-3-
tryss proudly present
©2016
.
Aphrodite's Son
.
Jeon Jungkook X Kim Taehyung
(and others BTS pairing)
.
Summary
Jeon Jungkook menyembunyikan fakta penting dari kekasihnya—Kim Taehyung. Dan Taehyung sendiri tidak pernah mengerti kenapa Jungkook bisa memikatnya hanya karena sebuah tatapan singkat nan polosnya. Kemudian sebuah fakta memukul Taehyung kuat, bahwa Jungkook berbeda dengannya.
.
WARNING!
Typo(s). Bromance.
Story
Sejak hari itu. Hari dimana Taehyung sembuh, Jeon Jungkook menghilang. Lenyap tak berbekas. Mungkin saja tertelan bumi. Siapa yang tahu?
Malamnya, ponsel Taehyung sudah tidak dapat mendeteksi ponsel Jungkook. Hal yang sama terjadi di akun SNSnya. Nama Jungkook sudah tidak muncul di kolom pencarian. Taehyung bingung dan nyaris gila. Lebih dari seminggu bolos sekolah, menghabiskan waktunya untuk berdiam didalam rumah.
Jangan kira Taehyung bolos karena patah hati setengah mati. Ia memang patah hati, tapi Hoseok sudah menjelaskan semuanya hari minggu lalu. Sudah jelas, Taehyung tinggal menunggu waktu berjalan dan membawa Jeon Jungkooknya kembali.
Beberapa kali, Jimin datang mengunjunginya. Membawa kaset film terbaru ataupun segelas macchiato. Namjoon dan Hoseok mengunjunginya juga walaupun hanya sekali.
Apa Taehyung takut dengan Hoseok? Tidak.
Kalau ia tidak takut pada Jungkook, kenapa ia harus takut pada Hoseok? Sama sekali tidak ada alasannya.
Dengan begitu, tiga tahun berlalu dengan cepat. Taehyung tidak pernah memaksa Hoseok memberi tahu bagaimana keadaan Jungkook, karena Hoseok sendiri juga tidak tahu. Well, Jung Hoseok itu anak Athena yang jarang pulang ke asalnya. Jelas saja ia tidak tahu Jungkook dimana. Padahal jika Hoseok mau, sudah dari tahun-tahun kemarin ia menemukan bocah kelinci itu.
Lalu, bagaimana keadaan Kim Taehyung sekarang?
Sehat dan baik-baik saja.
Baik-baik saja?
Tidak juga.
Beberapa kali, Min Yoongi—partner kerjanya—memergoki Taehyung tengah melamun, menatap album kenangan dari sekolahnya dengan wajah sedih. Siapa sangka, ada Jungkook disana—dikolom siswa yang pindah sekolah sebelum lulus. Bibir tipis itu tengah melebar, membentuk curva paling indah yang pernah Taehyung lihat dan bayangkan.
"Kau mau cerita?"
Yoongi duduk disebelah Taehyung, membawa lensa dan pembersihnya, melakukan kegiatannya sambil menemani Taehyung.
Omong-omong, Taehyung menjadi fotografer disaat kuliahnya belum selesai. Ia bekerja pada sebuah studio foto terkenal milik teman ayahnya sebagai pekerja tetap dan menjadi wartawan freelance. Ibunya bilang, Taehyung harus mulai membiayai hidupnya sendiri, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit walaupun beberapa kali meminta jatah pada keluarganya.
Kembali lagi pada Taehyung dan Yoongi yang menikmati waktu luang mereka di kantor dengan suhu air conditioner rendah. Mm, sekarang musim panas. Tidak salah, kan menyalakan air conditioner sampai suhu enam belas derajat? Bukannya kalian juga begitu?
Taehyung melirik Yoongi sekilas sebelum membuka halaman album berikutnya sebagai sebuah alibi. Malu saja jika ada yang memergokimu sedang memandangi foto mantan—eh? Tunggu, Taehyung, kan belum putus dengan Jungkook, kenapa harus dibilang mantan?
Yoongi tersenyum tipis,"Tidak usah pura-pura begitu. Kau mengamati foto pemuda itu setiap hari, mana mungkin aku tidak tahu."
Album di tangan Taehyung tertutup dalam hentakan keras diiringi dengusan kesal dari sang penutup,"Hyung tidak akan percaya kalau kuceritakan."
"Kenapa tidak?"
Taehyung menyahut cepat,"Karena dia anak Aphrodite."
Ada selang waktu hening yang lama sebelum Yoongi tersenyum lebih lebar, meletakkan pembersih lensa dan menyempatkan diri menepuk pundak Taehyung sebelum mengambil lensa-lensa yang lain.
Sejak awal, pemuda pemilik surai dark-brown itu sudah menduga kalau respon Yoongi akan sama saja dengan orang-orang sebelumnya. Satu yang berbeda, Yoongi tidak terang-terangan tertawa dihadapannya.
Yoongi kembali dengan lensa lainnya dan duduk di sebelah Taehyung.
"Sudah kuduga, hyung tidak percaya." Kata Taehyung lesu.
"Kata siapa?"
"Karena hyung menepuk pundakku, bersikap seperti menyemangatiku walaupun hyung ingin tertawa." Ujar Taehyung bersungut-sungut.
"Kenapa tidak percaya?" Yoongi melirik jam di atas meja kerjanya sebelum melanjutkan acaranya membersihkan lensa,"Aku percaya adanya Dewa-Dewi. Kenapa harus tidak percaya dengan adanya demigod?"
Taehyung nyaris menangis. Sejak tiga tahun lalu, belum pernah ada seseorang yang bersikap wajar dengan ceritanya. Bahkan kedua orang tuanya saja tidak percaya. Dan orang pertama yang mempercayainya adalah Min Yoongi. Pemuda yang baru beberapa bulan dikenalnya.
"Namanya Jeon Jungkook." Taehyung menarik nafasnya dalam,"Sejak hari pertama dia pindah, aku sudah menyukainya. Tiga minggu sebelumnya, teman sebangkuku meninggal dan Jungkook yang menempati bangku itu. Semuanya berjalan seperti biasa. Dia menyukaiku juga dan kami pacaran. Suatu hari, aku kecelakaan. Entah karena apa, yang jelas Jungkook menyembunyikan sesuatu. Aku memaksanya untuk cerita. Besoknya dia hilang."
Untuk kesekian kalinya Yoongi melirik jam diatas meja. Bersikap seolah menunggu keajaiban terjadi,"Kau mencarinya?"
"Ya. Tapi demigod lain menghentikanku."
Yoongi tidak mengira, mendengarkan cerita Taehyung—yang kemungkinan besar bohong itu—telah menghabiskan waktu makan siangnya. Dan ia punya dua artis solo menunggu di studio fotonya. Bukan maksud Yoongi tidak percaya pada teman seperjuangannya. Kadang ada hal-hal yang memang tidak dapat dipercaya di dunia ini terjadi. Semuanya atas kehendak Tuhan. Bukankah begitu?
Sekalipun Yoongi memaksa dirinya untuk tidak percaya, Taehyung sudah menjelaskan semuanya dengan rasa keputusasaannya. Sekalipun pemuda bernama Jeon Jungkook itu menghindar, setidaknya ada kemungkinan nol koma nol satu persen untuk berpapasan dijalan. Faktor lainnya karena Taehyung yang duduk termenung seolah menunggu ajal menjemputnya.
"Sepertinya aku harus pergi." Yoongi berujar halus. Berusaha untuk tidak menyinggung Taehyung karena ditinggal begitu saja.
"Ya," kata Taehyung,"Aku juga harus berburu berita untuk uang tambahan." Senyumnya merekah kembali kurang dari lima detik. Benar-benar mood-swing yang mengerikan jika dilihat dari sudut pandang Min Yoongi.
:
Cuaca benar-benar ekstrim akhir-akhir ini. Suhu yang nyaris mencapai tiga puluh delapan celcius itu mungkin saja bisa membakar Taehyung atau lebih tepatnya memanggang. Setengah dari kaos biru polos sleeveless yang ia kenakan sudah basah dan sialnya ia belum dapat satupun berita. Sedangkan celana pendek selututnya tidak membantu. Shit, Taehyung jadi ingin telanjang saja.
Tidak mungkin Taehyung menulis berita tentang buruknya suhu akhir-akhir ini. Adanya hanya, beritanya akan ditolak dan uang bulanannya kurang.
Hari semakin sore, membawa bias jingga di langit Seoul. Taehyung tengah duduk di sebuah bangku taman setelah merasa putus asa mencari berita. Mungkin besok akan jadi hari keberuntungannya. Manusia harus terus berusaha, kan? Dan Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang mustahil diselesaikan oleh hambanya.
Sekaleng minuman isotonik yang didapatkannya dari mesin minuman taman tergeletak disebelahnya tanpa isi. Well, Taehyung menghabiskannya semenit tanpa berhenti. Ia dehidrasi di musim panas ini dan kelaparan karena lupa makan siang. Seingatnya, sebelum berangkat tadi, ia hanya makan sebungkus roti isi. Dan jelasnya, satu bungkus roti isi tidak akan pernah mengenyangkan Kim Taehyung.
Taehyung merogoh saku celananya, meraih ponselnya dan menyalakannya. Sedikit bersantai tidak akan membunuhnya, kan?
Ia hanya butuh waktu untuk beristirahat setelah kelelahan mengejar hal yang bahkan tidak pernah Taehyung tahu. Reporter selalu begitu, jadi tidak usah tanya. Ada satu pesan dari ibunya, kemudian beberapa temannya dari studio foto yang mengajaknya minum nanti malam. Untuk informasi saja, Taehyung tidak tertarik hura-hura sebelum Jeon Jungkook muncul lagi.
"Permisi," suara kecil itu mengagetkannya. Taehyung nyaris melempar ponselnya jika kontrol kagetnya tidak bekerja dengan baik.
Ia sedikit untuk mendongak, menatap kesal pemuda yang mengejutkannya tapi setiap umpatan dan rasa kesalnya hanya bersarang dalam tenggorokannya, enggan untuk keluar atau ia akan menyakiti pemuda manis di hadapannya.
Bukan, ini bukan sebuah déjà vu. Taehyung bahkan yakin ia tidak pernah memiliki adegan romantic seperti ini. Maksudnya bertemu dengan seorang pemuda di sore hari yang panas. Sungguh tidak masuk akal. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasakan déjà vu aneh itu.
Perasaan yang sama ketika ia bertemu Jeon Jungkook tiga tahun yang lalu. Perasaan yang sama ketika pualamnya bersirobok dengan onyx Jungkook. Sebuah getaran yang terlampau rumit untuk dijelaskan. Tapi setiap orang tahu apa arti dari getaran aneh itu.
Sayangnya, déjà vu yang dialami Taehyung tidak berakhir disana.
Tunggu sebentar, sebuah déjà vu atau bukan, akhirnya Taehyung tidak dapat memastikannya. Untuk yang kedua kalinya, ia jatuh cinta pada sosok yang sama.
"Ju,jungkook."
.
.
TBC
A/N
Maaf untuk masa update yang terlalu lama. Sepertinya saya memutuskan untuk tidak bikin adegan m-preg disini. Terlalu panjang dan beresiko. Tapi saya akan usahakan, ff selanjutnya adalah m-preg.
Dan maaf karena tidak bisa balas satu-satu review kalian di chapie sebelumnya. Intinya saya berterima kasih sama ucapan dan doa-doa kalian di ulang tahun saya. Review kalian sudah cukup membuat saya bahagia di hari ulang tahun.
Selamat datang juga para readers-nim baru dan, jangan lupa review, fav, follow. Begitu juga readers-nim yang sudah membantu saya melewati hari-hari demi menulis next-chap. Kalian sungguh berjasa.
Untuk pengumuman saja, dekat-dekat ini, ff Aphrodite's Son akan segera sampai di akhir cerita. Saya cuma berharap kalian jangan lupakan saya.
Ini dia nama-nama yang menulis review mereka di chapie sebelumnya:
shirayuki miu, kookie97, Hantu Just In, deshintamirna, octakyuu, vkook shipper, hsandra, applecrushx, Yuri Ta Kookie, Vookie, JeonJeonzKim, peachpetals, gbrlchnerklhn, utsukushii02, Yoonginugget, adelialyssa, KiranARMY, diannyrmayasari15, Anunya Bangtan, YolYol17, cookiesnyamphi, Pra, Jinheejae, chyper69, JungKen, jeon97, YM424, Park Rinhyun-Uchiha, 9094, anivk.
Salam sayang, tryss.
