Shokugeki no Souma bukan milik saya, saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
.
.
.
Persona
Ada sebuah tempat khusus yang selalu menjadi sudut manis. Itu adalah tempat di mana, Aldini sering menghabiskan waktu bersamaku. Dia mengklaim hanya aku dan Adiknya saja yang tahu soal ini, aku agak tersanjung mendengarnya. Apalagi setelah ia sering membantu dan memberi jepit permen sebagai jimat atas keberuntunganku.
Tempat ini adalah sebuah Danau, ya, Danau itu.
Aldini mengatakan ada banyak orang-orang berharga yang berbahaya di Totsuki, seperti saat pertamakali aku dan dia memadu sebuah kerja sama, ia mengatakan hal yang serupa.
Kali ini, ia membawa nama-nama baru yang terdengar samar bagiku, dia memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk berbicara mengenai 'Orang-orang yang sudi menukarkan jiwanya untuk kemenangan memasak' agak berlebihan sebenarnya tapi aku lumayan menyukai anggapan modis semacam itu, seperti sebuah ancaman yang memotivasi.
Aku sebenarnya sudah melihat nama-nama itu dari data Ayah dan untuk menghargai senyum manis dan kerja keras yang patut aku apresiasi dari Aldini, aku berkata 'Terima kasih' pada akhir ucapan, ia berlagak seperti pahlawan seorang gadis impian. Maksudku ia langsung malu seperti biasanya.
Aldini selalu bersungguh-sungguh tentang segalanya, ini adalah kehebatan dirinya, jujur saja aku memendam rasa yang takjub dan rupawan hanya pada jiwa Aldini. Meski ia tak bisa sesantai Yukihira atau semenarik sifat aneh Nakiri. Tapi hanya anak ini yang membuatku nyaman.
"Di sini ada Nakiri yang lain. Namanya Alice Nakiri. Dia agak mirip denganmu, sekilas. Alice ada di kelas lain tidak sama dengan kita, semacam sesuatu yang khusus karena aku jarang melihat dia ada di kelas yang sama. Tapi nilai kedua Nakiri ini disatukan sama dengan siswa lain."
Ditunjukan sebuah potret remaja berhelai putih yang jatuh menelewati rahang tegasnya juga manik scarlet tampak berwibawa, senyumnya tipis tapi anggun. Lebih mirip seperti seorang 'Nona Muda' tanpa arwah, sebuah boneka hidup. Agak beda dari Nakiri Erina. Manik scarlet milik Alice membuatnya terlihat lebih sempurna.
Satu kata. Cantik.
"Dia cantik."
"Ya, tapi kurasa hanya kau yang dapat menyaingi kecantikannya, Demian." Tawa muslihat terselip dibingkai wajah, aku membalas tawa itu sebagai sebuah landasan. Ia mengusap kening penuh peluh itu, menegak seteguk teh Oolong dengan memesona. Aku yang membuatnya.
Dirinya diam sejenak untuk bernapas lalu melanjutkan. "Aku tidak begitu paham mengenai kemampuannya, tapi dia seorang modern yang terampil. Dia membuat segala sesuatunya tampak menarik dari segi penampilan. Orang akan jatuh cinta pada hidangannya..."
"...atau?"
Aldini membalas pertanyaanku dengan alis terangkat, seperti tengah menggoda, aku diam saja menikmati sensasi. "Atau apa?"
"Kau membuat ucapanmu menggantung, Takumi."
"Jujur, aku ingin mengalahkan Alice selain soal Yukihira. Nilaiku selama semester ini selalu ada di bawah Alice dan itu sangat menyebalkan. Tapi dia adalah seorang elit jadi aku bisa memakluminya."
"Takumi, dengarkan aku." Dengan senyuman, kutuang kembali teh Oolong pada gelas biru milik Aldini. Ia menatap isian gelas seperti mengagumi lukisan agung. Wajah penuh kasih yang tampak serius membuatku penasaran, maniknya berkilat-kilat minta untuk di pahami.
Ronanya terlukis di bola mataku, aku menunggunya untuk bicara lagi dan lagi, mendengar suara lembut itu pada menit ini.
"Aku selalu mendengarkanmu, Demian."
"Begini, kau itu lebih dari seorang elit, Takumi. Aku percaya kalau kau akan sangat hebat untuk berdiri di depan wajan dan kompor, percayalah, aku selalu mendukungmu!"
Aldini, tangan yang bebas miliknya terulur untuk menyentuh helaiku, ia memainkannya dengan ujung jari dilanjutkan oleh segaris senyum dengan kepala sedikit di miringkan. Kelopak matanya seolah ikut tersenyum, dia seperti sebuah kebahagian di festival musim semi.
"Kau selalu bicara begitu, Demian. Nyatanya itu menjadi beban dalam pikiran liarku. Dengar, aku menggantungkan seluruh potensiku pada ucapanmu itu dan juga pada sosokmu, kau membuatku kuat. Jadi jika aku kalah kau harus kena hukuman."
Aku tertawa, pura-pura tak mengerti. "Hukuman macam apa?"
"Ya, kau mau ke Italia bersamaku?"
Sejak ucapan acak itu terlontar dari mulut Aldini. Aku memiliki perasaan yang sedikit aneh padanya, aku tidak begitu yakin seperti apa kiasannya atau bentuk mustahilnya. Tapi aku pernah mendapatkan hal semacam itu dari seseorang di luar sana, yang sekarang mengplokamirkan sebagai musuh sejatiku.
"Ngomong-ngomong, aku sering melihatmu berbicara dengan Kuga-san. Apa kau kenal dia? Kau tahu 'kan, dia salah satu anggota Elit 10?"
Apa aku harus mengatakan tentang apa yang terjadi? Agaknya aku tak boleh melibatkan Aldini pada garis kekalahan ini, aku tak mau melihat dia kalah dan menangis karenaku. Aku tak mau dia gagal dalam peperangan.
"Ya, dia memintaku untuk melalukan sesuatu yang agak sedikit memantul."
"Kuga-san memang yang paling santai di Elit 10, mungkin sama dengan Isshiki-san. Tapi, Isshiki-san itu agak membuatku merinding, dia pernah membuat masalah di sekolah dan hampir dikeluarkan."
"Aku tidak tahu soal itu, dia selalu bersikap baik padaku." Kusembunyikan fakta bahwa Isshiki sering menggoda, mengatakan hal janggal dan melakukan tindakan-tindakan aneh. Dia memang aneh seperti yang kugambarkan, tapi ada sesuatu kelewat spesial yang membuat diriku takut pada sosok itu. Seperti seorang cerdas yang menyembunyikan jati dirinya.
"Isshiki-san itu memang setia kawan, tapi hanya pada teman-teman satu asramanya. Oh ya, soal masalah itu kami para murid Totsuki sepakat untuk tak mengatakannya pada orang di luar Totsuki. Jadi, karena kau menjadi murid Totsuki aku akan memberitahumu..."
.
.
.
Pada sebuah kegelapan, ketika diri ini mendapati bahwa aku tertidur di kelas akibat pelajaran tambahan. Aku merasa ada seseorang yang tengah berbicara pada diri sendiri, itu yang membuatku sadar dan bangun. Tapi aku masih diam dalam posisi ini, aku kesulitan bangkit, leherku sakit sekali.
Saat itu juga seutas suara yang lembut memanjakan telinga seperti tengah membacakan dongeng. Dongeng manis berbau sastra.
Aku membuka kelopak mata, mencoba membiasakan diri, tapi leherku masih sedikit sakit hanya untuk duduk tegak. Kemudian aku mencoba melihat siapa gerangan yang melintasi setengah mimpiku ini, dia adalah sosok yang sedang aku selidiki.
Sosok itu tengah duduk mesra di sebelahku, tepat di sampingku, ia menggunakan kemeja putih pendek dari apa yang aku lihat. Wajahnya tak begitu jelas terlihat, tapi kepalanya bercahaya, warnanya putih terang agak keperakan.
Setelahnya aku mencium sebuah aroma. Itu adalah aromanya, aroma miliknya seperti kue cokelat dan permen kapas putih. Sesuatu yang selalu membuatku nyaman ketika aku masih kecil. Aroma yang pertama aku hirup ketika aku mengenal apa itu wajan.
Beberapa detik kemudian aroma itu menghilang, aku sedikit kecewa tapi biarlah, kemudian sesuatu yang aneh berganti menjadi suasana lain. Sosok itu menggumamkan sesuatu yang secara perlahan berubah menjadi senandung musim panas. Aku ingat nadanya, ritmenya, suasananya. Itu adalah lagu rindu lama yang sering aku nyanyikan.
Tangan kirinya terulur, ia menepuk kepalaku sebanyak tiga kali dan menenggelamkan kepala di atas meja, melakukan kegiatan yang sama sepertiku. Manik ungu menatap datar, mengapit manik biruku yang melotot karena kaget, ia seperti sedang mengasihaniku atau sesuatu yang mirip seperti itu.
"Kenapa kau ada di sini?" Ia bertanya, setengah berbisik, seperti mendesis, membuatku merinding. "Bukan kau yang seharusnya ada di sini. Aku sudah dengar dari Rain Demian."
Sontak aku terkejut, mataku melotot karena kaget. Suaraku tidak mau keluar sama sekali, melihat Tsukasa Eishi yang menembak jantungku dengan tatapan sadis seperti itu, membuatku seluruh sistem tubuhku mati.
Suara Eishi semakin menusukku, ia terus berbicara dengan nada suara seperti itu. "Aku sudah lihat keadaan Rain, dia parah sekali untuk kecelakaan tertabrak mobil. Untung saja dia tidak koma, tapi apakah ini jalan satu-satunya? Kalau ketahuan kau akan mati."
"Karena aku harus melakukannya, demi Rain."
"Aku tahu alasannya, jika itu demi Rain kau akan melakukan segalanya, kelemahanmu itu Rain. Aku tidak akan mengatakan soal ini pada soal jati dirimu dan Rain Demian yang memintanya padaku. Tapi, siapa saja yang tahu soal ini?"
"Kepala Sekolah, Ayahnya Erina, kau? Kau sudah tahu sejak awal kalau aku bukan Rain 'kan?"
Ada tawa yang terdengar ditelinga. "Tentu, aku sudah tahu sejak awal kalau kau bukan Rain, sejak pidatomu di awal masuk sekolah, kemudian ketika kau melihatku di podium. Hal lain adalah, kau punya warna mata yang jelas beda dengan Rain."
"Apa aku terlihat mencurigakan?"
"Tidak, tapi karena dulunya kita adalah teman, jadi hanya aku yang merasakan soal kejanggalan ini. Kau pasti mau menyalahkanku jika aku yang menerormu di mading sekolah. Itu bukan aku..."
Dalam keadaan setengah menangis, aku berkata. "Eishi, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menyembunyikan ini terus menerus dan keanehan demi keanehan mulai bermunculan. Aku takut sekali."
"Itu bukan jawaban. Aku akan membantumu mengatasi masalah tapi aku akan menjaga jarak darimu, sekarang yang kau lakukan hanya berkelakuan seperti biasa."
"Eishi!"
"Itu alamat emailku yang baru kau pasti membutuhkannya."
.
.
.
Hari itu akhirnya tiba dan aku baru melihat Yukihira lagi setelah dia, menurut Megumi melakukan tindakan spiritual bersama Isshiki. Aku tidak tahu soal apa dan kala aku bertanya, Isshiki malah menggoda dan memeluk erat tubuhku dengan alasan jarang bertemu, ia memang senang memeluk orang tapi tidak dengan ciuman mendadak di pipi yang membuat seluruh asrama heboh.
Pada pagi buta itu Isshiki bertanya soal kenapa aku pulang agak telat dan dia mencurigaiku sedang melakukan hal-hal aneh di luar pengawasannya. Dan tatapan sinis itu hadir kembali ketika aku bilang kalau aku mengobrol santai dengan Kuga, ia juga melupakan soal ciuman tiba-tiba di pipi dan mulai menceramahiku soal ini dan itu.
Aku sudah mendengar itu dari Aldini, Kuga, Eishi, Nakiri dan semuanya yang aku temui kemarin. Sesuatu yang kuanggap sebagai acuan, sesuatu yang agaknya penting.
"Demian-san, kau bertemu dengan Tsukasa ya?"
"Kenapa kau berpikir kalau aku bertemu dengan Tsukasa-san? Aku bahkan tidak mengenalinya."
"Tidak. Kau kenal dia secara personal, aku melihat reaksimu di podium ketika kau mengambil video Yukihira saat Shokugeki. Kau kaget sekali melihat Tsukasa..."
Nada suaraku menaik. "Tidak!" Lalu melanjutkan. "Bukan begitu, kau tak tahu apapun, Isshiki-san!"
Sebuah senyum penggoda ia persembahkan, jujur senyuman itu selalu membuatku malu dan sedikit salah tingkah. Dan hanya Isshiki saja yang senang melakukan ini. "Demian-san~ melihat reaksimu itu aku jadi curiga kalau kau memiliki perasaan khusus pada orang nomor 1 di Totsuki. Katakan, apakah dia baru saja menyatakan perasannya padamu?"
Kubalas ia dengan gertakan yang terdengar seperti amarah yang di tahan. "Tidak, aku tidak bertemu dengan Eishi!"
Tapi aku malah terdengar seperti Nakiri.
"Aaah~ kau memanggilnya dengan nama panggilannya, padahal kau tadi memanggilnya Tsukasa-san, duh itu manis sekali, semanis wajahmu. Apa dia..."
Ucapan itu dibuat menggantung, ia berjalan mendekatiku, kedua manikku dan milik Isshiki bertemu, berserta tatapan sinis yang ia hadirkan ketika menyudutkanku. Oh, dia mulai lagi. Ia tak dapat menahan sebuah gelora dan tepat pada detik itu ia mendekati telingaku, lalu berbisik. "Apa dia tahu siapa kau sebenarnya?"
"Apa maksudmu?" Suaraku melemah.
"Kau bukan Rain Demian. Aku tahu, kau seseorang yang lain... Kau adalah... AME Demian."
Tawa lepas hadir di seluruh ruang asrama, menggema seperti genderang yang menyerukan perang dunia. Isshiki tergelak dan tertawa semakin keras ketika aku menyuruhnya diam. Hal ini membuat Yuki mengamuk karena Isshiki terlalu berisik seperti serangan tawon di hutan. Wajahku merona bukan main, aku kaget sekali, itu terlalu mendadak dan sangat aneh.
"Demian-san~ aku sudah lama tidak menggodamu, kau masih manis seperti biasa. Ekspresimu membuatku ingin sekali menciummu sekali lagi. Rain dan Ame itu kan artinya sama, kenapa kau kaget seperti itu?"
"Isshiki-san, biarkan aku pergi. Aku tidak mau kesiangan untuk melakukan test!"
"Um, sayang sekali kalau kau mau pergi, padahal aku ingin mengajakmu sarapan, hm aku punya sesuatu yang bagus dan kau adalah Tasterku! Tapi tak apalah, oh ya, di tempat test nanti ada yang ingin berbicara denganmu, katanya penting dan dia ingin bicara padamu saja."
"Siapa?"
"Katakan dulu kalau kau mencintaiku baru akan kuberitahu!"
"Isshiki Satoshi, aku mencintaimu."
"AAAAAAAH~ ini terdengar aneh, tapi manis sekali, seharusnya aku merekamnya dan menjadikannya alarm tidurku. Tidak, aku hanya bercanda. Orang yang ingin bicara denganmu namanya Dojima, dia bilang sih dia kenal Ayahmu."
A/N : FINALLY, saya bisa update FF ini lagi setelah sekian lama saya tinggalkan demi menyelesaikan FF lain *crying in the corner* maafkan untuk update yang lama padahal saya cinta banget sama Demian-san~~~~~~
Apakah kalian merindukan Rain Demian dan para cowok yang mengelilinginya? Hehehe. Nah, di chapter ini saya udah sedikit ngasih bayangan siapa Rain Demian, tapi gak saya kasih tau semuanya biar gak terlalu cepet.
Terima kasih kpd teman-teman yang setia menunggu dan membaca ini, terima kasih juga buat pembaca baru yang datang ke laman saya, terima kasih buat followers baru yang ngefollow akun saya. I love youuu, i do love youuuu.
