"Tsaa~ Mari Kita Mulai Pertunjukannya! – Unknown"
.
.
Sebelumnya:
"Tetsuya… Kau belum mengantuk?"
.
"Kau mau menyerah sekarang, Taiga?"
.
"Masih menjadi primadona sekolah, heh? Kita lihat saja apa senyum menjijikkanmu bisa bertahan lama, bitch!"
.
.
.
.
Ohayou, Taiga-chan~
© riryzha
Kuroko no Basuke
© Fujimaki Tadatoshi
Chapter 9
Warning: OOC, typo, dan segala ke-absurd-annya
.
.
.
Daiki memandang khawatir ke arah kursi yang sudah lima hari tidak ditempati pemiliknya. Sehari dua hari mungkin tidak masalah karena Daiki lihat terakhir kali psikis Taiga tak lagi terlalu terguncang. Tapi di hari kelima Daiki merasakan firasat buruk.
'Dia tidak berniat keluar dari sekolah, kan?'
Seolah mendengar suara batin Daiki, Seijuurou berdiri di hadapannya lalu menepuk pelan bahu Daiki.
"Kalau sampai itu terjadi, kita tidak akan main-main lagi untuk membalas dendam."
"Tetap saja itu tidak membuktikan apapun pada Kagami-san bahwa masih banyak orang yang peduli padanya." sahut Tetsuya yang telak membuat Daiki dan Seijuurou kaget.
"Tetsuya." "Tetsu!"
"Ada apa?" tanyanya tanpa rasa bersalah sama sekali telah mengagetkan mereka.
"Huh, tidak ada." sementara Daiki membuang muka karena kesal, Seijuurou menelaah perkataan anggota bayangannya.
"Mungkin sebaiknya kita ke rumah Taiga sepulang latihan nanti."
"Ide yang cukup bagus Akashi-kun. Tapi bagaimana dengan tiga wanita jalang itu?"
Daiki dan Seijuurou tercengang.
"Tetsu! Tak kusangka kau bisa berkata kasar juga."
"Aku juga manusia biasa, Aomine-kun." sahut Tetsuya.
"Tapi Daiki benar, Tetsuya. Selama kita berteman, baru kali ini aku mendengar kata kasar keluar dari mulutmu." aku Seijuurou.
"Ah, abaikan perkataanku barusan dan lebih baik kita fokus ke inti masalahnya di sini." berdehem pelan, Tetsuya kemudian melanjutkan.
"Apa yang akan kalian lakukan pada mereka bertiga?"
~Ohayou, Taiga-chan~
Baru saja Akashi, Aomine dan mengajak serta Kise untuk menjalankan rencana mereka, tiba-tiba saja ketiga perempuan itu datang kepada mereka dan mengabarkan bahwa mereka harus pulang cepat sehingga tidak bisa melihat para anggota basket berlatih.
"Maaf Akashi-kun, Aomine-kun dan Kise-kun. Hari ini kedua orang tua kami pulang sehingga aku harus segera sampai di rumah." jelas Izumi seraya menggenggam tangan Akashi.
"Begitukah? Sayang sekali kalau begitu. Oh jangan lupa sampaikan salamku untuk kedua orang tuamu." jawab Akashi berbasa-basi walau sebenarnya ia risih disentuh makhluk munafik macam Izumi.
"Ah, tentu saja. Kalau begitu kami permisi dulu." Izumi berjalan lebih dulu disusul Ina dan Ami yang baru selesai membicarakan hal yang sama kepada Aomine dan Kise.
"Yah sepertinya kita tidak perlu melakukan hal apapun." ujar Kise.
"Tapi jelas sekali kalau mereka berbohong tentang kedatangan orang tua mereka yang bisa bersamaan seperti itu." Akashi merenung sejenak kemudian teringat sesuatu.
"Mungkinkah ini ulah mereka?"
"Bisa jadi. Ah, sudah jangan pikirkan mereka. Lebih baik kita segera mulai latihannya dan pergi ke rumah Kagami setelah itu." menguap lebar, Aomine kemudian berjalan ke arah Midorima, Kuroko dan Murasakibara yang sedang mendribble bola.
"Ayo, Akashi-cchi! Aku ingin cepat-cepat bertemu, Kagami-cchi!" seru Kise ke arah Akashi yang masih terdiam di depan pintu gedung olahraga.
Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa kedua orang tua Izumi, Ina dan Ami memang benar-benar pulang karena suatu hal.
.
.
.
.
"APA-APAAN INI?!" suara kepala keluarga Akane menggelegar ke seluruh ruang tamu mewah di kediaman mereka. Dibantingnya tab yang tengah memutar video ketiga anak dari Akane Corp., Kazuki dan Hibari sedang memasukkan sesuatu ke dalam sebuah loker. Walau layar tab retak karena dibanting, namun video masih bergulir ke adegan di mana Izumi mengambil tas salah satu teman sekelasnya dan membuangnya ke kolam ikan.
'Bagaimana bisa ada kamera di halaman belakang?' batin Izumi, Ina dan Ami bersamaan.
Video selanjutnya menampilkan seragam olahraga perempuan yang mereka buang ke tempat sampah. Video terus berputar hingga bagian terakhir di mana Ami dan Ina yang tengah membawa pot dari taman lalu keduanya menaiki tangga dan berhenti di sebelah Izumi yang tengah menatap keluar jendela. Tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun, Izumi mengangkat kedua tangan. Dengan sigap Ami dan Ina menyerahkan pot yang lumayan berat itu kepada Izumi dan dalam hitungan dua puluh detik, Izumi melepeaskan pegangannya dan pot itu meluncur jatuh ke bawah. Sudut pandang video yang awalnya berada di lorong sekolah seketika berubah menjadi halaman tengah di mana dengan sigap dua orang dengan rambut berwarna kuning dan ungu melindungi seseorang dengan rambut panjang berwarna merah gelap dari pot yang dijatuhkan dengan sengaja lewat jendela.
"Kalian tahu… karena kalian kita semua dalam masalah besar!"
~Ohayou, Taiga-chan~
"Taiga! Teman-temanmu datang berkunjung!" teriak Sora dari ruang tamu.
"Sebentar, aku harus menyelesaikan ini terlebih dulu." samar-samar terdengar suara Kagami dari lantai dua.
"Memangnya Kagamicchi sedang apa-ssu?" tanya Kise.
"Ah, dia sedang dihukum karena berniat keluar dari sekolah." mendengar pernyataan Sora membuat Kise dan Aomine berdecak kesal, Momoi dan Murasakibara menatapnya tidak percaya, dan Akashi, Midorima serta Kuroko menggeram dalam diam.
"Memangnya dia diberi hukuman apa sampai absen dari sekolah?" tanya Midorima.
"Ah, menulis sejarah Jepang minimal seratus lembar." membuat ketujuhnya sweatdrop.
"Sebenarnya aku tidak boleh memberitahu kalian. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantunya. Tolong keluarkan Taiga dari pikiran kelamnya. Ia terlalu banyak disakiti sehingga ia semakin memandang dirinya sendiri rendah dan tidak berharga." pinta Sora tiba-tiba sambil membungkukkan badan. Menunjukkan betapa seriusnya permohonan ini hingga ia yang lebih tua sampai merendahkan dirinya agar para remaja di hadapannya mau mengabulkan permintaannya. Membuat para remaja itu speechless.
~Ohayou, Taiga-chan~
"Ow! Pelan sedikit, Ina!" pekik Izumi pada Ina yang tengah mengompres pipi dan sudut bibirnya yang mulai membiru.
"Aku sudah pelan-pelan, Izumi." desah Ina.
"Aku tidak menyangka kita kalah cepat dengan hacker itu!" Ami menggeram kesal. Salep di tangannya dibanting kasar ke lantai.
"Apa orang-orangmu telah menemukan siapa yang telah menyebarkan video itu?" Ina menggeleng.
"Bagaimana ini?! Musuh kita ternyata telah mengambil langkah lebih dulu dari kita semua!" Izumi menggeram.
"Menurutmu kira-kira siapa yang menyebarkan video itu?" tanya Ami.
"Anak kelas 11? Aku rasa itu sedikit masuk akal mengingat mereka memiliki dendam kepadamu karena kalah pemilihan primadona Teiko tahun lalu." jelas Ina.
"Tapi apa ada anak kelas 11 yang sering kali berkeliaran di lorong kelas 10?" Ina dan Ami menggeleng.
"Apa mungkin teman seangkatan kita sendiri?"
Hening.
"Mungkinkah kandidat yang kalah saat melawanmu di babak penyisihan?" tanya Ina.
"Hm… bisa jadi. Tapi aku tidak ingat siapa pun yang aku lawan tahun lalu." dahi Izumi berkerut.
"Kita tidak bisa bergerak kalau begini caranya!" Ami menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.
"Ah, kalau keluarga besar kita saja sudah melihat videonya bagaimana dengan semua orang di sekolah- SIAL!" Ina menghentakkan kakinya seraya berdiri.
"Kita sudah kalah Izumi.. hiks.. bagaimana ini?" Ami mengusap wajahnya gusar.
"Tenang saja, Ami. Selama anak-anak belum menunjukkan tanda-tanda mereka telah melihat videonya di sosial media, kita aman." Izumi mengusap surai cokelat tanah milik Ami dengan lembut.
TBC
