A/N : Kita kembali ke fandom Harry Potter

Chapter 9

"Hari ini aku telah membunuh seorang manusia demi menyelamatkanmu…"

Kalimat itu terus terngiang di telinga Astarte. Meskipun Orion mengatakannya dengan nada tenang tanpa emosi seperti biasa, Astarte tahu betul kalau tunangannya itu sedang mendongkol. Well, Orion memang punya alasan untuk kesal. Dia orang yang sangat normatif. Sama saja seperti idola Orion seumur-umur, Ashriel, ayah Astarte. Mereka berdua adalah orang yang begitu tunduk kepada peraturan, seolah hidup takkan terasa nikmat tanpa adanya aturan. Saking banyaknya persamaan Orion dengan ayahnya, kadang Astarte berpikir kalau sebaiknya mereka saja yang dijodohkan, bukan dia.

"Yang Mulia Ashriel akan marah. Sangat marah. Beliau tidak akan suka jika tahu aku telah mendahului kewenangannya. Membunuh manusia, bayangkan saja bagaimana marahnya beliau nanti..."

Oh, begitu ya? Batin Astarte gemas. Keluhan Orion ini membuat perasaannya semakin tidak baik saja. Bukan apa-apa. Hanya saja Astarte merasa bersalah. Bersalah karena sudah nekat turun ke bumi, hal yang jelas-jelas sangat terlarang bagi putri sepertinya. Dan lagi dia juga kalah telak dalam pertarungan, menyisakan tubuh yang babak belur. Sudah pasti bukanlah hal yang pantas bagi bangsa Alexus, melihat putri mereka yang seharusnya anggun dan tetap cantik dalam segala suasana malah tampil seperti orang yang baru saja diseruduk banteng.

"Padahal Ashriel telah memberiku petunjuk tentang kemunculan iblis di titik itu. Semua akan jadi lebih mudah andai kau tidak turun ke bumi..."

Orion hanya menatap Astarte dengan sorot prihatin saat gadis itu melotot marah kepadanya. Diam-diam Astarte memuji cara Orion melemparkan kesalahan kepadanya. Ya ya ya. Dia memang sembrono, tak pernah berpikir panjang dan selalu cocok dijadikan biang keladi. Di antara semua putri yang dipingit di istana, dialah yang paling payah. Meski tampaknya semua rakyat Arcelia selalu memujanya, tapi Astarte sadar kalau dalam hati mereka mempertanyakan bagaimana bisa putri semacam itu mendapatkan jodoh kalau tidak pernah mau memperbaiki sikapnya.

Namun tak disangka, ternyata jodohnya memang ada. Bahkan Astarte sendiri tidak tahu pasti kenapa. Yang jelas Orion telah memilihnya. Dengan lugas dan sangat mantap di hadapan Ashriel ketika penguasa Arcelia itu menawarinya satu di antara sekian banyak putri yang ada di kerajaan sebagai penghargaan atas kesetiaannya selama ini.

Orion, yang punya kharisma sangat kuat hingga mampu membuat setiap orang yang dilaluinya membungkuk hormat tanpa sadar dan merendahkan suara saat berbicara kepadanya, adalah abdi kepercayaan Ashriel. Masih muda dan sangat berprestasi, membuat banyak putri mengaguminya. Termasuk juga Astarte yang selalu mencoba berpikir logis untuk tidak terlalu berharap. Masih ada Phaedra yang mahir berdansa dan bermain musik. Lalu Thiresia yang cerdas dalam berdebat tentang ilmu kenegaraan dan juga Sirens yang begitu lemah lembut keibuan. Mereka semua lebih layak mendampingi Orion, pikir Astarte.

"Kenapa kau memilihku?" tuntut Astarte pada Orion waktu itu.

"Karena kau yang paling susah diatur," jawab Orion tanpa basa-basi.

Jawaban yang benar adanya karena lagi-lagi Astarte memilih untuk melawan perintah Ayahnya dan juga Orion. Mengabaikan luka-luka di tubuhnya yang belum sembuh benar, gadis itu memutuskan turun sekali lagi ke bumi. Kini dia sedang menyesali akibat kenekatannya ini.

Tersangkut di dahan pohon yang cukup tinggi di halaman The Burrow bukan hal yang menyenangkan, kan? Terlebih lagi Astarte punya phobia ketinggian. Err, tidak salah? Well, memang begitulah kenyataan yang ada. Mengingat selama ini gadis itu baru dua kali turun dari Arcelia (terakhir kali dia mendarat di Russell Square), dia tidak menyangka kalau ternyata letak Arcelia cukup tinggi, maaf… maksudku sangat-sangat tinggi dari bumi. Pendaratannya kali ini tidak cukup mulus karena dia memejamkan mata rapat-rapat saat turun bersama halilintar tadi.

Astarte mengigit kuku-kuku jarinya, cemas. Terlebih karena dia merasa tidak ada Orion yang akan datang menolongnya. Pemuda itu tidak sedang berada di dekat-dekat sini. Sebagai informasi, saat pertama kali Astarte turun ke bumi, mulanya dia hanya bertujuan untuk menguntit Orion saja. Tapi justru dia malah tersasar cukup jauh dan tak sengaja bertemu dengan Charon. Jadi dibandingkan pengalaman pertama tadi, sebenarnya pendaratan kali ini lumayan juga. Paling tidak, dia tidak tersasar lagi. Hanya tersangkut di dahan pohon setinggi empat meter. Tidak parah-parah amat, kilah Astarte, mengabaikan kenyataan kalau sebenarnya dia tidak bisa turun dari pohon.

Mungkin ini bukan ide yang bagus, tapi dia tidak bisa mundur lagi. Dia sudah terlalu jauh bertindak. Beberapa saat yang lalu dia baru saja mencuri kunci Devil's Gate dari saku jubah Orion. Cukup mudah saja sebenarnya. Dia hanya perlu berpura-pura memeluk pinggang Orion sambil mengalihkan perhatian pemuda itu dan Orion sama sekali tidak sadar kalau kedua tangan Astarte sedang merogohi saku jubahnya. Namun hati Astarte sempat bergetar saat Orion balas mendekapnya erat dan membisikinya lembut.

"Aku hanya tak ingin melihatmu terluka lagi, Astarteku."

Ketika itu Astarte hanya tersenyum gugup sambil menata hatinya yang mendadak kacau. Dia tahu perbuatannya ini salah, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia bertekad ingin mencegah Devil's Gate terbuka demi bebasnya sepasukan iblis. Tak ada cara lain selain melakukan ini. Dalam hati kecilnya dia sudah bisa meramalkan kalau tidak hanya Orion yang akan marah besar saat tahu kunci Devil's Gate telah dicuri, tapi juga ayahandanya. Ashriel bisa saja mengutuknya menjadi sebatang korek api kalau dia tahu hal ini. Namun Astarte sudah siap dengan segala konsekuensi berat ini.

"Err, sekarang bagaimana cara untuk memancing Ginny Weasley keluar ya?" gumam Astarte yang masih nangkring di atas dahan pohon dan hanya bisa celingukan memandangi bangunan The Burrow yang tampak sepi dilatari langit kelam.

Gadis itu memejamkan matanya dan menarik nafas. Dia ingat dulu ayahnya pernah mengajarinya cyclo kinesis , semacam kekuatan hipnotis yang mampu mempengaruhi dan mengendalikan orang lain, bahkan jika penggunanya punya pancaran aura yang kuat, dia akan mampu menginterupsi pemikiran banyak orang hanya dengan menggunakan perasaannya saja. Sayang, Astarte belum terlalu menguasainya. Berbeda dengan saudari-saudarinya yang sepertinya sudah punya bakat alam dalam hal ini, yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah mempengaruhi seseorang untuk mengupil.

Untuk sekian kalinya Astarte menggerutu, bingung harus melakukan apa, sebelum akhirnya memutuskan untuk berkonsentrasi memanggil Ginny Weasley keluar rumah dengan kekuatannya yang minim. Dengan jari telunjuk menempel di pelipisnya dan kedua mata terpejam rapat-rapat, Astarte memanggil nama Ginny berkali-kali dalam hatinya. Semenit, dua menit. Belum terjadi sesuatu yang hebat, kecuali bongkahan-bongkahan salju dari atas pohon berjatuhan menimpuki kepala Astarte dan membuatnya kehilangan keseimbangan hingga jatuh terjungkal.

"Haduuuuh!"

Astarte merasakan punggungnya seperti mati rasa dan kepalanya pening bukan main. Sepertinya ada satu atau dua tulang iganya yang retak, karena Astarte merasa sedikit kesakitan setiap kali dia menarik nafas panjang. Well, dia baru saja jatuh dari ketinggian empat meter dan rasanya pasti sakit sekali. Untung tidak ada seorang pun yang menertawakan kekonyolannya ini.

Seolah belum cukup sial, bongkahan salju besar-besar yang menumpuk di atas pohon mendadak rontok bersamaan dan sukses menimbun tubuh Astarte yang masih terkapar kesakitan di bawahnya. Dengan agak kesulitan, kedua tangan Astarte menggapai-gapai. Memunculkan kepalanya dari dalam timbunan salju dan menyemburkan salju yang masuk ke mulutnya sambil terbatuk-batuk.

"Hai... kau tidak apa-apa, kan?"

Sontak Astarte terkesiap. Terdengar suara bernada cemas menyapanya. Dengan agak malu-malu, Astarte menengadah dan mendapati seorang gadis berambut merah sedang menatapnya dengan ekspresi khawatir. Ginny Weasley! Jadi dia berhasil memanggil Ginny dengan kekuatannya? Wow, ini baru pertama kali terjadi! Belum sempat Astarte bersorak senang dengan kesuksesannya yang ajaib ini, Ginny sudah menyahut.

"Aku sedang menuju kandang ayam saat melihat petir menyambar pohon ini dan melihatmu terjatuh dari atas. Apakah… apakah petir itu menyambarmu? Tapi kenapa kau bisa berada di atas pohon setinggi ini?"

Astarte tersenyum salah tingkah. Oh, rupanya begitu ceritanya. Ternyata kemampuannya masih saja payah seperti biasa.

"Bisa kau membantuku keluar dulu, ? Aku sedang terkubur hidup-hidup gitu loh."

Kening Ginny berkerut-kerut, masih terlihat curiga. Namun dia segera membantu Astarte keluar dari gundukan salju tanpa banyak tanya lagi.

"Jadi, siapa ka…?" mulut Ginny terbuka lebar sebelum dia meneruskan pertanyaannya. Sepertinya dia sudah tahu siapa gadis di hadapannya ini. "Rambut pirang madu dan wajah yang bersinar. Aku tahu siapa kau. Kau... gadis dalam mimpiku. Astarte!"

"Eh? Iya," balas Astarte pendek. Dia sedang sibuk membersihkan butir-butir salju yang mengotori pakaiannya dari atas ke bawah.

"Tapi… bagaimana kau bisa ada di sini? Jadi Arcelia benar-benar ada? Apa yang sedang kau lakukan di halaman rumahku? Kenapa wajahmu babak belur begitu?" berondong Ginny sebelum membekap mulutnya dengan ekspresi tidak percaya yang sangat kentara.

Astarte menarik nafas panjang dulu sebelum menjawabnya agak canggung. "Waduh, pertanyaanmu banyak sekali. Plis dong ah. Satu-satu gitu."

Hening sejenak. Astarte merasa agak tidak nyaman dalam situasi begini. Memang tadinya dia yang begitu ingin menemui Ginny Weasley. Tapi setelah bertemu, malah dia kesulitan untuk menyampaikan apa maksud kedatangannya.

"Begini, , aku datang untuk... untuk memberitahumu… tentang sesuatu…"

Ginny hanya terdiam. Kedua matanya terus menatap Astarte dengan tatapan menyelidik. Mungkin dia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau semua ini lagi-lagi hanya mimpi belaka.

"Duh, bagaimana caranya menjelaskan ya?" gumam Astarte, mempermainkan jemarinya yang terasa agak kebas. "Sebenarnya semua hal yang sedang terjadi di sini berawal darimu. Ya, bisa dibilang begitu."

"Apa maksudmu?" tukas Ginny agak bingung.

"Maksudku, kegelapan mengerikan ini, yang mengubah London nyaris seperti kota hantu. Lalu ada beberapa pembunuhan misterius di dunia manusia yang kalian sebut sebagai Muggle. Juga kekacauan cuaca dan kegelisahan parah di mana-mana. Pokoknya ngeri banged gitu deh…"

"Tunggu, yang kutanyakan adalah apa maksudmu dengan mengatakan kalau semua ini berawal dariku? Memangnya apa yang sudah kulakukan?" tuntut Ginny. Kebingungannya berubah jadi kekesalan. Bagaimana bisa tiba-tiba dia dipersalahkan untuk hal-hal yang diluar kendalinya. Bahkan dia sendiri juga tidak tahu apa penyebab semua keanehan ini.

"Well, secara tidak langsung, kau punya tanggung jawab juga, ," seloroh Astarte santai. "Kau sudah membunuhnya sih... Ups... "

Astarte mengigit bibir bagian bawahnya. Maksud hati menyampaikan berita dengan hati-hati agar Ginny tidak tersinggung, tapi dia malah keceplosan. Kadang dia memang suka ceroboh.

Seketika itu wajah Ginny memucat. Kengerian tergambar jelas di wajahnya. Astarte tahu kalau Ginny mengerti betul apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan ini. Namun sekali lagi gadis itu menolak untuk percaya.

"Aku tidak pernah membunuh siapa-siapa, nona Astarte!" tukas Ginny tegas.

"Kau terlihat tidak begitu yakin," ujar Astarte setengah meledek. "Atau sebenarnya kau sedang menyembunyikan sesuatu, tapi kau terus saja menolak kebenaran yang ada. Betul begitu?"

Kali ini Ginny menarik nafas panjang dan memantapkan dirinya untuk berkata, "Tidak!"

"Kita lihat saja, ," sahut Astarte kalem dan serta merta menempelkan telapak tangannya ke dahi Ginny. "Kita lihat apa yang terjadi beberapa waktu lalu."

000

Kebingungan, Weasley?

Lestrange, kau?

Aku punya alasan kuat mengapa aku harus membencimu. Bahkan aku sampai kesulitan menemukan hal yang bisa membuatku menyukaimu, dibandingkan dengan hal yang membuatku muak padamu.

Katakan apa alasanmu membenciku?

Katakan apa aku harus tidak membencimu kalau ternyata kaulah yang akan menjadi istri Harry, bukan aku?

A…aku tidak akan menjauhi Harry atau siapapun.

Kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada dunia fana ini, Weasley! Sampai jumpa di neraka!

Immobilus!

Protego!

Kedua mata Ginny terbelalak. Bibirnya gemetar hebat dan kedua tungkai kakinya melemas. Detik berikutnya dia merasakan kepalanya berdenyut dan sekujur badannya mulai mengigil. Dia ketakutan. Sangat ketakutan. Belum pernah dia merasa setakut ini. Namun jika kau sedang berada di posisi Ginny sekarang, pasti kau akan maklum kenapa gadis itu merasa takut.

Kilasan-kilasan sinar berwarna merah, ledakan dashyat yang mampu melumerkan lapisan salju tebal dan menghasilkan hantaran debu panas, teriakan-teriakan penuh amarah, sampai akhirnya Ginny melihat tubuh seorang gadis seumurannya terpental terkena terjangan mantra kutukan hebat yang berbalik ke arahnya. Ginny melihat semuanya dalam gerakan lambat. Bagaimana tubuh gadis berambut coklat itu melayang tanpa daya dan jatuh berguling-guling menghantam tanah. Juga ekspresi hampa yang tertinggal di wajahnya yang nyaris rusak. Semuanya membuat Ginny tidak hanya ngeri, tapi juga mual.

"Nah, kau sudah mengerti, kan?" kata Astarte, menjauhkan tangannya dari kening Ginny. "Gadis itu, Madeline Lestrange. Ya, sekarang dia sudah kembali dari kematiannya untuk mengejarmu. Dalam bentuk iblis, tepatnya. Orion yakin Madeline hanya ingin menuntut balas, tapi ada iblis lain yang mengendalikannya untuk berbuat hal yang jauh lebih buruk dari itu."

Ginny masih tampak sangat terpukul oleh kenangannya yang baru saja dipulihkan oleh Astarte. Kedua telapak tangannya berkeringat dingin dan gemetar, kedua tangan yang digunakannya untuk membunuh Madeline tanpa sengaja. Darahnya mulai berdesir kencang karena dipompa oleh jantung yang berdebar tak terkontrol. Hawa dingin yang mendadak terasa telah membangkitkan bulu kuduknya. Meski ketidakpercayaan masih kuat menyelubunginya, namun mau tak mau dia harus menelan pil pahit. Dia mulai menyadari apa arti mimpi buruknya beberapa hari yang lalu, bahwa Madeline Lestrange kembali untuknya. Madeline Lestrange datang untuk mencoba membunuhnya sekali lagi.

"Kita perlu bekerja sama, . Karena tidak hanya itu saja masalah besar yang sedang terjadi sekarang ini. Bisa dibilang, duniamu dan duniaku sedang terancam serbuan iblis, dan kita harus segera mencegahnya sekarang juga!" seloroh Astarte, tak peduli betapa pucatnya wajah Ginny sekarang ini.

"Mencegahnya? Bagaimana caranya?"

Pertanyaan Ginny ini hanya dibalas Astarte dengan seulas senyum misterius.