Give Me Your Heart
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pair: Naruten
Slight: SasuTen, SasuSaku, etc
Rated: T
Warning: Gaje, Typo, Alur gk jelas, Ancur lebur
Don't like don't read !
Hai, hai, hai minna-san. Author baru bisa keluar dari neraka nih #lirik meja belajar :D. Maklum, kan Authornya baru selesai UAS kemaren, hehe :p. Naaah, kan Author udh bebas dari UAS (yaaah meski msih ada ujian kelulusan msih menanti -_-). Diwaktu senggang ini Author bwa chapie terbaru dan masih anget baru keluar dari oven minna. Sedikit bocoran, chappie ini adalah chappie terpanjang dari semua chappie yang prnah Author terbitkan lhoo, hohoho :p.
Review:…
Bohdong: Hehe, Gt ya. Maaf deh ya kalo penggambaran sekitarnya msih kurang. Smoga yg chpie kli ini enggak ya, hehe :p.
Jamal: Hehe, iya gpp kok. Ending'y udh psti Naru ama Ten donk :*. Hmmh, klo SasuHina Author blom tau gmana nsib'y mreka berdua. Jdi tunggu aja ne (:. Mkasih udh baca *sodorin jempol'y Gai :D.
Naru-kun: Hmmh, emang. Naru'y so sweet. Author aja yg bkin ikt, kpincut ama Naruto :D. Tenten menyayangi Sasuke sbagai teman atau sebagai orang yang di sukainya ? Tnggu aja deh ya… :D
Zebbawohon: Iya..iya udh di lanjut. Baca gih, cepetan.. :D
Uzumaki Narito: Naru ama Ten'y manis bnget ? Jangan ah, ntar mereka di kerubutin semut lagi :D. Huhuhu, iya. Kan si Ten udh jdi yg serba pertama bwt Sasu, gmana ntar nasib Uchiha itu ya ? Tunggu aja ne duh duh, Author terharu, ampe di rekomendasi gt ke adiknya. Mkasih lho ya :*… dan mkasih jga udh bca dan kasih review. Yg chapie ini harus ksih review lagi ne, klo gk aku lemaprin shuriken'y Tenten lho.. :D
Nagasaki: Gaya ceritanya makin bagus ? Emang fic Author pke gaya apa ? Gaya dada kah, punggung kah, atau apa :D. Nih, yg di tunggu udh di update (:
Shido: Hehe, Naruto ama Tenten nge date nya gk romantis bnget ya. Ya iyalah, mana bisa romantis, org Naru'y aja dteng tanpa spengetahuan Tenten. Pke acra mksa lagi :D. Iya komandan, udh di teruskan ama Author. Semoga Chapie yg ini lebih berkesan ne dari chapie yang sbelumnya :D.
Akira ken: Tebak hayoo, apa yang bkal Sakura lakuin ke Tenten ? *Plaakk… :D. Hehe, Akira, orang berantem kok di bilang seru siih -.- :D. Hn, bner kmu Akira, Tenten bisa di pair ama sipa pun, kan kesian dia pasangannya di pinjemin mulu, huhuhu :'(. Dan utk ff ShikaTen, ada sedikit masalah nih. Jadi critanya'y, wktu Author buka lwat komputer, yg muncul malah situs yg lain. Jgankan bwt publish fic, utk buka bwat liat review aja Author pke hp. Update semua fic jga lwat hp. Tpi entah knapa, Author udh berkali-kali coba publish fic lwat hp, tpi gk bisa2 jga ):. Yah, untunglah hp Author gk ngikut gila kayak jaringan internet'y. Jdi, Author bkal coba sekali lagi, kalau belum ada juga, berarti fic'y masih nyempil di document'y (:. Jdi mhon maaf ne klo Author belum bisa publish fic ShikaTen'y. Bukan salah Author kok, slah situs'y tuh gk bisa kebuka ):
Saika: Hehe, Author jga agak bingung baca review kmu :D. Intinya kmu ta'y jdul'y kan ? Hmh, bca aja deh. Kan ntar klo jwab, bcor crita'y :D *lo pikir ember ? #plakk… Mkasih udh baca, jangan lpa review ne :D.
Nah, klo yg ini khusus reviewer yang tanpa nama alias 'Guest' :D. Jdi, cocokin sndiri ya review kalian ama blasan Author (:. Author udh bles smua'y kok..
Guest: Iya..iya. Author udh berpacu pda pair awal kok, Naru ama Ten. Author gk prnah bwa fic ini naik kpal, mana mungkin crita'y terombang-ambing, hehe :p :D. NARU X TEN is the best, ak stuju ama kmu *ksih jempol 20 :D.
Guest: Supeeer apa nih ? Superman kah ? :D
Guest: Iya, chapie ini gk fokus ama satu pair doank kok. Smua pair Author jdi'in atu dsini :D. Jangan lpa review ne setelah baca fic'y (: :D. Satu lagi, jangan panggil aku senpai donk, aku belum pntes di panggil kyk gt, hehe :D.
Guest: Hmh, apa kah prediksi kmu yg mengatakan Sakura bkalan ngmuk terealisasi di chapie yg ini ? *ngomong ala pembaca berita investigasi :D. Bca aja deh, apa prdiksi kmu bner. Review jngan lpa ne.. (:
Guest: Hmhh, iya. Romansu bnget ya, Author aja ampe snyum2 sndiri wktu bkin'y :* :D. Naruto harus donk akrab sma Konohamaru. Tapi nanti yaaa, bkan di chapie ini,hehe :p :D.
Guest: Naru ama Ten'y dpet banget ? Ya ampuun, mkasih lhoo ya. Author aja gk yakin waktu bkin, hehehe :D. Naru ama Ten gk cma satu chapie doank kok, kan peran utama, hrus banyak donk moment'y (:
Wuuookeh, Author udh bles smua review dari kalian. Dripada bnyak bacot, lngsung aja bca nih. Cekiiiidot… :D (sbelumnya maaf klo mengecewakan.. :p)
Naruto menoleh pada Tenten yang berada di sampinya sedang memasukkan semua buku-bukunya. Naruto membuka mulutnya hendak menanyakan sesuatu pada gadis itu. "Apa kau mau kekantin bersama ?" Tawar Naruto. Tenten menatap lelaki itu terkejut.
"A..ano. Naruto. Kurasa mulai sekarang jangan terlalu sering menemuiku atau bicara denganku di luar soal pelajaran." Kata Tenten.
"Kenapa ?" Naruto mengerjap bingung. "Karena, aku khawatir semua orang salah sangka jika mereka melihat kedekatan kita." Tenten beranjak dari kursinya dan berlalu pergi.
"Hei…" Naruto juga beranjak dari kursinya hendak menyusul Tenten. Namun ia terpaksa harus menghentikan langkahnya ketika ia melihat Sasuke sudah terlebih dahulu berada di hadapan gadis itu.
"Sa..Sasuke ?" Tenten terkejut melihat lelaki emo itu menghentikan langkahnya di ambang pintu kelas.
"Apa kau lupa dengan janjimu ?" Sasuke menatap Tenten tajam.
'Janji ?' Pikir Naruto.
"A..ah, ja..janji i..itu. Te..tentu saja. Ma..mana mungkin aku lupa ?" Jawab Tenten berusaha tersenyum meski hatinya kini sedang bergejolak hebat.
"Jadi, apa kau ada waktu malam ini ?" Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Ma..malam ini sepertinya aku tidak bisa. A..aku harus mengajari Na…." Tenten menghentikan kata-katanya sejenak saat ia sadar ia akan menyebut nama Naruto. "Adikku." Lanjut Tenten cepat dan tersenyum.
'Adiknya ?. Bukankah dia ada janji denganku ?' Pikir Naruto.
"Maaf sebelumnya Tuan Uchiha. Tapi malam ini Panda manis ini ada janji denganku. Jadi, kau lupakan saja janjinya padamu." Naruto yang tiba-tiba merangkul bahu Tenten. Tenten hanya mengerjapkan matanya tekejut melihat Naruto tersenyum penuh kemenangan pada Sasuke.
"Denganmu ?" Sasuke mengerutkan dahinya lalu menatap Tenten.
"Ja..jangan dengarkan dia. Aku tidak pernah ada janji dengannya." Kata gagap Tenten melepas kasar tangan Naruto yang menggelayuti bahunya.
"Oh iya, Panda. Bagaimana dengan bunga yang aku berikan kemarin ?. Apa sudah layu ?" Naruto kembali merangkul bahu Tenten dengan seringainya.
"Jangan berulah !" Bisik Tenten geram. "Bagaimana kalau malam ini saja ?" Tanya Tenten mengalihkan pembicaraan pada Sasuke yang menatap dua mahluk di hadapannya bingung.
"Jangan harap kau bisa mengajaknya. Dia milikku." Bisik Naruto mendekatkan tubuhnya pada Sasuke dan membawa Tenten keluar menjauhi bungsu Uchiha itu.
Sasuke tertawa renyah melihat tingkah kekanak-kanakan Naruto. Sudah saatnya untuk Sasuke memperjuangkan apa yang ia inginkan. Lelaki pirang itu telah mengibarkan bendera perang padanya. Dan Sasuke akan menerimanya dengan senang hati.
Sakura mengepalkan tangannya geram melihat adegan antara Sasuke, Tenten dan Naruto. "Sakura…" Lirih Ino menyentuh bahu Sakura.
"Dia bukan hanya menyalakan api, dia juga membasahi korek api dengan bensin. Jangan panggil aku Haruno Sakura jika aku tidak bisa menghancurkan gadis itu." Sakura menatap kepergian Tenten dan Naruto geram.
"Lepaskan aku !" Tenten mendorong kasar tubuh Naruto menjauhinya. Jika Naruto tidak bisa mengendalikan keseimbangannya, mungkin tubuhnya sudah mengenai pilar yang berada di koridor sekolah. "Kenapa kau melakukan itu ?" Tenten menatap tajam Naruto.
Naruto cengo mendengar pertanyaan meluncur dari mulut Tenten. Jujur, ia juga tidak tau untuk apa dia melakukan semua itu. Yang ia ingat hanya suara kecil yang menuntunnya untuk melakukannya. Sewaktu ia menarik Tenten keluar menjauhi Sasuke pun, ia masih berpikir untuk apa dia melakukannya. Apa yang berusaha ia pertahankan dengan menjauhkan Tenten dari Sasuke ?
"Apa maumu sebenarnya ? Kau menyuruhku membuat Sasuke berpaling padaku. Tapi kau sendiri berusaha menjauhkan Sasuke dariku. Ada apa denganmu ?" Tanya Tenten sedikit berteriak.
"A..aku tau. Ta..tapi bukankah kau ada janji denganku malam ini ? Lalu, kenapa kau menyanggupi ajakan Uchiha itu ?" Naruto mengarahkan bola matanya ke kanan atas untuk mencari alasan.
"Huh, sejak kapan kau peduli tentang hal itu ? Bukankah kau selalu gembira jika aku tidak datang ?" Tanya Tenten yang membuat Naruto diam seribu bahasa.
"Jadi, apa kau akan datang ?" Tanya Seseorang di belakang Tenten.
"Entahlah." Jawab lawan bicaranya singkat.
Suara berat masuk ke gendang telinga Tenten. Ia hafal betul suara siapa itu. Tenten menolehkan sedikit kepalanya pada pemilik suara. Sesaat kemudian Tenten segera bersembunyi di balik tubuh Naruto agar lelaki itu tidak melihatnya.
"A..apa yang kau lakukan ?" Naruto terkejut. "Diamlah !" Jawab Tenten meringkuk di belakang punggung Naruto dan meremas seragam belakang Naruto sembari mengintip lelaki yang menghampiri Naruto.
"Ha..hai Neji, Shikamaru." Sapa Naruto.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Neji.
"Aku ?. Ti..tidak ada." Naruto gagap. Kedua tangannya berusaha menutupi tubuh Tenten. "Kalian sendiri, apa yang kau lakukan ?" Tanya Naruto tersenyum.
"Hmmmh, kau tau kan ulang tahun sekolah minggu depan ?" Tanya Shikamaru.
"Oh, ya aku tau. Kenapa ?" Tanya Naruto.
"Kami berdua hanya malas menghadiri acara itu. Tapi semua siswa wajib menghadirinya." Jawab Shikamaru.
"Siapa di belakangmu ?" Tanya Neji melihat seseorang di belakang Naruto.
"Ti..tidak ada. Tidak ada siapa pun." Naruto menggeser tubuh Tenten kebelakang. Tepatnya memojokkan Tenten hingga tubuh gadis itu berada di antara punggung Naruto dan dinding. Tenten menatap tajam tangan kanan Naruto yang tanpa sengaja mendarat di dadanya.
"Aaw…" Naruto merintih kecil saat Tenten mencubit kecil pinggang belakangnya.
"Kau kenapa ?" Shikamaru menaikkan sebelah alisnya.
"Ti..tidak. Ka..kalian sendiri, kenapa masih disini ?" Tanya Naruto.
"Kau aneh sekali." Kata Shikamaru meninggalkan Naruto di ikuti Neji dibelakang Shikamaru.
Tenten kembali mendorong tubuh Naruto untuk yang kedua kalinya setelah Neji dan Shikamaru menghilang dari pandangannya. Tenten memijat kecil pinggangnya yang sedikit kaku karena membungkuk untuk waktu yang cukup lama.
"Kenapa kau mendorongku ?" Tanya Naruto dengan tatapan bodohnya.
"Dimana kau meletakkan tanganmu tadi ?!. Dasar lelaki cabul !" Tenten meninggikan suaranya dan berkacak pinggang.
"Memang di mana ?" Naruto menggaruk leher belakangnya bingung.
"Tidak usah di bahas. Aku tidak mau mengingatnya." Tenten melipat kedua tangannya kesal dan menggembungkan kedua pipinya.
"Tu..tunggu. Aku pernah melihat dialog seperti yang kau katakan tadi di salah satu film. Jangan-jangan…." Naruto menghentikan perkataanya. Semu merah menjalar di kedua pipi Naruto. Lelaki itu segera menangkupnya dengan tangan agar tidak terlihat.
"Bukankah aku sudah bilang jangan di bahas lagi ?" Tenten menaikkan suaranya satu oktaf.
"Huh, beruntung kau tidak ketahuan oleh mereka tadi. Tau begitu, kutarik saja kau keluar agar mereka bisa melihatmu. Lagipula, apa yang mau kau sembunyikan dari Neji dan Shikamaru ?" Naruto merapikan seragam belakangnya yang sedikit kusut karena Tenten.
"Banyak yang ingin ku sembunyikan dari Neji." Sergah Tenten. Tenten membulatkan matanya sempurna.
"Kau suka Neji ?" Naruto menunjuk Tenten yang wajahnya mulai menunjukkan semu merah.
"A..apa pedulimu ?" Balas Tenten malu meninggalkan Naruto yang tertawa terpingkal-pingkal.
Naruto menyusul Tenten dan berhenti di hadapan gadis itu. "Jadi, lelaki yang kau maksud tempo hari itu Neji ?" Tanya Naruto menghentikan tawanya dan membuat mood Tenten semakin buruk.
"Bisakah kau berhenti menanyakan tentang hal itu ?" Tenten mendorong pelan bahu Naruto dan kembali berjalan melewatinya.
"Hohoho, aku tidak menyangka. Ternyata seleramu tinggi juga." Kata Naruto. "Sejak kapan kau menyukainya ?" Tanya Naruto lagi.
"Bisakah kau diam ? Kau membuatku gila." Sergah Tenten mempercepat langkahnya.
oOo
Jam pulang sekolah telah usai sekitar 2 jam yang lalu. Namun gadis bermata hazel itu tidak bisa langsung pulang karena harus mencari benda miliknya yang hilang entah kemana. Tenten sudah berkali-kali mengelilingi sudut kelasnya untuk menemukan benda itu. Namun ia belum juga menemukannya. Ia juga sudah melewati beberapa koridor panjang di sekolah untuk mencari benda itu. Tapi ia belum juga menemukannya.
"Bagaimana bisa jatuh ?" Tenten bergumam kecil setelah masuk di setiap kolong meja kelasnya. "Tidak ada." Gumamnya lagi menghembuskan nafas lelahnya. Tenten beringsut dari posisinya dan mengingat kembali ruangan apa saja yang ia masuki hari ini. "Kelas, toilet, kelas Hinata, dan lapangan." Ia sudah mencari benda itu kesemua tempat yang ia sebutkan. Tapi ia belum melihat benda itu tergeletak di sekitar sana.
Jam dinding kelasnya telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Tenten duduk di salah satu kursi di kelasnya melepaskan penatnya. Ia menghirup dan menghembuskan nafasnya panjang. Ia tidak tau apa yang akan terjadi padanya seandainya Ibunya tau, benda itu telah hilang. Tenten melipat kedua tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya di sana. Tatapan kosong Tenten tertuju pada lantai kelasnya. Sebenarnya ia sudah sangat lelah mencari benda itu kesana kemari. Namun hasilnya nihil. Mustahil jika menemukan benda sekecil itu di sekolah sebesar ini dalam waktu singkat. Beruntung jika ia berhasil menemukannya meski bukan hari ini. Tapi kalau tidak, mungkin ia harus menyiapkan mental untuk mendengar ocehan dari kedua orangtuanya.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Naruto masuk ke kelasnya.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan ?" Tanya Tenten balik.
"PSP milikku tertinggal di laci meja." Jawabnya menghampiri mejanya dan mengambil benda yang ia cari lalu menunjukkannya pada Tenten.
"Oh." Balas Tenten singkat. "Lalu kenapa kau belum pulang ?" Naruto mengerutkan dahinya.
"Aku harus mencari sesuatu." Jawab Tenten apa adanya. "Apa ?" Tanyanya singkat. "Kalung." Jawab Tenten singkat tanpa menatap lawan bicaranya.
"Hilang dimana ?" Tanyanya duduk di samping Tenten.
"Kalau aku tau bukan hilang namanya. Dan kurasa aku tidak bisa kerumahmu hari ini. Aku harus mencarinya sampai ketemu." Tenten memasukkan ponselnya kedalam saku yang sebelumnya ia letakkan di meja.
"Aku mengerti. Aku akan membantumu kalau kau mengizinkan." Kata Naruto memasukkan PSPnya ke dalam saku celana jeansnya.
"Arrigatou. Kalau begitu, kita ke perpustakaan saja." Tenten beranjak dari kursinya.
Naruto dan Tenten keluar dari kelas dan berjalan menuju perpustakaan yang berada di lantai atas. Naruto segera membuka pintu perpustakaan setelah mereka sampai di depan ambang pintunya.
"Apa kau yakin kau menjatuhkannya disini ?" Tanya Naruto ragu.
"Aku tidak tau. Tapi aku sempat kemari tadi mengembalikkan buku yang kupinjam minggu lalu." Tenten menaikkan bahunya.
"Tapi ruangan ini besar sekali. Aku tidak yakin kita bisa menemukannya dalam waktu singkat." Kata Naruto menyapukan pandangannya pada rak-rak besar dan tinggi lebih dari 4 meter yang berisi buku-buku tebal dari berbagai Negara dan berbagai pencipta.
"Maka dari itu pemerintah menobatkan sekolah ini sebagai sekolah dengan koleksi buku terlengkap di Negeri ini." Jawab Tenten santai dan melenggang masuk kedalam.
"Seperti apa kalungnya ?" Tanya Naruto.
"Burung merpati kecil berwarna perak dengan satu berlian putih di bagian matanya". Jawab Tenten membayangkan kalungnya.
Hampir satu jam Naruto dan Tenten mengelilingi ruangan seluas 100x75 meter itu. Namun mereka belum juga menemukan benda yang di cari. Jangankan menemukannya, mengelilingi setengah ruangan itu saja belum mereka lakukan. Lelah telah mendera Naruto dan Tenten yang daritadi merangkak mengeliling ruang perpustakaan. Sekali-kali mereka berdua berdiri dan melakukan gerakan kecil guna melemaskan ototnya.
Tenten merangkak di bawah rak yang berisi kumpulan buku biologi. Sedangkan Naruto juga merangkak tak jauh dari tempat Tenten berada tepatnya di bawah rak buku kimia. Naruto menyeka keringat yang mengalir di dahinya dan membasahi tenggorokannya yang telah kering sejak beberapa menit yang lalu. Ia melirik Tenten yang menampakkan raut wajah cemas melalui celah antara rak buku yang satu dan rak buku yang lainnya. Setelah melihat raut wajah yang Tenten tampakkan, Naruto kembali berusaha mencari kalung milik Tenten yang hilang entah kemana.
Tenten menghampiri Naruto yang masih saja berusaha membantunya. Ia menyentuh bahu kanan Naruto dan membuat Naruto sedikit tersentak. Lelaki itu mendongakkan kepalanya kebelakang menatap Tenten yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kita pulang saja. Ini sudah hampir masuk waktu makan malam." Kata Tenten.
"Tapi kalungmu ?" Tanya Naruto.
"Mungkin Tousan dan Kaasan tidak akan marah jika aku menjelaskannya pelan-pelan" Tenten tertawa renyah.
Naruto beringsut dari posisinya dan berdiri menatap Tenten "Apa kau yakin ?" Naruto bertanya ragu.
"Hn, tidak mungkin kita menemukannya di tempat seluas ini." Jawab Tenten menyerahkan sebotol air pada Naruto yang ia ambil dari dalam tasnya.
Naruto menerima air pemberian Tenten dan segera meneguk isinya setelah membuka segelnya. "Darimana kau mendapatkannya ?" Naruto mengayunkan botol air di tangannya.
"Waktu istirahat tadi. Sebenarnya aku akan memberikannya pada Hinata. Tapi ternyata dia sudah menerima minuman dari…. Neji." Tenten melirihkan suaranya saat menyebut nama Neji. Tenten kembali tersenyum dan menatap Naruto yang menatapnya lemah. "Kenapa kau menatapku seperti itu ?" Tanya Tenten.
"Hn, ti..tidak. Hanya saja, aku tidak menyangka ternyata kau juga mengalami nasib yang sama sepertiku." Naruto mengalihkan pandangannya pada rak buku yang menjulang tinggi di sampingnya.
"Sejak kapan kau jadi pria melankolis seperti ini ?" Tanya Tenten tertawa renyah sambil memukul pelan bahu Naruto dan pergi meninggalkan lelaki itu menuju pintu perpustakaan.
"Ja..jangan bercanda," Tenten terpaku di tempat ketika ruang perpustkaan gagal ia buka.
"Ada apa ?" Tanya Naruto menatap Tenten yang berusaha membuka pintu kayu itu. "Biar aku coba." Kata Naruto. Lelaki pirang itu berusaha menekan gagang pintu lebih keras dari yang Tenten lakukan. Tapi hasilnya nihil, pintu itu tidak terbuka sedikit pun. Yang artinya mereka berdua harus rela melewatkan makan malam mereka karena insiden ini.
"Ooh, aku bisa gila." Tenten meremas kepalnay gemas dan menjatuhkan dirinya kelantai marmer yang dingin. Naruto juga ikut menjatuhkan dirinya ke lantai seperti Tenten.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang ?" Tanya Naruto pada Tenten yang kini memeluk kedua kakinya dan menggunakan pintu perpustakaan sebagai sandaran.
"Apa kau membawa ponsel ?" Tanya Tenten pada Naruto.
"Aku tidak berpikir akan terkunci seperti ini. Aku meniggalkannya dirumah." Kata Naruto yang membuat Tenten semakin lemas. "Bagaimana denganmu, apa kau juga tidak membawa ponselmu ?" Tanya Naruto.
"Ada. Tapi apa yang bisa kita lakukan ?" Tenten melepas tasnya yang berada di punggungnya.
"Nomor siapa saja yang ada disana ?" Naruto memalingkan pandangannya pada Tenten.
"Hanya Tousan, Kaasan, Hinata, Neji, Konohamaru, Sasuke, saudara-saudaraku, dan…" Tenten menghentikan kata-katanya untuk mengingat sesuatu. "Dan ?" Tanya Naruto lagi. "Dan kau." Lanjut Tenten menaikkan dagunya.
"Apa kau tidak punya nomor penjaga sekolah ?" Tanya Naruto. "Apa kau mendengar aku menyebutkannya tadi ?" Tanya Tenten balik.
"Apa boleh buat ? Mau tidak mau, kita harus menunggu sampai pagi." Kata Naruto dan berhasil membuat Tenten membelalakkan matanya sempurna.
"Apa kau bilang ? Sampai pagi ?" Tanya Tenten lagi.
"Hn, apa kita bisa berbuat sesuatu ?" Tanya Naruto.
"Bagaimana kalau lewat jendela ?" Tenten menolehkan kepalanya ke barisan jendela. Wajah kecewa sangat namapk di tunjukkan gadis itu ketika ia memalingkan wajahnya dan melihat barisan jendela dari kaca tanpa ada engsel untuk membukannya.
"Apa kau mau memecahkannya ?" Naruto tertawa renyah.
"Bagaimana kalau aku menelfon Sasuke ?" Tanya Tenten.
"Aku akan menghancurkan ponselmu jika kau melakukan itu." Balas Naruto tajam.
"Konohamaru." Tenten memalingkan wajahnya pada Naruto. Tenten segera menekan tombol di ponselnya dan mencari nama Konohamaru di sana. 'Aku sedang sibuk. Tolong tunggu sebentar lagi. Piiip…' Tenten meremas ponselnya gemas ketika mendengar pesan suara dari Konohamaru. "Dasar bocah ingusan. Sibuk apa kau ini ?!" Tenten menghembuskan nafasnya kasar.
"Jangankan Konohamaru, adik sepupuku yang masih 5 tahun saja akan berkata sibuk jika dia sedang bermain dengan bonekanya." Naruto tertawa renyah.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan ? Berteriak agar penjaga sekolah mendengarnya ? Itu mustahil." Tenten mengacak-acak rambutnya.
Naruto tidak membalas kata-kata gadis di sampingnya. Beberapa detik kemudian, lelaki itu menyandarkan kepalanya ke pintu seperti sedang memikirkan sesuatu. Tenten menatap bingung pada lelaki di sampingnya yang ia rasa sama sekali tidak ada usaha untuk keluar dari tempat ini.
"Apa yang kau pikirkan ?" Tanya Tenten.
"Apa kau pernah berpikir kalau pertemuan kita ini adalah takdir ?" Tanya Naruto tiba-tiba.
"Takdir ? Kau gila, apa maksudmu ?" Tanya Tenten tertawa renyah.
"Saat kita bertemu di toilet waktu itu, saat tanpa sengaja ciuman yang tidak diharapkan itu terjadi, dan sekarang, kita terkunci di satu tempat yang sama. Hanya kita berdua." Naruto menatap lembut Tenten.
"Huh, itu semua bukan takdir. Itu semua hanya kecelakaan yang sama sekali tidak diharapkan." Sergah Tenten mempoutkan bibirnya.
"Kalau memang itu kecelakaan, apa yang kau lakukan di toilet itu ? Bukankah banyak toilet di sekolah ini ? Untuk apa kau kesana ?" Tanya Naruto.
'Apa aku harus menjelaskan padanya kalau saat itu aku sedang… aaaah, tidak akan' Tenten menggelengkan kepalanya cepat.
"Apa kau juga baru sadar kalau pertemuan kita adalah takdir ?" Tanya Naruto dengan nada menggoda.
"Apa ? Tidak, aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya…."
"Hanya apa ?" Tanya Naruto dengan nada menggoda. "Ya, ka..kau tau kan kalau kami para wanita sedikit istimewa ?" Kata Tenten berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Aku tau. Lalu ?" Tanya Naruto lagi. "Lalu… lalu, aku mengalaminya pada saat itu". Sergah Tenten.
"Kenapa kau kesana ? Bukankah banyak toilet yang lebih dekat dengan kelasmu ? Kenapa kau memilih toilet yang tidak pernah di masuki siswa lain ?" Tanya Naruto sembari menggeser sedikit posisi duduknya merapat ke arah Tenten.
"Ka..kau sendiri, untuk apa kau kesana ? Bukankah saat itu masih jam pelajaran ?" Tanya Tenten mengalihkan pembicaraan.
"Aku ? Aku bosan dengan pelajaran matematika. Maka dari itu aku kabur kebelakang sekolah untuk menenangkan diri. Dan aku sudah biasa melakukannya. Lagipula aku tidak sendiri. Ada Kiba saat itu yang menemaniku" Jawab Naruto santai. "Lalu kau ? Apa yang kau lakukan ? Kau belum menjawab pertanyaanku" Kata Naruto lagi yang mulai mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
"A…aku, a..aku…" Tenten berhenti sejenak untuk menutupi semu merah yang muncul di kedua pipinya. "Saat itu toilet perempuan penuh. Dan juga ada Sakura di toilet yang lainnya. Kau puas ?!" Balas Tenten menaikkan suaranya satu oktaf.
Naruto menundukkan kepalanya kecewa setelah mendengar jawaban Tenten. Ia kembali menarik dirinya ke posisi sebelumnya. Tenten hanya mengerjap heran melihat perubahan sikap pada lelaki pirang itu. Beberapa bulan yang lalu, Naruto ngotot memintanya untuk membuat Sakura berpaling padanya. Tapi yang terjadi sekarang, ia bersikap seolah-olah berusaha menjauhkan dirinya dari Sasuke. Apa mungkin Naruto telah…. Tenten segera menggelangkan kepalanya cepat guna mengusir jauh pikiran yang tidak masuk akal itu. Ia kemudian memandang sekitarnya yang sudah gelap gulita sejak beberapa menit yang lalu. Ia mungkin tidak bisa melihat apa pun jika tidak ada sinar bulan yang dengan cuma-cuma memberikan sinar kecilnya menembus jendela kaca perpustakaan.
"A..apa kau bisa mencari saklar lampu ? Aku sedikit takut." Kata Tenten melihat sisi gelap perpustakaan yang tidak mendapatkan sinar bulan.
Naruto segera berdiri dan mulai meraba dinding perpustakaan untuk mencari saklar lampu. Setelah sekitar 2 meter ia berjalan ke sisi kanannya, akhirnya Naruto mendapatkan saklar lampu yang ia cari. Naruto menekan saklar lampu yang ia pegang dan tidak sampai satu detik, sinar lampu berhasil membuat ia dan Tenten menyipitkan matanya silau. Setelah ia bisa menerima cahaya yang masuk kematanya, ia segera memalingkan kepalnya ke arah Tenten. Naruto hanya tersenyum kecil saat melihat Tenten tengah meringkuk di bawah meja sembari memeluk kedua kakinya.
Naruto menghampiri Tenten dan kembali duduk di samping gadis itu. "Apa yang kau lakukan ?" Tanya Naruto.
"Tidak ada." Jawab Tenten singkat.
Naruto tau kalau gadis di sampingnya ini sedang berusaha menahan dingin karena lantai marmer yang mereka duduki. Jiwa lelaki Naruto terpanggil untuk memberikan jaket miliknya pada Tenten. Tanpa ada percakapan sebelumnya, ia segera membalut tubuh mungil Tenten dengan jaket hitam yang ia kenakan. Sang gadis hanya mengerjap tekejut melihat perlakuan manis lelaki di sampingnya. Naruto membalas kerjapan mata Tenten dengan senyuman. Beberapa detik kemudian, ia mencengkeram lembut kedua bahu gadis itu untuk berdiri dan menuntunnya duduk di kursi kayu yang telah di sediakan pihak sekolah untuk tempat para siswa membaca buku pilihannya.
Setelahnya, Naruto duduk di samping Tenten dan mengambil sebuah majalah yang tergeletak di meja. Sedangkan Tenten mengisitirahatkan otaknya dengan meletakkan kepalanya ke meja dengan kedua tangan miliknya sebagai bantal. Sekaligus untuk mengalihkan rasa canggung yang Tenten dan Naruto rasakan.
Satu jam berlalu, namun mereka berdua masih terperangkap di ruangan itu. Tanpa ada percakapan di antara keduanya, yang Tenten dengar hanya suara bisisng yang di keluarkan oleh PSP Naruto ketika pemuda itu memainkannya. Tenten membalikkan halaman demi halaman majalah yang ada di hadapannya bosan. Sedangkan Naruto heboh sendiri karena ia berkali-kali berhasil memenangkan game di PSP miliknya. Tenten menyambar pelan botol air yang ia berikan pada Naruto sebelumnya dan meneguk sedikit isinya hanya sekedar mengisi perutnya yang kosong. Naruto melirik Tenten sekilas.
"Apa kau lapar ?" Tanya Naruto.
Kruyuuuk….
"Kau bisa mendengarnya bukan ?" Kata Tenten mengelus perutnya.
"Kalau boleh tau, apa yang membuat kalung itu berharga ?" Naruto meletakkan PSPnya dan menatap Tenten.
"Hmmh, kau tau kan arti lambang burung merpati ?" Tenten menatap meja di hadapannya sayu. Naruto menggeleng pelan. "Burung cantik yang melambangkan kesetiaan. Sebenarnya kalung itu pemberian dari Nenekku. Semula, Nenek memberikan kalung itu pada Tousan dan Kaasan saat mereka berdua menikah. Karena Nenek bilang, itu adalah kalung turun temurun di keluarga kami. Kalung itu mempunyai pasangan. Bentuk dan warnanya sama, hanya yang membedakan berlian di bagian matanya. Yang aku pakai memiliki berlian berwarna putih, dan yang satunya lagi berwarna biru. Dan sekarang ada di leher Konohamaru." Jelas Tenten sambil memainkan botol di genggamannya.
"Kenapa orangtuamu memberikan pasangannya pada Konohamaru ? Bukankah itu kalung pasangan, kenapa mereka tidak memberikan kalung itu pada suamimu atau istri Konohamaru kelak ?" Naruto mengerutkan dahinya heran.
"Ya, memang itulah tujuan Nenek memberikan kalung itu. Tapi, jika yang mengenakan sesama saudara, kalung itu akan lebih berarti. Karena hubungan saudara tidak akan putus sampai kapan pun. Berbeda dengan pasangan yang sewaktu-waktu bisa putus di tengah jalan. Dan lagi, jika Tousan dan Kaasan memberikan sepasang kalung itu pada salah satu di antara kami, mereka khawatir salah satu dari kami akan merasa iri. Itulah alasan Tousan dan Kaasan memberikan kalung itu pada kami. Dan kami sudah memakainya sejak usia 5 bulan. Kalung itu tidak pernah lepas dari leher kami sedetik pun" Tenten tersenyum manis mengingat kembali adik yang sangat ia sayangi. Naruto tertawa renyah mendengar cerita singkat Tenten. Gadis itu menatap Naruto bingung. "Apa yang lucu ?" Tenten mengerutkan dahinya bingung.
Naruto menatap gadis itu santai dan segera mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Tenten mengerjap tekejut saat ia melihat kalung yang Naruto tunjukkan padanya. Tenten menatap kalung perak itu dan Naruto bergantian. "Kau juga memakai kalung ?" Tenten menunjuk kalung berbentuk lingkaran kecil dengan diameter sekitar 12mm lengkap dengan lambang Uzumaki di tengah dan tulisan 'Uzumaki' terukir indah di tepinya. "Tapi, kenapa talinya panjang sekali ?" Tanya Tenten membentangkan kalung Naruto.
"Kenapa harus di tunjukkan kalau bisa disembunyikan ?" Kata Naruto santai.
"Apa kau tau arti dari kalung lingkaran yang kau kenakan ?" Tenten melepas kalung Naruto dan menatap pria di hadapannya lembut. Naruto menggeleng pelan lengkap dengan tatapan bodohnya.
"Lingkaran, yang berarti kasih sayang yang tidak akan pernah putus sampai kapan pun. Minato Jiisan dan Kushina Baasan menyampaikan rasa sayang yang amat sangat padamu setiap harinya melalui kalung ini. Mereka ingin kau selalu mengingat mereka meski saat kau tidak berada di sisi mereka berdua. Bahkan mereka mengukir nama Uzumaki di tepinya. Tulisan itu di letakkan bukan tanpa alasan. Mereka ingin semua orang tau, kalau kau adalah keturunan Uzumaki. Orangtuamu bangga memiliki anak lelaki seperti dirimu. Mereka ingin kau menjadi seperti pendahulu Uzumaki yang terkenal cerdas, setia kawan, dan pantang menyerah. Ketiga sifat yang sangat lekat dengan klan Uzumaki. Mereka yang akan berbuat hal buruk padamu juga akan berpikir lagi jika melihat kalung ini. Mereka tidak akan berani melakukan hal buruk padamu jika mereka tau kau keturunan Uzumaki. Karena mencelakaimu, adalah sama saja dengan bunuh diri dengan cara yang berbeda." Jelas Tenten panjang lebar dan berhasil membuat Naruto terpaku.
"Aku baru tau, ternyata benda sekecil ini memiliki banyak arti. Semula aku malu saat Tousan dan Kaasan menyuruhku mengenakan kalung ini. Maka dari itu aku memanjangkan talinya agar tidak terlihat. Tapi ternyata aku salah, justru benda kecil inilah yang menjadi pelindungku selama ini" Naruto menatap Tenten sayu.
Hangat. Itulah yang Tenten rasakan ketika tangannya mengenggam tangan Naruto. Sesaat mereka berdua terhanyut dengan suasana sepi dan tenang di perspustakaan sekolah. Mereka berdua saling memandang manik mata masing-masing dan merasakan perasaan damai yang datang entah darimana. Namun ketenangan itu terusik ketika seseorang membuka pintu perpustakaan.
"Siapa disana ?" Tanyanya setelah pintu perpustakaan terbuka.
Reflek Naruto dan Tenten melarikan matanya ke arah pintu. Setelah mereka yakin melihat pintu perpustakaan terbuka, mereka berdua segera berlari ke arah orang tersebut.
"Jiisan, Arrigatou. Arrigatou gozaimasu." Kata Tenten senang setelah ia tau kalau penjaga sekolah lah yang datang kemari.
"Darimana Jiisan tau kami ada disini ?" Tanya Naruto.
"Ya, aku tadi melihat sepeda Tenten di parkiran. Dan aku pikir Tenten masih berada di sini. Maka dari itu aku mencarinya, dan saat aku berkeliling, aku melihat lampu perpustkaan menyala." Jawabnya.
"Arrigatou Jiisan." Kata Tenten lagi.
"Arrigatou gozaimasu." Naruto membungkukkan badannya.
"Bukan masalah. Pulanglah, ini sudah hampir larut. Orangtua kalian pasti cemas dirumah." Kata penjaga sekolah itu.
"Ne Jiisan, kami permisi dulu." Tenten menyambar cepat tasnya yang ia letakkan di atas meja dan berlari keluar.
Setelah Tenten sampai di parkiran sepeda, ia segera menaiki sepedanya dan mengayuhnya keluar dari sekolah. Naruto mengekori Tenten dari belakang menggunakan mobil yang ia bawa sebelumnya. Tenten berhenti mengayuh sepedanya saat ia tau ada mobil mengikutinya. Tau Tenten menghentikan sepedanya, Naruto segera keluar dari mobil dan menghampiri Tenten.
"Apa lagi ?" Tenten memutar bola matanya.
"Apa kau yakin pulang sendiri ?" Tanya Naruto ragu.
"Kenapa ? Kau mencemaskanku ?" Tanya Tenten balik.
"Mencemaskanmu ? Tidak, aku hanya sedikit tidak nyaman jika melihat gadis pulang sendiri. Ini sudah hampir larut." Jawab Naruto.
"Aku baik-baik saja. Aku sudah bisa pulang jam segini. Kau pulanglah. Kau pasti juga lelah." Tenten mengayuh sepedanya.
"La..lalu bagaimana dengan kalungmu ?" Naruto menghentikan gadis itu sejenak.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada Tousan dan Kaasan. Semoga mereka mengerti" Jawabnya.
"Kau yakin ?" Tanya Naruto ragu.
"Ada apa denganmu ? Sejak kapan kau perhatian padaku ? Sudahlah, aku pulang. Daaaah…" Tenten mengayuh kembali sepedanya.
"He..hei…"
.
.
.
.
.
.
.
oOo
Bel istirahat telah di bunyikan sejak beberapa menit yang lalu. Gadis yang di juluki Pandan oleh Naruto itu mengitari koridor sekolah untuk mencari sahabatnya setelah ia gagal menemui gadis indigo itu di kelasnya.
"Hinata". Tenten berteriak ketika ia menemukan Hinata hendak memasuki ruang laboratorium.
Hinata membalikkan tubuhnya dan mendapati Tenten berlari kecil menghampiri dirinya. Hinata melipat kedua tangannya kesal.
"Ada apa ?". Hinata bertanya malas.
"Kenapa kau jadi jutek begitu ?". Tenten menampakkan ekspresi terkejutnya.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit sibuk sekarang. Jadi, jangan mengangguku". Hinata membuka pintu lab.
"Hi..Hinata. Kau ini kenapa ?" Tanya Tenten sedikit terkejut melihat perubahan sikap sahabatnya. Sepuluh tahun mengenal Hinata, baru kali ini gadis berambut indah ini menunjukkan sikap yang bisa dibilang tidak menyenangkan kepadanya.
"Bukankah aku sudah bilang. Aku sibuk sekarang. Apa kau belum paham juga ?" Hinata menatap tajam Tenten.
"Hinata, kenapa kau…"
"Tolong kau buang saja ini jauh-jauh. Aku sangat muak melihatnya." Hinata menyela perkataan sahabatnya dan melempar kasar selembar amplop kepada Tenten.
"Apa ini ?" Tenten memungut amplop yang jatuh ke lantai karena gerakan tangannya terlambat untuk menangkapnya.
"Kau bisa melihatnya sendiri. Dan sekarang, tolong jangan mengangguku." Hinata berkata dingin kemudian meninggalkan Tenten yang masih terpaku melihat sikap sahabatnya.
'Kami-sama, masalah apa lagi ini ?' Batin Tenten menjerit ketika ia mengeluarkan isi amplop yang Hinata lempar kearahnya. Beberapa lembar foto dirinya dan Naruto saat mereka terkunci di perpustakaan kemarin. Mimpi apa dia semalam, belum lima menit dia berbincang dengan Hinata, dia sudah menadapt pukulan telak ketika sahabtanya melempar benda itu padanya. Tenten meremas foto di genggamannya gemas. Ia tau betul siapa yang melakukan ini semua. Dan hanya satu orang yang menaruh dendam pada dirinya.
oOo
Brakkk….
Pukulan keras yang Tenten pada meja Sakura menimbulkan gema yang cukup memekakkan telinga hingga membuat seisi kelas terjingkat. Tenten menatap tajam pada gadis yang kini posisinya lebih rendah darinya yang kini juga melemparkan death glearnya.
"Apa maksudmu ?" Gadis itu berkacak pinggang setelah mendorong bahu Tenten kebelakang.
Tenten memalingkan wajahnya sambil tertawa remeh. Kemudian, Tenten kembali menatap Sakura. Namun kali ini bukan mata emerald yang ia tatap, tapi tangan Sakura yang masih tergantung bebas di tempatnya. Sakura berontak saat Tenten meremas pergelangan tangannya.
"Apa yang kau lakukan ?" Sakura berusaha melepas tangan Tenten. Tanpa menjawab Sakura, ia segera menarik gadis itu keluar kelas. Tenten sempat berhenti ketika ia tau Ino mengikutinya. Tenten membalikkan tubuhnya dan menatap Ino tajam. "Berani mengikutiku, kupatahkan lehermu." Bisik Tenten yang membuat Ino menelan air liurnya bagaikan seonggok daging. Setelah Tenten yakin Ino tidak akan mengikutinya, ia kembali menarik Sakura keluar kelas.
Lee, Chouji, dan Kiba berniat mengejar Tenten untuk melerai. Takut gadis itu akan menghajar Sakura. Namun Naruto merentangkan tangan kanannya menghalangi mereka, mengisyaratkan agar mereka tidak mengikuti Tenten. Ia percaya, Tenten bukanlah tipe gadis yang menyelesaikan sebuah masalah dengan kekerasan. Sasuke menatap Naruto tidak percaya. Lelaki emo itu tidak habis pikir melihat Naruto. Apa yang sebenarnya Naruto rencanakan ? Sedangkan Neji berusaha mengatur kembali degup jantungnya setelah melihat tatapan yang Tenten tampakkan tadi. Belum pernah ia melihat Tenten semarah itu.
Tenten menarik tangan Sakura dan menghempaskan tubuh gadis itu ke dinding tempat Sakura mengeksekusinya malam itu. Sakura menatap tajam gadis itu. Begitu juga Tenten yang menatap tajam Sakura tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Huh, kau sangat kasar untuk ukuran seorang wanita" Ujar Sakura memijat kecil tangannya yang merah karena cengkraman Tenten.
Tenten menolehkan kepalanya sesaat dan tertawa renyah. Setelahnya, Tenten melemparkan lembaran foto ke arah Sakura membuat helaian rambut gadis pink itu terayun pelan. Lembaran foto itu terjatuh karena Sakura memang tidak berniat memegangnya.
"Jadi itu masalahnya ?" Sakura menaikkan sebelah alisnya.
"Apa itu perbuatanmu ?" Tenten melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hmh, kalau iya kau mau apa ?"
"Kenapa ?" Tanya Tenten singkat.
"Kau pasti tau. Kau lah penyebabnya" Sakura mendorong bahu Tenten kasar.
"Sasuke ?" Tenten singkat tertawa remeh. Sakura memalingkan wajahnya kesal. Ia kembali melipat kedua tangannya dan membusungkan dadanya. "Hanya karena dia kau melakukan itu ? Apa isi otakmu ?" Tenten menaikkan suaranya satu oktaf.
"Masalah untukmu ? Dengar, lelaki seperti Sasuke memang pantas di perjuangkan." Sakura berkacak pinggang.
"Kau pikir Sasuke akan merasa tersanjung karena kau sudah memperjuangkannya mati-matian dengan cara seperti ini ? Sasuke malah akan semakin muak jika melihat sikapmu. Terimalah, Sasuke memang tidak menyukaimu." Ujar Tenten tak mau kalah.
"Jaga ucapanmu. Sasuke hanya belum mengakuinya." Sakura tidak terima.
"Boleh aku menyarankan satu hal padamu ? Cobalah kau lihat orang lain di sekitarmu. Salah satu dari mereka sangat mencintaimu. Apa kau tidak bisa merasakannya ?" Tenten mencoba menekan emosinya.
"Naruto ?" Sakura tertawa remeh. "Kau tau ?" Tenten terkejut. "Tentu saja. Aku bahkan bisa membaca tatapan matanya padaku kurang dari 3 detik." Sakura tertawa renyah.
"Kau tau, tapi kenapa kau mengacuhkan Naruto dan masih mengejar Sasuke ? Bukankah lebih baik di cintai daripada mencintai ?" Tennten menatap heran pada Sakura.
"Kau gila, mana mungkin aku menerima Naruto. Ya, aku akui Naruto sedikit mendekati tipeku. Tapi, kenapa harus memilih yang mendekati jika ada yang masuk kriteriaku ? Lagipula, Naruto itu bodoh. Dia juga sangat konyol. Apa kata orang jika seorang Haruno Sakura mempunyai kekasih seperti dia ? Bisa jatuh pasaranku." Kata Sakura angkuh.
"Lalu apa tujuanmu mengajak Naruto kencan kemarin ?" Tenten mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya.
"Sederhana, aku hanya ingin membuat Sasuke cemburu." Sakura menaikkan kedua bahunya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika Sasuke tidak cemburu padamu ?" Tenten menatap gadis itu sarkastik.
"Tidak mungkin Sasuke tidak cemburu. Dia pasti akan menghajar Naruto jika ia tau aku dan Naruto memiliki hubungan. Bukankah itu keren ?" Sakura menyeringai.
"Aku akan menghajarmu terlebih dahulu jika itu benar terjadi. Apa kau sadar apa yang kau lakukan itu sangat tidak berperikemanusiaan ?" Tenten mengepalkan kedua tangannya. Jika Tenten mau, ia bisa saja melemparkan gadis ini dengan satu kali ayunan tangan. Tapi, apa yang di katakan Naruto benar. Tenten bukanlah tipe gadis yang menggunakan kekerasan untuk meyelesaikan masalah.
"Apa peduliku ? Bukan salahku kalau Naruto menyukaiku. Ah tidak, tergila-gila padaku lebih tepatnya." Sakura menjentikkan jarinya.
"Terbuat dari apa hatimu itu, hah ?!" Teriak Tenten emosi. "Aku berjanji, aku akan membuatmu merasakan apa yang Naruto rasakan jika kau benar-benar melakukan itu. Tidak, bahkan aku akan menghancurkanmu melebihi kau menghancurkan Naruto. Dan jika kau mengalaminya kelak, kau pasti tau, siapa orang pertama yang akan kau datangi." Tenten kembali memukul meja kayu di sampingnya untuk meluapkan emosinya dan melangkah kasar meninggalkan Sakura.
Tenten menghentikan langkahnya dan memalingkan sedikit wajahnya pada Sakura yang masih berdiri di tempatnya. "Dan apa tujuanmu menyangkut pautkan Hinata dengan masalah ini ?" Tanya Tenten dingin.
"Kurasa karena dia sahabatmu. Dia harus tau apa yang terjadi padamu." Jawab Sakura tanpa dosa.
"Jangan panggil aku Tenten Sarutobi jika aku tidak bisa membuat membalas perbuatanmu." Kata Tenten dingin kemudian membanting pintu gudang.
"Kita lihat saja nanti." Kata Sakura meremehkan.
Tenten mencari Hinata di setiap sudut sekolah. Namun ia tidak menemukan gadis berambut indigo itu. Terakhir yang ia tau gadis itu sedang ada di kantin. Informasi itu pun ia dapat dari temannya. Tenten kini bersandar di dinding koridor sekolah untuk sejenak melepas rasa penatnya. Hampir 20 menit ia mengelilingi sekolahnya untuk mencari Hinata. Tapi nihil, ia tidak menemukan sahabat baiknya itu.
"Te..Tenten." Satu tangan menyentuh bahu Tenten lembut.
"Maaf. Maafkan aku. Aku tau aku telah membuatmu kecewa." Kata Tenten menyesal.
"Aku juga minta maaf aku tidak mau mendengarkan penjelasanmu tadi. Tidak seharusnya aku percaya dengan Sakura. Jadi, apa kau mau menceritakan semuanya ?" Hinata tersenyum lembut pada Tenten.
"Tentu saja. Kau harus mendengarkan semuanya." Jawab Tenten mantap.
oOo
Tenten menyerahkan secarik kertas berisi soal matematika pada Naruto yang mulai pusing setelah ia berhasil menyelesaikan soal fisika yang juga Tenten berikan. Naruto meremas rambutnya dan mengigit gemas bolpoin di mulutnya. "Heeeeh, bisakah aku mengistirahatkan otakku ? Semua angka dan huruf ini membuatku gila." Naruto memutar bola matanya.
"Terserah kau saja." Tenten menyandarkan punggungnya ke sofa biru milik Naruto.
Naruto mengernyit heran melihat gadis di sampingnya tidak bersikap seperti biasanya. Setiap Tenten mengajari Naruto, pasti lelaki pirang itu mendapatkan satu jitakan di kepala karena ia berkali-kali salah menjawab pertanyaan yang Tenten berikan. Namun malam ini sedikit berbeda, Tenten yang cerewet berubah menjadi pendiam.
"Kau kenapa ?" Pemuda itu mengernyitka hidungnya.
Tenten menoleh pada Naruto menyandarkan tubuhnya. "Apa aku boleh tau, apa yang membuatmu menyukai Sakura ?" Tanya Tenten tiba-tiba.
"Hmmh, mungkin karena dia gadis yang cantik, cerdas, dan baik." Naruto menatap langit-langit kamarnya membayangkan wajah Sakura.
'Baik ? Yang benar saja' Pikir Tenten.
"Bagaimana dengan kalungmu ? Apa kau sudah menemukannya ?" Tanya Naruto.
"Aku di marahi habis-habisan oleh Kaasan. Dan dia memintaku untuk menemukan benda itu bagaimana pun caranya… Tapi aku juga ceroboh. Bagaimana bisa aku menjatuhkan kalung itu ?" Tenten tertawa renyah.
"Bukan kau yang ingin menghilangkannya bukan ?" Naruto menanggapi santai.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?" Tenten menoleh singkat ke arah Naruto. Naruto meng'iya'kan dengan menaikkan kedua bahunya.
"Berapa banyak guru privatmu yang mengundurkan diri ?"
"Hmmh, sekitar 15 orang" Naruto mengelus dagunya sembari mengingat berbagai ekspresi wajah mantan guru privatnya yang berhasil ia kerjai hingga pada akhirnya mereka semua tidak bisa bertahan kurang dari 1 minggu.
"Kenapa kau melakukannya ?" Tanya Tenten lagi. "Mungkin karena aku merasa tidak cocok dengan mereka semua." Jawab Naruto santai.
Tenten lagi-lagi tertawa renyah dan menatap kosong bolpoin di tangannya. Ia memutar-mutar bosan bolpoin itu dan membuka mulutnya berkata "Aku sudah membicarakan semuanya pada Kushina Baasan tadi…"
"Membicarakan apa ?" Sela Naruto.
"Aku belum selesai bicara." Sergah Tenten kesal dan kembali melanjutkan "Mulai besok aku tidak akan datang lagi kemari."
"Apa maksudmu ?" Naruto terkejut menatap gadis di sebelahnya.
"Aku tidak bisa lagi mengajarimu. Dan aku akan mencari penggantiku." Kata Tenten memperjelas. "Ke..kenapa ?" Naruto melongo.
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Dan mau tidak mau aku harus melakukannya." Tenten menanggapi pertanyaan Naruto santai.
"La..lalu bagaimana dengan imbalan yang Tousan berikan padamu ?" Tanyanya lagi.
"Hmmh, masalah itu aku sudah membicarakannya. Meski aku keluar, kesepakatan sebelumnya tetap akan aku dapatkan. Karena walau aku tidak bisa lagi mengajarimu hingga tenggat waktu yang di tentukan, kata Kushina Baasan paling tidak banyak perubahan yang terjadi padamu dan nilaimu. Kushina Baasan menyerahkan semua keputusan padaku." Jawab Tenten santai.
"A..apa keputusanmu ?" Naruto bertanya ragu.
"Mungkin aku akan masuk ke Universitas seperti kebanyakan orang. Karena meski banyak perubahan pada dirimu, tetap saja aku tidak bisa melakukan kewajibanku sampai tuntas. Dan untuk masalah pekerjaan, aku belum memikirkannya." Jelas Tenten menaikkan sebelah bahunya. "Tapi kau tenang saja. Perjanjian antara kita akan tetap berlanjut. Jadi jangan khawatir." Imbuh Tenten cepat.
"A..apa aku melakukan kesalahan lagi ?" Naruto bertanya ragu.
"Tidak. ini tidak ada hubungannya denganmu." Tenten membalas santai. " Jadi, apa kau tidak mau menyelesaikan soal itu di hari terakhirku mengajarimu ?" Tenten tersenyum menatap Naruto lembut.
oOo
Naruto menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk dan hangat miliknya. Ia melipat kedua tangannya keatas menggunakannya sebagai bantal. Lelaki pirang ia memandang kosong pada langit-langit kamarnya. Naruto kembali mengguling-gulingkan tubuhnya meremas rambutnya kesal. Ia tidak habis pikir mengingat gadis itu. Apa yang dia mau sebenarnya ? Bukankah dia telah berjanji akan membantunya mendapatkan Sakura ? Tapi sekarang kenapa malah dia mengundurkan diri ?
"Apa yang gadis itu mau ?" Naruto meremas spreinya gemas. Naruto mengambil ponselnya dan membuka foto dirinya dan Tenten. Ia tersenyum saat mengingat kembali insiden kecil antara dirinya dan Tenten. Naruto tertegun sejenak dan melemparkan ponselnya ke bawah bantal. Mungkin ini yang kebanyakan orang sebut dengan gejala-gejala menuju penyakit kejiwaan. Tertawa tanpa sebab melihat foto gadis menyebalkan, memenuhi otaknya dengan nama gadis menyebalkan, dan rela membuang waktunya untuk memikirkan gadis menyebalkan. Baiklah, mungkin sudah saatnya Naruto merefresh kembali otaknya. Dan menghapus semua ingatan gila tentang gadis itu. Dan hanya satu cara yang bisa di lakukan ketika ia stress.
Naruto beringsut dari posisinya dan menyambar PSPnya yang ia letakkan di leci mejanya. Hanya benda kecil itulah yang sanggup menghilangkan stress yang menderanya ketika tidak ada siapa pun di sampingnya.
.
.
.
.
.
.
.
Embun pagi menyapa Tenten ketika gadis itu mengeluarkan sepeda kesayangannya keluar dari tempatnya. Tenten menuntun santai sepedanya keluar dari gerbang rumahnya. Gadis berambut cokelat itu melemparkan pandangannya ke sekeliling kompleknya iseng. Tangan kecil mencolek punggung gadis itu dari belakang. Tenten memalingkan wajahnya sesaat dan melihat adiknya sudah berdiri di belakangnya. Bocah laki-laki berusia dua belas tahun itu tersenyum pada kakak perempuannya menandakan ia sudah siap untuk berangkat. Yah, hari ini Tenten harus mengantar Konohamaru ke sekolah karena sepeda milik adiknya tiba-tiba rantainya putus tanpa sebab yang jelas. Sejauh yang ia tau, adiknya bilang kalau paman pemilik bengkel sepeda kurang tepat memasangnya saat itu. Sebenarnya Asuma telah menawarkan diri untuk mengantar Konohamaru, tapi bocah kecil itu menolaknya dengan alasan dia sudah terbiasa berangkat dengan sepeda. Dan rasanya akan jauh berbeda jika Asuma mengantarnya menggunakan mobil. Lalu, apa yang bisa Tenten katakan ? Ia hanya mengangguk setuju ketika adiknya berkata seperti itu. Tidak pernah sekali pun ia menolak permintaan adik kesayangannya itu. Karena menurutnya, selama permintaan adiknya tidak keluar dari norma agama, kenapa tidak ?
Tenten memejamkan matanya sejenak sebelum ia mengayuh sepedanya menuju sekolah Konohamaru. Ia berdoa, semoga hari ini bukanlah hari sial untuknya. Karena ia sudah melakukan langkah awal agar rencananya berjalan tanpa halangan. Tapi gadis itu sadar, tidak akan ada rencana yang berjalan mulus. Pasti selalu ada batu sandungan yang harus ia lewati. Jadi, Tenten berdoa agar Tuhan menyingkirkan batu sandungan itu.
"Nee-chan, apa masih lama ?" Konohamaru mencolek punggung Tenten untuk yang kedua kalinya.
"A..ah, i..iya.." Tenten gagap dan segera mengayuh sepedanya melesat keluar dari halaman rumahnya.
oOo
Tenten memarkirkan sepedanya di parkiran khusus sepeda. Ia hendak berjalan menuju kelasnya namun terpaksa ia harus menghentikannya ketika ia melihat Naruto memarkirkan sepedanya juga tepat di samping sepeda miliknya. Tenten terpaku melihat Naruto yang mengendarai sepeda pagi ini. Sedangkan Naruto hanya tertawa kecil melihat Tenten.
"Hai." Sapa Naruto menghampiri Tenten.
"Ha..hai, ka...kau se..sepeda," Tenten gagap. 'Aku tidak ingat aku memukul kepalanya kemarin ?' Batin Tenten sembari menggaruk lehernya pelan.
"Kenapa ? Apa aku tidak boleh menggunakan sepeda ?" Naruto menaikkan alisnya.
"Bu..bukan. Ha.. hanya saja biasanya kau pakai mobil ?" Tenten menunjuk sepeda Naruto.
"Aku bosan. Aku tidak bisa merasakan udara pagi kalau aku naik kuda besi itu." Naruto membenarkan posisi tasnya yang sedikit turun.
"Begitukah ?" Tenten menaikkan sebelah alisnya. "Hmh, dan ternyata mengayuh sepeda di pagi hari lebih mengasyikkan." Naruto tersenyum manis.
Tenten menatap kosong ke depan. Gadis itu maju selangkah mendekati Naruto. Lelaki pirang itu otomatis menarik dirinya kebelakang. Namun semakin ia mundur, semakin lebar pula langkah yang Tenten ambil untuk mendekatinya.
"A..apa yang kau lakukan ?" Perasaan takut mulai menjalari dirinya.
"Terlihat lebih cantik dari sebelumnya." Tenten tersenyum manis menyentuh kalung Naruto yang telah di ganti talinya menjadi lebih pendek.
"A..apa kau suka ?" Naruto bertanya menggaruk lemah leher belakangnya.
"Sangat. Ini sangat cantik." Lirih Tenten tanpa melepas pandangan dan tangannya dari kalung Naruto.
"Ohayou…"
Suara berat menerobos masuk ke telinga dua berbeda gender itu. Tenten segera melepas tangannya dari kalung Naruto dan memalingkan matanya pada orang yang baru saja mengeluarkan suaranya. Tenten kembali kagok ketika Sasuke memarkirkan sepedanya di samping sepeda miliknya. Sedangkan Naruto mempoutkan bibirnya melihat tingkah Sasuke yang menurutnya sangat memuakkan.
"Apa kabar ?" Sasuke menatap lembut Tenten.
"Ka..kau juga…" Tenten tidak tau lagi harus berkata apa.
"Seperti yang kau lihat." Sasuke menaikkan kedua bahunya.
'Apa aku pernah memukul kepala Sasuke ?' Batin Tenten menatap Sasuke bingung.
"Kau mau ke kelas ? Mau berjalan bersama ?" Sasuke menawarkan.
"Dia sudah berjanji akan berjalan denganku. Kau pergi saja sendiri." Naruto menatap malas Sasuke.
"Le..lebih baik aku jalan dengan…" Tenten menyapukan pandangannya ke segala arah berharap ada seseorang yang ia kenal melintas. "Hinata. Ya, Hinata, aku akan berjalan dengannya." Lanjut Tenten cepat saat melihat Hinata mlewati gerbang. "Aku permisi dulu. Sumimasen." Tenten berlari meninggalkan dua pria tampan itu di parkiran sepeda.
"Apa yang kau lihat ?" Naruto melipat kedua tangannya angkuh menatap tajam Sasuke yang memandangnya.
Sasuke tertawa kecil sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Lelaki emo itu kemudian meninggalkan Naruto yang masih menatapnya bodoh. Naruto tidak terima dengan sikap Sasuke yang mengacuhkan dirinya. Ia lantas berjalan mendahului Sasuke yang sudah berjalan beberapa meter di depannya menghampiri Lee, Sai dan Kiba yang berjalan beriringan setelah turun dari mobil mereka masing-masing.
oOo
Yamato membagi siswa kelas 3-4 menjadi dua bagian. Masing-masing dari mereka harus mengambil kertas berwarna putih dan biru yang telah ia sediakan di dalam dua toples kaca. Tenten berada di kelompok yang diharuskan mengambil kertas berwarna biru bersama Naruto, Lee, Kiba, Sai dan temannya yang lain.
Tenten harap-harap cemas memikirkan siapa pasangannya untuk berlari sesuai tema olahraga yang telah Yamato berikan. Ia harap bukan Naruto atau Sasuke yang harus berdampingan dengannya.
"Bukalah." Kata Yamato.
Sasuke, Sakura, Shikamaru, Neji, Shino, Chouji dan yang lain segera membuka kertas berwarna putih yang telah mereka pilih.
"Lee." Kata Sakura malas.
"Kiba." Kata Shikamaru santai.
"Sai." Seru Chouji semangat.
"Naruto ?" Sasuke melirihkan suaranya terkejut.
"A..apa ? A..aku tidak mau bersama dengannya Yamato sensei." Teriak Naruto menunjuk Sasuke.
"Bukankah kita sudah berjani tidak akan protes siapa pun pasangannya ?" Yamato melipat kedua tangannya.
"A..aku tau. Ta..tapi dia…" Naruto menggaruk lehernya gusar.
"Kau Neji ?" Yamato bertanya pada Neji yang belum membuka kertasnya.
"Tenten." Balas Neji singkat.
Bumm…
Hati Tenten meledak mengeluarkan ribuan kelopak bunga. Tenten mengepalkan tangannya menahan degup jantungnya yang berdegup sangat kencang. Ia memejamkan matanya menahan gejolak hatinya yang ia rasa akan meledak lagi untuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya, keempat kalinya, dan seterusnya.
"Giliran kalian." Yamato menatap barisan Lee, Sai, Naruto, Kiba dan Tenten.
"Sekolah." Kata Lee semangat.
"Universitas Konoha." Kata Sai santai.
"Universitas Konoha juga." Kiba menampakkan senyum kucingnya.
"Taman kota ?" Sekali lagi Naruto harus menelan pil pahit setelah mau tidak mau menerima rivalnya menjadi pasangannya. Dan kini ia harus berlari di taman. Andai itu Sakura, mungkin kini Naruto mempunyai semangat membara.
"Taman kota." Seru Tenten riang.
oOo
Terik matahari pukul sepuluh pagi yang menerpa kulit Tenten tidak lantas membuat gadis itu lemah karenanya. Justru dia semakin semangat mengingat siapa orang yang berada di sampingnya. Senyuman termanis yang gadis itu miliki telah tampak sejak ia keluar dari area sekolahnya menuju taman kota.
Hampir sepuluh menit lamanya dua mahluk berbeda gender itu berlari mengitari taman kota yang berada tak jauh dari sekolah mereka. Selama itu juga Tenten tak sekali pun melepas matanya pada Neji. Gadis itu berharap ada insiden kecil terjadi pada Neji. Seperti tersandung batu, atau kakinya terkilir agar gadis itu bisa menyentuh lelaki bermata lavender di sampingnya.
'Kami-sama, bukankah ini sangat romantis ? Ooh, andai aku bisa seperti ini selamanya.' Pikir Tenten menatap Neji lengkap dengan semu merah di pipinya.
"Aku dengar kau dan Hinata sempat bertengkar ?" Neji bertanya tiba-tiba membuat senyuman Tenten hilang dalam sekejap ketika gadis itu mendengar nama Hinata.
"Da..dari mana kau tau ?" Tenten sedikit terkejut.
"Hinata mengatakan semuanya padaku." Neji membalasnya santai sembari menghampiri salah satu bangku yang berada di bawah pohon.
"Gomen." Lirih Tenten menyusul Neji dan duduk di samping lelaki itu.
"Kenapa kau minta maaf padaku ?" Neji menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ya, karena aku telah mengecewakan Hinata." Tenten menunuduk lemah.
Neji tertawa renyah dan menatap Tenten. "Bukan salahmu. Itu hanya kesalah pahaman antar teman. Dan itu wajar." Neji merentangkan kedua tangannya pada sandaran bangku.
"Kalau boleh tau, apa saja yang Hinata katakan padamu ?" Tenten bertanya ragu.
"Semuanya." Jawab Neji singkat.
"Se..semua ? A..apa kau ta..tau ka..kalau Hi..Hinata…"
"Menyukai Naruto ?" Sela Neji menoleh ke kanannya, tepatnya pada Tenten. "Hn, aku sudah mengetahuinya dari dulu." Imbuhnya.
"La..lalu, ka..kau ?" Tenten bertanya ragu.
"Aku kenapa ? Aku baik-baik saja." Neji menyapukan pandangannya ke sekeliling taman.
"Bagaimana bisa ?" Tenten mengerutkan hidungnya.
"Karena mungkin memang itulah resiko yang harus di terima di terima ketika mencintai seseorang secara sepihak. Dan aku sudah bisa menerimanya." Neji menghembuskan nafasnya berat setelah mengatakan kata-kata pahit itu.
'Aku juga merasakan hal yang sama, Neji.' Tenten menatap lemah lelaki di sampingnya. Tenten membenarkan posisi duduknya dan menatap sayu pada anak gadis yang tengah bermain balon di tepi air mancur. "Apa yang membuatmu menyukai Hinata ?" Tenten bertanya lirih meski ia berusaha keras untuk menahan sakit yang teramat sangat di hatinya.
"Mungkin karena tanpa aku sadari, ada seorang gadis berusia enam tahun yang dengan sengaja menukar cangkir teh milikku yang telah aku campur dengan obat pembasmi hama saat peringatan kematian kedua orangtuaku." Neji menjelaskan singkat dan membuat dahi Tenten berkerut bingung. "Malam itu Hinata tidak sempat menukar cangkir yang berisi cairan pembasmi hama dengan cangkir teh yang lain karena Hiashi-sama yang terlebih dahulu menyuruhnya untuk menjamu para tamu yang hadir sebagai tuan rumah. Singkat cerita, Hinata koma selama hampir satu bulan karena kebodohan yang aku lakukan. Bahkan Hiashi-sama sempat mengacuhkanku selama beberapa hari setelah aku menceritakan semuanya. Dan selama Hinata berada di rumah sakit, tidak pernah sehari pun aku absen menjenguknya.
Musim panas telah menyapa Jepang hari itu, sepulang sekolah aku memutuskan untuk mengunjungi Hinata yang masih berada di rumah sakit. Mungkin itu adalah hari keberuntunganku, karena ketika aku membuka kamar rawat Hinata, mataku menangkap gadis berambut indigo itu tertawa lepas bersama Hiashi-sama dan yang lainnya. Aku berjalan pelan mendekati gadis itu dan segera mengengam tangannya erat dengan mata berkaca-kaca. Semua orang di ruangan itu meniggalkan aku sendirian bersama Hinata. Hinata menatapku dengan senyuman khasnya dan menggenggam kedua tanganku. Dia berkata padaku untuk tidak lagi melakukan hal bodoh seperti itu, karena klan Hyuuga, khusunya dirinya membutuhkan aku. Dia ingin memiliki seorang kakak laki-laki yang bisa melindunginya kelak. Cukup baginya kehilangan seorang bibi yang sudah ia anggap sebagai ibunya, ia tidak ingin kehilangan saudaranya lagi. Dari perkataan itulah aku merasa ada seseorang yang mengaggapku. Aku kira, tidak akan ada lagi yang mengharapkan kehadiranku sepeninggal kedua orangtuaku. Dan sejak saat itu juga lah, perasaanku pada Hinata yang semula berawal rasa sayang sebagai saudara, berganti menjadi rasa cinta yang hingga kini masih ada." Neji menjelaskan panjang lebar sembari menatap barisan bunga yang berjarak sekitar sepuluh meter di tempat mereka berada.
'Hingga kini ? Apa itu artinya, kau masih belum bisa membuka hatimu untukku ? Apa kah selama ini yang aku lakukan adalah usaha yang sia-sia ?' Tenten memandang kosong entah kemana dan menahan rasa sesak di hatinya. "A..aku tidak menyangka, ternyata Hinata kecil memiliki hati sebaik itu. Tidak heran jika kau menyukainya." Tenten berkata lirih dan tersenyum palsu.
"Kau benar, dia bukan hanya baik, tapi dia juga cantik." Neji belum melepas pandangannya pada bunga-bunga itu.
'Apa kau tidak bisa melihatku di sampingmu ? Aku menyukaimu ! Kau memuji wanita lain di hadapanku. Dimana hatimu ?!' Batin Tenten berteriak. Tenten meremas ujung seragamnya untuk menahan air mata yang hendak membasahi pipinya.
"Yah, kau benar. Hinata memang cantik. Tapi gadis di sampingmu juga tidak kalah cantik dan baik. Harusnya sebagai lelaki, kau tidak memuji gadis lain di hadapan gadis yang lainnya." Naruto tiba-tiba buka suara.
Tenten dan Neji mendongak pada Naruto yang berdiri di hadapan mereka berdua sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Tenten berdiri dan menatap lelaki pirang itu tajam. Naruto hanya mengangkat kedua bahunya santai menanggapi tatapan tajam Tenten.
"Dan kurasa ini sudah saatnya untuk kita kembali ke sekolah." Sasuke tiba-tiba muncul dari belakang Tenten dan segera menarik tangan gadis itu menjauhi Naruto dan Neji. Tenten memandang bingung pada dua laki-laki yang tiba-tiba berusaha menyudutkan Neji. 'Apa mereka berdua bersekongkol ?' Pikir Tenten.
oOo
"Apa yang terjadi ? Kenapa kau kembali dengan Tenten ? Dan kenapa Naruto dengan Neji tadi ?" Tanya Yamato.
"Ada sedikit masalah tadi. Yang penting kami semua kembali dengan selamat Sensei, bukan kah itu sudah lebih dari cukup ?" Sasuke menjawab santai dan kembali menarik tangan Tenten menuju kantin.
Mereka berdua, tepatnya Sasuke dan Tenten berjalan melewati koridor sekolah. Lelaki itu berencana akan membawa gadis yang dari tadi belum ia lepaskan ke suatu tempat. Tanda tanya besar belum musnah dari otak Tenten sejak dari taman tadi. Apa yang Naruto dan Sasuke bicarakan hingga mereka berdua sepakat untuk menyudutkan Neji tadi. Hanya hal itulah yang menggelayuti pikiran Tenten.
"Cukup sampai disini saja. Kau tidak perlu menarikku lagi." Tenten menghentakkan tangannya hingga cengkraman Sasuke terlepas. "Apa yang kalian berdua lakukan ? Apa kalian telah merencanakan ini semua ?" Tenten memijat kecil pergelangan tangannya yang meninggalkan bercak merah.
"Hn, ini semua adalah ide konyol Naruto. Dia tidak ingin melihatmu menangis di depan lelaki itu. Maka dari itu, dia menyuruhku untuk menjauhkanmu darinya." Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya santai pada dinding di sampingnya.
"Dan kau mau ?" Tenten bertanya singkat dan menaikkan alisnya heran.
"Kenapa tidak, jika hal itu ada hubungannya denganmu." Jawab Sasuke santai.
"Ka..kau, a..apa yang kau…"
"Apa sikapku padamu selama ini belum juga membuatmu memahaminya ?" Sasuke menyela perkataan gadis itu dan mendekatinya. Sedetik kemudian, pemuda emo itu berhasil menyudutkan Tenten ke dinding.
"A..apa yang kau lakukan ?" Tenten mengerjap terkejut.
"Kau memaki Neji dalam hatimu. Lalu, bagaimana denganmu yang belum juga memahami perasaanku ? Apa aku juga harus memakimu dalam hati agar kau tau apa yang aku rasakan ?" Sasuke menatap Tenten lembut dan menyibakkan helaian rambut Tenten yang menutupi wajah cantiknya.
"Ja..jangan bercanda." Tenten memalingkan pandangannya menghindari tatapan Sasuke.
"Andai kau menepati janjimu, kau pasti akan tau lebih awal." Sasuke semakin memperkecil jarak di antara mereka.
"A..aku akan menganggap kalau kau tidak pernah mengatakan hal ini." Tenten mendorong kedua bahu Sasuke menjauh. Setelahnya, ia berlari sekencang yang ia bisa meninggalkan Sasuke dengan rasa kecewanya yang mendalam tertanam di hati pemuda itu.
Sasuke mematung di tempatnya menatap lemah kepergian Tenten. Sebenarnya ia juga sedikit khawatir dengan Tenten jika gadis itu menerimanya. Tidak bisa ia bayangkan jika para fansgirlnya tau akan hal itu. Meski pun sebagai kekasih, bukan berarti dia bisa setiap saat berada di sisi Tenten untuk melindunginya. Akan lain ceritanya jika gadis itu telah menikah dengannya.
"Aku menyuruhmu untuk menjauhkan dia dari Neji. Bukan malah menyatakan perasaanmu." Naruto meletakkan siku kanannya di atas bahu kiri Sasuke.
"Apa pedulimu ?" Sasuke menatap Naruto tajam.
"Semua hal yang menyangkut Tenten, selalu ada hubungannya denganku. Bahkan kau harus berterimakasih padaku. Sebab karena aku lah, kau bisa lebih dekat dengan Tenten." Naruto menyeringai licik.
"Apa maksudmu ?" Sasuke mengerutkan dahinya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Kau tidak perlu tau bocah Uchiha, kau belum cukup umur untuk mengetahui hal serumit itu. Jadi, lebih baik kau incar gadis lain saja daripada usahamu sia-sia." Naruto tertawa renyah, menurunkan tangannya dan berjalan menjauhi Sasuke.
Sasuke menahan tangan kanan Naruto sebelum lelaki itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Naruto memalingkan sedikit wajahnya. Sasuke menatap tajam Naruto yang tertawa kecil dengan nada remah. "Jelaskan semuanya padaku." Kata Sasuke dingin.
"Hmh, baiklah. Aku akan membiarkanmu mendekati Tenten lagi agar kau mendapat jawaban dari pertanyaanmu. Tapi… jangan harap kau bisa mendapatkan Tenten selagi kau mencari tau." Balas Naruto tak kalah dingin.
"Huh, apa kau takut tersaingi ?" Sasuke tertawa renyah.
"Tersaingi ? Kurasa kau salah. Lelaki sepertimu bukanlah tipe Tenten. Jadi kusarankan agar kau tidak mendekatinya daripada kau kecewa nantinya." Naruto melangkahkan kakinya meniggalkan Sasuke.
"Bagaimana kalau aku bisa mendapatkannya ?" Sasuke mengeluarkan suaranya dan berhasil membuat langkah Naruto terhenti.
Naruto membalikkan tubuhnya kembali menghadap Sasuke dan berjalan mendekati lelaki itu. "Lalu bagaimana kalau kau gagal ?" Naruto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menaikkan kedua alisnya.
"Apa kau berani bertaruh ?" Sasuke melipat kedua tangannya.
"Apa yang akan kau pertaruhkan ?" Naruto melemparkan death gelar miliknya.
Fiuuuh…. #nyeka ingus :D. Gmana chapie lebih bgus dri kmaren atau gk ? Maaf ne klo Author skali lgi bwt reader kcewa krena fic yg smakin hri smakin ancur, huhuhu T.T #peluk Itachi. Tpi satu, Author mohon ksih review neh, Author pngin tau dmana letak ksalahan Author dan bgian mna yg gk klian suka biar Author bisa perbaiki di chapie slanjutnya (: #lirik silent reader. Jdi, akhir kta review, review, dan review. See you guys… :D.
