Sehun, Ji Hye, dan Jong Hee menghela nafas lega hampir besamaan ketika dokter yang menangani Jongin mengatakan bahwa kondisi sang pemuda yang sedang dirawat di salah satu kamar rawat dalam keadaan baik-baik saja. Hanya terlalu shock karna menerima banyak guncangan dan pikiran-pikiran rumit dalam satu waktu secara mendadak.
Ketakutan Sehun yang sempat mengira bahwa sang kekasih menderita penyakit asma secara diam-diam kini terbantahkan oleh analisis sang dokter. Sehun bersyukur bahwa pemuda yang ia cintai tidak memiliki riwayat penyakit serius. Tetapi ia tak yakin jika Jongin akan baik-baik saja setelah ini, terutama perasaannya.
Dengan laporan yang dokter sampaikan, ketiga orang yang mengenal Kim Jongin itu akhirnya meminta ijin untuk melihat keadaann Jongin. Ketika pria berjubah putih itu mengijinkan, ketiga orang berbeda usia itu pamit dan mulai berjalan menyusur lorong rumah sakit demi menuju ruangan dimana sang putra sulung Kim terbaring.
Dengan berbagai kecemasan dalam konteks berbeda-beda, Sehun berinisiatif membuka tirai kamar rawat Jongin. Tetapi hal yang selanjutnya terjadi adalah wajah terkejut yang menghiasi ketiganya.
Mereka benar-benar yakin kakak dari Kim Jong Hee itu dirawat disini. Tetapi, sosok yang mereka maksud dan mereka cemaskan tidak mereka temui. Jongin tak ada disana.
Anak itu menghilang.
.
.
.
Baby, U are Lonely... [sequel] THE LIGHT BEHIND YOUR EYES
SEQUEL CHAP 8...
Hurts-Romance-Drama-Slice of Live
YAOI!
Sehun, Jongin, with other support cast.
Typo menyebar, bahasa berantakan, ejaan tidak sesuai EYD, tidak sesuai karakter.
HunKai Present! With UKE!Kai
.
.
.
Jika, dirinya adalah Uchiha Sasuke, maka dia pasti sudah melakukan balas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti dan mengombang-ambingkan perasaannya. Tanpa ragu sedikitpun. Bahkan pada ibunya sendiri. Kenapa? Sasuke saja bisa membunuh Itachi yang notabene kakak kandungnya sendiri. Tidak ada alasan untuk Jongin tak bisa.
Tapi, pada kenyataannya, ia adalah Kim Jongin. Hanya Kim Jongin. Bukan Uchiha Sasuke yang memiliki kebencian sebesar gunung, ataupun tokoh dalam komik fiksi manapun. Dia hanyalah Kim Jongin si manusia biasa dengan segala logika. Tak memiliki kekuasaan apapun. Kehidupan yang ia jalani adalah sebuah kenyataan, bukan khayalan seperti alur dalam komik atau novel. Kehidupannya sederhana (dalam konteks ini adalah materi), hanya... masalah yang ia alami saja yang rumit.
Lagipula, kalaupun ia memiliki kesempatan menjadi Sasuke yang hebat dengan segala kekuatan itu, ia belum tentu mau. Karna, pada akhirnya sang Uchiha terakhir itu menyesal, bukan? Hanya berakhir sendiri. Tak memiliki saudara sedarah lagi.
Begitupun dengan Jongin nantinya. Jika, ia melenyapkan semua orang yang telah menyakitinya, maka hanya akan ada penyesalan setelahnya. Dan dirinya bukanlah orang yang mampu memikirkan tindak kriminal semacam itu. Ia masih waras untuk melakukan hal kotor itu.
Dalam suatu sudut dalam hatinya, Jongin bersyukur karna ternyata ia masih memiliki dua orang yang sedarah dengannya. Ibu dan adiknya. Meski, situasi saat ini dapat mendorongnya menjadi orang kejam seperti Uchiha Madara.
Memang, ini akan terdengar klise, tetapi Jongin takut akan dosa. Meskipun ia telah disakiti dari berbagai pihak, untuk balas dendampun Jongin masih perlu berpikir berulang kali. Karna dendam, hanya akan membawa petaka, benci, sesal dan luka semakin parah. Dendam, bukanlah solusi terbaik.
Sayatan dihatinya sudah parah. Jika ia membiarkan emosinya menang, maka lukanya akan tambah menganga. Jika diibaratkan sakit yang ia derita ini dapat mengeluarkan darah, maka Jongin seharusnya mendapatkan transfusi darah secepatnya.
Ya, luka yang menganga dalam hatinya memang tak terlihat. Tetapi, ia dapat merasakannya. Ada istilah yang menyatakan bahwa, love is like the wind, can't be seen but can be felt. Tetapi, bagi Jongin saat ini, kalimat itu seharusnya diganti menjadi, pain in the heart is like a headache, can't be seen but feel too hurt.
Jongin meremat rambutnya dengan kuat bersama dengan ringisan diwajahnya. Jongin sudah terlanjur sakit kepala semenjak meninggalkan rumah sakit.
Terlalu muak! Dengan semua yang terjadi tanpa jeda ini. Mengapa, ia terus diombang-ambing seperti ini. Bahkan ia tak tahu harus percaya atau tidak.
Ibunya... aktris itu... apakah benar ibunya?
"Argh!" Nafas Jongin mulai tersengal. Ia mendongak, kembali menatap abu ayahnya yang tersimpan dalam loker di rumah pemakaman.
Sorotnya terlihat menuntut sebuah jawaban dari figur ayah yang ia tatap dalam selembar foto dalam loker didepannya tersebut. Jawaban dari sebuah pertanyaan yang sedari tadi berlarian dalam benaknya, apa yang harus aku lakukan?
Jika, ayahnya masih hidup sekarang ini, pasti sang ayah tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Jongin benar-benar frustasi sekarang. Ia tak dapat berpikir apapun saat ini. Bagai purnama gerhana, gelap dan tak ada cahaya. Diibaratkan lautan kering, tiada tempat untuk layarkan keluh kesahnya itu. Hanya mampu menatapi potret berulang kali. Berteriakpun ia tak mampu. Jika seperti ini keadaannya, ia mau terhempas dalam dunia mimpi saja. Dan berharap ketika ia bangun nanti, semua masalahnya selesai tak tersisa.
Ha! Hal itu benar-benar mustahil! Mana mungkin dapat seinstan itu?!
.
.
.
"Pergilah!" Jongin berujar setengah berteriak. Menyuruh orang yang berdiri di depan pintunya agar enyah dari tempatnya. Jongin tak ingin diganggu siapapun saat ini. Bahkan kekasihnya sendiri ataupun ibu yang baru ia tahu wajahnya secara langsung kemarin. Yang malah berakhir menjadi rasa shock berlebihan pada dirinya. Jongin sedang ingin sendiri. Tetapi, mengapa orang-orang selalu datang padanya dan mengetuk pintu rumahnya berkali-kali?!
Semalam ibunya dan Jong Hee. Sekarang Oh Sehun. Nanti siapa lagi?
Siapa lagi? Memangnya ia punya teman banyak?
Konyol! Belum tentu teman-teman Emperor tahu tentang masalah kali ini. Jadi, jangan berharap banyak, Kim Jongin!
Persetan! Jongin butuh untuk sendiri sekarang ini, sebelum kepalanya benar-benar meledak!
"Jongin, kumohon buka pintunya, Sayang!"
Tidak ada sahutan dari dalam. Sehun menjedukkan dahinya pada pintu dan memukul benda kayu itu dengan sebuah helaan nafas lelah. Ia sudah kemari kemarin, saat tak menemui Jongin di rumah sakit, ia langsung melesat ke rumah ini. Tetapi, Jongin tak ada di rumah. Lalu, ia mencoba mencari ke tempat-tempat yang berpotensi Jongin datangi. Seperti cafe, basecamp, pantai, dan rumah pemakaman.
Sayangnya, saat sampai di rumah pemakaman, Sehun tak mendapati kekasihnya disana. Ia tak tahu, kalau Jongin baru saja pulang dari sana. Dan sekarang, ia telah menemukan sang sulung Kim di rumah, tetapi pemuda tan itu tak mau membuka pintu dari tadi. Bahkan Sehun sudah memohon.
Demi Tuhan! Sehun benar-benar khawatir pada Jongin. Sekaligus bersalah.
Sehun mengerti bahwa Jongin sangat kacau sekarang ini. Anak itu telah menahan kerinduan terhadap sosok ibu selama bertahun-tahun, hampir saja menjemput kebahagiannya jika saja fakta tentang kecelakaan sang ayah tak pernah ada. Sehun tak tahu mengapa Tuhan merencanakan skenario seperti untuk orang macam Jongin, yang hatinya polos.
Memang, manusia tak boleh meragukan skenario Tuhan. Karna, apapun yang Tuhan tentukan pasti berujung yang terbaik. Sehun tahu itu. Tapi sekarang, Sehun jadi bertanya-tanya, kapan happy ending untuk Jongin akan datang? Mengapa masalah yang Jongin hadapi malah bertambah rumit? Sehun jadi merasa hopeless sendiri.
Ia takut jika kekasihnya melakukan hal-hal yang tak diinginkan. Sehun jadi teringat dengan perkataannya tempo hari pada Jongin di atap sekolah.
"Cobaan yang kau alami saat ini bukan satu-satunya yang terburuk. Dimasa depan akan ada banyak cobaan yang menghadangmu, bahkan bisa lebih buruk dari yang sekarang. Jika cobaan yang sekarang saja kau sudah down seperti ini, bagaimana kau menghadapi permasalahan yang lebih rumit nantinya? Kau akan bunuh diri?"
Sehun terhenyak. BUNUH DIRI?!
"JONGIN! BUKA PINTUNYA! JONGIN! KIM JONGIN!" Sehun mendadak berteriak panik sambil menggedor-gedor pintu rumah Jongin dengan brutal disertai raut wajah tak terbaca. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Yang pasti tentang 'bunuh diri'.
Saat tak terdengar suara apapun dari dalam, Sehun menjadi semakin ganas menggedor pintu dan berteriak panik. Bahkan ia tak menyadari bahwa beberapa tetangga Jongin membuka jendela dan mengintip dirinya dengan berbagai ekspresi. Lebih dominan ekspresi heran dan sweatdrop. Ada orang gila kelewat tampan meraung-raung di depan rumah Jongin.
"Sayang, maafkan aku," Ketika Sehun berujar dengan menyesal, para tetangga merespon sepihak dengan gelengan kepala.
Rupanya anak muda yang ketahuan selingkuh oleh Jongin lalu mengemis maaf. Drama anak remaja dimabuk cinta. Tidak penting.
Lalu para tetangga kembali masuk ke dalam rumah masing-masing.
Demi Tuhan, mereka salah persepsi!
Tapi, biarlah. Toh Sehun tak tahu.
"Jongin!"
Jongin menggeram kesal. Semula, ia duduk memeluk lutut dan bersandar pada pintu dengan kepala yang terus berdenyut. Menunggu Sehun pergi. Memang, kekasihnya itu sempat terdiam beberapa saat, dan Jongin kira Sehun sudah pergi dari tempatnya.
Nyatanya, dugaan Jongin meleset jauh. Pemuda yang menyandang status sebagai pacarnya itu mendadak berteriak seperti orang kesetanan disertai gedoran yang sangat mengganggu. Sialan! Kepalanya makin sakit. Jongin tidak mau keesokan paginya dirinya mengisi koran pagi dengan tajuk berbunyi, seorang pemuda bernama Kim Jongin tewas karna terlalu pusing akibat gedoran dan teriakan kekasihnya di depan pintu seperti orang kesetanan.
Itu terlalu kampret untuk menjadi topik utama! Sialan!
Jongin berdiri sambil memegangi kepalanya dan menatap pintu rumahnya yang terus bergetar akibat ulah Sehun di luar. Ia benar-benar tak mengerti dengan isi otak kekasihnya saat ini hingga terlihat seperti orang gila yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa.
"Jong, kumohon bersuaralah. Agar aku yakin kau tak bunuh diri!"
Jongin menatap tak percaya pada pintunya setelah apa yang ia dengar barusan. Jadi, karna itu Sehun jadi gila?
Tunggu, bunuh diri?
Jongin bahkan tak memikirkan tentang itu sama sekali. Saking pusingnya kepala!
BRAKK!
Terlalu kesal, Jongin menendang pintunya dengan keras, lalu melenggang memasuki kamarnya begitu saja sambil memegangi kepala. Masa bodo dengan apa yang akan kekasihnya lakukan setelah ini. Ia butuh istirahat sekarang!
Sementara Sehun terlonjak kaget dan seketika menghentikan tingkah tak jelasnya begitu mendengar gebrakan pintu dari dalam.
Oh, ternyata Jongin masih hidup!
Sepertinya IQ si Ketua OSIS mendadak turun ke angka 50!
.
.
.
Bel sekolah tanda pelajaran terakhir usai telah berdentang. Begitu sang guru meninggalkan ruang kelas, yang Sehun lihat adalah Jongin bergegas mengemasi barangnya di bangku paling depan (sejak insiden itu Jongin pindah tempat duduk, tidak lagi sebangku dengannya. Bisa dibilang, Jongin kembali ke tempat asal) lalu meluncur keluar dengan tergesa.
Hari ini adalah hari pertama Jongin kembali masuk sekolah setelah 2 hari absen. Sehun tahu bahwa Jongin sedang menghindarinya. Semenjak pagi tadi, pemuda yang menyandang marga Kim itu tak mau berbicara padanya atau bahkan menyapa. Jongin benar-benar diam seharian ini. Hanya mengeluarkan suara untuk merespon guru yang mengajar. Jongin tak mau berbicara pada siapapun, bahkan Junhong and the gank ia acuhkan begitu saja. Saat istirahat, Jongin buru-buru keluar kelas. Tidak mengindahkan panggilan Sehun sama sekali.
Sehun ikut bangkit dari duduknya, lalu mengejar Jongin yang hampir sampai di ujung koridor.
"Jongin, tunggu!" Sehun berteriak, menerobos lalu lalang para murid yang hendak pulang.
Ketika Sehun berhasil keluar dari koridor sekolah, ia melihat Jongin tengah berhenti di ambang gerbang utama. Dari gestur yang terlihat, pemuda tan itu nampak mematung. Dan Sehun juga dapat melihat Lee Ji Hye tengah berdiri di seberang jalan sambil menatap Jongin.
Sehun berhenti di samping Jongin. Sementara wanita paruh baya itu nampak mulai melangkah menghampiri Jongin dengan wajah sendu. Topi bundar yang bertengger dikepalanya, nampak membantu untuk menyamarkan wajahnya agar tak dikenali orang. Sehingga tak ada pula yang tahu bahwa wanita itu tengah menahan air matanya.
Ketika jarak diantara dirinya dan Jongin sudah dekat, pemuda yang berstatus sebagai putra Lee Ji Hye itu hanya mampu menatap dengan sorot... takut? Entahlah, Sehun tidak terlalu yakin. Tetapi, mata bening Jongin memang kelihatannya begitu.
Ji Hye meraih sebelah tangan Jongin dengan lembut, menatap lekat manik putranya dengan sorot memohon, "Ikutlah dengan ibu,"
Jongin membeku. Begitu kalimat itu menyapa gendang telinganya, otak Jongin merespon menghadirkan sebuah ingatan tentang mimpi buruk dimana ia ditenggelamkan ibunya di kolam hanya karna tak mau ikut bersama sang ibu. Kalimat yang baru saja ia dengar, sama persis dengan kalimat yang ibunya lontarkan sebelum dirinya tenggelam.
Jongin menggeleng cepat dengan mata takut. Ia melepas genggaman ibunya, menghempasnya agak kasar, lalu berlari pergi tanpa mengucapkan apapun. Menghadirkan pekikan dari sang ibu maupun Sehun yang memanggilnya dengan raut terkejut.
"Jongin!" Ji Hye mencoba mengejar. Meski hatinya mencelos mendapat penolakan lagi dari putranya. Sungguh, ia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan sang putra. Ia sama sekali tak berniat jahat. Tetapi, sorot mata putranya tadi seolah menegaskan bahwa ia adalah ibu kandung bagai ibu tiri. Sakit hati Ji Hye melihatnya. Ia merasa seperti monster bagi putranya sendiri.
"Jangan dikejar!" Sehun mencekal tangan Ji Hye dengan cepat. Mencegah sang aktris untuk pergi mengejar lebih jauh. Karna percuma, Jongin sudah menaiki bus. Sedangkan mobil Ji Hye dan motor Sehun tertinggal di area sekolah, "Ia juga menghindariku. Kurasa, ia ingin sendiri dulu,"
Keduanya hanya mampu menatap bus yang ditumpangi Jongin dengan tatapan sendu serta bersalah. Mereka sama-sama tak tahu kapan Jongin akan kembali seperti dulu.
Dan Sehun sudah tahu bahwa telah terjadi apa-apa dengan perasaan Kim Jongin. Ya... bukankah sejak awal memang sudah begitu? Jongin yang sekarang adalah Jongin yang tengah berdiri di atas papan kayu kecil. Terombang-ambing dalam fakta dan fana yang pernah pemuda tan itu ceritakan dimalam sepulang dari Jinan waktu itu.
Dan... Kim Jongin benar-benar butuh waktu untuk sendiri dan berpikir jernih. Sehun maupun Ji Hye hanya dapat berharap bahwa orang yang mereka sayangi itu tidak berbelok kemanapun. Dalam artian, tidak melakukan hal bodoh apapun.
Sementara itu di dalam bus, Jongin nampak menghela nafas berat, menempelkan kepalanya pada jendela dan memejamkan mata sambil bergumam, "Maaf..."
.
.
.
.
.
Note:
Xinger XXI-ssi: sepertinya belum kok. Emaknya Sehun belum pernah ketemu Jongin. Kok saya lupa ya /geplaked -_-v
-ssi: Beb Jongin 'kan anak baik xD wkwk... yah kalok udah saking pengen ketemu. Lagian Ji Hye 'kan sebenarnya belum berani nemuin anaknya. Peace ya :Dv
outcaaast-ssi: iyah, janji gak bakal ada pihak ketiga kok. Makasih ya :D
yuvikimm97-ssi: ya 'kan dia juga takut sebenarnya. Semua orang juga pasti berharap yg terbaik 'kan?
stbaeri-ssi: iya sabar yah. Ini alurnya lambat banget ga sih? e.e
geash-ssi: begimana yah e.e ini jenre/?nya Hurt/comfort. Kalok ditanya kapan bahagianya, ya entar belakangan /digampar bolak balik ;A;
saphire always for onyx-ssi: AMIN YA ALLAH T.T
Chap ini ngefeel kaga sih? Saya berasa maksa weh ;a;
Mana Sasuke ikutan nyelundup ._. Maap yah, tokoh Naruto nyangkut lagi.
Kalok ga nyambung, maapkan saya #bow
Yang ga kebales reviewnya, jangan ngambek yah e.e
Niatnya chap ini bakal dibikin Jongin merenung dalem banget sampek sadar kalok ga semuanya salah. Wkwk... tp ga jadi xD #plak
Ja nee~
With Love, W.A.Y, KJI, OSH, NARUTO
