Halo~ Kembali lagi dengan chapter baru~

Tumben nggak delay? Karena author sedang libur sembari menunggu dicium(?) /WOY /DICIUMSIAPA

Oke, saatnya balas review dulu yak~

RosyMiranto18

Yup~ Awalnya Lixia mengira nggak bakal seperti ini :"D

Lixia: *angguk-angguk* ah, dan terima kasih dukungannya selama ini. aku harap Author-san bisa memunculkanku walau hanya sebentar, hehe~

Akan kupikirkan kembali, Lixia~

Yup! Untuk chapter kali ini, bakalan ketambahan nih karakter dari DW9 yang baru-baru juga! Dan tentu saja perlahan rambut mereka bakal nyesuain DW9 juga~ Bertahap biar nggak tiba-tiba banget main ubah tampilan /YHA

Terima kasih sudah me-review yak~

...

Oke, review sudah. Dan... Sebelum ke cerita, diriku mau kasih tahu, nih~

Oke, langsung lanjut ke cerita ya~ Selamat menikmati~


Pagi yang cerah dan indah menjadi awal yang baik untuk memulai suatu pekerjaan. Tidak hanya pekerjaan, proses belajar pun demikian, bahkan aktivitas-aktivitas lain yang biasa dilakukan seperti olahraga pagi, bersih-bersih rumah, dan aktivitas lainnya. Dengan cuaca yang cerah dan indah ini, dalam melakukan aktivitas tentunya akan lebih bersemangat.

Hanya saja…

Tidak berlaku bagi Sun Quan.

"KAK CE!"

BRAK!

"Eh maung, eh maung!"

Sun Ce yang saat itu baru saja beranjak dari tempat tidurnya yang berantakan langsung melompat kaget karena dobrakan pintu yang dilakukan oleh Sun Quan, adiknya.

"Ketuk pintu dulu, lah!"

"M-Maaf Kak Ce, tapi lihat! Aku mendapat pesan aneh!"

Sun Quan buru-buru menunjukkan sebuah pesan yang dimaksud. Pesan dari nomor tidak dikenal untuk segera menyiapkan tempat karena tamu kehormatan akan datang ke Sun Café. Sebuah pesan yang benar-benar tidak jelas siapa pengirimnya, bahkan siapa tamu kehormatan yang akan datang mengunjungi Sun Café.

"A-A-APA YANG HARUS KITA LAKUKAN, KAK?! T-T-TERORIS?!" Sun Quan panik.

"Hei, hei, hei. Tenang dulu, dong! Sudah kamu coba untuk hubungi nomor itu?"

"S-Sudah, tapi tidak ada jawaban. Mengirim pesan pun juga sama, tidak ada jawaban!"

Sun Ce menggaruk belakang kepalanya, bingung.

"Orang iseng, mungkin?"

"Tapi, kalau benar-benar terjadi, bagaimana?!"

"Hmm… Ya sudah, kumpulkan anak-anak café hari ini. Biar kita bahas sama-sama."

Hanya karena sebuah pesan misterius dari nomor tidak dikenal, pagi hari tidak lagi cerah dan indah.

"Selamat pagi kakak-kakakku!" Sun Shangxiang menyambut Sun Ce dan Sun Quan yang baru saja turun dari kamar Sun Ce, menuju meja makan untuk sarapan.

"Yo! Pagi Shangxiang! Oh, iya. Ayah sudah berangkat?"

"Sudah, Kak Ce. Sekitar lima menit yang lalu kayaknya."

"O-Ohh… Padahal aku ingin menceritakan sesuatu…"

"Hmm? Ada apa memangnya? Lalu… Kak Quan, ngapain sembunyi di balik Kak Ce begitu?"

"Ha?! E-Eh? Uhh…"

Sun Shangxiang semakin bingung.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Begini…"

Sun Ce menceritakannya.

"E-EH?! Tamu kehormatan?! Siapa?! Ayah yang paling terhormat disini!"

"Err… Mungkin ada yang patut dihormati selain ayah…?"

"Hmmm? Siapa?"

"Y-Ya, soal siapanya nanti kita pikirkan bersama. Shangxiang, kamu hari ini sekolah, ya?"

"Iya. Kenapa?"

"Bisa pulang cepat tidak? Bilang saja aku yang menyuruhmu pulang cepat. Toh ayah juga sedang tidak di sekolah karena rapat dinas, 'kan?"

"Umm… Akan aku usahakan, kak! Kalau begitu, aku berangkat dulu! Aku harus beres-beres ruang OSIS!"

Ya, sekarang yang menjabat sebagai ketua OSIS setelah Sun Ce dan Sun Quan lulus adalah Sun Shangxiang.

"Hati-hati adikku~" Sun Ce melambaikan tangan dengan senyum lebar, "lalu… Quan, mau sampai kapan kamu sembunyi di belakangku dan apa motivasimu melakukan hal itu?"

Sun Ce berbalik dan menatap Sun Quan yang masih sibuk mengirim pesan kepada staff café untuk berkumpul hari itu juga.

"A-Ah! M-Maafkan aku… Aku sedang mengirim pesan kepada seluruh staff café."

"Oh, kalau begitu aku sekalian kirim pesan ke 'Rambut Moonsilk', deh."

Rambut Moonsilk…?

Mendengar sebutan itu, Sun Quan harus berpikir berkali-kali.

Rambut Moonsilk…

Rambut Moonsilk…?

AH!

ZHOU YU?!

"K-Kak? Kau akan mengundang Tuan Zhou Yu juga?!"

"Iya, siapa tahu dia punya saran cemerlang. Tahu sendiri 'kan Zhou Yu seperti apa?"

Benar juga, sih.

"Lalu, kenapa Moonsilk?"

"Kalau aku sebut matahari nanti ketahuan merek shampoonya apa!"

Diganti begitu juga sudah ketahuan, kok…

"Tapi, bukannya Tuan Zhou Yu ada jadwal mengajar hari ini?"

"Tenang saja adikku~ Dia pasti bisa datang kalau aku yang memohon~"

Sun Quan langsung mengangguk, entah bagaimana cara Sun Ce membujuk Zhou Yu untuk datang ke café hari ini.

"Kalau begitu, yuk kita sarapan, lalu kita pergi ke café untuk membicarakan ini!"

###

Café Sun.

Tempat paling populer untuk remaja maupun pekerja kantoran untuk melakukan meeting sampai perayaan ulang tahun dan sebagainya. Selama perayaan hari besar, café ini dihias dengan unik sesuai tema perayaan, tidak hanya dekorasinya juga, tetapi seluruh staff café. Tidak hanya itu, café ini juga memiliki menu yang luar biasa menarik dan bisa dikatakan penyajiannya yang nistagramable dan lezat.

Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih beberapa menit, seluruh staff sudah berkumpul sebelum membuka café.

"Selamat pagi seluruh staff kesayanganku~" Sun Ce menyapa seluruh staff yang telah siap untuk mengikuti briefing pagi sebelum café dibuka.

"Pagi bos, ada apa mengumpulkan kami pagi-pagi begini, bos? Saya masuk shift siang, bos."

"Ah, maafkan aku mengganggu waktu kalian. Tapi ada berita yang sangat penting dan seluruh staff harus tahu tentang berita ini…"

Sun Ce langsung menceritakannya perihal pesan misterius yang diterima Sun Quan tadi pagi.

"Eh? Tamu kehormatan? Siapa, bos?"

Tentu saja seluruh staff bertanya-tanya mengenai tamu kehormatan ini.

"Yah… Sebenarnya aku juga tidak begitu tahu siapa tamu kehormatan ini. Tapi aku ingin kalian semua berjaga-jaga. Oleh karena itu, aku ingin kerjasama dari kalian, mengenai dekorasi dan menu spesial akan aku bicarakan dengan kapten masing-masing bagian, oke?"

"Baik, bos!"

"Kalau begitu, mohon kerjasamanya untuk hari ini. Bebereslah sebelum membuka café, aku tidak mau melihat pengunjung kecewa karena café kita kotor."

Seluruh staff langsung bergerak untuk membersihkan café sebelum buka, kecuali kapten dari masing-masing bagian.

"Umm… Sun Quan, itu bukan pesan salah kirim, 'kan?" Lu Xun sebagai kapten dari bagian pelayanan pun mulai mempertanyakan tentang tamu kehormatan itu.

"Jelas bukan, Lu Xun. Mereka langsung menyebutkan nama café ini. Aku sudah coba kontak tapi tidak tersambung… Iseng atau bukan, aku ingin kita terus berjaga-jaga."

"Lalu, Sun Ce. Kamu mau bagaimana?" Zhou Yu yang kebetulan sedang senggang karena mendapat jadwal ajar siang langsung mendekati Sun Ce yang masih memikirkan tentang apa saja yang harus dipersiapkan.

"Uhh… Zhou Yu, kira-kira kita harus mengubah konsep café dengan dekorasi yang bagaimana, nih? Konsep yang bisa kita lakukan walau tamu kehormatan itu adalah suatu kebohongan dan keisengan si pengirim pesan."

"Sun Ce, perayaan apa yang berdekatan dengan kedatangan tamu kehormatan?"

"Anu, Tuan Zhou Yu, si pengirim tidak menginformasikan kapan kedatangan tamu kehormatan yang dimaksud," jawab Sun Quan, "tapi kalau perayaan… Chinese New Year, 'kan?" lanjutnya.

"Ah! Quan, kau benar! Sudah seharusnya kita mendekor café ini dengan dekorasi Chinese New Year! Ah, bodohnya aku sampai lupa tanggalan! Kalau begitu, kita butuh lampion, kita butuh dekorasi indah dengan tema Chinese New Year!"

"Kalian benar. Kalau begitu aku akan ikut membantu."

"Eh? Benarkah tidak masalah kalau Tuan Zhou Yu membantu kami?"

"Sudah seharusnya aku membantu kalian, bukan?" Zhou Yu tersenyum.

Silau…

"Kalau begitu, Lu Xun, tolong koordinasi dengan bagianmu, ya! Untuk bagian pelayanan, kalian cukup memikirkan dekorasi dan penyambutan tamunya. Lalu, hei kapten bagian dapur, pikirkan menu spesial yang berkaitan dengan Chinese New Year! Kalau kalian sudah memiliki ide, nanti beritahu aku, Sun Quan, atau Zhou Yu, ya!"

"Baik, bos!"

Sembari melakukan pekerjaan, mereka juga membahas tentang apa yang harus dilakukan mengenai dekorasi, menu, dan pelayanan yang harus diberikan untuk memperingati Chinese New Year.

Ide boleh?

Bagaimana kalau dress merah Lu Xun—

"AUTHOR JAHAT."

"Hahaha! Jangan, deh. Aku kasihan sama Lu Xun," ucap Sun Ce dengan tawa kecil.

"Sun Ce," panggil Zhou Yu.

"Oh, bukannya ada jadwal ajar hari ini, ya? Tidak ke SMA Wu?"

"Masih nanti siang, tenang saja. Aku hanya penasaran, siapa tamu kehormatan ini?"

"Hmm… Jangan-jangan orang pemerintahan?! Atau bagian ketenagakerjaan? Atau… Hmmm… Aku tidak tahu! Pesan yang disampaikan benar-benar tidak detail! Semoga saja tidak datang hari ini juga."

"Semoga saja, ya…"

"K-KAK CE! TUAN ZHOU YU!"

"Yo~ Ada apa adikku?"

"Si pengirim pesan misterius mengirim pesan lagi!"

Sun Ce langsung mengambil handphone yang Sun Quan berikan untuk melihat isi pesan baru tersebut.

"Tamu kehormatan akan datang hari Sabtu, mohon kerjasamanya… Huh? Setelah Chinese New Year, ya…?"

"Sangat aman, bukan? Kita masih punya kesempatan untuk dekorasi dan memikirkan menu."

"I-Iya, sih… Adikku, aku pinjam handphone-mu dulu. Aku akan menghubunginya dengan punyaku. Mungkin saja akan diangkat karena bukan nomormu yang terdeteksi."

"Ah, ide bagus, kak. Kalau begitu aku urus ke bagian dapur dulu."

"Ya, mohon bantuannya, ya!"

Sun Ce langsung menghubungi nomor misterius itu.

Tidak diangkat sama sekali.

"S-Siapa sih orang ini?! Menyebalkan…"

"Sun Ce, lebih baik kita fokuskan ke dekorasi dan menu."

"Baiklah… Mohon bantuannya, ya!"

Beberapa jam kemudian, jam istirahat bagi kloter pertama shift pagi pun tiba. Sudah saatnya Lu Xun memberitahu Sun Ce soal dekorasi dan pelayanan untuk menyambut tamu kehormatan itu. Lu Xun langsung memasuki kantor Sun Ce.

"Oh, Lu Xun! Sudah istirahat kloter pertama, ya?"

"Iya. Anu, saya dan tim sudah membicarakan soal dekorasi. Jadi…"

Lu Xun menjelaskan apa saja dekorasi yang diperlukan dan bagaimana pelayanan serta kostum yang harus digunakan kepada Sun Ce.

"Hmm… Menarik! Menarik! Aku suka idemu. Lalu, kapan kalian akan beli dekorasinya? Biar kuserahkan uang untuk beli dekorasinya."

"Kalau bisa secepatnya… Tinggal beberapa hari lagi, bukan? Soal pembelian, biar saya saja yang lakukan."

"Ah, iya juga, sih. Kalau begitu, ini kuberikan sekarang. Jangan lupa sertakan nota, ya. Aku mempercayakannya padamu, Lu Xun." Sun Ce menyerahkan beberapa uang untuk pembelian dekorasi.

"Baik, terima kasih!"

###

"Jadi… Lu Xun, kenapa aku jadi ikut urus keperluan Sun Café…? Aku 'kan anak Shu…?"

"M-Maafkan aku, Zhao Yun… H-habis, aku tidak tahu harus menghubungi siapa…"

Ya, Zhao Yun saat ini sedang menemani Lu Xun membeli barang-barang yang dibutuhkan untuk dekorasi Chinese New Year di pusat perbelanjaan. Kebetulan, saat dihubungi, Zhao Yun sedang tidak ada jadwal kuliah karena dosen yang bersangkutan sedang mengadakan kunjungan ke universitas di Jepang. Begitu juga dengan…

"Halo~ Jangan lupakan aku~ Walau aku tidak ada di seri terbaru, aku masih akan muncul~"

Lei Bin.

Kemudian Zhao Yun tertawa puas.

"Z-Zhao Yun, jangan begitu. Kasihan Lei Bin."

"Lu Xun benar! Kasihanilah aku yang tidak ada kesempatan muncul di seri baru! Oh, ngomong-ngomong, Lu Xun, siapa tamu kehormatan ini?"

"M-Masalah itu aku sendiri juga tidak tahu…"

"Benar-benar pesan yang mencurigakan. Apakah di Wu ada berita yang bisa disangkutpautkan dengan tamu kehormatan ini?"

Lu Xun menggeleng, "tidak, Zhao Yun."

"Oh? Atau mungkin seseorang yang seluruh Sun Café kenal akan datang? Maksudku, lihatlah! Dia hanya menyebut tamu kehormatan dan tamu kehormatan terus! Mungkin akan ada seseorang yang seluruh staff kenal akan datang?"

"Ah! Benar juga… Bisa jadi seperti itu! Lei Bin, luar biasa!" Lu Xun langsung menepuk pundak Lei Bin.

"Ah, itu hanya pemikiranku saja, sih… Mungkin seperti itu."

"Lalu, siapa tamu kehormatan yang kalian semua kenal? Apakah orang dari SMA Wu? Guru kalian mungkin?"

"Umm… Mungkin begitu, Zhao Yun… Hmm… Yang pasti bukan Tuan Zhou Yu karena beliau sudah bersama kami sejak briefing pagi, Tuan Lu Meng? Tuan Lu Su? Hmm…"

"Ah, anggap saja seseorang yang kalian kenal dari SMA Wu. Entah itu siapa yang datang."

"Lalu, lalu, dekorasinya apa saja? Yuk kita survey dulu!" Lei Bin dengan semangat menarik tangan Lu Xun untuk segera berbelanja.

"W-Wah—Tunggu dulu, Lei Bin!"

"Nanti kehabisan, lho!"

Zhao Yun hanya mengikuti mereka dari belakang, sambil menghela nafas.

"Muncul orang girang baru…"

Setelah melakukan survey harga dan mendapatkan barang yang dicari, Lu Xun segera kembali ke Sun Café, tentu saja ditemani oleh Zhao Yun dan Lei Bin yang kebetulan ingin makan siang disana.

"Yo! Lu Xun—Wah? Ada Zhao Yun dan… Uhh…?"

Sun Ce terlihat bingung saat melihat Lei Bin.

"Perkenalkan, nama saya Lei Bin! Saya teman kecil Zhao Yun sekaligus teman satu kampusnya!" Lei Bin memberi salam.

"O-Oh, begitu rupanya! Silahkan masuk! Sudah lama tidak melihatmu, Zhao Yun!"

"Hahaha, maaf jarang kemari."

"Ah, ya. Lu Xun, dekorasinya ditaruh di tempat yang aman, ya! Umm… Zhao Yun dan… Ibin silahkan pesan dulu! Ada yang ingin aku ceritakan pada kalian setelah kalian memesan."

"N-Nama saya Lei Bin~ Bukan Ibin~"

"Apakah ini masalah tamu kehormatan? Lu Xun sedikit bercerita tadi."

"Wah, sudah diceritakan, ya? Eh, pesan dulu sana! Aku ingin dengar pendapat kalian setelah memesan!"

Setelah Zhao Yun dan Lei Bin memesan menu makan siang, Sun Ce ikut bergabung dengan Zhao Yun dan Lei Bin, kemudian menceritakan lebih detail mengenai tamu kehormatan yang akan datang ke Sun Café satu hari setelah perayaan Chinese New Year.

"Saya pikir tamu kehormatan yang dimaksud adalah orang yang satu café ini kenal. Orang dari Wu yang patut dihormati…?"

"Ah… Uhh… Siapa, ya…? Kalau soal yang patut dihormati… Orang-orang dari Wu yang keluarga Sun kenal pasti tidak akan melakukan hal seperti itu."

"Hmm…? Oh, atau jangan-jangan orang yang seluruh café ini kenal dan sengaja menyebut dirinya sendiri tamu kehormatan, agar orang-orang café kebingungan?"

"Pemikiran yang luar biasa, Lei Bin."

"Wah, Zhao Yun memujiku! ZHAO YUN MEMUJIKU! AKU SENANG~"

"BERHENTI MEMELUKKU, RAMBUT HAIRSPRAY."

"S-Siapa orang iseng itu, duh!" Sun Ce semakin kesal karena tidak mendapatkan petunjuk sama sekali.

Tak lama kemudian, minuman dan makanan pun datang.

"Kalau begitu, selamat menikmati menu yang kalian pesan. Terima kasih sudah memberi pendapat. Kalau begitu, aku permisi."

Sun Ce langsung beranjak pergi menuju ruangannya.

Hanya memikirkan siapa tamu kehormatan yang dimaksud saja sudah membuat Sun Ce pusing tujuh keliling, bahkan seratus keliling. Sun Ce yang tidak mendapatkan petunjuk sama sekali itu kemudian duduk bersandar di kursi empuk ruangannya, ditemani oleh Sun Quan yang saat itu sedang membaca buku menu dan secarik kertas yang berisikan ide menu dari bagian dapur.

"Ah, kak. Bagian dapur sudah memberikan ide soal menu. Bagaimana menurutmu?" Sun Quan mendatangi Sun Ce dan menaruh secarik kertas itu di atas meja Sun Ce.

"Aaah… Sebentar adikku, aku lelah."

"Jangan diambil pusing, kak. Walau ujung-ujungnya hanya perlakuan iseng, setidaknya café kita sudah bergerak untuk mengembangkan ide seluruh staff yang ada di sini."

"Hmmm… Kau benar, adikku. Tapi tetap saja…"

Sun Quan menunduk.

"Nomor itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Aku juga sempat diskusi dengan beberapa teman, tapi tetap saja… Tidak ada hasil."

Sun Ce terdiam, masih bersandar di kursi empuknya.

"Ya sudah, mari kita lakukan yang terbaik. Walau pesan itu hanya perlakuan iseng seseorang."

###

Waktu sudah menunjukkan tengah malam, sudah saatnya Sun Café tutup. Terlihat staff shift malam tengah melakukan clear up, membersihkan peralatan makan dan masak sampai membersihkan café. Terlihat Lu Xun dan kapten bagian dapur yang memutuskan untuk tidak pulang saat jam kerjanya habis, tengah tertidur pulas di tempat istirahat staff café. Seharian ini mereka saling bertukar ide.

"Lu Xun dan kapten dapur, bangunlah! Café sudah tutup, pulanglah." Sun Quan membangunkan keduanya.

"Mmm… Ah! M-Maaf aku ketiduran saat membahas Chinese New Year!"

"Wah, maaf adik bos! Kami sedang bertukar ide tadi."

Sun Quan menghela nafas kemudian tersenyum, "kalau begitu pulanglah. Untuk urusan dekorasi, besok pagi saja, sebelum café buka. Terima kasih atas kerjasamanya."

Setelah itu Lu Xun dan kapten dapur pun pulang, kini tinggal dua kakak adik Sun yang masih berada di café.

"Kak, ayo pulang. Aku yakin Shangxiang sudah menunggu kita."

"Wah, benar juga. Kalau begitu tunggu sebentar, aku beberes dokumen kantor dulu."

Sun Quan menatap Sun Ce yang tengah membereskan dokumen yang berserakan di meja kantor. Wajah Sun Ce yang penuh dengan kebingungan dan terlihat lelah. Mungkin itu efek dari terlalu memikirkan siapa tamu kehormatan misterius itu. Melihat kakaknya yang seperti itu, Sun Quan langsung ikut membantu beberes.

"Eh? Jangan Quan, dokumen-dokumen itu berat, biar aku saja."

Sun Ce 1990.

"Tidak masalah, kak. Kantor ini 'kan kantorku juga."

Sun Ce terdiam, melihat adiknya menata setiap dokumen berdasarkan tempatnya, kemudian tersenyum.

"Terima kasih, adikku~"


Quote baru, nih.

"Dokumen-dokumen itu berat, biar aku saja." - Sun Ce 1990

Duh, kira-kira siapa ya tamu kehormatan yang dimaksud? Karakter baru dari Wu? Mbah Cheng Pu? Mas Xu Sheng? Atau yang lain?

Tunggu saja chapter selanjutnya, ya~ Semoga saja Author update tepat seminggu lagi ya, doakan saja~

Oh, iya. Ditunggu lho review-nya! Tanpa review author nanti gelisah terus tarik-tarik rambut Zhu Ran yang sudah tidak landak lagi~

Maafkan aku, Zhu Ran. Walau penampilanmu bikin diriku menjerit pas keluar berita+rendernya, kamulah landak di hatiku.

...

..

Oke, abaikan yang barusan.

Jadi, see you next chapter~! *tee-hee*