-Happy Reading-

A Little Secret : Rasa Rindu

Naruto Masashi Kishimoto

A Little Secret Rin Mizuki

Genre : Romance & Friendship

Rate T

Cast :

Haruno Sakura x Sasori

.

.

.

.

.

Musim panas telah lama berlalu dan digantikan dengan musim gugur. Hari – hari Sakura berlalu seperti biasa semenjak kejadian liburan musim panas lalu. Sakura masih harus menuruti permintaan – permintaan tidak masuk akal Sasori tapi bedanya, kini ia mulai menikmati waktu yang ia habiskan dengan pemuda itu. Seperti biasanya mereka berjanji bertemu di atap sekolah dan Sakura selalu membawakan bekal untuk Sasori. Tapi hari ini, pria itu tak terlihat dimanapun. Sakura mulai mencari dimana keberadaan pria berambut merah itu.

"Honey? Eh? Tidak biasanya. Kemana dia?" Sakura pun menunggu dan terus menunggu tapi Sasori tak kunjung datang, ponsel milik Sasori pun juga tidak aktif.

"Kemana dia sebenarnya?" Sakura mulai kesal menunggu dan tak lama kemudian bel masuk berbunyi, ia pun terpaksa kembali ke dalam kelasnya.

Begitupun saat pulang sekolah, Sasori juga tidak terlihat dimana pun. Sakura mulai lelah menunggu saat seseorang menyapanya.

"Sakura?"

Sakura berbalik dengan penuh harap, berharap sosok yang ia cari seharian ini berdiri disana. Namun harapannya sirna saat mengetahui siapa gerangan yang tengah menyapanya.

"Sasuke-kun? Kenapa masih disini?" tanya Sakura sembari menutupi kekecewaan yang tergambar di wajahnya.

"Menunggu Sasori?"

"Ah. Iya."

"Mungkin dia sudah pulang, kau juga cepatlah pulang kalau tidak kau akan terkena flu. Ingat Sakura sekarang sudah musim gugur."

"Kau benar, aku akan menunggu sebentar lagi."

"Apa perlu ku temani?"

"Tidak perlu."

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu."

Sakura kembali menunggu namun sampai jam menunjukkan pukul enam sore, sosok yang di tunggu – tunggu tak juga datang.

"Kemana dia sebenarnya? Mungkin besok akan kutanyakan."

Sakura pun memutuskan untuk pulang.

.

Sakura POV

Aku mulai merebahkan diriku di kamar dan mulai menatap layar ponselku untuk kesekian kalinya. Tidak ada apapun disana. Aneh. Padahal dia selalu membuatku mematikan ponselku, karena pesan-pesan yang selalu ia kirimkan dan sekarang tidak ada satupun. Pergi kemana setan merah sialan itu?

Kenangan sewaktu liburan musim panas datang kembali menghampiriku. Saat itu, aku tidak pernah menyangka dia akan menunjukkan raut seperti itu. Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya aku tidak tahu apa-apa tentang si setan merah itu. Rasa kantuk mendatangiku begitu cepat, perlahan akupun menutup mataku dan tertidur.

Sakura POV End

.

.

.

Sakura sedang makan siang bersama dengan Ino di Taman. Sudah berkali-kali Sakura memeriksa layar perseginya. Mungkin akan ada pesan disana, pikirnya dan setiap ia tidak menemukan apa-apa disana, ia akan kembali mendengus kesal. Tak lama, ponsel Sakura berbunyi, tanda ada pesan yang baru saja masuk. Secepat kilat Sakura meraih ponselnya dan sesegera mungkin memeriksanya dengan senyum cerah terpampang di wajahnya.

Makan makananmu!

-Ino-

Senyum itu langsung pudar saat Sakura melihat siapa pengirim pesan tersebut dan berganti dengan raut kesal. Sakura menatap Ino yang tanpa bersalah sedang menikmati makanannya dan langsung merebut kotak makanan itu.

"Hey! Aku belum selesai." Ino berusaha mengambil kotak bento itu dari tangan Sakura tapi gadis musim semi itu tidak membiarkannya begitu saja.

"Berani sekali mengerjaiku setelah ku biarkan kau makan bento dariku!"

"Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku untuk memakannya? Lagi pula apa yang kau lakukan dari tadi? Menunggu pesan dari Honey tersayangmu itu?" ledek Ino.

"Nah makanlah." Sakura kembali menyodorkan kotak bento itu ke tangan Ino berharap sahabatnya itu akan menutup mulutnya.

"Kau merindukannya?"

"Makan dan tutup mulutmu."

"Aku berani bertaruh, kalau kau merindukan si setan merah itu."

"Nikmati saja bento itu Pig."

"Bukankah ini sudah tiga hari dia tidak masuk, dia bahkan tidak meninggalkan pesan apa-apa. Kau, benar-benar tidak tahu dia dimana?" Ino mulai penasaran dan memandang sahabatnya dengan penuh tanda tanya dan Sakura hanya menggelengkan kepalanya.

"Apa kalian berkelahi lagi?" Ino kembali bertanya dan lagi-lagi Sakura menggelengkan kepalanya.

"Jangan-jangan dia berkelahi lagi? Atau? Dia diculik? Bagaimana Ino? Apa aku harus melapor polisi? Bukankah jika seseorang menghilang lebih dari 24 jam kita bisa melaporkannya? Benarkan?"

"Kau?" Ino menatap sahabatnya dengan pandangan aneh.

"Apa? Kau setuju kan jika aku melaporkannya?"

"Kau benar-benar aneh Sakura." Ino hanya menikmati bentonya kembali.

"Sakura-chan!" panggil Hinata dari jauh yang kemudian berjalan mendekat ke arah Sakura dan Ino.

"Ada apa Hinata?"

"Itu, ano, Anko-sensei memanggilmu. Sensei bilang untuk menemuinya di ruangan guru."

"Baiklah, terima kasih Hinata."

"Sama-sama, Sakura-chan. Kalau begitu aku harus kembali ke kelas."

Sakura menatap sahabatnya yang kembali menikmati bentonya.

"Cepat! Aku harus segera menemui Anko-sensei!"

"Kau ini! Tidak sabaran sama sekali!" Ino mulai mempercepat makannya dan Sakura mulai membereskan sisa bentonya.

.

.

.

Sakura tengah menatap selembar kertas yang seharusnya sudah ia isi setengah jam yang lalu, tapi kertas itu masih kosong. Hanya namanya yang tertulis rapi di pojok kanan atas di lembar kertas itu. Mata Sakura kembali mengamati judul kertas itu. Rencana Masa Depan. Sakura kembali mendengus tiap kali memikirkan apa yang akan ia lakukan di masa depan kelak.

"Hm, apa yang harus ku isi disana?" Sakura kembali meneliti setiap pertanyaan yang terpampang disana.

Universitas yang ingin dituju?

"Kalau itu Ino, ia mungkin akan menuliskan, Universitas Konoha. Lalu, bagaimana denganku?"

Jurusan yang ingin dituju?

"Hm."

Buntu. Sakura bingung apa yang harus ia isi di kertas itu. Sakura pun memutuskan untuk bertanya pada Ibunya tentang hal ini. Sakura kemudian turun dari kamarnya dan mendapati Ibunya tengah duduk manis menikmati sebuah dorama di tv.

"Oka-san."

"Hm?"

"Apa yang Oka-san isi saat menulis Rencana Masa Depan sewaktu sekolah dulu?"

"Hm?"

"Oka-san, tolong jawab pertanyaanku."

"Hm. Tunggu Sakura, apa kau tidak tahu kalau saat ini adalah adegan klimak dari dorama ini. Yah. Ka-san penasaran apakah tokoh utamanya akan bersatu kembali."

Merasa bosan mendengarkan, Sakura kembali ke kamarnya dan kembali duduk di meja belajarnya. Dia sudah lelah menatap kertas itu, jadi ia hanya meletakkannya di sudut meja. Tak lama pintu kamarnya berderit saat seseorang baru saja memasuki kamarnya.

"Bagaimana?"

"Bagaimana apanya Ka-san?"

"Apa kau sudah memutuskannya? Ingin ke Universitas mana?"

"Aku belum memutuskannya Ka-san."

"Kenapa?"

"Oh, itu. Aku belum punya bayangan sama sekali."

"Benarkah?"

"Orang-orang selalu mengatakan, kalau aku pasti akan mendapatkan yang terbaik. Tapi Ka-san, apa aku bisa mendapatkannya?"

"Tentu saja kau bisa."

"Aku, hanya ingin kuliah disini. Apa tidak apa-apa?"

"Tidak masalah. Bahkan jika kau memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, itu juga tidak masalah."

"Apa Ka-san tidak percaya aku bisa masuk kuliah?"

"Ka-san tidak bilang begitu, Ka-san hanya ingin bilang, kalau Ka-san akan selalu menghargai setiap keputusan yang akan kau buat."

"Kenapa?"

"Kau tahu, ada beberapa takdir yang bisa kita pilih dan ada beberapa yang tidak bisa kita pilih meskipun kita sangat tidak menyukainya. Tapi, menjadi orang seperti apakah kita nanti adalah sesuatu yang bisa kita pilih dan Ka-san ingin memberikanmu kepercayaan untuk memilihi masa depan yang ingin kau jalani. Itu saja."

"Apa tidak apa-apa jika aku hanya kuliah disini? Saat kebanyakan orang akan memilih untuk kuliah di luar negeri?"

"Tidak masalah. Itu adalah pilihanmu dan ingat kau harus bertanggung jawab akan setiap pilihan yang sudah kau buat. Selama kau melakukannya, Ka-san akan selalu menghargainya. Mengerti?"

Sakura menganggukkan kepalanya.

"Beberapa hari ini, Ka-san tidak melihat Sasori-kun. Kemana dia?"

"Tidak tahu, dia bahkan tidak memberikan kabar padaku. Menyebalkan! Dia bahkan tidak menjawab panggilan dariku."

"Apa kau merasa kesepian?"

"Tidak! Aku justru merasa lega dia tidak ada. Setidaknya tidak ada yang akan menggangguku dan aku bisa menikmati waktuku."

Ponsel Sakura berbunyi. Dengan cepat Sakura menyambarnya dan memeriksa ponselnya.

'Sial! Dari operator!'

"Tidurlah." Mebuki meninggalkan kamar Sakura.

Sakura kemudian beranjak ke kasurnya dan kemudian berbaring disana dan sekali lagi memeriksa ponselnya. Masih tidak ada apa-apa disana. Sakura menghela napasnya panjang. Sudah tiga hari ini ia memikirkan sosok itu.

'Kau, akan kembalikan?'

.

.

.

Jika biasanya Sakura terburu-buru meninggalkan kelas saat jam istirahat, berbeda dengan hari ini, ia hanya tinggal di dalam kelasnya membaca sebuah buku. Tak lama, seseorang menghampirinya dan meraih buku yang sedang ia baca.

"Aku sudah memanggilmu ratusan kali dan kau mengacuhkanku? Bukankah juga sudah ku katakan padamu. Kau harus mengangkat panggilanku di dering pertama." Sakura malas mendengar ocehan barusan dan hanya memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela.

'Pria ini benar-benar membuatku kesal! Bagaimana bisa setelah dia membuatku khawatir setengan mati karena tidak memberikan kabar dan bagaimana bisa dia mengabaikan semua pesan-pesanku begitu saja? Dan sekarang, dia berdiri disini marah-marah hanya karena aku mengacuhkannya. Hah. Dia membuatku gila!' batin Sakura.

"Honey!" pria itu memanggilnya dengan nada tinggi sehingga membuat pandangan murid lain yang ada di ruangan itu tertuju ke arah mereka berdua. Sakura menatap tajam Sasori, kemudian menarik lengan pemuda itu pergi.

.

Sakura dan Sasori kini berada di atap Sekolah. Pertama-tama yang Sakura lakukan adalah menatap Sasori dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.

"Kau kenapa?" tanya Sasori yang melihat tingkah aneh Sakura.

"Seharusnya aku yang bertanya. Kau! Menghilang selama tiga hari dan bahkan tidak memberikan kabar. Apa kau tidak memikirkan perasa-. Menyebalkan!" Sakura menyerah dan memutuskan untuk diam.

'Bodohnya aku mengkhatirkan seseorang seperti dia.' gumam Sakura.

"Kau khawatir padaku? Itu memang tugas seorang budak untuk mengkhawatirkan tuannya." Sakura menatap tajam Sasori.

"Kau bahkan tidak berubah sama sekali."

"Kau, merindukanku?"

'Ya. Aku sangat merindukanmu.' Ucap Sakura di dalam hatinya.

"Sepertinya kau sudah tidak bisa lepas dari pesonaku."

Sakura hendak pergi meninggalkan Sasori saat ia mendengar pemuda itu berkata.

"Maaf, sudah membuatmu khawatir. Aku dengar kau selalu menungguku."

"Kau dengar darimana?"

"Ino yang mengatakannya."

'Anak itu, ember sekali mulutnya' gumam Sakura.

"Minggu ini, luangkan waktumu."

"Untuk?"

"Luangkan saja."

.

.

.

.

.

-to be continued-

.

.

.

#Author's Corner

Maaf…! Rin benar-benar minta maaf untuk keterlambatan update nya…

Kemaren udh sempet Rin update tp karena ada feel yang kurang… Rin batalin updatenya…

Untuk ke depannya Rin akan usahakan untuk tepat waktu….

Sekali lagi Rin minta maaf ya…

Dan untuk update chapter selanjutnya akan dilakukan sesuai jadwal yaitu rabu ini di tunggu ya …

Jangan lupa kritik dan sarannya Rin tunggu…

Dan terima kasih atas dukungannya….