"Kau yakin tidak ingin singgah dulu? Kita bisa berangkat ke kantor bersama."

"Sai tidak tau aku sedang bersamamu." tolak Shikamaru ketika Boruto dan Himawari meninggalkannya dan ayah mereka di depan pintu masuk gedung apartement. Jika Sai tau ia bersama Naruto, asisten gila itu pasti akan langsung menyuruh sekawanan polisi mencari mereka, melaporkan bahwa CEO mereka menghilang, dibawa lari, disekap atau dengan laporan apapun yang bisa membuat mereka segera ditemukan. Ia merogoh ponselnya, mengecek sudah sejauh mana Sai sadar kalau ia tidak ada di kantor sekarang dan yeah, ia pun hanya tersenyum sinis melihat dua puluh enam panggilan tak terjawab dari 'Sperma Salju' 一julukan yang ia berikan pada asisten Naruto itu di ponselnya. "Aku mau tau, setelah ia menelpon Boruto, berapa banyak panggilan tak terjawab di ponselmu?" tukasnya seraya menunjukkan layar ponselnya sendiri pada Naruto. "Kurasa aku bisa mengalahkanmu dalam hal ini. Ayo lihat."

Sekonyong-konyong Naruto segera merogoh kantongnya sendiri, mencari letak ponselnya, ketika benda kecil yang rasanya seharian ini telah ia abaikan terasa di salah satu saku jaketnya, ia buru-buru menunjukkan pada Shikamaru lima panggilan tak terjawab dari Sai.

Shikamaru menyemburkan kegeliannya. Tidak tahan untuk tertawa.

Naruto ikut tergelak. Tawa geli yang membuat Shikamaru harus mengulum senyuman ketika melihatnya.

Ketika keduanya merasa sendi-sendi mereka ahirnya rileks setelah tegang sepagian mencari Sarada, suara derap langkah atau lebih serupa dengan deburan kaki yang berlari panik terdengar dari lobi pintu masuk, menuju kedua pria yang masih cekikikan di kedua sisi mobil di luar, melenyapkan rasa santai yang baru sekejap mereka nikmati.

"Ayah!" Himawari memekik dengan ekspresi tak karuan.

"Hei, ada apa?"

Naruto tidak pernah suka melihat wajah putrinya seperti itu, karena ia tau kerutan panik di wajah Himawari bisa langsung menular ke wajahnya, ia menunduk menatap lekat-lekat putrinya yang masih panik. Shikamaru buru-buru ikut mendekat, khawatir kalau-kalau gadis itu terluka atau apa.

"Tamu." Bisik Himawari. Dengan nada yang cukup membuat ayahnya heran. Sejak kapan kata tamu menjadi teramat horor?

"Tamu?"

Keheranan di benak Uzumaki Naruto dan juga Shikamaru seketika terjawab ketika seseorang melangkah lamban di belakang Himawari, seolah sosok itu memang sejak tadi mengikuti anak gadis Naruto keluar gedung.

Dress formal merah dengan blazer lis putih elegan yang dikenakan wanita yang tengah bergerak ke arah mereka itu sebenarnya sangat menyokong keanggunan tampilannya, kalau saja wajah itu tidak seperti banteng yang siap menerjang matador.

Sepasang retina emerald nampak dicengkram sebegitu kuatnya oleh seluruh otot disekitar kelopak matanya, seolah ia berniat menggelincirkan kedua bola matanya sendiri keluar, Himawari bergidik dan langsung mencengkram telapak tangan ayahnya awas. Helaian-helaian feminin merah muda yang menutupi kepala wanita itu sekilas nampak merah membara ketika ia keluar menuju halaman, berdiri tepat di bawah sinar matahari.

Shikamaru lebih cepat membaca situasi ketimbang sahabat pirangnya yang naif. Jadi ketika Naruto dengan kebingungan menyapa wanita itu dengan kalimat terbata-bata, "Sa-Sakura. Kau baik-baik saja?" Shikamaru langsung menerjang ke depan tepat ketika istri sah Uchiha Sasuke tersebut melayangkan bogem besar ke arah Naruto.

Pukulan itu jauh lebih kuat dibanding yang Shikamaru kira. Siku dan lututnya bahkan langsung membentur tanah dan sukses membuat bibirnya robek oleh benturan gigi taringnya sendiri. Membuatnya meludahkan apa yang ia yakini adalah sesendok makan darah dari luka di mulutnya.

Sakura sama sekali tidak terkesima dengan aksi heroik Shikamaru. Baginya pria dari klan Shika itu pun sama menjijikkannya dengan Sasuke.

"Berusaha menolong gebetanmu juga, hah?" hardik Sakura.

Naruto kali ini memberanikan diri ke depan, "Hei, berhenti disitu!" bentaknya. Meski jelas-jelas sahabat dekatnya baru saja dihajar ia tidak semerta-merta mengijinkan dirinya menyakiti wanita begitu saja, bahkan ketika Sakura justru tetap melangkah maju dengan kuda-kuda (siap menyerang) yang sama, Naruto hanya bisa melangkah mundur teratur.

Lengan Sakura menggamit kerah baju Shikamaru ketika ia melewati pria itu. Menariknya ke atas dan menghempaskannya ke badan mobil hingga mesin itu bergerak-gerak di tempat.

Berusaha untuk menghindari sentuhan apapun dari Sakura demi keselamatannya sendiri, Naruto pun perlahan melangkah kian mundur hingga punggungnya menyentuh badan mobil yang masih berdencit. Melempar pandangan khawatir pada Shikamaru disisinya sebelum ia mendelik pada jari telunjuk Sakura yang dihunuskan tepat diantara kedua matanya.

"Apa kau tau kalau dia pun gay?" tunjuk Sakura pada pria berambut nanas di dekat mereka.

"Hah?"

"Kau benar-benar idiot yang menggelikan, Naruto. Kau sepertinya senang dikejar-kejar mahluk hina seperti mereka. Pura-pura bodoh padahal kau menikmati semua tatapan-tatapan mereka. Indah sekali kalau sampai orang-orang tau, CEO Konoha Gaiden inc. dikelilingi para homoseksual. Haha! Itu akan menjelaskan pada mereka kenapa kau masih tetap melajang setelah Hinata meninggal!"

Naruto mati-matian mencegah dirinya untuk tidak tersulut. Ia menahan semua yang ingin dikatakannya dalam hati, berjaga-jaga kalau saja Sakura mungkin sedang mabuk dan tidak bermaksud mengatakan semua itu. Tapi sepertinya urat-urat diwajahnya lebih jujur, ia bisa merasakan rangkaian pembuluh darah besar sedang berkedut-kedut muak di wajahnya.

Mengapa semua orang disekitarnya akhir-akhir ini sering mengatakan hal yang bernada sama?

'Kau tidak tau kalau dia gay?'

'Apa kau gay?'

'Pria itu selama ini naksir padamu. Kau tau tidak?'

'Dia gay.'

Apa benar semua orang disekitarnya homoseksual?

Nuts!

"Beritahu aku, Naruto." Sakura mengangkat dagunya dengan rasa jijik tiada tara, mata itu berkilat penuh dengki. "Apa suamiku sudah menyetubuhimu di belakangku? Apa kau menikmatinya?"

Suara benda pecah membisukan tenggorokan Naruto yang tidak sempat menanggapi tuduhan ngeri barusan. Ia tercekat oleh deru nafasnya sendiri ketika dilihatnya dalam gerakan lambat Sakura terbelalak di tempat lalu ambruk seperti pohon di bawah kakinya. Ia tidak tau apa yang membuat wanita itu tekapar sampai dilihatnya putri bungsunya berdiri di depan sana dengan ponsel retak yang diangkatnya tinggi-tinggi di udara, siap menghantam sekali lagi jika serangan pertamanya tidak mempan.

Shikamaru tersendak. Antara geli dan takjub. Ia tidak menyangka putri manis Uzumaki Naruto punya kenekatan, bukan, punya kekuatan sebesar itu. Ia memandang Naruto penuh curiga.

"Ahli bela diri. Kau harus ingat." Naruto mendengus sebelum ia merebahkan belakang kepalanya ke atas atap mobil dengan seluruh tenaga yang terlepas keluar.

Ambulans segera datang dan membawa Sakura pergi, tidak ada yang mau ikut bersamanya. Tidak setelah mereka tau bahwa Sakura berniat menyakiti mereka. Jadi Naruto hanya menitipkan wanita itu kepada petugas medis dan melaporkannya 一seperti yang Himawari sarankan一 bahwa wanita itu menerobos masuk ke dalam rumah dan putri sulungnya hanya berusaha untuk membela diri.

"Tidak ada yang mempersilahkannya masuk. Bahkan Paman Teuchi pun diancamnya dan dikunci di salah satu ruangan."

"Kau dimana saja saat adikmu harus berlari menyelamatkan diri keluar seperti itu?" tanya Shikamaru. Ia akhirnya setuju untuk mampir. Naruto bersikeras ia harus membalas budi minimal dengan mengobati luka sahabatnya itu sebelum ia kembali ke kantor.

"Kau tidak lihat apa yang dilakukannya pada meja di ruang depan? Kayu Mahoni yang paling kuat pun dibuatnya patah!" Seru Boruto membela diri. "Dia sama mengerikannya dengan Sarada. Aku tidak sebodoh itu untuk menghadangnya." ia bersikukuh, "Lagi pula kalian berdua lebih besar darinya. Kuyakin dia tidak akan berani menghadapi kalian berdua sekaligus."

"Kau lebih besar dariku, Boruto." Sindir Naruto jengkel. Ia benci mengakui itu tapi melihat putranya yang tinggi menjulang itu malah menyerahkan wanita beringas begitu saja kepadanya membuat ia benar-benar makin kesal melihat ukuran tubuh si sulung.

Boruto beringsut mundur. Bergerak kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin berdebat. Hari ini sudah cukup menyebalkan baginya. Dengan tergesah-gesah ia meninggalkan ruang tamu, menutup kedua mata dengan acakan rambutnya sendiri, nyaris menyeruduk Himawari yang tengah berjalan membawa baskom berisi air dan kapas bekas masuk ke dalam dapur.

Naruto kembali berkutat pada kewajibannya. Ia membersihkan dengan seksama tetes-tetes darah terakhir di sekitar bibir luar Shikamaru dekat-dekat, berusaha untuk tidak mengeryit akibat aroma kuat tembakau yang menguar dari sana. Ia tidak masalah sedikit menembus privasi jarak fisik seseorang jika itu dengan orang-orang terdekatnya. Shikamaru, Kyuubi, Iruka, Kakashi dan...yeah meski sekarang ia tidak yakin jika ia masih bisa sedekat ini lagi dengan Sasuke tanpa berpikir macam-macam, tapi ia pun masih termasuk dalam orang-orang itu.

"Kau baik sekali, Terimakasih. Aku lambat." Naruto mengeluh. Diletakkannya kapas kotor itu ke dalam baskom kecil di atas meja. Lalu mengambil plester. Ia terlihat sungguh-sungguh tersakiti oleh kejadian barusan. Mendapati dirinya yang seharusnya bisa melindungi diri sendiri malah harus bertamengkan badan sahabatnya sendiri. Ia pun tidak pernah berpikir kalau Sakura bisa jadi seperti itu. Bagaimana ia akan menjelaskan situasi sebenarnya pada wanita itu nanti?

Apa sebaiknya ia berbohong dengan bilang bahwa ia dan Sasuke tidak ada hubungan apa-apa selain teman?

Ataukah ia jujur saja? Bahwa ia dan Sasuke pernah melakukan hal intim dan setelah ia tau, dari putranya sendiri, bahwa semua itu ternyata hasil luapan emosi Sasuke selama bertahun-tahun telah berhasil membuat memikirkan ulang perasaannya sendiri terhadap pria itu?

Shikamaru segera menyadari kegundahan si pirang yang membisu. "Kau tidak perlu memikirkannya. Hubungan Sasuke dan Sakura memang tidak pernah baik. Bahkan sebelum mereka menikah. Ini bukan salahmu."

"Kuharap."

Manik biru Uzumaki Naruto mengerling ke samping, tidak yakin. Ia kemudian menatap Shikamaru lalu kembali menilik sisi lain ruangan. Gerakan manik biru seindah langit musim panas itu lambat dan terlihat sangat manis dimata Shikamaru.

Pria itu masih dihantui rasa bersalah dan ia sedang merajuk pada dirinya sendiri. Bibir Naruto mengeriting gundah dan Shikamaru tidak melewatkan hal itu pula.

Andai Shikamaru sadar bahwa Naruto mengkhawatirkan satu hal lain sekarang. Tentang apa yang dikatakan Sakura di depan sana.

Bahwa ia pun katanya sama seperti Sasuke.

"Apa itu benar?"

"Hm?"

"Kau pun...," Naruto berhati-hati. Memastikan bahwa kedua anaknya (Boruto terutama) tidak dalam jangkauan suaranya sebelum melanjutkan, "...gay."

Butuh beberapa kali mengerjap sebelum Shikamaru lepas dari pikirannya sendiri untuk merespon pertanyaan itu, "Jelas bukan." jawabnya terheran-heran. "Aku dan Temari berkencan. Kau lupa?"

Perlahan. Seperti mentari yang muncul dari balik awan mendung, wajah Naruto terangkat dengan mimik cerah ketika mendengar jawaban itu. Ia merasa legah luar biasa. Shikamaru tidak akan pernah tau betapa jawaban itu sangat diinginkannya. Ia tidak bisa membayangkan kalau semua orang terdekatnya punya 'hal lain' yang dirahasiakan darinya, lalu tau-tau memberinya kejutan disaat yang tidak tepat. Setidaknya ia bisa bersikap normal pada salah satu kawan terdekatnya dan bukannya bertingkah seperti remaja yang kikuk karena harus berhadapan dengan seseorang yang ia tau tengah menaksirnya. Ia tidak terbiasa dengan sensasi itu. Tidak tau pula apakah akan terbiasa dalam waktu dekat.

Bibirnya yang penuh tersenyum lebar dan indah, "Syukurlah kalau begitu." tutur Naruto bahagia.

Ketika bibir manis yang masih mengembang itu kian merekah merah seperti kedua pipi pemiliknya, Shikamaru sontak lepas kendali dan menerjang ke depan, menarik sepenuh tenaga bagian belakang leher Naruto mendekat dan mengunci bibir si pirang dengan bibirnya sendiri.

Shikamaru tau ia tidak akan mendapatkan kesempatan itu untuk kedua kalinya setelah ini. Maka ia pun tidak menyia-nyiakannya. Melihat Naruto rapuh dengan manisnya ketika mereka hanya berduaan saja membuat ia tidak bisa menormalkan niatnya lebih lama.

Ditekannya tubuh itu semakin dalam ke badan sofa seraya ia menelan senyuman indah Naruto dalam campuran darah di bibirnya. Mengkontaminasinya dengan aroma tembakau yang ia yakin tidak akan bisa hilang sebelum si pirang menggosok gigi dengan beringas.

Ia tidak sepenuhnya mengabaikan kedua tangan Naruto yang memukul-mukul ingin mendorong dirinya jauh-jauh. Ia tetap mengurung tubuh itu, menggamit bibir si duda beranak dua seperti menyeruput segumpal madu yang tidak kasat mata dari sana.

Ia baru menghentikan aksinya ketika mendengar dentingan piring dan pantat cangkir teh yang dibawa Himawari kepada mereka.

"Ayah baik-baik saja? Wajah ayah terlihat merah sekali. Ayah demam?" Ketika sampai ke ruang tamu dan mendapati ayahnya duduk di sofa dengan ekspresi syok sementara Shikamaru memegangi lukanya sendiri di sofa lainnya tanpa ekspresi yang mampu terbaca, Himawari buru-buru meletakkan nampan tehnya dan menghampiri sang ayah yang seketika itu juga menepis telapak tangan putrinya yang terjulur khawatir.

"T-Tidak, ayah hanya sedikit tidak enak badan. Hanya masih sedikit syok. Yah, sedikit tidak percaya tadi...agh, ya aku baik-baik saja." Naruto gelagapan, bingung apa kalimatnya barusan tertata dengan benar? "Akan baik-baik saja." koreksinya, tidak begitu membantu.

Sekilas Shikamaru menangkap Himawari menatapnya curiga, tapi gadis itu segera beranjak dari sana dengan sopan, membawa baskom berisi kapas bekas di atas meja kembali ke dapur.

Naruto menelan ludahnya dengan susah payah. Ia bahkan nyaris tersendak ketika dugaan apakah ludah yang ditelannya barusan sepenuhnya miliknya atau bukan terlintas di benaknya.

"Maaf, tadi aku...,"

Naruto mengangkat telapak tangannya, tanda agar Shikamaru diam. Jelas terlihat barusan menggunakan otoritas yang selama ini melekat padanya, memberi perintah telak, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan pada sahabatnya di luar kantor.

Ia merasa dilecehkan sebagai pria.

Ia tiga puluh tujuh tahun dan sudah dua kali diserang secara seksual oleh dua pria yang berbeda dalam kurang dari 24 jam. Yang lebih buruk adalah kedua pria itu adalah sahabatnya sendiri!

"Aku perlu waktu untuk mencerna ini." tepis Naruto. Suara itu datar. Formal. Dan tidak menyenangkan sama sekali di telinga Shikamaru.

"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud.."

"...kupikir kita bersahabat."

Kalimat itu menyambar seperti petir di dalam alam bawah sadar Shikamaru. Rasanya seperti ditolak mentah seseorang. Padahal Naruto hanya mengatakan sebuah fakta sederhana. "Aku tidak bermaksud...,"

"Melecehkanku?" potong Uzumaki Naruto, ia terdengar seperti sang CEO yang seharusnya. "Kau mau bilang kalau kau sahabat baikku yang super straight tapi bisa menyerangku secara seksual kalau kita hanya berdua?" Naruto tidak bermaksud kasar, tapi ia sadar intonasi suaranya tidak seperti harapannya.

Shikamaru bungkam. Sepenuhnya paham akan letak kesalahannya. Mata tajam miliknya yang sehari-hari selalu nampak bosan dan tidak minat kini menunduk penuh penyesalan.

Buru-buru Naruto bangkit dari sofa, "Aku tidak ingin menghadapi atmosfir ini di kantor." ujarnya, lagi-lagi terdengar formal. Ia merapikan kemejanya seperti yang biasa ia lakukan jika selesai meeting. Menyadarkan Shikamaru bahwa apa yang terjadi barusan akan tetap di dalam ruangan itu dan tidak akan pernah mereka bahas lagi dimana pun dan kapanpun setelah mereka beranjak. "Kau...dan Sasuke," Naruto berhenti sejenak, menyebut nama itu membuat rasa panas tiba-tiba merayapi punggungnya seperti bara api. Membawa kembali potongan-potongan kalimat Boruto di pemakaman dan kilasan-kilasan sentuhan Sasuke di kulitnya. Ia menghempaskan pikiran itu dengan kesal, "...aku akan menyusul ke kantor setelah makan siang." ia berbalik untuk mengakhiri, "Dan kuharap semuanya kembali seperti semula." Ia menarik nafas sejenak untuk menegaskan, "Maksudku kita."

Senyum Shikamaru tidak pernah berupa campuran antara kegetiran sinis dan putus asa seperti ini, tapi ia tetap menyahut bosnya dengan patuh, "Tentu."

.

.

.

.

Sai menyambut ketika Naruto turun dari kendaraannya. Aston Marton Vanquish miliknya masih di kediaman Sasuke, jadi Teuchi harus mengantar tuannya itu lebih dulu ke kantor sebelum ia berangkat ke Osaka dengan kereta untuk menjemput kendaraan sang majikan.

Seperti biasa langkah Naruto ke dalam hall akan diiringi untaian jadwal secara lisan dari Sai ditambah beberapa perkembangan perkerjaan yang sudah terjadi sepanjang pagi.

"Secara keseluruhan hari ini cukup lowong. Tuan Shikamaru mengerjakan sebagian besar tugas Anda hari ini," Sai menutup sesi laporannya. Ia menyerahkan satu map hijau untuk ditandatangani Naruto ketika pria pirang itu baru saja merebahkan bokongnya di kursi yang telah seminggu penuh ia tinggalkan.

Shikamaru langsung masuk ketika Juugo berbaik hati membukakan pintu untuknya. Berjalan cepat ke arah Naruto dan menghempaskan sepertiga meter tumpukan map warna warni ke atas meja marmer sang CEO.

Wajah bosan itu dengan bangga mengumumkan, "Tugasmu dalam tiga bulan ke depan selesai dalam seminggu."

Sai terlihat tidak kalah bangganya ketika Naruto memandang takjub pada tumpukan itu lalu menoleh padanya, "Tuan Shikamaru melakukan tugasnya dengan baik." Bibir pucat itu menyulas senyum tipis yang langka. Ia ingin Naruto memujinya. Memuji bahwa ia bisa menaklukkan pegawai paling malas tapi berbakat seperti Shikamaru. Bahwa ia bisa membuat Naruto tidak langsung diserbu tugas-tugasnya setelah ia berlibur. Ia ingin Naruto tersenyum padanya, memandangnya dengan sorot biru indah itu selama enam puluh detik solid, ingin ada di dalamnya, menyebut namanya dengan sepasang bibir mempesona yang tersenyum lebar dan selalu mencerahkan hari-harinya tersebut.

Alih-alih mendapatkan semua itu, Naruto justru hanya menyahut, "Bagus. Bagaimana dengan Karui? Ada perkembangan apa di India?"

Kalau saja Sai mengerti caranya mengekspresikan perasannya dengan benar, ia mungkin sudah mengerutkan dahinya dan melipat bibir itu ke bawah dengan dramatis lalu membanting semua benda di atas meja Naruto meminta haknya untuk dipuji sebagai asisten terbaik yang bisa Naruto dapatkan di seluruh Jepang.

Tapi ia memilih menarik senyumannya menjadi satu garis tipis, membuka satu map lain digenggamannya kemudian memberi laporan yang dinginkan CEO-nya tanpa banyak protes. "Para pekerja kembali melakukan tugasnya. Karui menyetujui ide Tuan Shikamaru untuk memberikan tiap kepala keluarga seekor sapi sebagai tunjangan." Naruto menggeser kursinya menghadap Sai, menunggu lanjutan laporan itu. Tidak mungkin para pekerja itu langsung patuh begitu saja. "Proses produksi di cabang India telah kembali normal."

"Bagaimana dengan media massa?"

"Terkendali." Jawab Sai lebih yakin. "Tuan Kyuubi menunjuk seorang Branding Consultant untuk bernego dengan para direktur media besar di sana."

"Tapi itu televisi." tukas Naruto heran.

Shikamaru membantu menjelaskan, "Well, channel tv pun sebenarnya juga sebuah brand."

Celetukan itu membuat Naruto menoleh. Membawa tatapannya ke arah Shikamaru yang sebenarnya ingin sekali tidak ia temui terlalu cepat hari ini. Namun ketika ia memadang ke dalam mata Shikamaru, Naruto justru mendapati dirinya tengah memuji betapa Kyuubi sangat cekatan mengambil keputusan selama ia tidak ada dalam benaknya. Itu adalah keputusan yang sedikit ceroboh tapi mengingat itu dilakukan oleh seorang Kyuubi Kurama, Naruto segera bisa memaklumi. Pemuda mungil itu sudah pasti akan gerah melihat semua orang disekitarnya bergerak lambat dan memilih untuk langsung turun tangan saja dibanding harus menunggu. Ia bisa mengeluarkan uang pribadinya untuk membayar orang-orang yang tepat semudah menyingkirkan debu tipis dari ujung sepatunya. Beberapa juta yen keluar dari rekeningnya sama sekali bukan perkara yang akan dibawanya sebagai pengantar lamunan sebelum tidur. Tentu itu karena ia tau Konoha Gaiden inc. akan mengganti kerugiannya segera.

Sai adalah satu-satunya yang sadar bahwa Naruto terlalu lama memadang Shikamaru dan lebih dari kesal ketika melihat Shikamaru nampak mulai menikmatinya, jadi ia buru-buru memotong, "Tuan Kyuubi juga telah mengganti agensi yang biasa mereka pakai. Jadi ketika iklan-iklan dan konten acara serta isi berita mereka sementara dialihkan ke hal lain, pegawai-pegawai kita yang tidak lagi terusik bisa mengembalikan produktivitas perusahaan dengan cepat ke semula."

Ia menutup mapnya, legah mendapatkan kembali perhatian Naruto.

"Bagaimana Kyuubi melakukan itu? Apa mereka dibayar atas nama Gaiden?" Itu jelas bukan uang yang sedikit.

"Tidak." jawab Sai datar, "Tuan Kyuubi membeli langsung perusahaan yang memegang kendali semua siaran negatif tentang perusahaan kita. Anda bisa mengecek website mereka hari ini. Saya rasa sudah diterbitkan. Pengumuman bahwa Kyuubi Kurama, telah resmi menjadi Direktur Utama perusahaan multimedia yang membawahi lima channel televisi swasta terbesar di India, yang menghambat pemulihan tenaga kerja di perusahaan kita selama ini."

Naruto terlonjak samar. Kali ini ia jelas tidak bisa memaklumi kecerobohan wakilnya. Tapi sebelum Naruto berkomentar, Sai segera meluruskan, "Ia melakukan semua itu dengan uang pribadinya sendiri. Ia tidak menyangkut pautkan Konoha Gaiden Inc. dalam hal ini. Murni hanya untuk memperluas pengaruh bisnis keluarga Kurama." Sai berhenti sejenak, menyerap reaksi sang CEO, "Setidaknya itu yang ia akui di media."

Menanggapi semua laporan itu, Naruto meremas wajahnya dengan kedua tangan. Terdengar mudah untuk dilakukan Kyuubi, tapi pasti bukan hal yang mudah diterima oleh orang-orang ayah Kyuubi.

Menggunakan nama pribadinya sendiri untuk menyelamatkan satu anak perusahaan mereka di India. Sepenuhnya tidak salah. Gaiden diuntungkan. Keluarga Kurama yang super kaya itu pun tidak dirugikan banyak sebenarnya. Tapi itu artinya Naruto berhutang budi lagi pada Kyuubi.

"Aku perlu bertemu Kyuubi sekarang."

"Tuan Kyuubi ada di ruangannya. Akan saya panggilkan."

"Tidak, tidak. Aku yang akan mengunjunginya."

Tepat di depan ruangannya yang memakan separuh dari lebar lantai delapan belas seorang pria yang tidak diduganya nampak tengah bercengkrama dengan Temari dan beberapa pegawai lain. Gaya pakaiannya yang formal nan kasual menyembunyikan nominal angka umurnya yang terpaut jauh dari Naruto. Rambut peraknya bahkan justru menambah pesona beserta wibawanya. Sebuah buku kecil nampak ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang hari itu begitu langka tidak mengenakan masker yang menjadi trademark kekalnya. Naruto sangat yakin itu pasti hanya buku kosong, yang ia gunakan untuk melakukan tugas masker abadinya yang tidak terbiasa ia lepaskan.

Kakashi menoleh sejenak dari kerumunan dan langsung melihat kehadiran Naruto. Ia pun segera melangkah mendekati putra angkatnya itu dengan penuh semangat.

Naruto sadar seluruh mata tertuju pada satu arah. Pada pria dewasa berpostur idaman dan berwajah luar biasa awet muda nan mempesona yang tengah bergerak ke arahnya. Ia tidak ada apa-apanya dibanding dengan aura Kakashi Hatake yang tidak mengenakan penutup wajah.

Sosok dua ratus centimeter yang kini berada di depannya itu tiba-tiba membungkuk terlalu dekat padanya, sampai-sampai Naruto berpikir Kakashi akan mengoreksi letak pori-pori wajahnya. Disembuyikannya separuh senyum itu ke balik buku kecil yang sedari tadi ia pegang. Naruto harus berusaha untuk tidak terlalu mebayangkan bahwa sisi bibir lain yang Kakashi tutupi itu tersenyum jauh lebih melengkung dibanding sisi lain yang terbuka ketika pria itu menyeletuk nakal, "Wajahmu berseri sekali hari ini, Naruto." Lalu melanjutkan, "Apa kau..."

"Tidak." Potong Naruto cepat. Ia sudah tau kemana pertanyaan itu mengarah. Mau bilang ia baru saja dapat jackpot? A good sex, hah?

Kakashi menegakkan tubuhnya kembali dengan ekspresi sedikit tersinggung, "...maksudmu kau tidak merubah dietmu?"

Crap! Naruto menggerutu. Apa ia baru saja bersikap tidak sopan?

"Ah, ya. Maksudku, tidak. Aku tidak merubah dietku." Ia barusan yakin sekali Kakashi akan menyebut sesuatu tentang sex. Ia kenal pria ini, tidak mungkin isi kepalanya senormal pertanyaan tentang diet.

Buru-buru ia mengalihkan situasi, "Apa Iruka tau kau datang tebar pesona begini di kantorku hari ini?"

Bibir Kakashi menyungging senyum, persis seperti yang ditunjukkannya pada seluruh pegawai untuk memancing desah pukau mereka. Digesernya sisi rambut pirang Naruto ke belakang telinga dengan sayang seperti kebiasaan Iruka. Lagi-lagi membuat separuh isi lantai itu meneguk ludah.

"Aku hanya sedang cuci mata...,"

"Urk." Dengan kasar si pirang menepis lengan itu. Menjepit lubang hidungnya kuat-kuat. "Parfum mobilmu, sensei." Ia mual sekali jika aroma itu menusuk hidungnya.

Padahal itu parfum badan, tapi serigala perak ini malah menyemprotkannya di mobilnya, membiarkan aroma eksotik itu bercampur dengan udara AC dan hawa panas disekitar mobil.

"Kau membenci aromanya? Ini parfum yang sama dengan yang digunakan Sasuke." Ia menggoda, memerhatikan ekspresi Naruto yang semakin mengecut.

Kakashi merentangkan lengannya, membiarkan aroma itu semakin menggerilya.

Sebotol Sharingan, parfum fenomenal bewarna pekat tanpa stain yang dikeluarkan salah satu perusahaan milik klan Uchiha, adalah satu jenis parfum langka yang tidak banyak digunakan khalayak. Tiap Uchiha pasti punya satu botol dan akan selalu bangga mengenakannya dalam acara apapun, sementara orang-orang lain nampaknya merasa sebotol parfum seukuran kepalan tangan itu terlalu mewah untuk kisaran harga dan aroma yang terlalu pekat untuk hidung kebanyakan orang. Ada yang bilang aromanya tercium seperti darah, ada pula yang bilang itu mawar manis bahkan anggur. Yeah, agak sulit sebenarnya mendeskripsikan aroma parfum tidak biasa itu pada orang yang belum pernah menciumnya langsung.

Sasuke memang menggunakan parfum itu. Aromanya memeluk tubuh sang aristorat sesempurna untaian pita yang membungkus sebuket mawar. Ia tidak membenci aroma parfum yang ada di tubuh Sasuke. Tapi Kakashi membuat aroma parfum itu sedikit berbeda. Karena ia hanya menyemprotkannya pada mobilnya, hanya akan terciun sekilas ketika kau menciumnya dari jarak dekat, aroma pekat itu sangat menusuk karena nyaris terkontaminasi oleh aroma-aroma lain di dalam mobil.

Itu mengingatkan Naruto pada tujuan awalnya keluar dari ruangan. Ia pergi melewati Kakashi dan berjalan cepat ke seberang ruangan. Ada satu orang lagi yang punya aroma yang sama. Yang Naruto yakin juga tidak menggunakan parfum itu dengan benar seperti halnya Kakashi. Tapi orang ini punya aroma Sharingan yang lebih samar dari Kakashi dan tidak terlalu sering tercium dari tubuhnya.

Setelah permisi singkat dari Kakashi dan memperingatkan pria itu untuk segera menyelesaikan apapun itu urusannya di kantor Naruto, ia pun beranjak ke sebuah ruangan yang sama besarnya dengan ruang pribadinya tepat di lantai bawah.

Dua bodyguard berkulit hitam sebesar Juugo berdiri menggapit pintu berdaun ganda, ruangan yang hendak Naruto tuju.

Salah satu dari mereka berbisik lewat mikrofon sekecil mata cincin dari balik kerahnya bahkan sebelum Naruto keluar dari lift dan menghampiri mereka. Segera memberitahu bodyguard lain di dalam ruangan tentang kedatangannya.

Lima menit lebih Naruto bediri menunggu di depan pintu yang terkunci rapat.

Yang kalau dipikir-pikir agaknya tidak tepat mengingat posisi Naruto lebih tinggi dibanding Kyuubi Kurama, si pemilik ruangan tersebut. Ia menghormati Kyuubi, itu satu-satunya alasan mengapa ia membiarkan pemuda itu membuatnya menunggu.

Ia mengecek arloji untuk pertama kalinya ketika pintu itu akhirnya terbuka.

Ia melangkah masuk, langsung menjatuhnya pandangan pada tiga bodyguard yang berdiri siaga di sisi kiri ruangan. Dua pria berbadan besar segelap furniture oak dari kulit kepala hingga ke pantofel dan satu lagi pria tinggi berkacamata berkulit kapas, sosok yang asing. Ia tidak tau kalau Kyuubi punya penjaga berkulit putih. Setaunya ahli waris Tuan Besar Kurama itu hanya disediakan selusin pria dan wanita pilihan dari Afrika selatan untuk menjadi bodyguard pribadinya, dan kesemuanya berkulit gelap. Yang satu ini berbeda.

Ketika Kyuubi Kurama melangkah mengitari meja porselen miliknya untuk menghampiri, Naruto segera mencium aroma yang sejak tadi dipikirkannya. Kali ini lebih kuat. Seolah Kyuubi baru saja menubruk seseorang yang mengenakannya 一jika Kyuubi tidak menyemprotkannya sendiri pada tubuhnya.

Si pirang mengendus dan itu membuat Kyuubi berhenti mendekat.

"Apa Sasuke baru saja kesini?" Tanyanya. Ia tidak ingat ada orang lain di kantornya yang mengenakan parfum aneh itu.

Kyuubi mengerutkan dahi. Heran. "Tidak. Kenapa?"

Naruto menatap pemuda mungil di depannya, menangkap kesan tersirat bahwa si merah tidak mengerti maksudnya, "Ah, tidak. Bukan apa-apa."

Sembari menggaruk pipinya yang tak gatal Naruto bertanya lagi, "Kau ada waktu? Makan siang denganku?"

Bibir Kyuubi melengkung. Nampak tidak yakin. Ia tidak perlu bertanya pada siapapun tentang jadwalnya, ia tau bahwa ia harus menolak. "Aku agak sibuk."

"Ah, iya. Tentu. Itu pasti. Aku hanya ingin berterimakasih, kau tau, tentang apa yang kau lakukan di India."

"Tidak perlu."

"Aku harus. Kau tidak perlu bertindak sampai sejauh itu. Tapi kau melakukannya." Naruto tidak buta dengan pengaruh nama seorang Kurama di dunia bisnis. Ayah Kyuubi, Tuan Besar Kurama itu sendiri, adalah segelintir dari orang-orang berpengaruh super dengan akses level 5 hampir keseluruh tempat-tempat yang paling rahasia sekalipun. Menempatkan namanya di tempat seremeh saluran televisi India bukanlah keputusan yang bijak untuk dilakukan. Kyuubi bisa jadi mempengaruhi nama ayahnya dihadapan para saingannya. "Bagaimana dengan makan malam?"

"Di pesta bukan?"

"Huh?"

Pria bersetelan kemeja putih yang ditutup telalu rapat oleh jas marunnya itu mendekat bingung, "Sai belum memberitahumu?"

"Pesta apa?" Sai pasti sudah memberitahunya. Ia yakin itu terjadi ketika dirinya sedang tidak fokus saat asistennya itu berceloteh tentang jadwal.

"Sai sudah menyiapkan pesta perayaan atas namamu untuk merayakan keberhasilan Gaiden di India. Mencegah satu perusahaan yang nyaris bangkrut karena mogok pekerja." Kyuubi menjelaskan. Ia sedikit gelisah memperbaiki letak kerah kemejanya yang baru Naruto sadari tidak dihiasi dasi seperti biasanya.

Kalau dipikir-pikir lagi, kemeja itu...agak sedikit kusut. Berbeda sekali dengan sifat Kyuubi yang tidak pernah ingin mengenakan sesuatu yang buruk pada tubuhnya.

Ketika Naruto mengamati sosok yang beberapa senti lebih pendek darinya itu lekat-lekat, Kyuubi pun diposisi yang sama tengah mengamati sesuatu di wajah Naruto.

"Naruto."

"Hm?"

"Kau terlihat lebih segar."

What?!

Bahkan Kyuubi pun melontarkan kalimat sialan itu?!

Apa segitu mencoloknya? Naruto tidak habis pikir.

Kali ini ia benar-benar gusar. Seolah-olah semua orang tau dia baru saja bersenang-senang dengan liar. Apa itu yang dilihat semua orang padanya hari ini?!

Semua orang?!

Ia bahkan tidak mengharapkan apapun efek yang ditunjukkan pada tubuhnya akibat perbuatannya (perbuatan Sasuke padanya!) kemarin! Damn it!

"Aku tidak...,"

Jemari lentik Kyuubi yang sepucat gadis terjulur, menyapu permukaan kantung jas di dada kiri Naruto, menghempaskan secuil debu dari sana.

"Mungkin karena selama ini kau selalu di dalam kantormu, menunduk pada berkas-berkas, pada ponselmu, lalu kembali berkutat pada pekerjaanmu lagi bergantian terus menerus disini sepanjang hari. Kau tidak pernah membiarkan dirimu terlena untuk bersantai meski hanya sebentar. Belakangan ini kau cukup banyak berbincang-bincang dengan orang-orang disekitarmu kurasa, berkeliling kantor tidak seperti biasanya. Mungkin itu yang membuat wajahmu terlihat lebih segar."

Naruto ingin memeluk Kyuubi ketika pemuda itu mengatakan kalimat barusan.

Ia senang bahwa wajah segar dan berseri sialan miliknya tidak melulu dikaitkan dengan hal-hal seksual yang jelas tidak akan pernah mau dibahasnya.

Bahkan ia berani bersumpah bahwa Kyuubi pun nampak sama berserinya hari ini. Kedua pipinya dipenuhi semburat merah merekah, ditambah butiran-butiran kecil keringat di pangkal-pangkal rambutnya, membuat wajah itu kian terlihat segar dan Naruto yakin itu pun bukan juga karena hal-hal berbau seksual.

Eh, tunggu dulu. Naruto membatin. Keringat?

"Ruanganmu sedingin ini dan kau berkeringat?" Naruto nyaris terdengar geli sendiri. Tidak bermaksud meledek.

Diluar dugaan Kyuubi justru 一meski sangat singkat一 terlihat tidak senang. "Hm, aku tadi...sedikit berolahraga ringan." Ujarnya ketus namun segera ditimpali oleh Naruto dengan riang.

"Iya, ya! Aku mengerti sekali itu. Kadang kalau kau sudah duduk terlalu lama rasanya ingin merenggangkan badan dan push up beberapa kali sebelum melanjutkan. Aku juga pernah begitu."

Baru ketika Uzumaki Naruto undur diri dan pintu di ruangan itu kembali di tutup rapat dari luar, semburan tawa geli yang nampaknya sudah ditahan sangat lama terdengar dari sisi kiri ruangan Kyuubi. Diantara jejeran pengawal-pengawalnya.

Pria dengan kacamata yang paling berbeda diantara ketiganya memperbaiki letak kacamata hiasnya sebelum melangkah maju.

"Olahraga ringan, ya..." Nada getir tersirat disana.

Kyuubi tidak mempedulikan kalimat itu. Ia melepas jasnya dan melemparnya sembarang ke sofa. Tubuhnya masih penuh keringat dan ia membencinya. Kemeja sutra bukan benda yang bersahabat dengan sentuhan keringat.

"Antar dia keluar." Titahnya pada dua pengawal lain. "Dan ambilkan aku handuk dan es."

Satu dari mereka mengantar si pria berkacamata sementara satunya lagi tetap di ruangan menyiapkan permintaan lain tuan mudanya.

Dengan bersandar jengah pada sofa beludru, Kyuubi mulai menekan handuk dingin itu ke tiap sisi lehernya. Terlihat jelas ada puluhan kissmark segar tertancap tegas pada kulit putihnya. Ia meringis ketika permukaan handuk menyentuh satu kissmark yang dibarengi luka gigitan taring.

"Ia telah dideportasi langsung oleh pemerintah Jepang sendiri. Dilarang memasuki Jepang dengan alasan apapun seumur hidupnya. Perintah ditembak di tempat apabila ketahuan melanggar telah dikeluarkan." Darui mulai berceramah setelah mendengar beberapa rintihan pemuda merah di depannya, ia berdiri bak bayangan di sisi sofa, seluruh tubuh gelap dengan setelan jas yang gelap pula, hanya minus rambut pirang pucatnya yang setengah menutupi salah satu matanya saja yang bewarna lain. "Bahkan Akatsuki sendiri setuju untuk menandatangani Perjanjian Uchiha yang berisi sumpah bahwa mereka tidak akan mengirim pria itu dengan alasan apapun ke daerah yurisdiksi Jepang selamanya." Darui menyodorkan mangkuk besi berisi puluhan bola es pada majikannya, "Dan disinilah ia siang ini. Menyelinap ke perusahaan yang kau lindungi sendiri dari apapun yang berhubungan dengan Akatsuki."

Kyuubi menatap lurus pada pengawal yang telah menemaninya bertahun-tahun itu tanpa protes. Sorot matanya yang kosong tidak membuat Kyuubi tertipu bahwa pria itu tidak punya emosi.

Ia jelas ingat. Darui sudah ada bersamanya sejak ia masih sesosok balita ingusan yang selalu tersandung kerikil tiap hari. Ia disana pula ketika Kyuubi bertemu pria yang ia sebutkan barusan pertama kali. Hadir ketika Kyuubi menyelamatkan pantat adik pria tersebut di Brasil. Menyaksikan bagaimana hubungan Kyuubi dan pria itu tumbuh menjadi sesuatu yang semakin berbahaya.

Darui ada disana.

Dan berapa banyak pun tahun yang telah lewat. Bagi Darui, Kyuubi Kurama dan Itachi Uchiha akan selalu nampak seperti dua bocah dari Korea Utara dan Korea Selatan yang selalu mencuri tiap kesempatan yang mereka punya untuk menghabiskan waktu bersama di garis perbatasan yang sangat krusial. Mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri hanya untuk sekedar bisa bertatap muka dan saling memastikan mereka baik-baik saja satu sama lain.

Bagi Darui, mereka berdua tak ubahnya dua bocah yang bermain bara api.

"Jika ia berani sampai sejauh ini." Kata Darui. "Itu pasti untuk sesuatu yang tidak bisa diremehkan."

"Aku tau." Kyuubi membalas ketus. Luka di lehernya cukup menjadi bukti.

Itachi tidak pernah mencumbu hingga melukainya seperti ini. Darui tidak bisa melihat apa yang Itachi lakukan padanya dari balik pintu kamar mandi. Kyuubi sangat beruntung Naruto datang tepat sebelum si Uchiha itu menyatukan diri ke dalam tubuhnya. Jika tidak, ia tidak akan begitu yakin apa bisa berdiri tegak setelahnya. Menghadapi Itachi ini.

Kyuubi tau ada yang salah dengan pria itu ketika ia datang. Sorot matanya berbeda. Seolah ada berita buruk yang tertanam disana. Jauh lebih buruk dibanding saat ia memberitahunya ia akan menyelinap ke pasar malam milik Akatsuki di Transylvenia.

"Dia jelas ingin memberitahumu untuk mundur, Tuan Muda." Suara Darui menebal. "Keputusanmu untuk...," Terdengar ia berhati-hati sebelum melanjutkan, "menawarkan diri pada Akatsuki."

"Aku tidak akan mundur."

"Kau tidak tau resiko dari pilihanmu. Dia anggota Akatsuki itu sendiri, dia, dibanding semua orang, teramat paham betapa bahayanya kalau kau sampai masuk kesana menawarkan dirimu sendiri. Itachi berusaha memperingatkanmu!" Pengawal itu nyaris terdengar membentak. Tapi bukan itu yang mengejutkan Kyuubi. Yang membuat ia terheran-heran adalah fakta bahwa Darui yang membenci Itachi hingga ke sel-sel inti si sialan keriput itu baru saja terdengar memihak si pembelot klan Uchiha tersebut.

Kyuubi Kurama menarik nafas panjang nan dalam lalu menghembuskannya dengan ritme yang sama. Berusaha menahan untuk tidak membentak pria yang sudah seperti babbysitter-nya itu.

Dijulurkannya handuk bekas kepada Darui, "Carikan aku handuk yang lebih lembut. Tekstur handuk ini membuat luka brengsek ini semakin menyengat."

.

.

.

.

.

.

.
TBC.

Have a nice day!