137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
.
Eloquent Silence
.
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.
.
Don't Like? Just Don't Read ^^
.
.
enJOY it !
.
.
Bab Sembilan
"Ehm, selamat malam," Sungmin mendengar Kyuhyun bicara.
"Saya—"
"Kami tahu siapa kau, anak muda. Sungmin sudah menceritakan segalanya tentang kau pada kami. Istriku sibuk ke sana kemari seperti kumbang, memberitahu semua orang bahwa anaknya bekerja pada Chao Guixian." Ucap Yunho.
"Tak percaya rasanya aku bisa bicara dengan kau langsung. Ibu-ibu di tempat kami pasti akan—"
"Sudahlah, pria ini tidak memakai baju dan kita membuatnya kedinginan. Boleh kami masuk, Tuan Cho?" Kata-kata Jaejoong segera dipotong oleh suaminya.
Sungmin terpana mendengarkan percakapan ini. Tubuhnya terpaku di depan sofa. Reaksi pertamanya adalah ingin lari ke atas dan bersembunyi, tapi tangganya kelihatan dari pintu depan. Tak mungkin dia bisa mencapai tangga tanpa terlihat orangtuanya.
Untuk apa mereka kemari?
Dirapikannya mantelnya sebisa-bisanya dan diusapnya rambutnya yang berantakan. Tidak ada waktu lagi. Kyuhyun sedang membawa orangtuanya ke ruangan ini.
"Ibu! Ayah!" Sungmin berseru dengan kegembiraan palsu dan bergegas melintasi ruangan untuk menyambut mereka. Dia harus bertebal muka. Jangan kelihatan bersalah, dia memperingatkan dirinya.
"Sungmin, anakku sayang. Apa kabar?" Jaejoong memeluk putrinya erat-erat, dan Sungmin tahu ibunya dapat merasakan bahwa dia tidak memakai apa-apa di balik mantel. Diliriknya Kyuhyun dari atas bahu ibunya. Pria itu mengangkat bahu dengan tak berdaya dan tampak agak pucat juga. Rambutnya, Sungmin melihat dengan gugup, sama berantakannya dengan rambutnya sendiri.
Lebih dari itu, karena Kyuhyun cuma memakai jins yang kancingnya terbuka, hasratnya yang tadi bangkit kelihatan jelas. Oh, Tuhan!
Lalu ayahnya memeluknya, dan Sungmin dengan pasrah menerima pelukan sepenuh hati ayahnya itu. Keheningan tidak enak menyelimuti mereka setelah berpelukan, sementara orangtua Sungmin mengamati ruangan. Suasana sensual terasa jelas, seakan kata itu tertulis di dinding. Musik lembut masih mengalun dari sound system, menimbulkan suasana intim. Nyala api, memandikan ruangan dengan cahaya lembut dan menciptakan bayang-bayang, bagai merahasiakan sesuatu. Wadah berisi es untuk anggur dan gelas-gelas setengah kosong menuding mereka seperti jari-jari yang menuduh. Yang paling mencurigakan adalah sofa yang berantakan. Satu alas duduknya tertendang ke lantai waktu Kyuhyun menjulurkan kakinya yang panjang.
Kalau saja tidak galau karena situasi ini, Sungmin pasti senang bertemu orangtuanya. Dia selalu akrab dengan mereka dan tahu dia beruntung punya orangtua yang selalu menyayanginya.
Kegembiraan awal mereka karena bertemu si putri bungsu berkurang karena pemandangan yang tampak di hadapan mereka. Sungmin bisa melihat kekecewaan membayangi wajah orang-orang yang disayanginya itu.
Hatinya jadi sedih dan dia tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka. "Kalian sudah berkenalan dengan Kyuhyun, kurasa," kata Sungmin karena tidak tahu mesti mengatakan apa lagi dan untuk memecahkan keheningan yang mencekam. "Kenapa kalian kemari? Bukannya aku tidak senang bertemu kalian," dia buru-buru menambahkan. "Hanya saja aku—"
"Kami ingin memberimu kejutan. Sayang. Ibu dan aku akan menghadiri konferensi pendeta yang dimulai besok malam di pusat kota. Kami memutuskan datang sehari lebih cepat supaya bisa bersamamu." Yunho menjelaskan.
"Aku senang kalian melakukannya," kata Sungmin.
"Kami tidak mengira akan melihat Cho Kyuhyun di sini," kata Yunho, memandang Kyuhyun. Pria itu telah mengambil sweaternya dari ujung sofa tempatnya tadi dicampakkan dan memakainya lewat kepala.
Memang sudah sifat ayahnya untuk langsung ke pokok permasalahan, meskipun Sungmin berharap dia punya waktu lebih banyak agar dapat memberikan penjelasan yang masuk akal. Tapi bisakah dia melakukannya?
Rasanya tidak. Apakah cuma khayalannya, atau bibir bawah ibunya memang mulai bergetar? Kenapa mereka datang malam ini? Bagaimana kalau mereka tiba lima belas menit lebih lambat? Sungmin bergidik dan memeluk tubuhnya sendiri. Kemungkinan itu terlalu mengerikan untuk dipikirkan.
Dia menjilat bibir dan berkata setenang mungkin, "Kyuhyun... dia datang beberapa hari yang lalu untuk menjenguk Minhyun. Ibu harus melihat anak itu," kata Sungmin dengan suara gemetar. "Ibu pasti akan menyukainya." Ketika tidak ada yang berkomentar, dia melanjutkan, "Kalian tahu, Kyuhyun sangat merindukannya... Dia beristirahat main drama... Minhyun senang sekali bertemu dengannya..." Suara Sungmin menghilang. Omongannya ngawur dan mengelak dari masalah yang dia tahu ada dalam pikiran setiap orang.
Yunho menatap kedua gelas anggur di meja kopi. "Dia tinggal di sini bersamamu." Sungmin melihat ekspresi terluka di mata ayahnya ketika pria itu bicara. Ingin sekali dia menghilangkan perasaan terluka itu. Mereka takkan pernah dapat memahami perbuatannya. Sungmin memejamkan mata supaya tidak melihat ekspresi menuduh di wajah orangtuanya.
"Sungmin, Sayang, kita beritahu saja mereka," kata Kyuhyun santai, lalu mendekatinya, memeluk mesra bahunya dan menariknya ke dekatnya. Sungmin memandangnya, ngeri membayangkan apa yang akan dikatakannya.
Kyuhyun tersenyum lembut ketika menatapnya. "Aku tahu kita telah sepakat untuk merahasiakannya dulu, tapi waktu kita mengambil keputusan itu, kita kan tidak tahu orangtuamu akan memberi kita kejutan seperti ini. Kurasa mereka pasti sudah mengira yang tidak-tidak."
Dan mereka benar, Sungmin ingin bilang begitu, tapi terdiam karena kata-kata dan sikap sopan Kyuhyun. "Tuan Lee," kata Kyuhyun formal ketika berpaling pada Yunho.
"Sungmin dan saya menikah hari ini. Anda memergoki kami sedang berbulan madu."
Sungmin pasti sudah terduduk di lantai kalau saja lengan Kyuhyun tidak menahannya. Semua darah di tubuhnya mengalir deras ke kepala, dan dia dapat merasakan setiap denyut nadi yang berdentam-dentam di pembuluh darahnya. Telinganya menggemuruh dengan bunyi hiruk-pikuk yang menenggelamkan seruan orangtuanya, walaupun dia bisa melihat mereka gembira dan lega mendengar berita itu.
Mereka tertawa dan ribut mengucapkan selamat.
Ibunya mendekati Kyuhyun dan tanpa malu-malu memeluknya, mencium pipinya, dan berkata, "Selamat datang di keluarga kami, Kyuhyun." Yunho menepuk- nepuk punggungnya dan berkata, "Kau sempat membuatku gundah. Aku bahkan tidak mau memberitahumu apa yang ada dalam pikiranku tadi."
Lalu mereka memeluk Sungmin. Rasa percaya mereka pada putri mereka timbul kembali. Sungmin pun hanyut dalam gelombang kasih sayang orangtuanya. Ia masih terlalu kaget untuk bicara atau bereaksi.
"Yeobo, kau sadar bahwa sekarang kita punya satu cucu lagi?" Jaejoong bertepuk tangan ketika memikirkan fakta menggembirakan itu. "Boleh kami melihatnya, Sungmin? Aku berjanji takkan membangunkannya, tapi kau sudah bercerita padaku betapa manisnya dia. Aku memang sangat ingin menemuinya, dan sekarang dia jadi keluarga kita." Mata Jaejoong berbinar-binar, dan Sungmin tidak tega untuk mengecewakannya lagi.
"Dia di atas, Ibu. Di kamar yang lebih kecil. Bagaimana kalau Ibu dan Ayah naik dan melihatnya? Aku akan membuat kopi. Kurasa kedatangan kalian begitu mengejutkan sampai aku jadi lupa sopan santun," Sungmin berkata lemah. Otaknya nyaris tidak sanggup berpikir jernih, apalagi mengutarakannya.
"Ayo, Yeobo." Jaejoong menarik tangan suaminya, dan pria itu membelalak, pura-pura kesal. "Wanita ini tergila-gila pada anak-anak, Kyuhyun. Kau harus membiasakan diri dengan sikapnya yang terlalu memanjakan anak-anak."
"Aku tidak keberatan, dan aku tahu Minhyun pun begitu." Dia berbicara dengan tenang.
Mengapa dia tidak kelihatan kalut?
Apa dia tidak sadar bahwa kepura-puraan ini takkan bisa bertahan?
Apa motivasinya mengucapkan kebohongan tadi?
Ketika orangtuanya menaiki tangga dan menghilang di koridor atas, Sungmin menatap curiga pada Kyuhyun, yang memandangnya tanpa perasaan bersalah. Tangan Sungmin mengepal. Gaya pria itu memiringkan kepala membangkitkan kemarahannya. Kyuhyun menikmati penderitaannya!
"Kenapa, Kyuhyun?" desak Sungmin dengan bisikan tertahan, tidak ingin orangtuanya mendengar pembicaraan ini. "Kenapa kau memberitahukan kebohongan sekonyol itu pada mereka?"
"Aktingku kelas Oscar, kan? Kukira kau akan berterima kasih karena aku telah menyelamatkan lehermu, Sungmin. Semua bukti memberatkanmu. Mereka menarik kesimpulan yang benar, dan kurasa kau tidak menginginkan hal itu, kan? Dan sekarang sudah terlambat untuk membahasnya," balas Kyuhyun ketika Sungmin menyalakan lampu. "Sebaiknya kau terima saja. Kelihatan sekali bahwa kau baru dicium habis-habisan dan –"
"Bisa berhenti, tidak?" desis Sungmin sambil mengentakkan kaki. "Kyuhyun, aku mesti bagaimana? Orangtuaku mengira aku sudah menikah denganmu! Apa yang akan kita katakan kalau mereka mengetahui yang sebenarnya?"
"Katakan kita ternyata tidak cocok dan terpaksa berpisah," kata Kyuhyun datar.
Sungmin mengempaskan diri ke sofa dan menutupi wajahnya dengan tangan. "Mereka kecewa sekali waktu Jungmo dan aku berpisah. Aku tidak mau membuat mereka susah lagi."
Kyuhyun terdiam beberapa lama, lalu berkata pelan, "Kalau begitu akan kuberitahu mereka bahwa aku cuma menggodamu. Kau bisa menjelaskan sebab-sebab aku tinggal di sini bersamamu. Mereka pasti akan mengerti. Bukankah ayahmu memang bertugas memaafkan orang?" Nada bercanda dalam suara Kyuhyun lebih membuat Sungmin marah daripada kebohongannya.
"Tidak, Kyuhyun." Matanya menyorot marah, dan bukan pantulan api di perapian yang menyebabkannya berkilauan. "Jangan pernah kau mengolok-olok aku atau mereka," Sungmin memperingatkan dengan suara dalam dan tegas.
Ketika melihat ekspresi dingin dan menakutkan wanita itu, Kyuhyun langsung serius. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menganggap enteng kesulitan-mu atau pekerjaan ayahmu."
Sungmin melihat ketulusan di wajahnya, tapi dia mendesah dan berkata pasrah, "Sudahlah. Aku yakin ini tampak seperti adegan film romantis bagimu, tapi ini nyata bagiku. Aku tidak sanggup melihat mereka kecewa."
"Sungmin, kau kan sudah hampir tiga puluh tahun," Kyuhyun membujuk. "Kau berhak mengatur hidupmu sendiri. Mereka mungkin tidak menyukai semua yang Kau lakukan. Tidak ada orangtua yang suka. Tapi mereka hidup sesuai standar mereka dan kau sesuai standarmu."
"Kau tidak mengerti." Sungmin mengerang. "Aku tidak pernah mengkhianati kepercayaan mereka. Jika aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang kutahu takkan mereka setujui, aku akan merahasiakannya untuk melindungi perasaan mereka, bukan perasaanku. Aku takkan pernah membeberkan kecerobohanku di depan batang hidung mereka."
"Tapi kau kan tidak berbuat apa-apa!" kata Kyuhyun marah, lalu memelankan suara. "Percayalah, aku tahu betapa kau sangat menjaga dirimu. Aku sampai menderita karenanya."
Meskipun sedang menghadapi konflik, kata-kata pria itu membuat jantung Sungmin bagai berhenti berdetak. Dia membuang muka. "Aku memang tidak bersalah, dan kalau kuceritakan fakta-fakta masalah ini pada mereka, mereka akan mempercayaiku. hanya saja—" dia melambaikan tangan seolah mencari kata-kata yang tepat "—akan lain rasanya, itu saja. Mereka berasal dari generasi yang berbeda. Dalam keadaan bagaimanapun, mereka takkan pernah setuju aku hidup bersama laki-laki di luar pernikahan. Kau belum pernah begitu menyayangi orang sehingga peduli pada pendapat mereka tentang dirimu."
Sungmin mestinya tidak bicara begitu, dan dia menyadarinya begitu kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Wajah Kyuhyun langsung kaku, dan mulutnya mencibir. Pria itu menjejalkan tangannya ke dalam saku jins dan mendadak berbalik untuk menatap api yang mulai padam.
Mereka mendengar orangtua Sungmin keluar dari kamar Minhyun, dan Kyuhyun berkata tenang tanpa memandangnya, "Kuserahkan segalanya padamu. Akan kudukung semua omonganmu."
Jaejoong sudah bicara sebelum sampai di anak tangga paling bawah. "Kyuhyun, dia betul-betul malaikat. Aku langsung sangat menyayanginya dan tidak sabar menunggunya bangun besok pagi untuk bermain dengannya." Wajah Jaejoong berseri-seri, dan hati Sungmin bagai diremas ketika dia memikirkan harus melanjutkan kebohongannya.
"Maafkan aku," kata Sungmin cepat-cepat. "Aku belum membuat kopinya." Dia akan berjalan ke dapur, tapi ayahnya menghentikannya.
"Jangan membuat kopi hanya karena kami. Kami terlalu tua untuk meminumnya malam-malam begini. Bisa-bisa kami tidak tidur semalaman. Sebaiknya kami mencari tempat menginap untuk malam ini. Kami akan kembali besok pagi kalau boleh."
"Tidak perlu," tukas Kyuhyun. "Kalian akan tinggal di rumahku. Di sini banyak tempat."
"Oh, jangan," protes Jaejoong. "Kau dan Sungmin kan sedang berbulan madu."
"Aku tidak keberatan, kalau Sungmin juga tidak," kata Kyuhyun sambil mengangkat bahu. "Iya, kan, Sayang?"
"Aku…ya. Maksudku, tidak, aku tidak keberatan," Sungmin tergagap sambil berusaha menebak tujuan Kyuhyun.
"Ada kamar kecil di sisi lain dapur. Di sanalah aku tidur beberapa hari ini. Malam ini aku memang akan pindah ke kamar tidur utama."
"Aku bisa memahami," kata Yunho menggelegar, dan menepuk punggung Kyuhyun kuat-kuat. "Aku sendiri sih lebih suka menginap di sini daripada di motel. Yeobo, menurutmu bagaimana?" tanya Yunho pada Jaejoong.
Semua orang seperti melupakan Sungmin, yang nyaris menolak mati-matian ketika Kyuhyun mengatakan akan pindah ke kamar tidur utama. Sekarang dia menyadari maksud pria itu, dan jadi marah sekali karenanya.
"Yah, aku sebetulnya lebih senang di sini bersama Sungmin," kata Jaejoong sungguh-sungguh.
"Kalau begitu masalahnya beres," kata Kyuhyun tegas.
"Biar kuambil dulu beberapa barangku sementara Sungmin mengganti seprai. Setelah itu kami persilakan kalian tidur. Kalian pasti lelah sekali."
.
.
.
Setengah jam berikutnya penuh kebingungan. Kyuhyun pergi ke kamar cadangan dan muncul kembali di ruang tamu sambil membawa sekotak perlengkapan bercukur dan barang-barang pribadi.
Mantel beludru tersampir di bahunya. Dia terang-terangan mengedipkan mata pada Sungmin ketika wanita itu mendengarkan cerita mendetail orangtuanya tentang perjalanan mereka ke Mokpo. Sungmin memelototinya waktu orangtuanya tidak melihat.
Dia memasang seprai baru di tempat tidur, sengaja berlambat-lambat dan berharap Kyuhyun kembali ke kamar. Dia berniat mengomeli pria itu soal di mana 'suaminya' itu tidur malam ini, tapi Kyuhyun menghindarinya. Waktu orangtuanya mengucapkan selamat tidur, pria itu memeluk pinggangnya dan dengan posesif merapatkan punggung Sungmin ke dadanya.
"Aku senang punya menantu kau, Kyuhyun. Jaga putriku dan cintailah dia. Cuma itu permintaanku," kata Yunho.
"Baik," kata Kyuhyun serius. Ingin sekali Sungmin menendang tulang keringnya.
Pasangan yang lebih tua itu masuk kamar. Dengan manis Sungmin mengikuti Kyuhyun menaiki tangga, tapi begitu sudah menutup pintu kamar tidur luasnya, dia memandang pria itu dengan marah. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Kyuhyun, dan rencana licikmu itu takkan berhasil."
"Apa yang kupikirkan?" Kyuhyun bertanya sambil membuka sweater untuk kedua kalinya malam itu.
"Kau pikir aku akan tidur di ranjang itu bersamamu. Pikiran itu tak pernah melintas di benakku," kata Kyuhyun enteng dan membuka kancing jins.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sungmin panik.
"Membuka pakaian. Kelihatannya apa?" Sambil melanjutkan perbuatannya, Kyuhyun berkata, "Pada suatu musim panas aku ikut tur kelompok drama, dan sejak saat itu, aku tidak segan-segan telanjang. Kalau kau tidak suka, berbaliklah saja."
Pakaian dalamnya berwarna biru muda, ketat, dan mini, dan Sungmin dengan susah payah menelan ludah waktu pria itu menanggalkan jins dan dengan santai melemparkannya ke kursi. Kyuhyun memunggunginya dan mulai membuka tutup tempat tidur besar itu.
"Aku tidur di sofa saja," gumam Sungmin sambil membuka lemari tempat menyimpan selimut-selimut ekstra.
"Terserah. Ayahmu memang pendeta, tapi jelas dia menyadari fakta-fakta kehidupan. Kau akan bilang apa pada mereka kalau melihatmu di sana besok pagi? Kita sedang bertengkar?"
Sungmin ingin menampar mukanya yang sombong ketika dia berbalik dan melihat pria itu bersandar santai di bantal, berselimut sampai pinggang. "Aku akan bangun lebih dulu dari mereka."
"Yah, aku senang kau sudah memikirkan segala kemungkinan." Kyuhyun menguap dan berbaring. "Selamat malam."
Supaya tidak melontarkan komentar pedas, Sungmin cepat-cepat keluar kamar sambil membawa selimut. Dia mengendap-endap menuruni tangga dan, diterangi cahaya perapian yang nyaris padam.
.
.
.
Dia terlonjak kaget ketika lampu di langit-langit dinyalakan.
"Oh, Sayang, kuharap aku tidak mengejutkanmu. Aku mau meminta selimut tambahan," Jaejoong menjelaskan.
"Aku terpaksa tidur di sofa. Ayahmu mendengkur keras sekali, aku takkan bisa tidur di dekatnya. Dia memang begitu kalau terlalu lelah, kau tahu, kan. Mau kau apakan selimut-selimut itu?" Jaejoong melihat selimut-selimut yang dibawa Sungmin.
"Aku..ehm…kupikir mungkin Ibu dan Ayah membutuhkannya. Biarpun masih awal musim gugur, udara malam di sini sangat dingin." Ibuku tidur di sofa! jerit Sungmin dalam hati.
"Yah, aku akan baik-baik saja. Biar nanti kutambah kayu di perapian. Ayahmu takkan terbangun biarpun ada badai salju, jadi kembalilah kau ke suamimu di atas dan berhentilah mengkhawatirkan kami." Ibunya mencium pipinya, lalu berbalik.
"Selamat malam, Ibu," kata Sungmin lembut sambil berjalan ke atas.
Sungmin berhenti sebentar di depan pintu kamar tidur utama. Dia menimbang-nimbang untuk pergi ke kamar Minhyun dan tidur dengannya, tapi tempat tidur anak itu kecil. Kalau dia membuat Minhyun terbangun tengah malam begini, akan timbul lagi keributan yang harus dijelaskan. Dia tidak punya pilihan selain bergabung dengan Kyuhyun di tempat tidur luas itu.
Dibukanya pintu pelan-pelan, berharap pria itu sudah pulas. Harapannya buyar ketika Kyuhyun menelentang dan menatapnya dengan pandangan bertanya. Sungmin tidak menyalakan lampu, namun sinar bulan masuk dari jendela, dan dia dengan mudah dapat melihat lekuk tubuh pria itu di balik selimut. Jantungnya berdegup kencang. "Berubah pikiran?"
"Tidak," katanya tegas. "Ibu tidur di sofa untuk menghindari dengkuran Ayah."
"Kebiasaan yang kuharap tidak kau warisi," gerutu Kyuhyun, lantas memalingkan kepala di bantal dan memunggunginya.
Oh! desis Sungmin dalam hati. Dasar brengsek. Sungmin menimbulkan suara seribut mungkin ketika menyikat gigi dan mencuci muka. Lalu dengan masih memendam marah ia membuka mantel tidur, dan tanpa berpikir berjalan ke kamar. Apa-apaan ini! Sungmin tidak pernah memakai baju ketika tidur, tapi tidak mungkin ia seranjang dengan Kyuhyun seperti ini.
Ia lalu mengambil celana dalam dan bra dari laci dan memakainya. Memang tidak terlalu berarti, tapi daripada tidak memakai apa-apa sama sekali. Kalau ia memakai mantel tidur, besok pagi bisa basah kuyup karena mandi keringat.
Lampu-lampu sudah dimatikan, Kyuhyun tidak akan bisa melihatnya.
Dia berjingkat-jingkat ke tempat tidur dan menyusup ke balik selimut, sengaja berbaring di pinggir.
Dibaringkannya kepala di bantal dan dipejamkannya mata rapat-rapat, diperintahkannya tubuhnya supaya rileks. Dia nyaris berhasil waktu suara Kyuhyun terdengar dalam kegelapan. "Sudah kau pakai baju besimu?"
"Tutup mulutmu dan jangan ganggu aku," ancam Sungmin, tapi tidak terlalu meyakinkan.
"Aku berniat begitu," balas Kyuhyun. "Untuk saat ini. Tapi kau akan menyerah." Dia menepuk bokong Sungmin dari balik selimut sebelum berbalik dan membelakanginya.
Yah, setidaknya dia tidak memaksakan kehendaknya.
Sungmin senang. Benarkah?
.
.
.
Cahaya lembut fajar menerobos jendela. Tapi bukan itu yang membangunkan Sungmin dari tidur pulasnya. Dia berbaring menelungkup, wajah terbenam di bantal.
Sesuatu yang hangat dan basah membelai punggungnya perlahan. Dia bangun dengan enggan, menikmati kabut menyenangkan antara keadaan sadar dan tidur. Dia ingin perasaan melayang ini tak pernah berakhir.
Kait branya terbuka karena gerakan jari-jari yang lihai.
Dia langsung terjaga, dan otot-ototnya menegang akibat pijatan nikmat yang membuatnya tetap pasrah.
"Kyuhyun?" bisik Sungmin.
"Hmm?" cuma itu tanggapannya.
Sulit untuk merasa marah sementara pria itu melanjutkan pijatannya. "Apa yang kau lakukan?" Sungmin bertanya dengan napas tertahan.
"Sarapan," gumam Kyuhyun sambil menciumi kulit bahu Sungmin yang lembut. Tangannya mengusap-usap punggung wanita itu dan meluncur di pinggulnya. "Rasanya enak."
Suaranya tidak lebih keras dari embusan napas. Sungmin mengerang dan makin membenamkan wajah ke bantal waktu merasakan tekstur basah lidah Kyuhyun yang selembut beludru menjilati punggungnya.
Kaki berat berbulu menindih bagian belakang pahanya supaya dia tidak bergerak sementara pria itu terus membelai-belai punggungnya dengan mulut dan tangan. Kyuhyun bergerak turun ke pinggangnya, lantas naik lagi. Kali ini dia menciumi bagian samping tubuh Sungmin, di sepanjang tulang rusuk.
Dengan lembut dia membalik Sungmin sehingga tertelentang dan menatap mata sayu wanita itu sambil mengusap rambutnya yang berantakan di wajahnya.
"Selamat pagi," sapa Kyuhyun.
"Selamat pagi."
Diturunkannya tali bra Sungmin dari lengannya, dilepaskannya dengan sigap. Dipandangnya kulit wanita itu, yang hangat dan kemerahan karena baru bangun tidur. Sungmin memejamkan mata, tidak sanggup membalas tatapan tajam pria itu.
Kyuhyun mengangkat lengan Sungmin ke atas kepala, dan mulai mencium dan mengulum bagian dalam lengan atasnya yang sensitif sehingga Sungmin ingin berteriak karena nikmat. Mulut Kyuhyun menyusuri tulang selangka dan lehernya sampai dia berhenti di atas bibirnya yang membuka dan menunggu.
Kesabarannya dalam membangkitkan gairah Sungmin memperoleh imbalan yang setimpal ketika wanita itu membalas ciumannya dengan panas, membuat mereka berdua hanyut. Lidah, gigi, dan bibir mereka bergerak begitu serasi sehingga keduanya merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Gairah yang sudah lama dirasakan Kyuhyun terhadap Sungmin belum tersalurkan, dan dia jadi ganas. Mulut dan tangannya memohon agar kerinduan yang mencengkeramnya sejak dia pertama kali bertemu Sungmin dipuaskan.
"Kau luar biasa. Manis... hangat... lembut," bisiknya sambil beringsut turun dan memusatkan perhatian pada payudara Sungmin, yang menunggu kenikmatan yang hanya dapat diberikan bibir pria itu. Kyuhyun memberikan yang ditunggu-tunggu Sungmin, dan Sungmin pun mendesahkan namanya sambil mencengkeram bahunya.
Sungmin menyingkirkan pikiran-pikiran yang bisa melenyapkan saat penuh kebahagiaan ini, tapi pikiran-pikiran itu muncul di benaknya tanpa bisa dicegah.
Bahkan ketika merasakan kejantanan pria itu menekannya, dia teringat bahwa ini tidak punya arti lain, cuma nafsu. Kyuhyun tidak—tidak bisa—mencintainya.
Setelah nafsunya tersalurkan, lalu apa?
Apakah pria itu akan pergi begitu saja, meninggalkannya dalam keadaan patah hati?
Tidak! Dia tidak boleh membiarkan ini terjadi. Dia dapat mentolerir kesombongannya, kepura-puraannya, ejekannya, kemarahannya, tapi dia takkan sanggup jika pria itu meninggalkannya begitu saja.
Tapi, Sungmin mendambakan pria itu. Pikirannya membantah apa yang dirindukan tubuhnya. Dia melengkungkan tubuh ke arah tubuh Kyuhyun yang perkasa dan menggeliat ketika mulut pria itu membelai perutnya.
Jari-jari Kyuhyun mengusap kulit perutnya dan terus ke bawah. Napas Sungmin tersentak. Tindakan pria itu melontarkannya kembali ke alam nyata.
Apakah Kyuhyun sadar bahwa dialah yang berbaring di bawahnya?
Apakah dia memikirkan Chengmin?
Sungmin memegang bahu Kyuhyun, lalu mendorongnya dengan kekuatan yang timbul dari perasaan panik dan tidak suka. "Tidak, Kyuhyun. Kumohon. Jangan."
Pria itu mengangkat kepala dan melihat wajah Sungmin yang memelas dan basah dengan air mata, yang tidak disadari Sungmin. Air matanya mengalir dari sudut matanya dan menghilang di antara helai-helai rambut kusutnya yang terhampar di bantal.
"Sungmin?" Kyuhyun bertanya lembut. Ia menumpukan tubuh di siku dan membungkuk ke arahnya, menghentikan sebutir air mata Sungmin yang hendak jatuh dengan jarinya.
Air mata di pipi yang satu lagi diciumnya dengan mesra. "Aku tidak akan memaksamu, Sungmin," katanya lembut.
Tidak ada nada mengejek dalam suaranya. "Aku tahu bahwa aku, juga merasa ada yang mengganjal. Orangtuamu menerimaku dengan tulus. Aku akan merasa tidak enak jika bercinta denganmu meskipun sangat menginginkannya, sementara mereka di bawah, mengira kita sudah menikah." Dibelainya pelipis Sungmin dan berbisik, "Jangan kau pernah merasa takut padaku." Diciumnya bibirnya dengan lembut.
Sungmin dapat merasakan napas Kyuhyun di hidungnya, di mulutnya, waktu pria itu berkata, "Kumohon. Izinkan aku menikmati tubuhmu sekali lagi." Dia menyentuh payudara Sungmin dan menciumnya. Tindakannya sama sekali tanpa nafsu, tapi penuh dengan kerinduan. Sungmin bisa merasakannya di setiap sel tubuhnya.
Kyuhyun bangun dan meninggalkan tempat tidur. Ketika memakai jins, dia berkata sambil menoleh, "Rasanya aku mendengar Minhyun bangun. Biar kuganti pakaiannya dan kita bertemu lagi di bawah." Dia berhenti di pintu. "Setelah apa yang kurelakan pagi ini, aku tidak boleh dimarahi atau dihukum." Dia tersenyum lembut sebelum keluar kamar.
Untuk sementara semua beres.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Well… well… well… Hello ^^ I'm back with GK BAB 9. Cepet kan,hehe ^^
Ada yang nanya judul asli novel ini, bisa dilihat di bagian atas, ada judulnya kok ^^
Demi apa review kalian itu mesum parah! Udap pada gak sabar ya sama NC nya? Ya ampun.. sama sih, hehe
Oke. Just it deh. Maaf gak bisa balas review satu-satu, tapi aku terhibur banget sama review kalian. Terima kasih ^^ and…
BIG THANKS TO
Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , kyukyu , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah , Michiko Haru , Hamano Hiruka , KyuMinJoy137 , farla 23 , Harusuki Ginichi 137411 , ismayminniELF , gyumin1408 , Shengmin137 , lee kyuza , mandwa & Guest.
(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 8 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)
Once again! Thank you ^^
