Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!
Story plot ya milik saya #digebuk
Enjoy reading!~ /( 0w0)/
Title: Balada Saudara Tiri
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.A. Girlz
Language: Indonesian
Rating/Rated: K+ (T untuk kedepannya)
Pairing: Nijimura x Fem!Kagami, Kisedai!Brothers + their step-sisters (pairing lain menyusul)
Genre: Family, Humor garing, Friendship, Romance, sedikit OOC dll; terserah reader maunya apa.
[Third's POV]
Waktu makan malam telah tiba, semua penghuni yang ajaib itu menuju ke ruang makan bersama-sama. Setelah itu mereka memulai makan malam seperti biasa.
Tetapi, suasana ruang makan kali ini terlihat agak suram. Pasalnya keenam pemuda berambut pelangi itu masih saja mengingat peristiwa yang membuat luka yang membekas di hati mereka. Dan ketiga Kagami itu hampir tidak memperhatikan perubahan di ruangan tersebut.
Cielah, udah kayak nginget mantan aja—oke, jatuhkan gunting itu, Sei! Hentikaaaannn!
Setelah selesai melaksanakan makan malam, keenam orang pemuda pelangi itu segera menuju ke kamar Tetsuya, yang dijadikan tempat Konferensi Meja Segitiga.
Kenapa mejanya segitiga? Karena memang bentuknya segitiga siku-siku. Puas?
"Seijuurou-kun?"
"Ya, Tetsuya?"
"Kenapa harus di kamarku?" tanya sang pemilik kamar yang masih memasang tampang triplek tapi menekankan nada sedikit jengkel pada kakak tertuanya.
Seijuurou membalas, "Karena aku absolut. Kau menentangku, Tetsuya?"
Seijuurou mulai bangkit jiwa diktator.
Tetsuya kicep.
Yang lainnya juga ikutan kicep.
"Tidak, Seijuurou-kun. Silakan lanjut." ucapnya datar lagi.
Pasrah saja lah, Tetsuya masih pengen hidup dan menikmati vanilla milkshake dari seluruh dunia.
"Baiklah, kita akan membahas pengawalan saudari baru kita. Mulai dari hasil pengawalan kami berdua yang akan disampaikan oleh Daiki." sambungnya lagi seraya memberi aba-aba pada Daiki untuk menceritakan pengawalan mereka dengan hati yang luka.
Aseekk
"Jadi… hasilnya, kami berhasil mengikuti Navira. Tapi ada berita buruk." ujarnya sambil memulai laporan.
"Memangnya apa, Dai-chin?" tanya Atsushi.
"Navira jalan sama seorang laki-laki berambut pirang yang mengantarnya sampai ke depan rumah." jelas Daiki pada saudaranya.
"Itu aja, Daikicchi?" tanya Ryouta pada kakak keempatnya itu.
"Nggak. Ada yang lebih buruk."ujar Daiki dengan nada yang misterius.
"Hah? Apaan, Daikicchi?" tanya pemuda kuning itu lagi. Semuanya diam mendengarkan.
"Mereka…."
Semuanya diam.
.
.
.
.
.
"Gandengan…"
Masih diam kicep mendengarkan.
.
.
.
.
.
"TANGAN." jawab Daiki dengan muka kesal dan matanya melotot sambil menekankan pada kata terakhir layaknya hantu.
"AAAPAAAAA!?" teriak empat orang saudara itu (minus Tetsuya, Daiki dan Seijuurou).
OOC overload.
"Siapa orangnya, Daikicchi?! Bilang aku!" teriak Ryouta dengan histerisnya melebihi saudaranya yang lain sambil mengguncang bahu pemuda berkulit dim itu untuk minta pertanggung jawaban atas—maaf maksudnya minta penjelasan dari kakaknya itu.
"Aku nggak tahu, pokoknya dia berambut pirang. Udah itu aja dan please stop shaking me, oke?!" ujar Daiki pada adiknya yang berisik.
"Oke, mari kita lanjutkan." ujar Seijuurou sambil berdeham untuk menarik perhatian adik-adiknya lagi.
"Bagaimana hasil pengawalan kalian, Ryouta, Shintarou?" sambungnya sambil meminta penjelasan dari kedua adiknya.
"Jadi… hasil pengawalannya itu, kami juga berhasil mengikuti (Name), namun sama dengan Navira." kata Shintarou memulai.
"(Name)cchi juga pulang bersama seorang pemuda yang sangat amat lebay bingittzz… dan bergandengan tangan~.. dan saling menyuapi satu sama lain, SAAT MAKAN TAKOYAKI DI TAMAN KOTA!" jelas Ryouta yang sudah mulai mewek, menjelaskan hasil pengawalan yang membuatnya dan kelima saudaranya itu greget sendiri sambil cakar-cakar tembok yang tak berdosa itu.
RIP tembok yang dicakar.
"….U-uhm,baiklah." kata Seijuurou sok kuat, memecah keheningan karena mereka semua brokoro.
"Lanjut. Hm, baiklah.. bagaimana hasil pengawalan kalian?" tanyanya lagi pada kedua saudaranya, yaitu Atsushi dan Tetsuya.
"Hasil pengawalan kami juga berjalan lancar, Sei-chin. Tapi hasilnya juga sama seperti kalian." ucap Atsushi yang berhenti memakan lolipopnya dengan muka ditekuk.
"Apa jangan-jangan.." Ryouta menerka-nerka dan Tetsuya mengangguk—berisyarat itu benar.
"Iya, Ryouta-kun. Tapi, sepertinya bagian kami yang paling parah dibanding kalian." Tetsuya menyuarakan isi hatinya dan kakak ketiganya. Duh, bahasanya, Tetsuya.
"Kami melihat Ichiira-san menembak seorang cowok di depan umum. Dengan raut muka yang tak pernah kami lihat sebelumnya. Teman-temannya juga menyorakkinya dan akhirnya diterima—"
Semua cengo.
Ichiira yang mereka lihat mukanya tidak pernah berubah itu, menembak cowok di depan umum?
Apalagi, langsung diterima begitu saja?!
Sebenarnya apa yang terjadi?!
"—kami tetap mengikuti mereka setelah keluar dari Maji Burger dan melihat mereka bergandengan tangan. Ichiira-san yang duluan menggandeng, karena sepertinya cowok itu malu mau menggandengnya—"
Sungguh, mereka berharap bahwa mereka salah dengar dan tuli. Apakah itu benar adanya?
"—dan sesampainya didepan rumah, aku dan Atsushi-kun melihat Ichiira-san memeluk cowok itu dan…"
Semua masih menyimak..
"MENCIUM PIPI COWOK ITU dan langsung berlari masuk ke halaman." Sambung Tetsuya dengan muka agak gimana gitu (Nah lo).
"HAAAAAHHHHHHHH!?" jerit keempat kakaknya itu (minus Atsushi) dengan muka yang juga agak gimana gitu karena Ichiira yang menurut mereka masih polos ternyata agresif juga.
Melihat semuanya mulai depresi, sepertinya Tetsuya harus menenangkan mereka, "Uhm, semuanya. Mari kita hentikan saja rapat ini dan dibahas besok." usulnya.
Seijuurou langsung mengambil tindakan.
"Ehem… baiklah, sekian pertemuan hari ini, saudara-saudara. Besok kita bahas untuk mengetahui siapa mereka. Ryouta, Tetsuya; kalian awasi Navira, kalian 'kan satu universitas—selidiki dulu siapa itu. Daiki; kau awasi (Name) dan Ichiira—jika kesulitan, telepon Atsushi, atau aku dan Shintarou. Mengerti, semuanya?" mereka mengangguk.
"Bagus. Sekarang ayo beristirahat." Dan mereka semua bubar. Setelah mereka selesai menyelenggarakan rapat di kamar Tetsuya, mereka semua masuk ke kamar masing-masing. Mereka tak ingin sakit hati lebih dalam lagi.
Lebay amat bang, ganteng-ganteng galau.
Hari ini berjalan seperti biasa. Tapi ada satu hal. Navira merasa bangun kesiangan. Alarm di ponselnya lupa ia nyalakan dan akhirnya ia bangun lebih telat dari biasanya, tapi untung jam kuliahnya lumayan siang jadi dia tak masalah dalam bersiap-siap nanti.
"Astaga, kepalaku pusing sekali.. gegara begadang bersama mereka berdua, jadinya begini." keluhnya sembari berjalan keluar kamar dan menguap kecil. Habis makan malam kemarin, mereka menguping rapat mereka dan ketawa-ketiwi di kamar (Name) hingga larut malam.
Ia mengetok pintu (Name) dan Ichiira. Tak ada jawaban. Sang anak sulung menautkan alisnya.
"Kenapa tidak dijawab, ya?" tanya Navira dalam hati.
"Mereka sudah pergi."
Navira menoleh kearah belakangnya. Ada Seijuurou yang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri yang berwarna merah.
"Oh, benarkah? Begitu ya." Dan disambut anggukan oleh Seijuurou.
"Sebaiknya kau makan juga, kedua adikmu sudah makan dan berangkat tiga puluh menit yang lalu ke sekolah."
Navira mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Aku akan ke bawah untuk makan. Dah." Lalu segera berjalan pergi, meninggalkan anak sulung Nijimura itu sendirian.
Seijuurou sedikit memincingkan matanya. "Sepertinya aku harus membiarkan Ryouta dan Tetsuya menyelidikinya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kesampingkan orang gila diatas, mari lanjutkan cerita gila ini.
Navira berjalan menuju ke lantai bawah dengan tangga dan kemudian masuk ke dalam ruang makan. Kebetulan, ada Ryouta dan Tetsuya yang tengah makan juga disana.
"Ah, pagi, Navira-san." sapa Tetsuya saat meyadari keberadaan Navira yang memasukki ruangan.
Ryouta juga menyapa dengan senyum riangnya, "Pagi, Naviracchi~ Kau terlihat mengantuk."
Navira mengangguk, menyapa balik."Pagi juga, Ryouta,Tetsuya—hoam~.." gadis itu menguap sembari duduk di kursi makan dan dihadapannya sudah ada menu sandwiches isi keju dan sayur.
"Sudah terlihat kalau dia mengantuk, Ryouta-kun." Tetsuya berujar pada kakaknya yang setahun lebih tua darinya sementara Ryouta hanya menyengir kuda kemudian bertanya, "Bukankah hari ini kau masuk siang, Naviracchi?"
Navira mengunyah makanannya dan mengangguk kecil, "Iya, nanti kuliahnya jam siang jadi tidak ada masalah bangun kesiangan. Masalahnya di alarm sich.." kemudia ia menghela napas.
"Kenapa memangnya?" tanya Tetsuya.
"Alarm ponselku tidak berbunyi, jadi aku bangun kesiangan." Dan yang dikasih jawaban pun mengangguk mengerti.
Ryouta menyeletuk, "Ah, nanti boleh pergi bareng, nggak, Naviracchi? Kebetulan aku dan Tetsuyacchi juga punya jam siang. Boleh ya?~" pintanya dengan jurus mata anak anjing yang biasanya imut—tapi kalau dipakai olehnya, malah jadi buat Navira memandang jijik padanya.
Iuh. Lebih jijik dari Reo-chan; pikir sang anak sulung Kagami dalam hati.
"Uhm.. I-Iya, terserah kalian saja. Aku tidak masalah." balas Navira dengan muka santai, membuat Ryouta mulai senang, "Terima ka—"
"Tapi aku nanti tidak pakai mobil." sambungnya.
Eh?
"He? Kenapa?" tanyanya.
Navira menjawab dengan santai. "Karena aku biasa jalan kaki atau naik bus. Aku menolak memakai mobil kalian karena tidak biasa,"
Dan ia lanjutkan. "Kalau kalian keberatan, kalian pakai saja mobilnya dan—"
"Kami tetap ikut, Navira-san." Tetsuya menyahut, membat Navira mengerjapkan mata beberapa kali dan mengendikkan bahu. "Boleh saja. Sudah dulu ya." Ia berdiri, berajalan keluar dari ruang makan.
Ryouta bertanya, berdiri juga dari tempat duduknya. "He? Mau kemana, Naviracchi?"
"Mau ikut aku ke kamar mandi? Dasar mesum." ujarnya sarkastis dan melenggang pergi, meninggalkan Ryouta yang terpuruk dan Tetsuya yang tak peduli akan kakaknya mewek ditempat itu. Tidak kenal dengan orang kuning ini; pikir Tetsuya menyesal punya kakak sepertinya.
"Tetsuyacchi dan Naviracchi kejam banget-ssu!"
Siang yang terik—hal ini dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswi di salah satu universitas yang terkenal di Tokyo. Ya, Universitas Teikou.
Dan dirasakan juga oleh gadis berambut gelombang dan bermarga Kagami ini. Keringatnya bercucuran karena harus berlari menuju kelasnya. Benar-benar menjengkelkan, perjalanannya ke kampus bersama Tetsuya dan Ryouta malah membuatnya makin kesiangan untuk kelas jurusannya.
"Hari ini sepertinya benar-benar sial, bus tadi juga malah makin sesak gegara mereka berdua!" gerutu Navira sambil masuk ke kelasnya. Kemudian bel masuk berbunyi. Beberapa anak sudah mulai masuk ke kelas.
Ia berjalan ke bangkunya dan duduk dengan sekenanya sambil menghela napas dengan berat.
"Tumben telat, Kagami."
Navira menoleh ke arah sumber suara. Ada Mayuzumi Chihiro, teman akrab sejurusannya yang juga duduk di sebelah.
"Ah, Chii-chan! Iya, soalnya ada barengan." ujarnya sambil berpangku tangan dengan malasnya.
Mayuzumi sedikit mengedutkan sebelah matanya, sedikit sensi karena nama panggilan yang terkesan imut itu ditujukan padanya oleh sang sahabat karib.
Orang ganteng kok dipanggil namanya dengan nama imut? Chihiro gagal paham untuk hal ini, emak.
Dia menoleh ke arahnya, mulai bingung. "Barengan? Memangnya siapa?"
Navira mengambil novel yang tengah pemuda itu baca tapi gagal—membuatnya menggembungkan pipnya. "Kau tahu 'kan, yang kuceritakan padamu dan Reo cs?"
Mayuzumi mulai mengerutkan dahi saat menghindari serangan tangan gadis itu. "Oh, maksudmu calon saudara baru 'kan? Anak Kimia dan Sastra Jepang itu."
Navira mengangguk. "Iya, dan tadi mereka bersamaku untuk berangkat ke kampus."
"Lalu kenapa?" tanya Mayuzumi akan fakta itu.
"Kau tidak mengerti, Chii-chan! Mereka menyusahkan sekali. Fangirls Ryouta mengejarnya dan yang kena imbasnya malah kepada kami bertiga, Tetsuya selalu menghilang dan kami harus mencarinya dan selalu kaget kalau dia muncul. AAARRGGHHH, LAMA-LAMA AKU BISA JADI GILA!" curhat panjang lebar Navira sambil bersedakap tangan dan menyembunyikan wajahnya—menangis mewek di mejanya sendiri.
Mayuzumi hanya diam saja. Sahabat perempuannya ini benar-benar membuatnya bingung. Curhat kok bikin yang dengerin bingung? Sahabatnya yang satu ini unik sangat.
Hiraukan saja; pikir Mayuzumi yang hanya merespon dengan 'Oh' dan melanjutkan bacaan novelnya yang berisi waifu yang menanti dibelai dan mengabaikan Navira yang mulai stress.
"Apa itu?" tanya Mayuzumi yang melihat bungkusan sedang berwarna oranye dekat tasnya.
"Oh, pesanan Miyaji. Aku berhutang budi padanya." Navira menyeringai, "Mau juga?~ Isinya action figure lho~"
"Tidak terima kasih, aku bukan otaku anime sepertimu." balas Mayuzumi dingin dan Navira hanya tertawa kecil. Mayuzumi selalu membuatnya sedikit terhibur.
"Memang, tapi kau masih lebih otaku daripada aku. Nggak nyadar kalau waifumu memang bejibun minta dibelai sama yang punya?" Navira mencibir dengan tertawa cekikikan.
Mayuzumi langsung mengerutkan kedua alisnya dengan sok kalemnya. Waifunya malah dibawa-bawa. Dasar tak bertanggung jawab.
Eakk.
"Memangnya dia berhutang budi apa?" tanyanya lagi—mengganti topik.
"Nanti aku ceritakan pas istirahat dengan yang lainnya. Ada Bu Hikora tuh." Dan hanya anggukan kecil darinya sebelum ada dosen masuk ke ruangan mereka.
"Huahahaha!... Rasanya lucu sekali melihat ekspresi mereka. Kau tahu, seperti ini." Gadis berambut gelombang kemerahan itu mempraktekkan raut bodoh wajah calon saudaranya yang kaget—membuat teman-temannya juga tertawa.
"Hahaha.. Aduh, Navi-chan. Aku jadi tak kuat membayangkannya~" Reo—anak jurusan kecantikan itu mulai meredakan tawanya.
Momoi tertawa. "Iya, apalagi aku melihat wajah saudaramu yang dekil itu jadi makin jelek."
Riko malah menepuk ringan pundak Reo yang jadi sasarannya, "Huahaha!.. Kau membuatku makin tidak bisa menghentikan tawaku!"
"Kenapa tidak ada fotonya? Biar aku posting di grup viber biar makin heboh." celetuk Mayuzumi yang bosan mendengar mereka tertawa mereka terus-menerus bak ibu-ibu arisan rempong di rumah.
Mereka berada di kafetarian kampus dan berkumpul di satu meja panjang. Biasanya jam segini memang ramai di kafetarian kampus untuk berkumpul dan menghabiskan waktu sengang dari jam kuliah yang padat.
Untung saja tidak ada Tetsuya dan Ryouta, kalau ketahuan bisa berabe; pikirnya waspada.
Saat masih tertawa dengan berbagai hal—termasuk setelah membahas masalah yang diatas tadi—mereka bangkit dari meja untuk segera ke kelas selanjutnya dikarenakan jarak kelas dari kafetarian yang jauh.
Ponsel Navira berdering nyaring. Gadis itu mengambil benda elektronik tersebut sebelum kemudian membuka screen lock. Ketika ia melihatnya, kedua alisnya sedikit mengerut.
"Missed call? Tapi dari siapa?" pikirnya.
Nomornya dari Ichiira—antara mau menghubungi balik adiknya itu atau menyuratinya dengan pesan singkat saja sepulang kuliah, gadis itu mendadak bingung.
"Ah, aku telepon saja sekarang." Niatnya dan memberitahu sahabat-sahabatnya bahwa nanti dia akan menyusul.
Dipencetnya tombol hijau dan ditunggunya beberapa saat.
Trrr… trrr… trrr…
Kratak!
"Halo?"
[Onee-chan, bagaimana? Sukses besar untuk yang kemarin.]
"Hehehe… Pastinya. Rencanamu memang selalu saja berhasil. Mereka bahkan tak tahu kalau merekasudah tertipu.. Oh iya, kenapa menelponku?"
[Tidak, hanya terpencet saja tombolnya. Sudah ya, aku mau masuk ke kelas. Dah, Onee-chan.]
"Oke~ Bye!" dan sambungannya dimatikan. Navira menaruhnya di kantong celananya lagi dan kemudian mengambil tasnya di meja kafetarian sebelum berlari ke kelas berikutnya.
"Aduh, sialan. Mana istirahat sebentar lagi mau habis." gerutu Navira berlari kecil. Saat ini dia hendak pergi ke laboratorium universitas—tapi sayangnya jaraknya dari kelas kampusnya itu beberapa blok dan harus memutar agak jauh. Dan pelajarannya juga ada di laboratorium sastra itu.
"Umph!"
Tak disangka, saat ingin berbelok, Navira menabrak seseorang dan membuatnya jatuh bersama dengan orang tersebut.
"Akh.. Sakit—eh?" Saat ingin bangkit, ia merasakan sesuatu yang padat selain lantai yang dingin. Tangannya menyentuh sesuatu yang padat dan empuk. Seperti dada bidang.
.
.
.
.
.
Hah? Dada?
Dan ketika ia mendongak keatas, ia melihat yang ia tabrak adalah Kasamatsu.
Seketika itu juga Navira terpaku dengan wajah memerah, tak ayal juga degan Kasamatsu yang juga memerah karena jarak mereka berdekatan—ya mau bagaimana lagi, posisinya Navira itu mendongak ke Kasamatsu yang terduduk.
"A-Ah..Ma-Maaf, senpai!" ujarnya sambil menjauh dari Kasamatsu yang terpaku juga.
Kasamatsu berdiri sambil membantunya berdiri, "T-Tidak apa-apa. Salahku karena tidak lihat jalan." Dan Navira dibantu olehnya sebelum menunduk hormat meminta maaf.
"B-Bukan! Salahku yang berlari di koridor. Maaf, Kasamatsu-senpai." ujarnya gugup.
Hening sesaat karena canggung.
"Uhm, kau mau kemana, senpai?" tanya Navira untuk memecahkan kecanggungan.
Kasamatsu mengambil tasnya yang terjatuh, "O-Oh, itu.. ke gymnasium seperti biasa. Jam kuliahku sudah selesai." Dan dibalas anggukan kecil dari gadis itu.
"Bagaimana denganmu? Oh iya, kabarnya kau cukup sibuk belakangan ini." ujarnya lagi.
"Umm… ya begitulah.." jawab Navira dengan agak canggung sebelum berujar lagi, "Baiklah kalau begitu, aku duluan ya."
Navira berlalu pergi sembari memegangi tasnya meninggalkan Kasamatsu yang sedikit keheranan dengan sikapnya—tapi ia hiraukan sebelum pergi menuju tempatnya berlatih.
.
TBC
COmment or Review? Or Fave? 6w6
