Do Kyung Soo & Kim Jong In
UnA Na
Rated : M
Warn : GS!NC-17!
©2016
Summary : Do Kyungsoo punya hidup sempurna di umur 26 tahun. Bisnis kue yang sukses, teman-teman yang baik, dan malaikat kecil yang selalu membuat tiap harinya berbeda. Hingga ia bertemu Kim Jongin, lelaki misterius yang akan membuka masa lalunya yang terlupakan.
...
"Maaf karena telah berpura-pura"
./././
Kyungsoo dan Chanyeol makin dekat hari demi hari. Laki-laki itu benar-benar hebat dalam pendekatan. Sedikit kata-kata manis dan interaksi yang tak berlebihan sebagai senjatanya. Setelah mengenal baik Kyungsoo, dia mendapati jika perempuan itu cerewet kalau mengenai masak-memasak dan berubah menjadi tuli kalau sudah berhadapan dengan buku.
Selama hamil Kyungsoo menjual kue via online untuk memenuhi kebutuhannya. Dia tidak ingin merepotkan Luhan yang sudah banyak membantu, Chanyeol pun yang sempat menawarkan bantuan ditolak Kyungsoo. Dia memang hamil, tapi tidak lemah, dan sifat seperti itu yang Chanyeol suka.
Rasa penyesalan sekarang berubah menjadi rasa suka. Chanyeol mendadak jatuh cinta pada segala tingkah laku Kyungsoo. Saat tertawa, tersenyum, bicara, bersikap, atau menjadi pendiam, dia menyukai semua tentang perempuan itu. Dan buruknya, sifat tamak Chanyeol muncul. Dia ingin mengklaim Kyungsoo sebagai miliknya bagaimanapun caranya.
Kehamilan Kyungsoo menginjak bulan ketujuh, tapi perempuan itu tidak merasa terganggu menjalankan aktivitasnya dengan perut besar. Chanyeol yang datang ke apartemen Luhan ikut membantu Kyungsoo membuat kue, walau sekedar mengemasi kue-kue menggiurkan itu.
"Nanti aku saja yang antar," ia menawarkan diri agar Kyungsoo hari ini tidak perlu menggunakan jasa kurir lagi.
"Tidak usah repot-repot, Chan. Sehun bakal kemari dan mengantarkannya, mumpung hari sabtu." Walau sudah diusir dari rumah, Sehun tetap mengunjungi Kyungsoo tiap sabtu dan minggu.
"Lalu dimana Luhan?" gadis cerewet itu biasanya ada disekitar mereka berdua kalau akhir pekan seperti ini.
"Dia kerja di butik dekat kampusnya. Kamu tahu kan ambisi Luhan sebagai perancang busana, dia ingin belajar di sana." Setelah memasukkan kue ke oven, Kyungsoo duduk di sebelah Chanyeol di meja makan.
"Hei, Kyung... sudah beli baju buat calon anakmu?" Chanyeol mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas yang ia bawa, niatnya kemari memang mau mengerjakan tugas sambil mengobrol dengan Kyungsoo.
"Rencananya besok dengan Luhan."
"Memangnya sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Belum, sih. Tapi berharap janinku laki-laki."
Chanyeol mengangkat kepalanya dan bergerak menghadap Kyungsoo. "Kenapa laki-laki?"
Kyungsoo tersenyum lebar, matanya berbinar-binar seakan tengah membayangkan masa depan. "Karena dia akan menjaga dan menjadi tempatku bertumpu, layaknya seorang laki-laki. Tapi aku tidak masalah kalau perempuan."
Pernyataan Kyungsoo membuat Chanyeol tersenyum kecut. Dia memang terlihat kuat, tapi nyatanya Kyungsoo tetap membutuhkan lelaki yang mampu menjaganya. "Kalau aku orang yang menghamilimu, mungkin kita akan hidup bahagia."
Wajah Kyungsoo berubah menjadi masam, dia tidak suka jika topik seperti ini terangkat. "Sudahlah, itu hanya masa lalu." Dia mencoba agar suaranya terdengar bernada biasa, tapi nyatanya Chanyeol menangkap getaran disana.
"Maafkan sepupuku, Kyung." Chanyeol hampir melepaskan seringai lebarnya karena perubahan ekspresi perempuan itu menjadi menggelap. Berkat mulut jahanamnya dia mampu menghasut Kyungsoo agar menjadikan Jongin sebagai orang yang paling dibenci. Tanpa peduli jika mulutnya pula yang merusak hidup Kyungsoo.
./././
Dia pikir semua sesuai rencana. Kyungsoo yang sudah tak punya hati untuk Jongin, sehingga Chanyeol mampu masuk ke dalamnya. Dia tahu perempuan itu mulai tertarik padanya tapi belum berani membuka hati. Trauma itu menyakitkan, makanya Chanyeol bersikap sabar agar tak terkesan terburu-buru.
Tapi setelah hari dimana Kyungsoo kecelakaan dan lupa ingatan, Chanyeol merasa hancur. Perempuan itu tidak mengenalnya sama sekali dan ia pikir akan kembali ke awal. Saat bangun dari tidur panjangnya, Kyungsoo menjadi linglung saat melihat Chanyeol.
"Siapa kalian?"
Luhan langsung menangis di sebelahnya, sedangkan dia menjadi syok, tidak tahu harus berkata apa. Perempuan itu bahkan terkejut mengetahui dia punya anak umur tiga bulan. Digendongan Luhan, anak perempuan yang diberi nama In Soo itu menangis sangat keras, seakan ingin kembali ke dalam dekapan sang ibu.
"Namanya In Soo. Dia butuh kamu untuk menyusui." Chanyeol berbicara sangat lembut saat melihat wajah aneh Kyungsoo yang menatap In Soo.
"Kalau aku punya anak... dimana ayahnya?"
Sehun dan Luhan saling berpandangan, tidak menduga pertanyaan seperti itu bakal muncul. Mereka tidak siap untuk menjawab. Mana mungkin menceritakan kenangan pahit pada orang sakit seperti Kyungsoo.
"In Soo tidak punya ayah. Dia hanya lelaki brengsek yang tak bertanggung jawab." Ungkapan Chanyeol makin membuat Sehun dan Luhan kaget. Berani sekali pria itu!
Kyungsoo tidak merespon, wajahnya menjadi kosong seperti tengah merenungi sesuatu. Dia baru bangun tapi sudah diberi kejutan , rasanya otak ini akan berasap karena sibuk berpikir.
./././
"Pokoknya hari minggu datang ke rumah! Bawa In Soo juga."
Ibunya berteriak di telepon yang hampir membuat gendang telinga Kyungsoo hampir pecah. Sudah ia duga ibunya akan berlaku seperti itu di telepon, kalau tak diangkat takutnya jadi dosa.
"Iya, ibu sayang. Aku bakal menemani ibu seharian."
"Jangan cuma janji Do Kyung Soo!"
Ibunya pasti bersikap seperti ini karena Sehun tidak ada atau dia yang jarang pulang. Mungkin terbiasa hidup mandiri membuatnya nyaman. Kalau Luhan bilang, itu adalah satu-satunya sifat Kyungsoo yang tak berubah. Suka kesendirian tanpa ada yang berani mengusik.
Semenit kemudian hanya di isi ocehan ibunya tentang kegiatan yang akan mereka lakukan nanti dan Kyungsoo hanya mengiyakan sambil menulis di note. Ibunya adalah pengingat yang baik walau umurnya hampir menginjak kepala enam, kalau dia sampai lupa tamat riwayat.
"Bibi Do?" Minseok terkikik geli melihat ekspresi Kyungsoo sehabis ditelepon ibunya. "Kecerewetan ibumu tidak pernah pudar, ya. Bahkan dia masih menganggapku remaja baru puber kalau bertemu."
Gantian Kyungsoo yang terkikik, dia ikut mendudukan diri disamping Minseok yang sibuk menghitung jumlah pengeluaran bulan ini. "Siapa suruh punya wajah awet muda," celetuknya yang membuat Minseok mendengus. Entah kenapa wanita ini tidak menyukai orang bilang dia terlihat lebih muda dibanding usianya.
Dering ponsel Kyungsoo berbunyi kembali, dia pikir ibunya kembali menelepon sebelum membaca nama di layar. Kim Jong In tertera besar-besar yang membuat ia mengingat kembali kejadian ciuman kemarin.
"Ibumu lagi?" ada nada cemas saat Minseok bertanya, mungkin di otaknya tengah berpikir betapa umur panjang bibi Do.
"Bu-bukan... seorang teman." Jawab Kyungsoo gugup. Dia lalu menjauh dari Minseok dan mengabaikan tatapan heran sepupunya itu.
"Halo..."
Suara berat itu menguasai gendang telinganya, dan Kyungsoo tak tahu harus berbuat apa. "Halo..."
"Hai, Kyungsoo... ini aku Jongin."
"Ada perlu apa Jongin? Sepertinya tengah butuh sesuatu." Mungkin terdengar aneh, tapi Kyungsoo benar-benar tidak tahu topik pembicaraan yang berkualitas.
"Ya, aku sangat memerlukan sesuatu."
Suaranya terdengar serius yang membuat Kyungsoo sedikit was-was. "Emm... apa yang kamu perlukan? Mungkin aku bisa membantu."
"Tentu, kamu sangat membantu. Teman-temanku di kantor butuh cemilan dan aku menyarankan membeli kue di tokomu."
Mata Kyungsoo membola, dia pikir yang akan dibicarakan Jongin agak serius. "Oh, kupikir apa!" tawa terdengar yang menghasilkan semburat merah di wajahnya. "Ugh... jangan tertawa!"
"Maaf Kyungsoo, tapi kamu benar-benar lucu. Untuk kuenya aku memesan kue kering, terserah kue apapun. Dikirim sebelum jam makan siang, alamatnya kukirim lewat sms saja."
"Hanya itu?"
"Sebenarnya masih ada lagi."
"Oh, ya? Katakan saja."
"Errh... bisakah akhir pekan ini kita bertemu? Aku ingin mengajak In Soo ke taman bermain."
Ada nada penuh harap disana dan Kyungsoo tidak mengerti kenapa dia merasa kasihan. "Jika hari minggu aku tidak bisa. Kalau mengambil hari sabtu, aku cuma boleh sore." Oh, tentu dia tidak melupakan janjinya pada sang ibu.
"Baguslah! Aku akan menjemput kalian sabtu sore."
Kyungsoo terkikik karena suara Jongin yang sangat bersemangat. Lelaki itu terdengar bahagia kalau bertemu In Soo. Ah, anaknya itu penuh daya tarik. Semua orang menyayanginya walau sekarang sudah tidak balita lagi. Jongin pasti suka anak-anak, dia sampai bersemangat seperti itu.
...
New York mulai menampakkan keanggunannya pagi ini, Luhan bisa melihatnya sekarang. Angkuh dan indah menjadi daya tarik tempat ini dan ia sangat senang berkesempatan datang kemari. Dari jendela kamarnya, dia bisa melihat aktivitas orang New York yang sudah sibuk kesana kemari.
"Lu, kamu tidak ingin sarapan?" suara sepupunya menyadarkan Luhan dari keterpakuannya pada kehidupan di luar jendela. Di sana Yixing sudah berdiri sambil menyenderkan badannya di pintu kamar Luhan.
"Memang kamu masak apa?" dia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Breakfast ala New York. Memang apa yang kamu harapkan di Amerika?"
"Siapa tahu kamu tidak melupakan Asia saat disini."
Yixing memutar bola matanya. "Aku bahkan sudah tinggal di sini selama sepuluh tahun."
"Oh, ya, ku akui tentang itu. Makanlah duluan aku mau membersihkan tempat tidur dulu." Yixing memberikan jari jempol dan berlalu pergi. Selepas kepergian sepupunya, Luhan mulai sibuk mengatur tempat tidur agar rapi seperti dia datang. Kegiatannya harus berhenti sebentar saat mendengar ponselnya berbunyi. Sepertinya ada panggilan masuk.
Layar ponsel yang terletak di nakas itu menampilkan nama orang yang ia coba hindari, Do Sehun. Matanya berkedip cepat, tidak mengerti dengan situasi yang terjadi walau Luhan sudah memprekdisi tentang hal ini. Tapi dia berusaha bersikap berani, toh hanya menjawab telepon apa salahnya.
"Halo... Ada apa menelpon? Sepertinya penting." Luhan mulai pura-pura bersikap santai, sesuatu yang paling dia benci. Ini semua karena Sehun.
"Kita perlu bertemu, ada yang ingin kuberikan. Temui aku di Central Park pagi ini."
Central Park? Sehun ada di New York?
"A-apa sih maksudmu, Sehun?" Sial dia tergagap.
"Aku tahu kamu ada di New York Luhan, aku juga disini. Atau lebih baik aku yang datang ke tempatmu?"
Mulut Luhan terbuka lebar. Kenapa takdir begitu kejam padanya? Niat Luhan kemari, kan karena ingin menghindari Sehun dan kenapa malah dipertemukan di kota ini? Ugh, Luhan tidak mengerti dengan jalan hidupnya.
...
Alasan kenapa Luhan menghindari Sehun sebenarnya cukup sederhana. Dia tidak ingin jatuh cinta lagi kepada laki-laki itu. Hatinya masih sakit hati karena penolakan di masa lalu dan merasa lelah pura-pura bersikap sebagai teman saat bersama Sehun. Orang-orang berpikir dia sudah move on karena sikapnya, nyatanya Luhan masih terjebak dengan perasaan itu. Sehun berhasil membuatnya naik ke langit dengan tindakannya, walau pada akhirnya Luhan sadar sikap Sehun memang seperti itu ke setiap orang.
Luhan benar-benar menyukai Sehun sejak SMA. Pertemuan mereka diawali di rumah Kyungsoo saat mereka kerja kelompok, waktu itu ia belum dekat dengan Kyungsoo dan hanya sebatas teman sekelas di tingkat pertama. Sehun yang masih SMP mengenakan kaus putih dan celana basket meminta ijin pada Kyungsoo untuk keluar bermain basket dengan teman-temannya. Pakaiannya yang sederhana mampu membuat dia tampil begitu keren dan membuat Luhan tidak mengalihkan pandangannya.
"Itu adikmu? Ganteng sekali!" tanpa sadar Luhan memekik heboh yang membuat Kyungsoo bingung. Jadinya seharian itu dia sibuk mencari informasi tentang Sehun yang menghasilkan rencana jahat di otaknya. Memanfaatkan Kyungsoo untuk mendekati Sehun dengan menjadi teman dekat. Rupanya rencana ini diketahui Sehun.
Sebelum kelulusan, Luhan ingin mengaku pada Sehun tentang perasaannya. Ring basket beserta lapangannya menjadi saksi bisu keberanian Luhan di uji. Dia sudah memersiapkan diri jika ditolak, mengetahui bagaimana cueknya Sehun pada dirinya. Tapi pernyataannya dibalas dengan kalimat yang menusuk perasaannya.
"Aku tidak ingin berhubungan dengan orang yang memanfaatkan Kyungsoo nunna."
Tanpa ada permintaan maaf terlebih dahulu sebagai pembuka, Sehun langsung menyerangnya dengan kalimat yang begitu pedas. Mata Luhan memanas, tatapan datar yang begitu menusuk membuatnya merasa rendah. Dia ingin berteriak pada Sehun kalau itu hanyalah masa lalu, tidak bisakah lelaki itu melihat ketulusannya untuk berteman dengan Kyungsoo?
Luhan menggeleng kepalanya, mengusir bayangan masa lalu yang merangkap ingatannya. Tidak ada guna menyesalinya sekarang, hubungannya dengan Sehun hanya sebatas pertemanan. Luhan tak perlu sibuk mengasihani diri atas cinta sepihak ini.
Dihadapannya, Sehun sudah berdiri gagah dengan kaus abu-abu beserta jas di depan apartemen Yixing. Tubuhnya yang lebih tinggi dibanding Luhan membuatnya mendongak yang membuatnya menyesal karena dihujami tatapan tajam oleh Sehun.
"Temanmu oke juga," Yixing yang tiba-tiba muncul dari belakang Luhan berbicara menggunakan bahasa mandarin.
Dia mendelik kepada sepupunya yang tidak bisa bicara dengan sopan. "Dia bisa bahasa mandarin!" Luhan berdesis, memeringati Yixing yang asal bicara.
Tentu Yixing terkejut. Dia melipat mulut ke dalam dan nyengir ke Sehun yang tersenyum canggung. "Ups, sorry. And... hi Luhan's friend! I'm her cousin, Yixing."
"I am Sehun. Senang berkenalan denganmu." Mereka saling berjabat tangan, bentuk kesopanan.
"Luhan tidak pernah cerita kalau punya teman sekeren kamu. Padahal aku selalu tahu siapa saja yang dekat dengannya. Ah, iya... aku kemarin bertemu Steve, dia menanyakan keadaanmu. Lelaki itu rupanya tidak menyerah, ya. Padahal kamu sudah... auw!" menyikut perut wanita itu adalah satu-satunya cara agar Yixing diam. Dia mulai menyesal punya saudara secerewet Yixing.
"Seharusnya kamu berada di kantor Yixing. Cepatlah berangkat, nanti kamu terlambat."
Yixing menghembuskan nafas secara dramatis, "Aku di usir dari rumahku sendiri." Tapi wajahnya kembali secerah matahari kemudian. "Oke, selamat bersenang-senang, ya. Jaga rumah baik-baik sepupuku tersayang dan jangan macam-macam saat aku tidak di sini." Rasa sakit di pipi Luhan ditinggalkan Yixing begitu saja setelah ia melenggang pergi.
"Sakit, ya?"
Luhan memberengut saat Sehun terkekeh menyebalkan, dia tidak tahu betapa sakitnya cubitan Yixing. Dia masih bersyukur kalau tidak membiru.
Setelah dipersilahkan masuk oleh Luhan, Sehun bisa melihat secara langsung isi apartemen Yixing. Minimalis, khas seseorang yang tinggal sendiri. Tidak banyak penyekat yang ada disini, bahkan dapur terlihat blak-blakan di depan matanya. Hanya kamar dan kamar mandi yang menjadi ruangan. Ada balkon kecil di luar yang dimanfaatkan sebagai tempat jemuran dan pot-pot bunga hias berada.
"Mau minum apa?" Luhan berusaha bersikap sebiasa mungkin, ia tidak ingin memulai kecanggungan karena ketahuan kemari oleh cowok yang memandangnya dengan tatapan seperti itu. Rasa-rasanya Luhan ingin menusuk kedua mata Sehun karena membuatnya gugup luar biasa.
"Tidak perlu, aku kemari membawa kue dari nunna." Sehun meletakkan tas plastik berisi sekotak kue kering kesukaan Luhan di meja tamu. Luhan menggerutu pada Kyungsoo, karena menempatkannya di posisi yang tak terduga. Salahnya pula tidak pernah cerita kepadanya, jadi dia dalam posisi serba sulit.
"O-oh, kue, ya? Padahal dia tidak usah merepotkanmu."
Dan membawamu ke tempatku.
Sehun tidak merespon, dia menatap Luhan dengan tatapan yang sulit ia artikan. Mata Sehun seakan menembus tubuhnya yang membuat dia mengkaku. "A-apa?" sial, dia semakin gugup saja.
"Serius Luhan, kenapa tidak bilang padaku kalau ke New York?" Sehun.
Ugh, tatapan mengerikan itu lagi. "Untuk apa mengatakan padamu? Toh, aku juga pasti pulang."
Sehun menggeram pelan, seperti tidak terima dengan pernyataan wanita itu. "Tapi Kyungsoo nunna tahu."
"Karena Kyungsoo temanku."
"Lalu kamu anggap apa aku?"
Ada sengatan listrik yang menyerang tubuh Luhan. Ia terkejut dengan pertanyaan dadakan yang lelaki itu sampaikan dan bahkan tidak menyangka pertanyaan semacam itu muncul di permukaan diantara mereka. Tapi memang, hubungan semacam apa yang ia jalani dengan Sehun. Mereka berteman, tentu. Tapi rasanya sulit sekali bilang kalimat sesederhana itu. Karena Luhan tahu Sehun menginginkan lebih.
Dia tidak buta, Luhan sangat-sangatlah peka Sehun menyukainya. Lelaki itu akan bertindak posesif kalau dia mulai berdekatan dengan pria lain. Sehun juga akan menjaganya, memastikan Luhan aman sampai rumah. Mereka sering berkencan, menghabiskan waktu berdua layaknya pasangan kekasih. Tapi Sehun tidak pernah berani bilang. Oh, tentu, dia masih ingat dosanya di masa lalu. Membuat Luhan malu sampai menangis karena mulut tajamnya.
"Menurutmu... hubungan seperti apa yang kita tengah jalani sekarang?" suara Luhan memelan, dia tidak tahu jawaban yang pasti. Karena alasan inilah dia tidak ingin lagi berhubungan dengan Sehun, bahkan dia berencana akan pindah ke New York kalau sudah dapat investor. Tujuannya sekarang adalah mengembangkan bisnis dan membuat brandnya terkenal, bukan saatnya cinta-cintaan.
Sehun menatap Luhan sendu. Dia ingin mengirimkan maksudnya dari mata, tapi Luhan terus menunduk untuk menjauhi menatapnya. "Aku ingin egois Luhan. Bisakah?"
Mata Luhan berkedip dengan cepat, ia langsung mengangkat kepalanya dan bertubrukan langsung dengan mata tajam itu. Mulutnya menganga karena keberanian Sehun. Dia tidak mengerti kenapa, tapi rasanya Luhan ingin menjotos Sehun dengan keras sambil berteriak 'Dasar tidak tahu malu!', tapi nyatanya dia tetap duduk diam di tempatnya dan terpaku begitu saja.
Ugh, jangan menatapku seperti itu.
...
Ada sejumput keberanian dari Chanyeol setelah dia menghindari Kyungsoo. Sialan dengan Luhan karena berhasil mengingatkan Chanyeol akan dosanya di masa lalu. Akhirnya rasa bersalah itu muncul kembali yang membuatnya tidak berani berhadapan dengan Kyungsoo. Tapi hari ini dia memutuskan untuk datang ke apartemen wanita itu di sabtu siang.
Kyungsoo menyambutnya dengan senyum bahagia. Kecerewatan wanita itu muncul karena si jangkung sudah tidak pernah terlihat lagi. Chanyeol beralasan jika dia sibuk sampai tidak bisa datang kemari.
Pertemuan di hari sabtu itu menyadarkan dia tentang kerinduannya pada Kyungsoo. Senyum cerah sang wanita, matanya yang bulat nan jernih, maupun bibir merah muda berbentuk hati itu. Tapi di sisi lain, rasa bersalahnya muncul di permukaan setelah melihat In Soo yang baru keluar dari kamarnya.
"Hai paman Chanyeol!"
Anak Kim Jong In, hasil dari mulut bejatnya.
"Hai In Soo! Wah, kekasih paman sudah rapi, cantik lagi. Memang mau kemana?" Chanyeol merendahkan tubuhnya, agar In Soo tak perlu mendongak. Terlihat sangat jelas sekali jika anak kecil itu anak Kyungsoo karena kemiripannya, tapi ada wajah Jongin disana. Dia tidak menampiknya sama sekali.
"Mau jalan-jalan sama papa!" In Soo bersemangat sekali saat mengatakannya, seakan dia sudah menantikannya. Wajah Chanyeol langsung berubah masam, siapa 'papa' yang dimaksud In Soo.
"Kalian mau pergi dengan siapa?" Chanyeol langsung memborbardir Kyungsoo dengan pertanyaan setelah wanita itu keluar dari dapur.
"Kamu tahu darimana kalau kita..." pandangan Kyungsoo jatuh ke In Soo yang terlihat bingung, dia heran kenapa paman kesayangannya marah. "In Soo masuk kamar mandi dulu, sikat gigi yang benar."
Si kecil terkejut dan menggerutu, "Kenapa mama tahu, sih, In Soo belum sikat gigi." Dia berlari masuk ke kamar mandi, meninggalkan ibu dan pamannya di ruang tamu.
"Siapa orang yang dipanggil 'papa' itu? Sepertinya aku ketinggalan banyak." Ada nada menuntut di perkataan Chanyeol. Dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya prihal masalah ini.
Sebenarnya Kyungsoo tidak ingin terbuka, mengingat Chanyeol yang tidak suka Jongin. Tapi keterdiamannya ini tidak akan membuat lelaki itu puas. "Kim Jongin. Rupanya laki-laki yang diimpikan In Soo dia. Saat pertama kali bertemu, In Soo sudah memanggilnya papa." Kyungsoo bersikap santai saat bercerita tanpa memedulikan raut tegang di wajah lelaki dihadapannya.
"Bukannya aku sudah bilang..."
"Dia tidak seburuk itu Chanyeol! In Soo menyukainya, dan selama ini dia tidak menunjukan prilaku buruk."
"Kamu hanya tidak tahu siapa Kim Jongin sebenarnya!" kemarahan memuncak di kepala Chanyeol dan tumpah ruah begitu saja.
"Kalau begitu... jelaskan padaku tentang siapa Kim Jongin!" terlalu banyak rahasia di sini dan Kyungsoo muak dengan sikap Chanyeol yang menutup-nutupi.
Terdiam, Chanyeol tidak bisa berkata-kata atau lebih tepatnya tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Bimbang antara mengungkapkannya atau tetap diam. Tapi bukankah lebih baik dia bilang yang sebenarnya agar tidak jadi serumit ini. Benar, itu keputusan yang bagus. Membuka kedok Kim Jongin kepada Kyungsoo dan membuat keduanya menjauh.
"Jelaskan kepadaku, sejelas-jelasnya tanpa kekurangan satupun!"
Chanyeol menelan ludah, dilema masih memenuhi kepala walaupun dia sudah mengambil keputusan. Apapun resikonya, inilah yang terbaik. "Kim Jongin itu sebenarnya..."
Ayah kandung In Soo, seseorang yang membuatku iri setengah mati karena memiliki hatimu.
TBC
Hai KaiSoo Shipper! Selamat karena Kai udah jomblo lagi heheh...
Terlepas dari itu semua, hei i'm back! cerita ini sebenarnya sudah rampung dari akhir mei kemarin, kurang editing. tapi nyatanya aku terlalu malas membuka laptop.
masa lalu HunHan sudah terbuka, kurang Kyungsoo tahu soal Jongin nih. aku berharap hanya sampai 10 chapter cerita ini langsung END (semoga sih).
semoga kalian merasa terhibur dengan chapter baru ini dan memberikan review. terimakasih telah berkunjung!
