May I Love U?

.

.

Haehyuk Fanfiction

.

.

Author : You Know Me(?)

Other Cast : Jeno, Kim Ryeowook, Jessica Jung.

Genre : Romance. Hurt/Comfort. Freindship/? Family/? Tentuin sendiri aja yee XD

Warning : Yaoi. Boys Love. Male x Male. Fanfic absurd dengan penceritaan yang sangat amburadul. Miss (ty) bergentayangan.

Saiia hanya meminjam nama para Cast disini. Hanya cerita ini yang murni punya saiia.

Don't be Plagiat,Don't be flame, Don't be copy paste.

Selalu terapkan prinsip " DON'T LIKE DON'T READ." okehh!

.

.

Enjoy Reading~

.

.

Chapter 9

Dari semua hal yang ada didunia ini. Satu hal yang selalu akan menjadi mimpi buruk bagi seorang Lee Donghae,adalah dimana saat ia melihat dua sosok yang selalu ingin ia abaikan keberadaannya kini ada didepannya. Berdiri dengan tatapan yang menghunus sarat akan kesinisan. Membuat Donghae mendecih kesal,karena merasa sosok itu tidak berhak menatapnya dengan tatapan seperti itu. Donghae mengalihkan tatapan kedua matanya. Detakan jantungnya yang kini berpacu cepat seolah menandakan bahwa kini ia tengah merasakan kegelisahan yang teramat,tengah menyerang dirinya.

Tanpa sadar,bisikan akan tentang sebuah harapan membuatnya berdoa dalam hati,semoga sosok yang kini berdiri disampingnya tidak menyadari sikapnya. Mati-matian Donghae menjaga sikap untuk tetap tenang kala beberapa saat lalu,ketika tawa yang masih mengalun indah dari bibirnya,hilang begitu saja saat wanita bernama Jessica yang tengah menggandeng sang buah hati,tertangkap oleh kedua manik matanya.

Tidak akan menjadi masalah sebenarnya jika Jeno tidak menemukan keberadaannya. Karena memang wanita itu tidak melihatnya. Tapi agaknya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Membuat keringat dingin seolah memaksa keluar dari tubuh Donghae.

Donghae sudah bersiap akan memutar tubuhnya, dengan tak lupa membawa tangan Eunhyuk kedalam genggamannya,ketika sebuah suara mengintrupsinya, menghentikan gerakan kakinya.

Donghae tidak bergeming. Masih membelakangi seseorang yang baru saja menyebut namanya. Bahkan niatan untuk memutar tubuhpun tidak terpikir olehnya. Justru,namja yang tangannya masih ia genggamlah yang memutar tubuhnya. Memandang dengan bingung seorang yeoja yang melangkah menghampiri mereka dengan seorang anak kecil yang memandang keduanya dengan senyum lebar.

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini."

Sedikitnya Donghae menyesal mengajak pergi Eunhyuk,yang kini memandangnya bergantian dengan sang yeoja dengan kerutan bingung didahinya.

"Kita pergi." Donghae menggumam tegas sembari membawa Eunhyuk untuk mengikutinya.

Jessica tersenyum sinis melihat punggung Donghae yang semakin menjauh. Dengusan keluar dari bibirnya melihat namja yang tengah digandeng Donghae.

Jessica menunduk saat merasa tangannya ditarik pelan oleh seseorang yang berdiri tepat disampingnya. Sembari tersenyum lembut,Jessica menundukan tubuhnya.

"Waeyo?"

"Appa."

Jessica tersenyum tipis seraya mengusap lembut rambut anaknya."Ne."

Sontak bibir Jeno mengerut lucu saat mengingat Donghae yang mengabaikannya seperti biasa.

"Appa Napeun."

"Hm? Waeyo baby?"

"Appa pelgi ninggalin Jeno. Padahal Jeno ingin jalan-jalan sama Appa."

Jessica tersenyum kecut mendengar perkataan polos anaknya. Sedikit menggeram marah karena Donghae yang selalu mengabaikan keberadaan anak kandungnya sendiri.

Jessica membawa Jeno kedalam gendongannya. Mendekapnya erat sembari kembali melangkah untuk kembali ketempat tujuannya membawa jeno jalan-jalan bersama menghabiskan akhir pekan.

Jessica mengecup sayang pipi gembil Jeno saat ingatan tentang bagaimana terpuruknya ia dulu,kini menghampiri pikirannya. Ia bukanlah anak dari keluarga yang tidak mampu yang membuatnya harus berkerja extra keras untuk menghidupi kehidupannya. Tidak. Sepatutnya ia bersyukur karena lahir dari keluarga kaya yang tidak membuatnya kekurangan seuatu apapun.

Kehidupan bebas seolah sudah menjadi garis hidup yang ia pilih,dan entah kenapa kedua orang tuanya membiarkannya begitu saja. Berkedok menjadi anak satu-satunya dalam keluarga,membuat ia tubuh menjadi sosok yang pembangkang. Entah takdir yang memang harus mempertemukan keduanya,tapi hal itu membuatnya bertemu dengan Lee Donghae. Seseorang yang kehidupannya tak berbeda jauh seperti dirinya.

Pertemuan malam itu entah kenapa membuat benang ketertarikan semu diantara keduanya berlanjut hingga ke atas ranjang. Ia tidak mencintai Donghae,pun sebalikanya. Mereka tidak saling mencintai. Apa yang mereka lakukan pada malam itu tak lebihnya hanya sebuah kebutuhan akan kepuasan nafsu yang menggebu.

Tidak. Ia bukanlah seseorang yang akan melakukan hubungan badan dengan sembarang orang. Sekalipun kehidupannya sudah terlalu bebas,tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa melakukan hal seperti itu. Pun begitu, keduanya sepakat hanya akan menganggap semua hal yang terjadi malam itu tak lebih dari pertemuan singkat diantara mereka. Bukankah seharusnya seperti itu? Dua orang yang tak saling mengenal, bertemu,dan berakhir di atas ranjang bukankah akan lebih memilih untuk melupakan kejadian yang memang seharusnya mereka lupakan?

Dan entah siapa yang bodoh hingga membuat keduanya saling melempar tatapan tajam,saat dengan tegas Jessica mengatakan pada Donghae bahwa dirinya hamil. Anak Donghae tentu saja. Setidaknya itu menurut Jessica. Tentu saja Donghae tidak akan percaya. Baiklah jika Jessica benar-benar hamil,tapi apa benar jika itu adalah anaknya? Dan perkataan itu sukses membuat Donghae mendapat satu tamparan dari Jessica.

Jessica menangis. Sumpah serapah serta umpatan dilayangkannya pada Donghae yang meninggalkannya sendiri begitu saja. Jessica tidak bodoh,hingga tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya.

Jessica terpuruk. Membuat ibunya menangis dalam diam melihat keadaannya. Kedua orang tuanya memang sudah mengetahui semuanya. Membuatnya mendapat tamparan keras dari sang ayah,saat ucapan penuh tekad,tentang ia yang ingin menyingkirkan janin yang kini ada diperutnya. Jessica semakin tersedu saat justru ibunya memeluknya dengan erat. Menyuruhnya untuk tetap merawat janin itu. Menyayanginya bersama-sama mereka dengan tulus.

Dan Jessica patut bersyukur karena memiliki kedua orang tua yang teramat menyayanginya. Ah,jangan lupakan seseorang yang menjadi adik angkatnya. Membantunya dimana saat ia benar-benar dalam keadaan terpuruk,hingga kini bisa kembali berdiri.

Jessica tidak pernah menuntut apapun dari Donghae. Satu yang selalu ia harapkan adalah Donghae bisa menerima Jeno sebagai anaknya. Biar bagaimana,Jeno adalah darah dagingnya sendiri. Sekalipun kehadirannya tidak pernah diharapkan. Memperlakukan bagaimana semestinya orang tua memperlakukan anaknya. Tidak mengabaikannya seperti orang lain yang tidak pernah saling mengenal.

.

.

Haehyuk Fanfiction~

.

.

Eunhyuk memandang bingung wajah Donghae yang duduk disampingnya yang sudah terdiam sejak tadi. Sepasang mata teduh itu kini bahkan memandang kosong kedepan sana. Niat hati ingin mencairkan keheningan yang terjadi diantara keduanya,justru membuat Eunhyuk mendengus kesal karena merasa diabaikan.

Eunhyuk terdiam. Memilih untuk membiarkan sang kekasih hati,dan berganti menatap danau yang sudah memproyeksi langit jingga sore ini dengan senyum tipis. Ingatannya kembali menerawang memikirkan hubungannya dengan Donghae selama 3 bulan ini. Ia seolah menemukan sisi Donghae yang lain. Donghae yang penyayang dan lembut. Tidak seperti Donghae yang selama ini ia kenal. Playboy yang suka menggoda gadis-gadis cantik.

Donghae yang ia kenal sekarang adalah sosok yang selalu bisa mengerti dirinya. Seseorang yang selalu berusaha untuk membuatnya bahagia. Entah pergi kencan berdua disetiap akhir pekan atau hanya hal-hal kecil berupa kecupan selamat pagi yang selalu Donghae berikan padanya kala keduanya bertemu dikali pertama disetiap pagi.

Donghae nya romantis. Setidaknya seperti itulah menurut Eunhyuk. Seseorang yang bahkan belum pernah merasakan bagaimana bahagianya memiliki seseorang yang mencintainya seperti sekarang ini.

Chup

Eunhyuk berjengit kaget mendapat kecupan tiba-tiba dipipinya. Bibirnya sontak mengerucut maju saat melihat Donghae yang tengah tersenyum menyeringai menatapnya.

"Kau melamun."

Mengingat itu,Eunhyuk semakin memajukan kedua belah bibirnya. Membentuk sebuah kerucutan dengan sempurna. Donghae terkekeh gemas melihatnya.

Chup

Kembali Donghae mendaratkan bibir tipisnya. Jika tadi dipipi,kini Donghae lebih memilih untuk membungkam bibir menggoda Eunhyuk.

"Ya!"

Donghae tertawa pelan mendengar pekikan Eunhyuk."Kau kenapa hm?"

"Tidak apa-apa."

Donghae memandangnya aneh mendengar jawaban cuek pria kesayangannya."Kau tidak akan mengerucutkan bibirmu seperti itu jika kau sedang tidak kesal Baby."

"Nah, itu sudah tau." Kata Eunhyuk sedikit kesal.

Donghae terkekeh,"Maka katakan padaku apa yang membuatmu kesal hm?"

"Kau mengabaikanku sejak tadi."

Donghae tergelak mendengarnya. Oh ya ampun,apa kekasihnya tengah merajuk sekarang?

"Oke,maafkan aku jika kau merasa terabaikan." Donghae menangkup kedua pipi Eunhyuk.

"Apanya yang merasa? Kau memang mengabaikanku. Melamun sendiri, padahal kekasihmu sedang duduk disampingmu." Eunhyuk mencubit gemas pinggang kekar Donghae. Membuahkan ringisan pelan dari bibir tipis namja tampan yang kini memilih mengusap pinggangnya.

"Ya! Appo Baby."

Eunhyuk mendengus jengkel setelahnya. Mengabaikan begitu saja Donghae yang masih meringis,dan lebih memilih untuk menatap Donghae dengan diam. Dalam hati,namja manis itu meringis melihat Donghae yang masih mengernyit sakit.

"Berlebihan sekali." Eunhyuk mencibir. Ikut mengusapkan telapak tangannya pada pinggang Donghae yang sudah menjadi korban keganasan tangannya.

Donghae tersenyum lembut menatap wajah putih Eunhyuk yang tengah berkonsentrasi pada kegiatannya mengusap pinggangnya. Kepalanya ia majukan untuk bisa menjangkau kening Eunhyuk, dan menempatkan sebuah kecupan ringan disana dengan sayang.

"Aku mencintaimu."

Gerakan tangan Eunhyuk sontak terhenti. Kepalanya mendongak cepat. Dan senyuman lembut Eunhyuk ukir kala menemukan Donghae tengah menatap lembut padanya.

"Ada apa denganmu hm? Aneh sekali."

Kening Donghae mengernyit kesal mendengarnya."Tega sekali kau mengatakan kekasihmu aneh setelah mendengar ungkapan cintanya." Donghae mencibir.

"Kenapa? Kau memang aneh hari ini." Kata Eunhyuk cuek.

Donghae mendecak. Keheningan kembali menyelimuti keduanya saat Donghae memilih untuk tidak membalas ucapan kekasihnya. Membuat Eunhyuk kembali mengernyit bingung karena tidak mendengar sahutan Donghae. Membenarkan asumsinya tentang Donghae yang tidak seperti biasanya.

Dan Eunhyuk pikir,keanehan yang terjadi pada diri Donghae terjadi setelah kejadian tempo hari. Saat keduanya bertemu dengan seseorang yeoja yang kala itu menyebut nama Donghae.

Seakan tersadar,Eunhyuk menatap cepat wajah Donghae yang kini tengah terpejam disampingnya. Eunhyuk memandang lama wajah tampan itu. Mencoba mencari keanehan apa yang sekiranya bisa ia dapatkan jawabannya dari menatap wajah itu. Konyol memang, tapi entah kenapa,Eunhyuk seolah mendapat sesuatu yang beberapa hari ini seolah ia lupakan.

"Hae."

"Hm?"

"Siapa wanita itu?" Eunhyuk ingat jika pertanyaannya saat itu belum mendapat jawaban sama sekali. Yang ia dapatkan hanyalah wajah gelisah Donghae. Membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Ia pikir sesuatu tengah mengganggu pikiran Donghae. Dan Eunhyuk hanya mengangguk mengerti saat Donghae hanya melempar senyum tipis padanya. Sangat tipis.

Kening Donghae terangkat bingung. Wanita itu? Wanita mana yang Eunhyuk maksud? Tidak. Bukan karena Donghae sedang ingin bercanda hingga dia harus bertanya siapa wanita yang Eunhyuk maksud. Ia sungguh tidak tahu,bukan karena berpura-pura tidak tahu.

Dan Donghae seolah mendapat tamparan tak kasat mata saat ingatan tentang seorang wanita yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya merasuk kedalam angannya. Tidak. Bukan wanita itu kan yang Eunhyuk maksud?

Untuk sesaat Donghae menahan napasnya. Kedua bola matanya bergerak gelisah. Membuat Eunhyuk mengernyit bingung melihatnya. Apa ada sesuatu yang tengah Donghae sembunyikan? Dan Eunhyuk tidak tahu kenapa ia bisa berpikir seperti itu sekarang.

"Hae?"

"Hm?" Dongae memaksakan sebuah senyuman. Mencoba untuk menutupi kegelisahan yang kembali melanda dirinya saat kenyataan yang satu itu cukup membuatnya tak bisa tenang jika sudah mengingatnya.

"Kau kenapa?" Tanya Eunhyuk. Menggenggam lembut tangan Donghae sembari menatapnya cukup intens. Mencoba mencari sesuatu yang sekiranya bisa Eunhyuk temukan dari tatapan mata Donghae. Dan hati Eunhyuk mencolos saat ia menemukannya. Sesuatu tengah Donghae sembunyikan, dan itu berhubungan dengan dirinya. Ia yakin dengan pasti. Tatapan mata Donghae terlihat begitu berbeda. Tak ada sinar lembut yang membayangi mata itu kini. Hanya ada kegelisahan.

"Wanita mana yang kau maksud Baby?" Donghae menggumam pelan. Cukup bersyukur karena ia yang kini masih bisa menjaga suaranya.

"Wanita yang tempo hari memanggil namamu saat kita pergi ke taman bermain." Jelas Eunhyuk. Menatap intens wajah Donghae.

Donghae meneguk lidahnya pelan-pelan saat yakin Jessica lah wanita yang Eunhyuk maksud.

Donghae menggeleng,"Bukan siapa-siapa Baby." Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Eunhyuk sembari mencoba tersenyum meyakinkan.

"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Tanya Eunhyuk menyelidik.

"Apa maksumu Baby? Kau tidak percaya padaku?" Kata Donghae dengan sedikit penekanan.

"Bukan seperti itu. Maafkan aku." Dan Eunhyuk lebih memilih untuk membawa tubuhnya untuk mendekap Donghae. Membenamkan kepalanya dilekukan leher jenjang itu. Mencoba mencari ketenangan dari pelukan hangat Donghae yang selalu ia dapatkan.

Entahlah. Sesuatu hal seperti tengah membayangi hati dan pikirannya sekarang. Sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu.

Donghae terdiam. Tangannya yang mendekap tubuh Eunhyuk mengerat. Seolah seperti memberi tahu pada sang pemilik tubuh,bahwa ia tidak akan pernah melepaskan pria kesayangannya ini. Seseorang yang tanpa sadar sudah menjadi bagian lain dari tubuhnya. Sangat penting,hingga jika bagian penting itu pergi dari tubuhnya,ia akan mati.

Donghae bahkan tidak sadar saat segaris air meluncur dari mata teduhnya. Ia sangat mencintai Eunhyuk. Lebih dari itu,ia bahkan berpikir jika ia akan melakukan semua hal untuk membuat pria tercintanya itu bahagia. Sekalipun itu akan membunuhnya.

Mengerikan sekali bukan?

"Aku mencintaimu. Ku mohon tetaplah disampingku, apapun yang terjadi."

.

.

.

.

"Aku baru tahu kalau kau mantan kekasih dari seorang Cho Kyuhyun."

Ryeowook mengumpat pelan mendengar suara Eunhyuk yang baru saja berbisik ditelinganya. Bukan karena apa yang dikatakan pria manis itu yang membuatnya berjengit kaget,tapi karena kemunculan tiba-tiba dari seorang siluman monyet penyuka susu strawberry macam Eunhyuk lah yang mengagetkannya.

"Kau membuatku kaget Hyung!" Ryeowook mendelik saat justru Eunhyuk tertawa lebar seperti itu. Sial!

Eunhyuk menghela napas pelan. Mencoba menetralisir suaranya untuk tidak kembali tertawa melihat Ryeowook yang kini sudah memandang kesal padanya.

"Baiklah-baiklah maafkan aku oke." Eunhyuk mendudukan diri disamping Ryeowook. Namja mungil itu kini tengah menyeruput ice coffenya dengan pandangan menerawang.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ryeowook, melirik Eunhyuk sebentar sebelum kembali menatap pemandangan diluar sana.

"Tidak ada. Hanya penasaran melihat kau duduk seperti ini disini. Untung saja Cafe tidak sedang terlalu ramai hari ini. Kalau tidak,aku yakin Kyuhyun sudah mencincangmu."

"Kau cerewet sekali."

Eunhyuk melongo mendengarnya. Hell no~ ia bahkan selalu berpikir jika Ryeowook lah yang cerewet. Dan sekarang, namja mungil itu mengatainya cerewet? Yang benar saja? Eunhyuk mendengus.

"Nah,ayo katakan padaku. Apa benar kau pernah berpacaran dengan Kyuhyun?" Eunhyuk menghadapkan setengah tubuhnya pada Ryeowook.

"Kenapa ingin tahu?"

"Ayolah Wookie."

"Ya,seperti itu lah." Ryeowook mengidikian kedua bahunya.

"Hah? Benarkah?" Eunhyuk memandang Ryeowook.

"Kau berlebihan sekali Hyung." Cibirnya.

"Maaf. Aku baru tahu soalnya," Eunhyuk meringis,"Lalu kenapa kalian putus?" Lanjutnya setelah duduk dengan benar.

"Tidak apa-apa. Sudah tidak cocok saja."

"Ada begitu,alasan yang seperti itu?"

"Ck. Menurutmu ada tidak?" Ryeowook memandang malas Eunhyuk yang menatap padanya.

"Entah."

Ryeowook menghela napas gusar.

"Pantas saja kau terlihat canggung jika sudah bertemu dengannya. Kenapa? Kau masih menyukainya?"

"Ya! Kenapa bisa berpikir seperti itu?"

Eunhyuk mengidikan kedua bahunya. Matanya memandang kedepan sana dengan pikiran menerawang. Tak lama sampai kesunyian menyelimuti mereka berdua.

"Aku masih tak habis pikir kenapa kau mau bekerja di Cafe seperti sekarang mengingat kau memiliki orang tua yang cukup kaya." Eunhyuk menggumam pelan.

Ryeowook menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan Eunhyuk selanjutnya. Dan tersenyum tipis setelahnya."Aku hanya anak angkat Hyung,kau tahu itu."

"Tapi mereka menyayangimu seperti anak mereka sendiri Wookie. Setidaknya seperti itu lah yang ku dengar darimu."

Ryeowook tersenyum lagi,"Ya,mereka menyayangiku. Tidak membeda-bedakan antara aku dengan Noona ku yang memang anak kandung mereka.

"Kau beruntung." Eunhyuk tersenyum lembut.

"Ya,aku beruntung memiliki mereka."

.

.

.

.

"Hyungie."

Teriakan itu menghentikan langkah kaki Ryeowook yang akan memasuki kamarnya. Tersenyum lembut melihat namja kecil yang kini berlari pelan menuju kearahnya. Ryeowook menunduk untuk menerima dekapan namja kecil yang kini sudah ada dalam gendongannya.

"Merindukan Hyung hm?"

Namja kecil yang ada dalam gendongannya mengangguk lucu,bahkan tangannya sudah mengalung lembut dileher Ryeowook.

"Sudah pulang Wookie?"

Ryeowook memutar tubuhnya. Dan tersenyum lembut menatap sesosok wanita paruh baya yang sangat disayanginya itu kini melempar senyum lembut padanya."Sudah Eomma."

"Turunlah sayang. Kasihan Wookie Hyung."

"Tidak apa-apa Noona,mungkin bocah kecil ini sangat merindukan Hyungnya." Ryeowook tertawa sembari mengecup gemas pipi gembil namja cilik yang kini mengerucut mendengar ucapan ibunya.

"Benal kata Wookie Hyung,Eomma. Jeno kan melindukan Wookie Hyung,kenapa tidak boleh cih."

Sementara 3 orang dewasa itu tergelak mendengar perkataan polos namja yang baru saja menyebut dirinya Jeno itu.

"Ya sudah. Aku pergi kekamar dulu Eomma,Noona. Biarkan jagoan kecil ini ikut denganku."

Jeno memeletkan lidah pada Eommanya sebelum hilang kedalam kamar Ryeowook.

"Anak itu." Jessica menggeleng gemas.

"Dia sangat menyayangi Wookie,Sicca."

"Aku tahu Eomma."

.

.

.

Ryeowook mendudukan Jeno diatas ranjangnya. Membuat namja kecil kesayangan pria mungil itu langsung berbaring nyaman diranjang sang Hyung. Sebenarnya baik Ryeowook maupun Jessica atau kedua orang tuanya,sudah menyuruh Jeno untuk memanggil Ryeowook dengan sebutan Ahjussi- mengingat Ryeowook adalah adik dari Jessica. Tapi agaknya,sifat keras kepala Donghae- menurut Jessica- benar-benar menurun pada Jeno. Terbukti karena sang buah hati keukeuh tidak mau memanggil Ryeowook dengan sebutan Ahjussi. Menurutnya, Ryeowook terlalu manis untuk ia panggil dengan sebutan itu. Yang mana,hal itu sukses membuat para orang dewasa menggeleng gemas mendengarnya.

"Kenapa belum tidur hm? Tumben sekali." Ryeowook berjongkok disamping ranjang. Sementara Jeno kini tengah tengkurap dengan wajah menghadap kearahnya.

Jeno mendudukan diri,dan menatap polos pada Ryeowook yang kini memandang sayang padanya. Mengingat kembali akan sesuatu yang membuatnya tidak bisa tidur agaknya membuat Jeno kesal. Terbukti dengan wajanya yang kini tengah mengerut lucu.

Ryeowook terkekeh gemas melihatnya. Tangannya terulur untuk mengelus sayang pipi keponakannya. "Wae Geure?"

Bahkan mata yang selalu bersinar polos itu kini sudah berkaca-kaca.

"Jeno kangen Appa." Cicitnya pelan dengan kepala menunduk.

Sebenarnya ini lah yang membuat namja kecil itu tak kunjung bisa memejamkan matanya sejak tadi. Bahkan sekarang,waktu sudah menunjukan pukul setengah 11 malam. Yang mana,biasanya Jeno sudah terlelap dalam tidurnya dari satu setengah jam yang lalu.

Ryeowook sendiri kini memandang lembut pada Jeno. Bukan hal baru lagi memang,mendengar Jeno yang akan selalu mengatakan rindu tentang ayahnya yang memang tidak bisa setiap hari selalu bersamanya. Ryeowook tahu tentang masa lalu Jessica tentu saja. Hanya yang tidak ia tahu hingga sekarang adalah,sosok ayah dari sang keponakan itu sendiri. Ia bukannya tidak pernah mencoba untuk mencari tahu. Hanya saja,jika ia sudah menyerempet ke hal-hal yang seperti itu,hanya wajah geram Jessica lah yang selalu ia dapatkan. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bungkam. Jadi,ia lebih memilih untuk tidak menanyakannya lagi.

Ryeowook tersenyum lembut melihat Jeno yang sudah berbaring nyaman diatas ranjangnya dengan mata terpejam. Sepertinya,saat ia tengah melamun,tangannya yang tak berhenti mengelus rambut sang keponakan membuat Jeno jatuh terlelap. Ryeowook terkekeh,memajukan wajahnya untuk mengecup sayang kening Jeno dan berbisik pelan.

"Jaljayo Baby."

.

.

May I Love U?

.

.

Donghae baru saja akan menaiki tangga menuju kamarnya dilantai dua saat mendengar suara Mr. Lee mengintrupsinya. Seperti De Javu,ia memutar tubuhnya dengan gerakan malas.

"Ada yang ingin Appa bicarakan." Mr. Lee memutar tubuhnya tanpa mau repot-repot mendengar balasan Donghae. Melangkah dengan tegas menuju ruang keluarga dengan sang istri yang kini membuntutinya.

Donghae mengela napas pendek. Memilih untuk menuruti perintah sang ayah yang membuatnya terpaksa menunda tujuannya untuk cepat-cepat sampai dikamarnya. Bukan apa-apa,hanya saja,entah kenapa ia merasakan kelelahan yang teramat di hari ini. Lelah pikiran sebenarnya,jika Donghae mau mengakuinya.

Percaya atau tidak,sejak pembicarannya dengan kekasih tersayangnya- Eunhyuk- tempo hari. Seolah semua hal yang berhubungan dengan wanita itu dan tak lupa sang namja cilik,merangsak masuk kedalam pikirannya. Seperti memaksanya untuk terus mengingatnya hingga membuatnya selalu gelisah. Donghae sadar,sangat sadar malah,jika suatu saat nanti Eunhyuk pasti akan tahu kebenarnnya. Dan itu yang justru semakin membuatnya tidak bisa tenang. Ia takut jika Eunhyuk mengetahui kebenaran tentang siapa ia sebenarnya,membuat namja manis itu pergi meninggalkannya. Ia akan mengatakannya,itu pasti. Ia hanya butuh waktu untuk itu. Sampai saatnya tiba,bisakah Donghae berharap jika semuanya akan baik-baik saja?

Ia mencintai Eunhyuk. Sangat. Dan itu sudah seperti sebuah mantra bagi Donghae yang memang tidak mau kehilangan sosok Eunhyuk didalam hidupnya. Sampai ia siap memberi tahunya sendiri. Sampai ia siap untuk kehilangan Eunhyuk,walapun ia tahu jika ia tak akan pernah siap untuk kehilangan Eunhyuk. Karena Donghae tahu,saat dia memilih untuk mengatakannya pada Eunhyuk,maka Donghae harus siap dengan semua kemungkinan terburuk. Mungkin tentang Eunhyuk yang akan meninggalkannya dengan rasa kebencian yang memupuk dihati pria kurus itu adalah satu hal terburuk yang Donghae pikirkan untuk saat ini.

"Seseorang mengirimkan ini pada Appa." Mr. Lee melempar sebuah amplod dengan ukuran sedang keatas meja,tepat setelah Donghae duduk didepannya.

Kening Donghae berkerut bingung. Matanya menatap lama pada amplot tersebut,sebelum menatap wajah tegas Mr. Lee.

"Appa tidak tahu siapa yang mengirimkannya,dan apa motifnya. Dan yah,Appa cukup kaget melihat isinya." Mr. Lee menyenderkan setengah badannya pada sandaran kursi. Sembari menunggu Donghae membuka amplop tersebut,dan menjelaskan padanya.

Benar saja,tak lama,sampai Donghae membawa amplop itu untuk digenggamnya dan membukanya. Menemukan beberapa lembar photo dirinya dengan sang kekasih,Eunhyuk.

Mr. Lee mengira,bahwa ia akan menemukan wajah kaget Donghae setelah melihat apa isinya,seperti dirinya saat baru pertama kali melihat photo-photo itu. Tapi,yang terlihat justru wajah bingung Donghae.

"Kapan Appa mendapatkannya?" Tanya Donghae sembari mengamati photo-photo itu.

"Tadi pagi. Seseorang mengirimkannya ke alamat perusahaan."

Donghae mengangguk sekali. Tersenyum tipis saat mata teduhnya menemukan sebuah photo dimana dirinya tengah menggandeng tangan Eunhyuk dengan mereka yang saling menatap. Dan pemandangan itu tak luput dari pasang mata suami istri yang duduk didepan Donghae.

"Jadi. . . siapa namja itu?" Tanya Mr. Lee lagi.

"Kekasihku." Jawab Donghae cepat. Tanpa mau menutup-nutupi akan kebenaran status mereka.

Mr. Lee mengangguk mengerti. Lain Mrs. Lee yang sempat melotot syok mendengarnya.

"Sudah Appa duga."

Donghae memandang cepat pada sang ayah.

"Donghae-ah. Apa maksudmu dengan dia kekasihmu?" Tanya Mrs. Lee yang sejak tadi terdiam.

"Bukankah sudah jelas. Dia kekasihku sekarang." Donghae menggumam datar.

"Eomma tidak keberatan kau mau menjalin hubungan dengan siapa,Donghae. Bahkan lelaki sekalipun, selama itu baik buatmu,tapi bagaimana dengan Jeno? Jessica?" Jelas Mrs. Lee lagi.

Donghae mendengus mendengar dua nama itu kini dibawa-bawa dalam pembicaraannya.

"Aku tidak peduli."

"Apa maksudmu dengan tidak peduli? Baiklah jika itu Jessica,tapi bagaimana dengan Jeno? Jeno anakmu Donghae. Apa namja itu sudah tahu tentang Jeno?"

Donghae terdiam. Membuat Mrs. Lee mendecak melihatnya."Kau membohonginya?"

"Aku akan mengatakannya nanti." Donghae menggumam tegas. Walaupun nada keraguan masih terselip.

Mrs. Lee mendesah pelan. Tidak yakin akan ucapan sang putra yang kini terdiam dengan tatapan menerawang.

Kesunyian kini menunjukan eksistensinya hingga beberapa kali hembusan napas yang terdengar. Jika Donghae terdiam yang kemungkinan tengah memikirkan tentang ucapannya sendiri tadi, dan Mrs. Lee yang juga terdiam,yang mungkin juga memikirkan ucapan Donghae,Mr. Lee justru berpikir lain.

"Donghae-ah."

Donghae tidak menjawab,hanya menatapkan matanya untuk menatap wajah sang ayah dalam diam.

"Menurutmu,kenapa seseorang itu mengirimkan photo-photo itu pada Appa?"

.

.

.

.

TBC~

.

.

.

Hallo epribadiiiiii. . . . Anyone Miss me? #plok Hahahahaha. . .

Ada yang masih inget ini penpic? Krik. . . krik. . . krik

Okeh,sebelumnya saiia mau minta maaf karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kelanjutan ff ini. Seperti yang pernah saiia bilang di note ff saiia yang lain,saiia mengalami stuck di ff ini. Alur cerita yang tidak saiia pikirkan matang-matang saat memilih untuk membuat ini ff,agaknya membuat saiia mati kutu. Dan banyaknya cast yang saiia gunakan disini seolah menjadi nilai tambah yang membuat saiia jadi pusing sendiri #Waks

Dan terlebih,saat ane mencoba membaca ulang ini ff,kepala ane seolah baru saja dijatohi kaos kaki Eunhyuk yang membuat ane pusing bukan kepalang #eh gara-gara,ternyataaaaaaaaaa tulisan ane masih jauh dari kata baik. Yassalaaam. . . #KekepinEunhyuk.

Jadi readerdeul,apa kalian juga merasakan pusing saat membaca ff ane? ane yakin siih ia #pundung.

Maap yee,maap banget baru sempet update. Dan maap juga belom bisa update GMASC. Nyampe ditagih di PM. Buakakak. . . Terima kasih ye yang udah mau sempet" ngingetin di PM buat cepet" update. Tapi mau bagaimana lagi,ane baru sembuh dari sakit. Terpaksa bedrest dolooo. Jadilah belom bisa update lagi.

Maap juga jika chap ini makin ancur. Makin absur. Makin gaje,atau apapun itu. Tapi ya sudahlah,mau bagaimana lagi. Udah takdirnya seperti ini #Apaini, jadi nikmtin aja ya. Wakakakak . . .

.

.

.

Hope U like itu : )

Sorr for typo,and

See Yaaa~

.

.

.

Selasa,10 Maret 2015

NoonaRyeo ~_*