AFFAIR

Masashi Kishimoto

Pair : NaruHina

Genre : Romantic/Drama

Rated : T+

PENGUMUMAN: BUAT PARA READER DILUAR SANA. . . SOPHIA KAN PUNYA FIC YANG JUDULNYA "PENYATUAN DUA HATI" TUH. . . EH TERNYATA ADA YANG NGEJIPLAK DI WATTPAD, BAGI PARA READER SETIA "NARUHINA" TOLONG NANTI DI KOMEN YAH, ITU JUGA BAGI PARA READER YANG UDAH MASUK ANGGOTA "WATTPAD". . .

YAHHH KALO GAK KOMEN JUGA GAK PA" KOK, YANG PENTING READER SETIA "NARUHINA" HARUS TAHU YAH, JUDUL FIC "PENYATUAN DUA HATI" ITU REAL LOH BUATAN SOPHIA . . .

SEKIAN PENGUMUMANNYA . . .

~~~~SELAMAT MEMBACA~~~~

Chapter 9

Naruto melangkah ke depan dan meraih rahang Hinata, lalu menciumnya secara tiba-tiba. Hinata terkejut, dia ingin melepaskan diri, tapi Naruto memeluknya dengan sangat erat. Hinata mengepalkan tangannya, dan kemudian meregangkannya lagi. Hinata memegang lengan Naruto dengan sangat lembut, dan Naruto melepaskan ciumannya. Hinata menunduk tapi Naruto menyentuh dagunya, ibu jarinya menyusuri bibir lembut Hinata yang terkena air hujan dan berwarna biru pucat.

"Kau kedinginan." Kata Naruto. lalu dia membopong Hinata tanpa ada penolakan. Naruto membawa Hinata ke apartementnya dulu, tempat dimana mereka menghabiskan malam bersama, apakah malam ini mereka juga akan melakukannya. Entahlah

Naruto membawa Hinata ke kamar mandi dan menurunkan Hinata di bak mandi, "mandilah air hangat, aku akan menyiapkan pakaian untuk mu!"

Hinata hanya menggeleng tidak percaya, apa yang telah terjadi barusan itu adalah hal yang harusnya ia hindari. Beberapa menit kemudian Hinata sudah selesai mandi, dia mendapati pakaian wanita berada ditempat tidur. Lalu dia membuka lemari, dan disana banyak sekali pakaian wanita. Hinata sangat terkejut, dari mana dan untuk siapa semua pakaian ini, "dasar kurang ajar. Menjijikan!" Hinata membanting pintu lemari dan Naruto tersentak walau dia sedang memperhatikan Hinata sedari tadi, setelah keluar dari kamar mandi dan bersender di pintu kamar.

"Kau akan merusak pintu lemariku jika kau. . ."

"Terserah dengan lemari mu, aku tidak peduli!"

"Jangan marah dulu. Biar aku jelaskan!"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan."

"Kau harus mendengarnya dahulu."

"Tidak. . . ." kata Hinata, lalu tiba-tiba Naruto sudah berada didekatnya dan mengelilingi Hinata hingga punggungnya menyentuh lemari. "itu semua pakaian ibuku, saat kau pergi ibu membawa pakaiannya dan menyimpannya disini, bukan bekas, hanya saja ibuku terlalu mempunyai banyak pakaian, dia bingung harus melakukan apa dengan semua pakaian itu. Sekarang sudah jelas?"

Hinata hanya terdiam dan menatap Naruto. Naruto semakin mempersempit jarak, "aku bilang, apakah semua itu sudah jelas bagi mu?"

"Untuk apa diperjelas, aku tidak peduli."

Naruto mengepalkan tangannya, sepertinya dia ingin memukul cermin yang ada dihadapannya. Tapi kemudian dia menghela napas dan mulai menjauh dari Hinata. Dalam hatinya dia bertanya, apa yang dirasakan Hinata, apa yang tengah ia pikirkan, pertanyaan itu selalu saja muncul ketika dirinya dan Hinata dalam keadaan seperti ini, keadaan dimana dia tidak bisa mengontrol diri. Tapi saat ini Naruto menghindar dari Hinata, dia tidak mau malam ini terulang kembali seperti malam itu

Hinata bernapas lega, setelah Naruto menjauh darinya. Apakah dia berubah lagi? Mengapa dia seperti itu, sama seperti waktu itu, sikapnya tiba-tiba menjadi berbeda. "jangan berubah, aku mohon, aku lebih membenci mu saat sikap mu tiba-tiba berbeda."

Naruto mengerutkan dahi, "kau yang membuatku seperti ini. Maka berhentilah kau melakukannya jika ingin aku tidak berbeda!"

"Melakukan apa maksud mu?"

"Melakukan hal-hal yang membuatku bingung."

"Hal apa?"

"Pertama, kau bersikap seolah kau tidak peduli pada ku, kedua, kau bersikap baik dan berharap padaku. Aku tanya, apakah kau mengharapkan sesuatu dariku?"

"Aku berharap kau pergi dari hidupku!"

"Itu dia. Itu salah satu hal yang membuatku bingung. Kau berharap aku pergi menjauh, tapi sikap dan bahasa tubuh mu memberitahuku bahwa kau tidak ingin jauh dariku. Waktu itu, kau cemburu pada Shion."

Hinata terkekeh, "mana mungkin aku cemburu, itu tidak akan pernah terjadi!"

Sekarang giliran Naruto yang terkekeh, "lihat!"

"Apa?"

"Kau menyilangkan tangan mu."

"Lalu?"

"Itu artinya kau berbohong."

"Dari mana kau tahu hal itu?"

"Aku selalu memperhatikan mu!" kata Naruto sambil menatap tajam ke arah Hinata. "tidurlah. Kau tidur ranjang. . ."

"Dan kau?" dengan nada khawatir

"Tenang saja, aku akan tidur di sofa. Aku tidak akan menerkamu selama kau menolak."

Hinata mengerti makna dari kata-kata itu, mengingatkan dia pada masa lalu. Hinata masih memperhatikan kegiatan Naruto meskipun dirinya sudah berbaring di tempat tidur, dia sebenarnya tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi. Saat itu, dia mabuk dan hilang kendali, entah apa yang dia katakan dan dia lakukan sehingga Naruto mampu berbuat hal itu. Namun yang pasti mereka ketahui adalah, bahwa mereka menikmatinya.

Mengingat hal itu saja dia sudah bergetar hebat, apalagi jika dia melakukannya lagi. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, hentikan pikiran konyol mu itu Hinata, kata Hinata pada dirinya sendiri. Ini bukan lagi dulu, sekarang aku sudah dewasa, dan aku bisa melakukan apapun. "kau tidak akan pernah tidur nyenyak jika otak mu terus memikirkan sesuatu!" kata Naruto. Hinata mengira kalau Naruto sudah tidur, tapi ternyata dia masih memperhatikan Hinata.

"Diamlah, urus saja urusan mu sendiri!"

Naruto menghela napas, dan dia menutup dirinya dengan selimut. Hinata sudah tak melihatnya, kini dia bisa tidur dengan nyenyak sekarang. Beberapa jam kemudian, saat jam menunjukan pukul 02:00 Hinata tiba-tiba terbangun dan dia merasa sangat haus. Lalu dia keluar dari kamar dan menuju dapur, dia tidak melihat Naruto yang ternyata juga tidak ada di kamar. Hinata memasuki dapur, dia mencari-cari tombol lampu, tapi karena tidak ketemu dia hanya mampu meraba-raba dinding. Beberapa detik kemudian Hinata tidak sengaja menginjak lantai yang basah, dia terpeleset terdorong kedepan dan lututnya yang sampai duluan jatuh ke lantai dan lecet.

Dia berteriak kesakitan, lalu beberapa menit kemudian lampu pun menyala dan disanalah Naruto berdiri dan terlihat khawatir, "Hinata, kau tidak apa-apa. Apa yang kau lakukan disini?" kata Naruto

"Aku haus, dan kemudian aku terpeleset."

"Ayo, aku akan mengobati luka mu!"

"T-api. . ."

"Aku akan mengambil air minum setelah itu."

Lalu Hinata pun terdiam, dia diam kala Naruto berbicara, dia juga diam kala Naruto membopongnya dan membawanya ke kamar, mendudukan Hinata di tempat tidur. Naruto mengambil kotak p3k dan dia mulai terduduk ditepi tempat tidur untuk mengobati Hinata. Hinata menaikan gaun tidurnya hingga lutut, hanya luka ringan. Tapi tetap saja terasa perih jika tidak segera di obati. Hinata memperhatikan Naruto, dia teringat ketika Naruto menemukan dirinya di lantai, wajahnya menyiratkan kekhawatiran.

"Untung saja kau jatuh kedepan."

"Kenapa?" kata Hinata.

"Jika jatuh kebelakang, mungkin saja kepala mu yang akan membentur lantai."

"Apa peduli mu. Kau juga pasti menginginkan hal itu bukan?"

Naruto menatap tajam Hinata, Hinata terkesiap melihat tatapannya itu, "tidak!" kata Naruto. Hinata melunak, dia lalu tertunduk menatap lututnya yang kini sudah di beri plester. "terima kasih." Kata Hinata. Matanya tak menatap orang yang telah mengobatinya, dia malah merapihkan gaunnya dan membawa selimut dalam dekapannya. "baiklah, sepertinya ucapan terima kasih mu tidak secara tulus. Aku akan mengambil air untuk mu!"

Hinata menatap kepergian Naruto. Beberapa menit kemudian Naruto datang dengan membawa air minum dan memberikannya pada Hinata. Kali ini dia secara tulus berterima kasih. "terima kasih." Kata Hinata dengan tulus. "baiklah, aku terima ucapan terima kasih mu itu. Sekarang tidurlah!"

Naruto berjalan ke arah sofa dan duduk disana memperhatikan Hinata. Hinata tidak sama sekali peduli, dia lalu tertidur beberapa menit kemudian. Lalu Naruto menghampiri Hinata, dia yakin bahwa Hinata sudah tidur pulas. Dia duduk ditepi dan memandang wajah cantik Hinata yang tertidur. Naruto mendekatkan wajahnya, dan mencium bibir Hinata secara lembut, dan tanpa ada gerakan setelah itu. Naruto kembali ke sofa dan dia berbaring di sofa memejamkan mata dan tertidur. Kemudian sebuah mata terbuka, dan itu adalah Hinata.

Hinata membuka matanya dan tangannya menyentuh bibir yang telah Naruto cium, dia tersenyum tipis dan tidur dengan nyenyak setelahnya. Menjelang pagi, Hinata terbangun dan mendapati sofa didepannya kini telah kosong. Dia melangkah menjauhi tempat tidur dan mencoba mencari Naruto. di dapur, Naruto tengah menyobek cup ramen, tapi tiba-tiba Hinata menghentikannya, "apa yang kau lakukan, tidak sehat pagi-pagi seperti ini memakan ramen!"

"Lalu?"

"Kau akan sakit, aku akan membuat sarapan untuk kita!"

Naruto mengangkat bahunya. Biarkan saja Hinata yang melakukannya, dia hanya akan duduk dan melihat-lihat saja. Beberapa menit kemudian kini sarapan mereka sudah siap, Hinata menghidangkanya untuk Naruto. dan Naruto menyukai saat-saat seperti ini, "kau tidak bekerja?" tanya Hinata mengawali percakapan, "tentu saja aku akan bekerja. walau disana aku hanya duduk-duduk saja."

"Yah, karena kau malas, tentu saja hanya duduk yang bisa kau lakukan, tidak ada yang lain. Apa gunanya ayah menjalin bisnis dengan mu!"

"Kalau kau melihat bagaimana perjuangan aku dan ayah mu, kau pasti akan menyemangati kami!"

"Apa yang kalian lakukan hingga bisa menjalin bisnis?"

"Wanita tidak usah ikut campur. Tetap berdiam diri saja di rumah dan masak makanan yang enak untuk suami mu kelak!"

"Yah, kau benar. Aku mungkin akan segera menikah karena aku akan memulai perjodohan ku lagi." Kata Hinata. Dan coba tebak bagaimana reaksi Naruto, terlihat marah dan kesal. Dia menghentikan sarapannya dan meninggalkan dapur. Hinata mendengus, dia bingung tapi juga merasa sedikit senang, kenapa bisa begitu? Entahlah.

~~~~~~~~~~~###~~~~~~~~~~~

Ði kantornya, Naruto masih memikirkan perkataan Hinata, "yah, kau benar. Aku mungkin akan segera menikah karena aku akan memulai perjodohan ku lagi." Sungguh dia merasa marah dan kesal, mengapa Hinata harus mengatakannya langsung didepan Naruto, tapi. . . apa hubungannya dengan hal itu? Kenapa Naruto harus marah? Kenapa? "sial, aku tidak bisa berpikir!"

Naruto masih bergelut dengan pemikirannya, sementara di dilantai bawah ada seorang pengganggu, "maafkan saya nona Shion, tuan Naruto tidak mau diganggu untuk saat ini!" kata recepcionist. Shion mengangkat kepala, "kalau dia tidak mau diganggu, tidak mungkin dia bekerja. dia pasti di rumah dan beristirahat, kalian berbohong!" kata Shion. Dia tetap memaksa masuk ke ruangan Naruto. Shion benar-benar memaksa masuk, beberapa karyawan memperingatkannya tapi dia tetap saja memaksa hingga diam sebentar didepan ruangan Naruto dengan sekertarisnya yang mencegah.

"Aku akan melaporkan mu pada Naruto, dan dia akan memecat mu!"

"Sepertinya bukan saya yang akan dipecat nona, tapi anda yang akan diusir!"

Sementara itu, di loby Hinata sedang berbicara dengan recepcionist, dan mereka tentu saja tidak melarang Hinata masuk, karena Naruto sudah mengijinkan melalui telepon kantor, "anda bisa langsung ke ruangan tuan Naruto nona!"

"Terima kasih." Kata Hinata. "jika saja ayah yang tidak menyuruhku, aku tidak akan pernah melakukan hal ini, menyebalkan." Hinata menaiki lift dan sampai dilantai atas, dia melihat wanita itu lagi, hari yang sial, batin Hinata. Lalu dia berjalan dan tidak menghiraukan Shion, "hey kau, apa yang kau lakukan, hey jangan masuk!" kata Shion sambil berteriak. "lihat, kenapa dia diperbolehkan masuk sementara aku tidak, kenapa hah?" bentak Shion.

"Karena tuan Naruto melarang anda." Kata sekertaris Naruto dengan nada santai. Hal itu membuat Shion geram, "baiklah kalau begitu, aku akan masuk!"

Didalam ruangan Naruto masih memikirkan kejadian kemarin dengan Hinata, dia masih kesal dan mara. Lalu tiba-tiba dia melihat Hinata sudah ada dibelakangnya, "kapan kau masuk?" kata Naruto.

"Baru saja, kenapa?"

"Tidak!" kata Naruto dengan tegas.

"Aku melihat wanita itu, kenapa kau tidak menyuruhnya masuk?"

"Aku tidak mau bertemu dengan siapapun!"

"Lalu, kenapa aku diperbolehkan bertemu dengan mu. Apa aku adalah pengecualian?"

"Bisa dibilang begitu."

"Ooh, aku tersanjung sekali."

Mereka berbicara dengan suasana damai, sunyi dan tegang. Naruto meminta file yang sedang Hinata pegang dan Hinata memberikannya. Tiba-tiba ponsel Hinata berdering, "permisi!" kata Hinata lalu menjauhi Naruto, dia berbicara di depan jendela, "iyah bibi. . ." Naruto mendengarkan. "aku ada di kantor, aku akan mampir hari ini bibi. . . tapi aku belum bertemu dengannya bibi. . .tapi kapan? Baiklah, aku akan menunggunya!" lalu Hinata menutup teleponnya.

Dia menatap jalan dari jendela dan menghela napas. Apakah yang dia lakukan tadi untuk memanas-manasi Naruto ataukah. . . Naruto mengepalkan tangannya dan ingin berbicara, tapi tiba-tiba pintu terbuka dan menampakan Shion yang terlihat marah pada Naruto.

"Lihat, kau melarangku masuk, tapi dia dijinkan, ini tidak adil!"

"Hinata kesini hanya untuk urusan bisnis, dan kau, apa yang kau inginkan?"

"Oooh, mudah saja, aku hanya ingin menagih janji mu!"

"Janji?" baik Naruto atau pun Hinata keduanya bertanya-tanya, "janji apa?" kata Naruto.

"Kau berjanji padaku saat musim panas lalu kau akan mengajak ku berkencan, sekarang, kau harus menepati janji mu!"

Aahh, benar, Naruto memanfaatkan kesempatan ini untuk memanasi Hinata. "yah, aku pernah berjanji. Baiklah, aku akan menepatinya." Kata Naruto. dan itu membuat Hinata terguncang, tapi dia tetap diam dan fokus. "benarkah, aku sangat menunggu hari itu." Kata Shion.

"Tidak perlu menunggu, malam ini kita akan pergi!"

"Benarkah. Aku sangat senang, terima kasih."

Shion sangat senang, tapi tidak dengan Hinata, Shion menatap Hinata, aku menang, seakan tatapan itu mengatakannya. Hinata terlihat tegar dan dia tersenyum simpul, "baiklah tuan Naruto, sepertinya urusan kita sudah selesai, saya permisi!" kata Hinata. Tak ada satupun gerakan atau apapun yang membuat Naruto yakin, bahwa Hinata terlihat biasa saja. Naruto menghela napas, dia ingin sekali berbicara dengan Hinata, tapi Hinata tidak sedikit pun peduli.

^^Bersambung. . .^^