Selamat Membaca, Kawan~

..

..

" Gaara, kau mau ini?" tanya Shuukaku seraya mengulurkan sekaleng minuman soda. Gaara hanya melirik barang sebentar, kemudian kembali mendengus malas.

Shuukaku mencibir tanpa suara, mencebikkan mulutnya kesal.

" Terus saja memasang tampang begitu," Shuukaku, pria berambut jabrik itu meletakkan kaleng minumnya sedikit kasar ke atas meja café.

Sejak setengah jam lalu, setiba mereka di café milik bungsu Uchiha, ahh, bukan, sejak mereka berdua dalam perjalanan menuju ke tempat ini, Gaara terus saja memasang wajah bosan, datar. Shuukaku jengah melihatnya.

Hari ini Sasuke sengaja menutup café- nya untuk menyambut kedatangan teman- teman Itachi. Jadi, café milik pemuda ganteng keturunan Uchiha yang biasanya ramai pengunjung itu kini tidak seramai biasanya. Hanya beberapa staf bawahan Itachi, Ebisu, Shizune dan beberapa orang lagi, serta Gaara dan Shuukaku yang kini tengah bosan menunggu kedatangan ketiga temannya dan bos mereka, Itachi Uchiha.

Shuukaku melirik dua pelayan yang sejak tadi mondar mandir mengantarkan pesanan mereka. Bosan memandangi dua pria muda itu bekerja, pandangannya beralih pada pemuda berambut merah yang ternyata kini juga menatapnya.

" Apa?" dengus Gaara.

Shuukaku memutar bola mata bosan.

" Aku sedang malas mengobrol dengan laki- laki di depanku" selorohnya kemudian membuang pandangannya ke mana saja.

Kali ini ia menemukan seorang gadis berambut merah jambu membuka pintu café dengan kasar, kemudian berteriak,

" Mana Sasuke!?" teriak gadis itu.

Wah, wah, Shuukaku hampir mengacungkan jempol setelah mendengar teriakannya.

" Sudah mirip suar penyanyi rock, Men," gumamnya.

Gaara mendengus mendengarnya.

" Sakura! Tenanglah!" seorang gadis berambut pirang dengan poni menjuntai ke sebelah wajahnya menyusul dari belakang. Menarik lengan gadis dengan nama Sakura, dan membisikkan banyak kata untuk menenangkan gadis yang Shuukaku tahu sebagai kekasih Sasuke Uchiha.

" Bukankah dia gadis itu?" suara Gaara membuat Shuukaku menoleh. Tumben sekali si mata panda ini repot- repot mengingat seseorang.

" Yang difotomu," lanjut Gaara seraya menoleh pada sahabatnya.

Shuukaku mengerutkan kening. Mencoba mengingat sesuatu. Sepasang matanya melirik dua gadis yang kini sedang berbicara dengan pelayan café berambut putih keperakan. Mengingat sesuatu, tangannya lekas menarik ponsel dari dalam saku celananya. Mengusap layar untuk membuka kunci dan menekan tombol galeri foto di layar utama.

Gaara melirik temannya yang kini mengacungkan ponselnya di depan wajah dengan sepasang mata yang melirik ke arah dua wanita yang duduk di sofa dan kembali melihat ponselnya, selama beberapa kali.

" Wuhh, si penunggu pohon angker," seloroh Shuukaku cepat.

Dan Gaara hanya memutar bola mata bosan.

' Orang gila,' batinnya.

..

..

DUKA

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Family, Romance

By : Lukas "Luke" d'grayson

Warn : AU, OOC, Gender Blend. , Gaje, Garing, Typos

..

..

Seorang wanita sedang mengepaskan syal yang melingkar di leher mungil bocah berusia 1,5 tahun. Bocah itu terus menatap bibir ibunya yang bergerak- gerak karena mengatakan sesuatu –menyebutkan berbagai peraturan yang harus ia patuhi selama mereka berdua berada di tempat ini.

" – tidak boleh berlari mendahului ibu, jangan berbicara dengan orang asing, jangan jauh- jauh dari ibu, Kanai, kau dengar ibu?"

Bocah itu berkedip saat melihat mulut ibunya berhenti bergerak.

" Kanai, ibu memanggilmu, Sayang," wanita bersurai pirang itu mencubit hidung anak laki- lakinya gemas.

" Aww,"

" Kau lihat apa, hm? Dengar tidak apa yang ibu bilang tadi?" tanya Temari.

" Dengar, Ibu," balas bocah itu seraya mendengus.

Temari tersenyum kecil.

" Ibu, ini di mana?" tanya Kanai dengan suara cadelnya, khas anak- anak. Mata bulatnya berpendar, menatap asing ke sekelilingnya.

" Ini di Ame, Sayang. Kota Ame," jelas sang Ibu kemudian duduk dan membawa bocah itu ke pangkuannya. Mereka sedang berada di atas kanal, menikmati pemandang kota Ame yang sering menjadi tempat kunjungan para turis dari dalam dan luar negeri.

Tidak banyak yang mengetahui tentang kota ini, dulu, karena kota kecil dengan curah hujan paling tinggi ini cukup tersembunyi dan mengisolasi diri. Namun kini, kota Ame telah banyak dikunjungi orang. Terlepas dari taman wisata kanal yang cukup terkenal, kota ini juga memiliki arsitektur unik yang terdiri dari beberapa gedung pencakar langit yang terbuat dari logam.

" Kanai, jangan banyak bergerak di pangkuan ibu, Sayang," Temari mengingatkan putranya.

Wanita itu mengeratkan pelukannya pada sang anak. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba- tiba ingin sekali berkunjung ke kota kecil ini. seolah ada yang menariknya untuk datang ke tempat yang sama sekali belum pernah ia kunjungi ini sebelumnya.

' Kenapa dengan perasaanku? Kenapa perasaanku tidak enak?' pikirnya.

.

.

.

Sasuke menatap lurus jalan di depannya. Kedua tangannya erat memegang setir mobil yang kini melaju kencang di tengah jalanan kota. Sesekali mata kelamnya melirik gadis yang duduk di sebelahnya.

Naruto terus saja diam sejak keberangkatan mereka dari pasar kota Konoha. Tanpa berpikir panjang mereka memutuskan untuk segera pergi ke Ame. Hanya Utakata yang tinggal untuk memberi tahu Itachi dan teman- teman mereka mengenai kabar Shikamaru, pria berkuncir itu.

Sasuke sendiri tidak tahu kenapa dengan dirinya, kenapa ia mau- maunya mengantar gadis yang ia sukai untuk bertemu dengan kekasihnya. Sedikit menyesal, tapi ketika melihat Naruto tampak begitu cemas dan ketakutan, ia merasa tidak bisa membiarkan gadis itu begitu saja. Ia tidak mau melihat Naruto –

Melihat Naruto apa?

Tiba- tiba pikirannya buntu.

Perasaan enggan merasuki hati Sasuke, ia merasa tidak ingin melanjutkan perjalanan ke Ame, tempat di mana kekasih Naruto itu kini berada, meski seburuk apapun kabar pria berkuncir itu, Sasuke tidak ingin melihat Naruto bersama dengan laki- laki beranting itu. Tanpa sadar, ia menurunkan kecepatan laju mobilnya.

" Sasuke- san, maaf, tapi bisakah lebih cepat? Tolong," pemuda yang Sasuke tahu memiliki nama Sai itu menepuk bahunya dari belakang. Naruto ikut menoleh.

Sasuke mengumpat dalam hati.

" Hn,"

Naruto mengalihkan pandangannya ketika Sasuke menaikkan kecepatan. Tidak ingin menatap pria itu terlalu lama. Pikirannya masih kalut dan cemas memikirkan Shikamaru yang kini entah bagaimana perkembangan kondisinya di rumah sakit. Setelah mendengar kabar bahwa laki- laki beranting itu mengalami kecelakaan di sebuah apartemen, pikiran buruk langsung memenuhi otaknya.

Gambaran buruk tentang kondisi Shikamaru langsung berseliweran di kepalanya. Paman Asuma bahkan belum menceritakan bagaimana kejadian yang menimpa Shikamaru, tapi karena itu pikiran Naruto terus menebak- nebak kejadian buruk apa yang dialami pria itu.

Sebagai seorang detektif, Naruto cukup tahu, banyak yang tidak menyukai Shikamaru meski seheroik apapun pria itu mengungkap sebuah kasus. Tidak sedikit yang ingin mencelakai pria sipit itu. Dan mungkin ini salah satunya.

Naruto menggosok tenguknya gusar, ia ingin sekali cepat sampai di rumah sakit Ame dan mengetahui kondisi Shikamaru. Namun perjalanan dari Konoha ke Ame membutuhkan waktu 3 jam, dan ini belum setengahnya.

" Sai, apa belum ada kabar lagi dari Shikamaru?" Naruto bertanya tidak sabar.

Sai menengok ponselnya kemudian menggeleng.

" Belum,"

Naruto menghela nafas.

" . . . ,"

Hening.

Mereka saling diam, sibuk dengan pikiran masing- masing.

.

.

.

Utakata hanya bisa menatap keluar jendela. Dia tahu Itachi kini terburu- buru untuk cepat sampai di café Sasuke. Setelah mengatakan kabar mengenai Shikamaru, kakak laki- laki iparnya ini cukup terkejut dan spontan meraih handphone dari dalam saku untuk menghubungi seseorang. Sai dan Naruto juga berekspresi sama tadi meski reaksi yang ditunjukkan setelahnya berbeda.

Utakata memang mengenal Shikamaru sejak lama meski tak kenal dekat. Ia cukup kenal dengan laki- laki bertindik itu sejak masih sekolah dasar karena Naruto dan Sai sering mengunjungi pekarangan rumah pria itu untuk mencuri beberapa jeruk dan dibawa pulang. Naruto dan Sai memang sering kelayapan berdua saat siang hingga senja hari sewaktu kecil. Yang Utakata tahu, karena seringnya dua bocah itu mengunjungi kebun paman Shikaku, mereka jadi sering diceramahi bapaknya Shikamaru itu sekaligus dekat dengan putra si pemilik kebun.

' Mereka bertiga cukup dekat, bahkan hingga sekarang' pikirnya.

" Kenapa Sasuke bahkan tidak pamit padaku? Benar dia langsung mengantar Naruto kesana, tapi setidaknya dia menghubungiku lebih dulu, bisa'kan?" gumam Itachi membuyarkan lamunan Utakata.

" Sebenarnya apa yang terjadi pada Shikamaru?" lanjut sulung Uchiha itu.

Pria itu terus menggumam, menyuarakan pikirannya yang dipenuhi kekhawatiran dan perasaan cemas untuk sahabatnya. Sementara Utakata, hanya mampu mendengarkan tanpa bisa menanggapi.

' Aku pun juga mencemaskan pria itu. Bagaimana kondisinya sekarang? Sai bilang, kondisinya parah, separah apa?' gumamnya dalam hati.

Utakata berharap semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk Shikamaru.

.

.

.

" Aku tidak percaya. Sasuke bahkan mempersilahkan gadis itu untuk mampir ke café- nya. Mempersiapkan jamuan istimewa untuk gadis culun itu. Astaga!" Sakura memekik. Melempar barang- barangnya kasar ke lantai kamar.

" Ino, bahkan dulu Sasuke begitu membenci gadis itu! Aku tidak percaya Sasuke membuangku hanya demi Naruto.. ohh, aku bahkan benci sekali saat menyebut namanya,"

Ino menelan ludahnya yang entah kenapa terasa pahit di tenggorokan. Sakura benar- benar marah dan kecewa, Ino bisa melihatnya. Kesedihan yang dialami sahabatnya ini dia tahu bagaimana rasanya.

" Sakura, tenanglah,"

" Tenang? Gadis jelek itu sudah merebut kekasihku, Ino, dan aku harus tenang?!" Sakura melotot geram. Matanya sembab dan kelihatan membengkak dibagian kelopak mata. Pipinya bahkan masih basah dan tampak memerah.

" Aku kesal. Aku marah. Aku ingin sekali menjambak rambut gadis itu, mempermalukannya seperti dulu. Tapi-" Sakura tersedak. Gadis itu kembali menangis dan duduk di atas kasur memeluk lututnya.

' Dia bahkan jauh lebih baik dibandingkan diriku' lanjutnya dalam hati.

" Apa aku tidak cantik lagi, Ino?" tanyanya kemudian.

Ino menatap Sakura. Mengusap pipi basah sahabatnya kemudian berkata,

" Siapa bilang? Bahkan teman- teman sekampus banyak yang mengidolakanmu" hiburnya.

" . . . ,"

" Kau cantik Sakura-"

" Tapi kenapa Sasuke memutuskanku?" potong Sakura cepat.

" . . . ," kali ini Ino tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri tidak tahu alasan sebenarnya Sasuke memutuskan hubungan dengan Sakura.

" Karena Naruto," ujar Sakura nyaris berbisik.

' Naruto? Sejak tadi Sakura menyebut nama itu? Sebenarnya siapa dia?' pikir Ino.

" Ino, aku tidak ingin seperti ini. Aku tidak bisa menerimanya. Sasuke tidak bisa memperlakukanku seperti ini,"

" . . . ,"

" Sasuke harus tetap menjadi milikku," tekadnya.

.

.

.

Naruto melirik jam digital di dashboard mobil Sasuke, ini sudah hampir malam. Badannya terasa lengket tapi ia tidak ambil pusing dengan hal itu, tidak peduli bila bau badannya karena belum mandi sore menguar dari tubuhnya.

" Sebentar lagi sampai" suara berat membuatnya sedikit kaget. Diliriknya si pengemudi mobil yang masih menatap lurus jalan di depan dengan mata elangnya.

" Ya," balas Naruto pendek.

" Semoga tidak terjadi hal buruk padanya" gumam Naruto pelan yang masih mampu didengar oleh Sasuke.

' Bukannya hal buruk sudah terjadi?' kesal Sasuke dalam hati. Perasaan tidak menyenangkan terasa memenuhi hatinya saat melihat Naruto begitu mengkhawatirkan laki- laki lain.

" Semoga Shikamaru bisa melewati masa kritisnya," ujar Naruto pada dirinya sendiri.

' Kenapa tidak mati saja sekalian' serapah Sasuke dalam hati tanpa ia sengaja.

Sasuke terkejut dengan pemikirannya.

Ia memang tidak menyukai pria bertindik itu, tapi ia tidak menyangka pikirannya berjalan di luar kendali.

' Astaga, apa yang kupikirkan' batinnya seraya menghela nafas pelan.

" Akan ada pemeriksaan keamanan di pintu gerbang kota nanti," Sai mengingatkan dan hanya dibalas anggukan singkat oleh keduanya.

Sasuke kembali melirik Naruto barang sejenak kemudian kembali melihat lurus ke depan. Ia tidak tahu apa yang Naruto pikirkan tentang tindakannya ini, yang ia tahu hatinya terasa begitu nyeri dan kesal.

' Naruto . . ' panggilnya dalam hati.

.

.

.

Asuma masih duduk di ruang tunggu operasi, pria paruh baya itu menatap kosong pintu ruangan di mana Shikamaru kini berada. Tubuhnya masih gemetaran mengingat kondisi bawahannya itu.

Ia tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya. Shikamaru terjatuh dari balkon kamar lantai dua di apartemen yang tadi ia kunjungi.

Kakinya patah dan beberapa tulang rusuknya juga mengalami hal sama. Asuma bersyukur tengkorak kepala Shikamaru hanya mengalami retakan kecil. Meski begitu, ia tidak yakin Shikamaru bisa diselamatkan. Pemuda beranting itu sudah kehilangan banyak darah.

Asuma terus berdoa untuk anak buahnya. Pemuda yang sudah seperti putranya sendiri.

.

.

.

Begitu sampai di halaman rumah sakit. Naruto bergegas keluar dari mobil dan berlari cepat menuju gedung besar di hadapannya. Pikirannya dipenuhi pria beranting dengan mata sipit itu.

Jantungnya berdebar kencang saat melihat pria paruh baya yang ia kenal sebagai atasan Shikamaru, pria brewok yang kini berjalan kaku meninggalkan seorang dokter di depan pintu ruang operasi.

" Inspektur," panggil Naruto cepat.

Laki- laki itu menoleh. Sedikit terkejut dengan kedatangan Naruto.

" Uzumaki- san," lirihnya.

" Shikamaru?" tanya Naruto. Matanya mulai berair, diiringi isakan kecil gadis berambut pirang itu memegang lengan Asuma. Menuntut jawaban.

" Shikamaru?" tanyanya lagi saat Asuma hanya menatapnya lekat dengan wajah sedih.

Dan Naruto hanya mampu menahan nafas ketika akhirnya pria di hadapannya mengatakan sesuatu tentang kondisi Shikamaru.

Seluruh badannya gemetaran hebat. Dan hatinya terasa nyeri. Naruto, gadis itu kini menangis terisak di tengah luasnya koridor rumah sakit.

BERSAMBUNG

Omake . . .

Temari menurunkan putranya dari gendongan. Sejak tadi bocah kecilnya, Kanai, terus saja merengek dan minta digendong. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan mandiri.

" Ibu, ibu kenapa?" tanya Kanai saat melihat sang ibu tengah memegangi dadanya dengan ekspresi kesakitan.

Temari menggeleng pelan.

" Ibu tidak apa- apa, Sayang," balasnya kemudian tersenyum kecil.

' Ada apa? Kenapa dadaku rasanya sakit sekali?,'

Wanita itu menatap langit kota Ame yang kini dipenuhi awan gelap.

' Sebentar lagi hujan turun,' ujarnya dalam hati.

" Shikamaru, aku merindukanmu . . " lirihnya.

End Omake . .

..

..

Halooo.. chap 9 akhirnya bisa di update meski jumlah word nya jauh lebih sedikit dari sebelumnya.. terima kasih sudah membaca cerita ini.. semoga menghibur.

Special thanks to,

Byakuren Hikaru83, Rin Naoko Uchinami, Aiko Vallery, Habibah794, anita indah 777, SapphireOnyx Namiuchimaki, Aozora-bluesky, L casei shirota strain, Uzumaki Prince Dobe Nii, narudobetetsuyapolepel, Lhiae932, dan guestnya guest, yang sudah menyempatkan untuk menulis review sebagai penyemangat saya.. yey! Makasih banyak, yaa..

Dan juga bagi yang sudah nge fav maupun Follow, saya ucapkan banyak terima kasih..

Sekali lagi, Terima kasih sudah membaca chap ini..

See U in the next chap, kawan- kawan.. semoga bisa update cepat lagi..

.

.

.

With Luv,

Lukas "Luke"