Q: Avatar Sasuke cewek? Apa avatar itu lahir dari kepribadian pemiliknya?
A : Avatar Sasuke perempuan, bukan berarti kepribadiannya seperti perempuan. Disini saya mengambil karakteristik seorang Sasuke yang angkuh dan – terbilang cukup – perfeksionis. Saya mengambil hal itu dari seorang perempuan, kesannya agak aneh kalau laki – laki.
Q :Apakah Kurama yang ada di tubuh Naruto memiliki jiwa dan keinginan sendiri?
A : Kurama adalah Avatar. Avatar merupakan bayangan yang berasal dari 'tuan' mereka. Mereka memang memang memiliki jiwa, tetapi keinginan mereka hanya satu ; menuruti semua perintah 'tuan' mereka, seperti halnya sebuah bayangan.
.
# Ah, kalau pertanyaan readers tak muncul dalam sesi chapter ini berarti ada dua kemungkinan. Pertama, pertanyaan itu sudah terjawab di chapter – chapter sebelumnya. Yang kedua, pertanyaan itu akan terjawab di chapter sekarang atau yang akan datang.
So, Enjoy it
.
.
.
Minggu pagi yang seharusnya tenang itu justru dibuat oleh ledakan – ledakan hebat yang berasal dari lapangan yang biasa digunakan untuk latiha tanding.
"He? Sudah dimulai?" Gina menyeruakan pendapat tak percayanya ketika ia sedang mengerjakan tugasnya di kantin bersama Arashi dan Kito. Gina merutuki kebodohannya. Latihan tanding selalu dimulai lebih awal di hari minggu. Ini dimaksudkan agar, peserta tak kehilangan waktu untuk menyembuhkan luka setelah adanya latihan tanding.
Dengan buru – buru, ia segera membereskan tugas – tugas yang berserakan.
"Kau masih ingin melihatnya, Gina?" Arashi memandang heran pada Gina yang terlihat panik.
"Tentu saja, apalagi hari ini ada Shion-chan yang bertanding." Setelah selesai, ia bergegas meninggalkan kedua teman sekelasnya ini.
"Tak pergi juga, peubah nama?" Kito membuyarkan lamunan Arashi yang sedari tadi memperhatikan kepergian Gina.
"Masalah untukmu, Norak." Arashi mendelik tajam pada sebelahnya.
Kito menahan tawanya. "Sejak tingkat awal, kau memang hanya bisa mengubah nama. Tapi sepertinya kosakatamu, tidak, eh? Lagipula, aku betah disini karena ada Gina." Kito segera berdiri dan berjalan menuju asramannya. Ia malas untuk melihat latihan tanding itu. Lebih baik, ia membaca komik er-hentai kesukannya.
Arashi menggeram rendah ketika mengetahui maksud Kito. Ia akui, selama ini ia hanya membalas perkataan Kito dengan satu kalimat. 'Masalah untukmu, Norak?'. Tapi ia sedikit mengerti maksud dari kalimat Kito yang terakhir.
Kito menyukai Gina, eh?
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
The World of Avatar © Ru Unni Nisa
Genre : Adventure, Fantasy, Friendship
Warning : Sekuel 'Teman', AU, OC, OOC, Alur membingungkan, Penjelasan yang kurang dimengerti, Don't Like and Don't Read.
.
Langit yang semula bersih berwarna biru penuh awan itu kini ternodai oleh asap kelabu yang membumbung tinggi. Tak berapa lama, asap itu mulai menghilang. Menunjukkan siapa penyebab timbulnya asap tersebut.
Para penonton bertepuk tangan riuh melihat pertarungan yang ditunjukkan. Penonton duduk mengeliling lapangan yang sudah disiapkan pengaman sebelumnya.
Lapangan itu empat kali lebih besar dari lapangan Sepak Bola. Disekelilingnya terdapat saluran air bersih yang mengalir bak sungai, memberikan dukungan untuk mengeluarkan elemen Air. Tanah lapangan itu lembab, namun tidak berlumpur. Disisi lapangan ada 4 tiang yang memunculkan api yang mungkin tidak akan padam, meskipun terkena air. Bagian atas tak beratap, untuk menerima terpaan sinar matahari, membantu perkembangan elemen Cahaya.
Karin, gadis berambut merah berkacamata itu terengah. Kelelahan, setelah sempat mengeluarkan elemen gabungan miliknya. Elemen Gelombang. Elemen ini merupakan gabungan dari elemen Angin dan Pikiran miliknya. Ia memiliki 3 elemen sebagai seorang Silverer, yakni Angin, Pikiran dan Logam.
Karin tersenyum kecil mengetahui pengorbanan tenaganya tak sia – sia. Dari posisinya di sebelah kanan, ia dapat melihatnya lawannya terengah setelah mendapat perlawanan sengit darinya.
Shion, gadis yang merupakan lawan dari Karin. Merutuki kesialannya mendapat lawan yang tidak menguntungkan. Ia bukan pengguna elemen Bumi yang bisa menahan serangan dalam Elemen Gelombang milik Karin. Ia hanya memiliki 3 elemen sebagai seorang Silverer, yakni Pikiran, Api dan Logam.
Setelah mendapat nafas yang cukup. Shion segera berdiri tegak. Melirik penuh arti pada Avatar miliknya yang akan selalu setia menemaninya.
Avatar miliknya merupakan seorang laki – laki tua yang memiliki rambut dan jenggot perak yang luar biasa panjang. Terdapat bola kristal yang melayang tepat didepan dada Avatarnya. Menahannya tanpa jarak dengan dua tangan besar dari Avatarnya terhadap bola tersebut. Membalas tatapan majikannya dengan mata ungu pucat miliknya.
Memperbaiki kacamantanya. Karin dapat melihat Shion tengah 'berkomunikasi' dengan Avatarnya. Tenaganya hampir habis setelah digunakan untuk perlawanan beberapa saat yang lalu. Dalam kelelahan ia berusaha mencari cara untuk mengalahkan lawannya dengan efektif.
Avatar Karin mirip dengan sebuah boneka. Dengan bentuk hewan Panda Merah, wajahnya benar – benar bulat dan merah-tentunya. Alih – alih kedua telinga, yang ada hanyalah earphone yang cukup besar untuk dilihat oleh orang. Di kedua telapak tangannya terdapat gantinya, yakni sepasang telinga yang melekat di tangan Avatar tersebut. Disekeliling Karin terdapat beberapa spiral – spiral berbentuk lingkaran yang biasanya digunakan untuk mode menyerang dengan sensor miliknya.
"Foudre! Un boulon de cristal"
Mata Karin terbuka lebar mendengar mantra yang berasal dari bahasa Prancis tersebut. Dengan cepat menahannya. Ia menyilangkan kedua tangannya didepan wajahnya. Tahu, tidak akan berhasil. Karin, membalas mantranya yang berbahasa Nepal.
"Dhatu! Dhala!"
Detik berikutnya, Karin langsung menyesali mantra yang ia putuskan tersebut. Mantra yang ia keluarkan tanpa pemikiran tersebut, merugikan dirinya. Mantra yang berasal dari elemen Logam itu, memerlukan tenaga yang cukup besar. Karena ia berencana untuk melindungi dirinya dan avatarnya dengan perisai tersebut.
Pembuatan perisai yang belum rampung itu justru menguntungkan penyerangan Shion. Petir, elemen gabuangan yang berasal dari elemen dasar Api dan Cahaya itu mulai mendekatinya. Sial. Elemennya semuanya merupakan elemen bertahan tanpa penyerangan. Ia tak bisa berbuat apa – apa.
"Argh..!" Sentakan dari petir yang mengenainya dan Avatarnya benar – benar menyakitkan. Rasa menyengat berasa sampai keseluruh tulangnya. Mampu membuat ia merasakan tubuhnya terasa dibelah menjadi dua.
"Bagaimana, eh senpai? Menyerah?" Shion mengejeknya. Menyeringai ketika ia tahu kemenangan ada didepan matanya.
Tapi, jangan panggil dia Uzumaki kalau dia menyerah.
"Uzumaki tidak akan pernah menyerah!" Karin berteriak dengan kerasnya.
...
Naruto yang berada di bangku penonton, bahkan bisa mendengarnya. Ia terdiam sejenak. Namun kemudian, menyeringai kecil.
"Ya, seorang Uzumaki tidak akan pernah menyerah."
...
Masih ada satu lagi. Bertahanlah, Reda.
Tentu, putri.
Karin menyeringai. Akan ia jadikan ini adalah serangan terakhir untuk latihan tanding ini.
"Pavana! Sarpila Hava!"
Dan dengan udara yang berada disekitarnya. Ia membentuk udara menjadi spiral – spiral berputar hampir seperti bor. Dengan gerakan tangan, ia mulai menyerang Shion.
Shion yang sudah kehabisan tenaga setelah mengeluarkan elemen gabungan dari Petir itu berusaha menghindar. Namun sayang, serangan yang berasal dari elemen Angin itu sudah lebih dulu menghantamnya.
DUAR...
Lagi – lagi ledakan. Namun, ketika asap mulai menipis kini berbeda tampilan yang sebelumnya. Hanya Karin yang masih berdiri, kelelahan. Sementara Shion sudah tumbang dengan avatarnya yang menghilang lebih dulu.
"BERHENTI!" Dan wasit memutuskan menyelesaikan latihan tanding tersebut. Dengan mengangkat tangan kanannya, wasit memberitahukan pemenangnya. "Pemenang! Posisi Kanan! Uzumaki Karin dari Tingkat Akhir!"
Berakhirlah latihan tanding tersebut. Namun, itulah awal untuk sorak kemenangan bagi Karin dan para siswa Tingkat Akhir yang melihat pertandingan.
Karin mengangkat kedua tangannya. Ia menang! Ia menang! Besar kemungkinan, levelnya naik daripada sebelumnya. Namun, rupanya ia juga kelelahan. Ia hampir saja limbung jika tidak ada seseorang yang menahannya.
Menengok, ia melihat ia siapa yang menolongnya. Menghilangkan avatar miliknya, ia mengenalinya. "Arigatou, Juugo."
"Ayo, kita ke UKS."
...
"Hei, Mask. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Fuyuki terlihat menghampiri Naruto yang beranjak meninggalkan tribun penonton.
"Eh? Tidak ada." Naruto langsung menyeringai jahil. "Kenapa kau ingin mengajakku berkencan?"
Fuyuki memutar bola matanya. "Kau dan imajinasimu." Menggerutu, namun akhirnya melanjutkan. "Mau ke pasar?"
…
Pasar itu berada dekat dengan Academy Avatar. Pasar yang sangat mirip dengan pemukiman. Mereka membuka kios atau lapak – lapak kecil untuk menjual dagangan mereka. Mereka menjual berbagai macam kebutuhan. Entah itu pangan, papan, pakaian, aksesoris dan sebagainya. Pasar itu dikenal dengan nama 'Pasar Akhir Pekan'. Karena, biasanya pasar akan dipadati oleh murid academy ketika akhir pekan.
Academy Avatar memang mengijinkan setiap muridnya untuk keluar dari asrama selama akhir pekan. Entah itu mengunjungi keluarganya atau sekedar jalan – jalan disekitar pasar.
Namun, ada satu tempat yang membuat Naruto tertarik. Ia berhenti disebuah gedung yang cukup besar diantara yang lainnya. Gedung itu menjulang dengan lebarnya. Diatasnya terdapat ukiran besar – besar, 'Sagyo Yokyu Avatar' – Permintaan Pekerjaan Avatar.
"Hei, Fuyuki." Naruto menghentikan langkahnya. Dan membuat Fuyuki yang disebelahnya ikut berhenti. "Ini gedung apa?"
Fuyuki terdiam. Ia terlihat menganalisis. Berusaha mengingat apa yang ia pelajari sebelumnya. "Ah ya. Aku pernah membacanya, ini adalah tempat dimana kita bisa mendapat pekerjaan." Fuyuki memulai. "Disini adalah tempat yang menampung semua permintaan misi dari orang lain – entah itu bukan pengguna avatar atau pengguna yang membutuhkan bantuan. Permintaan misi bisa apa saja. Dimulai dari memperbaiki sesuatu yang rusak, menolong penduduk ataupun meringkus para penjahat. Sayangnya, untuk mengambil pekerjaan. Kau harus mendapat sertifikat izin resmi dari Kementrian Avatar."
Naruto mengangguk. "Bagaimana mendapatkan sertifikat itu?"
Fuyuki mengangkat bahu. "Aku dengar kau harus mengikuti ujian yang diselenggarakan setiap tahun, dan hanya beberapa yang lulus."
"He?" Naruto menyerit bingung. "Aku kira kita bisa langsung mendapat izin setelah lulus dari Academy. Ternyata masih ada ujian seperti itu."
Kali ini, Fuyuki mengangguk. "Ya, kau tahu Kakashi-sensei? Dulu dia memang prajurit elit dari Kementrian Avatar. Lulus dari Academy diumur 17 tahun, langsung mengikuti ujian tersebut dan – jreeng – dia langsung mendapatkannya. Oh ya, aku dengar kita masih bisa mendapatkan misi, hanya saja mungkin hanya sebatas daerah sini dan tidak akan memasuki daerah tetangga."
Naruto kembali mengangguk. "Bagaimana denganmu Thinker? Ingin mencoba keberuntungan?"
Fuyuki kembali mengangkat bahu, namun kali ini ia lanjutkan perjalanannya. "Akan kupikirkan."
"Ya, tipikal."
Namun, perbincangan mereka langsung terhenti ketika mendengar suara jerit pilu yang menyayat. Mereka lantas menengok kebelakang dan melihat Kuro tengah menggeram pada seseorang.
Rupanya orang tersebut telah menginjak ekor Kuro yang sedari tadi bergoyang – goyang ketika dengan tenang duduk dan memperhatikan gedung yang sedari tadi menjadi topic diskusi Naruto dan Fuyuki.
"Ah, maaf. Maafkan aku. Aku tidak sengaja." Suara itu terdengar ceria.
Mereka berdua melihat dan menemukan seseorang yang mengenakan topeng spiral dengan adanya lubang dimatanya. Namun, dari seragam yang dikenakan berwarna putih bersih dengan adanya lambang merpati dibalik jubahnya, mereka yakin orang ini adalah Kapten Pengawas dari Kementrian Avatar.
Seketika, Kuro langsung melompat dan bergelung dileher Naruto. Ia terlihat ketakutan. Neko-chan juga merasakan hal yang sama.
"Aduh… Sepertinya kucingmu ketakutan. Apa tidak apa? Aku benar – benar minta maaf, tidak sengaja menginjak ekornya." Terdengar rasa bersalah dari pria bertopeng ini.
Naruto hanya terdiam. Ia menengokkan kepalanya pada Kuro. "Kau tidak apa – apa, Kuro?" Ia agak kebingungan mendapati Kuro ketakutan dan menjawab layaknya kucing biasa.
"Meong…"
"Ah, namanya Kuro, ya." Pria itu lantas mendekat berusaha untuk menyentuh Kuro.
Namun, dengan sigap Kuro sedikit mencengkram pundak Naruto. Membuat Naruto refleks melangkah mundur dan meringis kesakitan.
"Sepertinya kucingmu takut padaku." Pria itu terdengar meringis menyadari kebodohanya. "Baiklah, perkenalkan namaku Tobi, Kapten Pengawas Kepengurusan Permintaan Misi." Pria itu memperkenalkan dirinya. "Kalau kucingmu kenapa – kenapa, temui saja aku dan aku akan mengganti ruginya."
Naruto tersenyum canggung. "Tidak apa – apa. Um, aku Uzumaki Naruto dan dia-" Menunjuk Fuyuki. "-Masaki Fuyuki. Kami murid Tingkat Awal Academy Avatar, Tobi-san." Naruto memperkenalkan dirinya. Tak sopan rasanya mendengar orang lain memperkenalkan dirinya padamu, sementara kau acuh padanya.
"Baiklah. Aku harus segera menyelesaikan tugasku. Sampai jumpa." Dengan itu, Tobi – Kapten Pengawas Kepengurusan Permintaan Misi Kementrian Avatar – segera memasuki gedung Sagyo Yokyu Avatar.
"Kau tidak apa – apa, Naruto?" Fuyuki teringat dengan goresan yang dibuat oleh Kuro pada pundak Naruto.
Melirik Kuro yang masih tidak mau mengatakan apa – apa. Naruto menghembuskan nafas lelahnya. Ia dapat merasakan perih yang diakibatkan kuku – kuku tajam Kuro yang menancap pada pundaknya.
"Aku rasa kita harus mencari tempat duduk, Fuyuki." Naruto memberi saran dan dijawab anggukan oleh Fuyuki.
Akhirnya mereka menemukan sebuah lapangan – yang sepertinya digunakan untuk sepak bola – yang sepi.
"Sekarang ceritakan pada kami, Kuro." Naruto berusaha mengorek informasi pada Kuro yang saat ini berada dipangkuannya seperti biasa, kepalanya dimanjakan oleh tangan Naruto.
Kuro yang sebelumnya nampak nyaman dengan perlakukan Naruto dan menutup mata. Kini membuka matanya, namun dengan gaya menyipit. Ia menggeram penuh amarah. "Aku tidak tahu, yang jelas jauhi pria itu Naruto." Desis Kuro.
Naruto yang baru kali ini mendengar desisan Kuro hanya memasang wajah kebingungan. Sementara Fuyuki yang mengobati pundak Naruto dengan obat – obatan yang sempat mereka beli di jalan, ikut menghentikan kegiatannya.
Mereka dapat mendengar Neko-chan/Shiro mendengus pelan. Ia kini bergelung disebelah Naruto. Menutup matanya dan melanjutkan. "Aku benci mengakui ini. Tapi aku setuju dengannya."
Naruto sweatdrop. Jadi, mereka masih bertengkar rupannya. Sedikit meringis ketika Fuyuki selesai mengobati. Namun, ia dapat merasakan Fuyuki terlalu keras menekan lukanya. "Pelan – pelan, Thinker." Dan langsung mendapat tatapan tajam dari teman masa kecilnya. Ia dapat merasakan tatapan tajam itu beralih pada Neko-chan yang sedang bergelung.
"Jadi kalian sedang bertengkar, eh?" Terdengar nada meremehkan disana.
Neko-chan membuka sebelah matanya. "Oh, ternyata ada tukang pemikir juga. Kenapa aku tidak menyadarinya."
"Apa? Apa maksudmu kucing sinis?"
"Ho, rupanya tingkat pemikiranmu menurun, eh?"
"Kau…" Fuyuki mulai naik darah. Namun, pembalasannya berhenti ketika ia mendengar sesuatu. "Eh? Kau mendengarnya?" Fuyuki berusaha mempertajam pendengarannya.
Naruto mengangguk. Ia segera membawa Neko-chan kembali keatas kepalanya. Sementara Kuro meloncat turun. Naruto mengerutkan keningnya. Ia tak suka dengan suara ini. "Ini- Seperti suara adu pukul." Naruto berkata dengan ragu – ragu.
Mereka memandang sekeliling. Mereka memang berada dipinggir lapangan luas yang sepi. Didepan mereka adalah jalan sepi yang jarang dilewati oleh orang – orang. Kanan dan kirinya adalah pepohonan tinggi dan besar. Sementara dibelakang mereka adalah hutan yang agak lebat.
Mereka saling pandang. Menentukan dimana asal suara tersebut. Mengangguk. Dan akhirnya mereka berjalan mengendap – endap memasuki hutan yang berada dibelakang mereka. Kuro berada didepan mereka. Memimpin jalan. Suara saling pukul itu semakin nyata terdengar oleh mereka.
Diujung pepohonan yang rimbun itu seolah ada lapangan rumput yang luas. Namun, sebelum mereka melihat dengan jelas. Kuro berhenti. "Siagakan Avatar kalian."
Mereka menyatukan alis mereka. Kebingungan. Namun, mereka menurutinya. Berusaha mempersiapkan Avatar mereka yang bisa dimunculkan kapan saja. Mereka sejenak berpisah, mencari persembunyian dibalik batang pohon yang besar.
Mereka dapat melihat beberapa orang tengah mengerumuni sesuatu. Dengan seseorang yang sedang tertawa melihat apa yang sedang kerumunan itu lakukan. Orang tersebut memiliki rambut hitam sebahu. Warna matanya yang merah sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Umurnya terlihat tua beberapa tahun dari mereka.
Naruto sedikit bergidik ketika mendengar orang pria tersebut tertawa gila.
"Dia seorang Golder." Neko-chan memberitahu. "Sementara yang lainnya Silverer dan Bronzer."
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Fuyuki agak gelisah. Entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Aku ti-" Naruto belum selesai melanjutkan karena ia lebih dulu terbelalak ketika melihat kerumunan itu membubarkan mereka dan berlari menuju pria yang sepertinya adalah pemimpin mereka. Namun, bukan itu yang membuatnya kaget setengah mati. Tetapi yang mereka tinggalkan.
Seorang anak laki – laki yang saat ini kaki dan tangannya terikat. Mulutnya ditutup dengan kain yang sepertinya diikat dengan sangat kuat. Naruto dapat melihat anak itu hampir menangis. Namun, yang mencengangkan adalah apa yang tertempel diperut anak tersebut.
Bom Organ
Naruto dan Fuyuki saling memandang. Pikiran mereka sama. Itu adalah bom yang digunakan untuk menghancurkan organ dalam manusia, tanpa merusak kulit luar manusia itu sendiri. Jantung Naruto berdetak ngeri.
Kembali melihat si anak. Mereka melihat hitungan mundur bom itu.
12 Detik lagi!
Tanpa basa – basi mereka segera berlari menyelamatkan si anak.
Naruto, kau jinakkan bom-nya. Aku akan melawan mereka sementara ini.
Baik. "Kuro panggil bantuan, siapapun itu."
"Baik." Dengan itu mereka segera melancarkan rencana penyelamatan dadakan mereka. Kuro berlari keluar hutan, mencari siapapun yang ia percayai untuk dimintai bantuan. Shiro masih berada diatas kepala Naruto, mungkin ia akan bertugas menenangkan anak itu ketika Naruto selesai menjinakkan bomnya.
Ayo, Hoplites. Kita harus menyelamatkan anak itu. Naruto segera berlari menuju anak itu. Tak perlu mendengar jawaban apapun, Avatar Silver miliknya sudah keluar. Ia harus mengeluarkan Avatarnya untuk bisa menggunakan elemen gabungan Penjinakan. Yang berasal dari penggabungan elemen dasar Pikiran dan Logam. Sementara untuk Avatar Silvernya, ia hanya menguasai 3 elemen dasar, Angin, Logam dan Api. Memang aneh, namun, ia tak memiliki batasan mengeluarkan semua elemennya, meskipun berada dalam Avatar Silver. Hanya saja akan lebih terbatas daripada ia mengeluarkan Kurama.
Avatar yang membentuk seorang laki – laki berambut jingga pendek berantakan. Ujung atas telinganya yang sedikit memanjang sehingga terlihat seekor elf. Mengenakan topeng putih dengan motif lidah api berwarna orange dan mata yang sama hijau segar dengan rumput sekitarnya. Baju zirah tanpa lengan. Dilengan kirinya terdapat gelang silver dan perisai sementara lengan kanannya membawa tombak runcing.
5 detik lagi! Adrenalin Naruto semakin naik. Detak jantungnya semakin cepat. Keringat di dahi dan punggungnya terus menetes. Menunjukkan betapa tegangnya ia saat ini.
"Syndyasmena stoicheia Jmeroma! Exaleipsj Ekrjxj!"
3 detik!
Mantra yang menggunakan bahasa Yunani itu langsung direspon oleh Hoplites. Menggerakan tangannya yang membawa tombak dan mengarahkannya tepat dipusat perisai. Menimbukan sedikit percikan api.
2 detik!
Percikan api itu melayang. Dengan pikirannya, Hoplites memasukkan percikkan api tersebut kedalam alat yang disebut bom organ tersebut.
Ayo, berhasillah!
.
.
"Siapa kalian?! Apa yang kalian lakukan pada anak kecil itu, hah!" Kalimat tanya yang dikeluarkan Fuyuki, namun nada suaranya berbeda, mengancam. Dahinya tertekuk, matanya menyimpit. Dalam hati ia berusaha membaca pikiran orang – orang aneh ini.
Ia dapat mendengar orang – orang yang sebelumnya berkumpul itu tertawa.
"Memangnya apa urusanmu?!" Pria yang terlihat paling muda itu tertawa.
Fuyuki bergedik pelan ketika mendengarnya. Sangat menakutkan. Ia mencoba membaca pikiran pria tersebut. Kedua matanya melebar ketika pikiran pria ini tak ia temukan, atau lebih tepatnya kosong.
Pria itu menyeringai. Pandangannya kosong, dan seolah menerawang. "Kalian urus dia." Dengan cepat pria itu berlari menjauhi mereka.
"Hei! Tu-" Belum sempat Fuyuki menghentikannya. Gerombolan orang itu sudah mengepung dirinya. Fuyuki mengerutkan dahi, ini sedikit aneh. Kenapa orang – orang ini memiliki pikiran? Sedangkan pria tadi tidak? Apa mungkin, pria itu adalah ketua dari mereka?
"Jangan melamun saja."
"Ute! Ryusei no kasai!"
Kedua mata Fuyuki melebar. Ia belum siap dan orang – orang bodoh ini sudah lebih dulu melawannya. Ditambah perlawanan kali ini 1 berbanding 3. Yang benar saja. Dengan cepat mengeluarkan avatar miliknya, ia melompat menghindari perlawanan.
Dan benar saja. Banyak sekali meteor yang berusaha mengenainya. Ia tahu, itu bukanlah meteor yang sebenarnya. Namun, sebuah kombinasi antara elemen Bumi yang menjadi batu kecil dan dipadukan dengan api. Ini tidaklah termasuk dalam elemen gabungan, karena tak menciptakan elemen baru. Hanya kombinasi.
Itu berarti, seseorang lagi yang yang sudah mulai melawannya.
"Terra! Crusta!"
Avatarnya yang berbentuk kepala kuda unicorn berwarna putih, mata merah seperti rambutnya, tanduk spiral berwarna ungu dan terdapat gelang emas di pirang yang dibelah pinggir. Dengan badan setengah manusia yang bertelanjang dada.
Avatar yang bernama Uni itu merespon mantra Fuyuki yang berbahasa Latin, menghentakkan kedua tangannya ke tanah. Dan dengan cepat, tanah yang berada disekitarnya bangkit dan mengeras. Naik hingga membentuk sebuah tempurung yang digunakan untuk melindunginya dari serangan meteor tersebut.
"Unda! Tela in Aqua!"
Sementara Fuyuki berlindung, ia melancarkan serangannya. Menggunakan air, ia dapat mendengar orang – orang tersebut teriak kesakitan. Menurunkan perlindungannya, ia dapat melihat semua orang jatuh karena serangan peluru airnya.
Fuyuki menghitung ketika gerombolan itu telah mengeluarkan avatar mereka. Dua diantaranya adalah Silverer sementara yang satunya adalah Bronzer dari gelang yang terdapat di tangan kiri Avatar mereka.
Salah satu pengguna Avatar itu menggunakan bahasa Jepang terlihat dari pakaian yang merupakan pakaian pria tradisional Jepang. Yang satunya sepertinya mengenakan pakaian tradisional Belanda, Klederdracht. Dan terakhir Bronze, avatarnya adalah seorang perempuan yang mengenakan Hanbok, pakaian tradisional Korea.
Ia kembali menyiagakan avatarnya. Ia sedikit mengangkat alisnya ketika melihat kristal merah di setiap atas kepala Avatar masing – masing. Menyeringai. Kriminal amatir.
"Balam! Geul meoli gihoneun sanduel balam!"
Mantra berbahasa Korea itu diucapkan dengan sangat cepat. Fuyuki hampir tak bisa mengikutinya. Namun, melihat banyaknya peluru yang terbuat dari angin, ia akan langsung menahanya.
"Terra! Wall!"
Dinding terbentuk terbuat dari tanah. Melindungi Fuyuki sekali lagi dari serangan.
"Ketsugo shita yoso! Raitoningu!"
Oh, sial. Fuyuki mengumpat. Itu adalah Elemen Gabungan Petir, yang berasal dari Elemen Dasar Api dan Cahaya. Ia mendengar sebuah sambaran petir menghantam dinding tanahnya. Memporak – porandakan dinding tersebut. Terkena efek dorongan, ia terhempas dibelakang.
Buagh...
Fuyuki meringis ketika ia merasakan sakit diperutnya. Ternyata si 'Belanda' lebih suka jarak dekat. Namun, ia belum siap. Ia dapat melihat 'Belanda' sekali akan memukulnya.
.
.
"Ao! Soshin sa reta!"
Seruan itu langsung ditahan Naruto dengan perisai Hoplites. Ia dapat merasakan angin besar yang mendorongnya. Ia baru saja lega, ketika bom itu sudah berhasil ia jinakan di detik terakhir. Dan sekarang Neko-chan tengah berusaha menenangkan anak laki – laki yang ketakutan tersebut.
Menyingkirkan perisainya, ia dapat melihat pria bermata merah itu menerawang dengan kosong. Ia tahu gejala seperti itu. Mengedarkan matanya sekeliling. Mencari seseorang. Namun, matanya tertangkap sesuatu yang menarik. Terdapat kristal merah diatas kepala Avatar pria tersebut.
"Shokubutsu no fukugo yoso! Makihige messhu!"
Naruto yang masih dalam pemikiran, tak menduga serangan jebakan seperti ini. Ia terjerat oleh sulur – sulur yang muncul dari dalam tanah. Menahan setiap gerakannya. Ia melirik ke arah Neko-chan dan anak laki – laki tadi. Mereka juga sama terjerat. Naruto melihat pria itu berjalan menghampiri mereka. Naruto mengira, pria itu akan kembali melakukan hal buruk pada anak laki – laki itu.
Dengan cepat, melakukan sesuatu.
"Syndyasme na stoiche ia apo kaoutsouk! Kaoutsouk pagideftes!"
Dengan itu, sebuah api yang lengket langsung menyambar pria tersebut. Api karet berwarna merah itu langsung menahan pergerakan pria tersebut. Membuatnya tampak seperti mummy yang dikelilingi oleh api karet.
"Kokkino!-"
"Ute! Kagayaite!"
Belum selesai, Naruto menyebutkan mantra lain, suara lain sudah mengintrupsinya. Sulur – sulur yang menjerat mereka terbakar habis, namun tak sampai menyentuh kulit mereka.
"Kalian tidak apa – apa?"
Naruto menaikan alisnya melihat seorang Uchiha Sasuke berada disini. Bersama Avatarnya.
"Aku bertemu dengan kucingmu yang Hitam itu. Kami sempat bertemu dengan Nara-senpai dan Sabaku. Salah satu diantara mereka pasti menolong temanmu, sementara yang lainnya akan mencari pertolongan efektif. Jadi, apa masalahnya?"
Naruto mengangkat alisnya mendengar seorang Uchiha berkata panjang lebar tanpa paksaan. Belum sempat menjawab, mantra lain sudah mulai dilafalkan.
"Aisu no kumiawase no yoso! Hakai suru!"
Mantra yang terdengar itu langsung membuat mereka mengalihkan perhatian mereka pada pria yang tadi sudah dijerat dengan api karet. Namun, sekarang yang mereka lihat adalah api karet tersebut sudah dibekukan. Es itu kian lama kian mengeras.
"Mundur."
Mengikuti apa yang dianjurkan Sasuke. Naruto segera membawa anak laki – laki dan Neko-chan untuk menjauh dari pria tersebut. Ia segera menghampiri Kuro yang sudah kembali.
PRANK...
Suara pecah itu berasal dari es yang sudah hancur. Pria itu masih menyeringai. Namun, kali ini lebih lebar dan lebih menakutkan. Matanya masih kosong seperti biasa.
"Bagus. Sekarang ada dua." Kalimat ambigu itu membuat Naruto dan Sasuke saling berpandangan tak mengerti. "Bersiaplah! Aku akan menangkap kalian! Dan 'kan kujadikan persembahan!"
"Shokubutsu no fukugo yoso! Sen no toge!
Sasuke melebarka matanya. Ia tahu mantra tersebut. Dengan cepat bertindak, berusaha menepis serangan. Seribu duri besar yang terbuat dari tanaman itu menyerbu mereka.
"Chikyu! Shirudo!"
Muncul dinding tanah yang berusaha menghalau serangan duri tersebut. Sasuke sedikit kesulitan menahannya.
"Metal! Skljrymeno!"
Sasuke dapat melihat dinding tanah buatannya, kini mengeras dan terlihat bercampur dengan logam sehingga tidak akan tertembus oleh duri – duri besar tersebut.
"Aku tahu kau memang seorang Golder. Tapi aku rasa, bertarung sendirian melawannya tidak baik. Kita harus bekerja sama, Uchiha." Naruto agak sebal mengingat betapa 'sok' heronya dari Uchiha Sasuke. Ia sedikit melirik kebelakang tempat Neko-chan dan Kuro yang tengah mengamankan anak laki – laki tersebut.
Sasuke mengangguk. Meskipun tidak terima, ia akhirnya menyetujuinya.
"Keluarkan elemen Api milikmu bersamaan denganku." Meskipun ia juga memiliki elemen Api. Namun, ia yakin api miliki Uchiha lebih besar dari api Avatar Silver miliknya.
Sasuke mengangguk. "Ya."
"Ute! Hi no chīsana bōru!"
"Metal! Metallike s sfa ires!"
Dengan itu muncul bola – bola logam yang diselimuti api. Bola itu terus melayang, menuju sasarannya. Pria bermata merah itu. Menyeringai, pria itu menahan serangan kombinasi tersebut.
"Mizu! Mizu no Kabe!"
Terbentuklah dinding air yang sangat besar menghalau serangan kombinasi tersebut.
"Sekarang!" "Ya!"
"Ute! Kagayaite!"
"Fotia! Lampei!"
Mantra yang sama berbeda bahasa itu, langsung direspon oleh Avatar masing – masing. Mereka menyemburkan api bersamaan, dengan sasaran bola logam berselimut api. Kini, bola logam itu tak lagi diselimuti api merah. Melainkan api biru. Sebuah kombinasi dari elemen Api, tanpa adanya penggabungan dari elemen lain.
Bola logam berselimut api biru itu meluncur dengan mudahnya menembus dinding besar yang terbuat dari air. Dan dengan kecepatan diatas rata – rata. Bola itu langsung menghantam pria tersebut.
Suara ledakan itu, mampu membuat Fuyuki yang sedang bertarung dan dibantu oleh Gaara menghentikan kegiatan mereka. Mereka baru saja mengalahkan si 'Belanda' dan 'Korea'. Hanya si 'Jepang' yang paling pandai berkelit dalam melawannya.
"Lucis Unicornis laudes!"
Memanfaatkan kelengahan si ' Jepang'. Fuyuki memberikan serangan terakhirnya. Itu adalah elemen Cahaya, dengan memusatkan pada tanduk Unicorn Avatarnya. Maka mantra tersebut akan berguna seperti tembakan laser.
"Kau tidak apa – apa?" Gaara masih berusaha menyakinkan diri bahwa musuh dihadapannya telah kalah.
Fuyuki mengangguk. Ia terengah. Sudah berapa kali ia menggunakan Elemen Gabungan yang membutuhkan lebih banyak tenaga. Ia jatuh terduduk. Ia sedikit meringis, menahan sakit diperutnya, bekas pukulan si 'Belanda'.
"Maaf, kami terlambat." Gaara sedikit simpati melihat teman kelasnya meringis kesakitan.
Menggeleng, Fuyuki berusaha berdiri. "Kita harus segera menolong Naruto. Dia melawan seorang Golder."
"Tenang saja. Ada Uchiha Sasuke disana."
Fuyuki menatap tajam teman kelasnya. "Ini bukanlah soal jenis Avatar. Pria yang dilawan Naruto adalah seorang-" Perkataan Fuyuki terputus ketika ia melihat seorang Nara Shikamaru muncul dengan beberapa orang yang terlihat anggota pasukan Kementrian Avatar.
"Kalian tidak apa – apa?"
"Ya."
"Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk membereskan hal ini." Shikamaru menatap sekeliling. "Sekarang ceritakan pada kami, apa yang sebenarnya kalian lakukan hingga harus bertarung seperti ini."
Fuyuki memutar bola matanya. Namun, ia masih khawatir dengan keselamatan Naruto. "Baiklah. Terserah kalian. Tapi, kalau terjadi sesuatu pada Naruto aku akan menghajar kalian lebih dulu yang menahanku menolong Naruto."
"Hn."
"Merepotkan."
.
.
Fuyuki bersandar pelan dibahu Naruto. Ia masih kelelahan. Sementara Naruto hanya memperhatikan kegiatan para anggota kementrian Avatar yang membereskan ini semua.
Ketika serangan terakhir Naruto dan Sasuke. Muncul seorang kapten dari Kementrian Avatar. Dan menghentikan semuanya. Sementara itu, anak laki – laki tersebut masih diobati oleh beberapa anggota medis yang diminta dari Kapten tersebut.
"Ah, siapa nama kalian?"
Naruto mendongak, ia menemukan seorang pemuda yang memiliki rambut hitam panjang. Sekilas sangat mirip dengan Uchiha Sasuke. Pemuda tersebut merupakan salah satu Kapten.
"Ah, ya. Perkenalkan namaku Uchiha Itachi, Kapten Penanggulangan Pelanggaran Avatar."
Perut Naruto terasa melilit mendengar perkenalan tersebut. Uchiha, lagi? Dengan senyum salah tingkah, Naruto membalas perkenalannya. "Maaf, Uchiha-san. Nama saya Uzumaki Naruto." Naruto menunjuk pada Fuyuki yang tertidur dibahunya. "Dia Masaki Fuyuki. Kami murid Tingkat Awal Academy Avatar."
Itachi mengangguk. "Aku sudah mendengar apa yang terjadi dari Nara."
"Aniki."
Itachi menoleh menemukan adiknya, Uchiha Sasuke tengah serius memperhatikan bagaimana 'lawan'nya dibawa pergi menuju Pengadilan Dunia Avatar.
"Siapa pria itu?"
Itachi terdiam sebentar. Ia menimbang, apakah baik memberikan informasi ini. Ia menghela nafasnya. "Dia Sensatsu Shin. Umurnya 17 tahun. Seorang pengguna Avatar Gold."
"17 Tahun? Kenapa dia tidak masuk Academy, Uchiha-san?" Gaara ikut bertanya.
"Hum, dia adalah Kriminal elit dikelasnya. Ada beberapa hal yang membuatnya tak masuk Academy. Academy hanya menerima murid dengan Avatar Putih. Seorang pengguna Avatar yang baik. Sayangnya, Sensatsu Shin adalah pengguna Avatar Hitam. Kriminal buruk."
"Bagaimana menentukannya?"
"Kristal diatas kepala Avatar mereka." Fuyuki membuka matanya. Ia masih bersandar di bahu Naruto. "Aku sempat melihat semuanya memiliki Kristal merah. Itu menandakan mereka adalah Kriminal dalam Avatar."
"Ya, itu benar." Itachi membenarkan. "Setiap Avatar memiliki kristal mereka masing – masing. Kita yang bukan seorang Kriminal memiliki Kristal berwarna Hijau. Kristal itu hanya akan muncul ketika kalian menjadi seorang Kriminal. Meskipun begitu, Kristal merah juga bisa disembunyikan. Sehingga cukup sulit menentukannya."
"Bagaimana seseorang dianggap Kriminal?"
"Hanya satu. Membunuh. Membunuh seorang pengguna Avatar dengan menggunakan Avatar milik sendiri. Itulah yang disebut Kriminal."
"Itukah kenapa setiap latihan tanding dibatasi hanya membuat lawan terluka atau pingsan?"
Itachi mengangkat bahu. "Mungkin. Tapi, apakah lawan kalian hanyalah mereka? Tak ada yang lain?"
Gaara dan Sasuke menaikkan alisnya. Mereka jelas tidak mengerti.
"Sasuke kau melawan Sensatsu Shin, bukan?" Dan dijawab anggukan oleh Sasuke. "Tidakkah kau menyadarinya?"
Sasuke mengerukan kening. Berusaha mengingat. Tadi, ia terlalu focus pada pertarungan. Tak memperhatikan sekitarnya.
"Pandanganya." Jawaban Naruto langsung disambut tatapan dari semua orang. "Pandangannya kosong, menerawang. Aku menebaknya, dia dikendalikan."
Itachi mengangguk. "Ya, kami sempat memeriksanya dan dia berada dalam pengaruh Elemen Gabungan Darah. Elemen itu berasal dari elemen Air dan Pikiran. Elemen Gabungan yang sangat sulit dikuasai, bahkan oleh pengguna Golder. Ya, meskipun begitu dia tetap akan dihukum karena dia memang seorang Kriminal. Dia hampir membunuh seorang anak yang tak bersalah. Baiklah, aku harus kembali menjalankan tugasku. Hati – hati dan sampai jumpa."
Mereka terus terdiam hingga Itachi kembali memasuki hutan. Tak ada yang membuka pembicaraan, sebelum Gaara membukanya.
"Jadi, hanya ada satu misteri."
Shikamaru menggeleng. "Tidak. Masih banyak. Siapa pengendali tersebut? Siapa sasaran mereka? Apa tujuan mereka?"
Sasuke mengerutkan keningnya. "Sasarannya sudah pasti anak itu, bukan?"
To Be Continued
A/N :
#Ngumpet dikolong meja. Saya tidak akan berkomentar mengenai yang terjadi diatas. #Saya malu. Saya hanya akan mendengar komentar dari Readers. Gimana? Kepanjangan, kah?
Oh ya, kepada author. Nata saya sudah menampilkan OC-nya. Apa Nata-san keberatan OC-nya saya buat jadi Kriminal kayak gitu? Abis, baca profil yang psikopat abiz, saya langsung ngebayangin hal ini. Saya harap tak masalah.
.
Thank's for :
shinta. minoz. 10 ; Guest 1, 2, 3,4, 5 ; arrobeys. Likeuzhyu ; Saladin no jutsu ; El bany blueblack ; Naminamifrid ; Uchiha Vergil ; keyzo ; Blue-senpai ; Tuxedo Putih ; mitsuka sakurai ; Dark – AraStev ; Namikaze Sholkhan ; TobiAkatsukiID ; anime naruto-chan ; Yondaime Namikaze Fadil ; Akira no Rinnegan ; uchiha kagami ; REDCAS ; namina rin rin ; nana haruka ; uzuuchi007 ; Neko Twins Kagamine ; Hadinamikaze ; uchiha sabai ; Jim ; Yasashi-kun ; bohdong. palacio ; samsulae29 ; Hyull ; Monkey D nico ; yamashita yumi ; wisnanda putra ; dan semua silent riders yang suda membaca.
.
.
So, berniat Review?
Ru Unni Nisa
Sign Out
Jaa ne~
