Story belong Lhyn Hatake
Cast Belong them self
Chanbaek/BaekYeol – GS
.
.
Chap 8
.
Matahari belum terbit, tapi aku sudah memeluk diriku yang kedinginan duduk dibangku taman kota. Hari masih buta saat Chanyeol membangunkanku dan membawaku ke tempat ini. Dia memintaku untuk berjalan pelan dan menghirup udara segar sementara dia berlari mengelilingi taman ini.
Memasuki bulan Oktober yang mulai berhujan membuat cuaca semakin dingin. Aku bangun dari kursi, berjalan pelan dengan sesekali merentangkan tanganku dan menghirup udara dalam-dalam. Tapi dingin membuatku melingkarkan lagi lenganku di dada dan kembali duduk dibangku berikutnya.
"Baek, cobalah bergerak, itu akan membuatmu lebih hangat," Chanyeol kembali melewatiku dan aku mengangguk singkat sebagai jawaban.
Chanyeol tersenyum dan kembali berlari menjauh. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan perasaan hampa. Chanyeol membangunkanku dengan senyumnya yang biasa pagi ini dan itu membuatku tahu bahwa dia tidak menyadari apa yang kulihat semalam.
Perasaan sakit ini… tak sedikitpun Chanyeol menyadarinya.
Aku bangun dan kembali mengambil langkah, sedikit berlari kecil kali ini dan mencoba mengatur napasku dengan baik. Napasku tak lagi beruap, ini berarti hari mulai hangat. Saat aku menatap kelangit, langit memang sudah jauh lebih terang sekarang. Pendar orange mulai menggantikan warna ungu gelap.
"Hai," tiba-tiba saja seorang namja berlari pelan disisiku, aku mengabaikannya. "Kau sendirian?" dia bertanya.
"Tidak," aku menjawab pelan. Berharap dia segera pergi.
"Bersama siapa? Temanmu?"
"Dia mungkin ada dibelakangmu dan akan segera menendangmu kalau kau tidak segera pergi!"
Dia menoleh kebelakang. "Maksudmu, mereka yang sedang berkencan?"
Aku mengacuhkannya, Chanyeol mungkin masih agak jauh hingga tak terlihat. Aku menoleh kebelakang, bermaksud mencari keberadaan Chanyeol tapi yang kulihat justru sesuatu yang membuatku terkejut.
Kenapa Zitao ada disini?
Chanyeol berlari bersama Zitao, saling bicara dan saling tersenyum. Hal seperti ini mungkin hanya akan sedikit mengusikku kalau aku tidak melihat apa yang semalam mereka lakukan. Tapi setelah melihat mereka berciuman semalam, apa yang kulihat pagi ini memang terlihat seperti sebuah kencan.
"Ya, mereka yang sedang berkencan! Aku selingkuhannya, jadi menyingkirlah karena aku tak tertarik pada pria single!" seruku kesal dan aku berlari menjauhi pria yang tak kukenal itu. Juga menjauhi Chanyeol.
Aku tak mengerti apa yang dilakukan Zitao, mendekati Chanyeol? Menarik perhatiannya? Apapun yang dilakukannya membuatku mulai tak menyukainya.
"Itu dia!" seruan Chanyeol membuatku berbalik dan melihat keduanya yang berjarak tak lagi terlalu jauh dariku. Aku berhenti berlari dan membiarkan mereka mendekat.
"Hai, Baekhyun," Zitao menyapaku, aku hanya tersenyum tanpa membalas sapaannya.
"Kita cukup?" Chanyeol bertanya padaku dan aku mengangguk menjawabnya.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa. Aku baru datang jadi masih harus lanjut," Zitao menjelaskan dan aku tak peduli. Yeoja itu melambai dengan senyumnya yang dibalas Chanyeol dengan lambaian singkat. Dia pun berlari menjauhi kami.
"Mau sarapan dimana?"
"Dirumah," Chanyeol bertanya dan aku menjawab dengan ketus.
"Kita bisa sarapan diluar."
"Dirumah saja, aku mau pulang."
"Lime Lines?" Chanyeol terdengar membujuk kerena itu café favoritku, pancake disana sangat enak dengan whipe cream lezat dan buah-buahan diatasnya.
"Aku mau pancake Kyungsoo, aku bisa pulang sendiri kalau kau mau ke Lime Lines dengan Zitao."
"Kau cemburu?" Chanyeol tersenyum dengan jari yang menunjuk hidungku dan memainkannya.
Jangan tersenyum karena sesuatu yang menyakitiku! Aku berlari meninggalkannya. Chanyeol bodoh! Bagaimana bisa dia melakukan itu? Menyakiti hatiku dan tertawa setelahnya?
"Hei!" Chanyeol mengejarku. "Apa yang membuatmu marah? Kami tidak sengaja bertemu tadi, kau lihat dia berlari sendiri!"
"Menjauh dariku! Aku mau pulang!"
"Baekhyun!" Chanyeol mendapatkanku, dia menarik bahuku dan menatapku. "Baiklah, kita pulang. Kau akan mendapatkan pancake Kyungsoo mu dan apapun yang kau inginkan."
Aku membuang wajahku darinya, kembali berjalan menjauhinya menuju dimana lamborgininya terparkir. Aku tak lagi ingin bicara dengannya, sepanjang perjalanan pulang aku hanya menatap jendela dan mengabaikan apapun yang dikatakannya.
Saat tiba dirumah, aku kembali meninggalkannya menuju meja makan. Menemaninya sarapan dalam diam dan kembali meninggalkannya menuju kamarku. Ponselku bergetar, aku berniat mengabaikannya karena kupikir itu Chanyeol. Tapi saat kulihat ID pemanggilnya, aku segera menjawabnya.
"Halo Gege?"
"Baekhyun, apa kau ada acara malam ini?"
"Tidak."
"Bisa kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Ada apa? Apa soal tawaranmu?"
"Ya, soal tawaranku tapi ini sedikit berbeda, tak perlu khawatir karena sebagian besar hanya undangan makan malam."
Aku berpikir sejenak. "Ya, baiklah."
"Bagus, kenakan pakaian terbaikmu malam ini, Sayang."
Yifan menutup ponselnya dan aku menghela napas lelah. Ini pagi yang menyebalkan, setelah mandi dan mematut diriku di kaca, aku meraih tas kuliahku dan keluar perlahan dari rumah ini. Bermaksud kekampus dengan bus tanpa Chanyeol namun berakhir gagal karena saat tiba digerbang depan Park Chanyeol mencegat jalanku dengan Range Rovernya.
Dia hanya menggerakkan kepalanya untuk memintaku masuk. Terlintas pikiran untuk mengabaikannya tapi aku pikir itu akan memperlambat dan aku akan telat masuk kelas pagiku. Zitao sudah duduk dikursi belakang saat aku masuk, tanpa menyapa Zitao ataupun Chanyeol aku duduk dan kembali memandang jendela.
Seperti biasa, dia mengantar Zitao sebelum mengantarku ke kampus. Mobil berhenti diparkiran dan aku telah melepas seltbelt-ku saat Chanyeol mencegahku pergi.
"Apapun yang membuatmu kesal, aku minta maaf."
"Aku tidak kesal," jawabku, kali ini aku memandangnya.
"Baekhyun…"
"Chanyeol, aku harus kekelas." Aku memotongnya, dia mengangguk dan saat dia akan keluar dari mobil aku mencegahnya. "Aku sendiri, kau tak perlu khawatir. Aku bukan anak kecil lagi."
Ini bukan hari yang baik. Aku mencoba menyelesaikan semua kuliah dan segala tugas-tugas yang menyertainya dengan baik tapi bayangan Chanyeol dan Zitao yang berciuman terus mengganggu konsentrasiku.
Chanyeol tak menelponku untuk makan siang dan tak bilang akan datang menjemputku pulang saat semua kuliahku sudah berakhir. Aku kembali dengan sebuah bus bersama Jongin. Kali ini Jongin tidak datang kerumah untukku tapi untuk Kyungsoo. Aku senang mendengar ceritanya tentang hubungan mereka. Jongin terdengan tulus saat bercerita dengan menambahkan beberapa harapan untuk mereka.
Jongin pria yang baik, aku tahu itu. Hanya saja dia belum beruntung saat bertemu denganku dan kuharap kali ini dia beruntung dengan Kyungsoo dan mereka bisa menjalin hubungan yang baik dan serius. Mereka berdua adalah orang baik dan layak mendapatkan yang terbaik.
Kyungsoo menyambut kami digerbang dengan senyum cerahnya, dia memelukku dan tersenyum malu-malu pada jongin.
"Oh, Baekhyun. Tuan Muda Yifan menunggumu didalam?"
"Ha?" aku mengernyit. Ini masih sore dan Yifan bilang akan menjemputku malam nanti. Saat melewati parkiran, aku memang melihat lamborgini merah milik Yifan yang terparkir persis di samping lamborgini hitam Chanyeol. Setahun yang lalu Yifan, Chanyeol dan Sehun memang kompakan untuk membeli lamborgini bertype sama dihari yang sama hanya pilihan warna yang berbeda.
Kyungsoo membawa Jongin melalui sisi rumah sementara aku masuk melalui pintu depan dan melihat Yifan yang tampan duduk mengobrol ringan dengan Umma Chanyeol di ruang keluarga.
"Nah, yang kutunggu sudah datang," Yifan tersenyum padaku dan melambai.
"Gege bilang akan datang malam."
"Yah, pekerjaanku selesai lebih cepat jadi aku langsung kesini untuk mengobrol sebentar dengan Ahjumma cantik dan sexy ini," Yifan memeluk Umma dan mendapat gusakkan keras di rambutnya sebagai balasan.
"Kau perayu ulung seperti Appamu rupanya," Umma masih tersenyum.
"Aku bersiap dulu, Gege."
"Jadilah cantik, Baekhyunee."
Aku tersenyum dan meninggalkan mereka untuk mempersiapkan diriku. Mandi dan mengenakan gaun peach selutut berlangan pendek yang sangat kusukai serta menyisir dan memoles tipis lipstick pink dibibirku. Dengan miniboot yang memeluk kakiku dan sweater putih di pundakku dan aku siap untuk sebuah makan malam pertamaku dengan namja selain Chanyeol.
Aku senang saat Yifan memujiku cantik meski aku tak berharap dia akan terpukau dan menatapku cukup lama. Setelah berpamitan dengan Umma yang masih memeluknya, Yifan pun membawaku kemobilnya dan mulai melaju membawa kami pergi dari sana.
"Belum saatnya makan malam, kau mau kalau aku membawamu menonton pertunjukan music jalanan?"
"Oh, benarkah? Dimana?"
"Tak jauh dari tempat yang ku booking untuk makan malam kita."
Aku mengangguk menyetujui, kupikir malam ini akan cukup menyenangkan untukku, mengganti pagiku yang kacau. Yifan menyalakan musik dan suara seorang penyanyi terkenal melantun indah. Aku cukup menyukai penyanyi ini, beberapa lagunya ada dalam folderku di ponsel dan laptop.
Yifan memarkirkan mobilnya ditepi jalan dekat trotoar yang ramai. Namja ber-mama China itu turun dari mobilnya dengan cepat untuk membukakan pintuku. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.
"Ayo, ini akan menyenangkan."
Aku menyambut uluran tangannya dan dia membawaku berjalan kearah sebuah kerumunan ramai yang bercahaya. Saat mendekatinya, aku melihat seorang yeoja cantik yang duduk ditrotoar sedang memainkan gitarnya. Dibelakang yeoja itu ada tiga namja yang masing-masing memegang sebuah gitar, drum dan keyboard. Beberapa lampu tanpa kabel mengelilingi mereka dan mengeluarkan cahaya.
"She's my baby saehayan geu son kkeute…
Nogabeorin syokollatte you're walking into my door, oh yeah!" yeoja itu mulai menyanyi, suaranya indah.
"Namanya Xi Luhan, kekasih Sehun."
Aku mendelik pada Yifan "Bohong! Dia masih belasan tahun!"
"Itu sebabnya kita tak boleh membicarakan seks didepan Sehun, dia akan frustasi."
Aku tak menjawab, meski Yifan tidak mengatakannya aku pun tak mungkin membicarakan seks dengan Sehun.
"Chinguga anya… Imi cheoeum neol bon geu sunganbuteo
Geunyang haneun mal anya…Lady! Ojik nan neomaneul"
Dia mendongak dan tersenyum saat melihat kami. Yifan mengeluarkan dompetnya dan memasukkan beberapa lembar uang ke kotak kayu yang mereka sediakan.
"Mereka melakukannya untuk amal, Mamanya mengelola sebuah panti asuhan."
"Mama?"
"Oh, dia keturunan China-Korea."
"Sehun menyukai gadis China? Persis seperti Appanya."
"Ya, tapi ku harap Luhan lebih beruntung dan berumur panjang."
"Gege, percayalah… setiap wanita rela mati untuk melahirkan putranya, Mama pasti bangga bisa melahirkanmu."
"Ya, tapi seharusnya dia juga memberiku kesempatan untuk membahagiakannya, kau beruntung memiliki Ummamu di tiga tahun pertama hidupmu."
"Oh, ingatan anak tiga tahun memang sangat bisa diandalkan. Oke, kita mulai melankolis, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini sebelum kita sama-sama menangis."
"Ide yang bagus."
Aku mendengarkan lagunya yang indah dan tanganku bertepuk tangan dengan sendirinya saat lagu itu berakhir. Dia yeoja yang cantik dengan rambut coklat yang terkuncir kuda. Tangannya dengan lihai memainkan gitar dipangkuannya.
"Let it go! Let it go! That perfact girl is gone, here I stand in the light of day…Let the strom range on…. The cold never bothered me anyway."
Aku baru saja mendengarkan lagu kelima dari mereka saat Yifan menarikku untuk berdiri. Saat sadar dari buaian lagu mereka yang indah, langit sudah malam dan dibelakangku telah berdiri begitu banyak orang untuk menonton pertunjukan mereka.
"Saatnya makan malam," gumam Yifan, menarikku dalam genggaman tangannya.
Aku mengikutinya, masuk dengan senyum ketika dia membukakan pintu mobilnya untukku. Kembali berada dibelakang kemudi, dia mengemudikan mobilnya kejalanan dan hanya beberapa saat dia mulai memasuki gerbang sebuah hotel mewah.
Tiba dilobby dia kembali membukakan pintunya untukku dan aku keluar. Setelah menyerahkan kuncinya pada petugas valet, dia membawaku masuk, berjalan melewati reseptionis menuju ke lift.
"Kau pernah kemari? Kuharap tidak," dia menatapku ragu.
"Maaf, Chanyeol pernah membawaku makan diatas hotel tinggi ini. Tempat ini memang sangat indah," jawabku.
"Ah! Sial, seharusnya aku memilih tempat yang lebih tidak biasa," dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini cukup tidak biasa, percayalah."
Yifan tersenyum dan membawaku masuk kelift yang sudah terbuka. Yifan menekan tombol teratas dan aku merasakan gerakan yang halus dan sesaat ketika lift mulai berjalan. Saat pintu lift terbuka, sebuah lorong kaca menyambut kami, cahaya terang keemasan dengan lampu-lampu yang begitu indah tak diragukan lagi membuat tempat ini sangat istimewa.
Kami berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, tak jauh, hanya beberapa meter dan pintu kaca dengan dua orang doorman telah menyambut kami. Saat memasuki restaurant, sebuah perasaan aneh menyentakku.
"Gege, tolong katakan kau tidak membooking penuh seluruh meja dan kita tidak akan duduk di meja itu," seluruh restaurant terasa temaram dengan meja-meja kosong dan hanya sebuah meja yang terlihat terang dengan banyak lilin diatasnya. Satu-satunya meja yang diletakkan di balkon kaca yang mengarah langsung ke pemandangan kota dan Namsan tower yang terlihat nyata.
"Sayang sekali, kita memang akan duduk disana," Yifan tersenyum padaku dan kali ini dia menarik pinggangku untuk mengikutinya. Suasana ini membuat jantungku mulai berdebar.
"Gege, seharusnya kau—"
"Jangan katakan apa yang harus aku lakukan, Baekhyun. Cukup ikuti dan nikmati."
Dia menarikkan satu dari dua kursi untukku dan aku duduk diatasnya. Selain lilin ada juga kelopak-kelopak mawar yang bertebaran diatas mejanya. Dua buah gelas ramping dan tinggi serta sebuah ember penuh es dan sebotol champagne didalamnya.
"Baekhyun," Yifan memanggilku, nadanya terdengar jauh lebih berat dari biasanya. "Aku tahu kau sudah mulai curiga, jadi kurasa aku tak bisa berlama-lama," dia bangkit, dan tanpa kuduga-duga, namja tinggi itu menekuk sebelah lututnya tepat dihadapanku.
"Gege apa yang—" dia mengulurkan sebuah kotak hitam berbeludru dan membukanya… mataku melotot dan mulutku terbuka tak percaya.
"Dengarkan baik-baik Byun Baekhyun, ini bukan kepura-puraan. Tidak seperti sebelumnya, aku mengatakan ini untuk sebuah pernikahan yang sesungguhnya. Menikahlah denganku dan jadilah bagian dari hidupku."
Aku kehilangan kemampuanku bicara.
"Memang tak seharusnya pernikahan dilakukan seperti ini. Percayalah, meski tak ada romansa, aku mencintaimu dan ingin selalu melindungimu, membahagiakanmu dan tak ingin sedetikpun kau terluka karena siapapun."
"Gege," suaraku terdengar aneh.
"Byun Baekhyun, menikahkah denganku."
"Gege, aku… kalau ini untuk sungguh-sungguh aku benar-benar tidak tahu, maksudku, kupikir kita…" aku benar-benar kebingungan.
Kami terdiam cukup lama dan saling memandang, hingga akhirnya Yifan tersenyum dan menutup kotak cincinnya lalu mengulurkannya padaku. "Kau boleh memikirkannya dan kau boleh menyimpan cincin ini meski nanti kau menolakku. Aku membeli itu khusus untukmu."
Tanganku yang seolah menjadi batu tak bisa menolak saat Yifan menjejalkan kotak itu diantara jari-jariku.
"Kenapa kau melakukan ini Ge? Kau tahu kita… 'tidak saling mencintai secara romansa' meskipun aku sangat mencintaimu sebagai Gegeku yang tampan dan baik hati. Menikah tidak akan cukup dengan perasaan yang kita miliki."
"Nenekku ingin aku menikah. Kau tahu aku satu-satunya keluarganya setelah putri satu-satunya meninggal saat melahirkanku? Dia sudah sangat tua dan satu-satunya hal yang dia inginkan saat ini hanya melihatku menikah."
"Lalu, kenapa aku?" aku bertanya mulai kembali merasa santai.
"Pertama! Karena tak banyak wanita yang kukenal, terutama yang belum menikah, aku tak keberatan menikahimu. Kedua, kalau Chanyeol berkeras untuk menyelamatkanmu dariku, maka dia harus melepas Zitao dan aku bisa menerima gadis itu dengan sangat baik." Dia tersenyum.
"Licik," gumamku. "Tapi sepertinya kau harus terpaksa menikah denganku, kupikir Chanyeol sedang mulai menikmati apa yang sedang Zitao rencanakan."
Yifan memandangku.
"Aku melihat mereka berciuman."
Dan suasana aneh tiba-tiba menyelimuti kami. Seorang waiters datang dan menawarkan menu. Aku pernah kemari beberapa kali sebelumnya, mencoba beberapa menu dan aku tahu mana yang terbaik dari mereka.
Kami kembali mengobrolkan hal-hal yang biasa saat menyantap makanannya. Membicarakan Sehun dan gadis pemain gitar dengan suara indah itu, lalu beralih membicarakan Chanyeol dan begitu cepat beralih kearah Zitao.
Aku bersyukur Yifan tidak membiarkanku meminum champagne karena dia tahu aku sama sekali tak bisa menyentuh alcohol. Dia salah seorang dari sedikit manusia yang sangat memahamiku.
Saat meja kami kembali bersih dari makanan dan obrolan kami mulai jauh dari topik, Yifan mengajakku pulang. Kami tiba kembali di lobby hotel dan petugas Vallet menyerahkan kunci mobil Yifan padanya. Yifan membukakan pintu mobilnya untukku dan aku masuk. Yifan ikut masuk dan mulai menjalankan mobilnya, hanya sebentar karena begitu keluar dari area hotel, dia menepikan mobilnya didekat trotoar yang kosong dan berbalik kearahku. Aku mengikuti gerakannya.
"Ada satu hal lagi," dia berujar.
"Apa?"
"Tapi kali ini aku ingin kau menerimanya."
Aku mengernyit dan sebelum pertanyaan keluar dari mulutku, tangan Yifan telah menarik tengkukku dan menyatukan bibir kami.
Deg.
Aku terpaku, merasakan bibirnya yang hangat mengecupi bibirku.
Deg. Deg.
Jantungku mulai kembali berpacu saat dia menggiringku, menuntutku untuk membalas kecupan-kecupannya, dan sisi pemberontak dalam diriku muncul dan mendorongku untuk melakukannya. Aku mulai dengan mengecup kecil bibir atasnya dan Yifan menarik tengkukku lebih dalam, mengecupiku lebih keras. Lidahnya mulai membelai bibirku, aku sedang mempertimbangkan untuk mengijinkannya masuk saat sebuah benturan keras menggoncang tubuh kami.
"BRAAAKKK!"
Goncangan yang sangat keras, menyentak tubuhku terbanting ke kursi mobil dengan keras.
"Fuck!" Yifan mengumpat kasar.
Kami sama-sama melihat kedepan dan jelas memberikan reaksi yang sangat berbeda saat melihat apa yang baru saja terjadi. Yifan mendengus kasar sementara dadaku tiba-tiba saja melompat-lompat tak terkendali.
Chanyeol, menabrakkan mobilnya ke mobil Yifan.
Kaca film lamborgini hitam itu sangat gelap hingga tak terlihat siapa dibalik kemudinya. Tapi jelas, lamborgini hitam itu milik Chanyeol.
"Tetap disini! Apapun yang terjadi, tetap disini!" Yifan memperingatkanku dengan tajam. Emosinya tersulut dengan cepat.
"Tidak, gege jangan keluar!"
"Aku harus membayar mahal untuk memperbaiki mobil ini dan aku tak ingin pergi begitu saja tanpa memberi satu pukulan pada pelakunya!" Yifan melepas seltbelt nya dan keluar meninggalkanku. Disaat yang hampir bersamaan, Chanyeol juga keluar dari mobilnya, aku melihat kemarahannya mencapai puncak yang tak terkendali di wajahnya.
Aku melepas seltbeltku hendak keluar tapi, saat membuka pintu mobil aku tersadar Yifan benar-benar tak ingin aku keluar karena dia mengunciku didalam. Aku mulai panik saat keduanya mulai saling memukul. Aku meraba-raba sisi kemudi, mencoba mencari tombol kuncinya dan menemukannya dibagian pintu setelah entah berapa lama aku mencari dengan panik.
Aku menyongsong keluar dengan cepat dan kebingungan tentang cara memisahkan mereka yang tengah saling menyerang tanpa membuatku ikut terkena sebuah pukulan. Tapi sedetik kemudian aku berpikir bahwa sebuah pukulan mungkin tak terlalu buruk dan aku berlari menyongsong ketengah-tengah mereka.
'Bugh!'
"BAEKHYUN!"
Dan benar saja, kepalaku langsung berputar dengan nyeri yang sangat hebat saat sebuah kepalan entah milik siapa menyentuh pelipisku. Aku terhuyung dan menabrak mobil pelan, mencoba bersandar agar tetap berdiri.
"Apa yang kau lakukan!?"
"Kubilang tetap didalam!"
"DIAM KALIAN BERDUA! Ya tuhan ini pusing!"
Keduanya diam.
"Ayo pulang, kita perlu mengobati lukamu," Yifan gege berkata.
"Dia akan pulang bersamaku!" Chanyeol menyahut tajam.
"KUBILANG DIAM!" aku menarik napas dalam. "Gege, aku pulang dengan Chanyeol, terimakasih untuk makan malamnya," aku berkata tanpa memandangnya, aku masih harus menunduk karena kepalaku berdenyut luar biasa. Dan mereka harus segera dipisahkan dalam jarak yang jauh.
"Baiklah, aku akan menelponmu nanti."
Begitu Yifan masuk kedalam mobilnya dan pergi, aku menatap Chanyeol yang tak menatapku. Aku menghela napas pelan dan meninggalkan Chanyeol untuk masuk kedalam mobilnya. Dia menyusulku masuk dan langsung menjalankan mobilnya menjauh dari sana.
Sepanjang perjalanan kami terdiam. Sepanjang aku mengamatinya, dia benar-benar marah hingga tangannya yang berada di roda kemudi mencengkramnya terlalu kuat. Sesekali dia mendengus kasar dan memukul kemudinya.
Tiba-tiba Chanyeol menepikan mobilnya, tangannya bergetar kasar saat meraih kotak obat di belakang. Dia mengambil plester demam dan menempelkannya dipelipisku dengan wajah yang masih sama kaku dan rahang yang mengatup rapat.
"Ini akan meringankan ruamnya. Maaf, tak bisa menghentikan tanganku."
"Hanya itu? Kau juga sudah menabrak mobil Yifan dan kita bertiga bisa saja dalam bahaya."
Chanyeol menatapku tajam. "Aku tidak menyesal untuk itu."
Aku meraih kotak obat dari Chanyeol dan mencari-cari sesuatu yang bisa kugunakan untuk mengobati luka-luka lebam dan berdarah yang Chanyeol dapatkan. Aku menemukan alcohol dan kapas, aku membasahi kapas itu namun saat tanganku bergerak kewajahnya, dia menepisnya dengan kasar. Kapas itu jatuh begitupun keberanianku dan jantungku berdenyut sakit.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan!?"
"Aku hanya ingin mengobatimu," aku bergumam pelan.
"Kau membiarkan dia menciummu!"
Aku memejamkan mataku menahan rasa panas dan sesuatu yang mendesak didalamnya. Lalu, tiba-tiba saja bayangan itu muncul, sekelebat bayangan Chanyeol dan Zitao.
"Kupikir, awalnya aku tak tahu kenapa aku menerimanya. Tapi kemudian aku sadar, aku hanya ingin kita impas."
Aku memandang lurus kedepan sementara Chanyeol berpaling menatapku. "Impas?"
"Kau dan Zitao juga berciuman."
Chanyeol tampak terkejut. "Baekhyun—"
"Ya, aku melihatnya," aku menatapnya dan aku tahu, sebagian dari kemarahannya telah hilang berganti penyesalan pada dirinya sendiri.
"ARGGHH! SIAL!" Chanyeol mengeram, berteriak dan memukul kasar roda kemudi.
Setelahnya Chanyeol terus diam begitupun aku.
Begitu tiba dirumah, aku segera berlari menuju kamarku dan menguncinya. Sesegukan dibawah selimutku meruntuki betapa kacaunya hari ini.
.
.
Oh Mansion
Oh Sehun, putra bungsu keluarga Oh berlari cepat menuruni tangga. Hal yang mengejutkannya dia lihat dari balkon kamarnya beberapa saat yang lalu. Dia melompati tiga tangga terakhir dan berbelok cepat kearah pintu depan. Melihat seseorang yang dia tuju sedang menutup pintu dia berteriak.
"HYUNG APA YANG TERJADI PADA MOB— YA TUHAN! KAU KENAPA?" pertanyaannya segera berubah saat melihat kondisi hyungnimnya yang babak belur.
"Sehun, kenapa kau berteri— Ya Tuhan Yifan, kau kenapa?" yeoja cantik paruh baya bergabung dengan kehebohan di Mansion Oh malam itu.
Yifan menghela napas pasrah. Dia akan diinterogasi.
"Mobilnya juga penyok Umma, mungkin dia kecelakaan, tapi ini seperti luka pukulan," Sehun mengamati wajah Yifan dan menilai lukanya. "Kau habis diserang geng preman Hyung?"
"PAK LEE! TOLONG AMBILKAN KOTAK OBAT!"
Yifan diam dan tak melakukan apapun saat Ummanya menarik dia masuk dan mendudukkan dia dengan terlalu lembut di sofa ruang keluarga sementara Sehun mengekori dengan terus mengomentari luka-lukanya.
"Perkelahian tangan kosong!?"
"Apa yang terjadi? Kau bilang akan melamar seorang gadis, apa ayah gadis itu tak mengijinkanmu dan melakukan semua ini?" saat ummanya mulai bertanya, akan lebih baik jika Yifan menjawab dengan jujur agar tidak memperpanjang prosesnya.
"Chanyeol," gumam Yifan.
"Ha? Dia tadi kesini dan menanyakanmu," Sehun tampak terkejut.
Yifan melirik tajam pada Sehun, akhirnya dia menemukan siapa orang bodoh yang mengatakan keberadaannya pada Chanyeol. "Ya, dia datang padaku dan aku berkelahi dengannya."
"Apa yang terjadi?" Umma.
"Siapa gadis yang kau lamar?" Sehun.
Yifan terdiam sejenak menatap Umma dan Dongsaengnya dengan pasrah. Dia menghela napas berat sebelum menjawab. "Baekhyun. Aku melamar Baekhyun."
"…"
"…"
Selanjutnya, mereka mengobati luka Yifan dalam diam.
.TBC.
Bagian terakhir Cuma pengin menunjukan bahwa keluarga Yifan jauh lebih Care ke Yifan dari pada keluarga Chanyeol ke Chanyeol. Padahal disini Yifan itu bukan anak kandung ummanya lho. Jadi bisa dipahamikan kenapa Chanyeol 'terikat' banget sama Baekhyun? Bagi chanyeol, Baekhyun adalah satu-satunya orang yang peduli padanya.
Dan chapter ini lebih panjang!
Terimakasih sekali lagi aku ucapkan untuk Riviwer baru dan Terima kasih banyak untuk Riviewer lama yang tetap setia :
Byunliv, Riribas, Sukmatheunyum, Realvina, Parkobyunxo, Parkyubi, Ohlu1204, TKsit, Narashikaino, Byunae18, Neli Amelia, 4Kimhyun, Intaaany, Inspirit7Starlight, Byunaekkie, RahmaIndrawati, Ay, Checiliabyun, B, Chanbaekhunlove, Chika Love Baby Baekhyun, Ryry, Baekhyunee, Pcy Bbh, Devvana614, Siyya217, Baby Baekkie, Raeho, HoseeAul, Deboramichailin, Chenma, Aerii, Adorahttr, Chanbaek lopelopelope, Bbyun40, Jjia, Bubbletea947, KKM, Selene3112, Voustalgram, Jaming, Parkbaexh614, Ervyanaca, Chankybaek, Real Park Hana, Sebeyeolxo, Yousee, Baek04, AeElf, BaekheeChanlove, Huh, Sakura, Dila, Chikabaek, Indivpcy, Bebekjail, Effa Exolelf, Byunbaekkki, MpietLee, Bie, ChanBaekJjang, Byunbaekhill, Guest, Klm27, Rizkaa, Tutux, Heymrn, Haruka el-Q, Firdahani, Daeri2124, Devrina, Rly, Yeoldaa, Nevan296, Ssuhoshnet, Riskakai88, Seohwa, Xiyu1220, Dodyoleu, Leeminoznurhayati, Baekin236, 4Kimhyun, Tripleone, AeElf. (Maaf bila ada nama yang terlewat, Protes aja, aku terima protes qo.. )
Beberapa pertanyaan seperti Perasaan Yifan ke baek udah dijelaskan di atas…jadi QnA hari ini adalah :
Q : Kenapa sikap baekhyun ga seperti kyungsoo padahal sama-sama pelayan? Baekhyun terkesan ngejar-ngejar Chanyeol?
A : Aku mau koreksi sedikit ya, dari kemarin kayaknya kita udah salah, Aku sebagai Author juga salah ni padahal aku sendiri yang nulis #digaplok. Baekhyun disini bukan pelayan ya, dia ANAK pelayan, tapi dia ga kerja di rumah Park dan ga di gaji. Di chap 2 atau 3 (lupa) disebutin qo, Baekhyun Cuma numpang makan, tidur dan disekolahin, dan sebagai balas budi dia suka bantu2 terutama soal Chanyeol. Sementara Kyungsoo itu Kerja dan dia ga dari kecil kerja kan? Dia mungkin baru kerja satu atau dua tahun jadi sikap dia ke Chanyeol juga masih kaku, belum lagi Chanyeol orangnya begitu. Dan.. soal ngejar2… kita lihat nanti setelah kalian baca chap 10.
Q : Kapan jadwal apdetnya?
A : Seminggu sekali, awalnya tiap selasa, lalu rifyu naik jadi senin, rifyu naik lagi jadi sabtu, dan kemarin rifyu naik lagi jadi ini aq apdet jum'at, kalo besok rifyu naik lagi aq apdet kamis, tapi kalo ga naik ya balik ke Selasa depannya ya… I LOVE Tuesdays
Okeh, Reader udah minta Apdet, saatnya Author minta Riview, Mind to Riview?
