Halo semuanya xD *kicked again* Rupanya saya sudah menelantarkan fanfic ini setelah sekian lama TwT. Maafkan saya karena saya author yang tidak bertanggung jawab huhu. Ano, sebelumnya terimakasih kepada yang sudah mereview: Mizuki Akari Chan, Go Minami Asuka Bi, CelestyaRegalyana, hithosihayabusa, Rei Atsuko, Lave Cheney, SyifaCute, Itachannio, negitoro, dan Himeria Rin. Seperti biasa, jawaban review ada di bawah.
Baiklah, ini lanjutannya. Selamat membaca…
Forbidden
by Yumiharizuki
Vocaloid bukan punya saya, tapi punya Crypton Future Media, Yamaha, dll
Warning: Masih abal, banyak typo, mungkin OOC, cerita kurang greget dan legit (?), dll
Note: POV normal
Ketika semua masalah makin rumit dan mulai menentukan titik porosnya. Akankah segalanya baik-baik saja?
Chapter 9
Laki-laki berambut honey blonde itu tengah tersenyum sambil memandangi langit malam kota Tokyo. Dirasakannya sebuah kedamaian ketika hembusan angin membelainya perlahan. Senyuman itu seakan tak pernah putus dari bibirnya ketika khayalan di dalam kepalanya terasa begitu nyata. Semuanya akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Laki-laki itu hanya perlu menunggu sampai hari telah berganti menjadi akhir pekan. Waktu yang tepat untuk mengisi libur panjangnya dengan berwisata. Kemana lagi tujuan wisata laki-laki itu kalau bukan ke Osaka, tempat sang gadis pujaan hatinya berada. Laki-laki itu benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan gadisnya. Rasa rindu yang teramat dalam itu sudah tak bisa ia bendung lagi. Sudah jauh-jauh hari ia merencanakan ini semua. Sejak kepergian Miku gadis yang disukainya ke Osaka, membuat Len bertekad keras untuk menyusul gadis itu ke sana. Ia habis-habisan menyisihkan uangnya untuk bisa pergi ke Osaka. Hanya sebuah tujuan saja yang ingin dicapainya begitu sudah berada di Osaka nanti. Ia hanya ingin bertemu Miku, melihat kembali wajah cantik yang dirindukannya itu, dan ia ingin meminta maaf kepada Miku atas segala hal yang telah terjadi di antara mereka.
"Hime, kuharap kita bisa segera bertemu," gumam Len sambil terus tersenyum menatap langit malam yang dihiasi oleh beberapa titik cahaya.
Len sedang asyik mengamati keindahan langit malam yang terhampar luas di hadapannya. Ia sampai tidak menyadari kalau saudari kembarnya melihat dirinya dari kejauhan. Rin, saudari kembar Len saat itu tidak sengaja melihat saudaranya sedang menyendiri di atap. Ada perasaan khawatir di dalam hati Rin terhadap Len. Biasanya jika Len menyendiri di atap, itu artinya perasaan Len sedang gundah. Rin menghela napas panjang. Ia merasa kalau Len sudah berlarut-larut dalam kesedihan karena kepergian Miku. Sudah waktunya Len bangkit dari keterpurukan itu dan menjalani hidupnya dengan normal tanpa bayang-bayang Miku. Dan Rin lebih senang saudaranya itu ikut acara goukon antar sekolah supaya bisa mendapatkan gadis yang akan mengisi kekosongan hatinya.
Rin tergelitik untuk mengatakan isi hatinya itu kepada Len. Ia pun melangkahkan kakinya perlahan ke tempat Len berada saat itu.
"Len-kun,"
Len pun menoleh dan mendapati Rin sudah berdiri di belakangnya. Ia mengernyit kecil. Tidak biasanya Rin mau menghampirinya di atap. Rin tidak suka udara dingin malam hari. Bisa dibilang Rin itu alergi dingin.
"Rin-nee, kenapa ke luar? Kau harus cepat masuk ke dalam. Nanti kau sakit," ucap Len seraya menghampiri saudarinya itu.
"Un, daijoubu," ucap Rin sambil menggeleng kuat. "Aku tidak akan sakit kok. Aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu. Boleh aku duduk di sebelahmu?"
"Silahkan Rin-nee,"
Rin segera duduk di sebelah Len. Sebenarnya badannya sudah terasa tidak enak sejak tadi. Udara dingin itu membuatnya tersiksa.
"Len, apakah kau masih memikirkan Miku-chan?" tanya Rin secara tiba-tiba membuat Len sedikit tersentak.
"Kalau di tanya begitu bukankah jawabannya sudah jelas? Tentu saja aku masih memikirkannya. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa melupakannya," jawab Len serius. Rin tertegun mendengar jawaban dari Len tadi.
"Begitu," ucap Rin kemudian. "Tapi bagaimana jika… Miku tidak pernah kembali?"
"Aku akan menjemputnya," jawab Len dengan enteng. Kali ini mata Rin membulat sempurna.
"Apa maksudmu Len?" tanya Rin bingung. "Kau akan menjemputnya? Ke Osaka?"
"Iya. Aku akan melakukannya. Aku sudah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari. Dan aku akan pergi ke Osaka pada liburan kali ini," kata Len dengan mantap.
"Jangan bercanda Len. Jangan karena kau terlalu sedih akan kepergian Miku, kau jadi mengatakan hal yang tidak-tidak," kata Rin dengan nada suara yang meninggi. "Memangnya kau tahu Miku ada di Osaka bagian mana? Memangnya kau punya cukup bekal untuk pergi ke sana? Memangnya ayah dan ibu mengijinkan?"
"Jangan khawatir soal itu nee-san. Aku sudah mengurus semuanya," kata Len sambil tersenyum. Ia langsung memperlihatkan sebuah tiket kepada saudarinya. "Tiket kereta sudah beres. Penginapan sudah di booking sebelumnya. Ayah dan ibu juga sudah mengijinkan. Bahkan nanti kita sekeluarga akan pergi ke sana untuk berlibur,"
Kali ini Rin benar-benar syok mendengar penuturan Len. Len akan pergi ke Osaka? Hal ini tidak boleh terjadi. Miku tidak ada di sana. Tidak di manapun. Bahkan tidak ada yang tahu di mana keberadaannya kini. Len tidak boleh mengetahuinya.
"Jangan-jangan kau yang merencanakan ini semua ya? Kau yang membujuk ayah dan ibu untuk pergi ke Osaka, kan? Kenapa kau sampai berbuat sejauh itu hanya untuk seorang gadis yang sudah menolakmu? Kenapa kau rela melakukan semua ini demi seorang gadis bernama Miku Hatsune? Kenapa?" Rin begitu merasa emosi. Sejujurnya ia merasa takut Len mengetahui kebenaran yang di sembunyikannya.
"Nee-san, aku sudah menduga kalau kau akan mengatakan hal ini. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tetap akan pergi ke sana apapun yang terjadi," kata Len.
"Kau tidak boleh pergi! Aku akan membuat hal itu tidak akan pernah terjadi!" seru Rin geram.
Dengan cepat, Rin langsung bangkit dari duduknya. Ia segera pergi meninggalkan Len sendirian dengan perasaan yang kalap. Rasa panik mulai menguasai dirinya. Semuanya sudah mulai gawat. Keadaan sudah mulai kacau. Ia harus menghubunginya sekarang. Sudah tidak ada waktu lagi.
Rin langsung mencari daftar nama di phonebook nya. Di carinya nama Miku dan dengan segera ia pun menghubungi Miku. Telepon sudah mulai tersambung. Sudah terdengar bunyi tut yang berulang di teleponnya. Namun belum ada tanda-tanda Miku akan mengangkat teleponnya. Bahkan ia sudah mengira kalau Miku pasti akan mengabaikan telepon darinya. Rin berdecak kesal. Miku benar-benar tidak mengangkat telepon. Lalu bagaimana ia bisa menemukan Miku? Bagaimana ia bisa mencegah Len pergi ke Osaka?
Sementara itu, perasaan sepi kini melingkupi hati Luka. Dirinya tak beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya. Ia meringkuk, menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut. Sudah berjam-jam ia melakukan itu. Luka benar-benar kacau saat ini. Bukan hanya emosinya, namun jiwa dan juga penampilannya. Luka terlihat bagaikan wanita malang yang sudah gila. Aura cantiknya hilang begitu saja tergantikan oleh kesuraman yang tiada berujung. Rambut panjang tergerainya ia biarkan berantakan menutupi sebagian wajahnya. Matanya sembab dan merah. Tubuhnya lemah tak bertenaga, bahkan wajahnya pun terlihat begitu pucat. Semua yang telah terjadi begitu mendadak itulah yang membuat Luka seperti ini. Yang paling membuatnya terpukul adalah kepergian Miku dari sisinya dan juga sebuah fakta menyakitkan bahwa Miku mencintainya.
Luka perlahan bangkit dari tidurnya. Dengan mata yang sayu ia melangkah melewati meja riasnya. Pecahan kaca yang berserakan itu masih ada di sana. Luka sama sekali tidak membereskan kekacauan itu. Bahkan ia sengaja berjalan ke arah figura fotonya dengan kaki telanjang. Ia tidak takut kaki indahnya akan terluka oleh pecahan kaca itu. Diambilnya figura foto yang telah lama ia simpan di dalam laci mejanya. Bahkan jika Miku tidak menemukan foto itu, mungkin Luka sama sekali akan lupa mengenainya. Entah mengapa begitu melihat foto tersebut, ia jadi teringat akan sosok sang adik yang sudah lama tidak ditemuinya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana adiknya sekarang. Apakah adiknya tumbuh menjadi seorang pria yang baik? Apakah adiknya benar-benar memenuhi janji mereka untuk mengikuti jejak Luka sebagai siswa teladan di sekolahnya? Luka jadi begitu penasaran dengan keadaan adiknya itu. Sekarang ia terpikir untuk bisa bertemu dengan Yuuma. Ia hanya ingin memastikan beberapa hal dengan mata kepalanya sendiri. Dan ia merasa harus bertemu dengan anak itu.
Luka teringat kembali dengan ekspresi Miku saat ia menemukan gadis itu ada di kamarnya setelah memecahkan figura foto miliknya. Sepertinya ada suatu hal yang membuat Miku terkejut. Atau lebih tepatnya Miku terlihat ketakutan seakan apa yang dilihatnya saat itu adalah hal yang paling ia takuti dan paling ia hindari di masa lalunya. Banyak misteri yang belum terjawab seputar diri Miku. Dan kali ini Luka benar-benar ingin tahu sekaligus ingin membuat Miku kembali menyadari jati dirinya sebagai seorang wanita. Luka mengernyit sedikit. Ia baru menyadari bahwa seragam sekolah Miku adalah seragam dari Cryptonoid High school, sekolah yang sama dengan sekolahnya dahulu. Jika memang Yuuma menepati janji, seharusnya Yuuma pun berada di sekolah itu dan mungkin berada satu tingkat diatas Miku. Luka benar-benar harus membuktikan semuanya. Ia pun bertekad untuk mencari tahu kebenarannya.
Keesokan harinya, Luka sengaja bolos bekerja hanya untuk pergi ke sekolah itu. Ia tak peduli jika dirinya dipecat dari pekerjaannya. Toh hubungannya dengan Dell sudah tidak bisa diperbaiki lagi, sehingga pasti dalam waktu dekat ia akan kehilangan pekerjaannya. Luka sama sekali tidak memikirkan hal itu. Luka sengaja datang ke sekolah pada jam istirahat supaya ia tidak mengganggu jam pelajaran. Sejak ia masuk ke area sekolah, banyak mata yang memandang ke arahnya. Luka menjadi pusat perhatian saat itu, terutama oleh para lelaki. Luka sedikit risih dengan pandangan mata itu. Tapi ia berusaha mengabaikannya. Dihampirinya salah seorang siswi yang sedang melintas disana.
"Permisi," ucap Luka sopan.
"I… Iya ada apa kak?" tanya siswi itu dengan sedikit gugup.
"Apakah kamu kenal dengan Yuuma? Dia ada di kelas mana ya? Bisa tolong antarkan aku untuk menemuinya?"
Siswi itu tidak langsung menjawab pertanyaan Luka. Justru dirinya terlihat agak ragu sekaligus waswas saat itu. Entah apa yang membuatnya begitu, Luka sendiri tidak mengetahui alasannya.
"Ano, Yuuma itu…," siswi itu terlihat ragu. "Yuuma ada di kelas 2C. Tapi dia hari ini membolos lagi,"
Luka begitu terkejut mendengar perkataan siswi itu. Ia berusaha menyangkal fakta yang didengarnya mengenai kenakalan Yuuma. Mungkin saja itu bukan Yuuma adiknya yang baik hati. Mungkin saja siswi itu menyebutkan orang lain yang memiliki nama yang sama dengan adiknya.
"Biasanya Yuuma selalu pergi kemana jika dia membolos?" tanya Luka dengan tergesa-gesa.
"Dia… Kadang ke game center bersama teman-temannya. Lebih sering mereka menghabiskan waktu di markas mereka. Tapi jika kakak beruntung, kakak akan menemukan dia sedang merampas uang milik orang yang lewat di gang," jawab siswi itu.
"Baiklah, terimakasih banyak," kata Luka seraya mengakhiri pembicaraan.
Luka langsung keluar dari area sekolah. Dengan tergesa-gesa ia langsung mencari seseorang yang bernama Yuuma itu. Dalam hati kecilnya, ia hanya dapat berharap bahwa Yuuma itu bukanlah adiknya. Karena Luka sangat mengingat dengan jelas bahwa adik laki-lakinya itu merupakan sosok laki-laki yang baik hati.
Luka langsung masuk ke area game center yang tidak terlalu ramai itu. Ia melihat ke sekelilingnya, berharap ia bisa menemukan sosok yang dicarinya. Hanya saja sejauh mata memandang, tak ia temukan sosok laki-laki yang dicarinya. Luka tidak lantas menyerah. Dirinya langsung pergi menyusuri kota. Luka merasa bodoh karena ia lupa menanyakan dimana letak markas milik Yuuma dan teman-temannya.
Yuuma tidak ada dimanapun. Kemana perginya orang itu? Luka benar-benar kelimpungan mencarinya. Harus kemana ia mencari dan kepada siapa lagi ia harus bertanya? Di tengah keputusasaan itu, Tuhan seakan menunjukan jalan kepada Luka. Tiba-tiba, ia melihat sosok laki-laki yang mirip sekali dengan Yuuma yang ia rindukan. Laki-laki itu berambut merah muda dengan rambutnya yang agak gondrong sedikit. Penampilannya kini sangatlah berbeda seratus delapan puluh derajat dari Yuuma yang dulu. Gayanya berantakan dengan seragam yang tidak rapi dan juga bertindik di telinganya. Luka sampai syok melihat penampilan laki-laki yang merupakan adiknya itu. Sebisa mungkin ia mengejar Yuuma dengan langkah cepat. Ia seakan tak ingin kehilangan sosok Yuuma.
Yuuma dan kawan-kawannya terlihat sedang mengamati seseorang. Yuuma langsung menghampiri orang yang diamatinya, disusul oleh teman-temannya. Orang tersebut merupakan seorang laki-laki tinggi kurus berkacamata. Tanpa basa-basi, ditariknya laki-laki kurus itu dari keramaian dan Yuuma membawanya ke tempat yang sepi yaitu ke sebuah gang sempit di dekat sana. Luka langsung berlari ke arah gang sempit yang jarang terjamah oleh orang-orang ketika didengarnya suara teriakan tertahan dari seorang laki-laki. Luka benar-benar merasa panik saat itu. Dengan ragu, ia longokkan kepalanya untuk mengintip. Dilihatnya pemandangan yang sangat menakutkan. Pria malang yang dilihatnya itu sedang dikeroyoki ramai-ramai oleh Yuuma dan teman-temannya.
"Hahaha! Sudah kubilang, jangan berani menantangku! Orang sepertimu tak akan bisa apa-apa," ucap Yuuma dengan lantangnya. "Cepat serahkan barang berharga milikmu! Kami tahu, kau pasti menyembunyikannya. Jika kau tidak menyerahkannya dengan suka rela, maka kami akan mengambilnya darimu!"
"Ti… Tidak! Aku… Tidak akan memberikan sepeserpun uangku padamu!" ucap laki-laki kurus itu dengan susah payah. "Aku… Tidak takut padamu! Kau hanya anak SMA biasa yang bisanya bolos sekolah dan memeras orang yang lemah!"
"Baik jika memang kau memintanya," kata Yuuma sambil menyeringai. "Geledah dia,"
Teman-teman Yuuma menuruti instruksi ketua mereka. Mereka langsung menggeledah secara paksa tas milik orang yang tak berdaya itu. Dari dalamnya mereka mendapatkan apa yang mereka cari. Bahkan lebih dari itu. Mereka mendapatkan sebuah kotak berisi cincin yang lumayan mahal.
"Jangan ambil itu! Kumohon. Itu adalah benda yang sangat penting!" seru laki-laki itu. Namun bukannya mengembalikan barang miliknya, mereka malah menghujaninya dengan pukulan yang bertubi.
"Hentikan!" Luka secara spontan berteriak, membuat Yuuma dan kawan-kawannya langsung menghentikan aktivitas mereka. Sedetik kemudian, Luka menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang besar.
"Lihat ada siapa ini teman-teman. Ternyata ada seorang gadis cantik yang tersesat," ujar Yuuma sambil menyeringai. Ia langsung menghampiri Luka dan berdiri di depan wanita itu. Luka langsung mundur selangkah.
"Lepaskan dia! Kau tidak sepantasnya melakukan itu kepada orang yang tidak bersalah!" seru Luka dengan suara yang sedikit bergetar. Dipandanginya wajah Yuuma secara seksama, Dari jarak yang sedekat itu, Luka kini yakin bahwa orang itu benar-benar Yuuma yang dicarinya. Namun tetap saja mereka adalah orang yang berbeda di matanya.
Yuuma tidak membalas perkataan Luka. Seringaian itu tidak lepas dari wajah tampan nan beringas miliknya. Dilihatnya Luka lekat-lekat. Ditelusurinya setiap detail pada wajah Luka. Ada rasa tertarik dalam hati Yuuma. Ia tertarik ingin merusak keindahan yang dimiliki oleh wanita dihadapannya itu. Yuuma langsung menarik Luka secara kasar ke dalam gang sempit itu. Kemudian ia membuat posisi Luka tersudut olehnya. Dan dengan kasar pula ia tengadahkan dagu Luka agar Luka memandang wajahnya.
"Aku sangat tertarik padamu, Nona. Kau harus diberi hukuman karena sudah membuatku begitu tertarik," ucap Yuuma masih dengan seringaian khasnya.
Luka merasakan firasat yang sangat buruk. Dan firasatnya itu benar-benar menjadi kenyataan ketika Yuuma mulai menyentuh wajahnya dan mengecup lekukan lehernya. Bukan hanya itu, Yuuma juga sudah melakukan pelecehan terhadapnya. Pakaian Luka sengaja disingkap perlahan oleh laki-laki itu. Kegiatan itu akan bertambah parah jika Luka saat itu tidak langsung menampar wajah Yuuma. Mata Luka berkaca-kaca. Ia bahkan menangis saat itu.
"Beraninya kau menamparku!" Yuuma merasa geram. "Kau belum tahu siapa aku!"
"Aku tahu! Aku tahu siapa kau sebenarnya!" teriak Luka. "Kau bukanlah Yuuma yang aku kenal! Kau bukanlah Yuuma adikku yang manis! Kemana kau yang dulu? Kemana sosok Yuuma yang selalu tersenyum dan selalu menyemangatiku ketika aku sedang sedih? Kenapa kau berubah menjadi laki-laki kurang ajar seperti sekarang? Kenapa kau tidak menepati janjimu untuk menjadi anak baik dan berprestasi agar bisa menjadi siswa teladan seperti aku?"
Yuuma tertegun ketika mendengar pernyataan Luka mengenai dirinya. Namun laki-laki itu langsung menguasai dirinya dan berlaku seolah-olah apa yang dikatakan oleh Luka itu tidak benar.
"Siapa kau? Jangan mengarang cerita seolah-olah kau mengenalku dengan baik!" seru Yuuma.
"Aku Luka Megurine! Aku kakakmu!" jawab Luka. "Kau masih belum mengenaliku? Baik, aku akan menunjukan buktinya. Kau sangat suka permen roro rasa coklat. Setiap aku sedih, kau selalu memberikan satu permenmu untuk menghiburku. Karena kesukaanmu itu, aku sampai menyebutmu Yuuma Roro! Sekarang kau mengenaliku kan, Yuu-kun?"
Kali ini Yuuma benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya serasa lemas dan tidak bertenaga. Ia gemetar. Ia telah kalah telak dari Luka. Sementara itu, teman-teman Yuuma malah menertawakan Yuuma. Mereka pikir kalau Yuuma adalah laki-laki pengecut yang kalah dari seorang wanita.
"Ternyata kaichou kita tidak bisa menaklukan wanita!" ujar Rei sambil tertawa.
"Diam! Pergi kalian semua! Sekarang!" seru Yuuma dengan tegas. Seketika itu tawa teman-temannya terhenti dan satu persatu dari mereka pun pergi meninggalkan Yuuma bersama Luka hanya berdua saja. Laki-laki yang tadi telah menjadi bulan-bulanan mereka juga langsung pergi setelah mengambil kembali barang miliknya yang berharga.
Yuuma dan Luka kini hanya berdua di gang sempit itu. Keheningan melingkupi mereka berdua. Atmosfer di sekitar mereka pun terasa berat dan menyesakkan. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan perasaan mereka masing-masing. Terlebih lagi dengan Yuuma. Kini ia merasa malu dan sangat menyesal telah berbuat hal yang tidak pantas terhadap kakaknya.
"Luka-nee… Maafkan aku," ucap Yuuma lemas.
"Tidak apa-apa," kata Luka dengan senyum tipisnya. "Oh iya, bagaimana kalau kita mengobrol sedikit? Kau tidak keberatan kan?"
"Tentu saja. Lagipula aku memang sudah terlanjur membolos hari ini," jawab Yuuma sambil tersenyum juga.
Akhirnya Luka pun mengajak Yuuma untuk pergi ke kedai kopi langganan Luka. Mereka mengambil tempat duduk di sebelah kanan dekat jendela yang menghadap langsung ke jalanan kota Tokyo yang ramai.
"Kenapa bisa kau jadi seperti ini Yuuma?" tanya Luka ingin tahu. "Aku sangat tahu, dirimu yang sesungguhnya adalah Yuuma yang baik seperti dulu. Hal ini sangat membuatku terkejut,"
"Yah, setiap orang pasti bisa berubah Luka-nee," jawab Yuuma sambil tersenyum kecil. "Sebenarnya aku merindukan diriku yang dulu. Aku ingin kembali menjadi Yuuma yang dulu, tapi aku sama sekali tidak tahu caranya,"
"Apa yang telah terjadi?" Luka menanyakan langsung kepada poinnya. Yuuma tertegun sejenak sebelum akhirnya ia menceritakan kisah yang sebenarnya.
"Ayahku… Dia sudah meninggal. Tepatnya setahun setelah kami berdua meninggalkan rumah waktu itu. Sejak saat itu aku menjadi anak yang sebatang kara. Hidup dengan berpindah tangan. Dari tangan kerabat yang satu ke kerabat ayah yang lainnya," Yuuma mulai bercerita dengan diselingi beberapa jeda karena ia menyesap kopinya terlebih dahulu. "Hidupku menjadi tidak lebih baik sejak saat itu. Nee-san pasti tahu rasanya. Keadaanlah yang membuatku menjadi sosok pemberontak. Aku sudah hilang semangat untuk sekolah dan belajar. Yang ada dipikiranku hanyalah berkelahi, bermain, membolos, memeras orang, dan juga tentunya wanita. Aku terus menjalani kehidupan yang menyedihkan seperti itu sampai sekarang,"
"Lalu sekarang kau tinggal dimana?" tanya Luka lagi.
"Aku tinggal di markas kelompokku karena aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Tak ada seorangpun yang mau mengurusku akibat kelakuanku yang buruk. Untung saja Rei mengijinkan aku tinggal di rumah milik keluarganya yang sudah tidak terpakai itu, yang kini telah beralih fungsi sebagai markas kami," jawab Yuuma panjang lebar.
"Oh begitu," komentar Luka. "Aku turut prihatin dengan apa yang telah menimpamu. Kalau kau mau, kau bisa tinggal bersamaku. Aku sekarang tinggal di desa sendirian seperti biasanya. Jadi aku butuh teman untuk mengobrol,"
"Jadi Luka-nee tinggal sendirian? Sejak kapan?" kali ini Yuuma lah yang penasaran terhadap Luka.
"Sejak kalian meninggalkan rumah, kondisi ibu jadi makin buruk. Sikapnya menjadi semakin temperamental. Dia tidak pernah ada di rumah. Bahkan dia tidak pernah pulang ke rumah. Aku ditinggalkan begitu saja di apartemen sewaan kami di Tokyo. Hingga akhirnya dengan uang seadanya, aku kembali ke rumah nenekku di desa. Aku tinggal disana sampai sekarang. Sampai nenekku tiada dan aku jadi sebatang kara," kata Luka diakhiri dengan sebuah senyuman getir di akhir kalimatnya.
"Oh begitu," kata Yuuma. Kemudian suasana pun menjadi hening. Cukup lama mereka saling membisu sampai akhirnya Yuuma kembali membuka obrolan dengan Luka. "Kenapa Nee-san tiba-tiba mencariku?"
"Maksudmu?" Luka malah balik bertanya. "Maaf karena aku baru sekarang mencarimu. Bukannya aku tidak peduli terhadap keadaanmu. Tapi… Entahlah. Cukup rumit jika harus aku ceritakan dari awal. Aku sendiri tidak tahu kalau kita akan bertemu lagi dengan cara seperti ini. Kupikir ini adalah kebetulan yang aneh. Ketika aku melihat figura foto keluargamu, entah mengapa aku jadi terpikir untuk mencari dan menemukanmu. Aku ingin bertemu denganmu. Kurasa aku memang harus berterimakasih kepada Miku,"
Yuuma langsung mengernyitkan alisnya. Ia merasa tidak asing dengan nama gadis yang tiba-tiba disebutkan oleh kakaknya itu. "Miku?"
"Ah, tentu saja kau tidak akan mengenal dia. Dia adalah seorang gadis yang kukenal selama beberapa bulan ini. Aku pikir kalian seusia, malah sepertinya kalian satu sekolah. Kalau tebakkanku tidak salah, dia berada satu tingkat dibawahmu," lanjut Luka. "Mumpung aku bertemu denganmu sekarang, maka sekalian saja aku bertanya. Apakah kau mengenal Miku?"
"Hm…Namanya tidak terlalu asing," kata Yuuma.
"Jadi kau pernah bertemu Miku? Oh syukurlah! Aku benar-benar harus bertemu dan bicara dengannya," ucap Luka dengan nada lega. "Lalu apa kau tahu dimana ia tinggal? Kalian bertemu dimana?"
"Aku tidak yakin. Karena aku tidak terlalu ingat dengan gadis itu. Apa yang nee-san ketahui tentang dia? Misalkan nama lengkapnya? Atau ciri-cirinya?"
"Dia gadis yang manis. Rambutnya berwana turquoise panjang se-pinggang. Kasihan sekali dia. Sepertinya telah terjadi hal yang tidak menyenangkan pada dirinya yang tidak aku ketahui," lanjut Luka. "Kalau tidak salah namanya… Miku… Miku Hatsune,"
Kali ini Yuuma sedikit tersentak. Rupanya ia mengingat sesuatu mengenai gadis itu. Wajahnya langsung muram seketika. Ia menundukan pandangannya dari Luka.
"Ada apa?" tanya Luka begitu ia menyadari perubahan ekspresi pada Yuuma. "Jadi kau tahu siapa Miku?"
"Kuharap aku salah nee-san. Kuharap bukan gadis itu yang nee-san maksudkan," ucap Yuuma pelan. Raut wajah Yuuma memucat. Ia terlihat begitu gelisah saat itu.
"Maksudmu?" Luka tidak mengerti. Beberapa lama kemudian, Luka membelalakan matanya. Ia menatap Yuuma dengan tatapan menyalang penuh amarah. "Jangan-jangan kau yang sudah merusak dia? Kau kan orangnya? Katakan!"
Yuuma sama sekali tidak menjawab pertanyaan Luka. Yang dilakukannya hanyalah menundukan wajah. Ia merasa malu sekaligus tidak berani menatap wajah kakaknya itu. Bagaimanapun juga, itu semua memang kesalahannya. Dialah laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hidup gadis itu, kekasih adik temannya sendiri.
"Yuuma! Jawab aku!" desak Luka keras. Tubuhnya bergetar karena menahan amarah.
"Iya! Aku orangnya! Aku yang sudah merusak gadis itu! Miku Hatsune, kekasih Kaito Shion!" Yuuma mengakuinya.
Seketika itu tamparan keras kembali mendarat di wajah tampan Yuuma. Kejadian itu menarik perhatian para pengunjung kedai kopi itu. Suasana hingar bingar di siang hari itu berubah menjadi keheningan seketika akibat insiden itu.
TBC
Maafkan karena telat update TwT. Saya usahakan updatenya bisa lebih cepat di chapter mendatang. Terimakasih untuk semua yang sudah membaca. Ini balasan reviewnya:
Mizuki Akari Chan: Hihi sepertinya sudah bisa menebak ini akan berakhir dengan pair apa TwT semoga tidak kecewa dengan kelanjutan ceritanya ^^ Maaf baru update sekarang xD
Go Minami Asuka Bi: Ada salah kalimat ya? Gomen ne, nanti akan saya perhatikan lagi ^^ arigatou sudah me-review ^^ Miku pergi kemana? Kayaknya ke hatiku deh xD *kicked*
CelestyaRegalyana: Ini sudah lanjut (walaupun telat banget) Gomen ne TwT
hithosihayabusa: Hehe arigatou untuk reviewnya ^^ Yokatta, kalau ceritanya tidak mengecewakan ^^ Maaf gak bisa update kilat hehe. Untuk adegan berantem dan kisah selanjutnya, ditunggu aja ya… selamat penasaran hihihi. Mudah-mudahan bisa update kilat, soalnya banyak list cerita lain yang mengantre ^^ Oh iya maaf kalau ceritanya mudah ketebak, abisnya dalam hal ide saya mulai kehabisan ide untuk saat ini xD
Rei Atsuko: Hihihi makasih Rei-san sudah menunggu ^^ Maaf update nya lama ^^ sebenarnya Lenny sudah muncul disini, untuk kaito mungkin chapter depan XD
Lave Cheney: Maaf karena update telat TwT *dihajar* Mikunya galau enggak ya? hihi chapter depan Mikunya muncul kok xD
SyifaCute: Hihi maaf baru update sekarang, Mudah-mudahan tidak kecewa menunggu lama xD
Itachannio: Hehe maaf karena updatenya lama TwT Ini sudah lanjut. Mudah-mudahan rasa penasarannya sedikit terjawab di chapter ini xD
negitoro: Ini sudah update ^^
Himeria Rin: Hihi jawabannya ada di chapter-chapter berikutnya ^w^
Yosh, sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^
