Title: Still

By: thie-yuek강희

Cast:

Luhan as Tan Luhan (namja)

Sehun as Oh Sehun (yeoja)

Disclaimer:

Mian kalau ada yang ngerasa ceritanya sama, aku cuma mengeluarkan ide yang terbersit di kepalaku. Para tokoh saling memiliki.

Summary:

"Kemarilah."~Luhan/ "Apa salahku padamu, sialan?"~Sehun/GS/AU/DLDR

~Happy Reading~

*#*#*#*#*#*

Luhan terpekur di sudut kamar, melihat Sehun yang belum sadar sedari ia menemukan gadis itu.

"Dia hanya pingsan setelah mengalami sesak napas dan kejang begitu lama, beruntung tidak sempat mengancam nyawanya. Emosinya harus terjaga jika kau mau dia bertahan."

"Maksud anda?"

"Aku bukan ahlinya, tapi bisa kukatakan ini berbahaya. Dia akan kejang dan sesak napas ketika sangat tertekan."

Dokter Nam menghela napas.

"Dan jika rentang waktunya terlalu lama maka nyawanya bisa terancam."

Luhan mengacak rambutnya gusar, melihat tubuh ringkih Sehun yang terbaring di atas ranjang. Ia terkejut ketika mendengar suara sesak napas seseorang di samping tempatnya sex dengan Heera. Ia tak menyadari ada seseorang yang beristirahat di samping mereka karena ia terlalu dibutakan nafsu. Dan jantungnya seakan runtuh ketika yang didapatinya adalah Sehun yang terlihat seperti meregang nyawa dan kemudian pingsan.

"Kenapa tidurmu begitu lelap, Hunna." Bisik Luhan, mengusap rambut Sehun yang begitu halus. Ia menyukai ketika helaian lembut itu berada dalam sentuhan jarinya.

"Apa yang membuatmu begitu tertekan sehingga kau seperti ini?"

"…"

"Kenapa kau tetap saja cantik bahkan ketika seringkih ini?"

"…"

Luhan mengecup punggung tangan Sehun, menciuminya begitu lama. Ia juga mengecup setiap inci wajah pucat Sehun.

"Aku tak tahu kenapa, tapi hatiku begitu hancur melihatmu seperti tadi." bisik Luhan. "Sadarlah, Oh Sehun."

Sepertinya harapan Luhan terwujud, karena ada pergerakan dari Sehun. Luhan menegakkan tubuhnya, menunggu Sehun yang membiasakan pandangannya.

"A,...ku,…"

"Syukurlah kau sadar." Luhan terus mengecup punggung tangan Sehun.

"Lu,…Han?"

"Ini aku." Luhan tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa ada yang sakit?"

Sehun menepis tangannya, membuat Luhan sangat terkejut.

"Hun?"

"Aku dimana?" Entah kenapa Luhan merasa nada bicara Sehun begitu dingin, bukan seperti Oh Sehun yang ia kenal. Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis pucat itu?

"Kau,…"

"Aku ingin pulang." Potong Sehun. Gadis itu bangkit dari ranjang, tak memperdulikan Luhan yang berusaha menahannya.

"Dokter bilang kau harus istirahat dulu, Hun." Luhan berhasil membuat Sehun kembali duduk ranjang. "Aku akan meminta Mama untuk menelepon Appa-mu kalau kau menginap di sini."

"Aku tak ingin melihat wajahmu, bangsat." Ujar Sehun dingin, membuat Luhan semakin terkejut.

"Hun?"

"Kenapa? Kamu kira aku nggak tahu apa yang kamu lakukan dengan Heera?" Sehun memberanikan dirinya untuk menatap Luhan. "Lepaskan aku, kau menjijikkan Tan Luhan. Aku tak ingin berlama – lama denganmu setelah melihat kelakuanmu."

"Sebenarnya apa masalahmu?" Luhan menyadari apa yang dimaksud oleh Sehun. "Bukankah kita juga pernah melakukannya?" Ujar Luhan jengkel. Sehun berusaha melepaskan pegangan Luhan yang mengerat.

"Lepaskan aku, Tan Luhan!"

"Tidak sebelum kau menjelaskan padaku!" bentak pemuda itu. "Kau marah kepadaku sejak liburan musim panas dan aku tak tahu apa yang membuatmu marah. Setidaknya beri aku alasan logis."

Sehun berusaha untuk melepaskan dirinya dari kungkungan Luhan, namun ia tetap saja tak mampu melawan pemuda kurus itu. Luhan menahan Sehun semakin erat.

"Lepaskan aku, Tan Luhan." Ujar Sehun lirih. "Aku mohon."

"Tak bisakah kau beristirahat dan tidak melawanku? Aku tak ingin melihatmu ringkih seperti ini."

"Aku nggak mau bertemu denganmu, aku nggak mau melihat wajahmu." Bisik Sehun lirih. "Tidak setelah aku melihatmu bercinta dengan Heera."

"Kami tidak bercinta, Hun." Kilah Luhan. "Karena aku tidak mencintainya."

Sehun merasa lega sesaat, namun ia tak ingin Luhan bisa melihat kelegaannya tersebut.

"Tentu saja, kamu rusa mesum." Ujar Sehun. "Hanya tau cara memuaskan kemaluanmu saja."

"Oh Sehun,"

"Aku benar kan?" Tantang Sehun. "Kamu hanya ingin memuaskan nafsumu tak peduli siapapun yang tersakiti karena ulahmu itu. Aku muak melihat wajahmu itu, jadi biarkan aku pulang."

Sehun mulai terisak. Airmatanya mengalir deras, membuat Luhan kelabakan. Pemuda itu menarik Sehun ke dalam pelukannya dan mengusap pipi Sehun.

"Jangan menangis lagi." Ujar Luhan. "Kau bisa mati, Sehun."

'Lalu kenapa jika aku mati? Tak ada hubungannya denganmu kan? Toh aku bukan siapapun untukmu."

"Aku cemas dan peduli padamu, Oh Sehun!" Bentak Luhan, membuat Sehun terkejut. "Jantungku seakan runtuh ketika melihatmu seperti meregang nyawa. Tulang – tulangku seakan lepas melihatmu terbaring ringkih, darahku seakan berhenti mengalir melihatmu semakin kurus dan tirus."

"Aku lebih sakit melihat kamu peduli seperti ini!" Teriak sehun pelan, karena tenaganya benar – benar sudah habis. "Aku tak ingin berharap terlalu banyak darimu, karena aku tahu aku takkan pernah ada dalam hatimu."

"Hun,…"

"Aku mencintaimu, Tan Luhan" Sehun tersenyum perih. "Aku tak tahu sejak kapan dan bagaimana bisa, namun aku tahu aku harus membunuh rasa ini sebelum aku yang terbunuh. Karena aku tahu kamu tak pernah sedikitpun mencintaiku." Gadis itu kembali terisak, sementara Luhan terdiam. Sehun mengambil kesempatan dan keluar dari kamar yang menurutnya kamar Luhan tersebut.

"Sehunnie?"

"Mama."

"Hunnie mau kemana? Lihat, wajahmu masih pucat." Heechul mendekati Sehun, mengusap wajah pucat gadis itu. Mendapati pipi tirusnya basah.

"Aku baik – baik saja, Ma." Sehun menundukkan wajahnya. Ia sungguh merasa malu tertangkap menangis oleh Heechul. Wanita paruh baya itu menarik Sehun ke dalam pelukannya, mengusap kepala Sehun dengan lembut. Membuat Sehun merasa begitu nyaman.

"Kenapa?" Tanya Heechul. "Hunnie bertengkar dengan Luhannie?"

Sehun memilih tak menjawab. Gadis itu merasa bersalah akan kebaikan Heechul kepadanya yang bukanlah siapa – siapanya Sehun.

"Hunnie takut Mama marah?"

Sehun menggeleng, menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Heechul.

"Sehun!"

Luhan mendekati mereka berdua, tak memperdulikan tatapan Heechul yang tajam kepadanya. Sehun mempererat pelukannya, tak ingin melihat Luhan yang terus menatapnya dengan memohon.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua?" Tanya Heechul bingung dengan situasi di antara kedua anak itu. Sehun akhirnya melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya yang dibasahi airmata.

"Sehunnie pulang dulu. Maaf merepotkan Mama dan Papa." Ujar Sehun lalu berlari keluar dari kediaman keluarga Tan.

*#*#*#*#*#*

Holaaa!

Tiuek is back after a long time bertapa di pedalaman kolam rumahku ~apaan sih, gejeh~

Sebenarnya chapter ini udah lama bersarang di dalam laptop aku, cuma belum yakin buat update. Ini pun setelah beribu - ribu kali aku baca ulang, baru aku mengupdatenya. Perasaanku campur aduk pas baca ulang, antara yakin atau nggak buat update. And here i am right now!

Today BGM is Seventeen - SIMPLE ~ Can't see the end, lalu Reygan - Terindah di hidupku. Setelah sekian lama nggak dengerin lagu Indo, akhirnya kembali dengerin gara - gara suara si Rey yang keceh bingitzz.

Maafkeun dirikuh yang gejeh ini, karena selalu menghilang lalu mendadak hadir kayak hantu. Dan tengkiuh bingitzz buat semua reader-deul dan reviewer-deul yang mau menyempatkan waktunya untuk membaca dan mereview cerita ga mutu saya ini.

Segitu aja cuap - cuap saya kali ini, lemme beggin' somethin' from u all

REVIEW PLIZZ? ^_^