Love Experiment
EXO's Fanfiction
ANNOTATION
Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.
Be a wise reader.
Don't copas and be a plagiarist.
This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Byun Baekhyun, Park Chanyeol as main cast, other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Chanbaek, Kaisoo, Hunhan. Genre Romance, Friendship. Length: ?. Rate: T.
I'm not a writer but I love to write.
e)(o
Sepertinya aku terkena karma karena terlalu sering bermain-main dengan perasaan seseorang. Tapi jika setelah itu aku dimaafkan maka tidak apa.
Aku akan bertahan pada pria tidak peka ini.
-Byun Baekhyun-
.
Tahun pertama kepergian Chanyeol
"Aku akan segera diwisuda dan kau tidak berniat pulang juga?" Baekhyun mencembikkan bibirnya.
"Maafkan aku Baek."
"Aniya, kenapa kau tidak mengerti keinginanku huh? Aku hanya ingin kau ada di sisiku di hari yang penting itu."
Chanyeol menghela nafas. Ia tahu ini tidak akan mudah. "Baek, ini tahun pertamaku di Perancis dan juga aku sudah mulai magang di perusahaan appamu. Aku tidak mungkin meninggalkannya hum. Aku janji akan segera menyelesaikan semua ini dan menemanimu."
"Tapi itu lama sekali Yeol."
"Aku tahu. Bersabarlah."
e)(o
"Kau makan dengan baik?"
Baekhyun bergumam. "Tak bisakah kau pulang? Lusa Luhan dan Sehun akan menikah? Kau tidak ingin datang?"
"Baek, kau tahu ini belum lama sejak aku di sini. Aku akan mengirimkan kartu ucapan dan bingkisan pada mereka. Kau mau mengirim sesuatu bersama?"
"Aku membencimu Park."
"Aku juga merindukanmu Baek."
e)(o
Pesta itu digelar dengan sangat meriah. Menggunakan hallroom yang disulap sedemikian rupa menjadi ruangan bernuansa putih dan silver bertema musim dingin. Pasangan pengantin yang berdiri di panggung utama tidak henti-hentinya tersenyum.
"Luhan-a, Sehun-a. Chukkae! Aku sepertinya harus kembali sekarang."
Dahi Luhan berkerut, bibirnya mencembik tak suka.
"Apa kau tidak bahagia temanmu menikah huh? Wajah muram seperti apa yang dipasang bridesmaid pengantin seperti itu? Orang-orang akan mengira kau selingkuhan Sehun yang ditinggal menikah." Ucap Luhan sebal.
"Lu-" Sehun mengusap punggung terbuka Luhan. Ia merasa tidak enak pada Baekhyun. Bagaimanapun semua orang tahu kalua gadis itu sedang berada dalam suasana hati yang sangat buruk saat ini.
"Mian." Lirih Baekhyun. Matanya sudah berkaca-kaca. "Aku hanya merasa ini tidak adil. Chanyeol bahkan tidak pulang."
"Baek." Kyungsoo meraih Baekhyun dalam pelukannya.
"Gwenchana, Chanyeol pergi kan juga karenamu Baek. Bukankah kau seharusnya mengerti keadaannya." Sinis Jongin. Kyungsoo buru-buru menepuk keras pungguh Jongin membuat pria itu mengerang tertahan.
"Soo! Itu sakit sekali!" Seru Jongin, Kyungsoo melayangkan tatapan tajam ke arah jongin.
"Diam atau mulutmu ku perlakukan sama huh?" Ucapnya tajam. Jongin buru-buru menutup mulut.
e)(o
Chanyeol bergerak menyodorkan cup kopi kepada pria yang lebih tua. Keduanya sedang duduk di pinggiran taman gedung kantor. Suasana begitu sepi.
"Kau yakin tidak akan pulang Park? Aku mengijinkanmu."
Chanyeol menggeleng. "Animnida abeoji. Itu hanya akan membuatku sulit jika melihat Baekhyun secara langsung." Pria itu menghela nafas.
"Apa kau tahu seberapa kesulitannya aku menghadapi rengekan gadis itu? Aku tidak mengerti kenapa perempuan suka sekali merengek." Pria yang lebih tua, Byun Baekho mendesis. "Ia mirip sekali dengan ibunya."
"Istri abeoji pasti cantik sekali."
Byun Baekho tertawa. "Ya, ia jauh lebih cantik dari pada Baekhyunie." Chanyeol tertawa. "Kau tahu, dulu Ibu Baekhyun itu diva di kampusnya. Ia memiliki harga diri setinggi langit tapi sifat yang polos seperti kertas putih."
"Benarkah? Bagaimana abeoji bisa bertemu dengan Byun eommoni?"
"Aku harus mengalami kecelakaan parah hingga koma untuk itu."
"Huh? Apa yang terjadi?"
"Wanita itu menabrakku dengan mobilnya. Lalu yah, ia jatuh hati padaku setelahnya. Kami menjadi dekat karena ia yang merawatku. Aku sudah yatim piatu saat itu."
"Abeoji terlihat sangat mencintai Byun eommoni. Pasti berat membesarkan Baekhyun seorang diri." Byun Baekho tertawa.
"Kau benar sekali. Sejak kecil Baekhyun memang anak yang aktif. Aku harus kelimpungan mengatasi semua tingkah lakunya."
Keduanya memang menjadi dekat seiring waktu. Byun Baekho tidak akan melepaskan Chanyeol begitu saja. Ia turun tangan langsung ketika menerjunkan pria itu ke perusahaannya. Bahkan pria itu beberapa kali menyempatkan untuk menemui Chanyeol disela-sela kunjungan bisnisnya hanya untuk sekedar berbincang. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan Baekhyun.
e)(o
Tahun kedua
"Chanyeola!"
"Hum?"
"Apa kau tahu, aku mulai bekerja bulan ini."
"Benarkah? Eoddi?"
"Aku diterima di General Mills! Tentu saja atas usahaku sendiri." Chanyeol tertawa membayangkan bagaimana ekspresi Baekhyun saat ini.
"Kau harus bekerja dengan keras Baek."
"Tentu saja. Bagaimana di sana?"
Chanyeol meletakkan bolpoinnya ke atas meja. Mengamati sekitar lingkungannya. Ia tidak perlu berdiri dari kubikelnya untuk melihat seberapa sibuk ruangan di divisi itu. "Sibuk, sangat sibuk."
"Di sini sudah sangat sepi. Kyungsoo dan Luhan sudah tidur sejak setengah jam yang lalu."
"Ah matta, bukankah ini sudah hampir tengah malam di Seoul. Tidurlah Baek."
"Aku masih merindukanmu." Rengek Baekhyun.
"Kau masih harus bekerja besok. Aku akan menelfonmu lagi besok saat jam istirahat makan siangmu."
"Yaksok?"
"Yaksok!"
"Baiklah. Aku akan tidur."
"Jaljayo Baek. Kau tahu kan aku merindukanmu? Haru haru.."
"Hum nado."
e)(o
Tahun ketiga
Tahun ketiga merupakan tahun terberat bagi Chanyeol dan Baekhyun. Kesibukan yang semakin meningkat. Perbedaan waktu yang banyak. Semua itu menjadi faktor renggangnya hubungan keduanya. Tak jarang mereka akan bertengkar lalu berbaikan setelahnya. Begitu terus berulang. Tidak dapat dipungkiri rasa bosan mulai merayap pelan di hati keduanya. Terutama Baekhyun.
Gadis itu sangat popular di lingkungan perusahaan. Tak jauh berbeda dengan keadaannya saat masih berada di lingkungan Yonsei dulu. Tak jarang ia menghabiskan waktu di club malam bersama beberapa rekan kerja prianya hanya untuk sekedar berbincang. Baekhyun merindukan Chanyeol dan semua keberadaannya sedangkan itu sulit sekali ia dapatkan. Chanyeol sendiri lebih memilih untuk meneguhkan diri agar pendidikannya cepat selesai dan segera pulang.
Chanyeol menghela nafas. Diletakkannya tablet yang menampakkan foto kekasihnya dengan pria lain di sebuah club malam. Ia ingin sekali marah, tapi ia juga merasa tak berhak untuk itu.
"Baek."
"Hum?"
"Neo eoddiya?"
"Nan? Aku sedang berada di apartemen." Baekhyun berbohong dan Chanyeol hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Kau di luar Baek. Aku bisa mendengar suara musik di sana."
"Itu dari kamar Luhan."
"Tidurlah. Ini sudah cukup larut. Aku sudah bilang jangan menyentuh alkohol sedikitpun bukan?"
"Apa kau tidak percaya padaku?" Suara Baekhyun meninggi.
Chanyeol menarik nafas dalam menahan emosinya. "Baek aku hanya khawatir padamu."
"Kalau kau khawatir seharusnya kau pulang sejak lama Park!" Pekik Baekhyun.
"Maafkan aku Baek. Aku janji akan segera kembali."
"Kau dengan segala janjimu! Aku tidak butuh janjimu Park. Kenapa kau tidak pulang saja?"
"Baek, mengertilah."
"Aku sudah mencoba mengerti selama tiga tahun. Tapi sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
"Baek-"
"Kita putus saja." Chanyeol memejamkan matanya. Kepalanya terasa berdenyut. Ia juga lelah. Tapi rasa cintanya lebih besar.
"Baek, aku mohon. Kita bisa bicara baik-baik."
"Aniya. Kau boleh berada di sana selama yang kau mau. Hubungan kita cukup sampai di sini saja."
Dengan begitu hubungan mereka benar-benar berakhir. Chanyeol sudah berulang kali mencoba menghubungi Baekhyun tapi gadis itu tidak memperdulikannya sama sekali.
e)(o
Tahun kelima
Chanyeol berhasil menyelesaikan pendidikannya lebih cepat. Ia hanya perlu menunggu dalam hitungan hari sebelum gelar master degree dengan predikat sumacumlaude di bidang bisnis resmi disandangnya. Tapi di balik itu semua ia hanya merasa hampa. Tahun lalu ketika ia lulus dengan predikat cumlaude bahkan berada di jajaran lulusan terbaik angkatannya hanya Byun Baekho yang menghadiri acara wisudanya. Tapi ia bersyukur pria paruh baya itu masih menganggapnya seperti putranya setelah hubungannya dengan Baekhyun berakhir.
Ini sudah hampir dua tahun sejak ia benar-benar loss contact dengan mantan kekasihnya itu. Dan semakin hari ia hanya bisa menahan marah dan rasa sedih ketika bodyguard Byun Baekho mengirimkan laporan keseharian mantan kekasihnya itu padanya. Baekhyun sudah memiliki kekasih. Ya, seharusnya begitu. Gadis itu memang tidak bisa dibiarkan sendiri. Chanyeol ikut bahagia ketika melihat senyum lebar Baekhyun di foto-fotonya, ia berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya dan yang terpenting selalu ada untuknya. Tapi ia juga tidak memungkiri betapa hatinya terluka karena hal itu.
"Kau melamun lagi anak muda." Chanyeol mengerjapkan matanya. Ia segera mematikan tungku kompor ketika menyadari masakannya sudah hampir serupa dengan warna arang.
Baekho menghela nafas. Ia merasa prihatin dengan keadaan pemuda tinggi yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri itu.
"Kau sangat buruk."
Chanyeol tertawa sumbang. "Aku akan membuat menu lain abeoji. Sepertinya aku tidak ahli membuat menu yang ini."
Keduanya sedang berada di apartemen tempat Chanyeol tinggal selama di Perancis. Pria paruh baya itu berkata ingin menghabiskan beberapa waktu liburan di Perancis dan memutuskan untuk tinggal bersama Chanyeol selama ia berada di sana. Ya, hubungan mereka sedekat itu.
"Hatimu yang tidak ahli menangani masalahmu Yeol." Chanyeol tersenyum miris. Menyetujui perkataan itu. "Setelah upacara wisudamu berakhir, kita akan langsung kembali ke Seoul. Aku sudah menyiapkan semuanya. Segeralah kemasi barang-barangmu dan selesaikan urusanmu di sini."
"Abeoji, apa itu tidak terlalu terburu-buru?" Tanya Chanyeol terkejut.
Yang lebih tua menggeleng. "Memangnya untuk apalagi kau berada di negara ini huh?" Chanyeol menghela nafas panjang.
"Aku masih butuh sedikit waktu sebelum kembali. Lagi pula, tidak ada alasan lagi untukku kembali." Baekho tertawa.
"Ya! Anak muda, aku menyekolahkanmu jauh-jauh ke Fontainebleau adalah untuk membantuku. Kau akan menjadi sekretarisku nanti tepat setelah kembali."
"Abeoji, apakah itu tidak terlalu berlebihan?" Rengek Chanyeol. "Aku bisa memulainya dari karyawan biasa."
"Aku atasanmu. Apa kau sedang memerintahkanku?"
"Animnida abeoji. Geundae, apa kata orang nanti. Aku juga tidak akan menjadi calon menantu abeoji lagi. Baekhyun sepertinya bersungguh-sungguh dengan kekasihnya kali ini."
"Aku tidak peduli pada pria yang akan dinikahi Baekhyun itu. Tapi aku juga tidak akan membuang percuma bakatmu." Chanyeol mencembikkan bibirnya. Ia secara tidak sadar seringkali bertingkah manja pada pria yang sudah dianggapnya sebagai appa itu.
"Oh, temanmu itu juga akan segera menikah. Tidakkah kau ingin menghadiri upacara pernikahannya? Dulu kau sudah mangkir dari tugasmu sebagai teman saat si albino itu menikah."
"Ah matta. Jongin dan Kyungsoo akan segera menikah." Gumam Chanyeol. Ia merasakan jantungnya berdenyut nyeri mendengar kata itu. Impiannya untuk menikahi kekasihnya harus ia kubur dalam-dalam.
e)(o
Seoul, Desember 2017
Pria dengan tubuh tinggi bak model itu melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Tubuhnya dibalut dengan kemeja berwarna putih berlapis sweater hitam, kakinya yang jenjang memakai celana jeans berwarna serupa. Dihidungnya yang mancung tertengger kacamata hitam, sedangkan lengannya yang bebas dari koper menenteng sebuah tas kerja dan mantel.
Chanyeol. Pria itu sudah banyak berubah.
"Park Chanyeol-nim!" Suara itu membuat Chanyeol menoleh. Dilepasnya kacamatanya.
"Ya! Yeoksi, uri Park Chanyeol-nim semakin tampan setiap waktunya."
"Jongin? Sehun? Bukankah kalian bilang tidak bisa menjemputku?"
Keduanya tertawa. "Bagaimana kami bisa menolak perintah sekretaris seorang presdir huh." Chanyeol tertawa.
Teman-temannya tidak berubah. Seoul juga tidak banyak berubah. Hanya hatinya yang akan berubah. Tiba-tiba langit terasa kelabu.
e)(o
Chanyeol melihat sekali lagi pada tablet yang menunjukkan jadwal atasannya sebelum menatap sang atasan.
"Ye, saya rasa presdir Byun bisa beristirahat sekarang. Saya akan mengurus sisa pertemuan yang ada. Jadwal akan saya ubah ke minggu depan."
"Aniya! Kau bisa menggantikanku untuk itu. Jangan ditunda."
"Tapi presdir, saya rasa ini terlalu-"
"Ya! Ini perintah."
"Ye. Algeusimnida sajangnim."
"Appa! Appa sakit?" Pekikkan itu mengejutkan Chanyeol.
Sejak kepulangannya sebulan yang lalu ia selalu menghindari segala kemungkinan ia bisa bertemu dengan gadis ini meskipun hanya sekedar berpapasan. Jiwanya belum siap untuk itu. Dan hari ini, karena Byun Baekho sakit ia terpaksa mengunjungi mansion Byun. Lalu secara tidak sengaja bertemu dengan gadisnya, ah ia merasa tidak pantas mengucapkannya.
Setelah lima tahun. Tak banyak yang berubah darinya. Gadisnya masih tetap cantik, bahkan semakin mempesona. Tubuhnya masih mungil dan Chanyeol yakin ia sangat menjaga postur tubuhnya itu. Selera berpakaian gadis itu sepertinya berubah. Jika dulu ia sering menggunakan warna-warna pastel dengan banyak motif. Maka sekarang penampilannya semakin anggun. Tanpa sadar Chanyeol mengulum senyum pahit. Beruntung sekali kekasih gadis ini.
"Tugas saya sudah selesai sajangnim. Saya akan kembali ke kantor. Semoga sajangnim cepat sembuh. Geurom." Chanyeol membungkukkan tubuhnya. Pria itu kemudian menundukkan kepalanya kepada Baekhyun sesaat sebelum meninggalkan ruangan.
.
.
.
"Kau tidak menyapaku dengan benar Park?" Suara itu membuat tubuhnya menegang. Dengan berat ia membalikkan tubuhnya.
"Annyeonghasimnika Byun Baekhyun-ssi." Ucapnya formal. Ia tersenyum simpul.
Baekhyun tertawa sinis. "Hanya seperti itu? Setelah lima tahun?"
"A-ah, bagaimana kabar mu ehm maaf." Chanyeol mengernyit ragu.
"Ah amteun, bicaralah dengan nyaman. Kita dulu pernah dekat."
Chanyeol berusaha menutupi lukanya. "Ah soal itu. Chukkahamnida. Saya dengar anda akan segera melangsungkan pernikahan."
"Pertunangan Park. Dari mana kau tahu?" Chanyeol tersenyum.
"Saya sekretaris Byun sajangnim. Saya akan berusaha mengatur sebaik mungkin jadwal sajangnim di hari bahagia itu."
"Ya seharusnya begitu. Bukankah itu memang pekerjaanmu." Chanyeol mengangguk.
"Kekasih anda sangat beruntung sekali memiliki anda sebagai calon mempelai wanitanya. Sekali lagi selamat untuk kalian, geurom. Saya harus segera kembali ke kantor."
"Tentu saja. Ia bukan pria bodoh yang akan meninggalkanku demi pekerjaanya." Chanyeol hanya bisa tersenyum tipis mendengar sindiran itu. Membungkukkan tubuh lalu beranjak pergi.
e)(o
"Ya! Aku yang akan menikah tapi kenapa kau yang gugup?" Jongin mendesis sebal.
"Ini kali pertama aku menjadi bestman, wajar jika aku gugup."
Sehun melirik sinis. "Tidak jika kau menghadiri upacara pernikahanku!"
"Aku kan sudah mengatakan aku menyesal Hun. Kenapa kau masih mengungkitnya." Chanyeol mencembikkan bibirnya membuat pria berputra satu itu mengernyit jijik.
"Ya! Jangan pasang wajah menjijikkan seperti itu. Kau bukan Ziyu yang menggemaskan!" Seru Sehun. Jongin tertawa geli melihat tingkah kedua temannya.
"Keluarlah, kau harus menyambut tamuku Yeol."
Chanyeol menarik nafas dalam-dalam. "Semoga aku tidak mengacaukannya." Gumam Chanyeol. Pria itu benar-benar nampak gugup.
e)(o
Chanyeol tanpa sadar menahan nafas saat mendapati Baekhyun tengah berdiri menyambut tamu yang datang ke acara pemberkatan hari itu. Gadis itu mengenakan gaun berwarna putih tulang panjang, modelnya one off shoulder, menampakkan lengan-lengan rantingnya. Surai panjangnya digulung rapi ke atas meninggalkan beberapa helai rambut yang dibuat bergelombang. Ia nampak sangat cantik dan Chanyeol hampir berbalik pergi karena tak sanggup merasakan patah hati untuk kesekian kali setiap bertemu pandang dengan gadis itu.
"Park!" Seruan itu menahannya.
"Ye?"
Mata sipit Baekhyun memincing tajam. "Kau mau kemana? Tugasmu di sini." Ucap gadis itu. Chanyeol mengerjapkan matanya.
"Aku akan menggantikan Sehun menemani Jongin di dalam. Sehun akan berada di sini sebentar lagi." Setidaknya ia bisa bicara dengan Baekhyun sebagai teman.
"Kau mau menghindariku karena tahu aku yang bertugas di sini?"
Chanyeol mengusap tengkuknya gugup. "Aniya." Ia segera menempatkan diri di samping Baekhyun setelah berusaha meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja, setidaknya selama berada di acara ini.
"Park Chanyeol? Kau benar Park Chanyeol kan?"
Mata bulat Chanyeol mengerjap. "Ye."
"Minseok eonni mengabaikanku?" Itu Baekhyun yang bersuara. Chanyeol sedikit terkejut, wanita cantik di hadapannya adalah gadis yang sempat ia kagumi sewaktu masih berada di General Mills kini berada di hadapannya.
"Ah mianhae Baek. Aku hanya terkejut melihat Chanyeol di sini. Bukankah kau sedang merampungkan pendidikan di Perancis? Apakah ini liburan atau kau sudah kembali?" Chanyeol tersenyum.
"Aku sudah kembali sunbae. Bagaimana kabar sunbaenim?"
"Aku sangat baik. Kau banyak berubah Chan. Semakin tampan saja." Wanita itu terkikik. "Apa kau sudah memiliki kekasih?"
"Apa sunbaenim tertarik menjadi kekasihku jika aku berkata tidak?" Canda Chanyeol. Wanita itu menepuk pelan lengan Chanyeol.
"Kau ini benar-benar. Ah, pabba apa kau tidak bisa mengenakan dasimu. Itu sedikit miring. Biar ku bantu."
"Eonni, upacara akan segera dimulai. Sebaiknya eonni dan Jongdae oppa segera masuk ke dalam. Aku bisa membantu memperbaiki dasinya."
"Ah matta, ini suamiku Kim Jongdae. Ia direktur keuangan di General Mills."
"Ah annyeonghaseyo, Park Chanyeol imnida. Senang berkenalan dengan anda." Chanyeol menjabat tangan Jongdae. "Saya dulu hoobae Minseok sunbaenim. Anda sangat beruntung memiliki Minseok sunbae." Pria itu tersenyum. Keduanya berpamitan untuk masuk.
"Merunduklah."
"Huh?"
"Aku akan memperbaiki dasimu."
"Aniya Baek, itu tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Kkaebul! Kau adalah sekretaris presdir tapi memasang dasi dengan rapi saja tidak bisa." Cibir Baekhyun. Chanyeol menahan nafas, ia hanya bisa berharap debaran jantungnya tidak terdengar oleh mantan kekasihnya ini.
"Aku tidak tahu kalua Minseok sunbae mengenal Kyungsoo atau Jongin." Chanyeol berusaha mengalihkan kegugupannya.
"Aku yang mengenalkan mereka." Baekhyun menggedikkan bahu tak acuh.
e)(o
Chanyeol berkali-kali menarik dan menghembuskan nafas. Berusaha menahan diri untuk tidak melirik ke sudut ruangan. Hari ini keluarga kecil Oh mengadakan pesta kecil-kecilan untuk ulang tahun putra pertamanya yang berusia tiga tahun. Baekhyun tengah duduk di sova yang berada di sudut ruangan dengan bayi Ziyu di pangkuannya dan kekasihnya di sampingnya, mereka nampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Kau nampak sangat kacau dude. Belum move on huh?" Jongin bersuara. Chanyeol tersenyum miris. Pura-pura memperhatikan gelas panjang berisi jus jeruk miliknya.
"Aku sudah berusaha keras untuk itu." Chanyeol menatap Jongin. "Jadi, kapan kau akan menyusul Sehun huh?"
Jongin tertawa keras. "Aku sedang mengusahakannya." Kyungsoo yang melewati keduanya dihadang lengan Jongin. Pria itu menarik tubuh istrinya mendekat lalu melayangkan kecupan-kecupan seringan bulu ke bibir istrinya membuat Chanyeol mendesis.
"Ya! Aku masih di sini dan ada bayi di ruangan ini. Benar-benar kalian." Tanpa banyak kata lagi pria itu meraih mantelnya lalu berjalan menuju pintu apartemen mewah itu.
"Aku harus pergi sekarang. Tolong kondisikan pasangan baru itu. Oh, Ziyu-ya, tumbuhlah besar dengan baik jangan tiru sikap buruk baba dan mama mu. Na kanda!" Pria itu menghilang di balik pintu.
"Kau ini benar-benar. Chanyeol kan sedang patah hati!" Luhan menepuk keras belakang kepala Jongin.
"Ya! Itu sakit sekali Lu!"
"Haruskah aku mengenalkan beberapa temanku pada Chanyeol? Pria yang malang." Gumam Kyungsoo. Sehun tertawa.
"Kkaebul! Ia bisa mendapatkan gadis manapun yang menarik perhatiannya dengan wajah dan hartanya itu. Ah ya, kecuali seseorang yang sudah memiliki kekasih tentunya." Ucap Sehun sinis.
"Kau benar. Tapi, tidak ada salahnya mengenalkannya dengan seseorang bukan?" Jongin menanggapi. "Aku akan menyusun kencan buta untuknya."
"Apa kau pikir Chanyeol akan setuju?" Tanya Luhan.
Jongin menggedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Tapi ia tidak bisa terus hidup sendirian seperti itu. Lagi pula beberapa waktu lalu kami sempat berbincang mengenai hal ini dan Chanyeol tidak keberatan. Ia ingin segera memiliki seorang putra selucu Ziyu selagi wajahnya belum memiliki kerutan." Kebohongan milik Jongin.
"Ah, teman-teman. Kami akan pulang sekarang." Itu Baekhyun.
"Kenapa terburu-buru?"
Baekhyun menggedikkan bahu. "Aku harus bekerja besok pagi-pagi sekali. Geurom."
e)(o
Suara dentuman musik mengisi ruangan ramai itu. Beberapa orang menggerakkan tubuhnya asal di lantai dansa. Sisanya memilih untuk menikmati cairan alkohol atau sekedar berbincang di sova-sova club.
"Whoa! Song Minho!" Seru Chanyeol. Pria yang dipanggil namanya bergerak memeluk pria yang lebih tinggi.
"Kau semakin tinggi saja Yeol!"
"Kau semakin kaya Minho-ya!" Keduanya tertawa.
Siapa yang menyangka, Song Minho yang lima tahun lalu adalah seorang bartender di klub mewah ini kini menjadi manajer pengelola tempat ini.
"Mau minum sesuatu? Khusus hari ini aku akan menjadi bartendermu." Chanyeol tertawa.
"Aku masih payah jika itu adalah alkohol. Tapi untuk malam ini aku memang berniat untuk mabuk. Buatkan aku apa saja, tunjukkan bahwa skill mu belum pudar." Minho terkekeh.
"Akan segera siap Tuan."
Chanyeol sedan meneguk minuman racikan milik Minho saat seorang wanita dengan mini dress berwarna hitam pekat yang kontras dengan warna kulitnya mengambil tempat duduk di sampingnya. Minho sudah kembali ke ruangannya sejak lima belas menit yang lalu.
"Kau ke tempat ini Park?" Suara itu membuat Chanyeol menoleh. "Ku kira kau sudah pulang."
"Ya, menemui teman lama." Chanyeol menenggak habis minumannya lalu memesan satu sloki lain. "Ku pikir kau bersama kekasihmu." Ucapnya berusaha terdengar sesantai mungkin.
"Aku menyuruhnya pulang." Chanyeol mengangguk. Menenggak alkoholnya yang lain. Baekhyun melakukan hal yang sama.
"Kau nampak sangat kacau." Baekhyun kembali membuka suara.
Chanyeol terkekeh. "Ini tidak seberapa. Aku pernah hampir membakar apartemenku di Perancis karena mabuk." Pria itu menatap Baekhyun dengan alis bertaut. "Apa yang dilakukan gadis yang sudah memiliki kekasih sepertimu di bar ini sendirian huh?"
"Aku gadis dewasa Park. Hal-hal seperti itu merupakan hal yang wajar." Chanyeol mengangguk lalu tertawa kecil. Ia meraih sloki ketiganya malam itu. Menghabiskannya dalam sekali teguk. Lalu kembali meraih sloki lain.
"Jika aku memiliki kekasih nanti, aku tidak akan membiarkannya berada di tempat ini dan mengenakan pakaian sepertimu." Chanyeol bersuara tanpa memandang Baekhyun.
Baekhyun tertawa kecil. "Kau kolot sekali Park." Gadis itu menepuk bahu Chanyeol dan Chanyeol menepisnya ringan.
"Ya, aku memang seperti itu. Aku juga tidak ingin ia menyentuh pria lain yang bukan kekasihnya." Baekhyun tersenyum sinis.
"Semoga kau tidak meninggalkannya hanya untuk karirmu itu." Chanyeol mengangguk setuju.
"Aku juga tidak ingin begitu. Aku ingin sekali pulang, setiap harinya aku berpikir untuk kabur. Tapi demi kekasihku itu aku rela menahannya. Aku berpikir jika aku segera menyelesaikan ini aku bisa segera kembali dan mungkin kami akan menikah nantinya. Aku selalu percaya semua akan baik-baik saja." Chanyeol tertawa sumbang.
"Tapi kau salah Park. Kekasihmu itu butuh kau di sisinya."
"Kau benar. Bagaimanapun juga itu semua salahku. Hey Baek, apa kau memiliki teman yang bisa kau kenalkan padaku?"
"Huh? Untuk apa?"
Chanyeol meletakkan kepalanya ke meja bar. Matanya terlihat berat. Ia sudah setengah mabuk. "Aku mungkin akan menyeretnya ke pelaminan." Baekhyun tertawa kecil.
"Gadis seperti apa yang kau inginkan huh?"
"Geusae." Pria itu menegakkan tubuhnya. Ia menatap tepat ke iris Baekhyun. "Ia seseorang dengan mata sipit. Hidungnya mungil tapi sangat cantik. Bibirnya tipis tapi terasa manis sekali jika dilumat. Ah, ia juga memiliki tahi lalat kecil di sudut bibir atasnya. Senyumnya harus manis. Wajahnya kecil dan menggemaskan. Ia harus memanggilku, Chanyeola, Chanyeola, Chanyeola. Bisakah kau menemukan seseorang seperti itu? Aku akan mengucapkan banyak terima kasih untukmu jika kau bisa." Baekhyun tertawa.
"Mau mencobanya dengan gadis di hadapanmu ini?" Chanyeol tersenyum begitu lembut.
Entah siapa yang memulai, tapi kedua insan itu kini sibuk saling melumat bibir satu sama lain. Memastikan tubuh keduanya tidak menjauh barang satu inchipun. Efek alkohol memang mengerikan, tapi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan efek mabuk cinta.
e)(o
EPILOG
Cahaya matahari mulai merambat perlahan di celah-celah ventilasi. Sedikit demi sedikit mulai berangsur menerangi ruangan secara penuh. Sebuah gundukan selimut besar nampak bergerak. Sepertinya penghuni gundukan itu terusik dengan cahaya yang kian menyilaukan.
"Eungh, Lu! Matikan lampunya jebal!" Salah satu dari dua penghuni gundukan bersuara. Merasa tidak ditanggapi gadis itu menyibakkan selimutnya. "Ya! Aku lelah sekali, tak bisakah kau bantu aku mematikan lampunya!" Pekiknya sekali lagi, masih dengan mata setengah terpejam.
"Ye. Ye sajangnim. Saya akan segera mematikan lampunya." Suara lain terdengar. "Sajangnim tidak perlu berteriak. Saya mendengarnya."
Lalu kedua mata sipit Baekhyun terbuka. Ia melirik horror ke arah gundukan selimut di sampingnya. Matanya beralih menatap pada dirinya sendiri. "Yaish! Park Chanyeol! Apa yang kau lakukan padaku!" Pekiknya nyaring. Chanyeol yang masih memejamkan matanya segera bangun. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan retina dengan cahaya yang masuk.
"Y-ye sajangnim!" Serunya setengah sadar. Sebuah lemparan bantal ke kepalanya membuatnya membuka mata sepenuhnya.
"Yaish! Apa yang sudah kau lakukan padaku!" Pekik Baekhyun.
"B-Baekhyun? Apa yang kau- apa yang kita- dimana kita, uh-" Chanyeol mengusap tengkuknya yang terasa berat. Matanya memerah dan terasa berat.
"Kau tidak mengingatnya? Apa kita baru saja-" Baekhyun tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia melirik tubuhnya yang tidak ditutupi sehelai benangpun kecuali selimut yang ia bagi untuk menutupi tubuh Chanyeol.
"Tunggu sebentar Baek, kepalaku sakit sekali." Ucap Chanyeol. Pria itu menghela nafas berat. Nafasnya terdengar pendek-pendek.
Jemari baekhyun bergerak menyentuh wajah Chanyeol. Ditempatkannya punggung tangannya ked ahi Chanyeol. "Kau demam." Gumamnya. Ia buru-buru meraih asal kain yang tergeletak di lantai. Itu kaos Chanyeol.
Tanpa memikirkan hal lain, gadis itu segera memakainya. Sedikit meringis kesakitan setelahnya, tapi ia mencoba untuk berdiri tegak. "Dimana kau taruh kotak p3k mu huh?"
"Huh?"
"Ini apartemenmu Yeol!"
"Ah benarkah? Ku rasa aku memilikinya di dapur. Entahlah."
Lalu dengan langkah terseok Baekhyun berjalan menuju dapur untuk mendapatkan obat penurun panas. Kebiasaan Chanyeol yang akan demam setelah mabuk ternyata belum berubah.
"Baek! Kau berdarah!" Seru Chanyeol terkejut saat mendapati ranjang di sisinya terdapat noda darah yang sudah mengering, Baekhyun hanya bisa mengumpat sambil masih mencari kotak p3k yang belum juga ditemukan.
END
e)(o
[Interaction Corner]
Terima kasih atas review, follow dan favouritenya. Dari awal sampai akhir FF ini.
Well, saya tahu kalian akan mengeluh endingnya gantung wkwkwk Saya sudah terlanjur mengakhiri FF ini di sini. Tapi sebelum post chapter ini saya sudah mulai menyusun sequelnya, oneshot. Hehe
Michiko Yoshinora Klemente : Aww terima kasih atas pujiannya. Saya baru ketemu kamu tapi sudah pisah di chapter ini heu, semoga kita berjumpa di FF lainnya. Tapi saya penasaran sama arti ID kamu. Wkwk Thank you!
Phe19920110 : Saya juga terharu kamu mau memberi review dan semangat pada saya. Saya tidak terlalu mempermasalahkan jumlah reviewer kok, hanya saja saya mempertanyakan kualitas tulisan saya sendiri. Hehe Thank you!
kepala jamur : kamu Kaisoo shipper ya? Atau kepo sama mereka karena bagian mereka sedikit sekali? Wkwk iyap, ini chap terakhir. Endingnya bikin shock kamu gak ya? Emmm. Soal Chanbaek, saya akan pertimbangkan tapi jujur saja, tema psikologis seperti itu agak berat, saya harus banyak belajar dulu karena sekali lagi saya tidak seimajinatif itu untuk nulis asal perihal penyandang disabilitas karena saya respek sekali dengan hal-hal yang demikian. Mereka orang-orang istimewa. Btw terima kasih sudah support saya dari awal sampai akhir. Thank you!
KimDoYoon : Jangan ke Jongin! Nanti Kyungsoo marah, marahnya Kyungsoo itu lebih serem dari lihat FF dinyatakan discontinued atau penulis favorit yang hiatus tau haha. Thank you!
Kazuma B'tomat : Memang, godaan slight pair itu terkadang begitu ya. Kayak pas nonton DOTS hmmm. Ada tidak ya, ada tidak ya. Saya sejujurnya jadi kepikiran buat FF khusus Kaisoo sebagai side story karena banyak yang berpaling ke Kaisoo haha dasar labil sayanya. Eh tapi sebelumnya saya boleh tau arti nama kamu, unik! Salpok ke tomat, apa itu ada makna khususnya? Thank you!
babybaekchan : Wkwk sepertinya harapan kamu meleset. Btw Thank you!
Kyungie22 : Hmm akan saya pertimbangkan karena banyak yang malah salah fokus ke Kaisoo. Haha gak masalah salah lapak, saya justru berterima kasih kamu mau mampir. Wish a better year for us! Thank you!
Neomuchanbaek1 : Iya, bapaknya mah baik. Anaknya yang suka labil tuh. Wkwk Kaisoo nikah! Thank you!
parkobyunexo : Saya juga seneng liat kamu review! Kalau saya update mah tergantung mood dan sinyal wkwk. Sedih kita harus berpisah di sini. Thank you!
Thank you and Love ya all~
Ini chapter terakhir. Sampai jumpa di sequel (kalau kalian masih minat baca wkwk). Saya sedih harus berpisah di sini.
Enjoy!
.
.
Oiya terkait Baekhyun yang sampai minta maaf atas sesuatu yang bukan salahnya. Saya sedih sekali. He doesn't even deserve it! Well, karma does exist. I just hope Baekhyun stay strong and Yeol also other EXO member cheer him up to pass this.
#WeLoveBaekhyun
Sincerely,
Curloey Smurf
