Chapter 9

.

.

.

Suasana rumah keluarga Kim menghangat sepanjang minggu ini. Dengan Jungkook yang tak lagi berpikiran negative terhadap Jimin, membuat ketujuh saudara itu hidup akur—walaupun pada kenyataannya Jungkook masih saja ketus terhadap Jimin.

Hanya saja masih ada sesuatu yang terselip di hati Jimin. Keinginannya untuk duduk sarapan bersama dengan keenam saudaranya yang lain—seperti keinginan sang ayah—belum juga terlaksana. Ia masih saja belum berhasil membujuk semua saudaranya, apalagi Yoongi yang tidak bisa bangun pagi dan juga Seokjin dan Namjoon yang sangat sibuk dari pagi hari.

Seperti pagi ini, lagi – lagi hanya Hoseok, Taehyung, dan Seokjin yang menemaninya sarapan, padahal ini hari Minggu. Seokjin tumben sekali bisa menemaninya sarapan, sedangkan saudara mereka yang lain lebih memilih untuk bergelung di dalam selimut di kamar mereka yang nyaman.

"Jim, apa kau mau sereal saja?" tanya Seokjin pada Jimin yang hanya mengaduk – aduk sup nya tanpa minat.

Mendengar hal itu, kedua pasang mata lainnya ikut memandangi Jimin yang kini terlihat salah tingkah.

"Ahh tidak usah, hyung. Aku hanya sedang tidak begitu selera," ujar Jimin seraya menjauhkan mangkuk sup di hadapannya.

"Apa kau mau mencari es krim denganku setelah mandi, Jim? Jalan – jalan bukan hal yang buruk hari ini," Taehyung tiba – tiba berucap dengan sangat cepat.

"Udara masih terlalu dingin untuk es krim, Tae," ingat Hoseok pada adiknya yang terlihat tidak peduli itu.

"Hey! Tidak ada yang salah dengan memakan es krim saat udara dingin."

"Ya, jika kau ingin lidahmu membeku dan kau tidak bisa bicara selama seminggu. Well, aku tidak keberatan, setidaknya aku tidak akan mendengarmu mengoceh."

"Hey, itu kasar! Jin hyung apa kau dengar apa yang Hoseok hyung katakan?"

"Kau yakin tak apa, Jim? Mau berbagi sesuatu?" Seokjin tak menghiraukan pertengkaran Hoseok dan Taehyung, ia kembali menatap Jimin dengan intense.

"Yaa… aku hanya berpikir, mengapa begitu susah mengumpulkan kita semua untuk sarapan bersama."

Seokjin menghela napas mendengar jawaban Jimin. Ia menyesali dirinya yang terkadang memang terlalu sibuk sehingga melewatkan sarapan yang begitu penting sebagai sebuah rutinitas keluarga. Memang sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka duduk bersama untuk sarapan, ia bahkan lupa obrolan – obrolan konyol di pagi hari.

"Bagaimana kalau kita pergi bersama bulan depan?" tiba – tiba saja sebuah ide muncul di kepala Seokjin. "Kau ingat? Rumah musim panas kita, kurasa tak ada salahnya untuk datang menyambut musim semi."

Seketika cengiran di wajah Hoseok dan Taehyung muncul—tanda mereka menyukai ide itu. Mungkin Seokjin bisa membuat keluarganya kembali bersama setelah perjalanan itu.

.

.

.

"Wahhh, Yoongi hyung! Rambutmu keren sekali!" Taehyung bersorak ria ketika Yoongi memasuki kamarnya yang tengah diisi oleh dirinya, Jimin, Hoseok, dan Jungkook di sudut kamar—yang tak ingin terlalu terlibat dengan keributan tapi tak ingin sendiri di kamar.

Yoongi tak peduli dengan sorakan Taehyung yang begitu ribut, ditambah Hoseok yang kini bermain – main dengan rambutnya. Yoongi hanya terus berjalan mendekati sosok kecil yang tengah duduk di atas kasur Taehyung—memandangnya dengan tatapan lucu.

"Wah hyung, kau tidak tidur semalaman karena mencat rambutmu?" Hoseok terus mengikuti Yoongi di belakangnya.

"Ayo kita ke studioku, Jim!" ajaknya pada Jimin, mengacuhkan Hoseok yang masih terlihat heboh.

"Huh? Sekarang, hyung?" tanya Jimin sedikit tak yakin.

"Tentu saja! Ayo!"

Jika sudah begini, Jimin jadi takut pada Yoongi yang tidak sabaran. Oleh karena itu, ia langsung beranjak dari tempat tidur dan melambaikan tangan pada saudara – saudaranya.

"Kenapa aku tidak pernah diajak ke studiomu, hyung?" tanya Taehyung sedikit berteriak.

"Aku butuh orang yang tidak heboh sepertimu," jawab Yoongi dengan mulut pedasnya kemudian berlalu dengan tangannya yang menarik Jimin keluar dari kamar yang paling ribut di rumah ini.

.

.

.

"Kau sedang mengerjakan suatu project, hyung?" tanya Jimin yang duduk tenang di sebelah Yoongi sedangkan sang pria yang kini berambut mint itu tengah focus dengan peralatan di hadapannya.

"Yeah… aku sedang membuat sebuah lagu untuk sebuah group dari agensi ternama, dan aku ingin kau mengisi suara untuk demo tape nya," jawabnya tak lepas dari susunan bars di hadapannya.

"Aku?"

"Aku pernah mendengarmu menyanyi, dan kurasa tak ada salahnya mencoba."

"Tapi aku tidak pernah—"

"Diamlah dan biarkan aku menyelesaikan ini."

Jimin pun hanya bisa menghela napasnya sambil bermain dengan jari – jari mungilnya. Mana bisa ia bernyanyi untuk project yang begitu penting. Apa tadi dia bilang? Group dari agensi ternama? Itu pasti sangat penting untuk karir Yoongi, dan Jimin hanya khawatir jika ia akan merusaknya.

"Hey…" Yoongi menaruh tangannya di kepala Jimin, untuk kemudian mengusak rambut coklat itu pelan. "Tak usah khawatir. Aku yakin kau pasti bisa. Kau mau membantuku, kan?"

Ahh tentu saja Jimin akan mengangguk jika Yoongi meminta tolong padanya. Dengan anggukan mantap itupun, Jimin bertekad dalam hati untuk tidak mengecewakan sang kakak.

.

.

.

"I miss you…

I miss you…"

.

"Tidak… tidak, Jim! Kau belum mendapatkannya. Coba lagi!"

Ini sudah berlangsung selama kurang lebih dua jam. Yoongi yang masih belum puas dengan apa yang Jimin nyanyikan, selalu berteriak melalui mikrofon dari luar ruangan kedap suara itu.

"Hyung… beri aku waktu lima menit."

Tanpa Jimin sadari, tangannya bergetar sejak tadi. Ia merasa frustasi karena tidak bisa mendapatkan apa yang kakaknya harapkan. Iapun akhirnya membuka earphone di telinganya lalu berjalan ke sudut ruangan. Berusaha mengontrol emosi dan meyakinkan dirinya.

Yoongi yang baru sadar jika dirinya berlebihanpun hanya bisa menghela napas. Ia lupa jika ini kali pertama Jimin, dan ia sudah berteriak padanya seakan – akan Jimin adalah artis yang diproduseri olehnya.

Yoongipun berdiri dari kursi nyamannya dan mulai berjalan ke dalam ruangan itu. Mendekati Jimin yang masih terduduk di sudut ruangan. Ia pun melakukan hal yang sama, berjongkok di hadapan Jimin dengan tangan yang memeluk lutut—berusaha setenang mungkin.

"Maafkan aku, oke? Aku tidak bermaksud membentakmu. Hanya saja… kau tau music sangat berarti untukku, dan aku kadang kehilangan kendali," ujarnya dengan nada yang lembut dan lebih tenang.

"Tidak, hyung. Aku yang minta maaf. Aku tidak bisa menyampaikan lagumu dengan baik," Jimin merengut sedih dan Yoongi bersumpah ia tidak menyukai hal itu.

"Mau kuceritakan tentang arti lagu ini?"

Jiminpun mengangguk dengan antusias.

"Sebuah cerita tentang sahabat yang kehilangan. Ia berusaha keras untuk bertahan dalam kesedihan, dan merelakan sahabatnya yang sudah pergi. Tetapi, merelakan tidak semudah yang diucapkan dan yang bisa ia lakukan hanya menunggu, sampai waktunya tiba."

Yoongi berhenti sejenak berusaha membaca raut wajah sang adik. Mata Jimin seakan menerawang ke dalam lirik yang hampir ia hapal di luar kepala karena terus ia nyanyikan. Yoongipun yang seakan mengerti akhirnya kembali tersenyum manis.

"Kau tau? Kau bisa membayangkan kami, Jim. Bayangkanlah keluarga kita."

.

"Past the end of this cold winter

Until the spring comes again

Until the flowers bloom again

Stay there a little longer

Stay there…"

(BTS – Spring Day)

.

Dengan Jimin yang akhirnya menyelesaikan lagu dengan sempurna, bibir Yoongipun otomatis tertarik dengan bangga. Ia tau Jimin bisa menyanyikan lagu ini dengan baik. Karena sebenarnya, Yoongi membuat lagu ini untuk Jimin.

"Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan jika kau juga pergi, Jim," ujarnya sangat pelan karena Jimin kini sudah melangkah keluar dari ruangan itu.

"Jadi kau ingin apa sebagai imbalan?" tanya Yoongi begitu Jimin duduk di sebelahnya, mendengarkan suaranya yang sengaja Yoongi putar ulang.

"Imbalan? Jangan bercanda, hyung! Kau pikir aku siapa."

"Hey… aku sungguh – sungguh. Jika lagu ini menjadi hit, aku akan mengabulkan segala permintaanmu!"

"Tidak perlu, sungguh. Emmm… bagaimana jika kau membantuku mencat rambut saja? Aku ingin rambutku dicat sepertimu, hyung!"

"Mencat rambut? Kenapa?" tanya Yoongi heran.

"Iya, hyung! Kau tau, aku akan menjalani terapiku dalam waktu dekat. Aku sudah mencari tau tentang segala efek sampingnya, dan sebelum aku kehilangan semua rambutku, aku juga ingin terlihat keren sepertimu! Jadi, warna apa yang cocok untukku, hyung?"

.

.

.

"Astaga, Jim! Kau apakan rambutmu?" Hoseok yang heboh kembali menyambut Yoongi dan Jimin yang baru saja kembali ke rumah.

Jimin memberenggut menanggapi perkataan Hoseok, tetapi sedikit herann melihat kelima saudaranya duduk berkumpul di ruang tengah—sebuah pemandangan yang jarang sekali ditemukan di rumah ini.

"Jim, kau seperti gulali!" kini Taehyung bergabung dengan kehebohan Hoseok.

"Aku meminta Yoongi hyung untuk mencat rambutku agar keren sepertinya. Tetapi ia memilih warna pink dan aku malah menjadi seperti gulali begini!"

"Kau yang membiarkanku bebas memilih warna rambut. Jadi jangan salahkan aku jika warnanya tidak sesuai!" omel Yoongi yang sebenarnya sudah ia ulangi sejak Jimin selesai mencat rambut—membuat si manis itu memajukan bibirnya kesal.

"Tapi kau imut, Jim. Warna pink cocok untukmu, iyakan Kook?" Namjoon akhirnya ikut berkomentar dan menyenggol Jungkook di sebelahnya—meminta dukungan.

"Jangan mau jadi seperti Yoongi hyung! Dia itu menyeramkan, bukan keren," tanggap Jungkook tanpa terduga.

"YA!" Yoongipun berteriak tidak terima.

Seokjin yangs sejak tadi tersenyum memilih mendekat ke arah Yoongi, memastikan apa yang terjadi. Sedangkan Jimin kini sudah bergabung dengan saudaranya yang lain, yang masih membahas soal rambut barunya itu.

"Apa yang terjadi?"

"Anak itu bilang ia ingin merubah warna rambutnya sebelum ia kehilangan rambutnya karena terapi. Haahh… memusingkan."

Seokjin merasa berat hati untuk mengakui bahwa rambut indah sang adik memang tidak akan bertahan lama. Tetapi lebih baik begitu daripada Jimin yang menghilang dari kehidupannya.

.

.

.

Jimin dan Jungkook kalah taruhan siang itu, sehingga mengharuskan mereka pergi berbelanja untuk keperluan liburan mereka. Jungkook yang terlihat sebal sangat berbanding terbalik dengan Jimin yang masih bisa tersenyum lebar, padahal mereka bisa saja ikut saudara mereka tidur siang daripada harus jalan – jalan keluar seperti ini.

Jimin terus mengoceh di sebelah Jungkook, memilih makanan dan minuman sambil terus mendorong troli yang sudah hampir penuh setengahnya. Sedangkan Jungkook, lebih memilih focus dengan games di ponselnya. Berkali – kali Jungkook hampir menabrak barang – barang di hadapannya, dan berkali – kali juga Jimin harus mengingatkannya.

"Kook, kau mau selai rasa apa?"

"Apa saja," ujarnya tak acuh.

Mendengar hal itupun, Jimin mengambil selai yang berada paling dekat darinya. Tetapi ketika Jimin hendak menaruhnya di troli, Jungkook meneriakinya.

"Jangan selai kacang! Apa kau tidak tau aku alergi kacang?!" bentaknya cukup keras, sampai membuat beberapa orang meilirik ke arah mereka berdua.

Wajah Jimin seakan pucat seketika, terkejut karena teriakan Jungkook yang tiba – tiba. Setelah beberapa detik terdiam dengan mata yang membesar, iapun melirik ke sekitarnya dan lalu membungkuk—karena telah menciptakan keributan.

"Baiklah… baiklah, aku akan membeli rasa lain saja. Maafkan aku, ya?" ujar Jimin dengan nada yang sedikit bergetar—masih terkejut.

Sedangkan Jungkook sendiri, ia merasa terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan. Iapun menghela napas dan berlalu dari hadapan Jimin. Ada rasa bersalah di hatinya karena tanpa sengaja membentak Jimin, padahal ia tak melakukan kesalahan apapun. Mood nya hanya sedang kacau hari ini, dan Jimin adalah orang yang sedang berada di dekatnya—dan juga objek yang sangat mudah untuk melampiaskan kekesalan.

Jungkook masih menunggu di dekat pintu masuk seraya menatap langit yang mulai berubah jadi gelap ketika Jimin menghampirinya dengan kantung belanjaan di kedua tangan.

"Ayo, Kook! Aku sudah selesai," ujarnya masih dengan senyum yang mengembang—yang membuat Jungkook semakin merasa berasalah.

Oleh karena itu, tangannya mulai meraih kedua kantung belanjaan Jimin sebelum berlalu untuk berjalan ke halte bis.

Mereka berdua duduk bersisian, melihat kendaraan yang berlalu – lalang di hadapan mereka dalam diam. Tanpa sadar, keduanya menghela napas pelan—ingin menguapkan kecanggungan di antara mereka.

"Maaf—" Jimin memulai, "aku tidak tau jika kau—"

"Aku minta maaf!" Jungkook menyela perkataan Jimin yang membuat si mungil dengan rambut gulalinya itu menatapnya heran—sedikit tersentuh. "Aku tidak seharusnya berteriak padamu. Mood ku hanya sedang jelek, dan aku masih tidak biasa ditinggal berdua denganmu."

Perkataan Jungkook memelan di akhir kalimat, membuat Jimin tersenyum gemas pada adik kecil di sampingnya itu. Tanpa sadar, tangan Jimin terangkat untuk kemudian hinggap di rambut coklat gelap milik Jungkook. Jimin kemudian mengusapnya dengan sayang.

"Aku mengerti. Aku juga akan mencoba mengenalmu. Jadi tolong bersabar padaku, ya?"

Kehangatan itu menyelimuti hati Jungkook. Lelaki mungil di sebelahnya—dengan rambut pink yang terlihat imut—membuat hari yang terasa dingin itu menjadi hangat seketika. Jimin seperti musim semi yang akan mereka sambut bersama lusa.

.

.

.

"Jim… bangun! Kita sudah sampai," Taehyung membangunkan Jimin dengan lembut, tak ingin mengganggu tidur nyaman saudaranya itu.

Jimin yang penurut pun tak butuh waktu lama untuk membuka kedua mata indah itu. Ia menangkap sosok Taehyung di sampingnya dengan senyum kotak kebanggaannya itu.

"Lihat! Kita sudah sampai," ulang Taehyung lagi seraya menunjuk ke arah luar.

Mobil mereka terparkir di sebuah halaman luas yang dikelilingi oleh padang rumput yang terlihat indah. Tak jauh dari sana, sebuah bangunan rumah berdiri tegak, terlihat indah berbaur dengan pemandangan di sekitarnya.

"Ayo, cepat! Kita harus berebut kamar yang paling luas!"

Dengan tidak sabar Taehyun keluar dari mobil dan berjingkrak – jingkrak ria—melambaikan tangannya pada Jimin untuk segera keluar dari mobil.

Jimin akhirnya menyusul Taehyung yang sudah berlari memasuki rumah, menyusul saudaranya yang lain. Jimin berjalan perlahan untuk melihat pemandangan di sekitarnya, terpukau dengan lahan yang begitu luas yang ia yakini sebagai lahan pribadi milik keluarga Kim.

Dari dalam, bisa ia dengar perdebatan – perdebatan panas tentang siapa yang tidur di kamar mana bersama siapa. Semua berebut kamar yang paling besar dan paling nyaman, tak ada yang mau mengalah. Padahal, rumah ini memiliki kamar yang jumlahnya lebih dari mereka bertujuh, tetapi ada satu master bedroom yang selalu menjadi rebutan.

Akhirnya setelah melalui perebutan sengit, trio yang paling muda mendapatkan master bedroom yang mereka inginkan—tentu saja sebenarnya ini hanyalah ulah Taehyung dan Jungkook. Jimin sendiri ia hanya mengangguk – ngangguk dan tertawa dengan ocehan Yoongi yang harus tidur di kamar yang lebih kecil dari mereka.

"Tae, di sana ada apa?" tanya Jimin sesampainya mereka di kamar yang super luas dan menghadap ke padang rumput yang begitu luas dan indah.

Taehyung mendekat diikuti oleh Jungkook, melirik pada pohon yang ditunjuk oleh Jimin.

"Ahh itu. Itu pohon cherry blossom kesukaan ayah dan ibu. Satu – satunya pohon cherry blossom yang mereka tanam di sini. Mereka bilang, mereka membawa bibitnya dari tempat pertama kali mereka berkencan."

"Ahh begitu…" Jimin mengangguk – angguk mengerti. Hatinya menghangat mendengar cerita Taehyung.

"Ayah dan ibu Kim pasti saling mencintai, seperti ayah dan ibu."

"Seharusnya dalam beberapa minggu ini bunganya sudah mekar," tambah Jungkook sambil mengamati pohon itu dari jauh.

"Aku ingin lihat bunga pertamanya mekar."

.

.

.

Ketika semua orang tengah beristirahat, Jimin menyelinap keluar dari rumah. Ia berjalan melewati padang rumput yang ternyata ditanami beberapa tanaman di beberapa titik, semakin membuatnya indah.

Saat pohon cherry blossom yang cukup besar itu sudah hampir tampak di pengelihatannya, Jimin pun semakin mempercepat jalannya. Ia memutari pohon itu dengan kepalanya yang mendongak ke atas—berusaha mencari calon kuncup pertama yang kira – kira akan mekar.

"Ayah… aku ingin mempersembahkan kebahagiaan untuk saudara – saudarku. Kau akan mendukungku dari sana kan?"

Ujarnya dengan menyentuh batang pohon di hadapannya itu. Matanya menerawang jauh untuk sekedar menatap sebuah batang pohon coklat itu. Ia memikirkan keluarga barunya, juga beban yang ditanggungnya.

.

.

.

"YA! Yoongi bangun!" teriakkan Seokjin bergema di ruangan yang diisi oleh seorang pria dengan kulit pucatnya yang masih bergelung di dalam selimut nyamannya.

"Bangun atau aku akan menenggelamkan laptop berhargamu itu, Kim Yoongi!"

"Ergh… ada apa denganmu, hyung? Kau tau aku tidak suka dibangunkan pagi – pagi!" kini giliran pemuda pucat—yang akhirnya keluar dari selimutnya—berteriak lantang pada sang kakak.

Sedangkan tiga orang—Taehyung, Namjoon, dan Hoseok—yang berada di ambang pintu hanya bisa cekikikan. Merasa bersyukur pada Seokjin yang menggantikan mereka untuk membangunkan Yoongi. Mereka sudah lelah ditendang oleh Yoongi yang merasa terganggu—padahal tendangannya itu murni karena reflek.

"Kuberi kau waktu 5 menit. Jika kau tidak ada di meja makan, aku tidak main – main dengan ancamanku!"

Setelah itu, Seokjin keluar dari kamar sang adik, mencoba menahan kekehan gelinya karena kini Yoongi tengah marah – marah di atas Kasur.

"Aku akan membangunkan Jimin, kalian turunlah duluan," ujar Seokjin pada ketiga adiknya.

Selepas mereka pergi, Seokjin kembali berjalan untuk memasuki sebuah kamar yang berada tak jauh dari kamar yang Yoongi tempati. Cahaya matahari yang terhalangi oleh gordeng transparent menyambutnya saat ia masuk ke kamar itu. Ia pun menemukan Jimin yang masih meringkuk di dalam selimut hangatnya.

Taehyung dan Jungkook memang sudah bangun duluan tadi pagi, menyisakan Jimin yang terlihat terlalu nyaman dengan tidurnya. Merekapun tak tega untuk membangunkan Jimin dan mengikuti Hoseok yang membangunkan mereka.

Seokjin duduk di samping Jimin perlahan—tak ingin membuat sang adik terkejut. Ia pun mengelus surai Jimin pelan, juga mengecek suhu tubuhnya—untuk memastikan. Suhu tubuh Jimin sedikit panas terasa di kulit Seokjin. Ia berasumsi jika Jimin kelelahan karena perjalanan yang cukup Panjang kemarin.

"Jim… bangunlah…" panggil Seokjin halus—berbeda dengan caranya membangunkan Yoongi yang terkesan kasar.

Mata mungil itu terbuka, menyambut tatapan halus sang kakak. Bibirnyapun tertarik menggoreskan senyuman di wajahnya yang masih terlihat mengantuk itu.

"Pagi Jin Hyung…" ujarnya dengan suara yang sedikit parau.

"Tubuhmu sedikit panas, Jim. Apa kau merasa lemas?"

Jimin menggeleng pelan sebelum menjawab.

"Tidak, hyung. Aku merasa bersemangat pagi ini."

"Kalau begitu, bersiaplah. Semuanya sudah menunggu di bawah. Bukankah kau ingin sarapan bersama?"

Mata Jimin membulat mendengar perkataan Seokjin. Iapun segera terbangun dengan senyum yang lebih cerah daripada mentari pagi ini.

Seokjin tidak berbohong padanya. Ia kini menemukan keenam saudaranya berkumpul bersama di meja makan untuk sarapan, yang membuat Jimin benar – benar terharu. Ini kali pertama mereka sarapan lengkap setelah sekian lama.

"Jim, ayo cepat! Kami semua sudah kelaparan," panggil Taehyung kepada Jimin yang masih terdiam di ujung tangga.

Jimin pun mengambil langkah panjang dengan cengiran lebar di wajahnya. Ia menarik kursi di antara Taehyung dan Yoongi sebelum kemudian duduk dengan manis—menatap satu – satu saudaranya yang masih terlihat mengantuk.

"Nah… ayo kita mulai makan!" Seokjin hendak mengambil lauk di hadapannya sebelum suara nyaring Jimin terdengar.

"Sebentar hyung! Bukankah kita harus berdoa terlebih dahulu?"

Semuanya menghela napas, tapi tak ada yang menolak. Jimin menarik tangan kiri Taehyung dan tangan kanan Yoongi untuk ia genggam. Keenam saudaranya meliriknya heran tetapi lagi – lagi mengikuti. Merekapun memulai doanya dengan khidmat, berterimakasih kepada Tuhan untuk makanan di hadapan mereka.

"Tuhan… terimakasih telah memberikanku pagi hari yang indah ini bersama keenam saudaraku. Kumohon untuk jangan membiarkan mereka kesepian… selalu."

.

.

.

Para saudara terkecil ditambah Hoseok dan Namjoon memutuskan untuk bermain Jenga selepas makan siang, ditemani oleh angin yang sudah mulai menghangat yang masuk dari pintu belakang rumah itu lebar – lebar. Suara teriakkan mereka terdengar ke setiap penjuru rumah, bahkan sampai membuat Yoongi melemparkan buku tebalnya pada Taehyung karena berteriak terlalu keras.

Yang kalah? Tentu saja sudah dapat diprediksi. Namjoon si pintar dengan tangan cerobohnya itu kalah 4 kali dari 5 permainan, bahkan ia kalah sejak permainan baru saja dimulai.

"Hyung, giliranmu! Jangan sampai kalah lagi ya! Ini rekor pertamamu untuk bermain selama ini," ujar Jimin dengan sedikit nada menggoda pada Namjoon yang berdecak kesal padanya.

Ketika Namjoon sedang berkonsentrasi untuk mengeluarkan satu blok dari susunan blok paling bawah, tiba – tiba saja angin yang cukup besar masuk ke ruangan, membelai Jimin yang membuat lelaki itu terkejut dan segera memalingkan pandangannya ke arah luar—ke arah pohon cherry blossom itu.

"YA, Jimin! Kau menghancurkannya!" teriak Namjoon kesal karena Jimin tidak sengaja menghancurkan susunan blok itu.

Yang diteriakki malah tidak peduli. Ia berjalan menuju pintu yang meperlihatkan langsung hamparan padang rumput dan bunga dengan pohon cherry blossom di kejauhan sana.

"Jim, ada apa?" tanya Taehyung yang sedikit aneh dengan tingkah sahabatnya.

"Tae… pohonnya…" ujar Jimin tak jelas.

"Huh?"

"Semuanya, ayo! Bunganya akan mekar!" Jimin tba – tiba saja berteriak dengan sangat keras, merebut atensi semua saudaranya—bahkan Seokjin yang berada di dapur sekalipun.

"Ayo, Tae!"

Jimin kemudian berlari, sedangkan saudaranya yang lain keheranan akan tingkah Jimin yang aneh itu. Tanpa sadar, langkah Taehyung langsung menyusul Jimin, diikuti oleh saudaranya yang lain.

Rambut pink itu bergerak – gerak ditiup angin yang melewati tubuh mungil yang dibalut dengan mantel biru itu. Wajahnya terlihat sangha bahagia, berbanding terbalik dengan saudaranya yang masih bingung karena kelakuannya.

"Jimin, jangan berlarian!" ingat Seokjin dari belakangnya yang hanya dihadiahi cengiran lebar dari si pink itu.

"Ayo, hyung! Nanti bunganya terlanjut mekar!" ujarnya sedikit melirik ke belakang sebelum kembali berlari.

"Hahh… ada apa dengan gulali satu itu?!" omel Yoongi yang kini lebih memilih untuk berjalan cepat—lelah mengikuti Jimin yang begitu bersemangat.

Saat sudah cukup dekat, akhirnya keenam saudara itu mengikuti arah pandang Jimin yang sudah berhenti di depan mereka. Pohon cherry blossom milik sang ayah dan ibu mereka akhirnya mekar, menandakan musim semi sudah dimulai. Akhirnya, warna pink menghiasi pohon itu, membuat siapapun yang melihatnya terpukau.

"Jadi ini yang kau ingin perlihatkan, Jim?" ujar Taehyung tidak mengalihkan pandangannya pada bunga – bunga yang bermekaran satu persatu.

Jimin berbalik melirik saudara di belakangnya dengan senyum yang begitu lebar. Warna pink rambutnya senada dengan bunga – bunga yang tumbuh itu, membuat Jimin seperti menyatu dengan pohon di hadapannya itu.

"Indah kan? Ayah ingin kalian melihat ini bersama!" ujarnya lagi – lagi dengan senyum lebar, menularkan senyumnya pada keenam saudaranya yang lain.

Jimin kembali berbalik menghadap pohon dan melihat sebuah bunga yang akan jatuh ke arahnya. Iapun membuka kepalan tangannya—menunggu bunga itu jatuh di telapak tangannya.

"Ayah… mereka sudah bersama kembali, dan mereka bahagia. Kau tidak perlu khawatir lagi," bisiknya pelan tanpa terdengar oleh satupun saudaranya.

Sebuah tetesan air mata meluncur menuju telapak tangannya, diikuti oleh tetesan yang tidak ingin ia harapkan muncul kini. Mengetahui hal itu, Jimin mendongakkan kepalanya. Menatap langit biru yang dihiasi oleh bunga – bunga berwarna pink itu. Bibirnya masih tersenyum sampai akhirnya pemandangan itu digantikan oleh hitam yang pekat.

"Ayah… aku sudah berusaha dengan baik, kan?"

.

.

.

TBC

.

Haaaiii~ nggak

Nggak lebih dari sebulan lagi kan update nya? Masih ada yang menunggukaaah?

Aku sedikit baper bikin chapter ini. Maaf, aku emang hobby menistakan Jimin. Soalnya dia terlalu imut jadi butuh dijaga sama saudara - saudaranya itu.

Lanjutannya, semoga nggak lama lagi

Lastly, lemme know your thoughts please~

Thanks buat kalian semua yang udah baca dan review that means a lot to me

.

.

catastrohpile101