"Trouble Makers"

by: lavenderviolletta

Naruto by : Masashi Kishimoto

[Hinata H. x Sasuke U. ]

Romance,Hurt,comfor,

.

.

.

WARNING

(OOC, Miss TYPO)

.

.

Happy Reading

.

.

Hinata menghentikan isak tangisnya saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang, dengan cepat ia berjalan mendekati jendela, takut jika Sasori kembali, namun irish lavendernya menangkap seeorang pria berambut raven yang tengah mencari seseorang.

"Sasuke." lirihnya.

tak ingin kondisi nya di ketahui Sasuka saat ini, Hinata menutup kembali pintu gudang yang sebelumnya terbuka, takut jika Sasuke menemukannya.

"tap.. tap.. tap.."

"kami-sama, jangan biarkan dia menemukanku." lirih Hinata dalam hati.

Sasuke mengamati keadaan sekeliling, langkahnya terhenti tepat di depan pintu gudang yang tertutup rapat, tangannya perlahan menyentuh knop pintu berdaun dua itu, bermaksud membukanya.

"apa yang kau lakukan Uchiha Sasuke?"

Sasuke menghentikan tangannya ketika ia mendengar suara Kakashi memanggilnya.

"bukankah sekarang pelajaranku? untuk apa kau masih disana?"

Sasuke berbalik, ia menatap Kakashi yang juga menatapnya.

"ganti pakaianmu dan segera masuk kelas."

Sasuke melirik pintu itu kembali, "mungkin Hinata sudah di kelas pikirnya."

menuruti keinginan Kakashi ia kemudian meninggalkan tempat itu dan pergi menuju lokernya untuk mengganti pakaian olahraganya dengan seragam.

"Arigatou Sensei." Hinata menghapus tetesan air matanya, ia merapihkan pakaiannya dan kembali memasuki kelas. "aku harus sudah ada di kelas sebelum Sasuke kembali ucapnya lagi."

.

..

.

Hinata tersenyum manis saat Sasuke kini duduk di sampingnya.

"dari mana saja? kau tau aku mencarimu?" tanya Sasuke cemas.

Hinata kembali tersenyum mendengar sederatan pertanyaan dari Sasuke yang sudah ia prediksi sebelumnya.

"Gomene Sasuke-kun, aku sedikit pusing dan mengistirahatkannya di ruang kesehatan."

Sasuke menautkan alisnya, curiga. "benarkah?"

"hm"

Hinata menganggukan kepalanya.

"aku mencarimu kesana, tapi kau tidak ada."

"mungkin aku sedang di toilet."

"..."

"sudahlah, aku baik-baik saja Sasuke."

"kau kenapa? tanya nya lagi sambil memegangi leher Hinata yang di tempel plester dan perban."

"eh?"

"kau luka?"

"serangga beracun menyerangku ketika aku di toilet, tapi tenang saja, tim medis telah membantuku untuk mengeluarkan racunnya."

"lain kali, jangan membuatku cemas lagi."

"eh?"

"kau harus memberitahuku jika kau akan pergi, jangan membuatku bingung mencarimu."

Hinata kembali tersenyum, "Hai wakarimasta Uchiha-san."

Sasuke tersenyum tipis, ia mengacak puncak rambut Hinata lembut.

.

..

.

Sasori mendecih kesal ketika ia mendengar pembicaraan Hinata dan Sasuke.

"kau pandai berakting Hime."

Gaara melirik sepupunya, Sasori melepaskan benda kecil yang melingkar di telinganya, semacam alat pendengar suara.

"apa yang kau dengar?"

"dia mencoba menutupinya dari Sasuke."

"bukankah itu jadi semakin mudah untukmu?"

"kau benar, dia takut Sasuke mengetahuinya, dan ini membuatku semangat untuk terus mengancamnya."

"tak sia-sia memasang penyadap suara di bawah mejanya."

Sasori terkekeh.

"kau begitu bersikeras menginginkannya eh?"

"dia miliku, apa salah jika aku merebut kembali apa yang seharusnya jadi miliku?"

Gaara mendecih, "dia angel, tapi kenapa yang menginginkannya selalu devil?"

Sasori melirik Gaara, ia terkekeh.

"Sasuke, dia jauh lebih evil daripada kau sebelumnya, tapi wanita itu mengubahnya."

Sasori kembali terkekeh.

"dan jika kau mendapatkannya kembali, apa kau akan menjadi angel sepertinya?"

Sasori berdiri dari tempat duduknya, ia menggelembungkan permen karet nya dan menghancurkannya kembali.

"mungkin saja."

Gaara mendecih sebal, "sudah kuduga." ucapnya

"dan jika dia kembali bersamaku, Sasuke akan kembali menjadi evil dan dia bisa menjadi rekanmu kembali kan?"

Gaara tertawa evil, "baka !"

"bukankah kau hanya ingin berteman dengan seseorang y ang berjiwa evil eh?"

Gaara terkekeh, Sasori menyeringai.

"kau pantas bersama Shion."

Gaara kembali berdecih, "sorry boy, she's not my type."

Sasori tertawa mentah, mengingatkan akan dirinya yang dulu pernah mengatakan hal yang sama.

.

..

.

"Arigatou Sasuke"

"aku ada rapat bersama Itachi, sepertinya akan pulang larut."

Hinata mengenggukan kepalanya

"kau di rumah saja, jangan kemana-mana."

Hinata tertawa geli

"..."

"aku bukan anak kecil Sasuke."

"aku tau, tapi firasatku selalu buruk jika membiarkanmu sendiri."

"sore ini aku akan ke toko buku, letaknya hanya beberapa rumah dari rumahku Sasuke."

"jangan pergi sendiri, kau bisa mengajak Neji atau Hanabi bersamamu kan?"

Hinata kembali tertawa

"Neji-nii pulang larut, Hanabi ada pelatihan judo sampai malam juga."

"kalau begitu ajaklah Sakura,Ino,Sai atau temanmu yang lainnya."

"Sakura dia ada kencan bersama Naruto sore ini, sedangkan Ino dia menemani Sai mengurusi beberapa proyek kerjasama toko bunga nya dan Galeri milik Sai."

"..."

Sasuke menghentikan langkah Hinata ketika Hinata keluar dari mobilnya

"kalau begitu jangan membawa mobil sendiri, kau harus mengajak supir atau maid bersamamu."

Hinata tersenyum, Sasuke kemudian mendekatkan dirinya dan mencium kening Hinata lembut.

"ananta aishite Hime"

.

.

..

.

"kesempatan itu datang lagi."

"hm?"

"dia sore ini akan keluar sendirian, bukankah itu kesempatan."

"lalu apa yang akan kau lakukan? memaksanya lagi?"

"aku ingin menjadikan dia miliku sore ini."

Gaara terkekeh, "percaya diri sekali."

"TIDAK AKAN ! aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu !"

Sasori dan Gaara melirik kebelakang ketika mendapati suara teriakan seseorang

"Ayame?" Gaara menautkan alisnya heran

"apa masalahmu?" tanya Sasori datar.

"aku tidak sudi kau bersama dengan nya, dia itu musuhku Saso-nii"

Sasori mendecih, "berteman saja kalau begitu, simple kan?"

Gaara terkekeh mendengar jawaban Sasori

"Sepertinya dia sangat menginginkan kau bersama Shion."

Gaara menimpali, membuat Sasori kembali berdecih kesal

"jika aku tidak mau, kau bisa apa eh?"

Ayame mengeluarkan alat perekam suaranya, ia kemudian menekan tombol play, memutar isi rekaman yang merupakan pembicaraan antara Sasori dan Gaara tempo hari.

"sudah cukup kah?"

Ayame mematikan rekamannya, "ku rasa kalian akan mengerti inginku saudara twince red ku" Ayame menyeringai, ia memasukan kembali rekamannya ke dalam tas nya dan menutup tas nya rapat.

"aku bisa saja memberikan ini pada Sasuke, dan habislah kalian."

Sasori berdecih kesal. "berhenti Ayame"

Ayame menghentikan langkahnya ketika ia hendak meninggalkan ruangan itu, ia berbalik, matanya membulat ketika mendapati Gaara dan juga Sasori berada di kanan kirinya.

"a- apa yang akan kalian lakukan?"

"berani sekali, mengancamku eh?"

"..."

"jangan karena kau pikir kau adalah saudara sepupuku, kita tak bisa kasar terhadapmu eh?"

"aarrggggg...!" Ayame mengerang kesakitan ketika Sasori mencengkram tangannya dan membanting tubuhnya kasar hingga ia tersungkur.

Gaara mengambil tas Ayame paksa dan menumpahkan semua isinya, ia mengambil rekaman itu dan menghancurkannya tepat di depan Ayame.

"senjatamu hancur." timpal Gaara sambil terus menginjaknya.

Ayame menyeringai, ia tertawa sinis. membuat Sasori dan Gaara terdiam.

"BAKA !" ucapnya.

"..."

"..."

"kalian pikir aku bodoh hah? aku telah mengcopy rekaman itu bahkan sampai puluhan." Ayame kembali terkekeh, membuat Sasori menatapnya murka.

"brengsek !"

"plaaakkk !" Sasori menampar Ayame kasar, membuat Ayame harus meneteskan darah di sudut bibirnya.

Ayame berdiri, "tampar saja sesukamu eh? jika kau ingin bunuh, bunuh saja !"

ucapnya lagi.

"kau Gila !" Sasori mengacak rambutnya prustasi.

"kau harusnya berada di pihak kita Ayame, kenapa kau membela Sasuke?!" Gaara tetap bersikap dingin.

"karena aku tidak mau Sasori-nii bersama Hinata, aku tidak mau wanita itu menjadi bagian dari keluarga kita."

"jadi apa yang kau inginkan?"

"aku ingin Sasori-nii bersama Shion-chan, dan aku akan membakar semua rekamannya."

"heii ! kau gila hah? aku hanya mencintai Hinata, dan kau ingin aku bersama wanita itu hah ? !"

"terserah kau, jika kau tak ingin rekaman itu tersebar, aku ingin kau bersama Shion."

"turuti saja keinginannya untuk saat ini Sasori."

"Aaaarrrrggghhhhhh !" Sasori berteriak prustasi.

Ayame menuliskan sebuah alamat restoran di secarik kertas dan memberikannya pada Gaara.

"aku telah atur jadwal kencanmu bersama Shion-chan sore ini, jangan terlambat !"

"apa?" Sasori kesal

"sore ini?" Gaara meyakinkan.

"itu terserah kau Saso-nii, jika tak ingin rekaman itu menyebar, datanglah, buat Shion-chan senang malam ini."

"Kauuu..." Geram Sasori.

"Sasori akan datang, aku pastikan."

Sasori menatap Gaara heran, membuatnya kembali menjambak rambut merahnya.

"kalian brengsek !"

Ayame tersenyum sinis sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Gaara dan Sasori.

.

"kau tau sore ini aku akan menemui Hinata? lalu kenapa kau menyetujuinya hah?" bentak Sasori.

"tenangkan pikiranmu, tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini."

"AAarrrgggghhhh... Praankkkk !" Sasori melempar gelas kristal yang ada di meja kesal.

"lalu? aku harus menjadi budak Ayame dan Shion eh?"

"kita butuh sebuah trik untuk menghadapi wanita-wanita seperti itu."

"apa maksudmu Gaara?"

"untuk sementara kita ikuti saja keinginan mereka dan menunggu sampai dimana mereka lengah dan kita yang berbalik menyerang."

.

..

.

"kau akan menjadi miliku Sasori."

Shion menyeringai sambil memasukan serbuk putih ke dalam minuman Sasori, ia mengaduknya dan menaruhnya kembali di meja.

Sasori kembali dari kamar mandi, ia terlihat sangat bosan kencan bersama wanita yang ada di hadapannya saat ini, tak memperdulikan Shion, Sasori malah asik dengan ponsel yang kini ada di tangannya.

"Sasori-kun, pesanannya sudah datang, kenapa tidak di minum?"

Sasori melihat wine yang kini ada di atas mejanya, ia melihat Shion yang tengah mengangkat gelas nya, mengajaknya minum.

"cheers" ujar Shion sambil mengangkat gelasnya dan meminumnya perlahan, tak menjawab Sasori hanya meneguk wine nya hingga setengahnya dan menaruhnya kembali.

Shion tersenyum evil ketika Sasori mulai merasakan pusing di kepalanya, perlahan Shion mendekati Sasori, memeluk pundaknya.

"kenapa Sasori-kun?"

"..." Sasori hanya menunduk, tak menjawab pertanyaan Shion.

"kau sakit? " tanya nya lagi.

Sasori perlahan mengankat kepalanya, pandangannya kabur, ia tidak dapat melihat wajah Shion dengan jelas.

"hmm.. bagaimana jika kita ke bartander? kau suka dance floor?"

"terserah kau saja."

Shion menyeringai, Sasori berdiri, ia menarik nafas dalam, mencoba menutupi rasa pusingnya. mungkin alkohol yang di minumnya terlalu keras pikirnya, ia merogoh saku celana jins nya dan mengambil bubble mint, Shion tersenyum tipis melihat Sasori mengunyah permen karetnya.

"Sasori-kun, boleh aku bertanya sesuatu?"

"katakan saja."

"kenapa kau sangat menyukai sekali permen karet?"

Sasori menghentikan langkahnya, ia memandang Shion sambil terus mangunyah permen karetnya.

"karena permen karet berbeda dari permen-permen lainnya, ia bisa di permainkan,dan di hancurkan sesuka hati, bahkan jika rasanya sudah tak manis lagi dan bosan mengunyahnya tinggal membuang nya seperti sampah sama halnya dengan wanita."

"waw.."

Sasori menyeringai, Shion tersenyum hambar.

"ku dengar kau menyukaiku."

Shion terkekeh, "memang benar, aku sangat menyukaimu Sasori-kun."

Shion melingkarkan tangannya pada tangan Sasori dan membenamkan kepalanya disana.

"jika benar, jangan salahkan aku jika aku memperlakukanmu layaknya aku mempermainkanmu seperti permen karet."

Shion terkekeh lagi, "aku tidak peduli, aku akan menjadi permen karet yang tak bisa kau buang."

Sasori mendecih, keduanya terus memasuki area bartender, gemerlap lampu disko yang berwarna warni dan bekerlap-kerlip menyilaukan mata, DJ terus memainkan musik disko nya, memeriahkan suasana, Shion mengajak Sasori turun ke dance floor, Sasori merasakan kepalanya semakin berat, namun hal ini membuatnya semakin asik menari bersama Shion, Shion mulai berani bersikap agresif, ia memeluk Sasori dan menciumi lehernya, Sasori yang terbawa suasana merespon setiap sentuhan Shion, mereka akhirnya berpagutan mesra di area dance floor.

.

.

..

Shion membopong Sasori yang telah benar-benar mabuk, Shion chek-in di sebuah hotel tak jauh dari tempat makan malamnya bersama Sasori, ia membaringkan Sasori diatas kasur king size dan menyelimutinya, Sasori terus mengigau tidak karuan, Shion hanya menyeringai melihat keadaan Sasori sekarang, ia membuka sepatu Sasori dan menaruhnya di lantai, udara panas malam ini membuat Shion ingin membersihkan tubuhnya, namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba tangan Sasori menariknya hingga dirinya jatuh diatas tubuh Sasori.

"jangan pergi Hime."

Shion tersipu atas sanjungan Sasori, dia tersanjung karena Sasori memanggilnya Hime.

"aku disini Saso-kun." Balasnya sambil mencium bibir Sasori lembut.

"rambutmu,matamu,bibirmu,wajahmu semuanya indah Hime."

Shion kembali tersenyum senang, ia melumat bibir Sasori dan di balas juga oleh Sasori hingga keduanya saling berpagutan.

"malam ini kau miliku Hime."

"yah sayang, aku milikmu selamanya." Balasnya lagi.

"aku sangat mencintaimu Hime,tapi kenapa kau bersama si brengsek Sasuke? Kau tau aku jauh-jauh mengejarmu ke jepang hanya untuk membawamu kembali ke belanda bersamaku."

Shion membulatkan matanya kaget, tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Sasori.

"jadi kau mencintai Hinata hah?"

"aku mencintaimu, sangat mencintaimu Hinata hime." Sasori menciium Shion kembali, kesal karena bukan dirinya yang sedari tadi di puji Sasori, Shion berdiri dan mendorong tubuh Sasori kasar.

"dia.. selalu merebut apa yang ku inginkan." Geram Shion dalam hati.

Langkah Shion terhenti kembali ketika Sasori memeluknya dari belakang dan menjjatuhkannya pada kasur elastis itu.

"lepaskan aku Sasori."

"tidak Hime ! mungkin tadi siang kau bisa lolos dariku, tapi malam ini aku akan menjadikamu miliku seutuhnya."

"plaakkk... !"

"aku Shion, bukan Hinata brengsek !"

"tch."

"..."

Sasori mendecih, mendapat tamparan kasar dari tangan Shion.

"jangan kau sebut nama wanita itu di hadapanku Hime, aku tak sudi mendengarnya."

"apa?"

"kau tau, aku sore ini bberkencan dengannya karena Ayame memaksaku akan memberikan rekaman itu pada Sasuke, dan kau tau? Berada di samping wanita itu membuatku muak."

Shion berdecih kesal, "dan kau menciumi wanita itu sedari tadi baka !."

"kau mabuk Hime, aku hanya menciumu aku tak ingin menyentuh wanita lain, aku hanya ingin kau."

"jangan Saso,-"

Kata-kata Shion terpotong ketika Sasori mengunci mulutnya dengan ciumannya, Sasori benar-benar mengira bahwa wanita yang tengah bersamanya malam ini adalah Hinata.

..

.

.

Silau mentari membuat Sasori membuka matanya, ia menggeliat, perlahan ia bangun dari tempat tidurnya, namun betapa kagetnya ia saat menyadari bahwa tubuhnya kini tak berpakaian sedikitpun, ia melirik ke samping dan mendapatkan Shion yang juga tertidur pulas tanpa pakaian bersamanya.

"tch.. apa yang ku lakukan bersamanya." Gerutunya, ia menjambak rambutnya kesal.

Shion perlahan terbangun, ia menatap Sasori yang kini menundukan kepalanya.

"ohayou Sasori-kun."

"apa yang kau lakukan padaku semalam Shion?"

Shion terkekeh mendengar pertanyaan Sasori yang menurutnya bodoh, "kau yang memaksaku Sasori, dan kau harus bertanggung jawab."

Sasori mendecih, ia memunguti baju nya yang berserakan di lantai.

..

.

.

Sasori membanting pintu kelas kasar saat memasuki kelasnya, ia menggebrak mejanya, tatapannya tajam menatap Gaara.

"are you okey?" tanya Gaara.

"aku di jebak oleh wanita sialan itu."

"..."

"aku, tidur bersamanya Gaara."

Gaara terkekeh, membuat Sasori mencengkram kerah kemejanya.

"kau pikir ini lucu hah?"

"selamat, kau akan menjadi ayah." Goda nya kembali.

"brengsek !"

Sasori menghempaskan tubuh Gaara kasar, "apa yang harus aku lakukan sekarang Gaara."

"segera jalankan aksimu, untuk saat ini kau tak punya banyak waktu, dan bawa Hinata pulang bersamamu."

.

..

.

"kyaaaa..." Hinata berteriak Histeris saat Sasori menariknya ketika ia tengah berkaca di toilet wanita.

"Sasori-kun?"

"Hinata, kau harus ikut kembali ke belanda bersamaku."

"apa?"

"kita akan menikah disana, aku akan bertanggung jawab atas apa yang ku lakukan padamu, juga untuk menjadi ayah dari bayi ini." Ujar Sasori sambil menelus perut Hinata lembut, namun dengan cepat Hinata menangkis tangannya kasar.

"aku tidak hamil, kau Gila Sasori !"

Sasori kembali menarik Hinata saat Hinata akan meninggalkannya.

"bagaimana jika Sasuke tau bahwa kauu sudah tak suci lagi, apa dia masih akan peduli terhadapmu eh? Dan jika aku ke belanda dalam waktu dekat ini? Dan ternyata kau mengandung anaku? Apa yang akan kau lakukan eh?"

Hinata terdiam, dia kembali melangkahkan kakinya.

"aku tidak ingat apapun kejadian malam itu, dan aku tidak merasakan sakit, aku pikir aku masih suci karena aku tidak merasa melakukannya bersamamu Sasori."

Hinata pergi meninggalkan Sasori sendirian, kembali Sasori mengejar Hinata, ia menarik kembali tangan Hinata dan menghempaskan tubuhnya pada dinding sekolah, kedua tangannya mengunci pergerakan Hinata.

"kenapa kau begitu keras kepala eh? Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?"

"..."

Sasori mengambil dagu Hinata, menginginkan lavender itu menatapnya.

"Jawab aku Hinata !"

"aku tidak mencintaimu Sasori, tidak ada lagi perasaanku padamu sejak kejadian 2 tahun lalu."

Sasori berdecih, "kau malu mempunyai kekasih seorang mafia eh?"

"..."

"aku telah berhenti dari organisasi itu Hinata, dan yang aku inginkan hanyalah bersamamu."

"Gomene Saso-kun, tapi aku mencintai Sasuke."

"buuugghhhh.. !"

Sasori memukul kasar dinding tepat di samping wajah Hinata, kesal karena Hinata mengatakan hal yang sama sekali tak ingin di dengarnya.

"kau tidak bisa pergi sebelum urusan ini selesai."

"apa lagi? Bukankah semuanya sudah jelas?"

"jangan sampai aku memaksamu dengan kasar Hime."

"eh? Saso umhh..."

Sasori mencium Hinata paksa, kedua tangannya merobek baju seragam Hinata sehingga memperlihatkan kulit Hinata yang mulus, ia terus menggerayangi tubuh Hinata dan terus menciumnya paksa.

"jangan Saso,- mmhhh.."

Hinata terisak, air matanya mengalir di pipinya, sementara Sasori terus melakukan aksinya tidak memperdulikan Hinata yang kini tengah menangis.

"buuugghhhhh...!" Sasuke menarik kasar tubuh Sasori dari Hinata dan memukul wajanya kasar.

"brengsek ! apa yang kau lakukan padanya hah ? !"

Sasuke terus memukuli Sasori kasar, murka karena melihat Sasori mencumbu kekasihnya.

Hinata meringis, ia menutupi bagian tubuhnya yang sobek dengan kedua tangannya.

"apa salah? Jika aku mencumbu wanitaku sendiri eh?"

Sasuke semakin murka mendengar perkataan Sasori, ia mencengkram kerah Sasori kasar.

"apa maksudmu hah?"

"tanya sendiri saja padanya, aku heran, kenapa dia menangis, yang padahal kita pernah melakukan lebih dari itu tanpa memakai satu helai pakaianpun." Sasori menyeringai penuh kemenangan membuat Sasuke murka. Sasuke terus memukuli Sasori kasar hingga darah segar bercucuran.

"berhenti Sasuke."

Sasuke menghentikan pukulannya, ia mmelirik Hinata yang tengah menangis menatapnya.

"kau hanya akan membunuhnya, baka !." ujar Hinata kembali sambil menghapus air matanya.

Sasuke melepaskan tangannya dari kerah baju Sasori, ia mendekati Hinata perlahan, tangannya merangkul Hinata bermaksud untuk menggendongnya. Namun Hinata menepis tangan Sasuke.

"jangan menyentuhku Sasuke."

"..."

"aku, aku terlalu kotor untuk kau lindungi."

Hinata terisak, ia perlahan berdiri dan berjalan meninggalkan Sasuke.

"jangan mengikutiku lagi Sasuke." Sasuke menghentikan langkahnya.

Hinata berbalik menatap Sasuke,

"mulai hari ini, aku bukanlah siapamu."

"apa maksudmu Hinata?"

Tak menghiraukan pertanyaan Sasuke Hinata terus melangkahkan kakinya

"Hinata?"

"..."

"berhenti"

"..."

"BERHENTI HINATAA !"

Hinata menghentikan langkahnya, Hinata mentap Sasuke sendu, "Gomene Sasuke."

.

..

.

.

TBC

Arigatougozaimas Mina-san untuk review nya, jangan lupa untuk baca fict baru saya yang judulnya "The World Exchanges" ..