Jihand Setyani Mempersembahkan :
Second Fict
"Sasuke itu AYAH-ku"
Rate : M *nyempil lemon dikit2*
Genre : Romance/ Family/ Hurt/Comfort
Characters : Sasuke U. & Sakura H.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
==oOo==
Summary :
Akasuna Cherry adalah Puteri tunggal Haruno Sakura yang lebih sering tinggal bersama dengan Akasuna Sasori, Pamannya. Ia hidup dengan segala penyakit yang menimpahnya demi sebuah harapan dan keyakinan. Yaitu, bertemu dengan Ayah kandungnya.
==oOo==
13 Febuari 2013
SASUKE'S POV
Aku berjalan dengan langkah yang tak dapat ku pastikan. Entah aku masih memiliki kemauan untuk hidup atau aku harus memilih untuk mati. Ah, lupakan saja. Sekarang ini aku sedang berada dimana? Oh ya, aku lupa. Aku berada di Rumah Sakit Konoha, dimana aku harus kemari disetiap harinya. Kenapa? Karena aku tahu, 'dia' sangat kesepian. Tertidur dan entah kapan akan membuka matanya. Dadaku terasa sakit saat membayangkannya. Aku ingat, 'dia' yang mempertaruhkan nyawanya hanya demi aku, Pria bodoh yang tidak punya tanggung jawab terhadapnya. Kenapa? Karena ketika aku tahu ia telah melahirkan anakku, darah dagingku, aku bahkan belum menikahinya hingga sekarang. Aku membuka pintu ruangan VIP itu, kemudian masuk ke dalam ruangan yang terbilang mewah untuk sebuah ruang rawat inap.
"Aku datang lagi, Hime-chan"
Ujarku pada seorang wanita yang tengah terbaring diatas ranjang berukuran King Size berwarna putih. Di tangannya terdapat selang infuse, dan di hidung mancungnya telah tertanam dua selang kecil untuk membantunya bernafas.
"Hime, hari ini terasa begitu buruk. Kau tahu?-"
Aku menghentikan kalimatku dan menarik nafas, kemudian menggenggam tangannya dengan lembut. Aku tersenyum padanya.
"Hari ini aku tidak konsentrasi untuk mengajar di sekolah. Jadi, aku hanya memberikan tugas. Haha, aku sangat tidak professional ya?-"
Hening. Tak ada yang menyahut perkataanku, aku menutup wajahku dengan tangannya yang ku genggam. Aku merasakan kalau bobot berat tubuhnya telah turun drastis, bahkan rambut merah muda panjangnya sudah tak seindah dulu. Tapi, satu hal yang tak berubah. Ia tetap cantik sebagai wanitaku.
"Hah~ aku merindukanmu, kapan kau bangun? Kau ini tak pernah berubah, selalu menyebalkan. Dari dulu juga kau menyebalkan! Huh-"
"Kau juga masih sebodoh dulu! Untuk apa waktu itu kau berlari mengejar peluru yang akan ditembakkan oleh Kakakmu? Seharusnya peluru itu untukku, untuk menebus semua dosa-dosaku terhadapmu! Kau memang bodoh"
Aku bersumpah kalau itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah aku ucapkan. Hey, sehebat apakah dirimu sampai membuatku berubah sejauh ini, Haruno Sakura? Kau benar-benar hebat. Aku melepaskan genggaman tanganku, bersandar pada penyanggah kursi dan…..menangis. Ya, aku menangis. Kapan terakhir kali aku menangis? Ah, aku ingat. Waktu itu, saat aku tak bisa sehebat Kakakku dan aku selalu direndahkan oleh Ayah.
"Sasuke?"
Buru-buru ku hapus air mataku dan ku dongakkan kepalaku. Aku melihat sosok Kakakku, Uchiha Itcahi. Datang dengan seragam kepolisiannya dan tersenyum, sebelah tangannya membawa tiga kotak bento. Aku berdiri dan mencoba untuk tersenyum, sekali lagi aku tersadar bahwa Kakak adalah salah satu orang yang masih memberikanku alasan untuk hidup.
"Aniiki, kau datang?"
"Hn, bagaimana keadaan Sakura?"
"Sejauh ini masih stabil, hanya peningkatannya tak mencapai 2 persen"
Ku lihat ia duduk di sofa dan mengeluarkan dua kotak bento, ia mengisyaratkanku agar duduk berhadapan dengannya.
"Makanlah, aku tahu kau belum makan, Sasuke"
"Aku tidak nafsu makan, Aniiki"
"Itu bukan alasan masuk akal, cepat makanlah"
"Hn, arigatou Niisan"
NORMAL POV
Sasuke dan Itachi mulai menyantap bento makan siang mereka. Itachi menatap wajah Adiknya yang terbilang 'mati enggan, hidup tak mau' itu dengan wajah datarnya. Tak lama, Itachi meletakkan bentonya yang sudah kosong itu. Ia menyandarkan tubuhnya dan menghela nafas.
"Sasori sudah mendekam di balik jeruji, langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya, Sasuke?" Tanya Itachi dengan santai.
Sasuke menatap wajah Itachi dan menggeleng, "Tak ada, aku hanya tinggal menunggu Sakura sadar dan aku akan segera menikah dengannya"
"Hn, bagaimana dengan Cherry?"
Sasuke terdiam. Ia tersenyum, ia ingat kalau ia memiliki Bidadari Kecil di dalam hidupnya. Setelah insiden tembak-menembak Sasori yang berakhir dengan tertembaknya Haruno Sakura, ia mendekam di dalam penjara. Itachi dan rekan-rekan kepolisian menyelidiki keberadaan Cherry, karena memang Sasori sendiri tidak memberitahukan keberadaan Puterinya. Betapa terkejutnya Itachi pada waktu itu saat menemukan Cherry di London dengan keadaan tubuhnya yang tengah menggigil di dalam gudang tua. Tapi kejadian itu sudah tak pantas untuk ia ingat.
"Bagaimana apanya? Ia tetap Puteriku", Jawab Sasuke dengan santai.
"Maksudku, kalian akan tinggal dimana? Apakah kau akan mengganti nama Cherry menjadi Uchiha?"
"Aku akan tetap tinggal di Jepang, walau aku tahu secara hukum Cherry adalah Warga Negara Asing, aku akan segera mengurusnya"
"Ah, tadi Ayah dan Ibu menitipkan ini padamu", ujar Itachi sembari memberikan sebuah kotak berwarna merah.
"Apa ini?"
"Entahlah, tapi itu untuk Cherry"
Sasuke mebuka kotak merah itu dan melihat sebuah kalung perak dengan liontin lambang keluarga Uchiha. Ia tersenyum, kali ini tersenyum tulus. Tiba-tiba saja suara deretan pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Uchiha bersaudara itu. Itachi dan Sasuke tersenyum lembut pada sosok gadis kecil yang berdiri di ambang pintu dengan wajah malu-malu.
"Cherry?", Sasuke berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Puterinya. Ia mengangkat Cherry dalam dekapannya dan kemudian mendudukan Puterinya diatas pangkuannya.
"Kau sendirian?", tanya Sasuke yang hanya dibalas aanggukan oleh Puterinya. Mata onyxnya menatap iris klorofil puterinya. Mata itu menatap sosok wanita yang tengah terbaring dengan tatapan pilu. Sasuke mengusap rambut panjang Puterinya.
"Baiklah, Sasuke, aku pamit ya", ujar Itachi sembari menepuk pelan pucuk kepala Puterinya. Sasuke tersenyum mengangguk dan membiarkan Itachi keluar dari ruangan ini.
Cherry melompat dari pangkuan Ayahnya dan berjalan menuju tempat dimana seorang wanita yang ia sebut sebagai Ibunya, berbaring lemah diantara hidup dan mati. Sasuke menatapnya dengan tatapan pilu, ia sangat merasa bersalah dan ia benar-benar tidak sanggup menatap keadaan seperti ini. Sasuke bangkit dari duduknya dan berjongkok disamping Puterinya, kemudian memutarkan tubuh gadis kecil itu agar menghadap padanya.
"Ibu pasti akan sadar, kau hanya perlu terus berdoa"
Seolah naluri sang Ayah dapat membaca isi hati anaknya, Sasuke tersenyum menatap wajah Puterinya. Cherry menangis dalam diam, mulutnya terkunci rapat dan hanya tubuhnya yang tergerak untuk melingkarkan tangan kecilnya pada tenguk sang Ayah. Tangan Sasuke terangkat untuk mendekap erat Puterinya.
"Bicaralah, Hime. Kau tidak bisa terus seperti ini. Kau boleh bisu dihadapan semua orang, tak terkecuali Ayahmu. Tumpahkan semua emosimu, setidaknya pada Ayah"
Sasuke semakin mendekap Puterinya saat ia mendengar isakan itu semakin menjadi-jadi. Ya, Cherry mendadak menjadi bisu saat kejadian itu terjadi. Ia melepas pelukannya dan menatap sang Ayah yang tersenyum lembut padanya, mengusapkan jemarinya hanya untuk menghapuskan jalur-jalur aliran cairan bening dari mata Puterinya.
"Kau sudah makan?" Tanya Sasuke saat melihat Puterinya sudah mulai tenang.
Cherry hanya menggeleng dan menatap Ayahnya dengan muka yang bersemu merah. Hey, Ayahnya memang sangat tampan!
"Kau mau makan? Ayah masih punya satu bento untukmu"
Lagi-lagi Cherry menggeleng, Sasuke harus berpikir cepat untuk mengetahui kemauan Puterinya. Ia tahu! Ia punya ide cemerlang untuk membuat Puterinya kembali berbicara. Walau sebenarnya ia sudah tahu kemauan Puterinya.
"Bicaralah, Cherry~ apa yang kau mau?"
Cherry menghentakkan kakinya dan menatap wajah Sasuke dengan kesal. Mulutnya tetap tertutup rapat, Sasuke tersenyum dan menatap wajah Puterinya dengan intens.
"Kau cantik jika memasang wajah seperti itu, haha. Lebih cantik kalau kau mau bicara"
Sukses! Wajah Cherry bersemu merah dan sepertinya ia berhasil menggoda gadis kecil ini.
"Hey, aku ini Ayahmu. Ayahmu ini terlewat tampan ya? Wajamu sampai bersemu begitu haha~"
"Aw!" Sasuke mendesis saat pukulan Cherry tepat mengenai dada bidangnya. Tenaganya benar-benar seperti Sakura ke-dua. Sasuke harus waspada hidup dikelilingi dua wanita ganas ini. Ia tertawa dalam hati. Ia menempelkan kening dan hidungnya pada Puterinya, sedangakan Cherry hanya tersenyum dan merasakan hembusan nafas Ayahnya.
"Bicaralah, Cherry~ apa yang kau inginkan?"
CUP
Sasuke terkejut, matanya terbelalak kala mendapati bibir ranum nan lembut Puterinya bersentuhan dengan bibirnya. Iris klorofil Puterinya tertutup seolah menunggu Ayahnya untuk membalas ciuman itu. Sasuke terdiam, ia bingung harus melakukan apa. Sosok dihadapannya adalah Puterinya, bukan Calon Isterinya. Sasuke menghela nafas dan memejamkan matanya, ia menggenggam kedua tangan Puterinya dengan erat dan membalas kecupan sayang dari Puterinya. Ia melumat pelan bibir ranum Puterinya. Sebelah tangannya melepas tangan Cherry dan mengusap rambut Puterinya. Ia tersenyum senang, setidaknya Ayahnya adalah orang pertama yang mencium bibir Puterinya. Ia melepas ciuman itu dan mengecup singkat bibir Puterinya, lalu mengecup kening dan kedua pipi ranum gadis kecil Uchiha itu.
"A..kuh…sa…yyy…yang…A..yy..yah"
Sasuke tersenyum. Ia berhasil membuat Puterinya kembali bicara, setidaknya walaupun pelan-pelan, gadis kecil itu mau membuka suaranya.
"Ayah juga menyayangimu, Cherry", keduanya tersenyum dan larut dalam suasana hangat itu.
"Kau mau makan diluar? Kita akan beli ice cream kesukaanmu, bagaimana?"
Cherry mengangguk senang mendengar tawaran Ayahnya. Ia menggenggam erat tangan sang Ayah dan mengajaknya untuk pergi makan siang diluar. Hey, Sasuke, tak ada salahnya kan kau makan siang dua kali?. Sasuke segera berdiri dan menatap tubuh Sakura yang masih terbaring, kemudian mengecup singkat bibirnya dan tersenyum.
"Aku akan segera kembali"
==oOo==
UCHIHA MENTION, 13 FEBUARI 2013
"Baiklah, aku rasa ini sudah cukup. Mana kotak bentonya? Astaga kepalaku pusing sekali! Pelayan!"
Seorang wanita paruh baya tengah sibuk dengan beberapa koki pribadi keluarganya di dapur, ia memegangi kepalanya dan berteriak-teriak memanggil pelayan di rumahnya. Sampai pada saat seorang wanita yang sebaya dengannya menghampiri dengan membawa beberapa kotak bento kosong.
"Nyonya, saya sudah bawakan kotaknya. Lebih baik Nyonya istirahat saja"
"Istirahat?! Tidak tidak tidak, aku harus segera menemui Putera dan Cucuku. Mereka pasti belum sempat makan! Apa-apaan ini, mereka saja tidak pulang. Dimana Ebisu? Cepat panggilkan dia!"
Sang Nyonya kembali berkutat dengan masakan yang telah siap, ia memasukkannya ke dalam kotak bento dan membiarkan pelayannya itu memanggil Ebisu, Supir pribadi keluarga mereka.
"Mikoto, kau baik-baik saja?"
Ah, rupanya Nyonya Uchiha. Ia membalikkan tubuhnya menatap Fugaku yang baru saja menegurnya. Ia tersenyum dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Aku baik-baik saja, kau sudah pulang?"
"Hn, dimana Cherry?"
"Entahlah, jangan tanya aku. Bahkan anak itu belum pulang dari sekolahnya"
Fugaku mengeryit heran, ia menatap arloji di tangannya dan menghela nafas. Ia melipat tangannya di dada dan menatap Isterinya.
"Ini sudah hampir sore, tidak mungkin ia tidak pulang. Dimana Ebisu?"
"Saya disini, Fugaku-sama"
Fugaku membalikkan tubuhnya, "Kau tidak menjemput Cherry?"
"Saya menjemputnya, Fugaku-sama. Namun, Nona Muda meminta agar saya mengantarnya ke rumah sakit", Ebisu membungkukkan badannya sejenak.
"Hn, kau boleh kembali"
==oOo==
Sasuke dan Cherry berjalan dengan bergandengan tangan menuju ke rumah sakit. Jarak dari rumah sakit ke tempat makan tidak terlalu jauh, jadi mereka hanya berjalan kaki. Suasana hening masih terasa diantara keduanya, Sasuke tahu Puterinya ini masih memikirkan kesembuhan Ibunya. Bagaimana pun, Sakura hidup lebih lama dengan Cherry.
TAP
Sasuke menghentikan langkahnya saat dirasa Puteri kecilnya itu berhenti berjalan, ia mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil yang kini berjalan dengan sebelah tangannya yang memegang bungkusan kembang gula berwarna merah muda.
"Kau kenapa, Hime ?"
Sasuke mengusap kepala Puterinya saat ia melihat mata sang gadis kecil itu menangis. Sasuke merasa hatinya tercabik-cabik saat melihat air mata jatuh dari mata Puterinya, ia memeluk gadis kecil itu dan segera mengangkatnya, mendekapnya dengan hangat dan menyembunyikan wajah Puterinya dibalik dada bidangnya.
"Kau pasti lelah, mengingat kondisimu masih mengenakan seragam tentunya. Kau pasti tidak pulang, anak nakal"
Ucap Sasuke sembari tersenyum dan mengusap punggung Puterinya. Ia kembali berjalan tanpa memperdulikan pandangan heran dari setiap orang. Siapa yang menyangka Pria tampan dari Bungsu Uchiha ini memiliki seorang anak? Wajahnya memang terlihat masih sangat muda. Ya, itulah Uchiha. Setelah sampai di ruangan Sakura, ia membaringkan Puterinya diatas sofa dan menyelimutinya dengan selimut tipis yang memang Sasuke sediakan kalau ia menginap untuk menemani Sakura.
'Bahkan yang aku tahu, anak ini tidak pernah mau meminum obatnya lagi. Ia hanya mau meminumnya kalau Sakura atau aku yang memberikannya' Inner Sasuke.
SREG
"Sasuke-kun"
Sasuke menoleh dan segera berdiri saat melihat Ibu dan Ayahnya datang dengan membawa beberapa kotak bento. Sekali lagi, ia mencoba tersenyum menatap kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu. Terima kasih sudah mau datang"
"Kau sudah makan? Kami membawakan beberapa kotak bento untukmu dan Cherry", Mikoto duduk dan meletakkan bento-bento itu diatas meja.
"Kami sudah makan, Bu", jawab Sasuke sembari melihat Ayahnya yang tengah berdiri di samping Sakura, memperhatikan kondisi Sakura.
"Aa, sayang sekali. Aku sudah masak banyak"
"Ibu dan Ayah saja yang memakannya"
"Baiklah, kau pulanglah saja, Sasuke-kun"
"Aku tidak bisa, Bu. Aku harus-"
"Kau tidak bisa terus-terusan disini, Sasuke. Kau juga harus memperhatikan kondisi Cherry", tukas Fugaku.
Sasuke menatap Puterinya yang masih tertidur disamping Mikoto, ia menghela nafas berat.
"Ayah dan Ibumu akan menemani Sakura malam ini, kau tahu setiap malam Cherry selalu menangis memanggilmu. Ia juga butuh sosok Ayah saat Ibunya tak bisa menemaninya", sambung Fugaku sembari menatap Sasuke.
"Ayah benar, aku harus pulang. Tidak bagus juga jika Cherry berada disini"
"Hn, kau serahkan saja pada kami"
"Terima kasih, Ayah, Ibu"
Sasuke segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya seraya mengangkat tubuh Cherry, ia keluar dari ruangan Sakura dengan posisi mengangkat tubuh kecil Puterinya ala bridal style. Matanya menatap kosong pada jalanan yang ia pijaki, yang ia dengar hanya suara jangkrik dan katak yang saling sahut menyahut. Pikirannya kembali melayang pada sosok wanita yang baru saja ia tinggalkan, sebersit harapan muncul dalam benaknya dengan kuat. Harapan dimana mata onyxnya dapat melihat iris klorofil yang ia rindukan.
Sasuke Uchiha baru saja memasuki kamarnya dan membaringkan tubuh Cherry diatas kasurnya. Tubuh kecil itu menggeliat mencari kenyamanan, Sasuke hanya tersenyum mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Puterinya.
'Sebaiknya aku siapkan air hangat, aku akan mengelap tubuhnya. Semoga ia tak terbangun' , Batin Sasuke.
Sasuke segera bangkit menuju kamar mandi, ia memutar keran yang mengalirkan air panas lalu mencampurnya dengan air dingin. Setelah dirasa air itu cukup hangat, ia segera mengambil waslap kecil berwarna biru yang Sakura simpan di lemari pakaian, kemudian menyiapkan piama gadis kecilnya. Sasuke menerka-nerka piama apa yang kira-kira akan ia kenakan untuk Cherry? Ia tersenyum seraya mengambil piama berbahan katun dengan lengan dan celana panjang berwarna putih dengan goresan warna pearl disetiap sudutnya. Setelah selesai menyiapkan peralatan 'mandi singkat' untuk anaknya, ia segera berjalan menghampiri Cherry dan membuka seluruh pakaian yang masih melekat di tubuh putih nan mulus Puterinya.
'Tuhan, dia begitu sempurna. Sempurna seperti Ibunya, apakah aku sanggup menghancurkan kebahagiaannya? Kalau nyawa Sakura tidak selamat, aku adalah orang yang pantas disebut sebagai pembunuh'
Sasuke menghela nafas berat lagi, ia segera mencelupkan kain biru itu pada air hangat, lalu mengusapkannya dengan pelan ke tubuh Puterinya. Terus begitu sampai selesai, dengan cekatan ia memakaikan piama gadis kecil yang masih tertidur pulas itu.
"Hah, aku berbakat juga menjadi Ayah"
Sasuke tersenyum bangga dan segera menarik selimut untuk Puterinya, ia mengecup singkat kening Puterinya dan segera beranjak untuk segera mandi.
Seorang Pria baru saja memberhentikan mobilnya di halaman depan keluarga Uchiha, ia keluar dari mobil dengan membawa sebuah map berwarna hitam dengan lambang Puma Shuriken di tengahnya. Siapapun bisa melihat kalau lambang itu adalah lambang kepolisian Konoha, dengan langkah malas Pria itu masuk dan tertegun melihat isi ruangan itu.
"Lampu masih menyala? Ku pikir sudah pada tidur"
Pria itu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 08:45pm. Ia menghela nafas, "Hah~ sudah malam ternyata"
Ia segera masuk ke dalam ruang keluarga dan iris onyxnya mendapati sosok Pria lain tengah duduk disana sembari menyesap green tea dan menonton TV. Ia tersenyum dan melempar map yang ada di tangannya ke arah sofa yang berada di sudut ruangan, membuat Pria yang tengah asyik meminum tehnya memandang sinis ke arahnya.
"Ck, kau mengangetkanku, Aniiki"
Uchiha Itachi. Tersenyum mengejek dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih itu, ia duduk tepat disamping Adiknya, Uchiha Sasuke.
"Tumben kau pulang, Sasuke"
"Hn, Ayah dan Ibu datang ke rumah sakit untuk menggantikanku"
"Hey, dimana keponakanku?"
"Ia sudah tidur, jangan ganggu dia"
Itachi mengedarkan pandangannya, ia mengeryit heran saat menatap sosok gadis kecil yang baru saja turun dari tangga dan berjalan menuju ruangan kecil yang tersedia di rumah Uchiha itu.
"Kau bilang ia sudah tidur, Sasuke"
"Hn? Apa maksudmu?"
"Aku melihatnya baru saja masuk ke dalam ruang sembahyang"
Sasuke segera meletakkan cangkir tehnya dan segera bangkit, ia berpandangan sebentar dengan Itachi, lalu berjalan dengan mengendap-endap menuju ruang sembahyang. Mereka mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Hati kedua Uchiha itu seakan luluh lantak dengan pemandangan di depannya. Ia melihat seorang gadis kecil dengan piama putihnya, berdiri tegap dengan kedua tangan yang mengatup, terkepal di depan dadanya, dengan mata yang terpejam dan menghadap pada salip dan patung Bunda Maria di hadapannya.
"Kau beruntung memiliki anak seperti Cherry. Katanya, doa anak kecil selalu didengar oleh Tuhan", ujar Itachi.
Sasuke merasa dadanya mencelos, bagaimana bisa ia memiliki Puteri yang luar biasa seperti Cherry. Bahkan ia sangat jarang berkunjung ke tempat ini, segala yang ia lihat malam ini benar-benar menguras hatinya. Ia menangis dalam diam. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, ia masuk ke dalam ruangan itu dan membuat Puterinya membalikkan tubuh untuk melihat Ayahnya.
"Ayah,", panggil Cherry dengan wajah bingung.
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak, ada apa Ayah kemari? Apa Ayah mau memarahiku karena aku belum tidur?"
"Kau sudah bicara lagi rupanya?", Sasuke berjalan menghampiri Cherry dan berjongkok dihadapan Puterinya.
"Ayah~"
Itachi memandang mereka dari balik pintu dengan senyum, seolah ikut larut dalam suasana hangat keluarga kecil Adiknya. Ia segera berlalu meninggalkan Ayah dan Anak itu.
"Kau sedang berdoa? Boleh aku tahu apa harapanmu?", ujar Sasuke sembari mengusap rambut anaknya.
"Ya, aku berdoa agar Tuhan menyembuhkan Ibu dan Ibu bisa kembali hidup denganku"
"Kau tak mau hidup dengan Ayah?"
"Hihi, Ayah kan sudah hidup denganku", jawab Cherry dengan tawa kecilnya.
"Siapa yang mengajarkanmu untuk tetap berdoa pada Tuhan?"
"Ibu. Dulu, sewaktu aku di London, Ibu pernah berkata kalau Tuhan akan selalu mendengar doa anak kecil. Aku tidak pernah membolos untuk ke gereja setiap Minggu, karena aku berharap Tuhan akan mendengar doaku"
"Tapi Tuhan maha mendengar segala doa umatnya, Hime. Tak peduli ia dewasa atau anak-anak, Tuhan selalu memberi kita. Hanya terkadang umatnya yang sering melalaikannya"
"Aa, apa Ayah sering lalai terhadap Tuhan?"
Wajah polos Puterinya membuatnya mendesah panjang, ia tak bisa berbohong, entah mengapa ia tak sanggup berbohong.
"Ya, bahkan sangat sering. Karena itu, Tuhan menegurku sekarang"
"Ayah beruntung masih ditegur oleh Tuhan, setidaknya Tuhan masih peduli pada Ayah dan mau menuntun Ayah kembali padanya. Kita harus optimis"
Ujar Cherry dengan semangat. Sasuke tersenyum dan segera memeluk erat Puterinya.
"Kau tahu, aku beruntung memiliki anak seperti dirimu"
Cherry melepas peluknya dan tersenyum, "Ayo kita berdoa sama-sama"
Sasuke mengangguk mantap, ia berdiri dan memandang salip di hadapannya. Ia mengatupkan kedua tangannya dan segera memejamkan matanya, memohon kepada Tuhan di malam hari untuk segera mengakhiri penderitaan ini. Kali ini, Sasuke seperti mendapat kekuatan baru dan ia yakin kalau Sakura akan kembali hidup dan berkumpul sebagai keluarganya.
'Tuhan, Ibuku sekarang sedang sakit. Kau mungkin sudah tahu lebih awal dan aku yakin kau telah merencanakan hal yang lebih baik ke depannya. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan Ayah kembali, terima kasih sudah menyadarkan Ayahku, terima kasih masih memberikan kami nafas sebagai anugerahmu, dan terima kasih atas kekuatan yang kau berikan padaku. Amin' – Cherry Uchiha
'Tuhan, aku tahu aku sering lalai terhadapmu. Aku tahu mungkin kau mempertanyakan kenapa aku baru sadar? Namun, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Tuhan, terima kasih atas rahmatmu memberikan aku seorang wanita yang begitu sempurna, yang melahirkan seorang anak yang sempurna juga. Aku merasa berdosa, telah membiarkannya lahir dan tumbuh tidak dalam kesahan hukum yang mengakuinya sebagai darah dagingku. Namun, aku akan lebih merasa berdosa jika anakku meninggal sebelum bertemu denganku. Tuhan, sekali ini saja aku tidak meminta macam-macam padamu, aku sangat sadar diri dengan keadaanku yang baru saja kembali menyembahmu. Aku ingin Sakura Haruno sembuh total, aku ingin Puteriku juga sembuh dari semua penyakitnya. Aku ingin kau merestui kami dalam ikatan kekeluargaan yang disahkan oleh hukum dan agama. Terima kasih, Tuhan. Amin' – Sasuke Uchiha
Sasuke dan Cherry membuka matanya perlahan, lalu saling bertatapan dengan senyum di bibir mereka masing-masing. Sasuke segera mengangkat tubuh Puterinya dan segera beranjak menuju kamar mereka.
"Ayah, Ibu akan sadar kan?"
Sasuke hanya menganggukkan kepalanya dan mendekap erat Puterinya. Mereka harus tidur mengingat jam sudah menunjukkan pukul 10:00pm. Masih ada hari esok, dan esok adalah hari kasih sayang. Semoga sang Ibu bangun dari tidur panjangnya. Amin.
*TBC
AUTHOR AREA :
Heey Minnaaaaaaa XD
Maaf telat update, harusnya hari Sabtu saya update. Tapi karena Sabtu kemarin saya ke Dufan, dan muntah-muntah *norak* jadi gabisa update *ga ada yg nanya* #PLAK
Dan maaf hari ini gak ada sesi pembalasan review, dibalesnya chapter depan aja yaaaa~
Keep Read And Review ya Minna ^^
Bagaimana dengan Chapter 9 ini?
Review~
