3Disclaimer : Death Note selalu milik Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata sensei
Rating : M (Untuk jaga-jaga saja karena ada contens pembunuhan, gak ada lemon)
Pairing : L saja, Watari juga
Special makasih buat para pembaca yang sudah menyempatkan diri mampir di fic ini.
Warning
Pembunuhan, sarkasme, dll
.
.
Akhirnya sampai juga di chapter 9, walaupun kasus pembunuhan ini belum terpecahkan hahaha.
Dan ini kehidupan L versi saya sendiri
.
.
.
"Chapter 9"
.
.
.
Hari ini sudah pukul empat sore. Pada jam segini aku membiasakan diri untuk segera pergi ke kamar mandi. Membersihkan bau keringat di tubuh serta menghilangkan bekas cairan lengket dari permen atau jelly nata yang menempel di sekitar leher. Terkadang leherku memang terasa gatal kemudian aku menggaruknya menggunakan kuku jari. Dengan hati-hati aku melakukannya agar tidak meninggalkan bentuk jelek mirip cakaran kucing. Dan di lain sebab, sebenarnya dua minggu sekali aku selalu rajin memotong kuku karena Wammy terus memperingatkanku untuk peka terhadap kebersihan badan. Tapi setiap kali aku fokus pada suatu kasus dan itu semua di luar kendaliku selama beberapa saat. Aku masih sering menggaruk leherku tanpa memperdulikan sisa makanan yang masih menempel di jari tangan (Walaupun kuku jari tanganku sudah bersih), namun duapuluh tujuh persen bisa saja aku terserang penyakit. Pakar kesehatan menyebutnya iritasi berlebihan sehingga dapat menimbulkan radang di kulit yang disebabkan oleh bakteri berasal dari kuku. Gejalanya standar yaitu gatal-gatal di salah satu bagian tubuh yang sering kugaruk, seperti dalam masalahku ialah di sekitar bagian leher. Opsi pertamaku untuk mengatasinya adalah pergi ke dokter kulit, memeriksakannya lalu mengambil resep obat kemudian meminumnya setelah makan malam. Sempat kupikir-pikir lagi cara ini terlalu menyita waktuku sebagai seorang calon detektif hebat maka dari itu kuambil saja opsi ke-dua dengan mematuhi nasihat Wammy.
Satu masalah tentang gejala gatal-gatal di leherku telah selesai ketika aku mulai mempercayai nasihat Wammy. Aku rajin mandi sekitar pukul empat sore dan membersihkan badan menggunakan sabun beraroma mentol. Terus sampai pada bagian leher aku menggosoknya lebih jeli sebab sering kali bekas lengket permen cukup sulit untuk digosok. Aroma sabun menguap di udara sedangkan aku sendiri menikmati percikan air yang turun ke wajah. Saat mandi aku senang sekali mengadahkan wajahku ke langit-langit mencari sensasi lewat gaya gravitasi air yang terjun setetes demi setetes menodai wajah. Setetes air pernah masuk ke mata membuat rasa perih lalu aku menguceknya sekitar enam kali. Semua pergerakan benda selalu jatuh ke bawah, aku memikirkannya tepat saat menyelesaikan pelajaran Isaac Newton sebagai tugas terakhirku di kelas Fisika pada pertengahan musim dingin. Tugas akhir itu berhasil mengantarkanku pada perdebatan sengit melawan Mr. Garcia Solandra seorang guru dan ahli Fisika Teoritis keturunan Spanyol yang suka menyimpan botol minyak wangi berbahan Atsiri berbau menyengat di saku celana kainnya.
Akan memakan waktu cukup lama jika membahas perdebatanku bersama Mr. Solendra. Tapi intinya pada mulanya aku kurang mempercayai keakuratan teori gravitasi. Bayangkan jika semua benda dengan mudahnya jatuh ke bumi seperti tetes demi tetes air yang menerpa wajahku ketika mandi. Semua benda selalu jatuh ke bawah, aku belum puas menerimanya hingga sekitar tiga hari terus-terusan memikirkannya. Membuka berbagai jurnal Fisika sebagai bahan pertimbanganku mengenai gravitasi. Tidak ada yang cukup komplit untuk memenuhi rasa keingintahuanku. Akhirnya aku berniat mulai membuat percobaanku sendiri. Pada percobaan pertama aku gagal membuat satu keping koin jatuh menghindari gaya gravitasi, sampai tahap ini aku cukup cemas lalu mulai melakukan kebiasaan buruk menggigiti ibu jari sambil merasakan rasa manis di ujungnya. Satu kesimpulan awalku bahwa semua benda mati pasti jatuh ke tanah membentuk jejak garis lurus vertikal jika dijatuhkan menggunakan sudut yang sama yaitu dari atas lurus ke bawah. Pada percobaan ke-dua aku mencari objek yang lebih mendukung semacam benda hidup, hingga kuputuskan menangkap tikus kecil yang sering bermain di sekitar dapur menggunakan jebakan lem karet kemudian memasukkannya ke dalam kantong bening.
Aku menginginkan hipotesa jelas tentang berapa persen kesempatan benda hidup mampu menghindari kekuatan gaya tarik bumi. Karena itu aku melepaskan tikus dari kantong lalu memegangi ujung ekornya bersiap meluncurkannya bebas jatuh ke bawah. melalui cara pandangku aku melihat tikus itu mengeliat-liat ketakutan mencoba merangkak naik ke telapak tanganku. Pada hari itu entah kenapa mengamati usaha si tikus mempertahankan dirinya agar tidak jatuh malah mengingatkanku terhadap salah satu bait puisi favoritku milik pengarang kontroversial Robert Downey setelah seminggu yang lalu aku dan Rachel membacanya di perpustakaan Wammy House.
Mereka akan selalu jatuh ke tanah
Sayang, mereka akan selalu jatuh ke tanah
Mencekik leher kekasihnya kemudian masuk ke tanah
Merasakan kedua tangan kekasihnya yang terlepas kemudian masuk ke tanah
Mereka akan selalu saling mencari ke dalam tanah
Tapi, akankah tempat itu mempercayai mereka
Karena mereka sama-sama penipu
Singkatnya bait puisi itu memberikanku ide tentang peristiwa jatuhnya benda hidup kembali ke permukaan tanah. Robert Downey menunjukan imajinasinya sedangkan aku sendiri menganggapnya sebuah logika dasar serta masuk akal tentang teori gravitasi sebelum buku itu ternyata menjadi erat kaitannya dengan awal mula kasus pembunuhan Jonah Hill di akhir musim dingin. Memang terkesan bodoh karena tiba-tiba saja aku menyerah mendalami teori Fisika beralih pada kasus pembunuhan yang tampaknya lebih menarik.
Jurnal Fisika kututup, aku memulai debut baru bersama berkas-berkas yang dikirim oleh Watari. Untuk sementara aku mempercayai teori gravitasi itu ketika Watari bertanya tentang kesiapanku menangani kasus pembunuhan. "Ini lebih menarik;" jawabku santai diikuti oleh senyum keriputnya. Sepertinya dia tidak tahu jika aku sudah frustasi dengan kesibukanku akhir-akhir ini menyangkal teori gravitasi milik Newton.
Sebagai seorang pemula aku tidak akan terpengaruh oleh pola pembunuhan rumit yang harus kupilih. Beruntung aku menemukan satu kasus pembunuhan di Wincester setelah Wammy menggemblengku siang malam untuk menemukan teka-teki pada permainan rubik tingkat akut. Menggabungkan warna sedemikian rupa sama halnya dengan mencari jejak pelaku pembunuhan. Ini mudah sekali. Sekilas saja aku melihat foto seorang pria mati dengan pisau menancap di tubuhnya. Mayat di foto itu hanya tampak terbaring, tidak ada kesan aneh, tidak ada cara rumit yang dinamakan kasus pembunuhan di ruangan tertutup. Mungkin aku akan cepat bangga menunjukkan kemampuan terbaikku dalam menganalisa.
"Apa perbedaan pembunuhan ini Lucious?" pertanyaan Wammy cukup mengagetkanku ketika dia masih berdiri dengan tenang di samping pintu kamar. Sementara bola mataku sedang asik mendelik memandangi mayat pria di foto.
"Terlalu sedehana namun sulit dipecahkan. Oleh sebab itu pihak kepolisian meminta bantuan kita." Aku menjawabnya sambil mengambil camilan biskuit di atas meja. Kembali aku melirik Wammy, tak ada respon, dia cuma memandangku dingin. Aku mengasumsikan jika jawabanku kurang membuatnya tertarik.
"Jonah Hill bukanlah seorang individu yang memiliki latar belakang untuk dibunuh. Pembunuhnya lain, bukan orang sinting," kataku.
"Maksudmu Psikopat, kita pernah membahasnya," sambung Watari.
"Yah, inilah yang kau maksud dengan perbedaannya Wammy," aku menaikkan posisi jongkokku lebih dari satu inci. Kemudian mengambil selembar foto pria korban pembunuhan lalu menunjukkannya pada Wammy. "Lihatlah pria ini! Hanya seorang psikopat yang mampu membunuhya, tapi seperti kataku sebelumnya pembunuhnya bukanlah psikopat.
"Kita tidak akan lagi membahas definisi tentang psikopat menurut versimu-kan, Lucious?"
"Tentu, katakan saja jika kita harus lebih teliti untuk seorang Jonah Hill yang tidak banyak memiliki teman atau kerabat. Dia hanya memiliki seorang ibu penderita Tuberkulosis. Seorang pria penjaga rumah sakit yang tidak kaya raya, tabungannya di bank hanya sekitar duaratus poundsterling. Cuma psikopat bisa membunuh pria semacam ini."
"Tapi bukan Psikopat." Wammy mengulangi kata-kataku.
"Memang ada pembunuh lainnya, dia lebih pintar dan mau mengajak kita beradu dengannya. Dia benar-benar ingin membunuh seorang Jonah Hill, tidak meninggalkan sidik jari, rapi, dan menguasai korban."
"Orang ini pembunuh jenius," kata Wammy.
"Bisa dibilang seperti itu. Dia tipe pembunuh yang merencanakan semuanya secara matang. Melakukan pembunuhan demi tujuannya kemudian dengan mudahnya menghapus jejak. Dan aku tahu persis dia juga meninggalkan pesan untuk kita."
"Apa yang kau maksud tentang pembahasan kita tadi?"
Kraak...kraak...kraak bunyi biskuit bertabrakan dengan gigiku. Aku mengunyahnya tanpa ampun dan sedikit terasa asin di lidah. Tidak begitu kuperdulikan, kemudian aku mengambil selembar foto lainnya dan menunjukkannya pada Wammy.
"Berikutnya lihatlah yang ini (lagi-lagi aku menyodorkan salah satu foto ke Wammy), TKP pembunuhan menjadi bukti jika si pembunuh memberikan pesan kepada kita. Katakanlah dia memang seorang yang pintar tapi cara dia meninggalkan mayat korbannya di tempat umum yaitu di sekitar rumah sakit tanpa menyembunyikannya malah memberi kesan bahwa si pembunuh sedang melakukan aksi konyol. Namun di lain pihak aku menganggapnya pintar, dia memang perlu meninggalkan mayat korbannya di tempat umum."
"Oleh sebab itu kau mengasumsikan pembunuhnya seorang wanita."
"Tidak hanya pisau yang masih menancap di tubuh Jonah Hill namun dengan kadar kemungkinan delapanpuluh persen mendukung dugaanku adalah TKP pembunuhan. Di foto ini jelas sekali tidak ada bekas perkelahian, selain itu semua saksi juga tahu jika Jonah Hill bukanlah tipe orang yang gemar mencari masalah. Dia cuma seorang pria pendiam, selalu berusaha menyelesaiakan pekerjaan sehari-harinya dengan benar lalu pulang ke rumah dan menjaga ibunya yang sakit. Dia tak memiliki banyak teman lelaki untuk diajak pergi ke bar atau sekedar jalan-jalan mendaki gunung guna menghilangkan strees."
Beberapa menit aku diam sebentar agak mematung sambil berjongkok di atas kursi. Kuamati biskuit kering masih tersisa empat, lalu kukeluarkan jari tanganku dari balik saku celana. Dengan hati-hati menggunakan ujung jari kuambil satu biskuit. Kemudian biskuit itu kumasukan ke dalam secangkir kopi panas,- Mengapung,- sebelum akhirnya biskuit melebur bersama kopi. Aku meminum secangkir kopi manis saat Wammy memberikan kode kepadaku agar melanjutkan penjelasan tadi, aku tahu jika dia memang seorang pria tua Inggris yang pengertian.
"Sekitar Pukul 2.15 malam Jonah Hill dibunuh. Saat itu tidak terjadi apa-apa di rumah sakit, suasananya tenang, tak ada bunyi mencurigakan. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Jonah Hill keluar dari gedung rumah sakit dan meninggalkan tugas jaganya. Lalu di tempat kejadian seseorang membunuhnya dengan tenang tanpa menimbulkan keributan. Melalui sembilanpuluh tiga persen kemungkinan cuma satu subjek yang bisa diduga telah membunuh pria semacam Jonah Hill, subjek yang mampu menarik perhatiannya pergi ke luar gedung kemudian membunuhnya tanpa perlawanan. "
"Wanita!" Wammy menyambung kata-kataku.
"Wanita masih merupakan penggambaran bentuk kurang sempurna," kataku sambil menyeruput secangkir kopi. "Penjelasan detailnya tentang wanita ini 10% calon pacar, 25% pacar, 38% pujaan hati yang tak bisa digapai, 55% orang dipercaya, 76% orang dikaguminya, dan pastinya 94% wanita ini merupakan obsesi dari seorang pria bernama Jonah Hill."
"Lalu ada petunjuk lain tentang wanita ini," tanya Wammy.
"Well, wanita ini juga menyukai buku Robert Downey, khususnya yang kontroversial," aku kembali melirik Wammy, "seperti katamu kemarin jika sebelum dibunuh Jonah Hill sempat mencari-cari buku 'Dilema seorang kekasih'. Dia mencari buku Downey supaya tidak tampak bodoh di depan wanita itu karena sebelumnya dia belum pernah membaca buku sastra."
"Dia seorang pria pendiam, tidak adakah beberapa persen kemungkinan dia memiliki sisi romantis," ujar Wammy.
"Dia memang seorang pria pendiam dan ada pula kemungkinan dia juga seorang pria romantis. Namun buku putus-asa Robert Downey bukanlah bacaan tepat bagi seorang pekerja penjaga rumah sakit sebab terlalu membosankan serta membuat mata mengantuk. Apalagi buku ini memang sudah lama dihapus, di Winchester hanya perpustakaan khusus Wammy yang menyimpannya. Dan suatu hari Jonah Hill mencarinya, tambah aneh juga karena beberapa orang tahu dia sedang mencari buku Downey. Padahal orang pendiam jarang mengekspose hobinya, mereka lebih suka bersenang-senang sendirian."
"jadi obsesi Jonah Hill terhadap si wanita membuat rasa keingintahuannya tentang buku Downey juga ikut bertambah."
"Yaah, adakalanya kebanyakan pria selalu ingin pamer di depan wanita."
"Aku mengerti L, lalu bagaimana kaitannya dengan pesan pembunuhan Jonah Hill?"
Aku melompat dari kursi kemudian berjalan pelan sambil membungkuk menuju ke arah kaca jendela. Wammy hanya diam mengamati gerak-gerikku tapi sesekali melemparkan senyum khas-nya. Setelah sampai di dekat jendela, telapak tanganku memegang kaca. Terasa dingin akibat sisa-sisa kecil salju yang merembes.
"Dilihat dari luar pembunuhan ini pintar dan ceroboh bagai dua mata pedang yang berkebalikan. Pembunuhan ini bukanlah perampokan ataupun aksi balas dendam jika melihat latar-belakang seorang Jonah Hill. Dengan melihat TKP orang pasti mengira bahwa modus pembunuhan akan tampak seperti itu. Tapi pembunuhan ini dilakukan benar-benar melalui proses serta perencanaan yang matang. Dengan tenang dia mengambil nyawa manusia, merusak wajahnya menggunakan air keras lalu meninggalkannya tanpa jejak atau sidik jari. Aku tahu ini bukan cara pembunuhan biasa dan aku juga tahu si pembunuh akan melakukannya lagi."
"Dan kesimpulanku tetaplah sama! Pelaku pembunuhan Jonah Hill termasuk dalam kategori berbahaya, dia benar-benar menguasai pria itu dan secara tidak langsung dia meninggalkan pesan bahwa akan melakukan aksi pembunuhan lainnya."
"Apa kau bisa melakukannya Lucious, memecahkan kasusnya?" tanya Wammy agak intens.
Sedangkan aku masih berdiri menghadap kaca jendela tapi kali ini telapak tangan kembali kumasukkan ke dalam saku celana agar hangat. Tidak kulirik Wammy, sementara aku hanya berdiri di sana dengan memasang wajah tanpa dosa serta dua buah bola mata hitam bulat menghadap ke arah pantulan kaca. Tampak sinar putih terang membentang luas mirip ratusan kain sprei polos yang ditata rapi.
"Apakah aku salah jika menunggu korban berikutnya untuk memecahkan kasus pembunuhan ini, Wammy?"
Kemudian pada hari itu tak begitu kuingat lagi ucapan terakhir Wammy. Aku tahu mungkin pertanyaanku terlalu bodoh sampai semua itu kubuktikan sendiri pada hari berikutnya di gedung opera. Malamnya aku menghadap komputer menghabiskan waktu sambil mengetik catatan harian ringan tentang kehidupan sosial untuk kelas bahasa Latin. Bayangan seorang gadis bernama Anette datang sekejap saja melintas di pikiranku. Hingga aku mulai meraba tengkukku bergidik saat teringat darah segar dari kepala seorang diva opera panggung yang meletup. Kesalahanku sebagai seorang bocah sombong sembilan tahun yang meremehkan kematian membuatku sadar akan kelemahanku sebagai calon detektif atau bisa saja sebagai manusia. Hal ini lantas menjadi beban tersendiri bagiku selama mengejar pelaku pembunuhan di Winchester. Setelah melihat sendiri menakutkannya kematian maka aku perlu mengubah cara pandangku tentang pekerjaan sebagai alternatif yang lebih serius daripada sekedar papan permainan catur. Tapi aku tetap tak ingin kalah, mulai dari menangkap musuh, menangkap para kriminal di dunia dengan caraku sendiri.
.
.
Setelah aku melupakan kejadian beberapa hari lalu dibenakku dan sebelum mulai mengambil langkah untuk pergi membersihkan tubuh di kamar mandi. Otakku mencari cara berpikir tentang pesan yang dikirim Wammy dua jam lalu. Mayat Jonah Hill menghilang dan seseorang telah mengambil mayatnya dari kotak penyimpanan mayat di rumah sakit. Pelakunya pasti dengan mudah masuk ke kamar mayat setelah Dokter berhasil melakukan autopsi. Tidak ada penjaga yang mengawasi mayat Jonah Hill sampai dia dimakamkan.
"Mayat itu akan segera membusuk jika tidak diberi banyak formalin," pikirku.
Aku mengulum ibu jari. Dan masih berjongkok nyaman di atas kursi, kemudian aku mengambil kotak hitam kecil alat komunikasiku dan segera mengirim pesan ke Wammy agar beberapa petugas polisi mengawasi mayat Crystal Limbrown.
Satu analisa baru muncul di otakku.
"Pelaku membutuhkan mayat korban pembunuhan untuk syarat ritualnya. Tak terkecuali mayat Crystal Limbrown. "
Kemudian aku bergerak dari kursi, tapak tanganku mengelus dagu bawah bagian kanan. Nyeri pada gigi belakang yang tadi masih sedikit terasa. Aku menghela nafas dengan tujuan menahan rasa sakit paling konyol sepanjang prestasiku terhadap makan-makanan manis.
Matahari mulai turun rendah di padang dataran Inggris. Pada pukul lima sore seorang perempuan setengah baya berjalan mondar-mandir di depan gerbang Wammy House. Perempuan itu memakai syal rajutan lumayan panjang berwarna coklat pudar melinkar di leher. Jaket usang menempel di tubuhnya yang kurus kering, sesekali dia juga mengambil sapu tangan linen dari saku jaketnya kemudian menempelkannya di mulut.
Aku mengamatinya dari jauh. Berpikir dua kali untuk menghampirinya.
Tapi lagi-lagi insting detektif mempermainkanku. Bisa jadi Ini merupakan kedua kalinya aku akan melakukan aksi tatap muka secara langsung. Perempuan itu mencurigakan, duapuluh satu persen kemungkinan dia ingin bertemu dengan Wammy, nol koma tigabelas persen ingin menemui salah satu anak di panti, dan emapatpuluh lima persen perempuan ini punya maksud lain. Namun aku sendiri memang lebih tertarik terhadap 'maksud lainnya' itu.
Dulu satu hari setelah kejadian pembunuhan Crystal Limbrown, aku dan Wammy berdiskusi kecil tentang metode keselamatanku sebagai detektif. Wammy bilang aku berharga, dan dia sendiri sedikit merasa bersalah saat memperkenalkanku pada opsir polisi pada saat kejadian dengan nama singkatan L. "Ketika itu memang perlu dilakukan Wammy! Jika tidak melihat mayat Ms Limbrown secara lebih dekat, aku tidak akan bisa mengambil keputusan kepada para polisi untuk tetap menyelidiki kasus Jonah Hill," kataku sambil memakan roti gandum berisikan selai nanas.
Akhinya kami putuskan memakai perangkat komputer terbaru untuk aksiku melakukan investigasi ataupun berinteraksi terhadap dunia luar. Tidak ada wajah, suara disamarkan, jenis kelamin, umur, dan semuanya yang berhubungan dengan identitas asliku. Aku harus selalu berada di tempat lain dan Wammy hanya menggunakan kata-kata 'mendesak' ketika aku perlu melakukan tatap muka secara langsung.
Namun kali ini aku ingin melakukannya, masih dalam konteks tetap berhati-hati aku berjalan mendekati perempuan itu dengan gaya wajar. Hampir sampai di gerbang aku mengeluarkan satu permen loli dari saku celana jins-ku kemudian berpura-pura melihat bunga hias baru tumbuh yang ditanam Roger ketika musim dingin berakhir. Aku ingin perempuan itu menyapaku duluan karena ini akan membuktikan kalau dia tidak terusik dengan kedatanganku. Hingga enam detik berikutnya tiba-tiba Kupu jingga terbang lalu mendarat di barisan bunga. Aku mencoba menangkapnya tapi dengan gerakan kurang ajar Kupu itu reflek terbang dan mengolokku. Kembali aku berpura-pura mengejarnya bagai bocah kecil sedang asik bermain di taman. Belum juga ada respon, perempuan itu cuma memandangku sekilas, tampak bimbang seperti dia ingin menyapaku atau tidak.
Kuputuskan cara ini kurang berhasil. Aku perlu melakukan cara kedua yaitu melemparkan tatapan mencurigakan mirip seorang tuan rumah yang kedatangan tamu tak diundang. Kali ini perempuan paruh baya itu merespon dengan menghampiriku sambil memasang mimik wajah cemas.
"Apa aku bisa menemui orang bernama Watari?" tanya perempuan itu.
Aku tidak menjawab dan perempuan itu tetap berdiri sambil menaruh genggaman tangannya pada pintu gerbang Wammy House yang terbuat dari besi.
"Nak, apa aku bisa menemui orang bernama Watari?"
"Siapakah anda?" tanyaku balik menggunakan nada polos, terdengar seperti bocah biasa.
"Namaku Diana Hill, aku ingin bertemu Watari."
Dari tadi sebenarnya aku memang sudah mengetahui siapa perempuan paruh baya ini karena fotonya terselip pada berkas Jonah. Ibunya penderita Tuberkulosis, penyakit infeksi saluran pernafasan yang menular. Tapi aku tetap tak ingin menunjukkan identitasku dan berlagak menjadi bocah penghuni panti biasa. Hal itu kurasa menunjukkan sikapku yang masih mematuhi nasihat Wammy dengan maksud keselamatanku yang sering dibicarakannya. Katanya aku harus berhati-hati terhadap siapa saja ketika menangani kasus. Ini jadi mengingatkanku pada pembicaraan pribadi bersama DK. Aku lupa memakai topeng kala itu.
"Maaf, saya rasa saat ini Sir Watari tidak ada di sini."
Wajah perempuan paruh baya bertambah cemas. Sedangkan permen loli hampir copot dari mulutku, cepat-cepat aku menahannya menggunakan dua gigi depan. Batangnya,- ya batangnya terasa seperti plastik yang manis.
"Kira-kira kapan dia akan kembali? Aku bersedia untuk menunggunya."
"Memangnya apa keperluan anda mencari Sir Watari?" tanyaku.
Dia mengambil sapu tangannya lalu menutup mulutnya. Mengeluarkan batuk yang tertahan oleh kerongkongan. Aku tahu Mrs. Diana Hill tidak ingin menyebarkan virusnya, dia seorang perempuan paruh baya yang malang.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang nak, tapi aku benar-benar ingin bertemu Watari," ujarnya.
Aku berpikir sejenak.
"Anda dikirim oleh seseorang ke sini?"
"Maksudmu?" dia kembali terbatuk.
"Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengunjungi Sir Watari. Kukira mereka sedang terlibat kasus pembunuhan. Dan setiap kali Sir Watari pergi maka beliau akan pulang cukup larut atau malah tidak kembali sama sekali. Jadi saya kurang tahu beliau kembali ke Wammy House pada jam berapa."
Lalu aku memperhatikan Mrs Diana Hill yang malang.
"Hari ini kami juga sedang berkabung," aku membelai-belai rambutku, "salah satu staff Wammy meninggal pada hari ini karena dibunuh di rumah sakit."
Mrs. Diana Hill melebarkan bola matanya yang berwarna agak putih seperti terkena penyakit katarak. Batuknya makin terdengar parah, dia selalu berusaha menutupi mulutnya menggunakan sapu tangan.
"A-apa hari ini aku benar-benar tidak bisa menemui Watari."
"Entahlah Mrs. Diana," aku mengedikkan bahu. "Tapi jika keperluan anda sangat mendesak maka anda bisa menuliskan semacam memo lalu saya akan menyampaikannya kepada Sir Watari nanti."
"Namun aku ingin bicara langsung dengannya."
Aku menahan ibu jariku untuk tak kugigit. Berkerja keras agar tampil layaknya bocah normal. "Seperti yang saya bilang tadi, hari ini sangat sulit bertemu dengannya. Memo adalah cara lebih efektif."
Kemudian aku memberikan kesan wajah serius, "Saya ini anak asuh kesayangan Sir Watari. Jadi tenang saja! Pesan anda akan saya sampaikan langsung kepada beliau."
Mrs. Diana masih tampak ragu-ragu.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu nak?"
Ini merupakan pertanyaan basi yang sering kudengar. Namun aku menanggapinya melalui wajah semanis mungkin, "Jika anda belum percaya terhadap saya maka urusan anda dengan Sir Watari tidak akan selesai."
Mrs. Diana mengangguk.
"Kau bocah baik," kata Mrs. Diana sambil mengeluarkan kertas dan bolpoint dari tas kecilnya. "Kau berasal dari Winchester?"
"Saya pernah tinggal di Liverpool selama empat tahun bersama kerabat sampai bisnis mereka sebagai agen barang-barang konstruksi bangkrut," ujarku berbohong.
"Oh," Mrs Diana menghentikan kegiatan menulisnya kemudian terbatuk empat kali. "Maaf...Maaf! ini penyakit saya (Dia kembali menutupi mulutnya menggunakan sapu tangan untuk kesekian kalinya), ngomong-ngomong aku juga pernah menetap di Liverpool."
"Suami anda," kataku.
Dia melirikku karena ucapanku terdengar ganjl. Kemudian buru-buru aku menyambungnya.
"Maksud saya suami anda berasal dari Liverpool."
"Kami berpisah nak, dia menjadi seorang pria Inggris yang gila hormat dan gemar berselingkuh. Di saat aku berusaha memaafkannya ternyata dia sudah mati bersama wanita lain. Kami memang sama-sama berasal dari Liverpool."
"Maaf nak, ini hanya masalah pelik orang dewasa," sambungnya.
Jawaban yang panjang menurutku, sekarang aku menyakini jika sembilanpuluh lima persen info aplikasi secret data tepat. Sekarang aku benar-benar ingin menggigit ibu jari.
"Anda memiliki anak?"
"Ya," jawabnya singkat.
"Dimana dia sekarang?"
Aku hampir keceplosan terhadap tekhnik investigasiku, aku harus menanyakannya sepolos mungkin. "Jika dia laki-laki saya ingin mengajaknya bermain bola, dari dulu saya selalu mendambakan kakak laki-laki," kataku manis sambil membelai-belai poni rambut.
"Darimana kau tahu kalau anakku laki-laki?"
"Bukankah saya cuma mengandaikannya," jawabku santai, "lalu dimanakah dia sekarang? Bekerja? Dia pasti sibuk sekali sampai membiarkan ibunya pergi sendirian ke sini."
Mrs. Diana memandangku, menghentikan tulisannya, "Anakku sekarang sudah meninggal, dia anak laki-laki yang baik," ujarnya.
"Malang sekali dia sudah kena penyakit," aku berlagak menyesal.
"Maksudmu?"
"Kebanyakan orang mati muda karena penyakit"
"Bukan," Mrs. Diana mencengkram bolpointnya kasar. "Anakku meninggal karena dibunuh. Seperti salah seorang staff di sini, mati mengenaskan oleh perbuatan seseorang."
Aku membungkukkan punggungku tiga inchi lebih ke bawah, "Maaf! saya turut menyesal."
"Kemana orang tuamu nak?" tanya Mrs. Diana spontan
"Apa?"
"Kemana orang tuamu yang sebenarnya," jelasnya.
"Saya tidak tahu," aku tak tahan ingin menggigiti ujung ibu jari. "Paman dan bibi adalah orang Inggris tapi keluargaku yang lainnya berasal dari Jepang. O iya,- saya ingat Sir Watari pernah bilang jika di umur dua tahun saya juga tinggal di Rusia. Namun sejak kecil saya lebih sering mengenal budaya Inggris." Mengabungkan antara kebohongan dan kejujuran malah menjadi kebohongan yang bagus, tidak janggal.
"Intinya orang tuamu belum meninggal."
Aku mengangkat wajahku ke langit kemudian kembali bersikap manis, "Yaah, saya harap seperti itu," akhirnya aku memaksakan senyumku.
"Siapa namamu nak?"
"Sir Watari memanggil saya Ryuzaki, agar terus mengingat darah Jepang saya," ujarku sedikit melawak tetapi bukan pada bagian yang tepat.
Perempuan paruh baya itu batuk, cepat-cepat dia mengambil sapu tangannya. Bercak darah merah menempel dan menghiasi kain. Tanpa sengaja aku melihatnya ketika Mrs. Diana hill dengan gerakan cepat meremas sapu tangan kemudian memasukkannya ke dalam tas. Dia tak ingin penyakitnya menjadi masalah besar bagi seorang seorang bocah seusiaku.
"Kulihat wajahmu seperti tampak kurang tidur nak. Inilah akibatnya jika kurang tidur, saat tua nanti kau akan kelihatan kurus kering. Mumi berjalan,- orang-orang akan menyebutmu seperti itu, menyebalkan."
"Sejak kapan anda sering batuk?" aku mengacuhkan ucapannya yang tadi.
"Sejak suamiku selingkuh aku menjadi sering sakit-sakitan. Untung ada putraku yang mengurus semuanya sebab dari kecil dia sudah rajin sekali bekerja. Terkadang aku kasihan melihatnya karena tak memiliki banyak teman. Dia tak punya waktu memikirkan masa mudanya. Akhir-akhir ini Aku kepikiran terus bagaimana caranya dia mendapatkan istri. Tapi aku lega setelah melihat gelagatnya terakhir kali, dia jadi suka menyisir rambut, memakai minyak wangi, menyetrika rapi kemejanya dan membaca buku-buku."
Aku tertarik pada kalimat terakhirnya karena delapanpuluh sembilan persen mengarah ke analisaku.
"Sebelum dia meninggal, sebenarnya aku ingin sekali bertanya tentang gadisnya. Entah kenapa dia sekarang senang membaca buku-buku, terakhir kali dia menanyakan Robert Downey tapi aku memarahinya. Karena buku itu mengingatkanku pada kelakuan buruk suamiku."
Mata Mrs. Diana Hill mendung. Lalu dia mengusapnya menggunakan punggung jari. Aku sendiri hanya diam sambil mengamati, hidup perempuan paruh baya ini bagai menyeberang di sungai keruh dan ingin cepat sampai ke permukaan. Malang,- sungguh malang mengingatkanku pada satu cerita klasik di buku dongeng. Cerita yang mengisahkan tentang perjuangan seorang ibu membesarkan anak gadisnya Alma. Gadis kecil itu lahir dari ibu manusia dan seorang ayah keturunan makhluk neraka bernama Aeroth yang mempunyai kemampuan menularkan wabah penyakit. Ketika orang-orang mendekati Alma maka mereka akan terserang sakit tak terkecuali juga dengan ibunya. Beranjak remaja Alma selalu disebut-sebut gadis penyihir oleh para warga desa, Alma sendiri tak tahu dan dia juga tak tahu mengapa ibunya sering sakit-sakitan. Setelah berdoa panjang kepada Dewa akhirnya Alma tahu jati dirinya sebagai setengah makhluk penyebar wabah penyakit. Dia marah sambil mengutuki dirinya sendiri, tapi karena melihat ketulusan cinta ibunya maka gadis itu memutuskan melakukan perjalanan guna mencari penangkal dari berbagai desa. Lalu dalam tiap perjalanannya ke setiap desa yang dikunjunginya akan ada beberapa penduduk mati karena penyakit. Orang-orang semakin dendam terhadap Alma lalu mereka melakukan cara keji dengan membakar ibunya di tengah kobaran api yang menyala ganas. Ibunya meninggal, Alma belum menemukan penangkal menjadikan penderitaanya bertambah lengkap. Kesedihan mendalam membuat Alma melepas kutukan wabah penyakitnya ke tiap desa sebagai bentuk protesnya terhadap Dewa. Ratusan tahun sesudah terjadinya kutukan kemudian pada malam bulan purnama sisi manusia Alma bangkit, diapun menyesal serta ingin mencabut kutukannya itu. Dewa tidak pernah mengabulkan permintaannya membuat Alma terus-terusan menangis sepanjang malam bulan purnama.
Cerita klasik buku dongeng itu membuatku ingin mengunyah permen karet. Aku ingin mengunyahnya lagi dan lagi sampai penasaranku terhadap rasa manis menghilang. Permen karet berubah menjadi benda layak saat aku tahu jika benda itu bisa menghilangkan rasa manis ketika sering dikunyah. Aku melakukannya apabila rasa manis sedang mengkhianatiku.
"Apa anda mencintai putra anda?" aku bertanya, menyambung cerita singkat Mrs. Diana Hill.
Perempuan paruh baya itu mengangguk, kemudian menghentikan suara goresan bolpoint yang meyayat kertas dan menekuk memo pesannya menjadi lipatan kecil.
"Anda tidak ingin membalaskan dendamnya."
Mrs. Diana Hill tidak menjawab, dia hanya menyerahkan memonya kepadaku. Dengan wajah pucat dia mendadak pergi meninggalkan Wammy House sebelum berkata padaku agar menyampaikan pesannya kepada Watari. Aku menerimanya, bergaya bocah polos dan manis lalu kumasukkan memonya itu ke dalam saku celana.
Kupandangi Mrs. Diana Hill sudah meninggalkan Wammy House agak jauh, suara batuknya bergelut bersama udara senja. Dan pada akhirnya aku senang karena bisa menggigiti ujung ibu jari sepuasnya.
.
.
.
Bersambung
