Chapter 9

Di istana -

Luhan side*

"Yang Mulia..anda sudah datang. Kemana saja Yang Mulia pergi? Sedari tadi Paduka Raja mencari anda," ia disambut kasimnya sesampainya di paviliun. Kasimnya nampak sangat lega setelah melihat tuannya pulang dengan selamat.

"Aku tahu kasim Shin, pasti ayahku menyusahkanmu lagi ya," Luhan meringis, sambil mencoba menggoda kasimnya. Namun yang digoda malah menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan.

"Yang Mulia, eumm se..sebenarnya..."

"Ada apa kasim Shin? Kenapa kau tiba-tiba tergagap seperti itu?" Luhan pun merasakan sesuatu yang aneh.

"Eumm, Paduka Raja.."

"Tunggu dulu..kasim Shin, bukankah hari ini acara penobatanku? Kenapa sepi sekali? Tak adakah persiapan untuk upacaranya?"

Luhan sadar sesuatu terjadi di istana.

"I..itu..Yang Mulia Raja membatalkan acara penobatan anda, Pangeran," kasim Shin membungkuk merasa takut Luhan akan meledak marah.

Sedangkan Luhan membelalakkan matanya dan segera berlari menuju aula pertemuan untuk menemui ayahnya.

Dia pikir pasti ini ada hubungannya dengan yang terjadi pada penduduk desa.

Tapi kenapa cepat sekali beritanya sudah sampai ke telinga ayahnya. Bahkan belum ada setengah jam. Ia pun jadi curiga.

Sesampainya di depan pintu aula, ia tak lantas langsung masuk. Ia meminta pada pengawal yang berjaga untuk diam, merekapun mengangguk.

Luhan masuk ke dalam aula dengan diam-diam, lalu bersembunyi dan mencuri dengar. Ia penasaran apa yang akan dikatakan ayahnya pada para menterinya.

"Yang Mulia, seperti yang sudah hamba sampaikan tadi, bahwa saat ini keadaan desa sudah benar-benar gawat. Mereka secara bersamaan merasakan sakit, dan anehnya ini terjadi tiba-tiba. Hamba rasa ini wabah penyakit yang dikarenakan kelalaian kita, Yang Mulia,"

Luhan mendengar seseorang berbicara, setelah mengintip sedikit ternyata orang itu penasehat Choi. Ia melirik ke arah ayahnya.

"Apa maksutmu penasehat Choi? Jadi kau bilang kalau aku sudah lalai mengawasi rakyatku sendiri?" ayahnya terlihat tersinggung dengan perkataan penasehat Choi.

"Maksut hamba bukan anda Yang Mulia, tetapi Calon Putra Mahkota Luhan yang terlihat selalu melalaikan tanggung jawabnya sebagai calon penerus negeri ini." Luhan mengernyitkan keningnya, kenapa dia yang harus disalahkan, batinnya. Namun ia tetap terus menyimak.

"Kenapa kau menyalahkan putraku? Memangnya apa yang sudah dilakukannya?" Raja mencoba menahan amarahnya.

"Tentu saja karena Pangeran Luhan selalu bersikap kekanakkan dan tidak dewasa. Ia bahkan pergi melarikan diri dan tidak mengikuti upacara gerhana seperti yang seharusnya dilakukan seorang pewaris tahta." penasehat Choi.

"Seharusnya Pangeran Luhan mengerti bahwa ini adalah upacara sakral bagi kelangsungan negeri ini. Dan juga Pangeran Luhan tidak boleh mementingkan kepentingannya sendiri hanya karena seorang wanita. Sudah waktunya Pangeran Luhan melakukan kewajibannya sebagai calon putra mahkota yang baik."

Deg, apa maksut perkataan penasehat Choi barusan? Kapan aku kabur dari kerajaan karena seorang wanita, Luhan membatin. Aku bahkan tak mengenal satupun putri bangsawan di negeri ini. Aku saja hanya mengenal satu wanita dan dia...

Luhan pun paham, selama ini dia pasti selalu di awasi oleh anak buah penasehat Choi, pantas saja ia selalu merasa diikuti seseorang. Ia membelalakkan matanya lagi.

Xiumin!! Dia dalam bahaya sekarang, bodoh sekali harusnya aku tak meninggalkan ia sendirian diluar sana. Aku harus segera kembali ke tempat Xiumin.

Dan sesegera mungkin ia keluar dari tempat persembunyiannya dengan diam-diam. Namun ia malah menyenggol sesuatu disampingnya, sial, batinnya.

"Siapa disana!" Raja mendengar suara berkelontangan dari balik pintu aula.

"Siapa yang berani mencuri dengar percakapan raja? Pengawal bawa kemari penyusup itu!" Raja murka.

Pengawal yang berjaga tak lantas menangkap pangeran mereka, sebab Luhan menggelengkan kepalanya, dia memberi isyarat akan masuk sendiri. Luhan pun menghela nafasnya sebelum masuk ke aula.

Luhan yakin dia dalam masalah besar sekarang.

"I..ini hamba ayahanda," Luhan masuk dengan sedikit gugup.

Raja mengernyitkan keningnya.

"Pangeran, kenapa kau baru muncul sekarang? Kemana saja kau? Apa kau tak tahu, ayahmu ini mencemaskanmu," Raja memarahi Luhan yang kini tertunduk merasa bersalah.

"Dan sekarang kau malah tiba-tiba muncul setelah menguping diskusi kami? Kenapa tak langsung masuk? Apa setelah kau menguping kau mau kabur lagi, iya?"

Luhan tak berkutik dimarahi oleh ayahnya. "Maafkan atas kelancangan putramu ini ayahanda. Putramu tidak bermaksut mencuri dengar diskusi ayahanda. Hanya kebetulan saja mendengar kalian membicarakan diri hamba." Luhan melirik tajam kearah penasihat Choi, "Maka dari itu hamba ingin mendengar lebih banyak terlebih dahulu, sebelum menghadap ayahanda."

Penasihat Choi hanya diam, tapi balas menatap benci ke arah Luhan.

"Tapi putraku kau tetap bersalah dengan kabur dari istana. Kau harusnya menyadari, bahwa kau kelak akan menjadi pemimpin negeri ini. Jadi pahamilah tanggung jawabmu." ucap Raja tegas.

Raja tetap berusaha adil di depan para pejabat kerajaan, termasuk pada putranya sendiri.

"Tapi ayahanda..."

"Kau tetap bersalah. Dan kau harus dihukum. Ini adalah keputusanku, tak boleh dibantah. Kau dilarang pergi kemanapun, bahkan keluar istana selama dua minggu. Ingat, tidak boleh kemanapun, kecuali di dalam lingkungan istana. Titik." perintah Raja.

Luhan membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengernya barusan. Diapun mencoba membela diri. Namun saat ia membuka mulutnya, Raja pun berkata,

"Jika kau berusaha untuk membantah perkataanku, maka aku tidak akan segan-segan menambah masa hukumanmu. Pengawal pribadimu akan mengawasimu 24jam penuh, dan dia setiap hari akan melapor padaku setiap hal yang kamu lakukan," Raja sepertinya sudah sangat jengkel dengan kelakuan putranya.

Luhan menghela nafas kasar dan berdecak sebal, terpaksa ia menerima perintah ayahnya, daripada masa hukumannya ditambah.

"Baiklah, putramu ini akan menerima hukuman dari ayahanda. Tapi sebelum itu, ijinkan hamba bertanya satu hal."

"Apa? Katakan saja," Raja seakan tak peduli, ia memijit kepalanya, pusing dengan kelakuan putranya.

"Hamba ingin bertanya pada penasihat Choi," Luhan berbalik menghadap penasihat Choi, ia menatap sengit, sedangkan penasehat Choi sendiri balik menatap Luhan remeh.

"Penasihat Choi, aku mau bertanya, mengapa kau berkata aku kabur dari istana karena seorang wanita? Apa kau pernah melihatku bergandengan tangan kabur dengan seorang wanita? Atau karena kau sangat menyayangiku, kau pun menyuruh orang untuk mengawasiku? Begitu,ya? Apa itu sekarang pekerjaan sampinganmu?" sindir Luhan, ia menatap tajam pada penasehat Choi.

"Hamba tak mengerti apa maksut dari perkataan Yang Mulia. Hamba tadi hanya sekedar menebak saja," jawab penasehat Choi, sambil membungkukan badannya, Luhan melihat tangan penasihat Choi sedari tadi bergerak gelisah, ia menyeringai.

"Kau mau bilang hanya menebak saja? Menebak tapi berbicara seyakin itu. Lalu darimana kau dapat infomasi yang kau bilang hanya menebak itu? Dan kau membeberkan berita tebakanmu itu disini yang belum tentu semua itu benar.

Jadi sekarang aku yang bingung, yang mana yang benar? Tidak lucu membuat lelucon dihadapan Rajamu.

Jadi apa kau yakin kau berkata yang sejujurnya penasehat Choi? " tanya Luhan pura-pura polos.

"Tentu saja saya berkata jujur, untuk apa saya berkata bohong. Saya tentu tak akan seberani itu," penasehat Choi menjawab dengan agak salah tingkah.

"Baiklah, aku sudah puas dengan jawabanmu. Ayahanda juga mendengarnya kan. Kalau begitu penasehat Choi coba kau jelaskan ini," Luhan mengangguk ke arah seseorang di luar pintu aula, orang itu balas mengangguk dan sedetik kemudian ia menyeret seorang pria. Pria itu memiliki bekas luka di wajahnya, tepatnya di pipi dan tangannya.

Penasehat Choi kini benar-benar tak dapat menyembunyikan kekagetannya. Luhan menyeringai.

Xiukai side*

"Kai, bagaimana ini, kita tak bisa jika hanya berdua saja. Mereka terlalu banyak dan persediaan obat-obatan eonni juga sudah hampir habis," Xiumin berkata serius kepada Kai yang masih sibuk kesana kemari membagikan obat.

"Aku juga tidak tau, eonni. Aku kan bukan calon dokter. Apa eonni tidak bisa membuat obat herbal atau semacamnya? Eonni kan dokter?" Kai merasa khawatir dengan keadaan para penduduk yang tak kunjung membaik.

"Kalau begitu bagaimana kalau meminta bantuan padaku saja?" sebuah suara seorang pria tiba-tiba menginterupsi, membuat XiuKai kaget bukan kepalang.

Mereka berdua menoleh ke arah pria itu, yang kini berjalan mendekati XiuKai. Pria itu dengan senyum ramah menyapa XiuKai,

"Maaf jika aku membuat kalian berdua terkejut. Aku tadi kebetulan lewat sini, baru perjalanan pulang dari bepergianku. Lalu aku merasa aneh dengan para penduduk yang tiba-tiba saja terjatuh dihadapanku tadi saat aku baru memasukki desa ini. Mereka semua mengerang kesakitan. Dan anehnya mereka sakit secara bersama-sama dan mengeluh sakit di tempat yang sama."

XiuKai hanya ternganga dengan perkataan tanpa henti pemuda asing itu. Lalu mereka saling pandang bingung. Kemudian pemuda itu tersenyum saat melihat kedua gadis di hadapannya hanya terdiam tak bereaksi, malah berjalan mundur seolah menghindarinya. Si pemuda menyadari kebodohannya.

"Ah..iya maaafkan aku, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kim JongDae. Aku tinggal di dekat sini, tapi aku baru saja pulang dari perjalananku seperti yang aku bilang tadi. Jadi setelah aku perhatikan kalian tadi, kalian ini seorang tabib? Jarang sekali aku melihat seorang gadis mau menjadi tabib."

JongDae terus saja mengoceh, sedangkan XiuKai saling berbisik,

"Eonni, apa kau tak merasa aneh dengan pemuda itu? Sedari tadi ia mengoceh tanpa henti. Ia bahkan terus menatap ke arahmu, jangan-jangan dia jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama," Kai terkikik.

"Aw..kak kau tak perlu mencubitku, sakit sekali tau."

JongDae menatap bingung kedua gadis di hadapannya.

Xiumin hanya tersenyum canggung ke arah JongDae,

"Ah, maaf kami bukan tabib, hanya kebetulan lewat di desa ini. Menurut kami beberapa saat yang lalu mereka nampak baik-baik saja, kemudian mendadak mereka seperti ini," Xiumin hanya menjawab sekedarnya.

Ia sedikit tak suka dengan tatapan pemuda itu pada dirinya. Ia merasa risih.

"Kalau benar-benar ingin membantu, kami sangat berterima kasih.

Kau bisa memulainya dengan membawakan air dari sungai, bawakanlah sebanyak yang kau bisa. Dan jangan mengambil air dari sumur warga, semuanya sudah diracuni." Xiumin berusaha membuat JongDae tidak berada di dekatnya.

"Baiklah, akan kulakukan semampuku," JongDae berbalik pergi, tapi,

"Ah, iya aku harap kau berhati-hati. Disini tidak aman dan aku melihat ada beberapa orang yang mengawasimu. Aku pergi dulu."

Mata Xiumin dan Kai membola.

"Eonni, bagaimana ini? Bagaimana bila yang dia katakan itu benar?" Kai cemas.

"Tenanglah, kita berdua kan punya sabuk hitam taekwondo. Kalau mereka mendekat, kita hajar saja mereka, eoh."

Xiumin berusaha menenangkan adiknya, yang dia sendiripun sebenarnya tak yakin dengan apa yang di ucapkannya barusan.

Di dunianya dulu ia memang suka menonton drama sejarah, karena ceritanya menarik. Tapi saat ia benar-benar masuk ke masa lalu itu, ia menyadari bahwa semuanya tampak berbeda. Lebih mengerikan dari yang ia pernah ia lihat. Semoga semuanya baik-baik saja, ia menghela nafasnya.

"Eonni, kenapa kau melamun?" Kai menjawilnya dan menoleh bingung,

"Lihatlah, ada seseorang yang berkuda menuju kemari, ah bukan cuma seorang, tapi 3 orang. Siapa ya mereka?"

Kai berbisik ditelinga Xiumin.

Mereka melihat 3 orang menunggang kuda berkendara dengan cepat ke arah mereka. Dan begitu 3 pengendara itu mendekat, Xiumin dan Kai membelalakkan mata mereka. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka mengenali pengendaranya.

"Kai, itu Sehun dan ia bersama siapa? Oh,Sajangnim???"

"Sajangnim??"

Xiumin berkata serempak dengan Kai.

Mata mereka sekali lagi membola, tak percaya dengan sosok yang datang bersama Sehun.

Luhan side*

Flashback on*

Luhan bergegas memasuki istana, namun ia merasa tak tenang. Dan entah kenapa dia pun mengikuti nalurinya untuk menoleh ke belakang, bermaksut melihat Xiumin yang mungkin saja tak akan ditemuinya dalam waktu dekat.

Ia menatap sendu ke arah Xiumin, lama ia berdiri ditempatnya. Namun saat ia tak sengaja menolehkan arah pandangnya ketempat lain, ia melihat sesosok pria yang tampak mencurigakan. Pria itu mengawasi seseorang, yang setelah Luhan ikuti pandangan pria itu, rupanya mengarah kearah Xiumin dan Kai.

Luhan pun terkejut, rupanya benar apa yang dirasakannya selama ini. Ia telah dimata-matai seseorang. Luhan mengendap-ngendap berusaha bisa melihat pria itu lebih jelas, dan beruntung kedatangannya tak disadari pria itu.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang, ia terlonjak kaget, lalu menoleh. Rupanya pengawal pribadinya, Luhan menghela nafas lega. Saat pengawalnya ingin mengatakan sesuatu, Luhan terlebih dulu memberi isyarat supaya diam. Pengawalnya mengernyit bingung. Luhan mengedikkan kepalanya ke arah pria mata-mata itu, dan pengawalnya pun paham.

Luhan menarik lengan pengawalnya sedikit menjauh dari pria mata-mata itu.

"Paman, aku ingin meminta bantuanmu, tolong, ini sangat mendesak. Jangan bertanya kenapa, aku akan menjelaskan nanti," Luhan berbicara dengan sangat serius.

"Tapi, Yang Mulia..."

"Aku mohon paman, ini benar-benar gawat. Dan saat ini aku membutuhkan bantuanmu. Aku mohon, paman. Aku berjanji akan menuruti semua keinginan paman dan juga ayahanda." paman Luhan menatap Luhan dengan tajam, mencoba mencari kesungguhan di mata Luhan.

"Baiklah, tapi ini harus menjadi yang terakhir kali Yang Mulia kabur dari istana." ujar paman tegas.

"Aku benar-benar berjanji kali ini. Paman bisa memegang ucapanku," Luhan tersenyum berterima kasih.

"Sekarang paman, dengarkan aku baik-baik. Aku ingin paman menangkap pria itu," Luhan menunjuk ke arah pria mata-mata itu, "Harus, dan sesegera mungkin. Setelah itu, bawa ia menemuiku di aula istana nanti, paman mengerti kan?"

"Baiklah, tapi ada apa dengan pria itu?" paman Luhan penasaran.

Luhan menggelengkan kepalanya,

"Tidak sekarang paman, aku akan menjelaskannya nanti, aku berjanji. Sekarang aku harus segera menemui ayahanda, karena ada sesuatu hal penting yang ingin aku sampaikan padanya. Aku serahkan dia padamu paman, aku pergi dulu," lalu ia pun bergegas masuk ke istana.

Paman Luhan menatap kepergian Luhan dengan penuh tanda tanya, ia kemudian hanya menggelengkan kepalanya. Paman Luhan pun segera mendekati pria yg dimaksut Luhan tadi. Paman Luhan juga mengikuti arah pandang pria, dan ternyata pria itu menatap ke arah dua orang gadis yang tengah mengurusi beberapa penduduk yang sakit. Oh bukan beberapa, tetapi hampir semua penduduk mengalami kesakitan yang sama. Semua kecuali dua gadis itu.

Saat mendekat, rupanya pria itu menyadari kehadiran paman Luhan. Pria itupun berusaha menghindar dari sergapan, ia menatap musuhnya garang. Sedetik kemudian ia terkejut melihat siapa yang mencoba menyergapnya begitu pula paman Luhan, ia tak kalah kaget dengan pria mata-mata dihadapannya saat ini.

"Kau,"

"Kau,"

Luhan yang ternyata mengintip dari balik rumah milik warga merasa heran, kenapa mereka malah saling tatap dan hanya diam saja, batin Luhan.

Tapi ia tak bisa melihat lebih lama lagi, ia harus segera masuk ke istana menemui ayahnya. Dan ia pun berlari ke paviliunnya.

Skip Time ~

Luhan berlari menuju aula pertemuan, ia berpapasan dengan pamannya. Dilihatnya rupanya pria mata-mata itu bersama pamannya. Ia pun mengangguk ke arah paman, dan ia meneruskan perjalanannya menuju aula.

Flashback end*

"Jadi pertanyaan pertamaku pada penasehat Choi adalah siapa pria disana itu?" tanya Luhan.

Penasehat Choi terdiam, ia mulai gugup, "Maaf, Tuan Muda, tapi saya tak mengerti maksut pertanyaan anda," Penasehat Choi nampak gugup, tangannya bergerak-gerak gelisah.

"Saya bahkan tak mengenalnya, saya bahkan baru melihatnya disini."

"Benarkah? Tapi ia bilang padaku bahwa ia mengenalmu Tuan Choi." Luhan pura-pura bingung.

"Mana mungkin, ia pasti berbohong, mungkin saja, dia hanya seseorang yang membenci saya," jawab Tuan Choi.

Luhan yakin Penasehat Choi sedang ketakutan, ia terlihat gelisah, namun matanya melirik tak suka ke arah pria mata-mata itu.

"Lalu apa sebabnya ia membencimu? Apa karena kau orang yang suka memanfaatkan seseorang dan membuangnya setelah ia tak berguna?" Luhan terus menyindir Penasehat Choi, ia tak peduli dengan interupsi dari ayahandanya.

"Luhan, cukup! Jika kau hanya..."

"Tunggu sebentar, ayahanda, saya berjanji ini jadi pertanyaan terakhir."

Luhan mendekati pria mata-mata itu,ia menatap lurus ke dalam mata pria itu, yang balas menatap tajam mata Luhan.

"Tuan, saya hanya akan bertanya satu kali, dan aku harap kau mempertimbangkan jawabanmu. Karena nasibmu bergantung pada jawabanmu nanti. Jadi Tuan, apakah kau mengenal Tuan Choi?"

Pria itu terdiam namun matanya melirik tajam ke arah Penasehat Choi.

"Aku tak mengenalnya,"

Luhan terkejut sesaat namun segera ia tutupi, sedangkan pria mata-mata itu tetap tak melepaskan lirikan tajamnya pada Penasehat Choi.

"Benarkah?" tanya Luhan tajam.

Pandangan pria itu beralih ke Luhan,

"Itu memang benar,"

Pria itu terdiam sebentar, lalu berkata sambil menyeringai ke arah Penasehat Choi,

"Aku memang tak mengenalnya, tapi aku mengenal seseorang yang pasti mengenal dan dikenal oleh Tuan Choi itu."

Mata semua orang disitu melebar kemudian terdengar kasak kusuk disana sini, kecuali Raja yang sedari tadi diam menyimak. Ia percaya putranya tidak akan melakukan sesuatu hal yang bodoh dan mempermalukan dirinya sendiri.

"Benarkah? Kalau begitu siapa dia?" mata Luhan terlihat lebih berbinar.

"Namanya.."

"Tunggu dulu, sebelum ia mengatakan sesuatu, bolehkah hamba bertanya sesuatu pada anda Pangeran Luhan?" potong Tuan Choi.

"Silahkan," Luhan mengangguk, ia tersenyum penuh arti. 'Tuan Choi, sadar atau tidak kau sudah masuk ke perangkapku' batin Luhan.

"Begini, kenapa Anda membawa pria itu kemari? Jika ia berbuat kejahatan seharusnya ia dibawa ke kantor polisi dan diinterogasi disana, bukan di aula pertemuan ini," kata Tuan Choi, terlihat berusaha menutupi sesuatu.

Luhan tersenyum,"Ah, soal itu aku sebelum menjelaskan jawabanku, aku akan ganti bertanya kepadamu Penasehat Choi. Kenapa kau bisa menyangka ia berbuat kejahatan? Aku bahkan belum mengatakannya pada siapapun tadi apa tujuanku membawa dia kemari. Apa dia seorang panjahat? Kalau Penasehat Choi bisa tau ia seorang penjahat berarti dia adalah seseorang yang kau kenal bukan?" seringai Luhan makin lebar.

"Atau mungkin, dia pernah berbuat sesuatu kejahatan terhadapmu atau keluargamu? Kalau kau sampai hafal dengan wajah seseorang yang pernah berbuat jahat padamu, berarti kau sangat mengenal orang itu, iya kan, apa aku salah?"

Luhan melirik ke arah pria mata-mata itu lalu tersenyum. Yang kemudian maksutnya dipahami oleh pria itu.

Dan Tuan Choi mendadak pucat pasi. Ia sadar, rupanya ia baru saja dijebak oleh anak ingusan.

"Hamba bukan bermaksut mengatakan kalu ia seorang penjahat, Pangeran. Hamba hanya menduga-duga saja, barangkali dia dibawa kemari karena ia berbuat jahat dan Pangeran ingin menginterogasinya disini. Hanya itu."

"Kalau kau hanya menduga dan menebak seperti tadi, seharusnya kau jangan memotong pembicaraanku. Kau bahkan tak tau apa maksut dari pertanyaanku padanya tadi. Kau pasti ingin tau kenapa aku memanggilnya kemari kan, dengarkan saja dahulu." Luhan berkata dengan sinisnya.

"Baiklah, mohon maafkan kelancangan hamba tadi." Penasehat Choi membungkuk memohon maaf.

Luhan mengacuhkannya.

"Jadi siapa orang yang kau kenal itu?" tanya Luhan pada pria mata-mata itu.

"Namanya adalah... Kim Jo Woon, Yang Mulia," jawab pria itu sambil menyeringai ke arah Tuan Choi.

Seketika bisik-bisik kembali terdengar, Raja yang sedari hanya diam saja mulai membuka suara.

"Kim Jo Woon? Penasehat Choi bukankah dia adalah kerabat dekatmu?" Raja ikut menyeringai.

Ia mulai mengikuti permainan putranya.

"Dan putraku Luhan, apa maksutmu mengundang pria ini kemari? Dia bahkan mengenal kerabat Penasihat Choi juga. Apa kau mengetahui ada sesuatu yang sedang direncanakan mereka?"

"Oh, sebenarnya tidak ada ayahanda. Putramu ini hanya merasa curiga. Karena jujur saja ayah, selama aku pergi dari istana tadi pagi aku merasa ada seseorang yang membuntutiku. Singkatnya aku memergokki pria ini tengah mengawasiku. Maka dari itu aku membawanya kemari." Luhan menjelaskan.

"Di buntuti? Kenapa ada orang yang mau membuntutimu? Dan kau," Raja menunjuk ke arah pria mata-mata itu, "apa tujuanmu membuntuti putraku? Apa kau mendapat perintah itu dari seseorang bernama Kim Jo Woon itu? Katakan siapa namamu?"

Pria mata-mata itu berlutut memberi hormat lalu memperkenalkan diri,

"Nama hamba adalah Jung Yeon Chul, Yang Mulia," Raja terkejut begitupun Luhan, lalu Raja menatap kepada pengawal pribadi putranya, yang sekaligus paman Luhan, ia menunduk terlihat murung. Kasak kusuk terdengar lagi,

"Hamba memang mendapat perintah untuk membuntuti Pangeran Luhan. Bahkan hamba juga mendapat perintah untuk mencelakakan Pangeran bila ia kembali lagi ke istana dalam keadaan hidup. Namun hamba gagal dalam misi hamba kali ini.

"Lalu, apa perkataanmu itu bisa dipercaya?" tanya Raja.

"Tentu saja, saya bahkan membawa surat perintah darinya," Yeon Chul kemudian memberikan selembar kertas pada Luhan, yang kemudian ia berikan pada ayahnya.

"Kau tau kan konsekuensi dari perbuatanmu itu? Sungguh lancang sekali kau mencoba mencelakakan putraku. Kau seharusnya dihukum sangat berat. Namun karena kau telah jujur, aku akan mengurangi hukumanmu," Raja tampak marah, namun dicoba untuk ditahannya.

"Pengawal! Bawa pria ini ke penjara! Dan Penasehat Choi, aku sungguh berharap kau tak terlibat. Karena jika sampai aku mendapat bukti kau juga terlibat, aku tak akan segan-segan untuk menghukummu."

Maka pertemuan tersebut diakhiri dan Raja mengajak Luhan untuk berbicara di ruang pribadinya, tak lupa paman Luhan turut serta.

XiuKai side*

Xiumin dan Kai tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Sehun datang dengan seorang pria paruh baya dan seorang gadis bersamanya. Mereka membawa sebuah kotak barang yang entah apa isinya.

Namun bukan kotak itu yang membuat mereka tertarik, tetapi orang-orang yang datang bersama Sehun itu.

Mereka berdua melihat seseorang yang mirip sekali dengan bos pemilik kafe tempat ia bekerja, bahkan seorang gadis dibelakangnya pun mirip sekali dengan putri bosnya. Walaupun mereka jarang bertemu, tetapi sesekali putri bosnya datang ke kafe bersama teman-teman sekolahnya.

"Eonni katakan padaku ini bukan mimpi. Cubit aku, eonni,auch. Ini sakit, berarti ini memang bukan mimpi," Kai mengusap tangan yang dicubit kakaknya.

Ia benar-benar kesakitan, lalu apa yang sebenarnya sedang terjadi ini,batin Kai.

Sehun turun dari kudanya, ia menolong pria paruh baya itu menurunkan kotak barang yang dibawanya.

"Xiumin ssi, aku mencoba datang secepat yang aku bisa, dan aku membawa serta ayahku." XiuKai terkejut,"Dia seorang tabib mungkin dia bisa menolongmu. Ayah perkenalkan dia Xiumin, dan ini adiknya Kai. Mereka..eum mereka..,"

Sehun bingung harus memperkenalkan Xiumin dan Kai sebagai apa, karena mereka baru saja bertemu tadi pagi.

"Eh, seorang teman lama yang kebetulan bertemu lagi," potong Xiumin lalu membungkuk memberi salam, Kai juga melakukan hal yang sama.

Sehun menghela nafas, mencoba menyembunyikan kegugupannya tadi. Kemudian Tao berdehem,

"Sehunnie, kau tak memperkenalkan noonamu?" ia pura-pura merajuk.

"Eh, iya, ehem Xiumin sshi, Kai sshi, perkenalkan ini noonaku, Tao. Dia juga seorang tabib namun masih kalah dibandingkan dengan ayahku," Sehun mencoba menggoda kakaknya.

"Yaaak..kau berani mempermalukan noonamu ini? Awas saja nanti," Tao memperucutkan bibirnya.

"Sudahlah, kalian berdua, ini ditempat umum, apa kalian tidak malu," Tuan Jang mulai membuka suara, ia berjalan mendekati Xiumin dan Kai.

"Agashi, mohon maafkan mereka berdua, ya, mereka kadang memang tak tau tempat."

XiuKai mengangguk bersamaan, pikiran mereka nampak belum bisa menerima kenyataan yang ada dihadapan mereka ini.

"Agashi, agashi, kalian baik-baik saja?" Tuan Jang menjawil Xiumin yang terlihat seperti melamun.

"Apa? Oh, iya, kami baik-baik saja hanya sedikit teringat sesuatu tadi," Xiumin tersenyum canggung.

Tuan Jang mengangguk tapi tampak bingung, Sehun dan Tao hanya menatap ingin tau ke arah XiuKai.

"Ah..agashi kalau begitu kita mulai saja mengobati mereka sekarang, kita bisa melanjutkan obrolan kita nanti." kata Tuan Jang.

Xiumin mengangguk dan mulai menjelaskan apa yang dilihatnya tadi.

"Tuan Jang, karena anda seorang tabib saya akan menjelaskan singkat saja. Para penduduk disini mengalami gejala seperti keracunan makanan. Mereka mengalami mual, muntah, sakit di bagian perut bawah, beberapa ada yang mengalami diare dan mereka bilang tinjanya sangat berbau tak sedap. Ini seperti gejala penyakit kolera, namun masih ringan. Tadi saya dan adik saya sudah memberi mereka beberapa obat yang saya punya, namun ada sebagian yang belum kami beri karena obat-obatan kami sudah habis. Saya sudah memberi mereka antibiotik dan campuran larutan air garam dan gula. Namun kita masih harus memberikan mereka obat setiap 4 jam sekali dan setidaknya selama 3 hari. Saya hanya cemas, karena saya taknmemiliki persediaan obatvlagi.

Dan juga saya sudah meminta bantuan pada seseorang membawakan air dari sungai untuk membuatkan mereka obat, karena air sumur milik penduduk disini, semua sudah tercemar," Xiumin berbicara panjang lebar dan Tuan Jang mengangguk angguk disampingnya.

Sehun dan Tao saling berbisik,

"Hunnie, dimana kau bisa mengenal kedua gadis itu? Sepertinya dia bukan dari sini, aku tak pernah melihatnya ada didesa kita dan di desa ini selama aku berkunjung kemari dan kemampuannya memberi keterangan tentang penyakit seseorang juga sangat bagus, apa dia tabib?" oceh Tao panjang lebar yang hanya ditanggapi gumaman dari Sehun yang rupanya tengah sibuk memperhatikan Kai sedang menyuapi obat pada seseorang.

Dan Tao menyadari pandangan adiknya itu. Entah kenapa ia merasa tak rela adiknya menatap seorang gadis lain dengan tatapan seperti itu.

"Yaak..Hunnie kau tidak mendengar ucapanku ya?"

"Oh,eh, noona bilang apa tadi?" Sehun tergagap, ia mengedip-ngedipkan matanya lucu.

"Ah, sudahlah, ayo kita bantu temanmu itu saja, kasihan dia melakukannya sendirian. Sedangkan kau malah mematung disini, pergi sana buat sesuatu yang berguna," usir Tao, yang kemudian ia sendiri membantu Kai menyuapi obat ke para penduduk. Sehun mendengus.

~Skip Time~

Hari semakin larut, Xiumin dan Tuan Jang tengah merebus obat-obatan herbal, Kai dan Tao membuat makanan untuk mereka semua setelah menyuruh Sehun membeli beberapa bahan makanan ke desa lain yang terdekat. JongDae masih membantu membawakan air dari sungai, yang kali ini dibantu juga oleh Sehun.

Kemudian tiba-tiba beberapa prajurit istana datang ke tempat mereka berkumpul.

Mereka semua terkejut, menghentikan semua kegiatan mereka.

XiuKai saling mendekat,

"Eonni, ada apa lagi ini? Kenapa banyak prajurit datang kemari? Apa mereka datang untuk menangkap kita? Eonni, aku takut,"

Xiumin hanya diam saja, ia sama takutnya dengan Kai, tangannya menggenggam erat tangan adiknya. Itupun tak luput dari penglihatan Jong Dae dan Sehun.

Lalu mereka berdua berdiri disamping Xiumin dan Kai.

Para prajurit itu berhenti beberapa langkah dihadapan mereka, Tuan Jang sebagai yang tertua maju kedepan untuk menyambut mereka.

Tetapi kemudian dari balik barisan prajurit muncullah seseorang. Semua terkejut tak terkecuali Xiumin dan Kai.

"Kalian semua dengarkan perintahku, aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama membawa air dari sungai, kelompok kedua buat tenda darurat sebanyak mungkin diseluruh area ini, setelah itu bawa para penduduk yang sakit ke dalam tenda darurat. Jangan lupa pisahkan pria, wanita dan anak-anak. Lalu kelompok ketiga bawa persediaan makanan kita dari istana, aku sudah mendapat ijin.

Kalian paham? Cepat lakukan,"

Setelah seseorang itu berteriak memberi komando, ia berjalan mendekati Tuan Jang.

"Paman, sudah lama tak berjumpa, kau tak lupa padaku kan?"

Tuan Jang tersenyum menyambut kedatangan orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan. Mereka lalu saling berpelukan.

"Pangeran Luhan kan? Kau sudah sebesar ini, sudah lama aku tak berkunjung ke istana. Bagaimana kabar Yang Mulia?"

Semua tampak melongo kecuali Sehun yang sedari awal sudah tau siapa Luhan, dan JongDae yang merupakan kakak tiri Luhan.

Xiumin kemudian baru menyadari tanda pengenal yang diberikan Luhan itu milik anggota keluarga kerajaan. Ia memang selalu bermasalah dengan aksara Cina. Ia menyesal dalam hati tak mempelajari dengan serius selama ini. Ia dan Kai saling pandang, mereka memiliki pikiran yang sama. Kenapa Luhan tak pernah bilang pada mereka kalau dia seorang pangeran,batin mereka.

JongDae tiba-tiba menarik Xiumin agak menjauh dari kerumunan itu. Xiumin dan Kai juga sama kagetnya.

Saat sudah agak jauh akhirnya Xiumin membuka suara.

"Hei, kenapa kita mesti menjauh dari mereka? Ada apa?" tanya Xiumin.

Tak jauh dari sana Luhan melirik ke arah Jong Dae dan Xiumin. Ia mulai tak mendengar perkataan Tuan Jang. Namun sesekali bergumam ya, tidak dan baik-baik saja. Tuan Jang yang menyadari arah pandang Luhan tersenyum geli. Dan pergi menemui seseorang yang rupanya paman Luhan.

Sedari tadi Luhan menggerutu dalam hati melihat hyungnya mengobrol akrab dengan Xiuminnya.

'Tunggu, tunggu, Jong Dae hyung singkirkan tanganmu itu. Kenapa harus menarik tangannya segala sih, dan apa itu sapu tangan, ck, murahan. Hei Xiumin, turunkan pandangan matamu itu darinya, jangan tatap dia seperti itu.'

Kemudian ia sedikit bernafas lega saat ia melihat Xiumin berbalik pergi, lalu matanya kembali membola saat ia melihat hyungnya menahan tangan Xiumin.

'Aku harus kesana, tak boleh ada seorang pun yang boleh memegang tangan Xiuminku selain aku', batin luhan.

Jong Dae hanya diam saja dan malah mengeluarkan sapu tangan yang kemudian di bebatkan ke lengan Xiumin, membuat Xiumin terkejut sambil mengaduh kesakitan.

"Jika kau sedang terluka berasama seseorang, sebaiknya obati dulu dirimu sendiri, setelah itu baru obati orang lain. Kalau kau sendiri tidak memperhatikan lukamu, bagaimana kau bisa mengobati luka orang lain,"

Xiumin terpana dengan kata-kata Jong Dae.

Namun hanya terdiam.

"Nah, sudah selesai, apa kau baik-baik saja? Kau tampak pucat," JongDae menyadari wajah Xiumin berubah pucat.

"Ah..aku tidak apa-apa mungkin hanya lelah. Dan seharian ini aku juga belum makan karena bahan makanan disini semua tercemar. Terima kasih sudah mengobati tanganku. Aku akan mengingat kata-katamu barusan, aku akan menemui adikku dulu," Xiumin berbalik namun tangannya ditahan oleh Jong Dae.

"Tunggu, bagaimana kalau kita membuat makanan bersama? Bukankah lebih cepat selesai jika banyak orang yang melakukannya?" JongDae tersenyum, Xiumin balas tersenyum mengangguk.

"Tunggu dulu, Xiumin ssi sudah berjanji terlebih dahulu padaku, hyung, jadi dia akan pergi denganku sekarang. Ayo, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kita,"

Xiumin yang kaget dan bingung pasrah saja ditarik oleh Luhan, meninggalkan JongDae yang tampak melongo melihat kelakuan adik tirinya.

Kai yang melihat kejadian itu sedari tadi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hah..sepertinya akan ada perang dunia ketiga," lalu ikut berbalik pergi, tapi karena ia tak memperhatikan, ia juga menabrak seseorang yang rupanya Sehun sudah berdiri di belakangnya.

"Omo ya,hei, sejak kapan kau berdiri disini? Membuat kaget orang saja," Kai mendengus kesal.

"Apa itu perang dunia ketiga? Apa disuatu tempat sedang terjadi perang?" tanya Sehun yang tak sengaja mendengar gerutuan Kai.

"Bukan apa-apa, sudahlah lupakan saja. Aku mau makan, seharian ini aku tidak makan, aku lapar."

Kai berjalan menjauhi Sehun yang lalu disusul Sehun dan menggandeng tangan Kai.

"Kau tak akan makan disini, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kita tadi."

Kai melongo mengikuti kemana Sehun membawanya pergi.

Lumin side*

Mereka sampai disebuah gazebo di dalam istana. Para dayang yang menunggu disana pun akhirnya pergi setelah melihat kedatangan Luhan.

Xiumin pun membelalakkan matanya. Dihadapannya terhidang makanan yang terlihat lezat dimatanya.

"Wah, jadi ini ya hidangan kerajaan. Baru pertama kali ini aku melihat langsung hidangan ala kerajaan."

Xiumin tersenyum lebar ke arah Luhan, dan itu membuat Luhan terpesona. Ini pertama kalinya melihat senyum paling menawan.

"Kau tak hanya melihatnya, tapi kau akan mencicipinya juga," jawab Luhan.

"Benarkah? Kalau begitu mari kita makan sekarang, aku sudah sangat lapar," mata Xiumin berbinar.

"Silahkan," kata Luhan membuat Xiumin senang bukan main.

Mata Luhan tak lepas dari Xiumin, ia tak ingin melewatkan satu momen pun saat ini. Ia ingin benar-benar menikmati suasana ini untuk dirinya sendiri. Ia merasa bahagia untuk pertama kalinya, perasaan langka yang tak pernah ada dihatinya sebelumnya.

Yah, dirinya telah jatuh cinta pada gadis dihadapannya ini.

Namun ia berubah sedih saat mengingat pembicaraan dengan ayahnya tadi.

Flashback on*

"Putraku kau berhutang penjelasan padaku soal ini semua. Apakah yang tertulis disini benar adanya? Jawab aku,"

Raja mencoba bertanya dengan sabar pada Luhan yang sedari tadi menundukkan kepalanya.

"Iya, ayahanda itu semua benar. Tadi sewaktu putramu ini menemui seseorang, tiba-tiba secara tak sengaja bertemu dengan utusan dewa bulan itu. Mereka berdua seorang gadis. Dan juga bersaudara. Tapi kenapa memangnya ayahanda?" tanya Luhan tak mengerti.

Raja memijit kepalanya yang sedari tadi berdenyut.

"Putraku, kau dengar apa yang dikatakan Penasehat Choi tadi kan? Dia sudah tau kau bersama utusan dewa bulan yang diramalkan. Itu berarti dia pun sudah lama menyelidiki ramalan itu. Dan satu hal yang pasti dia tau mengenai kekuatan rahasiamu. Hidupmu sekarang dalam bahaya, dan aku tak mau sesuatu terjadi padamu lagi, tidak lagi setelah aku kehilangan saudaramu. Jadi hukuman yang aku berikan padamu tadi tidak main-main. Turuti saja apa kata ayahmu dan jangan berusaha untuk kabur."

Luhan berubah sedih, ia paham sekali maksut ayahnya, tapi bagaimana dengan Xiumin? Bukankah berarti dia juga dalam bahaya? Ia bingung, lalu berkata pada ayahnya,

"Ayah bagaimana jika salah satu dari utusan dewa bulan itu tinggal disini? Aku juga mencemaskan dia, ayah. Sesuatu hal yang buruk bisa saja terjadi padanya."

Raja mendelik,

"Mana bisa seorang gadis sembarangan tinggal di istana, tanpa jelas asal usulnya. Bagaimana tanggapan para pejabat dan bangsawan di negeri ini nantinya. Kau mau membuat ayahmu ini malu dan mendapat cemoohan dari rakyatnya sendiri? Tidak bisa dan tidak boleh, itu dilarang, titik.

Pergilah Luhan, ayah butuh istirahat sekarang."

Luhan menuruti perkataan ayahnya, ia berjalan lesu sambil terus menunduk.

Kemudian ia baru ingat apa tujuan sebenarnya menemui ayahnya, ia pun berbalik.

"Ah, iya ayahanda, bolehkah putramu ini meminta satu permohonan saja, anggap saja ini untuk yang terakhir kalinya putramu melihat dunia luar."

Raja menghela nafasnya, ia memang sebenarnya tak tega melihat putranya sendiri bersedih.

"Baiklah, apa itu?"

"Ayah pinjami aku beberapa prajurit istana ini. Diluar sana para penduduk tiba-tiba terserang wabah, dan tidak ada seorang pun yang menolong mengobati mereka. Bolehkah ayahanda?" tanya Luhan.

Raja menghela nafasnya lagi, ia pun mendengar berita itu tadi. Ia sendiri juga lupa,

"Baiklah, bawa sebanyak yang kau mau. Dan berikan sebagian persediaan makanan kita pada mereka. Obati mereka dengar benar, kau sudah waktunya belajar melakukan sesuatu yang berguna untuk negeri ini."

"Baik ayah, aku laksanakan perintah ayah." Luhan berbalik pergi, tapi raja memanggilnya lagi.

"Luhan, kau harus ingat janjimu pada ayah tadi, kau mengerti?" Luhan mengangguk.

"Pengawal Jung, awasi putraku, dan cari tau tentang siapa itu Kim Jo Woon sebenarnya. Aku curiga dia bekerja sama dengan Penasehat Choi selama ini."

"Baik, Yang Mulia." jawab pengawal Jung.

"Dan aku minta maaf tentang adikmu tadi, aku benar-benar tak tau dia bisa menjadi seperti itu. Apa kau masih belum mendapat kabar dari istrimu?" Raja benar-benar mencemaskan keadaan adik sepupunya yang satu ini.

"Aku harap kau tidak menyakiti dirimu sendiri Jung Yeol Chan."

"Belum ada sampai saat ini. Aku yakin dia pasti baik-baik saja disuatu tempat entah dimana, dan tenanglah aku tidak akan berbuat hal sebodoh itu," tersirat nada getar dalam suara pengawal Jung. Ia lalu membungkuk memberi hormat dan pergi dari kamar raja.

Ternyata di luar pintu Luhan mendengar semua percakapan ayahnya dan pamannya tadi. Ia menatap pamannya sedih.

"Paman, jadi Jung Yeon Chul tadi adik paman? Kenapa paman tak pernah cerita apapun padaku?"

"Iya, dia adikku, paman minta maaf, ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya padamu, Yang Mulia,"

"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi. Mari paman aku butuh bantuan paman." Luhan tersenyum dan merangkul pundak pamannya.

Flashback Off*

-Xiumin-

"Luhan ssi, kenapa kau melamun? Kau tidak ikut makan?" Xiumin berkata sambil mengunyah makanan, ia melihat Luhan terkikik geli. Xiumin heran, dan menghentikan aktifitas makannya.

"Kenapa kau tertawa seperti itu? Kau sedang mengejekku kan? Luhan ssi, hentikan kikikanmu itu. Ya, sudah aku pergi saja."

Xiumin merajuk kesal, dan beranjak pergi dari sana, tapi kemudian kembali lagi untuk meminum minumannya. Ia meletakkan gelasnya dengan keras sambil terus menatap kesal pada Luhan dan pergi lagi. Didengarnya Luhan memanggil namanya, ia tak peduli, terus saja berjalan tanpa menoleh kebelakang. Lalu tiba-tiba Luhan menarik tangannya, ia ditarik ke dalam dekapan Luhan.

Matanya membola.

-Luhan-

Luhan yang sedari tadi mengingat kejadian bersama ayah dan pamannya tadi tersentak. Lalu ia melihat sebuah adegan yang seumur hidup baru pertama kali dilihatnya. Pipi Xiumin yang chubby itu nampak penuh dengan makanan. Ia terkikik geli. Ia tau Xiumin merajuk tak suka, namun hal itu tak dapat menghentikan kikikannya. Malah membuatnya makin meringis lebar. Baru kali ini ia bertemu seorang gadis dengan cara makan seperti itu, Luhan menyukainya, apapun yang dilakukan Xiumin ia menyukainya. Ia melihat Xiumin beranjak pergi dan kembali lagi ke meja hanya untuk minum lalu pergi lagi. Ia terpana dengan tingkah Xiumin yang menurutnya sangat menggemaskan.

Ia memanggil Xiumin, tapi tak dihiraukan,

"Xiumin ssi, jangan marah aku hanya bercanda. Xiumin ssi," ia lalu bangkit berdiri dan mengejarnya, ia menarik Xiumin kedalam dekapannya.

Luhan merasakan Xiumin mencoba melepaskan diri dari dekapannya. Ia tak mengijinkannya, malah mempererat pelukannya.

"Aku mohon ijinkan seperti ini sebentar saja," Luhan berkata dengan suara penuh permohonan.

"Tapi kenapa?"

"Tak apa-apa, hanya ingin saja," Xiumin mengernyitkan keningnya. Ia merasa aneh dengan sikap Luhan hari ini, pasti sesuatu telah terjadi.

Luhan makin mengeratkan pelukannya, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk Xiumin. Menghirup aroma wanginya untuk terakhir kalinya.

Xiumin merasakan hembusan nafas Luhan di ceruk lehernya, ia merinding namun serasa nyaman. Ini pertama kalinya ia merasa dekat dengan seorang pria, entah kenapa ia merasa sudah lama mengenali pria memeluknya ini, ia tanpa sadar tersenyum dan membalas pelukan Luhan

"Luhan ssi, katakan padaku apa yang terjadi padamu? Luhan ssi?" tak ada tanggapan.

"Luhan? Lu?"

Luhan menyahut dengan gumaman.

"Xiumin ssi, ucapkan lagi,"

"Apanya?"

"Namaku barusan," Luhan melepaskan pelukannya, lalu menatap langsung ke mata Xiumin. Sedangkan yang ditatap hanya mengedip-ngedipkan matanya lucu.

"Panggil namaku seperti tadi, aku mohon sekali saja," Xiumin yang bingung hanya mengangguk.

"Luhan? Lu?"

"Nah, yang itu, ucapkan lagi," Luhan tersenyum menatap intens Xiumin.

Xiumin tersenyum geli.

"Luhan, Luhan, Lu, Lu," Xiumin mengucapkannya sambil berpose lucu seperti yang sering dilakukannya pada teman-temannya.

Lalu tanpa bisa di hindari lagi, tiba-tiba Luhan mencium Xiumin. Xiumin membelalakkan matanya, namun kemudian menutup matanya, mengeratkan pelukannya, dan membalas ciuman dari Luhan. Ia tak peduli pada apapun, tak peduli bahwa ia baru saja mengenal Luhan tadi pagi, ia hanya tau ia jatuh cinta pada pria yang kini menciumnya.

Mereka berciuman dengan mesra di bawah sinar terang rembulan.

Hunkai side*

-Kai-

"Yak..yak..kau mau membawaku kemana sih?" tanya Kai kesal.

"Ini sudah yang keseratus kalinya kau bertanya hal yang sama padaku," Sehun cuek, tapi ia nyengir.

"Itu karena kau tak menjawab pertanyaanku. Kau tinggal jawab saja apa susahnya sih?" Kai kesal karena sedari percakapan mereka hanya seperti itu saja. Ia lapar dan pria yang menyeretnya ini sangat menyebalkan, hingga ia tak memperhatikan langkahnya membuat ia menabrak punggung Sehun yang berhenti mendadak.

"Aduh..bisakah kau memberitahuku jika ingin berhenti berjalan? Kau bisa membuat keningku benjol jika seperti itu terus," omel Kai.

"Makanya lain kali perhatikan jalanmu, beruntung aku yang kau tabrak," Sehun berbicara sambil mengeluarkan lilin dari kantung tas yang di bawanya.

Kai mendengus, melihat Sehun berjalan mendahuluinya masuk ke sebuah pondok kecil dihutan. Tempat yang sama saat ia pertama kali bertemu kakaknya dulu.

"Sehun ssi, apa kau masih lama? Aku..aku mulai tak nyaman disini. Bisakah kau cepat keluar?" tak ada jawaban, Kai mulai gelisah, ia tak pernah masuk ke hutan tanpa penerangan apapun, jadi ia merasa takut.

"Aku tak peduli aku akan masuk saja."

Kai setengah berlari masuk ke dalam pondok itu karena mendengar suara yang mengerikan dari belakang sana.

"Sehun ssi, aku, aaaw..."

Bruuuk..

Kai menabrak Sehun yang juga akan keluar dari pondok, lalu mereka pun terjatuh bersama, dengan Kai berada diatas Sehun. Tanpa mereka sadari bibir mereka saling bertemu.

Kai membuka matanya, dan kaget dengan posisi mereka yang menurutnya janggal. Seketika ia berdiri. Sehun masih diposisi awal, dilantai, tengah tersenyum sendiri. Perlahan ia bangun.

"Kalau kau ingin menciumku, seharusnya bilang saja, aku pasti dengan senang hati melakukannya," Sehun menggoda Kai yang langsung mendapat lirikan tajam dari Kai.

"Itu dalam mimpimu," Kai menggerutu sebal, lalu masuk ke ruang dalam, ia terkejut.

Didalam ruangan itu sudah ditata sebuah meja dipenuhi makanan.

"Makanlah, aku tau kau seharian ini belum makan. Aku mempersiapkan ini setelah selesai mengambil air dari sungai bersama si berisik itu," Sehun mendudukkan Kai, lalu menyelipkan sumpit ke tangan Kai dan meletakkan lauk ke mangkuk nasi Kai.

Kai menatap Sehun sebentar dan tersenyum lalu mulai makan.

-Sehun-

Sehun tersenyum menatap Kai yang makan dengan lahap dan tanpa malu-malu di depan dirinya. Kai mengulurkan lauk pada Sehun, Sehun yang tadinya sibuk mengagumi Kai, bingung, ia mengedip-ngedipkan matanya.

"Aaaa.."Kai ingin menyuapinya, Sehunpun menggelengkan kepalanya, tapi Kai terus mendesaknya dengan pose lucunya sambil mengunyah makanannya.

Sehun terkikik geli. Kai pun merajuk lagi karena Sehun menolak disuapi olehnya. Tapi Sehun tak peduli malah terus terkikik. Akhirnya Kai memakan sendiri makanan yang di sumpitnya dengan kesal dan asal-asalan, sebuah serpihan makanan itu menempel di ujung bibir Kai, tapi Kai tak menyadarinya. Sehun yang sedari tadi memperhatikan, merasa kesal juga.

"Kai ssi, ada makanan di sudut bibirmu,"

"Mana? Sebelah mana? Kau punya saputangan? Aku..."

Cup..

Sehun menjilat sudut bibir Kai, membuatnya terbelalak. Sumpitnya terjatuh dimeja.

"Sehun ssi, bisakah kau berhenti melakukan itu?" Kai sudah kehabisan kesabaran.

"Yang mana?"

"Ya..yang baru saja kau lakukan itu. Kau sudah berulang kali mencuri..ci..ci..ciuman dariku." Kai mencoba protes.

"Aku tidak menciummu barusan, aku hanya membersihkan remah di sudut bibirmu. Karena aku tak punya sapu tangan, ya.."

Sehun menjelaskan dengan ekspresi tak peduli.

Kai yang merasa tersinggung segera bangkit dari duduknya dan pergi keluar. Sehun pun diam, mungkin dia memang sudah keterlaluan tadi. Kemudian ia berdiri bermaksut meminta maaf. Tapi saat diluar, ia kaget, Kai tidak ada dimanapun. Ia panik dan memanggil manggil nama Kai. Ia memeriksa sekeliling pondok itu, dan berjalan ke belakang pondok menuju sungai. Ia terus berteriak memanggil Kai namun nihil.

Lalu ia merasa pundaknya disentuh, Sehun menoleh.

"Ada apa Sehun ssi? Omo..kenapa wajahmu pucat seperti itu? Kau sakit? Kalau begitu mari temui eonniku, aku yakin dia bisa..."

Kai menarik tangan Sehun, namun tiba-tiba Sehun memeluknya dari belakang.

"..mengobatimu."

Kai terkejut.

"Maaf..aku minta maaf, aku memang keterlaluan tadi, maaf seharusnya aku tadi," Sehun berkata dengan penuh penyesalan, suaranya sangat lirih, hingga Kai merasa Sehun berbisik.

Kai mencoba melepaskan pelukan Sehun.

"Kumohon jangan, aku tau kau marah padaku, tapi kumohon ijinkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja."

Kai tetap bersikeras melepaskan pelukan Sehun.

"Sehun ssi, lepaskan, atau aku akan benar-benar marah padamu, dan pergi dari hadapanmu," Sehun akhirnya melapaskan pelukannya.

Kai berbalik menghadap Sehun.

"Sehun ssi, boleh aku bertanya padamu? Kenapa kau selalu melakukannya?"

"Karena kau nampak begitu menggemaskan dan aku menyukainya, dan aku..aku.."

Cup.

Sehun membola.

"Aku juga menyukainya, hanya saja bagi seorang gadis yang baru pertama kali mendapat ciuman pertama dari seorang pria yang baru dikenalnya, tentu saja serasa aneh. Kau bisa bertanya dulu pada ku kan? Atau kau kan bisa..."

Sehun mencium Kai lagi, Kai nampak terkejut, namun kemudian menerima ciuman dari Sehun. Sehun melingkarkan tangannya dipinggang Kai dan menarik Kai supaya lebih dekat, sedangkan Kai mengalungkan tangannya ke leher Sehun.

Mereka menikmati ciuman mereka dengan sepenuh hati.

Disuatu tempat tak jauh dari desa itu, muncullah sepasang bunga lotus putih. Bunga itu memancarkan sinar cahaya yang terang menyilaukan. Dan beberapa orang yang lewat ditempat itu memandang takjub pada sepasang bunga lotus putih yang bercahaya itu

TBC

A/n: waaaah...mian author apdetnya lama. Author beneran lagi sibuk minggu kemaren karena pindah kerja. Tapi akhirnya sekarang lega udah bisa apdet.

Moga aja ga kepanjangan ya..

Buat para readers makasih banget support dan reviewnya. Terharu banget bacanya. Yang belum kasih review, ayo review donk, saran dan masukkan juga boleh wkwkwk..

Maaf banget nama kalian ga bisa kusebutin satu-satu tapi kalian adalah inspirasi sebenarnya buat author.

Kalianlah cinta sejati author...chu..

Jangan lupa Reviewnya ditunggu banget okey???

Semoga para readers suka ama chap ini. Terima kasih..

Saranghae.. Bow *