Saya hadir kembali...
Meneruskan fanfiksi saya yang mungkin banyak kesalahan yang terkandung didalamnya. Baik disengaja maupun tidak disengaja...
Mohon maaf kalo keterlambatan update. saya malah awalnya mau HIATUS SEMENTARA bisa fokus sama kerjaan dan puasa. Tapi setelah melihat banyaknya riview dari para pembaca, entah kenapa saya jadi sangat semangat untuk melanjutkan cerita ini yang mungkin banyak kesalahannya...
sekedar info...
-Naruto disini tidak mempunyai kekuatan kyuubi/kurama, dengan kata lain kekuatan itu murni ada dalam dirinya, hehe
-Mungkin adegan Romance dalam cerita ini akan sangat sedikit atau bahkan mungkin tidak ada. Alasannya... karena saya tidak mahir alias tidak berpengalaman mengenai sesuatu yang berbau romance-romance. Kalo saya paksain, takut feel-nya malah kurang dapet...
So, saya minta maaf bila pembaca ada yang kecewa...GOMENASAI...
yang terakhir, SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKANNYA... (TERMASUK SAYA SENDIRI...)
Selamat Membaca...
"Beratus-ratus tahun berlangsung peperangan diseluruh dunia menyebabkan jutaan nyawa melayang dari semua pihak. Demi meminimalisir jumlah korban, suatu Kerajaan mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan dan keterampilan istimewa yang kemudian melatih mereka cara bertempur. Orang-orang itulah yang pertama kali dijuluki 'Knight', setelah dilatih dengan sangat keras mereka lalu diterjunkan ke medan peperangan. Seorang Knight dapat melumpuhkan atau bahkan membunuh ratusan Prajurit biasa, dan kabar mengenai kehebatan Knight menyebar keseluruh dunia. Untuk mengimbangi kekuatan musuh, Kerajaan-kerajaan di seluruh dunia lalu melakukan hal serupa, dan dengan itu lahirlah Knight-Knight baru.
Akhirnya saat-saat yang ditunggu semua orang datang, peperangan berakhir dengan dibuatnya perjanjian damai serta aliansi antar Kerajaan. Dengan berakhirnya perang, berakhir pula eksistensi para Knight yang kemudian perlahan tenggelam namanya. Untuk menghormati jasa-jasa para Knight yang secara tidak langsung juga turut andil dalam usaha perdamaian, 5 Kerajaan besar membuat sebuah kompetisi besar yang diberi nama GREAT KNIGHT TOURNAMENT".
Sasame mengakhiri cerita singkatnya, ia mendengus kesal mendapati teman-temannya tidak mendengarkan dan sibuk dengan berbagai hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Sementara itu Naruto terilihat memisahkan diri.
'Great Knight Tournament?'
Tanda tanya besar muncul diatas kepala si pirang, ia dari tadi hanya membolak-balikkan selembar kertas dengan gambar seorang pria berpakaian ala gladiator. Ia sebenarnya sedikit menyimak penjelasan Sasame, walau begitu ia tak akan mau peduli dengan hal-hal berbau adu kekuatan. Naruto merasa kapok dengan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya, dan ia tidak akan mau berniat mengalaminya lagi.
Siang ini ia bersama Sakura dan kelima anggota Rookie 12 berada dirumah ayah angkat Yakumo, berkumpul diruang keluarga sambil berbincang-bincang membahas sebuah kompetisi dengan nama Great Knight Tournament itu. Naruto yang memang dari awal tidak tahu sama sekali mengenai ajang itu hanya diam duduk disamping jendela sambil mendengarkan. Sesekali ia melirik kearah luar menikmati indahnya hutan yang kebetulan berada di sisi kanan tidak jauh dari rumah Yakumo. Angin sejuk dari arah hutan berhembus masuk dari celah-celah jendela dan menyapu rambut pirangnya. Kerinduan yang mendalam akan rumah dan keluarganya tiba-tiba datang menghampiri. Ditambah lagi dengan kejadian-kejadian yang sangat aneh yang dialami Naruto, membuatnya serasa ingin sekali pulang ke dunia asal dan kembali menikmati kembali kehidupannya yang normal itu.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, Naruto-san?" Suara lembut seorang wanita dewasa menyadarkan Naruto dari lamunannya.
"T-tidak... tidak ada Kurenai-basan.." ucap Naruto gugup, entah mungkin karena sibuk dalam lamunannya hingga ia tidak menyadari ibu angkat Yakumo, Kurenai Sarutobi duduk disampingnya.
"Begitukah?" wanita berambut panjang itu terkekeh mendapati raut muka lucu si pirang. Kurenai sebenarnya sedikit khawatir melihat Naruto hanya melamun dan memisahkan diri dari gerombolan remaja-remaja yang sejak sejam yang lalu sedikit menghangatkan suasana rumahnya yang sepi karena ditinggal sang kepala keluarga, Asuma Sarutobi pagi tadi yang mendapat panggilan mendadak dari istana.
Sambil tersenyum kecil, Naruto lantas berdiri kemudian kembali bergabung bersama yang lain. Meninggalkan sosok Kurenai yang masih menatapnya penuh arti.
'wajah anak itu rasanya mirip dengan seseorang, tapi siapa yah?'
.
.
"Sepertinya peserta turnamen tahun ini kuat-kuat." Kata Sakura, sambil melihat lembaran kertas berisi daftar peserta Great Knight Tournament. "Duo iblis Zabuza dan Haku... Toroi si elemen magnet... Kisame si Monster Hiu... bahkan Darui yang notabene seorang panglima besar di Kerajaan Klouds juga ikut serta".
"Kisame ya... " Idate senyum-senyum sendiri mendengar nama itu, "aku tidak sabar untuk mengalahkannya lagi!"
"Jika bukan karena bantuan Yakumo-chan, kau mungkin sudah terbelah jadi dua oleh Samehada milik Kisame! " Tenten berkata sinis menanggapi celoteh Idate.
Naruto yang baru mendudukkan diri hanya celingak-celinguk tidak jelas, ia hanya bisa mendengarkan tanpa tau maksud dari perkataan keenam orang beda gender itu.
"Naruto-nii, apa kau yakin tidak mau mendaftar di kompetisi?"
Naruto sedikit kaget saat Sasame bertanya padanya, dengan kikuk ia menjawab pertanyaan adiknya angkatnya itu, "t-tidak..."
'Aku tidak mau mati muda...' imbuhnya dalam hati.
Sakura menghela napas sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawaban si pirang, "sayang sekali, padahal kau punya potensi besar untuk memenangkan turnamen itu".
"Apalagi dengan kekuatan yang kau punya itu..." Lee menambahkan kalimat Sakura.
Semua orang selain Naruto berpendapat sama. walau sebenarnya mereka tidak tahu, kebenaran bahwa Naruto sendiri tidak bisa mengendalikan kekuatan yang ada pada dirinya itu.
.
.
Chapter 9
The Great Knight Tournament, bagian 1
Berlatih Mengendalikan Diri
.
.
Matahari sangat terik hari ini, si pirang yang sejak beberapa jam lalu berputar-putar sendirian menyusuri wilayah disekitar Kerajaan akhirnya memilih mengistirahatkan diri sejenak. Ia kini berada disebuah taman yang cukup luas, dengan beberapa pohon besar yang rindang, tempat yang sangat cocok untuk berteduh dari panasnya cahaya matahari. Ia memutuskan untuk memisahkan diri dan berniat kembali mencari informasi mengenai ilmu perpindahan ruang dan waktu serta informasi mengenai cincin takdir yang saat ini ia pakai. Sudah hampir seluruh perpustakaan di wilayah Kerajaan Hidden Leaf didatangi oleh Naruto semenjak kedatangannya pertama kali di dimensi ini, Terhitung sudah 2 minggu. Tapi hasilnya sia-sia dan nihil.
Naruto hanya bisa menemukan data-data dasar mengenai ilmu pemindahan ruang dan waktu, tidak sampai pada tahapan cara melakukan atau teknik untuk melakukan perpindahan antar dimensi. Ia bahkan tidak menemukan satupun artikel, buku, atau bacaan yang menyinggung soal cincin takdir. Ia jadi ragu, apakah cincin takdir itu memang ada. Jika memang cincin itu tidak ada, lantas bagaimana caranya ia bisa terdampar di dimensi ini.
Pasti ada suatu penyebab atau kekuatan lain, itulah kemungkinan yang muncul dibenak Naruto.
Dengan bekal dan ingatan akan cerita Iruka yang ia dengar, ia beralih mencari informasi mengenai orang-orang yang berhasil melakukan perjalanan ruang dan waktu. Dan dari situ ia berhasil menemukan sedikit data berupa nama-nama serta teknik dan jurus yang mereka gunakan.
Yang pertama adalah Tobirama Senju, seorang Raja terdahulu dari Kerajaan Hidden Leaf, yang kedua adalah Namikaze Minato yang juga merupakan Raja terdahulu dari Kerajaan Hidden Leaf, dan yang terakhir adalah Uchiha Obito, seorang Knight yang juga berasal dari Kerajaan Hidden Leaf.
Sayangnya ketiga orang itu hanya bisa menggunakan teleportasi untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, sedikit pengecualian untuk orang yang bernama Uchiha Obito. Memang ia menggunakan kemampuan untuk berpindah ke dimensi lain, tapi dimensi lain itu hanyalah dimensi yang ia buat sendiri dengan bantuan kekuatan istimewa dari klannya. Itupun juga hanya perantara untuk berpindah ke tempat lain sama seperti kedua orang sebelumnya. Naruto makin frustasi dan pesimis setelah tidak dapat menemukan cara untuk kembali ke dunia asal. Dan sepertinya, ia tenggelam dalam keputusasaan untuk menyerah dan pasrah akan keadaan.
.
.
Naruto duduk bersimpuh dan bersandar pada sebuah pohon rindang sambil mengamati sekitar. Tangan kiri ia jadikan bantal sementara tangan kanannya memegang sebuah buku setebal 5 centi dengan sampul bertuliskan 'Belajar Menjadi Seorang Knight' disertai gambar seorang pemuda berbaju zirah. Naruto merasa tertarik dengan buku itu saat pertama kali melihatnya sewaktu berkunjung kerumah Yakumo pagi tadi, beruntung Yakumo berbaik hati mau meminjaminya.
Naruto berfikir, mungkin ia bisa tau apa yang terjadi pada dirinya beberapa waktu lalu setelah membaca buku itu. Dengan rasa penasaran cukup tinggi ia lantas membuka sampul buku itu. Dibalik sampul tertera daftar isi dengan puluhan materi.
Bab Pertama: Berlatih Bela Diri
'Tidak perlu, gini-gini kan aku sudah lumayan hebat dalam urusan berkelahi,' pikir Naruto, diakhiri dengan kekehan kecil.
Bab Kedua: Berlatih Menggunakan Senjata
"Mungkin akan ku baca nanti..."
Bab Ketiga: Berlatih Mengendalikan Qi
"QI?" si pirang mengangkat sebelah alisnya setelah membaca kosa kata aneh, "sepertinya ini menarik".
Ia lantas membuka buku tebal itu perlahan untuk mencari topik yang menurutnya menarik itu. "Ketemu..."
Yang pertama Naruto lihat adalah gambar sketsa manusia dengan dikelilingi lima simbol alam. Dengan seksama dan teliti ia membaca kata per kata, dan juga mengamati berbagai gambar sketsa manusia yang sama namun dengan berbagai pose dan warna.
"Disini tertulis, Qi adalah sumber energi dasar yang diperlukan oleh para Knight untuk melakukan berbagai macam serangan. Knight menghasilkan Qi melalui kombinasi dari energi fisik dan energi mental." Naruto hanya bisa garuk-garuk kepala sambil mengerutkan keningnya," maksudnya apa sih, benar-benar membingungkan".
Otak Naruto yang pas-pasan hanya bisa meresap beberapa kata saja, walau begitu ia tetap melanjutkan acara membacanya," sekali dibuat, Qi bergerak ke seluruh tubuh dengan cara mirip sirkulasi tubuh. ehmm... jadi mirip jalur peredaran darah".
Sambil mengangguk-anggukkan kepala Naruto kembali membalik lembar per lembar dan kemudian menemukan topik dengan judul 'Praktek Menghasilkan Qi'. Ide iseng muncul didalam kepala si pirang, setelah membaca beberapa kali panduan-panduan yang tertulis, ia lantas berdiri dan kemudian memasang posisi kuda-kuda sama seperti yang tertera dibuku.
"kosentrasi dan fokuskan semua energi yang ada didalam diri dan juga aura disekitar tubuh," memejamkan matanya lalu Naruto bergumam lirih sambil terus berkosentrasi. Ia sedikit merendahkan badan dan sedikit lebarkan kakinya, kedua tangannya ia posisikan disamping dada sambil mengepalkan tangan.
Begitu membuka matanya, Naruto terlonjak kaget ketika mendapati kedua kepalan tangannya menyala biru seperti api namun menyejukkan.
"Apa ini yang dinamakan energi Qi?" ucap Naruto, ia lalu buru-buru mengambil buku panduan itu lalu kembali dibaca, mengabaikan kedua tangannya yang masih menyala.
"Dengan menambahkan energi Qi pada setiap serangan yang dilancarkan. Maka efek dari serangan itu akan berkali-kali lipat lebih cepat dan lebih kuat dari serangan biasa yang tanpa bantuan energi Qi, " setelah membaca kalimat itu, tiba-tiba Naruto teringat akan pertempuran dua orang (GILA) yang ia lihat beberapa hari yang lalu, " jadi ini alasan kenapa si muka cantik dan si rambut pantat ayam bisa bergerak dengan sangat cepat dan kuat. Mereka menambahkan energi Qi pada setiap pergerakan mereka".
Dan lagi sekelebat ide iseng muncul diotak si pirang, ia kembali memposisikan sikap kuda-kuda dan menyeringai aneh, "saatnya mencoba...".
Mengumpulkan seluruh kekuataannya, Naruto kemudian memukul sekuat tenaga pohon besar yang jadi sandarannya itu.
BUAKK...
1 detik...
Hening
2 detik...
Tidak terjadi apa-apa
3 detik...
Hanya ada suara burung berkicauan
10 detik kemudian...
"AAARRGGHH... TANGANKUUU...!"
Naruto teriak histeris kesakitan disertai guling-guling tidak jelas seraya memegang tangan kanannya yang bengkak, ia menyumpah serapah kepada entah siapa itu lalu melempar buku setebal 5 centi sembarang tempat," BUKU PANDUAN SIALAN...!"
"HAHAHAAA..."
Suara tawa seseorang menghentikan aktivitas lebay si pirang, Naruto memicingkan mata sengit sambil mencari asal suara itu. Matanya menanangkap sesosok pria paruh baya dengan rambut putih panjang bersandar di salah satu pohon cukup besar. Deathglare tajam Naruto kirim ke orang itu sambil perlahan mendekatinya. Urat segi enam sudah tercetak jelas di dahi Naruto saat melihat kakek itu terus saja diatas penderitaannya.
"Apa yang kau tertawakan kakek tua?!" sinis Naruto.
"Tidak ada,.. kau tadi melupakan satu tahap akhir sebelum melakukan serangan," sang kakek memasang muka santai, ia mengeluarkan sebuah buku dan pena dari kantong baju yang ia pakai dan menulis suatu kalimat sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Kompresikan atau pusatkan Qi yang telah dikumpulkan pada satu titik".
"?" Naruto yang tadinya berniat marah-marah seketika memasang wajah polos nan lugu. Alasannya...? tentu saja kalimat yang dilontarkan kakek itu yang hanya lewat telinga kiri keluar telinga kanan tanpa ada yang meresap kedalam otak.
'Benar apa yang dikatakan Iruka, anak ini sangat amat bodoh' kakek itu sweatdrop melihat ekspresi polos Naruto. Kakek itu kembali memasukkan buku dan penanya. "kompresikan atau fokuskan Qi yang telah kau kumpulkan pada satu titik. Misalnya, saat kau akan menyerang dengan tangan kanan, fokuskan dan kompresikan Qi-mu pada tangan kanan untuk menambah daya serang, contohnya..."
Kakek itu kosentrasi sejenak, beberapa detik kemudian muncul aura biru mirip api yang menyala di seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan energi itu terkumpul pada tangan kanannya.
"Setelah semua energi terkompresi, baru lakukan serangan," kakek berambut putih itu lantas memukul pohon besar yang tadi jadi sandarannya.
BUAAK...
"W-wow..." Naruto hanya bisa melongo melihat pohon yang kakek itu pukul berlubang, matanya berbinar-binar takjub.
"Sekarang giliranmu, Kuning."
"H-ha'i..." dengan semangat 45', Naruto mempraktekkan apa yang telah diajarkan kakek itu. Beberapa detik kosentrasi, tubuh Naruto terlihat menyala seperti kobaran api diseluruh celah tubuhnya.
DEG...
Naruto langsung membuka mata saat merasakan hangat dan sejuk secara bersamaan, persis dengan apa yang ia alami beberapa waktu lalu. Namun Naruto kembali berkosentrasi sambil mencoba mengkompresi dan memusatkan energi yang telah ia kumpulkan pada 1 titik, mengabaikan perasaan aneh itu.
'Kali ini, anak itu pasti bisa melakukannya,' gumam kakek itu dalam hati.
Niat kakek itu untuk kembali menulis terhenti saat tiba-tiba merasa tekanan udara disekitarnya menurun drastis dan sangat menyesakkan. Tubuhnya terasa sulit digerakkan, seakan dihimpit oleh batu besar. Dengan sedikit memaksa, ia mencari sumber kekuatan yang sangat kuat.
'A-APA APAAN ITU...' kakek itu terkejut bukan main dan hanya bisa menjerit dalam hati, mendapati tekanan energi yang sangat kuat itu berasal dari si pirang alias Naruto. Ia melihat jelas tubuh Naruto seperti dikelilingi aura biru bening yang luar biasa kuat. Raut muka terkejutnya berubah menjadi panik melihat tubuh Naruto bergetar hebat seperti menahan sakit. 'Tubuh anak itu pasti tidak akan kuat menahan beban energi sebesar itu. Aku harus menghentikannya!'
Merapal dan mengucapkan beberapa mantra serta memaksakan diri mendekati Naruto, kakek itu lalu memukul perut si pirang dengan menggunakan kelima jari tangan kanan yang sudah menyala biru. Naruto yang merasakan perutnya dihantam oleh sesuatu tentu saja kaget hingga membuat kosentrasinya buyar.
"K-kenapa kau memukulku ?!"
"Apa yang baru saja mau kau lakukan, pirang?!" bukannya menjawab pertanyaan Naruto, kakek itu malah balik tanya disertai tatapan setajam silet.
Naruto hanya garuk-garuk kepala dan tersenyum lemah, " aku berpikir... kalau kita cuma mengompresi energi hanya pada satu bagian tubuh saja, otomatis bagian tubuh yang lain akan jadi lemah. J-jadi... ku putuskan untuk m-mengemompresikan energi yang terkumpul ke seluruh titik tubuh agar seimbang. A-apa aku salah ya?"
"Pemikiranmu malah sangat tepat, hanya saja... tubuhmu tidak akan kuat menahan tekanan energi yang besar secara bersamaan. Butuh latihan yang sangat keras dan panjang untuk bisa mengontrol energi Qi ke seluruh tubuh." Kakek itu terlihat berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Oi oi Ojiisan... bolehkah aku tau siapa namamu?"
"Jiraiya.. "balas kakek itu tanpa menghentikan langkahnya, kemudian ia sedikit menambahkan ucapannya, "besok, datanglah kesini lagi... aku akan mengajarimu sesuatu yang menarik". Kakek yang bernama Jiraiya itu perlahan menghilang dari pandangan Naruto.
.
.
Keesokan harinya. Sesuai yang dikatakan kakek itu, Naruto sudah berada ditaman menunggu dengan antusias. Ia merasa penasaran, kira-kira apa yang akan diajarkan Jiraiya padanya. Beberapa menit menunggu akhirnya kakek itu muncul dengan membawa sebuah gulungan besar.
"Ikuti aku... kita akan pergi ke suatu tempat." Kata kakek itu, dibalas anggukan Naruto.
Mereka lalu berjalan menyusuri pemukiman, melewati tembok perbatasan, dan akhirnya setelah hampir sejam berjalan mereka tiba di suatu tempat. Sebuah air terjun dengan tinggi 15 meter yang berada di sebuah lembah dekat perbatasan Kerajaan Hidden Leaf. Pertama kali memijakkan kaki ditempat itu, Naruto seperti merasakan sensasi aneh namun terasa familiar seolah-olah ia pernah ke tempat ini. Naruto buru-buru menepis perasaan aneh itu, ia lalu memandangi Jiraya yang berada di sampingnya dengan penuh tanya.
"Apa yang akan kita lakukan di sini Jiisan?"
"Mulai sekarang panggil aku Sensei.."
"Eehh...?!" meski terpaksa Naruto akhirnya menuruti perintah kakek berambut putih itu, "yeah.. baiklah, apa yang akan kita lakukan disini 'SENSEI'?... kemarin kau bilang ingin mengajariku sesuatu".
"Sekarang buka bajumu dan berendamlah di air terjun itu. jangan membantah karena itu adalah salah satu tahap untuk memulai latihannya".
Naruto sebenarnya ingin protes, tapi karena kakek itu bilang begitu, dengan terpaksa ia menurut. Si pirang kini sudah merendamkan diri di kolam air terjun, hanya kepalanya saja yang tidak terkena air karena dalamnya kolam air itu hanya sebatas lehernya saja. Suhu super dingin langsung menusuk tubuhnya yang hanya mengenakan celana panjang, ia hanya bisa merengut kesal.
"Nah... sekarang kosentrasi dan pusatkan energi yang ada didalam diri dan aura disekitar tubuhmu, jangan mencoba untuk mengompresikan energimu. Kau hanya perlu memusatkan diri, biarkan energi-energi itu mengalir secara teratur keseluruh syaraf dan titik vital tubuhmu..." Jiraiya memberi instruksi pada Naruto. Ia juga terlihat melakukan meditasi sambil tetap mengawasi si pirang dari daratan. "Jangan pernah mencoba keluar dari air sebelum ku perintahkan".
Meski ogah-ogahan, Naruto tetap melakukan apa yang diperintahkan Jiraiya. Ia lalu memejamkan matanya dan mencoba memusatkan pikiran serta mengosentrasikan diri. Waktu terus bergulir dan berlalu dalam keheningan, bahkan Naruto menyadari dirinya sudah berendam di dalam air selama 6 jam. Mungkin karena ia terlalu fokus dan kosentrasi hingga tak menyadari sebuah kerikil kecil melayang dan mengenai kepalanya.
"Waktu berendammu sudah selesai, keluarlah..." kata Jiraiya yang terlihat duduk bersandar di tebing kembah, "apa yang kau rasakan saat ini, Naruto?"
"Aku merasa..." Naruto yang sudah keluar dari air sedikit tertegun dengan perubahan pada dirinya sendiri, " aku merasa sangat ringan seperti kapas namun juga sangat kuat bertenaga, tubuhku terasa hangat dan sejuk bersamaan".
DEG... DEG... DEG...
'ringan seperti kapas... kuat bertenaga... hangat dan sejuk secara bersamaan' kata itu tiba-tiba berputar di pikiran Naruto, memori ingatannya kembali berputar mengingatkannya akan perasaan-perasaan yang sama beberapa waktu silam.
"Perasaan-perasaan itu akan kau dapat setelah kau berhasil menyatukan dan mengaliri Qi-mu kedalam aliran darah dan aliran syaraf secara permanen. Alasan aku menyuruhmu berendam di air adalah untuk membuat tubuhmu tetap dalam kondisi stabil selama proses penyatuan energi Qi yang kau kumpulkan tadi." Naruto terkejut dengan pernyataan Jiraiya, dan ia semakin terkejut saat Jiraiya menambahkan kalimatnya. "Dan rasa panas seperti terbakar api serta pusing luar biasa yang kau alami setelahnya, itu karena tubuhmu tidak kuat menahan beban dan tekanan sangat besar akibat aliran energi Qi yang mencoba menyatu dalam tubuhmu..."
'Jadi itu alasanya kenapa perasaan-perasaan itu muncul.' pikir Naruto, raasa penasarannya terjawab sudah.
"Sekarang, pukul tebing ini" Jiraiya menepuk-nepuk dinding batu disampingnya mengisyaratkan Naruto, ia sedikit kemudian menyingkir " jangan ragu.."
Menuruti apa yang diperintahkan gurunya, Naruto perlahan berkosentrasi diri, "baiklah, aku siap...!"
'Pusatkan pikiran dan kumpulkan energi...' Naruto mengambil posisi kuda-kuda. Tanpa disadari mata Naruto berubah warna menjadi ungu jernih dengan pola seperti riak air. Jiraiya yang melihat itu hanya bisa melebarkan matanya terkejut bukan main.
'Kompresikan dan fokuskan energi pada satu titik... ' Tubuh si pirang menyala biru.
'Lalu SERANG...'
BUAKKK...
DUAAAR...
Dinding batu yang Naruto pukul seketika hancur meninggalkan lubang besar dan dalam. Naruto mengerjapkan mata takjub dengan aksinya sendiri.
"YEIIY... BERHASIL... BERHASIL... BERHASIL... HOREEE..."si pirang lompat-lompat tidak jelas kesana-kemari.
"dasar anak aneh." Jiraiya hanya bisa sweatdrop melihat tingkah bodoh Naruto, ia memutar bola matanya bosan sambil bersuara cukup keras, "tahap selanjutnya adalah menggunakan energi Qi sebagai serangan langsung".
"Eeh, masih ada lagi ya... apa aku harus kembali berendam, Sensei?" dan seperti biasa Naruto memasang wajah polosnya.
"Tidak perlu... tahap yang satu ini sedikit sulit. Sama seperti proses pengendalian Qi, namun yang berbeda adalah kau tidak mengompresikan energimu ke dalam tubuh, tapi mengompresikan atau memusatkan Qi-mu kedalam bentuk tersendiri, contohnya..."
Jiraiya lalu mempraktekkannya pada si pirang, ia bekosentrasi sejenak sambil mengumpulkan Qi kemudian mengangkat telapak tangan kanannya. Detik berikutnya sebuah bola berwarna biru terbentuk dari telapak tangan jiraiya dan melempar bola itu ke kolam air terjun.
BOOMMM...
DUARRR...
Bola itu meledak meski hanya ledakan kecil, namun itu sudah cukup membuat si pirang takjub bukan main.
"T-tunggu, sepertinya aku pernah melihat serangan seperti itu." Naruto memasang pose berpikir, "aku ingat... seseorang bernama Hyuuga Neji pernah melakukan hal yang sama, hanya saja berbeda dari yang Sensei ajarkan tadi".
'Dan sepertinya aku juga pernah melakukannya, walau secara tidak sadar...' imbuh Naruto dalam hati.
"Tentu saja, setiap orang mempunyai jurus dan teknik yang berbeda serta fariasi serangan yang berbeda pula... "jelas Jiraiya, si pirang hanya ber'oh'ria.
Naruto lalu mencoba mempraktekkan apa yang diajarkan padanya, semangat 45'nya kembali berkobar. Walau berkali-kali ia mencoba dan gagal, ia tetap tidak menyerah dan terus berusaha. Jiraiya sedikit tertegun melihat kesungguhan Naruto, entah kenapa ia jadi teringat seseorang yang sangat mirip dengan tingkah Naruto. Jiraiya yang sedikit bosan akhirnya memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk tidur sejenak dan membiarkan si pirang berlatih sendirian.
.
Tanpa terasa matahari sudah berada di ujung barat, menandakan sebentar lagi malam akan datang. Jiraiya yang sudah puas dan kenyang dengan acara tidurnya memilih bangun dan mencoba mengecek latihan murid dadakannya itu. Matanya melotot mendapati tempat yang tadinya terdapat sebuah air terjun yang cukup tinggi, indah, dan menteramkan hati telah berubah menjadi gersang dengan banyaknya lubang besar dimana-mana. Ia lantas menelusuri tempat gersang itu untuk mencari sosok si pirang. Dan lagi-lagi matanya dibuat melebar mendapati sebuah lubang dengan ukuran yang sangat besar dan dalam, tak lupa sesosok yang ia cari juga berada didalam lubang itu. Sambil tersenyum bangga, Jiraiya perlahan meninggalkan tempat yang acak-acakan itu meninggalkan Naruto yang tergeletak pingsan karena kelelahan setelah berlatih sangat keras.
"Sesuai janjiku, aku sudah melatih agar ia dapat mengendalikan kekuatannya ." Jiraiya berkata lirih pada sesosok makhluk yang terlihat mengikutinya dari belakang. "selanjutnya tergantung pada anak itu sendiri untuk mengembangkan dan menguatkan kemampuannya".
"Arigatou, Jiraiya-sama..." balas sosok itu.
"Aku tidak menyangka dan benar-benar terkejut, dia menguasai salah satu dari tiga kemampuan legendaris, Rinnegan.." Jiraiya perlahan menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap sosok itu.
"Jadi..." udara bergetar, tekanan kekuatan yang luar biasa membuat sosok itu menegang. Jiraiya menatap tajam sosok yang ada dihadapannya itu," Bisakah kau jelaskan semuanya, serinci dan sedetail mungkin... Mizuki-san?"
"H-hai, Jiraiya-sama...".
.
.
Naruto mengerjapkan matanya sesaat, menguap lebar lalu perlahan mendudukkan diri. Mungkin karena tertidur (bisa dikatakan pingsan) terlalu lelap hingga tak menyadari hari sudah menjelang malam. lemas letih lesu dan lapar ia rasakan saat ini. Dengan sisa tenaga Naruto bangkit dan merangkak naik dari dalam lubang yang ia buat. Naruto tersentak kaget di saat matanya menangkap pemandangan yang cukup mengenaskan.
"Sepertinya aku terlalu bersemangat tadi, " Naruto hanya bisa garuk-garuk kepala dan nyengir tanpa dosa sambil mengedarkan matanya, "Jiraiya-sensei kemana?"
Pertanyaan mendasar muncul dibenak Naruto, sejak kapan dan darimana kekuatan besar yang sekarang ia miliki? seakan dengan tiba-tiba ia mempunyai kekuatan itu.
"Kau pasti bertanya-tanya, kenapa kau bisa mempunyai kekuatan sehebat itu." Sesosok pemuda berambut putih muncul dari dalam bayangan malam. Naruto melebarkan matanya saat mengetahui siapa sosok itu.
"M-MIZUKI-SENSEI...?!"
"Hei... jangan melihatku sebegitunya, seolah-olah aku ini bukan manusia." Mizuki tersenyum (lebih tepatnya nyengir) sambil garuk-garuk kepala,"aah... aku lupa, aku kan memang bukan manusia... fufufufuu".
"J-jadi kau ini... "
"Yah, ini memang aku.. Dan maaf soal kemarin, aku tanpa izin masuk ke dalam alam bawah sadarmu". Mengabaikan perubahan raut muka si pirang, Mizuki lantas berjalan membelakangi Naruto, sambil melambaikan tangan mengisyaratkan si pirang untuk mengikutinya.
Mereka berjalan melewati pepohonan tinggi, sedikit naik ke dataran tinggi hingga sampai disebuah bukit. Angin malam yang dingin berhembus kencang dari berbagai sisi. Langit malam terlihat begitu dekat bila dilihat dari ketinggian puluhan meter dengan cahaya bulan dan bintang sebagai penerangan.
"Ribuan tahun yang lalu, terlahir seorang dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Ia dijuluki Sage Of Six Path, sang penerang jalan. Impiannya adalah mengakhiri kegelapan yang saat itu menyelimuti dunia, Dan pada akhirnya usahanya berhasil setelah berperang hampir dua ribu tahun lamanya. Sayang, ia harus kehilangan nyawa sebelum sempat mencicipi buah keberhasilannya".
"Memangnya ada orang dengan umur yang setua itu?" Naruto memotong cerita Mizuki dengan pertanyaan polosnya.
Mizuki hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis dalam berbagai arti lalu melirik Naruto, " kau lupa ya... ini dunia yang berbeda dengan duniamu, segala sesuatu yang menurutmu atau orang-orang diduniamu mustahil, terjadi disini".
'Aah, benar juga ya... ini kan dunia fantasi' pikir Naruto.
Mengambil napas panjang, Mizuki kembali melanjutkan ceritanya. "Dan saat kegelapan kembali menyelimuti 500 tahun yang lalu, seseorang dengan kekuatan hampir sama muncul dan dengan impian yang sama yaitu melenyapkan kegelapan yang menguasai dunia. Dan usahanya juga berhasil meski ia juga harus mengorbankan nyawanya.
"Lalu, apa hubunganku serta kekuatanku dengan orang-orang yang kau ceritakan tadi, Sensei?" tanya Naruto.
"Sangat berhubungan." Menatap langit yang cerah, Mizuki terlihat mengukir senyuman di wajahnya, "apa kau pernah dengar istilah Reinkarnasi, Naruto?"
"Reinkarnasi?" Muka Naruto terlihat bingung, ia mencoba mengingat arti dari kata itu." kalau tidak salah istilah yang mengemukakan bahwa seseorang yang telah mati akan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain".
"Kau mau bilang kalau aku ini adalah...".
"Tepat sekali. Itulah mengapa kau bisa mempunyai kekuatan sehebat itu." Mizuki menyeringai mendapati ekspresi terkejut Naruto. Ia lantas mengedarkan pandangannya pada pemandangan yang ada dibawah bukit. Terlihat bangunan Istana yang dikelilingi beberapa Mension serta rumah-rumah penduduk yang tertata rapi, sangat indah bila dipandang dari atas bukit. Ia lantas mengarahkan telunjuknya kearah pemukiman sambil berkata "lihatlah... betapa indah, tentram dan damai Kerajaan itu. Namun mereka tidak tahu, bahwa empatpuluh hari dari sekarang... kegelapan akan kembali menguasai dunia".
Mizuki lalu membalikkan badan seraya menatap Naruto dengan sorotan penuh harapan," hanya kau... reinkarnasi dari sang Sage, yang mampu menghentikannya...".
"EEEEEEHHH...!" Naruto syok berat mendengar kalimat itu, "t-ta-tapi..."
Sebelum Naruto menyelesaikan sanggahannya, Mizuki sudah memotong ucapan si pirang, "hanya kau..."
Angin sejuk berhembus menerpa dua sosok yang berdiri di bukit itu. Bulan, bintang, langit, dan bumi menjadi pelengkap indahnya malam itu.
"Nasib dunia ini, berada ditanganmu.."
.
.
.
"EEEEEEEEEEHHH...!"
Okeh...
Mungkin chapter ini yang paling SANGAT TIDAK JELAS...
Saya mohon maaf kalo para pembaca mungkin ada yang tidak paham dengan arti dan maksud tulisan saya diatas. Jujur, saya sendiri juga tidak paham dengan apa yang saya tulis, hehe... (tangan saya bergerak sesuai dengan imajinasi saya).
Mengenai penjelasan Q, mirip seperti pengertian cakra. hanya namanya saja yang saya ganti. hehe...
Terima kasih buat para pembaca sekalian...
ARIGATOU MINNA...
SARAN DAN KRITIK DITUNGGU...
