a Year Of Memories
HunHan/boyxboy/Rated M
.
.
.
"Kau tau apa yang dia lakukan disana?"Tuan Oh menatap putra sulungnya dengan raut khawatir sementara Jumyeon hanya mampu terdiam sambil menggelengkan kepalanya lemah.
Tentu, tidak ada yang tahu apa yang dilakukan seorang Oh Sehun di dekat sebuah gudang bekas pabrik yang telah di tinggalkan. Saat di temukan ia sudah tergeletak bersimbah darah tak sadarkan diri dan tidak tahu apa tujuannya berada disana.
Sementara Sehun kini hanya mampu terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit dalam keadaan kritis dan masih belum sadarkan diri. Kedua keluarganya hanya mampu menatapnya lirih dan memohon padanya untuk cepat bangun dan menceritakan apa yang terjadi.
Sehun sebenarnya jarang sekali terlibat masalah. Itu karena ia tidak mau mengecewakan ayahnya lagi dan lagi maka dari itu dia selalu menghindari masalah terutama yang bersangkutan dengan perkelahian. Tapi kali ini, entah apa penyebab utamanya sampai putra keduanya itu terlibat pertarungan hebat sampai dalam keadaan kritis seperti itu.
Dan penyebab utamanya adalah Luhan. Pria mungil itu kini tengah terdiam menatap seorang pria jangkung yang sangat di kenalnya dengan senyuman khasnya dan tingkah konyolnya yang selalu membuat orang tertawa gemas.
Namun kini senyuman itu seakan sirna di bakar api dendam berganti dengan seringaian iblis seakan dirinya bangga telah membeli dan memiliki luhan.
"Park chanyeol"
"Benar itu aku"Chanyeol menaikkan satu sudut bibirnya dan mendekati Luhan yang terdiam disana masih terperangah mendapati orang kepercayaannya tengah menghampirinya dengan tatapan tajam.
"Aghh!"luhan memekik ketika jemari lebar Chanyeol menarik rambut Luhan memaksanya untuk menatap kedua bola mata bulat milik Chanyeol.
Chanyeol menatap pria mungil yang tengah mengalirkan air mata di hadapannya itu dengan tatapan menusuk dan penuh kebencian. "Luhan, kau tau bagaimana rasa sakit?"Chanyeol bertanya dengan lembut meski nadanya terdengar mengintimidasi.
Luhan hanya diam disana dengan air mata yang masih mengalir deras. Chanyeol menatap Luhan geram karena tak kunjung mendapat jawabannya. Ia menaikkan tangannya dan mendaratkan tamparan keras di pipi Luhan membuat pria itu meringis dan menahan isakannya. "Jawab aku berengsek"
Luhan memberanikan dirinya menatap mata Chanyeol dan menggelengkan kepalanya. Chanyeol kembali menyeringai lalu memgambil sebuah pisau lipat dari sakunya. Ia menarik tangan Luhan dan Luhan pun berusaha melawan namun tenaganya terlalu kecil untuk melawan Chanyeol yang ukuran tubuhnya begitu besar di banding Luhan yang begitu mungil.
"Aghh! Chanyeol hentikan! Aaah! Aku mohon sakit! Itu sakit!"Chanyeol menusukkan pisau tersebut ke tangan Luhan lalu membawa pisau itu sampai kedekat nadi luhan menciptakan sebuah luka vertikal yang membuka lebar. Darahpun sudah mengalir deras dari tangan Luhan membuatnya kehilangan energi.
Chanyeol kembali menatap Luhan "Sakit? lalu bagaimana ayahku yang kau bunuh dengan brutal brengsek!"teriak Chanyeol mendaratkan satu pukulan telak di wajah Luhan membuat si mungil terpental kebelakang dan terbaring lemah. Dia terlalu lelah untuk melawan, energinya terasa di kuras habis dan dia sudah pasrah.
Sekarang Luhan mengerti mengapa Chanyeol melakukan hal seperti ini. Dia mengerti, sangat mengerti dan akan menerima hukuman apapun jika itu membuat Chanyeol bahagia. "Chanyeol, maafkan aku"lirihnya.
Chanyeol tertawa kecil "kau bahkan tidak menyangkalnya? Padahal aku berharap itu bukan kau, jalang!"teriak Chanyeol, dengan emosi ia berdiri lalu menendangi Luhan yang sudah terbaring lemah tak berdaya.
Chanyeol menarik rambut luhan memaksa Luhan untuk membuka kelopak matanya dan menatap pria di hadapannya. "Aku akan membuatmu menderita berengsek"ia lalu menghempaskan kepala Luhan kelantai membuat si empunya hanya mampu meringis dengan kepala berdenyut-denyut.
Chanyeol membenarkan letak jasnya lalu melangkah keluar sesekali menatap Luhan dengan tatapan jijik.
Setelah Chanyeol keluar Luhan hanya mampu terdiam dengan air mata yang kembali mengering dari pelupuk matanya. Ia merindukan dan mengkhawatirkan Sehun. Apakah dia baik-baik saja? Luhan berusaha yakin dalam hatinya bahwa Sehun masih hidup dan sedang mencarinya.
Setidaknya dengan berpikiran seperti itu Luhan dapat tertidur dengan tenang malam ini. Luhan yakin Sehun akan menemukannya esok hari. Benar, selalu ada esok hari.
.
.
.
Pantaskah Luhan mengharap di selamatkan? bukankah sudah seharusnya dia mendapatkan ini semua? Luhan pun tak dapat mengelak, ini adalah takdirnya, akibat dari perbuatannya sendiri. Meski semuanya di lakukan oleh Bell, tak ada yang mengubah fakta bahwa Bell merupakan satu kepingan dari Luhan sendiri.
Bell adalah dirinya, dan Luhan adalah Bell. Sampai kapanpun itu merupakan fakta yang tidak dapat di ganggu gugat.
Ia masih terbaring di atas dinginnya lantai kayu di ruangan kosong tersebut. Hanya berbalutkan seragam sekolahnya yang tipis dan kini ikut kotor karena darah.
Sementara di sisi lain Sehun masih tak sadarkan diri. Entah sampai kapan.
.
Bibi han kini terlihat bergegas menuju mobilnya sesekali melirik ke kiri dan kanan takut-takut kalau saja ada yang melihatnya. Di tatapnya sebuah dokumen terbungkus amplop coklat yang tergantung di tangannya. Matanya menatap dokumen itu lirih dan berusaha meyakinkan hatinya yang berkecamuk.
Dia harus menyelamatkan Luhan sekarang atau tidak, dia akan menyesal di masa depan. Ia melesat masuk ke dalam mobilnya lantas menginjak pedal gas secara terburu-buru. Nafasnya menderu, detak jantungnya menendang-nendang, tangannya bergetar dan peluh membasahi wajahnya.
Ia menyadari bahwa sekarang mobilnya tengah di ikuti, dan ia tahu apa alasan mereka mengikutinya. Tentu saja, untuk mencegahnya dari melapor dengan membunuhnya. Namun, bibi Han tidak sebodoh itu dia pasti punya rencana B.
Tak lama dua mobil mendekat ke arah mobilnya dari dua arah, depan dan belakang dengan kecepatan penuh. Bibi Han lebih dari siap, dia sudah siap untuk mati di usianya yang sudah memasuki 50 tahun itu. Ia memejamkan matanya pasrah dan braakk!
Suara dentuman terdengar menggema di jalanan sepi yang lenggang itu. Mobil bibi Han terpental jauh dan terbalik-balik sampai akhirnya berhenti. Suasana tiba-tiba menjadi hening, para penumpang yang tadi menabrak bibi Han berhamburan keluar dari mobil mereka yang hampir tak berbentuk. Mereka bergegas menghampiri mobil bibi Han dan mendapati wanita paruh baya itu sudah tak bernyawa bersimbah darah. Mereka tentu tak memedulikannya yang mereka pedulikan hanya amlop coklat yang dipeluk oleh bibi Han seakan tak rela melepaskannya.
Pria yang tadi mengambil amplop itu lantas bergegas memberikannya pada seseorang yang sepertinya atasannya. Dengan cepat si ketua membuka amplop itu untuk memastikan bahwa dokumen di dalamnya itu asli atau tidak.
si ketua menggeram hebat ketika ia hanya mendapatkan selembar kertas bertulisnya 'pergilah ke neraka'
"Sialan! Ini palsu!"desisnya membuat anak buahnya hanya dapat diam menunduk dalam hening.
jika itu palsu, lalu pada siapa dokumen aslinya? Dokumen berisikan data-data keluarga Park yang telah membeli Luhan itu ternyata kini telah berada di tangan Baekhyun dan Kyungsoo. Keduanya kini bahkan sudah berada di taksi untuk segera memberikan dokumen itu pada Sehun seperti permintaan bibi Han beberapa jam lalu.
Beberapa jam lalu, seorang bibi tua mendatangi mereka berdua dengan tergesa-gesa setelah sebelumnya menghubungi mereka meminta bertemu dengan mereka di sebuah caffe. Dan bibi Han mengatakan bahwa dirinya adalah pelayan dari Luhan lalu bibi Han meminta mereka membawa dokumen itu kepada Sehun yang sekarang berada di Rumah Sakit.
Mereka tidak tahu apa jelasnya dokumen tersebut yang kelihatannya amat sangat penting dan bibi Han meminta mereka untuk tidak membukanya.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya "kyung, boleh aku buka dokumen ini?"tanya Baekhyun memelas, rasa penasarannya mulai lagi.
Kyung soo memutar bola matanya jengah, entah sudah yang keberapa kalinya Baekhyun menanyakan hal yang sama, "Tidak, baek. Sudah kubilang kita tidak boleh ikut campur"
Baekhyun mendesah kecewa dan akhirnya memutuskan untuk tak membuka dokumen itu sampai mereka di rumah sakit. Sesampainya disana mereka segera bergegas menuju ruangan Sehun dan mendapati Jumyeon dan Tuan Oh sendiri masih disana menunggu Sehun yang masih belum sadarkan diri.
"Selamat Malam, Tuan Oh"Kyung soo menyapa ramah sementara Baekhyun hanya mampu tersenyum sembari membungkuk hormat.
"Ah kalian teman Sehun? Terima kasih sudah menjenguk, sayangnya dia belum sadar"lirih Tuan Oh sambil tersenyum tipis.
Kyung soo menatap Tuan Oh sedikit kasihan "eum, sebenarnya kami kesini bukan hanya untuk menjenguk, tapi untuk memberikan sesuatu"ujarnya.
Tuan Oh mengernyit sementara Jumyeon hanya memerhatikan. Kyungsoo menyikut Baekhyun, lantas Baekhyun memberikan dokumen yang sedari tadi di pegangnya. "Ini"kata baekhyun pelan.
"Apa ini?"tanya Tuan Oh mengernyit.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya "saya tidak tahu pasti, Tuan Oh. yang saya tahu, dokumen itu diberikan oleh seorang wanita tua. Ia bilang dokumen itu penting untuk Sehun. Dan hal ini bersangkutan dengan nyawa Luhan, kami hanya tahu begitu saja"Kyungsoo menjelaskan dengan raut khawatir akan Luhan yang hari itu tak masuk sekolah dan tiba-tiba hilang bersamaan dengan Sehun yang tiba-tiba masuk rumah sakit.
Tuan Oh mengangguk mengerti akan penjelasan Kyungsoo. "Kalau begitu kami pamit"ujarnya dan tak lama kedua anak itu sudah pergi.
"Apa itu ayah?"tanya Jumyeon dan Tuan Oh hanya menggelengkan kepalanya. Ia segera membuka amplop itu tanpa memikirkan apa-apa lagi dan menemukan begitu banyak hal.
Fotokopi kontrak penjualan 'Luhan', profile Park Jaehyun dan Park Chanyeol yang dapat di simpulkan bahwa keduanya adalah ayah dan anak, lalu foto-foto mayat Jaehyun yang berada di lokasi pembunuhan dengan bersimbah darah serta Profile Xi Yizhao.
Kepala Tuan Oh mulai terasa berdenyut-denyut, apa hubungannya hal ini dengan putra bungsungnya itu. Jumyeon yang sedari tadi ikut melihat-lihat isi dokumen itu mulai menarik kesimpulan dalam kepalanya.
"Apa ini Jumyeon?"tanya sang ayah pada putra sulungnya itu.
"Sepertinya semua ini berawal dari Park Jaehyun yang membuat kontrak dengan Xi Yizhao untuk penanaman saham yang ditukar dengan Xi Luhan yang tentunya merupakan anak dari Yizhao, lihat tertulis disana"jelas Jumyeon sembari menunjuk ke arah selembar fotokopi kontrak.
"perdagangan manusia? Ia menjual anaknya sendiri? Untuk apa?"tanya Tuan Oh tak percaya. Dirinya sendiri memang kejam, keras dan tegas namun tak sampai tega menjual manusia terutama anaknya sendiri.
"Sudah pasti, Park Jaehyun seorang pedofil dan menginginkan Luhan sebagai pemuas nafsunya"
"Brengsek"desis Tuan Oh geram. Ia teringat dengan senyum luhan saat mereka makan bersama. Dia benar-benar anak yang baik.
"Lalu... Park Jaehyun di bunuh."suara Jumyeon mengecil.
"Oleh?"
"Sepertinya Luhan, untuk perlawanan diri karena merasa terancam mungkin. Lalu putranya Chanyeol kembali membeli Luhan dengan balasan menjadi investor perusahaan Xi. Mereka juga sempat meminta kita sebagai investor namun aku menolaknya karena terdengar tak menguntungkan"
Tuan Oh menatap Jumyeon bingung "tapi, mengapa putranya membeli Luhan lagi?"
"Untuk balas dendam atas kematian ayahnya, tentu saja"jawab Jumyeon. Keduanya kini beralih menatap Sehun yang masih belum sadar dan mereka juga mulai mengerti mengapa Sehun berada disana berlumuran darah.
Untuk menyelamatkan Luhan, tentu saja.
Tuan Oh menghela nafasnya "Jumyeon cari Luhan dan selamatkan dia"perintahnya.
"Baik, ayah"
.
.
.
Brak. Pagi itu keadaan Ruangan tempat Luhan disekap kembali gaduh oleh Chanyeol. Ia mendapati pria mungil itu masih terbaring lemas dengan perawakan kacau bersimbah darah dan wajahnya yang pucat.
Ia menyeringai lantas menghampiri Luhan dan menendang perutnya, membuat si empunya meringis sakit dan terbangun dalam hitungan detik.
"Aghh! Chanyeol sakit!"rintih Luhan ketika Chanyeol tiba-tiba menarik rambutnya dan menyeretnya ke kamar mandi di luar ruangan yang sepertinya sudah disiapkan oleh Chanyeol. Terbukti dengan air yang sudah memenuhi bathtub.
"Hari ini aku akan memandikan mu Lu"ujar Chanyeol datar namun terdengar mengerikan. Ia menarik rambut Luhan memaksanya untuk berdiri lali menyeburkan kepala Luhan masuk ke Bathub.
Lama ia membiarkan kepala Luhan berada disana membuat Luhan menepuk-nepuk pergelangan tangan Chanyeol karena merasa butuh oksigen. Chanyeol menarik kepala Luhan keluar bathub lantasLuhan mengais oksigen dengan rakus, singkat saja kesempatannya mengambil oksigen, kini kepalanya kembali masuk ke dalam bathub, merendamnya di air tanpa merasa kasihan.
Dan hal itu terus di lakukan oleh Chayeol berulang kali membuat Luhan kini sudah lemas tak berdaya dan tak mampu untuk sekedar berdiri. Chanyeol melempar Luhan ke sudut kamar mandi, dan si mungil tak lagi bersuara. Hanya suara napasnya yang menderu yang terdengar, ia terlalu lelah untuk sekedar memekik, meringis dan menangis. Terlalu lelah dengan semuanya.
Chanyeol berjongkok di hadapan Luhan yang terduduk lemas disana dan menarik dagunya memaksa Luhan menatap matanya. Ia menyeringai melihat Luhan dengan pemandangan cukup erotis. Mulutnya terbuka, matanya setengah tertutup, kancing bajunya terbuka sampai dadanya, dan tetesan air turun dari rambutnya mengaliri leher dan dadanya.
"kau membuatku ingin memperkosamu, kau tau?"Chanyeol menjilat bibirnya sendiri.
Luhan menggeleng lemas "ti-tidak kau tidak bisa"ucapnya lemas
Chanyeol kembali menjambak rambut Luhan "tentu saja aku bisa, jalang"nadanya terdengar lembut namun menusuk.
Luhan kembali menggeleng "tidak, kau tidak bisa. Karena..."nafasnya tersengal-sengal, "karena kau mencintai Baekhyun, dan Baekhyun juga mencintaimu. Aku tahu kau tidak akan mengkhianatinya, Chan"Luhan tersenyum lembut.
"Brengsek!"teriak Chanyeol menampar Luhan berkali-kali namun pria mungil itu terlihat pasrah-pasrah saja. Chanyeol merasa marah karena kata-kata Luhan memang ada benarnya, dan seakan hal itu membuat dirinya lemah di hadapan Luhan.
Ia mencintai Baekhyun lebih dari siapapun, meskipun pria itu sering mengomelinya dan mengatainya menjijikan di belakang itu dia pria yang hangat, pria yang selama ini selalu ada di sampingnya, pria yang selalu menemaninya dan pria yang mampu membuatnya membuka mata dan hatinya.
"Kau! Jangan berani menyebut nama Baekhyun dengan bibir kotormu berengsek!"teriaknya lalu bergegas keluar kamar mandi setelah sebelumnya memerintahkan pada salah satu bodyguard untuk membawa Luhan kembali ke ruangannya.
Chanyeol kembali ke kamarnya lantas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sesekali memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
Matanya kini beralih menuju nakas di samping tempat tidurnya lalu mengambil sebuah pas foto yang terletak disana.
Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, jemarinya membelai foto dirinya yang tengah memeluk Baekhyun dari belakang dengan lembut. Bagaimana jika Baekhyun mengetahui semua ini? Apa ia akan membenci Chanyeol? Apa Baekhyun akan menjauhinya? Ia takut kehilangan Baekhyun.
Ia melepas pas foto tersebut lalu merogoh saku celananya mengambil ponselnya dan menelfon sebuah nomor yang tersimpan dibawah nama 'Love'
"Yoboseo"ujar chanyeol, tak lama terdengar suara lengkingan dari seberang sana membuat Chanyeol terkekeh karena tingkah Baekhyun yang heboh.
Bagaimana tidak? Chanyeol tiba-tiba menghilang dan tak masuk sekolah beberapa hari belakangan. Ia bahkan tak menghubungi Baekhyun sama sekali. "Bagaimana kabarmu hm?"tanya Chanyeol lembut.
"Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu? Apa yang terjadi? Mengapa tak masuk sekolah?"tanya Baekhyun terdengar sedikit ketus namun penuh kekhawatiran sekaligus rindu.
Chanyeol tersenyum, kentara sekali dari nada suara Baekhyun bahwa ia mengkhawatirkan Chanyeol. "Aku baik-baik saja. Aku tidak akan masuk sekolah beberapa hari ini dan alasannya tidak bisa kuceritakan" tidak padamu.
"Umm baiklah, itu tidak apa-apa asal kai rutin menghubungi dan mengabariku, okay?"
"Hmm baiklah, Baek aku mencintaimu"
Baekhyun tersenyum di balik sana "Aku juga mencintaimu"
Tak lama hubungan telefon sudah terputus.
.
.
.
"Kau sudah menemukannya? Kirimkan alamat rumahnya"Jumyeon mematikan hubungan telfonnya lalu menaruhnya kembali dalam saku gasnya. Ia lantas menginjak pedal gas menambah kecepatan membelah jalanan kota seoul dan hiruk pikuknya.
Jumyeon terdiam di dalam mobil, suasana begitu hening. Ia sudah menemukan alamat rumah Chanyeol dan sekarang tengah menuju ke sana. Semua ini tentunya ia lakukan sesuai perintah ayahnya dan untuk adiknya yang sepertinya begitu mencintai Luhan.
Dalam hati Jumyeon hanya mampu tertawa, ia bahkan tidak tahu mengapa ia melakukan hal ini. entah karena ia mulai membuka hati pada Sehun semenjak dirinya melihat anak itu menangis di depan kremasi ibu mereka. Menangis pilu dan tersedu-sedu seakan baru menyadari arti kematian.
Jumyeon membenci Sehun sejak dulu. Sejak ibu mereka meninggal karena menyelamatkan Sehun dan Sehun malah menikmati membunuh si pembunuh. hell! Ia bahkan tidak menangis ketika mayat ibunya terbaring kaku dan dingin di balik peti coklat kala itu.
Ia benci ketika adiknya itu bersikap seakan tidak ada yang terjadi, seakan semuanya baik-baik saja. Namun, sekarang ia malah melakukan sesuatu demi adiknya yang tengah terbaring kritis di Rumah Sakit.
Jumyeon memijat pelipisnya sesampainya ia di mansion mewah milik keluarga Park. Ia mermarkirkan mobilnya di dekat taman luas milik keluarga Park dan bergegas keluar. Tak lama salah satu dari para bodyguard yang berjaga di depan pintu masuk mansion menghampirinya. "Ah saya dari OH Corp. Ingin bertemu dengan Tuan Park"Jumyeon tersenyum seramah mungkin sembari memberikan kartu pengenalnya.
Bodyguard itu menatap Jumyeon sedikit curiga "tapi Tuan Park bilang tidak ada tamu hari ini"
Jumyeon menganggukkan kepalanya mengerti "saya memang belum membuat janji. Katakan padanya bahwa saya kesini untuk membicarakan bisnis yang sangat menguntungkan baginya"bohong Jumyeon.
bodyguard tersebut menggaruk tengkuknya sedikit bingung dan curiga. Namun, itu bukan urusannya dan dia tidak terlalu perduli. Toh itu urusan orang kaya, dan dia hanya bertugas menjaga mansion. Ia segera bergegas masuk ke dalam untuk memberi tahukan sekertaris Jang. Tak lama seorang pria paruh baya keluar dari mansion dan menghampirinya.
"Selamat malam Tuan Oh, apakah tujuan anda kemari untuk membicarakan bisnis?"tanya Tuan Jang berhati-hati.
Jumyeon tersenyum dan mengangguk lalu berjabatan tangan dengan Tuan Jang.
Tuan Jang menatap Jumyeon datar "saya rasa hal-hal yang menyangkut bisnis seharusnya di bicarakan di kantor, bukan di rumah pribadi"
Jumyeon terkekeh pelan lalu memamerkan sebuah amplop coklat yang sedari tadi tergantung di tangannya "saya rasa bisnis yang ini seharusnya di bicarakan di rumah pribadi sehingga tidak mempermalukan Tuan park"
Tuan Jang menaikkan satu alisnya, sungguh dirinya penasaran pada amplop yang di pegang Jumyeon. "Baiklah, silahkan masuk"
Jumyeon tersenyum penuh kemenangan lantas mengekori Tuan Jang dari belakang.
"Silahkan duduk, saya akan memanggilkan Tuan Park"
Jumyeon menganggukkan kepalanya,lalu dengan nyamannya merebahkan bokongnya di atas sofa empuk tengah ruangan.
Tuan Jang mengetuk pintu ruang kerja Chanyeol sejenak, lalu melangkah masuk setelah suara Chanyeol terdengar dari dalam mempersilahkannya masuk. Ia menemukan Chanyeol tengah berkutat dengan beberapa dokumen yang sepertinya bersangkutan dengan perusahaan.
Chanyeol sebenarnya cukup pintar dan selalu masuk 5 besar di sekolahnya. Jadi tak ada yang aneh ketika dirinya harus mengurusi perusahaan yang diturunkan padanya sejak ulang tahunnya yang ke-18 sekaligus harus bersekolah. Chanyeol membenarkan letak kacamata kerjanya dan menatap sekertaris Jang datar.
"Ada apa?"tanyanya dingin.
"Kita kedatangan tamu dari OH Corp."jawab sekertaris Jang sembari menundukkan kepalanya.
Chanyeok mengerutkan dahinya "Oh Sehun?"
"Tidak, tuan. Oh Jumyeon" Chanyeol semakin menatap sekertaris Jang dengan tatapan bingung. Mengapa Oh Jumyeon? Dia tahu jelas itu kakak Sehun, lalu apa yang di lakukannya disini? Jika ada yang ingin menyelamatkan Luhan setidaknya Sehun datang sendiri bukan kakaknya.
Mengapa tiba-tiba kakaknya datang tanpa alasan yang jelas? Entahlah, Chanyeol tidak mau terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Ia segera melepas kacamata kerjanya membuat citra pria berwibawanya menghilang menjadi seorang bocah berwajah manis dengan sepasang bola mata bulat yang indah.
Tidak ada yang akan menyangka kalau Chanyeol menyimpan banyak kebencian yang membuncah di dalam dadanya. Memang benar Chanyeol merupakan satu-satunya pewaris segala aset keluarga Park yang tercantum secara hukum dan legal.
Ia jarang bertemu dengan ayahnya karena orang tuanya bercerai dan ia tinggal dengan ibunya. Lalu suatu hari sebuah kabar buruk mengenai kematian ayahnya sampai ke telinganya, Chanyeol kecil meraung-raung, menangis dan mengamuk meminta bertemu ayahnya.
Dia belum sempat memperlihatkan seluruh nilai-nilai tingginya dan piagam-piagam atas prestasi cemerlangnya, tapi ayahnya sudah meninggalkannya di dunia bersama ibunya. Sebagai pewaris utama, Chanyeol pindah ke mansion keluarga Park berpisah dengan ibunya yang kini entah berada dimana. Dia dengar ibunya sudah menikah lagi dan ia hanya berharap bahwa ibunya hidup bahagia.
Semenjak pindah ke mansion dan di umumkan sebagai pewaris utama nantinya ketika ia berusia 18 tahun, Chanyeol kecil mengalami banyak sekali percobaan pembunuhan, penculikan dan sebagainya. Masa kecilnya ia habisnya dengan penuh kenangan-kenangan buruk traumatis yang dalangnya adalah orang-orang haus kekuasaan dan uang.
Namun, Chanyeol disana tumbuh besar dengan kuat. Bertahan sekuat baja, di temani sekertaris Jang di sampingnya yang selalu setia mengabdi pada keluarga Park. Chanyeol bertemu Baekhyun ketika baru saja masuk SMU dan berpacaran dengannya karena ia benar-benar jatuh cinta pada pria cerewet itu.
Setiap pengumuman ranking dan nilai, Chanyeol selalu melihat nama seorang 'Xi Luhan' di papan nama. Nama yang selalu berada di posisi teratas, paling jenius diantara para jenius, yang bahkan tidak menampakkan batang hidungnya. Nama yang ia ketahui adalah sebagai pembunuh ayahnya. Tidak ada yang tahu apakah Luhan itu hantu atau manusia asli, tidak ada yang pernah bertatap muka dengannya.
Hal itu membuat Chanyeol cukup sulit untuk menemukan Luhan, dia sudah mencari anak itu seantero korea dan tidak menemukannya sama sekali. Sampai suatu hari anak itu merangkak sendiri ke dalam ruangan klub band yang Chanyeol bentuk bersama Baekhyun dan Kyungsoo.
Hal itu cukup untuk membuat Chanyeol terkejut sekaligus bersyukur. Setidaknya ia dapat membungkuk hormat pada makam ayahnya nanti tanpa merasa bersalah lagi, setelah pembalasan dendam.
Itulah yang di pikirkan Chanyeol ketika seorang pria mungil memperkenalkan dirinya dengan nama Xi Luhan di hadapannya sendiri.
.
.
.
Jumyeon menatap Chanyeol yang kini sudah duduk di hadapannya dengan tatapan tajam "aku langsung ke point-nya saja Chanyeol-ssi"
Chanyeol hanya diam tak bergeming sama sekali, matanya masih menatap Jumyeon tanpa berkedip. "Kembalikan Luhan"ujar Jumyeon terdengar santai namun menusuk.
Chanyeol menaikkan satu sudut bibirnya lantas menyandarkan dirinya di sofa dengan nyaman sementara sekertaris Jang hanya diam berdiri di sampingnya dan Jumyeon memerhatikan gerak-geriknya dengan seksama. "Maaf, tapi aku tidak mengerti maksudmu Jumyeon-ssi"
Jumyeon menghela nafasnya lantas mengeluarkan seluruh dokumen dalam amplop coklatnya dan menatap Chanyeol yang hanya diam. "Apakah kau bahkan tahu mengapa ayahmu terbunuh? Bukankah ada alasan di balik pembunuhan itu?"tanya Jumyeon memperlihatkan foto-foto mayat ayahnya di hadapan Chanyeol.
Chanyeol diam menatap foto tersebut dengan mata memerah. "sepertinya sampai disini saja permbicaraan kita"
Jumyeon terkekeh pelan "bagaimana jika alasan itu mengubah posisi ayahmu dari korban menjadi pelaku?"
Chanyeol menatap Jumyeon tajam dengan tatapan bergetar, ia hampir saja memukul Jumyeon kalau saja pertahanannya tidak runtuh. Ia mengepalkan tangannya, "apa yang kau inginkan, jumyeon-sshi?"
"Park Jaehyun dan Xi Yizhao bekerja sama dan membuat sebuah kontrak-"Jumyeon memperlihatkan profile Jaehyun dan Yizhao beserta kontrak mereka, lalu melanjutkan "-dalam kontrak di sebutkan bahwa Park Jaehyun akan menanamkan saham pada perusahaan Xi, dan sebagai gantinya Tuan Xi Yizhao harus memberikan anaknya. Dalam artian lain, ini adalah kontrak perdagangan manusia"
Chanyeol diam menatap Jumyeon dengan terperangah. Apa artinya semua dokumen ini? Chanyeol merasa dia tidak ingin mendengarkan Jumyeon karena ia takut mengetahui rahasia di baliknya, ia terlalu pengecut. Namun, ia terlalu penasaran dengan kebenaran di balik pembunuhan tersebut.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua ini melibatkan ayahnya dan Luhan yang ia yakini saat itu masih kecil.
Jumyeon tersenyum miring melirik Chanyeol yang matanya sudah berkaca-kaca. "Park Jaehyun membeli Luhan untuk memperkosanya karena Jaehyun adalah seorang pedofil."
Chanyeol menatap Jumyeon tak percaya dan penuh akan amarah yang meledak-ledak. Ia menarik kerah baju Jumyeon dengan mata yang begitu menusuk. "Jangan bercanda berengsek!"teriak Chanyeol kalut.
Jumyeon menatap Chanyeol datar "kau tidak tahu apa-apa tentang ayahmu Chanyeol, karena sedari kecil kau tinggal dengan ibumu" Chanyeol terdiam mendengar penuturan Jumyeon yang sangat benar sekali, dan itu membuat Chanyeol semakin merasa marah.
Jumyeon tersenyum menang melihat Chanyeol yang hanya mampu terdiam dengan tatapan matanya yang tajam namun terlihat goyah. "Ayahmu Park Jaehyun memperkosa Luhan hampir setiap malam! Ia meminta anak kecil untuk melepaskan nafsu dan hasratnya akan seks! Siapa yang lebih berengsek dari ayahmu hah?!"teriak Jumyeon yang merasa dirinya juga emosi akan kehadiran orang-orang bejat bernafsu pada anak kecil.
Sungguh perbuatan yang tidak dapat di maafkan bagi Jumyeon. Chanyeol menggeram matanya semakin memerah menahan air mata "tapi Luhan membunuhnya!"teriak Chanyeol.
Jumyeon tertawa "tentu saja untuk perlawanan diri bodoh, bahkan kau pun pasti akan melakukan itu. Siapapun"
Air mata Chanyeol lolos dari pelupuknya, pertahanannya runtuh. ia terdiam lemas dan perlahan melepaskan genggamannya dari kerah kemeja Jumyeon. Dadanya sesak, dan pikirannya sangat kacau. Rasanya dunianya akan runtuh dalam sekejap. Semua yang ia bangun selama ini seakan sia-sia saja. Jika saja ia mengetahui hal ini lebih cepat, ia tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti menculik Luhan dan menyiksanya.
Ia bahkan tidak tau apakah sekarang ia mampu untuk sekedar melangkah ke ruangan di mana Luhan di sekap dan menatap wajahnya tanpa merasa bersalah. Ia mengusap air matanya dengan cepat lantas beranjak dari posisi duduknya "aku akan membawa Luhan, tunggu saja"ujarnya pelan.
.
.
.
Luhan masih terbaring lemas di atas lantai di kamarnya. Rambutnya dan bajunya sudah mengering setelah tadi pagi ia dimasukkan paksa ke dalam bathub oleh Chanyeol. matanya memandang ke arah ventilasi kecil di sudut ruangan. Melihat indahnya belahan cahaya bulan yang remang.
Ia merindukan Sehun, amat sangat merindukannya. Bagaimana kabarnya? Apakah ia terluka? Apakah lukanya parah? Apakah ia makan dengan benar? Luhan merindukan senyum Sehun lebih dari apapun. Bagaimana pria itu menatapnya dengan hangat, senyumnya yang lembut, dan bibir tipisnya yang selalu melumat milik Luhan.
Ia rindu semuanya. Rasanya begitu mengerikan dan sesak ketika teringat bahwa terakhir kalinya kau melihat orang yang kau cintai tengah dalam keadaan mengenaskan, terkapar di atas tanah bersimbah darah di sekujur kepalanya. Mengingatnya membuat Luhan kehabisan nafas meski pasokan oksigen masih terlampau banyak di bumi ini.
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari luar, Luhan meringsut takut. Dia sangat yakin bahwa Chanyeol kembali untuk menyiksanya, kali ini hukuman apalagi yang ingin dilakukan Chanyeol terhadap dirinya?
Derit pintu terdengar dan suara langkah kaki yang terdengar dingin membuat Luhan membeku dan terdiam disana dengan tubuh yang bergetar semu.
Chanyeol disana menatap Luhan dengan lirih sementara Luhan hanya diam menunggu Chanyeol menyiksanya. Ia siap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Chanyeol menghampiri Luhan dan bruk ia berlutut di hadapan Luhan.
Luhan membelalakkan matanya disana. Merasa terkejut sekaligus bingung, beberapa jam yang lalu pria itu terlihat senang menyiksa dirinya lalu sekarang mengapa ia terlihat hancur dan sedih?
Setetes air mata yang meluncur dari pelupuk mata Chanyeol sudah cukup meyakinkan Luhan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Chanyeol.
"Lu~"panggil Chanyeol lirih, hati Luhan seakan hancur melihat sahabatnya itu berantakan.
"Mengapa... mengapa kau tidak menceritakan yang sebenarnya tentang ayahku?"Chanyeol menatap Luhan pilu.
Luhan terperangah, apakah Chanyeol tahu? Tahu tentang apa yang terjadi antara dirinya dan ayahnya? Luhan merangkak mendekati Chanyeol dengan cepat lalu meremas bahunya "k-kau tahu?"
Chanyeol menundukkan kepalanya dan mulai terisak "maafkan aku..."lirihnya di tengah-tengah isakannya.
Luhan ikut menangis melihat Chanyeol yang sepertinya sangat-sangat hancur mendapati fakta sebenarnya tentang ayahnya. Luhan tidak tahu harus melakukan apa, ia lebih memilih disiksa oleh Chanyeol daripada melihatnya hancur dan menangis meraung seperti ini. Ia menarik Chanyeol ke dalam dekapannya, memeluknya sesekali menepuk punggungnya dengan lembut berusaha menenangkannya.
"Kau pasti menderita lu..."isak Chanyeol tak terbayangakan baginya rasa sakit Luhan yang masih begitu kecil dan mungil di perkosa oleh ayahnya. Tak terbayangkan bagi Chanyeol betapa sakit dan menyiksanya hal itu. Luhan pasti merasa kotor, dan harus menahan beban itu sendirian tanpa seorangpun di sampingnya yang menemaninya.
Semua itu sama sekali tak terpikirkan bagi Chanyeol. Bagaimana Luhan yang mungil itu menjalani hidupnya selama ini. Setidaknya hal itu pasti merupakan hal yang traumatis baginya.
"Aku baik-baik saja Chanyeol"Luhan mencoba menenangkan, walaupun sebenarnya dia tidak ingat apapun dari semua kejadian hal itu.
Bukan karena hanya rasa traumatisnya. Tapi hal itu merupakan sistem dari otaknya. Menjadi seorang jenius merupakan sebuah anugerah, namun bagaimana jika dalam anugerahnya itu terselip sebuah bencana yang menyakitkan?
Luhan akan ingat segalanya hanya dalam satu kali lihat. Buku, angka, ukuran pohon, ukuran batu, panjang rumput, lebar jalan, tinggi gerbong kereta, ia bahkan mampu menghitung berapa kecepatan kereta hanya dalam sekali lihat. Bahkan bagaimana bentuk tetesan hujan delapan bulan lalu beserta diameternya, ia ingat.
Dan segala ingatan itu akan di hapus satu tahun sekali oleh otaknya sendiri. Membuang memori lama dan membangun memori baru. Kasus yang langka, tentu saja. Dan tidak ada satupun obatnya di dunia ini.
Di suatu pagi Luhan harus terbangun dengan pikiran kosong tanpa ingatan. Siapa dirinya dan apa yang dia lakukan disana, ia tidak tahu. Tidak sampai semuanya diceritakan oleh salah satu orang kepercayaan ayahnya. Mulai dari kepribadian gandanya, siapa namanya, siapa jati dirinya dan lainnya. Selalu seperti itu setiap tahun.
Terkadang Luhan takut jika harus berteman dan mencintai orang-orang. Ia takut nanti menyakiti mereka karena ingatan manis tentang mereka akan terhapus entah kemana dan berakhir dengan mereka menjauhinya. Terkadang ia juga terpikir akan keputusannya menjadi seorang kekasih Oh Sehun. Haruskah ia memberitahukannya nanti? Haruskah dia hanya diam saja?
Sungguh Luhan tidak mau kehilangan Sehun dalam keadaan apapun. Entah saatnya nanti ia kembali bangun tanpa ingatan, ia ingin sehun disana menemaninya dan mendirikan jati diri Luhan. Namun, bersediakah Sehun melakukan itu untuknya? dan jika ia mau apakah suatu hari dia tidak akan lelah membuat memori baru dengan Luhan setiap tahunnya?
Lalu bagaimana dengan Kyungsoo, Baekhyun dan Chanyeol yang saat ini masih terisak di dalam dekapannya. Bagaimana jika nanti ia melupakan mereka? Hidup, berkedip, makan dan bernafas setiap detiknya bagi Luhan sungguh menyakitkan. Hidup walaupun dirinya tahu suatu hari nanti ingatannya kembali terhapus. Lalu di gantikan lagi dengan Luhan yang pikirannya kosong tanpa ingatan seperti bayi baru lahir.
Terbayangkah betapa sakitnya Luhan setiap harinya harus hidup dengan sebuah catatan kecil di kepalanya 'kau akan lupa'. Terkadang ia ketakutan di sudut kamarnya ditemani kegelapan tanpa ingatan. Itu semua membuatnya kosong dan sesak.
.
.
.
"Sehun, kau bangun nak?"
"Hhh a-ayah. Luh- Luhan"
"Tenang saja, dia sudah aman dan sedang menuju kesini? Tenang hm? Ayah akan memanggilkan dokter"
TBC
