah jika berpikir aku mendekati Naruto demi ketenaran. Aku tidak sepicik itu, Tenten. Aku bahkan berteman dengan Naruto-kun sejak SMP. Lebih lama dari kau. Jika kau menuduhku hanya untuk melampiaskan rasa cemburumu padaku dan menghakimiku, kau sungguh egois!"
"Apa?! Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku!" Tenten turut berdiri. Bengis, ia menatap wajah Hinata.
"Kau bahkan tidak tahu kenapa Naruto-kun mengalami kebutaan kan? Kau tidak tahu apa yang dia alami, karena yang ada di pikiranmu hanyalah rasa kau mencintainya. Rasa cinta padanya yang terus kau pikirkan, tanpa berpikir apa yang sudah terjadi. Kau tahu sendiri Naruto-kun tidak buta sejak lahir kan!"
Tenten tak menjawab lagi. Dia memandang Hinata tak percaya, boleh jadi lantaran Hinata yang dikenalnya lugu, rupa-rupanya dapat berkata seperti itu.
"Naruto-kun buta karena aku! Kornea mata yang kumiliki sekarang adalah miliknya!"
"...?!" pupil Tenten tak ayal langsung membulat.
"K-kau bercanda?"
Hinata menggeleng. Lemas, ia kembali terduduk. Lengannya menyeka air mata yang tiba-tiba luruh. Mata ini, mata ini selalu membawa penyesalan. Jika ia ingat, rasanya lebih baik dia buta seumur hidup.
"Aku ingin menjadi mata Naruto-kun. Aku ingin terus berada di sisinya sampai dia sendiri yang menyuruhku pergi. Aku akan menjadi matanya. Aku akan terus di sisinya ..." Hinata mengucap itu dengan terus menangis. Bulir-bulir bening membanjiri pipi, menganak sungai seolah tiada habis. Padahal, tangannya pula tak henti menyeka air mata yang keluar. "Aku tidak akan pergi dari sisinya sekali pun seperti apa kau meminta-!"
Grebb ...
Tenten menarik lengan Hinata.
Plak!
"KAU KEPARAT!"
Hinata memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan.
Orang-orang kembali menatap mereka.
Tenten, entahlah. Dia terlihat begitu marah.
"Kenapa tidak sekalian saja kau membunuhnya dari pada kau membuat hidupnya menderita! Kau memang petaka bagi semua orang. Kau sebut dirimu temannya? Kau sebut mengenal dia lebih baik dari pada aku? Hah, bolehkah aku tertawa? Tapi kau justru memanfaatkan matanya untuk memperbaiki penglihatanmu yang rusak karena kecelakaan! Kau iblis-!"
"Lantas aku harus bagaimana, Tenten?! Aku tidak pernah meminta mata ini! Naruto-kun yang mendonorkannya tanpa sepengetahuanku. Kami memiliki rasa sakit yang sama. Kami sama-sama pernah hidup dalam kegelapan. Naruto-kun membohongiku dan mengaku sebagai suamiku, tapi pada akhirnya itu terbongkar. Rasa bersalah membuat Naruto-kun diam-diam mendonorkan korneanya. Dan rasa bersalah juga yang membuatku sekarang berada di sampingnya untuk menjadi mata barunya.
"... ini impas kan? Apa menurutmu masih aku yang salah?!"
"Aggrrrr ... hentikan omong kosongmu!"
Byurr ...
Tenten menyiramkan smoothies mangganya ke wajah Hinata.
"Aku akan mengatakan semuanya pada Naruto-kun, Hinata!"
.
Pertemuan itu hasilnya percuma. Bukan memperbaiki, tapi malah memperuncing kata musuh di antara mereka. Ikatan teman seakan sebatas kepulan asap yang jelas-jelas tak dapat ia genggam. Itu ilusi. Di depan matamu, tapi tak bisa disentuh.
Sepanjang perjalanan pulang Hinata terus saja menangis. Masa bodoh orang-orang akan memanggilnya perempuan aneh. Bahkan, sempat beberapa kali orang yang duduk di sampingnya menawari tisu. Ya, setidaknya butuh satu kali naik kereta dan satu kali naik bus untuk menuju rumahnya yang terletak di dalam hutan.
Hari sudah benar-benar gelap ketika ia harus melintasi setapak itu seorang diri. Rasa takut yang biasa menghinggapi, terlupakan lantaran ia sibuk menangis.
Redup lampu rumah tua terlihat samar dari kejauhan. Hinata kian memantapkan langkah. Tujuannya semakin dekat. Tak lupa ia menghapus air matanya. Walaupun Naruto tidak bisa melihat itu, tapi dari suara akan jelas terdengar jika ia sedang menangis.
.
Pintu gerbang dibukanya perlahan. Jam segini mungkin Naruto sudah tidur. Sangat mustahil, jika lelaki itu masih terjaga, apalagi sedang menunggunya. Lagi pula, ia tidak bilang akan langsung pulang.
Clek ...
"Haruki?"
Yang dipanggil namanya terang terkejut.
"...?!"
Pemuda berambut kuning cepak tengah menunggunya di kursi ruang tamu. Tampak sebuah buku bertuliskan huruf braille di pangkuannya. Kelihatannya ia menunggu kepulangan Hinata sembari membaca. Sangat jarang Naruto duduk di ruang depan. Ini ... sungguh mengejutkan.
"Na-Naruto-kun?"
"Aku yakin kau akan pulang. Jadi aku menunggumu di sini."
"... a-ah, begitu,"
Rasa tak percaya hinggap dalam benak Hinata selepas mendengarnya. Naruto yang biasanya tak peduli, kenapa mendadak jadi ramah begini?
"Kau sudah makan?" tanya pemuda itu sekali lagi.
Hinata pelan mengangguk ...
"Apa? Jangan menggunakan isyarat. Aku kan tidak bisa melihatmu,"
Aah ... Hinata sampai lupa.
"Su-sudah kok. Kau sendiri? Biar kubuatkan sesuatu untukmu." Hinata berjalan menghampiri Naruto. Naruto terlihat menggapai bahu Hinata untuk membantunya berdiri.
"Tidak perlu. Aku sudah makan,"
"O-oh, begitu. Baiklah, kalau gitu biar kubuatkan susu. Tunggu saja di ruang tengah sambil mendengarkan siaran televisi. Ok?"
Naruto mengangguk.
Hinata pun membimbing Naruto berjalan ke dalam. Meskipun tanpa Hinata Naruto juga dapat melakukannya sendiri, malam ini, lelaki itu agak aneh. Dia membiarkan Hinata menuntun langkahnya; sebuah hal yang biasa ia tolak mentah-mentah lantaran tidak mau dikasihani, sekali pun niat Hinata adalah menolong.
.
Dua gelas berisi susu hangat telah ada di tangan masing-masing. Gelak tawa sesekali terdengar dari arah televisi yang kebetulan menayangkan acara komedi. Ekshibisi yang cukup menyegarkan otak, karena dipenuhi banyolan-banyolan penggelitik perut.
Duduk berselimut bersama sambil menyandarkan punggung di sofa. Rasanya nikmat. Hinata menolehkan kepala. Lelaki itu tengah meneguk susu dalam gelasnya. Selama tinggal di sini, baru sekarang, Hinata merasakan mereka begitu dekat.
"Naruto-kun ..."
"Ya-?"
Naruto tersentak.
Sentuhan dari jari yang lembut mengusap pelan dagunya.
"Sudah bersih sekarang," Hinata tersenyum simpul. Tadi ada susu yang menetes di dagu Naruto.
Naruto sendiri seketika dia tampak menunduk. Dan tak lama, Naruto mengembalikan gelasnya pada Hinata.
Saat tangannya tanpa sengaja bersentuhan dengan ujung jari Naruto, Hinata jadi teringat kata-kata Tenten sore tadi.
"Aku akan mengatakan semuanya pada Naruto-kun, Hinata!"
Bagaimana jika perempuan itu sungguh-sungguh?
Apa yang harus ia lakukan untuk mencegah Tenten?
Hinata melihat Naruto begitu menikmati acara televisi yang tersaji di depannya. Namun entah kenapa, dalam hati, Hinata merasakan nyeri. Nyeri karena ia tahu Naruto tidak benar-benar menikmati acara televisi tersebut sebab matanya yang buta.
"..."
Hinata menggigit bibir bawahnya.
Andai dia bisa memutar waktu ...
"Haruki, kenapa kau dari tadi diam?" tangan Naruto berusaha meraba-raba rambut Hinata. "kau sudah tidur ya-?"
Pupil lelaki itu membola.
Hinata menarik tangan Naruto, dan ... menciumnya.
"Biar ini jadi kebersamaan kita yang terakhir, Naruto-kun."
.
.
.
.
Bersambung
