.
.
Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn
.
.
Futaba memperhatikan remaja berambut coklat yang tertidur. Kepala laki-laki itu terkulai diatas meja bersama setumpuk buku, wajahnya menampilkan gurat-gurat kelelahan.
Hati Futaba dipenuhi konflik antara membangunkannya atau tidak.
Tsuna (atau begitulah teman-temannya memanggilnya) sudah dua hari ini bolak-balik datang ke perpustakaan. Dia terlihat sangat lelah dan jelas-jelas kurang tidur.
Tapi, perpustakaan ini sudah mau tutup, semua pengunjung yang lain sudah pergi, dan Tsuna sudah tertidur kira-kira sejam yang lalu. Tidak apa-apa membangunkannya sekarang, kan?
Masih dipenuhi rasa bersalah, Futaba merentangkan tangannya.
Tapi, begitu dia menepuk pundak pemuda itu, seseorang menyambar tangannya.
Sebelum Futaba bisa memahami apa yang telah terjadi, tubuhnya telah didorong hingga menghantam lantai, lalu orang itu berada diatas tubuhnya, menindihnya hingga tak bisa bergerak.
Perlu beberapa detik bagi Futaba untuk menyadari bahwa orang yang menyerangnya dan menindihnya ke lantai adalah Tsuna.
Tsuna mengerjap beberapa kali. "Eh...?"
Anehnya, laki-laki berambut coklat itu terlihat terkejut padahal yang sedang ditindih ke lantai dan baru saja diserang adalah Futaba.
"Ma-maafkan aku!" Tsuna langsung menyingkir dari atas tubuhnya dengan panik. Dia mengulurkan tangan. Mata coklatnya menunjukkan rasa bersalah yang tulus.
Mata coklat?
Futaba mengernyit, tangannya menerima uluran tangan Tsuna. Selama beberapa detik tadi rasanya mata Tsuna menunjukkan kilasan warna oranye. Apa dia telah salah lihat?
"A-aku benar-benar minta maaf!" Tsuna membungkukkan badannya setelah membantunya berdiri.
Rasa bersalahnya begitu tulus sampai Futaba merasa Tsuna yang sekarang membungkuk minta maaf dengan Tsuna yang sebelumnya menyerangnya adalah dua orang yang berbeda.
Mungkin karena Tsuna sedang kurang tidur? Bukankah orang yang kurang tidur memiliki emosi yang tidak stabil?
Ya, pasti itu alasannya, meskipun Futaba tidak pernah mendengar orang kurang tidur yang menyerang orang lain saat dibangunkan.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti kalau kau tidak bermaksud melakukannya," Futaba tersenyum masam. Punggungnya masih terasa sakit. "Tidak akan ada monster yang menyerangmu saat tidur. Kenapa kau tidak rileks dan beristirahat saja?"
Ekspresi Tsuna berubah pahit, tapi dia masih membalas senyumannya.
"Kalau kau memang takut diserang, kau sebaiknya pulang sekarang. Sudah hampir malam. Jalanan yang gelap dan sepi adalah tempat favorit orang jahat."
"Ya, kau benar," Tsuna mengucek matanya, tampak mengantuk.
Futaba mengangguk. Matanya menyusuri buku-buku yang Tsuna pinjam. Sebagian besar berisi serajah, dongeng, dan ada koran-koran lama juga.
"Apa yang sebenarnya kau cari di perpustakaan?" tanya Futaba penasaran.
"Oh, sebenarnya aku mempelajari sebuah kasus," ucap Tsuna lelah. Matanya setengah tertutup.
"Kasus?"
Tsuna menguap. "Ya, kemungkinan besar kasus ini disebabkan oleh keluarga yang pernah tinggal disini. Karena itu aku mengecek sejarah Namimori dan beberapa sejarah di Italia."
"Huh? Keluarga?"
"Mhm. Karena mereka tinggal disini bertahun-tahun lalu ada kemungkinan mereka bertemu Primo," Tsuna bergumam, kelihatannya lebih kepada dirinya sendiri. "Pasti dari situlah dendam mereka dimulai. Kalau aku bisa mencari tau penyebabnya, kita bisa menyelesaikan ini baik-baik dan tidak perlu ada yang bertaru-"
Kata-kata Tsuna terhenti. Mata coklatnya melebar panik, membuat Futaba khawatir. "Ada apa?"
"A-aku hanya ngelantur. Lupakan saja apa yang kukatakan tadi. Selamat tinggal," Tsuna mengambil jaketnya, lalu pergi dari tempat itu, tampak tergesa-gesa.
Futaba memperhatikannya pergi dengan curiga.
Semua ini sangat membingungkan seperti bocah itu sendiri.
Awalnya, Tsuna hanyalah pengunjung biasa yang tampak manis dan tak bersalah, tapi ternyata dia mampu melumpuhkan gerakan lawan yang jauh lebih tua dan lebih besar darinya dalam sekejap mata.
Futaba menghela nafas. Dia merapikan rak-rak lalu pergi dari perpustakaan setelah menguncinya. Begitu sampai di rumah, dia akan tidur dan berharap kejadian hari ini terhapus dari ingatannya.
Tapi, jauh di dalam hatinya, Futaba tau dia tidak akan pernah bisa lupa.
.
.
A/N: Thanks for the supports and advices, guys! Itu benar-benar membantu. Terima kasih pada Reventio Van Cario, aiwataru1, Cocoa2795, dan kuuto karena sudah mau repot-repot memberi review!
Cielo2795-Cielo-san, semangat juga, ya :). Aku doakan yang terbaik untuk Cielo-san! Jangan menyerah juga.
aiwataru-Terima kasih atas sarannya. Teori adikku: semua anak kuliahan pasti menyesali jurusannya pada akhirnya. Tapi, Ly sudah mencari tau tentang jurusan yang ingin dipilih, kok. Sempet ragu juga. Menurut mbakku: jurusan teknik itu sangat sulit dan memakan banyak biaya.
(Mbak: Aku punya temen di jurusan TI yang pernah nangis bilang gini ke aku: BUKAN INI YANG AKU MAU!)
Aku: Haha.)
Perhatian dan semangat yang diberikan kalian semua membuat baper :3. Terima kasih banyak dan sukses juga buat kalian semua! Kalian juga semangat ya!
Jaa nee~!
