Disclaimer ©Tite kubo

(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)

.*.

Devil Beside Me

by

Ann

.*.

Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),

tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...

selamat menikmati.

.*.

Menyoal tentang cinta, hal-hal tak terduga bisa saja terjadi karenanya. Lawan bisa menjadi kawan, kawan pun dapat menjadi lawan.

.*.

Bagian Sembilan

.*.

Matanya tak pernah beralih dari sosok berambut oranye yang berada beberapa meja darinya di sebuah kafe terbuka di kota Karakura. Kurosaki Ichigo tengah tertawa bersama teman-temannya, terlihat begitu puas dan bahagia dalam hidupnya. Siapa yang tidak akan puas jika berhasil menduduki kursi tertinggi di Black Sun, sebuah organisasi yang menguasai hampir seluruh Karakura? Ditambah lagi, persiapan pernikahan yang sedang di lakukan. Pastinya sekarang Kurosaki Ichigo merasa berada di puncak dunia.

Ia mendengus. "Kau sama sekali tidak pantas," desisnya. "Kau seharusnya berada di selokan." Ia mencengkeram gelas dengan erat, berusaha menahan luapan emosi agar tak naik ke permukaan.

"Terima kasih sudah menunggu, pesanan Anda sudah siap." Seorang pramusaji muncul membawakan sepiring garlic bread dan sup krim jamur, yang kemudian di tata di meja, lengkap dengan peralatan makan serta dua botol kecil berisi garam dan lada. "Selama menik─" Ucapan pramusaji tak terselesaikan, karena ia sudah berdiri dan meninggalkan meja. "Maaf, Tuan, pesanan An─" Ia melempar uang yang sempat mengenai wajah pramusaji sebelum melayang dan mendarat di lantai. Tak diindahkannya ucapan orang-orang yang mengatakan dirinya tidak sopan, ia melangkah dengan cepat meninggalkan restoran itu sebelum kemarahan menguasai dirinya dan merusak rencana yang tengah disusun dengan matang.

"Nikmati makan siangmu, Kurosaki, karena besok dan hari-hari berikutnya kau tidak akan bisa melakukannya lagi."

.*.

Keributan yang terjadi membuat kepala Ichigo tertoleh. Ia mengeryit saat seorang pria bertopi bisbol melemparkan lembaran uang ke arah pramusaji restoran. Matanya tertuju pada punggung pria yang melangkah ke pintu keluar. Ia merasakan sesuatu, tapi tak bisa menjabarkannya.

"Ada apa?" tanya Renji, yang menyadari Ichigo tak lagi terlibat dalam obrolan.

Ichigo menggeleng. "Bukan apa-apa," kilahnya.

"Kau yakin?" Renji sangsi.

"Dia hanya gugup," ujar Shuhei.

Perhatian Ichigo dan Renji langsung tertuju pada Shuhei. "Kenapa aku harus gugup?" Ichigo yang bersuara pertama.

"Memangnya Kaichou nggak gugup?" Shuhei balik bertanya.

Ichigo mengernyit. "Kenapa aku harus gugup?" ulangnya.

Shuhei memasang tampang bingung. "Kaichou beneran nggak gugup?"

Hampir saja Ichigo kehabisan kesabaran dan memukul kepala Shuhei, tapi Shuhei cepat tanggap dan segera menjelaskan. "Aku nanya gitu karena nanti sore Kaichou mau ngajak Rukia ketemu Masaki-san pertama kalinya sekalian minta restu. Emangnya Kaichou nggak gugup? Bisa saja Masaki-san tidak menyukai Rukia, lalu─"

"Ibuku akan menyukai Rukia," potong Ichigo sebelum Shuhei sempat menyelesaikan kalimat panjangnya.

"Bagaimana kau bisa yakin?" Renji buka suara.

"Karena dia ibuku."

Renji dan Shuhei memandang Ichigo dengan bingung, merasa jawaban Ichigo sama sekali tidak menjawab pertanyaan Renji tadi.

"Ibuku percaya pada pilihanku. Dia akan menerima Rukia tanpa mengeluh sedikit pun. Lagi pula, apa yang mau dikeluhkan tentang Rukia? Rukia itu gadis yang baik, dia juga pemberani, dia memiliki─"

Renji dan Shuhei salin tatap, sementara Ichigo terus menyerocos menyebutkan segala kelebihan Rukia. Tanpa kata mereka sepakat bahwa jatuh cinta membuat sang kaichou jadi gila.

.*.

Waktu bersamaan di gedung apartemen berlantai 20:

Uryuu berdiri di depan pintu putih bernomor 87. Di tangan kirinya terdapat kantong plastik berisi makanan, dari gambar di bagian luar kantong terlihat makanan itu berasal dari restoran cina. Ia menarik napas dalam sebelum mengangkat tangannya untuk memencet bel. Butuh waktu lebih dari lima menit sebelum akhirnya pintu di depannya terbuka, dan memperlihatkan sosok yang menjadi tujuannya datang ke tempat itu.

"Ishida-kun." Orihime menyapanya seperti biasa, walau kali ini suara gadis itu terdengar tak terlalu bersemangat. "Apa yang membawamu ke sini?"

"Apa aku tak boleh mengunjungi temanku?" Uryuu balas bertanya.

"Tentu saja boleh." Orihime mengangguk. "Hanya saja, waktunya ... kurang tepat."

"Ah, kalau begitu aku minta maaf," ucap Uryuu. "Aku datang hanya untuk melihat keadaanmu dan membawakan ini." Ia mengangkat kantong di tangan kirinya. "Kau pasti belum makan siang."

Orihime tersenyum lemah. "Masuklah," ujarnya seraya memberi jalan bagi Uryuu.

Uryuu tak bergerak dari posisinya. "Kau yakin aku tidak mengganggu?"

Orihime menggeleng. "Kalau kau bisa bertahan dengan ruangan yang kacau balau karena belum sempat kurapikan, maka kau sama sekali tidak mengganggu," jawabnya.

"Aku akan membantumu merapikannya," sahut Uryuu sambil melangkah melewati Orihime dan masuk ke apartemen gadis itu. "Tatsuki?"

"Pergi satu jam yang lalu, katanya ada yang harus dikerjakan," jelas Orihime.

Uryuu tahu benar apa yang harus Tatsuki kerjakan sehingga ia tak membahasnya lebih lanjut. Lagi pula, tak ada faedahnya membahas hal itu, hanya akan menyakiti Orihime saja.

"Dia tidak mengatakan akan ke mana, tapi aku tahu," tutur Orihime.

"Inoue ..."

"Tidak apa-apa, aku tidak akan hancur," kata Orihime seraya melintasi ruangan dan duduk di sofa tunggal di dekat jendela. Lama ia hanya duduk diam sembari menatap ke luar jendela.

Uryuu meletakkan kantong di meja yang dipenuhi bermacam kertas, kemudian melangkah mendekati Orihime. Ia menyandarkan bahu di kusen jendela dan berkata, "Kau pasti bisa menghadapi ini, Inoue. Kau gadis yang kuat."

Orihime menengadah ke arah Uryuu, matanya di penuhi air mata. "Kenapa dia tidak memilihku?" lirihnya.

Bungkam. Uryuu tak bisa menjawab, karena yang bisa memberi jawaban hanyalah Ichigo.

"Aku sudah mencintainya begitu lama," Orihime menambahkan.

"Bukan masalah waktu," kata Uryuu.

"Lalu?"

"Hati. Hati Ichigo tidak memilihmu, walau hatimu memilihnya."

"Kau benar. Ini masalah hati dan pilihannya," sahut Orihime, kemudian ia kembali diam. Uryuu pun ikut berdiam diri. Lama setelahnya Orihime melompat berdiri. "Aku lapar." Ia mengambil kantong makanan di meja. "Aku akan menata mejanya. Sebentar, ya."

"Aku akan membantumu merapikan ruangan ini," ujar Uryuu.

"Tapi─"

"Seperti janjiku," potong Uryuu. "Pergilah, siapkan makanannya," tambahnya seraya mulai memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai.

Orihime menghilang di pintu dapur, membiarkan Uryuu merapikan ruang tamunya.

Sepeninggal Orihime, Uryuu mempercepat geraknya, tak ingin Orihime selesai lebih dulu darinya. Walaupun biasanya Uryuu tahu Orihime lamban dalam mengerjakan pekerjaan dapur, tapi ia tak mau berlambat-lambat dengan pekerjaannya. Uryuu menumpuk kertas-kertas di meja, awalnya ia tak memerhatikan isi dari kertas-kertas itu sampai tak sengaja melihat tanda tangan Orihime di salah satunya. Seketika ia teringat kata-kata Amagai mengenai kontrak Orihime dan Minx. Kemudian ia mengurutkan kertas-kertas itu, membaca setiap lembarnya dengan teliti. Terlalu sibuk dengan klausa kontrak, ia tak memerhatikan Orihime sudah kembali ke ruang tamu.

"Apa yang sedang kau baca?"

Tersentak. Kepala Uryuu tertoleh ke arah suara. Orihime berjongkok di sisinya, ikut membaca. "Ah, ternyata aku meninggalkan surat kontrak itu di sini," ucapnya santai.

"Surat sepenting ini seharusnya disimpan dengan baik," kata Uryuu seraya menyerahkan kontrak itu pada Orihime.

"Surat ini tak terlalu penting lagi," sahut Orihime.

"Kenapa?"

Orihime tak langsung menjawab, gadis itu melangkah ke lemari kabinet dan menyimpan berkas-berkas itu ke salah satu laci. Berlama-lama melakukannya sehingga tak harus segera menjawab pertanyaan Uryuu.

"Inoue, ada apa?" Uryuu bertanya lagi. Namun, Orihime masih enggan menjawab. "Inoue, katakan apa yang terjadi. Aku akan membantumu."

Orihime menghela napas, menoleh pada Uryuu dan memberinya senyum kecut. "Kau sudah membaca kontrak itu, bukan? Kau pasti bisa menebaknya," jeda sesaat sebelum Orihime melanjutkan, "Aku pulang tanpa meminta izin, meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Itu artinya ..." Orihime menggantung kalimatnya.

"Artinya kau melanggar salah satu klausa kontrak, pihak agency bisa saja memutuskan kontrak, dan kau harus membayar finalti. Apa aku salah?" Uryuu melanjutkan kalimat Orihime.

Gelengan menyambut pertanyaan Uryuu. "Kau lebih mengerti hukum dari aku, mengingat kau menghabiskan empat tahun mempelajarinya."

Uryuu menghela napas. "Kenapa kau melakukan itu? Kau tahu kan akibatnya? Finalti bisa dibayar, tapi kariermu mungkin─" Uryuu tak sanggup melanjutkan.

"Setelah mendengar kabar Kurosaki akan menikah, tak mungkin aku tak kembali," kata Orihime. "Namun, kembali pun percuma. Dia bahkan tak mau bicara denganku." Ia mengendikkan bahu, putus asa. "Rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Tak mendapatkan Kurosaki, dan kehilangan karierku di saat bersamaan. Benar-benar hebat, bukan?"

Uryuu menghampiri Inoue. "Kau tidak akan kehilangan kariermu," janjinya.

Orihime menengadah, menatap bingung ke arah Uryuu. "Tapi ..."

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang Ichigo, tapi aku berjanji kau tak akan kehilangan kariermu."

"Ishida-kun ...?"

"Sekarang, ayo kita makan. Kau sudah menyiapkan mejanya, bukan?"

.*.

Markas Black Sun:

Rukia, Rangiku, Nanao, dan Tatsuki berkumpul di ruang rapat, yang mendadak berubah fungsi menjadi ruang perencanaanpernikahan. Rukia duduk mengamati sementara Rangiku sibuk menelepon ke beberapa orang dan memberi bermacam perintah, sedang Nanao tengah mencatat di sebuah notes sambil sesekali berkutat dengan kalkulator. Tatsuki lain lagi, gadis itu tengah membuat sesuatu di komputernya. Rukia sendiri hanya duduk sembari memerhatikan mereka, sambil sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.

"Rangiku-san, kita belum memilih hidangan apa saja yang akan disajikan di pesta nanti," ujar Nanao.

Gerak tangan Rangiku yang tengah mengetik di ponselnya. "Sudah," jawabnya.

Nanao menelengkan kepala. "Kapan?"

"Tadi. Aku yang melakukannya." Rangiku mendorong buku catatan hingga ke depan Nanao. "Aku sudah menghubungi pihak katering dan memberikan catatan makanan apa saja yang harus disajikan, juga jumlah porsinya. Kue juga minumannya sudah disiapkan. Kita tinggal menyiapkan dekorasi juga menyewa meja dan kursi, juga harus menyuruh anak-anak membersihkan markas."

"Tempatnya beneran mau di sini?" Tatsuki melepaskan diri sejenak dari pekerjaannya.

Rangiku mengangguk, "Kita punya aula lumayan besar yang bisa disulap jadi tempat resepsi."

"Benar juga," gumam Nanao.

"Lagi pula, dalam waktu sesingkat ini kita tidak bisa menemukan tempat lain lagi," jelas Rangiku.

"Kau benar. Berarti tinggal menyiapkan dekorasi serta tempat duduknya." Nanao mencatat di notes-nya.

Ketiga wanita itu sibuk mendiskusikan mengenai persiapan resepsi, tak satu pun yang ingat untuk menanyakan pendapat Rukia. Mereka lupa meminta pendapat Rukia mengenai makanan yang ia inginkan ada di resepsi, atau dekorasi macam apa yang ia inginkan, tapi Rukia tak mempermasalahkan hal itu. Ada hal lain yang memenuhi kepalanya sejak tadi. Ia tengah mengkhawatirkan pertemuan dengan calon mertuanya nanti sore. Ichigo mengatakan ia tak perlu khawatir, tapi tetap saja ia gugup menunggu sore datang. Berbagai pikiran muncul di kepalanya, kebanyakan isi pikiran itu bermuatan negatif, membuatnya semakin resah.

"Hei, desain undangannya sudah selesai." Suara Rangiku menarik Rukia dari lamunan. "Wah, cantik-cantik. Kau pilih yang mana, Rukia?" Rukia beringsut mendekat, ikut melihat layar laptop.

"Aku membuat beberapa desain, kau bisa pilih salah satu," kata Tatsuki. "Kalau tidak ada yang kau suka, aku bisa mendesain yang baru sesuai keinginanmu."

Rukia tak langsung menjawab. Ia sibuk memerhatikan lima desain undangan yang dibuatkan Tatsuki. Semua cantik, ia sampai bingung menentukan pilihan. "Kau pandai sekali, semua desainnya bagus," ujar Rukia. Ia baru akan memilih desain yang pertama, sebelum teringat tak memiliki satu pun orang yang ingin ia undang ke pernikahannya. Memang ia masih memiliki seorang paman, tapi mengundang pamannya hanya akan mendatangkan masalah. Dan teman-temannya ... ah, Rukia tak pernah memiliki satu teman akrab pun di masa sekolah. Teman yang ia tahu hanya siswa yang sekelas dengannya, yang nama-namanya pun tak dapat Rukia ingat semua.

"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Rangiku.

"Kau tidak suka desainnya?" Tatsuki menimpali.

Bibir Rukia membentuk senyum simpul tanpa semangat, tanpa kata ia beranjak. Meninggalkan tiga wanita di ruangan itu dalam kebingungan. Rukia melangkah cepat tanpa tahu ke mana tujuannya. Di koridor ia bertemu tiga pria yang langsung mengadang langkahnya.

"Nona ingin pergi ke suatu tempat?" Salah satu dari mereka bertanya.

"A-aku hanya ingin mencari udara segar."

"Kami akan menemani Nona." Pria itu berkata lagi.

"Kurasa itu tidak perlu. Aku hanya ...," Rukia mengedarkan pandangan, mencoba mencari tujuan, "hanya ingin pergi keluar."

"Kami akan menemani Nona. Kaichou meminta kami untuk menjaga Nona."

"Tapi aku ..." Rukia menghela napas. "Aku akan kembali ke ruang rapat." Ia berbalik arah dan berderap menelusuri koridor yang baru saja dilewatinya.

Rukia terbukti tidak memiliki pengaturan waktu yang baik. Ia sampai di depan ruang rapat saat obrolan tentang dirinya belum selesai.

"Rukia terlihat tidak semangat mengurus pernikahannya sendiri." Terdengar suara Rangiku.

"Apa mungkin dia masih keberatan menikah dengan Kaichou?" Nanao menimpali.

"Andai Orihime yang ada di posisinya, dia pasti akan sangat bersemangat. Dia akan sibuk memilih undangan, kue, bahkan akan mengurusi detail dekorasinya. Aku bisa membayangkan bagaimana cerewetnya dia," tutur Tatsuki.

Rukia membeku di depan pintu, tak bisa melangkah maju atau mundur dan pergi dari sana, sementara obrolan yang membandingkan dirinya dengan Orihime terus berlanjut.

"Ya, ya, dia pasti akan sangat bersemangat. Dia akan sibuk mengurus ini dan itu, tidak akan secuek Rukia," sahut Rangiku.

"Kurasa Rukia tidak cuek, hanya tidak terlalu peduli." Kali ini Nanao yang bersuara. "Mungkin semua ini terlalu cepat baginya. Dia baru bertemu Kaichou, dan ..." Nanao mengedikkan bahu, tak melanjutkan kata-katanya.

"Kan dia bisa protes. Kalau dia tidak ingin menikah dengan Ichigo dia bisa menolak, bukannya melakukannya dengan setengah hati." Tatsuki mengemukakan pendapat. "Kalau dia secuek ini aku jadi malas membantu persiapan pernikahannya. Lagi pula, aku merasa seperti mengkhianati Hime dengan berada di sini."

"Kau membuat kita terdengar buruk, seperti teman yang tidak setia. Kita tidak mengkhianati siapa pun. Kita hanya melakukan apa yang Kaichou pinta pada kita," ujar Nanao.

"Kenapa juga Ichigo memilih gadis itu, bukankah selama ini Hime─"

"Tatsuki hentikan, kita sudah sepakat tidak akan membahas hal ini, bukan?" potong Rangiku. "Kita sepakat untuk membantu persiapan pernikahan Ichigo dan Rukia. Anggap saja kita sedang membantu seorang teman."

"Dan membuat teman yang lain tersakiti? Ichigo benar-benar bodoh karena tidak memilih Hime. Rukia ... gadis itu─"

Di luar ruangan Rukia mengepalkan tangan. Mungkin seharusnya ia berderap pergi dan tak memulain konfrontasi, tapi ada bagian dirinya yang tak mau kalah. Sebut ini ego, ya, ini memang ego seorang perempuan yang tak ingin dibandingkan dengan perempuan lain. Ia dan Ichigo sudah sampai di tahap ini, prosesnya memang singkat, tapi tidak mudah. Sulit bagi Rukia membuka hati dan menerima bahwa berada di sisi Ichigo adalah takdirnya. Jadi, saat ada orang-orang yang meragukannya, Rukia tak akan berdiam diri dan membiarkan hal itu berlalu begitu saja.

"Sudahlah, Tatsuki. Kita tak bisa memaksa Ichigo mengubah keputusannya. Jadi yang bisa kita lakukan adalah membantunya sampai selesai, walaupun calon mempelai wanita sama sekali tida─."

"Aku minta maaf jika kalian merasa aku kurang bersemangat, dan jika kalian merasa diriku bukanlah orang yang pantas berada di sisi Ichigo." Rukia masuk ke ruangan dan menginterupsi obrolan. "Berkali-kali aku mengatakan pada diriku bahwa tempatku bukan di sini. Berkali-kali pula aku ingin pergi, tapi aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa mengatakan hal muluk bahwa cintaku pada Ichigo sangat besar, bahkan tak bisa mengatakan dengan pasti tentang perasaanku padanya. Yang aku tahu hanya bahwa aku ingin bersama Ichigo, ingin berada di sisinya, tak ingin melepaskannya."

Rukia memusatkan tatapan pada Tatsuki. "Aku minta maaf jika aku menyakiti temanmu. Sekarang dia pasti sangat sedih, tapi tak ada yang bisa kulakukan untuknya. Mungkin, aku bisa mundur dan menyerahkan Ichigo padanya, tapi apa dengan begitu dia akan bahagia?" Tatsuki tak bisa menjawab pertanyaan Rukia, perempuan itu masih terkejut dengan kemunculan Rukia yang tiba-tiba. Pun dua orang lain di ruangan itu. "Kau mungkin menganggapku perempuan jahat. Perempuan egois yang merebut cinta temanmu, tapi aku sama sekali tidak merebutnya. Karena sebelum kedatanganku hati Ichigo tak pernah jadi milik Inoue. Kurasa kau pun tahu hal itu, hanya saja kau berharap untuk sahabatmu. Aku mengerti, dan sama sekali tidak menyalahkanmu. Hanya saja, aku pun tak ingin disalahkan olehmu."

Rukia diam sesaat, mengatur napasnya sebelum melanjutkan. "Aku mungkin terlihat tidak peduli pada pernikahan ini, tapi aku menginginkannya. Aku hanya tak tahu bagaimana harus bersikap, sebab semua ini terlalu cepat untukku." Ia tersenyum. "Aku ingin kalian tetap membantu persiapan pernikahanku, tapi aku juga mengerti masalah kalian. Jadi, untuk sekarang kita hentikan saja dulu semua ini dan mengambil jeda untuk berpikir. Besok, jika kalian masih ingin membantuku dan Ichigo, datanglah kemari. Aku berjanji akan bersikap lebih kooperatif." Setelah mengatakan hal itu, Rukia berbalik dan meninggalkan Ruangan.

.*.

Waktu belum menunjukkan pukul dua, ketika Ichigo sampai di markas. Renji dan Shuhei tak menemaninya kembali karena harus meninjau beberapa lini usaha Black Sun. Ia melangkah dengan santai sembari bersiul. Suasana hatinya memang sedang bagus hari ini sehingga senyum tak meninggalkan bibirnya.

Ichigo menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya, kemudian menanyakan keberadaan Rukia. Setelah diberitahu Rukia bersama Rangiku dan yang lainnya di ruang rapat, ia menuju ruangan yang berada di lantai dua itu. Ia melintasi aula yang seringkali dijadikan tempat kegiatan organisani mereka, dan aula ini juga yang akan dijadikan tempat pesta pernikahannya nanti. Ah, memikirkan pernikahan Ichigo jadi tambah bersemangat untuk bertemu dengan Rukia. Ichigo membayangkan Rukia tengah sibuk mengurus detail persiapan pernikahan mereka dibantu Rangiku, Nanao, dan Tatsuki. Ia sama sekali tak menyangka akan menemukan Rukia menuruni tangga dengan tergesa.

"Ru─" Ichigo baru akan menyapa Rukia, saat gadis itu menarik tangannya.

"Ayo kita pergi!"

"Ke mana?" tanya Ichigo bingung.

"Bukankah kau ingin mengajakku bertemu ibumu?" sahut Rukia.

"Memang, tapi─"

"Ayo, berangkat sekarang." Lagi, Rukia memotong kata-katanya.

Ichigo menahan langkah Rukia. "Tunggu dulu! Sebenarnya, ada apa?" Ia menahan tatapan Rukia di matanya. "Katakan," pintanya.

"Aku ingin bertemu dengan ibumu dan memastikan bahwa dia menerimaku sebagai calon menantunya."

Jawaban Rukia membuat Ichigo tak bisa bicara selama beberapa detik. Kemudian perlahan-lahan bibirnya mengurva membentuk senyum.

"Ichigo, kau mau pergi atau tidak?"

Ichigo semringah. "Tentu saja. Ayo, berangkat!"

.*.

bersambung ...

.*.

Uwaaa! Rasanya dah lama banget nggak ngetik fanfik. *emang udah lama banget, Neng*

Maaf ya, bikin lama menanti dan hasilnya pun seperti ini. Kemaren sempat terpikir untuk menghapus fic ini, tapi karena udah kebanyakan yang diapus jadinya nggak jadi deh. Hehe ...

Hum, akhir-akhir ini lagi sibuk sama proyek orific, makanya proyek fanfik jadi terabaikan. Dan hasilnya, alhamdulillah saya udah nerbitin tiga novel. Tiga? Saya pun nggak percaya bisa, tapi nyatanya emang bisa. I can make it! Saya yang awalnya hanya author fanfik, akhirnya bisa juga nulis novel. Untuk kalian yang juga punya mimpi jadi penulis novel, terus semangat, berlatih dan belajar. Jangan biarkan mimpi kalian berakhir hanya sebatas mimpi.

.*.

It's time for review's review:

Rukichigo

Halo, maaf lama tak menyapa.

Ichigo di sini mah peka, ooc dari karakter aslinya. Hehe ...

Iyup, sasaran Amagai Ishida karena dianggap paling berpotensi untuk membelot.

Gitu juga boleh, tapi Ichigonya ikhlas kagak ya kalo gitu.

Makasih dah RnR ya.

Azura Kuchiki

Hola, Mou-chan.

Kalo gitu, di chap ini kamu pasti tambah geregetan soalnya, si itu munculnya banyak.

Doakan saja semoga Ishida tidak begitu.

Bantuin gih persiapan pernikahannya biar cepet.

Sankyu dah RnR, ya~

Yuliita

Ini udah lanjut, maaf ya lama. Makasih dah RnR.

Hazuma

Hai, Hazuma. Makasih dah RnR, ya.

Maafkan saya baru bisa update lagi.

Betul. Sama siapa pun kagak masalah asal nggak sama Ichigo (paling nggak mereka tak bersama di fanfik saya)

Mari kita berdoa agar Ishida tak berkhianat.

IchiRuki HF

Hello, makasih dah RnR ya.

Sabar ... jangan esmosi. Kalo ngomongin si itu emang topik yang menyakitkan bikin sebel sekaligus empet, bawaannya pengen nabok. wkwkwk ...

Nah, kita masih belum tahu bagaimana Ishida menganggapi hal ini. Mungkin dia akan tetap setia sama Ichigo atau ... kita liat nanti.

Happy New Year yang terlambat enam bulan.

Izumi Kagawa

Makasih dah RnR, ya.

Chap ini belum ada adegan aksi. Chap depan mungkin bakal ada sedikit. Hehe ...

Nggak ada seharusnya, Ichigo mah cuek aja sama Inoue, tapi ya gitu, orang-orang di sekitar mereka ...

udah apdet nih, maaf lama kali.

Misslah

Makasih dah RnR, ya.

Udah next nih.

Nyta kusuma

Makasih dah mampir di fanfik saya.

Iyup. Saya pun deg-degan apakah bisa ngelanjutin fanfik ini atau nggak.

Makasih, ya.

Guest

Ini udah saya lanjutin.

Bukan, si Ulqui yang ngobrol sama Hime.

Makasih dah RnR, ya.

.*.

Akhir kata, terima kasih sudah mampir. Maaf jika masih banyak kekurangan di dalamnya.

See ya,

Ann *-*