Yahuuuu! Author update lagi nih! Wah, review yang mengesankan... bikin semangat deh! MUACH! #Idiw.. author bingung ah mau ngomong apa lagi... lasung baca aja deh XD
Selamat membaca!
Pairing : Natsu D. & Lucy H.
Genre : Adventure-Rescuing
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : OOC, Genre ganti-ganti setiap chapter, alur kecepetan, dan lain-lain.
Natsu masih terdiam melihat tubuh Lucy yang pucat yang bersandar di pangkuan Erza. Dia menggigit giginya dengan kuat. Taring yang besar dan kuat bergesekkan dengan taring lainnya. Matanya membulat dengan perasaan marah.
"LUCY!" Gumam Natsu dengan nada yang sangat menekan. Rasanya ia ingin sekali menghajar orang yang telah membuat Istrinya menjadi seperti itu.
Tapi mereka sudah pergi.
"Yang penting kita bawa Lucy ke tempat yang aman dan cepat cari orang yang bisa dipercaya!" Perintah Erza. Gray dan Jellal langsung menggendong Lucy dan berlari mengikuti yang lain. Sementara Natsu masih terdiam.
"Natsu?" Penggil Mavis. Natsu pun berbalik dan kemudian berjalan menyusul mereka.
"ayo cepat! Darahnya terus keluar!" Teriak Erza.
"Mau cepat bagaimana!? Kau bisa mengobatinya?!" Tanya Gray sambil berlari.
"Tentu saja tidak!" Jawab Erza.
"Kau tau orang yang bisa dipercaya di sini?!" Tanya Jellal.
"Tidak! Tempat apa ini saja aku tidak tau!" Jawab Erza yang sudah mulai kelelahan berlari.
"Kalau begitu gimana mau cepet!?" Teriak Jellal dan Gray bersamaan.
Seorang perempuan berjubah dan berkerudung putih bersandar pada sebuah tembok bengunan melihat Erza, Gray, dan Jellal yang sedang panik menggendong Lucy. Mulutnya terbuka, sepertinya ia terkejut. Erza dan yang lain akan berlari melewatinya. Dan saat Erza tepat berada di depannya dan berteriak memanggil Gray dan Jellal, wanita itu mengeluarkan suaranya.
"Hey, kalian kenapa?" Tanya gadis itu.
"Ah? Kami? Kami sedang—" Erza merasa pernah mendengar suara ini. Walaupun hanya sekali. Tapi sepertinya mereka pernah bertemu.
Erza memicingkan matanya melihat gadis yang wajahnya tertutup kerudung itu. Hanya mulutnya yang kecil itu yang terlihat.
"Erza! Kau sedang apa!? Aku tidak merasakan nafasnya lagi!" Teriak Gray. Erza melihat tubuh Lucy yang semakin lemas. Gadis berkerudung itu kembali terkejut melihat Lucy yang digendong oleh Gray dan Jellal.
"Aduh! Kalian ini!" Erza menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa salahkan kami!? Salahkan dirimu sendiri karena tidak bisa menemukan orang yang bisa menolong Lucy!" Teriak Gray.
Gadis berkerudung menutup mulutnya dengan yakin. "Hey!" Panggil gadis itu. Erza, Gray dan Jellal menengok.
"Ayo masuk ke dalam sini!" Perintah gadis itu. Entah sejak kapan ia sudah membuka pintu disampingnya. Angin berhembus pelan. Erza, Gray, dan Jellal menatapnya dengan wajah curiga. Gadis itu tersentak dan mundur beberapa langkah.
Tak lama Juvia, Zeref, Mavis, dan Natsu menyusul dari belakang. Erza, Gray, dan Jellal menatap gadis itu dengan tatapan yang makin curiga.
"Ada apa? Siapa orang ini... ?" Tanya Mavis.
"Orang ini menyuruh kita masuk ke dalam rumah itu... sungguh mencurigakan... " Kata Erza. Mendengar itu, Mavis, Zeref, Juvia, menatapnya curiga. Apalagi Natsu. Ekspresi kemarahan kembali muncul di wajahnya.
"Tidak! Tidak! Aku bisa menyelamatkan teman kalian!" Kata gadis itu sambil mengangkat tangannya sampai dada. Dia tersenyum miris.
Erza dan semuanya terdiam. Satu kalimat. Satu kalimat yang terucap oleh gadis berkerudung putih itu membuat detak jantung mereka berhenti sedetik. Keringat mengalir di pelipis Erza.
"Kau... bisa menyelamatkan Lucy?" Tanya Erza.
Tiba-tiba Natsu berjalan cepat ke arah gadis itu dan mencengkram kerahnya.
"Jangan bercanda... " Gumam Natsu.
"Ukh... tapi kalau tidak ditolong, dia akan segera mati!" Ujar gadis itu sambil memegangi tangan Natsu yang mencengkram kerahnya.
"KAU TIDAK TAU APA-APA SOAL LUCY!" Teriak Natsu sambil mendorong gadis itu. Gadis itu bersandar pada tembok di belakangnya.
"Natsu! Tidak ada salahnya mencoba untuk percaya padanya! Lucy sedang sekarat!" Kata Erza sambil menarik Natsu. Natsu terdiam, itu berarti dia setuju.
Erza melihat ke arah gadis itu. Gadis itu mengangguk kecil lalu masuk ke dalam rumah di belakangnya. Mereka semua pun masih dengan perasaan was-was masuk mengikuti gadis itu.
Di dalam rumah, ada beberapa orang yang berpakaian sama. Ada wanita dan ada pria. Semua orang di sana kaget melihat kedatangan mereka.
"Apa yang kau lakukan!?" Tanya seorang wanita di antara mereka.
"Gadis ini sedang sekarat!" Jawab gadis itu. "Tolong! Biarkan dia selamat! Gunakan lacrima!" Ujar gadis itu. Teman-temannya terkejut saat mendengar kata 'Lacrima'.
"Jangan bercanda! Lacrima bukan barang sembarangan!" Ujar seorang pria.
"Tapi—"
"Natsu... ?" Panggil seorang wanita berkerudung putih.
Natsu mendelik ke arah gadis yang memanggilnya. Gadis itu berjalan ke arah Natsu dkk. Dan dengan perlahan ia membuka kerudungnya.
"!" semua tersentak kaget melihat gadis berkerudung itu.
"Lucy... " Gumam Natsu dengan mata membulat.
"Itu...—ITU AKU?!" Teriak Lucy sambil menunjuk Lucy yang sedang sekarat.
Angin berhembus kencang melewati jendela yang terbuka. Kerudung mereka bergoyang dan kemudian terbuka.
"K-kalian!?" Mata Erza membulat. Bukan hanya Erza, semuanya pun juga memasang ekspresi yang sama.
"Aku?!" Tanya Erza sambil menunjuk wanita berambut scarlet.
"Huh... " Wanita itu membuang wajahnya.
"O-oi! Kau?!" Tanya Natsu pada seorang laki-laki yang sangat mirip dengannya. Hanya saja—
"H-hah!? Maafkan aku!" Teriak laki-laki itu sambil melindungi kepalanya.
—sedikit berbeda.
"Sebenarnya kalian ini siapa?!" Tanya Gray pada laki-laki yang memakai pakaian berlapis-lapis.
"Aku Gray Surge." Jawab laki-laki itu singkat.
"Ibuku tidak pernah bilang kalau aku punya saudara kembar... " Gumam Gray.
"Hey! Cepat tolong gadis ini!" Teriak gadis berambut biru yang memakai bando.
"L-LEVY!?" Teriak Natsu dan Erza. "Yang jual ayam bakar itu kan?" Gumam Erza.
"M-maaf tadi sudah mencengkram kerahmu..." Kata Natsu agak canggung.
Gray dan Jellal menidurkan Lucy di kasur. Lalu wanita berambut scarlet yang mirip Erza itu mengeluarkan sebuah kristal berwarna biru. Ia meletakkan kristal itu di atas Lucy dan kristal itu mulai bercahaya.
"Siapa sebenarnya kalian?" Tanya Natsu pada laki-laki berambut pink yang masih kelihatan ketakutan.
"K-kami berasal dari pulau Edolas! Kami ditugaskan untuk membawa lacrima-lacrima ini!" Jawab laki-laki itu sambil berjongkok.
"Ooh? Lacrima? Apa itu?" Tanya Natsu.
"A-aku tidak tau!" Jawabnya semakin ketakutan.
"Kalau begitu, apa kau bisa menyelamatkan Lucy?" Tanya Natsu. "Umm... ?"
"Natsu! Natsu Dragion!" Jawab laki-laki itu. "Whoa!? Nama kita pun hampir sama! Aku Natsu Dragneel!" Kata Natsu sambil menunjuk dirinya sendiri dengan senyum lebar.
"HYIIIII!" Laki-laki bernama Natsu Dragion itu semakin ketakutan melihat Natsu yang ceria. Natsu menghela nafas melihatnya.
"Aku Erza Scarlett." Kata Erza tiba-tiba. Wanita berambut scarlet itu pun menengok dan menjawab. "Aku Erza Knightwalker." Jawabnya singkat.
"Natsu... " Panggil Lucy.
"Ah? Kau pasti 'Lucy' teman mereka kan? Siapa namamu?" Tanya Natsu.
"Bodoh! Aku Lucy Heartfilia, istrimu!" Jawab Lucy. Semua menengok ke arahnya.
"Kalau kau Lucy Heartfilia... dia... ?" Natsu berbalik ke arah Lucy yang sedang berbaring di atas kasur.
"Lucy Ashley!" Teriak Gray Surge. "Lihat tato di lengan kirinya!" Katanya sambil mengangkat tangan kiri Lucy.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Mavis.
"Entahlah... Juvia jadi bingung... " Gumam Juvia. Gadis di sebelahnya pun akhirnya menjawab, "Aku juga Juvia... " Katanya.
"KYAA! Gray-sama! Tolong!" Teriak Juvia sambil memeluk lengan Gray.
"Juvia-chan... tidak bisakah kita seperti mereka?" Tanya Gray Surge. Juvia langsung pergi meninggalkannya.
"Lucy Ashley... ? Siapa dia?" Tanya Natsu.
"K-kau tidak tau dia? D-dia adalah pemimpin kami! Dia sangat menakutkan!" Jawab Natsu Dragion.
"Haaah?! Siapa yang kau bilang menakutkan hah?!" Tanya seorang wanita.
"L-Lucy! Maaf!" Kembali lagi, Natsu Dragion berjongkok sambil melindungi kepalanya.
"H-hey... kita kan mirip... kalau begini kau bisa merusak reputasiku... " Kata Natsu sambil menepuk-nepuk bahu Natsu Dragion.
"Lacrima... apa benda itu bisa menyembuhkan orang yang terluka?" Tanya Mavis.
"Bukan hanya orang yang terluka. Bahkan orang yang sudah mati sekali pun bisa dihidupkan kembali dengan lacrima ini... lacrima ini bisa melakukan segalanya." Jelas Lucy Ashley.
"Widih!" Teriak Natsu, Gray, dan Jellal.
"Ngomong-ngomong kenapa Lucy bisa ketuker?" Tanya Mavis.
"Tadi aku lagi liat-liat barang yang di jual di pasar! Kalian sudah pergi entah kemana... lalu aku melihat mereka... kupikir itu kalian... " Jawab Lucy.
"Kalau aku sih emang ketinggalan di belakang... mungkin karena keliru, aku jadi salah ikut rombongan... kita semua mirip... " Jawab Lucy Ashley.
"Kita tidak menyadarinya? Padahal pakaiannya berbeda... " Gumam Jellal.
"Orang cenderung memperhatikan wajah. Bukan pakaian... " Kata Erza.
"Bagaimana caranya membedakan Lucy?" Tanya Natsu.
"Entahlah... " Jawab Gray.
CRAK
"Eh?"
"Lucy!?"
"Lucy... "
Lucy Ashley memotong rambutnya yang panjang itu. Dengan gunting. Dengan sekali gerakan.
"Bukankah aku terlihat lebih tegas dan kuat dengan rambut pendek?" Tanya Lucy Ashley sambil tersenyum jahil. Lucy hanya memegangi rambutnya yang masih menempel dengan kepalanya sambil menelan ludah.
Bagi seorang Lucy Heartfilia, penampilan adalah segalanya.
"Lacrima... " Gumam Zeref.
Semua menengok ke arah laki-laki yang dari tadi tidak bersuara itu. Zeref menatap lantai di bawahnya.
"Apa benda itu yang membuat kalian diincar sampai melukai Lucy Ashley?" Tanya Zeref.
Diam-diam menghanyutkan. Itulah Zeref. Setiap ia mengeluarkan suara, semua pasti terdiam.
Ya, semuanya terdiam.
"Kau benar. Siapa orang-orang itu? Tanya Natsu.
"Orang-orang? Mungkin yang kau maksud adalah kelompok berpakaian hitam...?" Tanya Gray Surge.
"Ya! Mereka berpakaian hitam!" Kata Mavis.
"Mereka memang mengincar kami—bukan! Mereka mengincar lacrima!" Kata Erza Knightwalker.
"Kami sendiri tidak tau siapa mereka. Tapi kami diminta untuk menghindari orang-orang itu... " Kata Lucy Ashley.
"Kata kalian, kalian ditugaskan untuk membawa lacrima itu. Kemana?" Tanya Zeref.
Diam-diam meghanyutkan.
"Kami..." Raut wajah Lucy Ashley berubah. "Kami akan membawa lacrima-lacrima ini ke sebuah tempat. " Lanjut Lucy Ashley.
"Makam Master kami... "
"Heh?! Master?!" Tanya Lucy.
"Di tempat asal kami, Edolas, kami berkumpul di sebuah guild yang bernama Fairy Tail... " Jelas Lucy Ashley.
"Fairy Tail?!" Teriak Natsu dan Gray ketika nama guild mereka disebut.
"Master kami sudah lama meninggal. Kami ingin menghidupkannya kembali... tapi sebenarnya kami juga tidak tau bagaimana wujudnya... " Lucy Ashley menghela nafas dan membenamkan wajahnya di lutut.
"Mereka bilang Master kami berambut kuning pucat... " Kata Juvia (Edolas).
Natsu, Lucy, dan yang lain melihat ke arah Mavis.
"Ada yang mirip aku?" Tanya Mavis menunjuk dirinya sendiri. "Dan dia meninggal?" Mata Mavis mulai berkaca-kaca. Lucy, Erza, dan Juvia mengelus punggung dan bahu Mavis.
"Sabar ya... "
BRAAAAK
Pintu dibuka dengan kasarnya. Memperlihatkan sekelompok orang dengan pakaian tertutup berwarna hitam.
"Mereka?!" Lucy Ashley mengambil ancang-ancang bertarung. Erza Knightwalker menyuruh Lucy, Mavis, Erza, dan Zeref membawa lacrima-lacrima itu bersama Natsu Dragion, Gray Surge, Levy, dan Juvia. Sementara dia sendiri akan menghalangi mereka bersama Natsu, Gray, Jellal, dan Lucy Ashley.
Lucy kembali memakai kerudungnya dan melompat lewat jendela.
"Serahkan Lacrimanya!" Teriak pemimpin kelompok itu.
"Lewati dulu kami!" Kata Lucy Ashley dengan Natsu, Gray, Jellal, dan Erza Knightwalker yang berdiri menghalanginya.
"Hosh! Hosh! Hosh! Hosh! Aku harus lari kemana?!" Tanya Lucy sambil membawa sekarung lacrima itu.
"Kemana saja! Yang penting selamat!" Teriak Mavis.
"Emangnya kita dikejar ya?" Tanya Zeref.
Mereka semua pun berhenti dan menengok ke belakang. Hanya ada Zeref dan Natsu Dragion yang kelelahan.
"Kita tidak dikejar?" Tanya Lucy.
"Sebaiknya kita bersembunyi... " Kata Juvia.
"Ya, benar kata Juvia... " Tambah Juvia (Edolas).
Mereka semua pun duduk di sebuah gang sempit yang cukup gelap. Lucy meletakkan karung itu dipangkuannya.
Mavis, Gray Surge, dan Natsu Dragion mengatur nafasnya. Sementara Juvia, Levy, Zeref, dan Erza mengintip sesekali untuk memantau keadaan.
Lucy mengambil satu lacrima itu dan melihatnya secara detail. Ada serbuk cahaya yang berterbangan di dalam kristal itu. Sebuah pertanyaan pun muncul di benak Lucy.
"Hey... " Panggil Lucy. Semua melihat ke arahnya. Lucy menunjukkan Lacrima itu pada mereka.
"Dari mana asalnya lacrima ini?" Tanya Lucy.
"Lacrima berasal dari nyawa orang yang sudah mati..." Jawab Juvia (Edolas). Semua melihat ke arahnya dengan mata membulat.
"Lacrima... adalah nyawa?"
To Be Continued
Buuueeeeeeh! Author bikin chapter ini selama 5 jam tau! Biasa mah Cuma 2 jam... =3= Chapter ini abal. Gak jelas alurnya. Dan terkensan mau cepet di tamatin. Ngerasa gak?
Ini gara-gara keyboard yang keras kayak batu! Udah alurnya susah lagi! Ini keluar genre nih! Harusnya kan humor... author usahain chapter part 2 nya FULL OF HUMOR! Doakan saya ya! Bantu saya! Kasih saya ide dan saran! Soalnya idenya author udah abis! Apa kalian mau fic ini tamat? T^T
Kirimkan saran dan review kalian di bawah sini! :D
