.
.
.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 9 . This is Your Last Game
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
.
.
.
.
"Ketika kamu kehilangan segalanya, yang ingin kamu lakukan hanyalah menyerah dan melarikan diri dari kenyataan. Itu hanya sikap yang sia-sia, bukan? Karena kenyataan itu akan menggentayangimu selamanya berupa sosok hantu yang haus akan jiwamu." —Gakupo
.
.
.
.
Apa kau suka dengan permainan? Entah itu permainan tradisional, atau mungkin yang lebih modern seperti permainan gadget dan game online?
Jika kau bertanya padaku, aku lumayan suka kok.
Apalagi si Kamui.
PSP miliknya penuh dengan game survival horror. Mungkin seperti Fatal Frame, Silent Hill, atau Corpse Party. Terkadang di saat senggang, aku akan mendapatinya memainkannya dengan tampang yang biasa-biasa saja. Malahan setelah dia melihat wajah hantunya terpampang jelas di layar ponselnya, dia hanya akan ketawa-ketawa sinting seolah itu bukan hal yang menyeramkan. Di laptop-nya juga ada banyak. Mulai dari game mini, sampai game full-screen yang akan membuatmu menjerit-jerit karena efek permainannya yang begitu nyata.
Kita tidak akan membahas game yang seperti itu kali ini.
Menurut pendapatku pribadi, permainan itu kurang lebih sama saja dengan ritual yang melibatkan suatu hal yang membahayakan. Karena mereka sama-sama dilaksanakan hanya karena iseng.
Aku akan menceritakan padamu beberapa pengalamanku, dan pengalaman-pengalaman lainnya yang pernah kudengar ceritanya dari orang lain.
Seperti yang pernah Kamui lakukan ini. Aku tidak begitu ingat apa nama ritualnya, tetapi tetap saja akan membahayakan jiwamu jika Dewi Fortuna sedang tidak berada di sisimu.
Katanya, pada jam 2 malam, dia berbaring di atas tempat tidur. Karena dia bosan karena tidak bisa tidur, maka dari itu dia iseng melakukan ritual ini. Pertama-tama dia memperhatikan sudut kanan atas langit kamarnya selama beberapa menit, kemudian beralih pada sudut kiri atas, sudut kiri bawah, sampai sudut kanan bawah. Dilakukan sesuai dengan arah jarum jam kalau aku tidak salah ingat.
Setelah itu, dia mengucapkan suatu mantra. Aku tidak ingat karena mantranya begitu panjang dan rumit. Aku heran bagaimana dia bisa menghafalnya. Apakah karena dia sering melakukannya?
Kemudian, dia menutup matanya, mencoba untuk membayangkan sesosok hantu wanita berambut hitam panjang dengan gaun putih. Sosok yang ia bayangkan itu tidak menapak tanah, dan tanpa bisa dia lihat wajahnya, sosok itu perlahan menghampirinya. Dan sebelum sosok itu akhirnya bisa mencapai dirinya, dia pun cepat-cepat membuka matanya.
Kalau kau sedang tidak beruntung, seharusnya di suatu sudut kamarmu, sosok itu akan berdiri. Dan tanpa kau bisa berbuat apa-apa, kau akan mati di tangannya.
Tapi ya dasar juga si Kamui. Dia selalu beruntung dan sosok itu tidak ada di sudut manapun di kamarnya, maupun di rumahnya. Kemudian dia akan terkekeh pelan, senang karena para hantu ternyata takut padanya, sebelum akhirnya tidur tanpa mendapat gangguan apapun.
"Ritual yang seperti itu cuma menguji keberanian dan peruntunganmu saja kok."
Kurasa di dunia yang fana ini, hanya dia yang bisa dengan entengnya mengucapkan hal seperti itu. Aku saja tidak berani melakukannya. Karena yah, meskipun aku sering tertarik dengan hal semacam itu, aku tidak pernah punya keberanian untuk melakukannya.
Kebanyakan ritual dan permainan hantu yang pernah kudengar akan berakhir dengan kematian jika kau tidak melakukannya dengan benar.
Aku pernah juga mendengar sebuah cerita menggelikan dari Kamui. Mungkin ini hanya sebuah fiksi hiburan semata. Ini sama sekali tidak menyeramkan, tetapi kurasa bagus juga kalau kuceritakan pada kalian.
Ada seseorang yang baru saja pulang dari toko buku. Di sana dia membeli duplikat dari "Buku Kutukan". Dari judulnya sudah bisa kita duga apa isinya. Ya, buku itu berisi berbagai macam ritual yang bisa kita lakukan untuk mengutuk orang lain.
Dia memilih sebuah ritual yang paling simpel namun efeknya sangat dahsyat. Dia membaca langkah-langkahnya sambil mempraktekkannya.
"Seperti yang kau lihat. Ritual ini bisa mengutuk orang lain bahkan tanpa kau menggunakan suatu alat apapun. Hanya saja, kau harus jeli dan jangan sampai kau melewatkan satu pun langkah yang ada dari awal hingga akhir. Karena jika kau salah sedikit saja, maka kutukan itu hanya akan kembali padamu."
"Pertama, tutup matamu." Orang itu menutup matanya.
"Kemudian, bayangkan wajah orang yang ingin kau kutuk." Orang itu kemudian membayangkan seseorang yang amat ia benci dalam hidupnya.
"Dan bayangkan, penderitaan apa yang kau ingin ia rasakan." Orang itu kembali membayangkan orang yang ia benci itu akan merasakan penderitaan yang sangat luar biasa sampai dia mati.
"Dan terakhir. Buka matamu."
Aku tertawa setelah Kamui menceritakannya padaku. Karena kau sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi pada orang itu, karena dari awal saja dia sudah salah langkah. Hahahaha...
Dan aku pernah mencoba ini waktu SMP. Berbicara dengan hantu.
Ritual ini sangat simpel. Karena seperti Kamui katakan di atas tadi, hanya menguji keberanian. Tapi karena waktu itu aku sedang depresi berat, jadi aku nekad melakukannya dan tidak terpikir lagi dengan resikonya.
Pertama-tama, aku menyiapkan dua buah kursi. Yang satu kududuki, dan yang lainnya kubiarkan begitu saja di depanku. Jaraknya kira-kira satu meter.
Pastikan kau melakukannya di sebuah ruangan yang kau yakin tidak akan ada orang yang mengganggumu. Aku melakukannya di ruangan dapur karena pada dasarnya aku lebih berharap bahwa akan ada orang tuaku yang keluar dari kamar mereka karena merasa aneh mendengar aku berbicara sendirian di sana.
Tetapi ternyata tidak sesuai dengan dugaanku. Dari awal hingga akhir, orang tuaku sama sekali tidak terbangun.
Sambil duduk, aku bercerita apa saja. Semacam kegalauanku karena aku sering di-bully oleh kakak kelasku. Pernah di-NTR oleh teman dekatku sendiri. Sampai nilai ulangan Matematika-ku yang entah kenapa tidak ada peningkatan sama sekali.
Aku bercerita panjang-lebar seolah aku sedang bercerita kepada temanku.
Dan perlahan-lahan, aku mulai merasa aneh dan menyadari sesuatu.
Tadi aku sengaja menaruh kursi dengan posisi agak miring ke kanan. Karena aku terlalu asik bercerita sambil menatap lantai, aku tidak sadar bahwa kursi sudah berubah arah menjadi lurus menghadap padaku entah sejak kapan.
Aku terdiam saking syoknya. Aku melihat tidak ada seorang pun yang duduk di sana, tetapi aku merasakan adanya kehadiran yang kuat di sana.
Kemudian aku cepat-cepat berdiri, membungkukkan badan sedalam-dalamnya, meminta maaf karena mungkin kegalauanku ini sudah mengusik "orang-orang" di sini, dan langsung kabur ke kamarku sendiri.
Setelah itu, aku bermimpi bertemu dengan seorang anak perempuan berambut hitam, berkulit pucat, dan tidak punya mata maupun mulut. Hahaha, mungkin karena saking ketakutannya aku sampai terbayang di dalam mimpi.
Uhm, selanjutnya apa?
Oh iya.
.
.
.
.
Aku dan Kamui pernah mengunjungi sebuah rumah tua.
Jadi rumah ini letaknya tidak jauh dari kampus kami. Rumah itu terlihat sangat tua dan sudah lama ditinggalkan. Terbukti dari lantai rumahnya sudah banyak yang runtuh.
"Aku kepikiran ide bagus." Kamui bergumam sambil perlahan menyeringai. Waktu itu kami sudah berada di dalam sebuah ruangan. "Hei, Shion. Kau tahu Five Nights at Freddy's, bukan?"
Tentu saja aku tahu. Itu sejenis survival game. Di mana kau akan berdiam diri di dalam sebuah ruangan, dan kau harus menutup pintu ruangan itu jika kau tidak ingin ditangkap oleh para hantu boneka. Tandanya bahwa kau ditangkap oleh mereka, adalah mereka akan menampakkan wajah mereka secara tiba-tiba di depan wajah kalian. Dan akan terdengar sebuah suara menjerit yang melengking. Bukan masalah seram atau tidaknya, hanya saja mereka munculnya mendadak.
Untuk mengetahui keberadaan si hantu, ada 8 buah kamera CCTV yang terpasang di beberapa sudut ruangan-ruangan yang ada di dalam bangunan. Mau menutup pintunya dari awal permainan? Itu sama saja kau bunuh diri. Karena di pojok layar, ada sebuah parameter baterai dan power, yang menunjukkan seberapa lama dan seberapa banyak kau menggunakan tenaga listrik pada pintu dan lampu. Kalau kau menutup pintu dari awal permainan, baterai akan cepat habis dan kau takkan bisa menutup pintu lagi dan si hantu boneka akan dapat menemukanmu dengan mudah.
Kamera CCTV-nya tidak menggunakan baterai maupun power.
Mendengar ia bertanya seperti itu, mau tak mau aku mulai curiga. "Memangnya kenapa?"
"Bagaimana kalau kita memainkannya di sini?"
Aku segera memelototkan mataku. "Kau pasti bercanda."
"Kau tahu aku tidak pernah bercanda mengenai masalah ini." Dan seringainya pun semakin lebar saja.
Aku hanya bisa memutar kedua mataku. Ah, sudahlah. Mungkin dia hanya ingin sekedar memainkan game-nya. Sementara aku akan memasang headset di kedua telingaku, mendengarkan musik dalam volume maksimum.
Tapi nyatanya aku salah.
Ternyata yang dimaksud olehnya adalah bersembunyi di dalam sebuah ruangan. Dengan kamera CCTV yang entah bagaimana caranya bisa ia pasang, dan kami bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar sana melalui layar yang tersambung dengan kamera. Kemudian kami duduk di dalam ruangan sampai pagi menjelang.
Persis seperti yang ada di dalam game itu.
Dan aku tidak tahu, kenapa bisa ada kamera CCTV tanpa kabel di dunia ini. Inframerah pula. Yang rekamannya bisa ditonton secara live itu loh. Dan katanya, kamera ini juga bisa menyimpan rekamannya. Wah, aku tidak bisa membayangkan berapa harganya.
Tapi berhubung dia sepertinya berasal dari kalangan orang berada, itu takkan menjadi masalah baginya. Apalagi jika itu berhubungan dengan hobinya.
Dan sementara Kamui duduk menunggu di dalam ruangan dengan antusias dan bersemangat, aku hanya bisa duduk meringkuk di sebelahnya. Btw, kursi yang kami duduki ini adalah kursi ruangan yang entah kenapa masih terlihat bagus dan kokoh.
Seakan baru saja ada orang yang pernah tinggal di sini.
"Apakah kau sudah berniat untuk melakukan ini sebelumnya?" Aku bertanya pada Kamui yang asik memperhatikan layar TV yang menampilkan apapun yang direkam oleh kamera-kameranya.
"Aku memang sudah ada niat. Makanya aku mengajakmu ke sini untuk menemaniku."
Duh. Pasti aku yang akan diseretnya untuk melakukan hal seperti ini. Tetapi ah sudahlah. Biarlah.
Kemudian aku melihat jam tanganku. Sudah jam 12 malam. Kami tadi datang sekitar jam 8 malam, berarti dia memasang kamera CCTV itu sekitar 4 jam.
Sekaranglah saatnya kami ber-horror ria. Haha.
Jadi selama di sana, aku tidak begitu ingat apa saja yang kulakukan. Aku memperhatikan sepatu sneakers biruku, lalu memperhatikan sapu yang baru saja kami pakai untuk membersihkan ruangan ini meskipun tetap saja kelihatan kotor. Dan tatapanku berakhir pada layar TV.
Di dalam layar itu, seperti yang sering kulihat di acara TV, terbagi menjadi 8 bagian. Struktur rumah ini menyerupai bentuk U. Kamui memasang kamera-kamera itu; satu di luar pintu depan, satu di dalam pintu depan, satu di koridor menuju ruangan ini, satu di depan pintu kamar ini, satu di belakang kami, dua di koridor jalur lain, dan satu lagi di dalam sebuah ruangan yang aku tidak tahu apa namanya.
"Itu sebenarnya ruangan apa?" Aku bertanya pada Kamui mengenai ruangan misterius itu. Tapi dia sendiri tidak menjawab apapun dan hanya fokus memperhatikan layar.
Dan jangan tanya. Semua ini adalah kerjaan Kamui. Dari tadi aku hanya mengikuti apapun yang ia inginkan.
Karena hanya dia satu-satunya harapanku untuk keluar hidup-hidup dari sini—atau mati di sini. Haha, setidaknya kalau aku mati penasaran di sini, aku tidak sendiri. Masih ada Kamui. Hahaha, aku hanya bercanda. Jangan pikir macam-macam.
"Baiklah. Kita akan bertahan di sini sampai pagi hari. Dan tenang saja, jika kau lapar atau haus, aku sudah membawakan makanan dan minuman." Ia berucap sambil mengambil sebuah snack, membukanya, dan menawarkannya padaku.
"Tidak, terima kasih. Aku sedang tidak nafsu makan." Karena bebauan aneh di sini membuat perasaanku menjadi down. Aku heran kenapa dia bisa betah di tempat seperti ini.
Ia hanya mengangguk, kemudian beralih lagi pada layar berukuran sekitar 14 inci di depannya. Dan lagi-lagi—menyeringai lebar. "Okay, it's time for fun."
Dan setelahnya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Mataku bergerak-gerak gelisah, bergantian menatap jendela, layar TV, dan pintu. Suasana di sekitar kami begitu sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan suara Kamui yang mengunyah makanan. Dan sungguh aku sama sekali tidak merasa nyaman dengan semua ini.
Apalagi penerangan yang ada hanyalah dari cahaya layar TV yang lumayan terang. Cukup terang untuk menerangi seluruh ruangan meskipun tidak begitu terang. Aku memegang sebuah lampu baterai yang mati, jaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi, aku tinggal menyalakannya.
Kemudian, aku memperhatikan apa yang ada di dalam layar itu.
Awalnya tidak ada siapapun di sana. Hanya ruangan kosong, dan halaman rumah yang tidak terawat.
Jam 1 malam, tidak ada kejadian yang berarti. Mungkin Kamui hanya akan menyeringai dan terkekeh pelan ketika melihat ada suatu kemajuan, seperti kardus-kardus bekas di koridor jalur 2 akan bergeser dengan sendirinya padahal tidak ada apapun di sana.
Jam 2 malam, masih tidak ada apa-apa.
Jam 3 malam, aku mulai menangkap sesuatu yang tidak beres. Dari pintu masuk yang ditutup rapat, sebuah kabut mulai terlihat dan membuat kamera koridor di jalur 1 menjadi tidak dapat merekam dengan jelas. Begitu juga dengan kamera koridor jalur 2.
"Kamui, kau yakin tidak apa-apa kita ada di sini?"
Awalnya aku tidak mendapat jawaban. Aku semakin gemas dan kesal karena dia hanya memelototi layarnya seakan dia tidak merasa panik sama sekali. Aku tahu dia pasti panik tapi hanya di dalam hati. "Woi!"
"Tenang saja. Kita aman saja di sini." Bisakah suaranya tidak sesantai itu?
"Apakah karena kau sudah menebar garam? Itu tidak akan berfungsi di tempat ini!" Aku masih saja panik sendiri.
Sementara itu dia mulai mengambil kacang goreng dari dalam tas ranselnya. "Memangnya siapa yang bilang begitu, hm?"
"Trus?"
"Sudahlah, kau tenang saja. Duduk dan nikmati semua rasa takut ini."
Oh aku benci melihat dia menyeringai di saat menyeramkan seperti ini!
Sementara aku panik karena kemungkinan besar kami sudah terkepung oleh sesuatu itu dan kupikir kami akan mati di sini, aku melihat sesuatu di dalam layar itu lagi.
Ada tangan melayang yang terekam di kamera lainnya di koridor jalur 2.
Tangan utuh... tanpa badan... berlumuran darah...
Aku spontan menahan napasku, menelan ludahku, karenanya aku tidak bisa mengeluarkan suara apapun di saat seharusnya aku menjerit. Aku tahu wajahku pasti sudah pucat sekali. "Kamui—apa itu?"
"Hum, tangan, bukan?"
"Badannya mana?"
Dia hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Mungkin dia ingin merusak—"
BZZT
"... kameranya." Tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya, kamera di koridor jalur 2 itu tiba-tiba rusak. Hanya menampilkan semut-semut yang berjalan. "Wah, mungkin kita akan mati di sini~"
"KAU BERCANDA."
"Aku tidak bercanda. Tuh, lihat. Kabutnya mulai masuk ke koridor jalur 1. Mau ke tempat kita."
Aku merasa kedua kakiku lemas seketika.
"Oh iya, Shion." Dia tiba-tiba meletakkan bungkus kacang gorengnya di pangkuannya, lalu mengambil sesuatu dari tas ranselnya lagi. "Makan ini. Kau akan merasa lebih baik."
Dia mengeluarkan sebuah bola coklat dari plastik.
"KENAPA DI SAAT BEGINI KAU—"
"Sudahlah jangan bantah aku!"
Aku terdiam mendengarnya membentakku. Dia menoleh padaku, menatapku dengan tatapan tajam dan wajahnya terlihat begitu serius. Aku terkejut karena sangat jarang sekali dia akan bersikap seperti itu. Biasanya sikapnya santai dan cenderung easy-going. Apa mungkin dia juga merasakan hal yang sama denganku? Merasa panik dan seolah takut kami akan mati bersama-sama di sini?
Hei, jangan artikan dalam arti yang aneh-aneh! Aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kalian!
Tapi mana mungkin dia akan merasa takut. Dia sudah seringkali menentang maut karena keisengannya sendiri, dan sampai sekarang, dia masih hidup dan berada di sampingku. Tapi siapa yang tahu kalau permainan kali ini adalah permainan terakhirnya—dan aku?
Aargh, aku depresi kalau begini caranya!
"Hei, Shion!"
Aku segera mengambil bola coklat itu darinya, dan memakannya. Setelah memakannya, aku tetap tidak merasa lebih baik. Aku tetap merasa panik. Aku pun melihat ke arah layar lagi. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa merasa lebih panik lagi saat aku melihat hampir seluruh kamera telah rusak.
Kecuali kamera yang ada di dalam ruangan ini.
"Kamui, kabutnya sudah sampai depan pintu sini—"
TOK TOK TOK
Aku terdiam.
Bahkan rasanya napasku ikut berhenti dan tertahan di tenggorokanku. Aku tidak tahu lagi apa saja yang terjadi pada diriku saat ini.
Suara ketukan itu terdengar dari arah pintu.
Aku langsung terbayang, tangan melayang yang kulihat tadi itulah yang mengetuk pintu.
Aku tersentak dan mendapati Kamui langsung berdiri dan berjalan menghampiri pintu itu.
"K-Kamui, hei!" Aku belum siap jika harus mati sekarang! Oh Tuhan!
Aku melihat dia berjalan perlahan, dan berhenti tepat di depan pintu. Dan dia malah mengetuk balik pintu itu.
TOK TOK TOK
"..."
"..."
"Shion."
Aku terlalu lelah dengan semua perasaan takut ini, jadi aku tidak menjawab apapun.
"Tutup matamu dan jangan buka apapun yang terjadi."
Aku langsung menurutinya.
Dan kemudian, aku tidak ingat apapun lagi.
.
.
.
.
Setelah kejadian itu, aku terbangun di rumah sakit. Di sampingku ada orang tuaku, mereka khawatir sekali. Mereka hanya tahu bahwa aku masuk rumah sakit karena penyakit maag-ku kambuh dan aku kolaps.
Padahal aku yakin, alasan sebenarnya bukan itu.
Tapi anehnya aku tidak mendapati Kamui di manapun waktu itu. Ketika aku menanyakan keberadaannya, orang tuaku menjawab mereka tidak tahu.
Tiba-tiba aku kepikiran bahwa aku masih selamat dari malam itu, sedangkan Kamui tidak.
Tapi dengan cepat, aku menghilangkan pikiran gila itu dari benakku. Mana mungkin itu terjadi? Ia adalah orang yang ribuan kali telah menentang maut, mempermainkan mereka dengan seringainya yang seolah mengejek, namun tetap selamat darinya. Tidak peduli bagaimana ia bersikap. Ya itulah Kamui. Manusia sinting nan bijak yang mengaku ditakuti oleh semua makhluk itu sekarang adalah temanku.
Lalu kenapa?
Tapi untungnya karena ketika sadar itu keadaanku sudah baik-baik saja, jadi keesokannya aku sudah diperbolehkan pulang. Orang tuaku akhirnya pulang ke rumah mereka di desa setelah memastikan aku sudah benar-benar sehat dan bisa hidup sendiri lagi.
Dan saat itulah, Kamui datang menjengukku.
"Kenapa kau baru saja datang menjengukku?" Setelah membahayakan nyawaku bertemu dengan "sosok tangan" itu, ia malah menghilang. Bagaimana aku tidak kesal?
"Aku baru bisa hari ini. Kemarin aku ada urusan penting, maaf."
"Lalu, sebenarnya apa yang terjadi di malam itu?"
Dia tidak langsung menjawab. Hanya memandangi jendela apartemenku yang terbuka, menampakkan dunia siang hari yang begitu cerah. Memandanginya dengan mata yang setengah sayu namun ada semangat lainnya berkobar di sana. "Game over. Tapi jangan menyerah. Lain kali kita akan survive hingga akhir, seperti yang sering kita alami sebelumnya."
Dan begitulah.
"Hei, lalu bagaimana dengan rekamannya? Kau masih menyimpannya, bukan?"
"Oh, itu! Aku membawanya kok." Ia cepat-cepat membuka tas ranselnya yang bersejarah itu, lalu mengeluarkan laptop dan sebuah kantongan plastik besar yang berisi beberapa kamera CCTV yang ia pakai tadi malam. Rata-rata sudah rusak, seperti lensanya yang pecah, dan badan kamera yang seperti habis dicakar oleh sesuatu. Dan dia juga mengeluarkan sebuah mesin yang mungkin adalah induk kamera-kamera itu.
"Apa kau tidak sayang dengan mereka semua?"
"Hum? Selama aku akan mendapat sesuatu yang luar biasa, aku tidak keberatan mengeluarkan uang lebih."
Kemudian dia mengeluarkan sebuah alat kabel penghubung mesin itu dengan laptopnya. Dan terlihatlah 8 panel dari gambar-gambar berbeda yang memperlihatkan apa yang terjadi tadi malam di dalam layar laptopnya.
"Aku akan langsung memperlihatkan bagian-bagian yang menarik. Nah, kau lihat itu 'kan? Banyak hal yang terjadi tadi malam."
Jika keadaannya begini, aku bisa memperhatikan semua kamera dengan tenang dan cermat. Aku bisa melihat kardus-kardus yang bergerak sendiri, lalu pintu yang tadinya terbuka lalu menutup sendiri.
Aku juga melihat sesuatu yang lebih mistis terjadi. Aku tiba-tiba merasa bulu kudukku merinding.
Setelah aku melihat adanya tangan melayang itu, ternyata ada sebuah cahaya kecil yang melayang-layang di koridor jalur 1. Cahaya itu berkedip-kedip, dan warnanya seperti krim kehijauan.
Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?
Tiba-tiba cahaya tadi menghilang, namun tergantikan oleh sebuah kepala yang melayang. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Kepala itu dalam beberapa saat hanya diam begitu saja di udara. Kemudian perlahan mulai bergoyang-goyang, pelan, hingga akhirnya terlempar.
Ke arah kamera.
Dalam beberapa jarak dari kamera, akhirnya aku bisa melihat wajahnya yang kulitnya sudah membusuk. Dan mulutnya terbuka tepat di depan kamera, dan seolah-olah memakan kamera tersebut. Dan si kamera langsung rusak di saat itu juga.
Ukh, sungguh klise.
Aku sampai tidak tahu harus berkomentar apa.
"Jadi kamera yang seperti dicakar ini adalah bekas 'dimakan' olehnya?" Aku menunjuk kamera yang kumaksud dengan tampang jijik.
Ia hanya mengangguk pelan.
Kemudian ketika hampir semua kamera sudah rusak dan hanya menyisakan kamera yang ada di dalam ruangan kami, aku melihat diriku yang duduk pasrah di kursiku, dan Kamui yang berdiri di depan pintu. Ia akhirnya membuka pintu itu, tetapi tidak ada apapun yang terjadi. Kamui hanya berdiri, berdiri, berdiri. Hingga akhirnya kamera terakhir pun rusak.
Menyisakan sebuah ending yang menggantung.
Sehingga aku benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi padanya selanjutnya.
"Hahaha, sungguh luar biasa." Kamui berkomentar pelan sambil terkekeh, lalu ia memutar balik video itu hingga sesaat sebelum kamera rusak. "Coba kau lihat yang satu ini lebih dekat."
Ia meng-zoom in panel yang tersisa, kemudian meng-zoom in lagi pada suatu sudut yang ada di belakang dirinya di sana.
Oh. Tuhan.
Di sana aku melihat ada sebuah siluet berupa entiti abu-abu yang begitu samar, berada di belakangnya, dan terlihat ingin mencekeknya.
Aku bisa melihat wajah siluet itu yang terlihat... marah?
"Sepertinya dia marah karena kita mengganggunya. Hahaha."
"Tapi dia tidak mengikuti kita, bukan?"
Dia tidak langsung menjawab, lagi. "Anggap saja begitu."
"Kenapa jawabanmu begitu?! Apakah dia mengikuti kita?!"
"Kalaupun dia mengikuti, dia pasti hanya mengikutiku karena akulah yang merencanakan semua ini. Kau tidak tahu apa-apa."
Ya, aku memang tidak tahu apa-apa karena tahu-tahu aku diseret olehnya ke tempat mengerikan itu tanpa memberitahu apapun. Tapi tetap saja aku khawatir, apa yang akan terjadi padanya kalau yang terjadi di dalam kamera itu akan terjadi lagi padanya? Malah lebih jauh daripada itu?
"Lalu, bagaimana kau bisa membawa pulang kamera-kamera ini? Bagaimana caranya kau menghalau hantu-hantu itu? Dan lagi, bagaimana kau dan aku bisa selamat dari sana?"
Ia tidak menjawab.
Hanya tersenyum tipis dengan misterius sembari menjawab.
"Aku memiliki caraku sendiri untuk melakukannya." Tapi dia tidak menjelaskan apa cara itu.
"Sudahlah. Kau tahu bahwa hantu pun takut padaku." Dia menyeringai miring, seolah mencoba menampakkan sisi lain darinya padaku yang masih belum jauh mengenalnya ini. Kemudian terkekeh kembali. "Atau mungkin mereka malah membenciku."
Hah sudahlah. Mungkin aku memang tidak perlu mengkhawatirkannya. Meskipun semua yang terjadi di hari itu masih menyisakan sebuah misteri di dalam benakku.
Dan yah, ternyata ini bukan permainan terakhir kami. Kami akan mengelilingi dunia, mencari tempat mistis dan berhantu lainnya. Dan akhirnya aku akan ikut menentang maut bersamanya. Hahahahaha.
.
.
.
.
To be continued.
.
.
.
.
Balesan review
Seiyuu-hime to Aoi-kishi : Saya bahkan baru sadar kalau kemarin, Kaito malah jadi semacam diburu oleh hantu-hantu jones yang ganas. Gyahahaha. :v
Kaito itu emang manis 'kan? XD
Hahaha, oke. Ini udah update. Cepat 'kan? Hehehe, makasih udah review! ^^
kamui shion : Huweee, aku jadi ikut nangis... makasih... /mau ngelap ingus pakai syal Kaito, tapi Kaito-nya keburu kabur/
Ane jadi penasaran sama ente. Boleh kenalan gak? :v
Tapi sekarang sudah seneng dong, Gakupo muncul terus dari awal sampai habis? XD
Es krim terong tanpa terongnya? Njir, ente mengingatkan ane sama makhluk kanibal dari kampung sebelah... =w=
Nih, sudah di update, semoga mampu bikin merinding karena ini asli cerita nyata ane. Mwahahahaha. :D /thor
Makasih udah review! ^^
.
.
.
.
A/N : YESH. Akhirnya saya bisa bikin satu chapter selama 4 hari! /terjun/ /halahbarujugasekali/ Maaf kalau ada kalimat yang terkesan agak membingungkan atau bagaimana... soalnya mumpung masih semangat sih, jadi cepat-cepat diketik dan di-publish, hahaha.
Oke, tapi selanjutnya, gak bisa jamin bisa update cepat lagi. Bentar lagi mau UTS sih~ Hahaha~ Ini aja semua tugas sekolah dan omelan-omelan guru (karena kelakuan saya dan teman-teman sekelas yang makin lama makin greget ini) disingkirkan dulu untuk sementara selagi saya ngebut ngetik cerita. Hahaha~ /apaandah
Well, terimakasih atas support-nya, minna. Saya menghargai semua bentuk support kalian selama ini. Jaa ne! :)
(NOTE : Saya sempat mengedit chapter 1, 2, dan 3. Saya sudah memperbaiki EYD-nya karena saya sendiri juga sakit mata membacanya. Semoga gak ada yang tertinggal. Enjoy!)
.
WHBY9. 10032015. YV
