Second Life (Reincarnation)
Disclaimer: Vocaloid © Yamaha, Fanfiction © I am XD
Rated: T (Semoga gak berubah XD)
Genre: Romance & Supernatural
Summary: Apa kau percaya reinkarnasi itu ada? Apa jadinya bila kau bereinkarnasi, tetapi, saudara kembarmu tidak mengingatmu?/ "Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu!"/"Di..dia.."/Chap.9: Mysteriuos Judge 1
.
.
.
.
Gomenne baru update
Hime lumayanh sibuk, ya bikin kostum buat cosplay, sakit maag, banyak deh ._.
Rin cantik tapi tsundere akut~~#catat dalam notes Len *dihajar Rin*
Aoki Yuuya? Memang ada ya? *,* #padahalcumaasalbikinnama
Len penakut? Haha XD Soalnya Rinto didandani oleh penata rias Hollywood XD Dan ia sukses bikin Len takut.. Tahu kan, kuchisake-Oona? Kebayang seremnya : Rin gk takut, soalnya dia kenal suara Rinto.
Oh, ya, Hampir lupa tentang audisinya.. Mulai chap ini bakal dimulai kok^^
Penasaran? Check it out :)
.
.
.
.
Rin POV
Aku menunggu Miku ditengah keramaian orang asing yang berlalu-lalang. Mungkin, penduduk sekitar juga ikut meramaikan Obon-Matsuri. Tapi bagiku, keadaan ini sungguh merepotkan. Bahkan, aku berpikir untuk tidur saja di lodgeku daripada berdesakkan seperti ini.
Aku mencoba mencari tempat yang lebih sepi. Ah, aku sudah mencoba menelpon Miku berkali-kali, namun selalu Mailbox.
Kurapikan Obi-ku, sambil menatap Yukata-ku. Tepatnya Yukata yang dipinjamkan Miku padaku. Yukata yang berwarna orange muda, bermotif Sakura berwarna orange. Miku menyuruhku pergi duluan karena dia masih ada urusan.
Cih, padahal dia yang mengajakku, tapi dia sendiri yang melanggar. Eh? Bukannya ke tempat yang sepi, malah ke tempat yang makin berdesak-desakan. Apa ini! Ada yang colak-colek! Orang mesum!
"Lep—paskan.. A.." Tidak! Tolong aku!
"Adik manis, ikut kakak ke tempat yang bagus yuk?" katanya sambil memegang lenganku kuat-kuat.
"Tid...ak.." aku semakin tidak berdaya, dia... kuat sekali!
BUGHH!
Seseorang menghajar orang mesum itu—entah siapa, tapi aku akan sangat berterima kasih padanya.
"Jangan sentuh dia dengan tanganmu yang kotor itu, pecundang!"
Orang itu lari ketakutan. Sedangkan aku masih terisak, terduduk lemas sambil mencoba menenangkan diri.
"Kau tidak apa-apa? Perlu kubantu berdiri?" kata si penolong itu.
Kudongakkan kepalaku, dia.. Len! Melihat Len, aku langsung berdiri, dan menyeka air mataku. Aku bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. "Aku tidak apa-apa. Arigato"
"Jangan bohong, lihat, kakimu lecet tuh," katanya menunjuk-nunjuk kaki kananku.
"Tidak apa, aku masih bisa berjalan,kok"
"Tapi—"
"Hei! Itu Len Kagamine, kan?"
Perasaanku tidak enak. Kumpulan gadis itu pasti..
"Benar! Tapi, siapa gadis itu? Pacarnya?"
Bukan. Kalian salah paham!
"Ayo kita kejar mereka! Kalau perlu, hajar gadis itu!"
Apa?! Seenaknya!
"Hup!"
Tiba-tiba badanku diangkat. Oleh Len. Bukan. Sama sekali bukan bridal style. Melainkan seperti gendongan ala penculikan. Ia terus berlari, sementara itu para fans meneriaki macam-macam umpatan yang pastinya untukku.
"Turunkan aku!" kataku meronta-ronta.
"Diam, bodoh. Kau bisa jatuh kalau seperti itu terus. Lagipula, apa kau mau mereka menghajarmu? Aku tak mau menolong lagi." tegasnya sambil memancarkan deathglare padaku. Glek! Ok, aku menyerah.
Sementara dia berlari, aku terus saja menggumam, "Dasar Shota.." rupanya gumamanku terdengar olehnya. Coba tebak. Tidak, bukan itu. Kenyataannya dia tersandung secara tidak elitnya, dan menabrak stand buah-buahan. Tentu, aku juga!
"I..taii! Shota,kau mau membunuhku ya!" omelku yang kini tengah memukulinya.
"Kau kan yang—"
"Apa-apaan ini?!" potong Paman pemilik toko dengan emosi.
"Sepertinya mereka ke sekitar sini, ayo kita periksa!"
Gawat! Itu pasti para fans!
"Paman, kami akan beli semua buahnya! Tapi tolong sembunyikan kami, kami dikejar oleh teman-teman kami" kataku sedikit berbohong. Paman itu mengernyitkan alisnya, tapi...
"Survival Game, ya? Baik anak-anak, masuklah,"
Kami bersembunyi di toko Paman itu, lalu menunggu mereka pergi. Setelah situasi aman, kami baru keluar.
"Arigatou, Paman,"
"Tunggu, bayar dulu!" sergah si Paman.
"Ah, iya. Len, ayo bayar!" orang yang kusebut malah memasang wajah protes.
"Kenapa aku harus—"
"Kau yang membuatku menjatuhkan tasku, saat berlari tadi." kataku dingin.
Len kemudian membayar ganti rugi buah itu. Ketika dia hendak melengos pergi, aku menarik ujung bajunya.
"Apa lagi?!"
"Belikan aku jeruk."
"..."
.
.
.
Miku POV
Jari-jariku menari cepat menekan tombol-tombol keyboard di laptopku. Aku sibuk membuat blog antifans-nya baKaito Shion. Disana, aku menulis ketololan dan kebodohannya, tentunya. Aku melirik jam dinding lodge, astaga! Sudah jam 11! Aku lupa ke festival Óbon Matsuuri! Disana kan ada Rin!
Pintu kayu lodge diketuk. Siapa, ya? Ini kan sudah malam. Aku beranjak pergi dari laptopku, dan segera membuka pintu.
"MIKUUUUUUUU!"
Aku langsung menutup kedua telingaku, karena teriakan itu sangat keras. Memekakan telinga! Ah, Rin dan Len? Yukata yang kupinjamkan pada Rin tidak rapi. Badannya keringatan. Rambutnya berantakan. Len juga.
"Kenapa kalian? Kok keringatan? Habis melakukan sesuatu ya?" godaku.
BUGH! Kepalaku dijitak keras oleh Rin.
"Bodoh! Aku begini karenamu!" omelnya, "Kenapa kau tega membiarkanku sendirian dan diserang orang mesum tahu,"
"Aku.." takut. Rin menyeramkan. "Aku membuat blog antifannya baKaito. Jadi.. Ng... Aku.."
"MIKUUUUUUU!"
"Sudahlah, yang penting kau selamat," lerai Len, "Hati-hati, kebencianmu itu bisa berubah jadi perasaan suka, lho. Kenapa wajah kalian merah? Kalian.. Suka pada Kaito, ya?"
Wajahku dan Rin memerah. Kalau Rin, mungkin karena sadar sifat tsunderenya pada Len. Tapi, aku gak begitu!
"Miku, tolong buatkan antifans-nya Len untukku," kata Rin mendeatglarekan Len. Len malah memasang wajah polos kebingungan.
"Len, kau diundang tidak, menyanyi pada Audisi Vocaloid?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan yang tidak enak ini.
"Tidak, aku masih ada job lain. Kenapa?"
"Aku sih, diundang."
"Curang! job-ku makin lama makin membosankan, tahu."
Rin yang sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan kami, langsung pamit dengan alasan ngantuk. Iya juga, kami kan harus bangun pagi dan siap-siap pulang. Len mengiyakan dan kembali ke lodge mereka. Ya, inilah akhir dari liburan musim panas kami.
.
.
.
Normal POV
Highlight yang bersinar-sinar, tata panggung yang sangat eksotis, MC yang terkenal, para bintang tamu pun diundang. Dan, semua peserta sibuk bersiap-siap perfomance. Tidak terkecuali Rin.
"Semuanya, para Butler dan Maid, kalian harus membantu Nona Muda Rin untuk tampil sebaik mungkin! Ayo, kita harus melakukannya!" perintah kepala pelayan.
"Baik!"
Semua sibuk merapikan rambut Rin, kostum, make-up, dan segalanya. Para Maid dan Butler itu benar-benar telaten. Tentu saja, kan, Rin adalah Nona Muda.
"Waktu berjalan cepat sekali, ya. Sejak libur musim panas kemarin aku sama sekali belum bertemu Len," gumam Rin pelan.
"Gugup?" Miku tiba-tiba datang.
"Sedikit.."
"Kau pasti bisa, aku yakin."
"Semoga saja. Ngomong-ngomong apa kau tahu siapa juri ke4 itu?"
"Sayangnya, tidak. Katanya dia adalah juri yang paling berpengaruh. Tapi, entahlah," katanya ragu.
Rin tahu audisi ini live . Tapi bukan itu yang membuatnya gugup. Bagaimana kalau ia gagal?
"Ya, itulah penampilan dari Akita Neru, untuk selanjutnya, kami persilahkan peserta berikutnya, Megamine Rin!" seru sang MC.
Rin membulatkan tekadnya, dan melangkah pasti ke arah panggung. Sekeras apa pun Rin, dia sekarang tampak berbeda. Anggun, manis, dan berkilau.
Rin memperhatikan papan nama para juri. Semua persis seperti yang Miku katakan. Dan juri ke 4 yang membuat Rin tersentak.
Dia—dia kan...
.
~~TBC~~
.
..
...
Ye^^ Akhirnya beres juga chap 9 O:)
Special thankks for Kareen, May, Midori, Alfi, Akari, Bila, dan siapapuny yang namanya gak bisa disebutin,
Untuk Reader dan Review juga!
Obon Matsuuri: Festival yang diadakan saat musim panas
Obi: Kain besar yang diikatkan diperut pemakai sebagai pengikat dan pemanis kimono
Survival game: Game menyelamatkan diri. Orang yang berhasil bersembunyi dalam 2 jam, tanpa ditemukan oleh tim pencari, akan dapat hadiah. Tapi, mana ada SG malam-malam! XD
Mind To RnR?
#pasangpuppyeyes
Guess Who The Mysterious Judge!
