DEAD AT HEART

Cast:

CHO KYUHYUN

LEE SUNGMIN

Other Cast

Rate: T

~o0o~

"Kau yakin sudah merasa sehat, Kyu?" tanya Sungmin seraya mengecek kembali obat yang baru saja ia tebus.

"Aku tidak ingin berlama-lama di rumah sakit, Min. Kau tahu kan kalau aku tidak suka diam di satu tempat." Jawab Kyuhyun. Ia sudah turun dari ranjang rumah sakitnya, dan kini lelaki itu sedang berusaha untuk mengikat tali sepatunya sendiri.

Sungmin memandang malas ke arah Kyuhyun, "setidaknya tunggu sampai kau merasa benar-benar sehat, Kyu."

"Hey, aku sudah merasa sehat bila berada disampingmu."

Gerakan tangan Sungmin memasukkan obat ke dalam tasnya terhenti mendengar penuturan Kyuhyun. Ia tersenyum sekilas sebelum menutup tasnya.

Kyuhyun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Sungmin. Ia peluk namja itu dari belakang. Tidak lupa ia taruh dagu lancipnya di bahu Sungmin.

"Ada apa, hm?" tanya Sungmin. Tangannya kini sudah terangkat untuk menyentuh wajah tampan kekasihnya itu.

"Tidak. Hanya ingin memelukmu."

Sungmin tersenyum lagi. Mungkin senyumannya kali ini berbeda dari yang tadi. Tersirat kesedihan di wajahnya, dan bibir tipis itu tidak benar-benar tersenyum.

"Kenapa kau ingin memelukku?"

"Aku tidak tahu. Hatiku dan tubuhku ingin sekali memelukmu. Ingin sekali menjagamu agar tidak pernah sedikitpun kau hilang dari pandanganku. Huh, apa aku egois, Min?"

Tidak, Kyu. Tidak. Kau tidak egois. Aku pun ingin begitu. Aku pun ingin selalu ada dipandanganmu.

Kyuhyun mengambil jemari Sungmin yang ada di wajahnya, ia dekatkan ke bibirnya dan ia kecup ringan punggung tangan Sungmin.

"Kyu.."

Sungmin melepaskan lingkaran tangan Kyuhyun di perutnya. Ia membalik tubuhnya sehingga kini kedua namja itu berhadapan. Kedua pasang mata itu bertemu. Menciptakan keheningan di ruang rawat yang serba putih ini.

GREP

Kyuhyun sedikit tersentak saat tubuh yang lebih kecil darinya ini memeluknya dengan tiba-tiba. Pelukan Sungmin makin erat dan itu malah membuat Kyuhyun semakin nyaman.

Entahlah, Kyuhyun tidak mau ambil pusing dengan sikap Sungmin yang serba tiba-tiba seperti saat ini. Ia memilih untuk mengelus surai hitam milik kekasihnya ini dan mengecup puncak kepala Sungmin berkali-kali.

"Kau tidak egois, Kyu… Tidak."

Hati namja berobsidian coklat itu mencelos seketika mendengar lirihan Sungmin yang berada dipelukannya. Suara Sungmin berbeda dengan biasanya.

"Aku juga ingin memelukmu, menyentuhmu. Aku ingin melakukan itu setiap hari, Kyu.. Aku tidak ingin meninggalkanmu.."

Hembusan nafas ringan di keluarkan dari bibir tebal milik Kyuhyun. Entah apa artinya.

"Kau tidak akan meninggalkanku, Min. Sudahlah, kau bisa menyentuhku dan memelukku kapanpun kau mau." Ucap Kyuhyun seraya menepuk-nepuk puncak kepala Sungmin dengan sayang.

Kyuhyun tidak mengerti dan Sungmin harap Kyuhyun tidak akan pernah mengerti tentang semuanya. Sungmin harap biarkan seperti ini. Ia tidak ingin melihat kesedihan yang terpancar dari mata coklat kesayangannya itu. Ia tidak ingin melihat air mata yang membasahi pipi yang mulai tirus iut.

Namja pencinta salju itu melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Sungmin. Mata foxy Sungmin bisa melihat bibir tebal yang menyunggingkan senyum manisnya.

"Kita sudah berjanji untuk bersama-sama. Jadi kau harus yakin, aku tidak akan pernah meninggalkanmu seperti aku yakin bahwa kau tidak pernah meninggalkanku. Arraseo?"

~o0o~

Berkali-kali Yesung mengacak-acak rambutnya, tanda pria bermata sipit itu sedang di titik puncak kefrustasiannya. Didepannya sedang duduk seorang Lee Donghae yang sedang sibuk membaca Koran.

"Ya! Kau masih bisa bersantai seperti ini, Lee Donghae?!" bentak Yesung seraya melempar tissue bekas ke arah Donghae.

Donghae tersentak, menutup korannya dan melempar deathglare pada Yesung. "Aish, memang aku harus bagaimana?"

"Kau yang menelfonku, menyuruhku ke kantormu dan menemuimu. Kau juga yang memberiku kabar tentang itu dan kau juga yang membuatku panik!"

Donghae tersenyum kecil. Ditatapnya wajah Yesung dengan tatapan andalannya sebelum ia mengambil secangkir kopi yang terletak di meja di antara mereka berdua.

Yesung memalingkan wajahnya dengan kesal. Selalu seperti ini bila ia bertemu dengan Donghae. Entahlah, Yesung tidak pernah mengerti cara berpikir sahabatnya yang satu ini. Selalu saja diluar akal sehatnya.

"Kau kira, hanya kau saja yang panik dan memikirkan masalah ini, Hyung?"

Yesung mengangkat satu alisnya. Matanya kini sudah kembali menatap Donghae dengan raut wajah penasaran.

"Ini bukan masalahku atau masalah perusahaanku. Ini masalah Sungmin hyung dan Kyuhyun yang sudah ku anggap sebagian dari hidupku. Lalu, mendengar kabar bahwa Sungmin hyung menyetujui pernikahan itu, apa kau kira aku tidak panik?"

Donghae menaruh cangkir kopi yang sudah ia minum sedikit. Kedua matanya yang berbinar itu menatap tajam ke arah Yesung, seolah meminta jawaban.

"Kau dan aku sama-sama tahu bahwa kedua namja itu saling mencintai. Bahkan kita sama-sama menjadi saksi atas perjalanan mereka. Dan sekarang, dengan hitungan jari, mereka akan terpisah. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan? Mengacak-acak rambut seperti yang kau lakukan, hyung?"

Yesung memutar matanya. Mengejek atas ucapan Donghae yang menurutnya terlalu memojokkannya, namun ia juga menyetujui ucapan sahabatnya tersebut. Panik, gegabah, maupun berteriak juga tidak akan menyelesaikan masalah.

"Ya, kau benar. Hah, mengapa aku selalu kalah bila beradu argument denganmu?" tutur Yesung, jari-jari kecil yang tidak seimbang dengan kepalanya itu terlihat sedang mengurut keningnya.

Donghae tersenyum simpul, "sudahlah. Bukankah kita memang tidak pernah akrab bila tidak ada Kyuhyun?"

Lagi, tissue bekas melayang ke arah Donghae. Yesung, sang pelaku pelempar, terlihat tertawa kecil. "Kau benar lagi. Ah, sudah berapa lama kita tidak keluar bertiga, hm?"

"Hm, kira-kira sudah hampir tiga bulan kita tidak pernah keluar bersama, Hyung."

"Bagaimana kalau kita keluar bersama? Makan ice cream seperti saat dulu?"

~o0o~

Ketiga namja itu sudah duduk memutari meja bulat berukuran sedang yang penuh dengan ice cream berbagai rasa. Tidak lupa juga tiga gelas wine yang entah kenapa ada di meja itu walau tidak serasi dengan manisnya ice cream.

Sudah hampir sejam mereka habiskan hanya dengan bernostalgia mengenai masa sekolah yang selalu saja tidak pernah bosan untuk diulang. Obrolan ini sudah berkali-kali mereka bahas, namun selalu menjadi topic yang wajib mereka bahas.

"Ya! Sudahlah jangan bahas tentang wanita menjijikan itu lagi!" Yesung mengibaskan tangannya di depan wajah Donghae yang sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk menceritakan kisahnya dan bersama mantan kekasihnya yang berselingkuh.

"Hahaha, lagipula salah kau, hyung. Bisa-bisanya kau menyukai wanita seperti itu." kini bagian Kyuhyun yang tertawa melihat ekspresi risih dari Yesung dan wajah tak berdosa dari Donghae.

Yesung mendecak kesal, membuat Donghae dan Kyuhyun menjadi tidak enak untuk tertawa lagi. Tapi situasi seperti ini sudah biasa bagi mereka. Donghae dan Kyuhyun yang jahil dan Yesung yang selalu menjadi korban.

"Sungmin hyung sedang di Apartment, Kyu?" tanya Donghae mencairkan suasana yang sempat diam.

Kyuhyun mengangguk sambil menyendok ice cream coklat ke mulutnya.

"Sungmin tidak kerja?" kini gantian Yesung yang bertanya.

"Tidak. Aku heran, sudah dua hari ini ia tidak bekerja. Semenjak aku keluar dari rumah sakit, ia jadi tidak ingin jauh dariku. Tadinya dia ingin ikut bersamaku, tapi karna aku tahu kita sudah tidak berkumpul seperti ini, aku melarangnya. Wajahnya sedih sekali saat aku keluar Apartment tadi." Kyuhyun bercerita sambil memainkan sendok ice cream. Sepertinya ia tidak melihat tatapan dari kedua namja yang sangat sulit untuk diartikan.

Mau Yesung atau Donghae, keduanya mencuri menghembuskan nafas. Ada rasa tidak enak menyembunyikan hal yang mereka tahu kepada Kyuhyun.

"Seharusnya kau mengajaknya saja, Kyu." Tutur Yesung sembari membersihkan bibirnya dengan tissue.

"Tidak apa. Lagipula setiap hari kan aku akan bertemu dengannya. Kami kan tinggal satu atap, masa kami tidak bertemu?" Kyuhyun tertawa kecil seraya menyenggol lengan Yesung.

Donghae memandang Kyuhyun dengan pandangan sedih. Namun syukurlah, hanya Yesung yang menyadari tatapan itu. Selang tiga detik kemudian, Yesung dan Donghae bertatapan. Mata mereka berdua seakan berbicara selagi dongsaeng mereka tidak menyadarinya.

"Kalau begitu pulanglah, Kyu. Temui Sungmin hyung dan temani ia." Tutur Donghae seraya tersenyum manis pada Kyuhyun. Tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut Kyuhyun yang berwarna coklat. "Selagi kau bisa.."

~o0o~

Langit sore di Seoul itu adalah hal paling indah yang pernah ia lihat, menurut Sungmin. Entah kenapa, paduan antara warna oranye dan putih selalu cocok dipandang. Apalagi ditemani hembusan angin dan suasana yang tenang.

Dia masih di lantai 14, dan pasti terdengar samar-samar suara transportasi di bawah sana. Namun sepertinya namja itu menutup matanya dengan tenang, seolah hanya ada hembusan angin dan hembusan nafas yang memenuhi telinganya.

Kedua tangannya berpegang pada pagar teralis yang berwarna biru tua ini. Sedikit mencodongkan badan ke depan, seolah-olah ia dapat terbang di udara bebas sana.

Dengan mata terpejam, bibir tipis itu tersungging manis.

Tinggal tiga hari lagi.

Tinggal tiga hari lagi kebahagiaan itu singgah di kehidupannya. Tinggal tiga hari lagi dan bersiaplah untuk menuju 'kematian'.

Sungmin masih merasa ragu dengan pilihannya sekarang. Bodoh, begitulah yang keluar dari mulut Donghae saat ia menceritakan tentang persetujuannya mengikuti permintaan sang Appa.

Ya, Sungmin memang mengakui dirinya bodoh. Mengapa bisa ia dengan gegabahnya menerima pernikahan ini, mengapa bisa ia ceroboh tanpa memikirkan apa yang terjadi nanti.

Aku akan membatalkan ini…

Kepala namja manis itu mengangguk. Seperti menyetujui apa yang barusan ia pikirkan.

Kembali ia hembuskan nafas.

GREP

"Eh?"

"Apa yang sedang kau lakukan disini, hm?"

Sungmin spontan membuka matanya dan mendapati ada sepasang lengan besar yang melingkar di pinggangnya. Sedetik kemudian namja itu tersenyum. Tanpa menengok pun ia tahu siapa dibalik punggungnya itu, pasti Kyuhyunnya.

"Hey, kapan kau pulang?" tanya Sungmin. Kini tangannya tidak berpegang lagi pada teralis pagar, kedua tangan mungil itu sudah bergerak untuk memeluk lengan Kyuhyun.

"Saat kau masih sibuk memejamkan matamu disini." Jawab Kyuhyun seraya mencium surai hitam Sungmin dari belakang. "Apa yang kau pikirkan?"

"Ani. Hanya menikmati sore. Syukurlah kau datang, Kyu. Aku kira aku akan menikmati sore ini sendirian saja.."

"Aku tidak akan membiarkanmu menikmati sore sendirian, Min. Aku akan menemanimu."

"Terima kasih, Kyu."

"Iya, sayang."

~o0o~

Ryeowook tersenyum kecil melihat tingkah Kyuhyun yang mencoba memasak sesuatu di dapur Apartmentnya. Sekitar 1 menit yang lalu, hyungnya itu berkunjung ke Apartmentnya dan memberi tahu bahwa Ryeowook harus mengajari Kyuhyun memasak.

"Kau itu tumben sekali ingin ke dapur, hyung. Memang ada apa?" tanya Ryeowook seraya memperhatikan Kyuhyun memotong wortel. Sungguh, tangan Ryeowook terasa gatal karna melihat cara memotong Kyuhyun yang kaku. Belum lagi potongan wortelnya yang tidak beraturan.

"Malam ini aku ingin memberi Sungmin surprise. Selama ini, selalu ia memasak. Dan kebetulan hari ini dia harus ke kantor untuk menandatangani sesuatu. Jadi aku berniat memasak makan malam untuknya." Jelas Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari wortel.

Mata kecil milik Ryeowook langsung menatap ke wajah serius Kyuhyun. Tiba-tiba dadanya terasa sesak mendengar penjelasan Kyuhyun. Ya Tuhan, andai saja Yesung tidak mengabari tentang kekasih kakaknya itu dan pernikahannya, mungkin Ryeowook sekarang bisa tersenyum geli atau bahkan mengejek Kyuhyun yang terlalu dibuai asmara. Namun sekarang sepasang mata kecil menatap penuh luka ke arah Kyuhyun yang sesekali tersenyum memandang masakannya.

Ryeowook menutup mulutnya dengan satu tangannya. Ia tidak mungkin menangis sekarang, walau ia tahu bagaimana naasnya nasib kakak tersayangnya itu.

"Selesai!"

Lamunan Ryeowook buyar saat suara Kyuhyun memenuhi pendengarannya. Terlihat bahwa kakak semata wayangnya itu sedang memegang sepiring besar yang berisi makanan yang terlihat lezat.

"Aku berhasil menyelesaikan ini, Ryeowookkie! Berikan applause pada hyungmu!" Kyuhyun tersenyum sampai deretan gigi putih dan rapinya itu terlihat. Ia memandang hasil makanannya itu dengan bangga.

"Kau berhasil, hyung. Sungmin hyung pasti menyukai masakanmu." Ucap Ryeowook dengan suara pelan. Bibirnya memang tersungging senyum manis untuk hyungnya tersebut, namun jauh di dalam hatinya, ia seperti menangis untuk melihat senyum tulus dari bibir tebal milik Kyuhyun.

"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke Apartment sebelum Sungmin pulang."

"Tunggu, hyung!"

Kyuhyun memberhentikan langkahnya saat adik lelakinya tersebut memanggilnya.

"Ada apa, Wookie?"

"Ani. Hanya ingin melihat wajahmu saja."

"Ya! Kau aneh sekali!"

Cklek.

Ryeowook tersenyum miris saat melihat pintu Apartmentnya sudah kembali tertutup rapat. Tangannya segera berpegang ke pinggiran sofa.

"Ya Tuhan…"

Tangan kecilnya mengusap kasar wajahnya yang beraut lelah. Sebernarnya perkataan terakhirnya tadi berasal dari hatinya. Ia sangat ingin melihat wajah Kyuhyun yang seperti ini terus dan selamanya. Wajah Kyuhyun yang bahagia dan bersinar. Tersenyum bahagia seakan tidak ada satu masalahpun yang hinggap di hidupnya.

Tapi mengingat hal itu, Ryeowook menjadi ingin terus mengabadikan wajah Kyuhyun. Namja kecil itu juga sangsi, apakah ia masih bisa melihat raut bahagia dari wajah kakak semata wayangnya itu..

~o0o~

"Aku pulang.."

Sungmin menaruh tas kerjanya dan melonggarkan dasi yang ia pakai. Matanya beredar ke seluruh Apartment, namun ia tidak menemukan seseorang yang selalu menyambutnya.

"Kyu?"

Dahi Sungmin mengernyit saat melihat lampu dapur menyala. Apa Kyuhyun sedang makan? Malam-malam begini? Tumben, pikir Sungmin.

Sungmin melangkah ingin memasuki dapur tersebut. Saat ia sudah sampai di ambang pintu dapur..

"Silakan duduk, Tuan Cho Sungmin."

Kyuhyun memakai kemeja putih dengan celana bahan berwarna hitam. Dasi kupu-kupu yang berwarna senada dengan celananya pun bertengger di lehernya.

Sungmin menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Wajahnya benar-benar terkejut dengan pemandangan di dapur ini. Ada satu lilin yang menyala di tengah-tengah meja yang sudah diberi taplak berwarna merah. Ada juga hiasan lampu natal disekitar kitchen set yang berwarna merah dan hitam itu.

"K-kyu?"

"Aku rasa kau lupa kita sudah memasuki bulan apa." Tutur Kyuhyun seraya meraih tangan Sungmin. Ia menuntun kekasihnya tersebut untuk duduk di bangku yang telah sediakan.

"Bukankah masih bulan November?" tanya Sungmin seraya memperhatikan dekorasi sederhana dari Kyuhyun, namun terlihat indah di matanya.

"Hey, 24 hari lagi kita akan menyambut natal, Sungminnie." Jawab Kyuhyun sambil memakai jas hitamnya. "Dan sekarang, aku ingin merayakan kedatangan bulan desember bersamamu."

Sungmin terkekeh geli, "jadi kau menyiapkan ini semua? Hey, bahkan kau memasak!"

"Hahaha, kau tahu bahkan jari ku hampir terpotong karna membuat ini." Kyuhyun mulai mematikan lampu dan membiarkan dapur sekaligus ruang makan mereka hanya penuh dengan cahaya lilin disekitar mereka.

"Hey, kau tidak takut kebakaran, hah?" ejek Sungmin seraya melirik nakal ke arah Kyuhyun.

"Yaaa. Kau menghancurkan suasana romantis, Min." Kyuhyun memajukan bibirnya, mencoba menyamakan ekspresi Sungmin ketika merajuk.

Sungmin memajukan tubuhnya, mencoba mendekati pria yang sudah duduk dihadapannya. "Maaf. Ini hanya tidak seperti dirimu saja."

Bibir tebal Kyuhyun mulai kembali tersenyum, membuat Sungmin merasa lega dan kembali duduk.

"Apa tujuanmu membuatkan ini semua, Kyu?"

Kyuhyun tidak menjawab, ia malah membungkuk seperti mengambil sesuatu dari bawah meja.

"Ini untukmu."

Sungmin berani bersumpah. Baru pertama kali ini ia melihat buket mawar yang sangat indah. Dan buket mawar itu sedang berada di depannya, diberikan langsung dari tangan kekasihnya dan hanya untuknya.

"137 bunga berwarna pink dengan mawar biru bertuliskan hangul kyumin di tengahnya. Kau suka?" tutur Kyuhyun seraya menyodorkan buket besar itu kepada Sungmin.

"Aku orang bodoh bila tidak menerima ini! Aigo, ini indah, Kyu. Ah, ani, ini sangat indah." Sungmin menerima buket itu dengan kedua tangannya, karna memang tidak akan sanggup bila dengan satu tangan.

"Terima kasih, Min. Aku senang kau menyukai pemberianku. Tarulah dulu, dan rasakan masakanku." Kyuhyun mengambil buket itu dan ia letakkan di meja dekat mereka.

"Ayo cobalah." Kyuhyun menyodorkan garpu berisi spaghetti ke arah Sungmin, yang langsung ditanggapi oleh Sungmin.

"Mashitta!" Sungmin berteriak senang saat masakan hasil kekasihnya itu terasa lezat tanpa cacat di lidahnya. "Yaaaa! Kau pasti membelinya di restoran!"

"Errr.. Aku membuat ini dengan susah payah, Min."

"Mianhae. Aku hanya bercanda. Sekarang aku yang menyuapimu. Ayo, aaaa~"

Kyuhyun dan Sungmin larut dalam kebahagiaan di malam itu. Hanya dengan dua piring spaghetti yang dibuat Kyuhyun, hiasan natal yang memenuhi dapur, dua gelas wine, temaram lilin, dan sebuket besar bunga yang tergeletak disamping mereka. Tapi mereka merasa bahagia. Hanya dengan secuil hal kecil mereka mampu melupakan segala hal yang membebani pikiran maupun hati mereka.

~o0o~

"Pakailah mantel, Min. Salju sudah mulai turun."

Sungmin merasakan kehangatan saat Kyuhyun memakaikan mantel berbulu tebal kepada tubuh mungilnya. Sekarang, tubuh mungilnya itu benar-benar tertutup dengan mantel berwarna cokelat.

"Biar ku pakaikan." Sungmin mengambil mantel hitam Kyuhyun dan mulai memakaikan mantel itu, sama seperti tadi Kyuhyun memperlakukannya.

Kyuhyun tersenyum, dengan cepat kedua lengannya memeluk tubuh Sungmin sampai tubuh kekasihnya itu mendarat tepat di dalam dekapannya.

"Hey, katanya mau berjalan-jalan. Mengapa memelukku?" tanya Sungmin. Sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan saat lengan kekar Kyuhyun memeluknya, bahkan ia merasakan kehangatan yang lebih daripada sebuah mantel berbulu.

"Hanya sebentar, Min. Aku hanya merindukanmu." Kyuhyun memejamkan matanya. Entah mengapa rasanya ia ingin menangis saat wangi tubuh Sungmin melesak masuk ke dalam penciumannya. Ia merasa jauh dari Sungmin, walau setiap hari ia selalu bertemu bahkan memeluk kekasihnya itu.

Sungmin tertegun mendengar perkataan Kyuhyun. Rasa takut dan sedih itu datang lagi setelah sempat ia tutup rapat semenjak kejadian makan malam semalam. Bila Kyuhyun merindukannya sekarang, bagaimana dengan nanti? Hanya dengan memikirkannya pun Sungmin sudah hampir tidak bisa bernafas.

.

Kedua namja itu bergandengan tangan menyusuri taman Seoul yang mulai memutih karna salju yang perlahan turun dari langit. Walau sepasang mata memperhatikan mereka, namun tidak ada satupun yang tau 'kejanggalan' dari pasangan itu. Dengan tubuh mungil Sungmin yang tertutup mantel dan wajah manisnya, sudah pasti orang-orang menyangka Sungmin adalah seorang perempuan.

Kaki mereka berhenti saat sudah sampai dipinggir danau yang mulai membeku. Walaupun dingin, namun keduanya memilih untuk duduk direrumputan yang mulai memutih. Sungmin segera meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun dan memeluk erat lengan Kyuhyun. Pria tampan itu hanya tersenyum manis melihat sikap manja Sungmin yang muncul. Dikecupnya mesra kepala Sungmin.

"Aku yakin, natal tahun ini pasti sangat menyenangkan." Tutur Kyuhyun sambil memandang lepas pemandangan di depannya. Turut ia menggenggam jemari Sungmin.

"Kenapa bisa begitu? Bukankah natal memang selalu menyenangkan."

"Tapi akan lebih menyenangkan bila aku merayakannya bersamamu, Min."

Berhenti, Kyu. Aku tidak ingin mendengar pernyataan romantismu yang terdengar menyakitkan ditelingaku…

"Hey, kenapa diam?" Kyuhyun sedikit menolehkan wajahnya ke arah Sungmin karna namja itu sama sekali tidak berkomentar.

Sungmin menjauhkan kepalanya dari bahu Kyuhyun dan memandang wajah kekasihnya tersebut. "Terima kasih, Kyu."

Kedua telapak tangan Kyuhyun segera menangkup kedua pipi chubby milik Sungmin. Ia satukan keningnya dan kening kekasihnya tersebut.

"Aku yang harusnya berterimakasih kepadamu, Sungmin. Kau adalah anugerah yang paling indah yang pernah hadir di dalam hidupku. Kau adalah hidupku, Min…"

Hembusan nafas Kyuhyun benar-benar bisa dirasakan menerpa wajah Sungmin karna jarak mereka yang begitu dekat. Pergerakan bibir Kyuhyun pun tak terelakkan lagi dilihat oleh Sungmin.

Kedua mata foxy itu terpejam untuk sekedar merasakan ciuman lembut di dahinya. Begitu nyata dan begitu menentramkan jiwa. Untunglah Kyuhyun lama menciumnya, sehingga Sungmin dapat merekam segala rasa yang ia rasakan saat ini. Untuk dikenangnya nanti..

"Saranghae.. Jeongmal saranghae…"

Kyuhyun mendekap erat tubuh Sungmin setelah ia menjauhkan bibirnya dari dahi Sungmin. Sungguh ia sangat mencintai namja yang membalas pelukannya ini. Sungguh ia tidak ingin berpisah dari Sungmin walau hanya semenitpun..

"Nado saranghae, Kyu… Nado jeongmal saranghae…"

TBC

hallo~

ternyata perkiraanku salah. harus ada dua chapter lagi sebelum flashback off.

mianhae, ya?

tapi chapter 9b nya aku post akhir weekend ini kok kalo gak berhalangan.

terimakasih ya buat semua pembaca dan pereview yang tetap setia sampai saat ini.

dan selamat datang yang baru baca cerita ini.

maaf belum bisa menjadi author yang baik:')