Naruto kecil pulang ke rumah dengan seluruh keluarga yang panik akan dirinya, kakaknya Kyubi bahkan menangis sesegukkan melihat adiknya yang paling kecil pulang dalam keadaan selamat.

"Kau baik – baik saja Naru?"

"Eung, ya seseorang menolongku"

Keluarga Namikaze berterima kasih pada orang itu meski tidak tahu siapa orangnya dan yang pasti ada yang membekas diingatannya.

Ia mengizinkan pemuda kecil itu mencium matanya

Hidungnya

Bahkan bibirnya.

Semenjak hari itu juga ia sering ke kebun maple dengan harapan ia dapat bertemu kembali dengan sang raven.

Namun ia tak pernah bertemu kembali

Sampai ia lupa alasan utamanya ke kebun maple ialah apa

~.~

Sasuke masih ingat rasa bibir yang pernah ia kecup belasan tahun yang lalu, bibir cherry yang merah ranum merangsang ia untuk berbuat lebih. Tidak, tidak ia harus menahannya!

"Hnghh…"

'Oh Fuck!' jerit Sasuke dalam hati. Jika sudah begini jangan salahkan Sasuke bertindak jauh. Ciumannya turun kebawah dan menempelkan bite mark disana dan yang paling ia tunggu.

Melihat wajah asli malaikat kecilnya.

Ia memangku Naruto yang terngah – engah akan ciumannya. Ia melepaskan wig dan membuang blazer Naruto asal. Ia membuka beberapa kancing atas kemeja Naruto sedikit dan menurunkannya sampai bahu.

Dia melihat bahwa rambut Naruto lebih pirang dan kulit Naruto sedikit kecoklatan dibanding Naruko yang kulitnya sepucat salju. Aroma yang menguar dari diri Naruto adalah aroma Musim semi dimana kue – kue dan wangi roti yang dipanggang memenuhi udara pada musim tersebut.

Hangat. Sejuk. Manis.

Sasuke membenci hal – hal yang berbau manis, karena menurutnya manis itu adalah racun yang berbahaya.

Namun manisnya Naruto tidak bisa ia tolak.

Ia bahkan bisa gila jika terus – terusan menghirup aroma memabukkan dan addictive seperti ini.

Naruto diam ketika Sasuke memandangnya dalam – dalam ia tidak dapat bergerak. Ia harus mendongakkan wajahnya sedikit supaya dapat melihat lebih jelas rupa Sasuke.

Badannya tinggi semampai dan kulitnya pucat otot bisep dan trisepnya sempurna dia dianugerahi dada yang bidang dan perut yang rata dia berotot namun proporsional. Rahangnya tegas. Khas Uchiha, tegas dan dingin, rambutnya hitam legam namun tidak selegam kedua butir matanya. Bibirnya pink pucat namun deru nafasnya hangat. Dari jarak sedekat ini Naruto mengakui bahwa ia gagal sebagai laki – laki dan juga akhirnya sadar mengapa Sasuke banyak digilai.

"Puas menatapku?" Kalimat dengan suara datar itu mengagetkan dirinya hingga hampir terjungkal kebelakang untung Sasuke sigap menahan pinggangnya.

Hey harusnya ia marah karna dilecehkan!

Pipinya merah, oh ralat seluruh mukanya memerah hingga ke telinga. Melihat Sasuke terkekeh bebas melihat wajahnya membuat dirinya semakin merona.

"Tidurlah, nanti malam aku akan datang ke rumah-mu"

"A-a-ap-apa? Datang ke rumahku?"

"Tidak ada penolakan"

Ini gawat.

~.~

Konoha University

Deidara dan Kyubi mampu menyelesaikan persentase mereka dengan baik semoga para Rektor dan PH serta sponsor terkait mempertimbangkan proposal yang mereka ajukan setelah melihat persentase mereka berdua.

"Kudengar jurusan Design And Interior akan bergabung dengan kita" ujar Deidara

"Itu tergantung keputusan dari ketua panitia" ujar Kyubi yang dimaksud adalah Asuma Sarutobi. Cowok yang hobi memasangkannya dengan Uchiha.

"Kuharap Ino sengaja melakukan itu supaya kau dimakcomblangin olehnya"

"Jangan bahas mereka berdua, sudah jam berapa sekarang?"

"Jam 6 Sore sepertinya kita memakan waktu lama saat persentasi tadi, mau singgah memberikan adikmu hadiah?"

"Yah bagaimana lagi. Aku yakin Naruto sudah pulang sejak siang tadi"

Kyubi berharap semua akan baik – baik saja. Ya baik – baik saja.

~.~

Naruto tidak bisa melupakan sentuhan Sasuke tadi di sekolah. Sepanjang perjalanan ia mengabaikan Kiba yang panik melihatnya 'berantakan'sampai dirumah semua sibuk mengurus Naruko dan Kyubi yang masih di kampus. Ia masuk kedalam kamar dan membilas seluruh tubuhnya.

Cermin kamar mandi tersebut menampakan bercak merah keungu-an di bagian perpotongan leher dengan pundaknya. Itu membuat Naruto berpikir keras

Jahat atau Baik-kah Sasuke itu?

Ia benar – benar kebingungan. Dengan cepat ia memakai baju begitu mendengar ketukan pintu

"Nee-chan?" dihadapannya Naruko dengan kursi rodanya sedang tersenyum.

~.~

"Bagaimana hari mu disekolah"

"Baik – baik saja" ya pengecualian untuk adegan bento buatan ibunya yang jatuh dan nyawanya yang hampir melayang serta Sasuke yang melakukan hal – hal aneh.

"Aku lega mendengarnya bagaimana dengan belajarmu"

"Eung, aku masih dibantu Kiba"

"sini mana PR mu biar aku kerjakan"

"Jika kau yang mengerjakan kapan adikmu pintar?" dan suara kalem tersebut mengejutkan Naruko dan Naruto. Dihadapannya ada seorang

Uchiha Sasuke.

~.~

Suasana makan malam ini benar – benar buruk. Keluarga Uchiha bertandang kerumah keluarga Namikaze dengan alasan ingin menjenguk Naruko yang tak sempat mereka jenguk sewaktu ia dirumah sakit. Kyubi yang datang pun sontak mengeluarkan ekspresi dinginya ketika melihat si sulung Uchiha. Naruko juga sama kesalnya melihat Sasuke yang tersenyum penuh kemenangan seakan – akan memberi tahu bahwa ia sudah tahu 'harta tersembunyi' Naruko yang tak lain dan tak bukan adalah saudara kembarnya.

"Ini benar – benar diluar dugaan kami, kalian dengan rendah hati mau datang kerumah sederhana kami" ujar Kushina merendahkan diri.

"Rumah ini justru terlihat hangat. Oh! Siapa ini dia lucu sekali" ujar Mikoto melihat anak anjing yang berkeliling di kaki seorang… pemuda yang mirip Naruko?

"Dia putra bungsuku Mikoto, Namikaze Naruto" ujar Minato sambil memberi sinyal pada Naruto untuk memberi salam.

"Konbawa Oba-san, Oji-san" ujar Naruto memberi salam dan tersenyum manis.

"Astaga Mikoto. Anak mu kawai sekali!"

~.~

Mikoto tak henti – hentinya memandang Naruto kagum. Fugaku hanya geleng – geleng kepala, ia sudah tau apa yang ada didalam otak istrinya tersebut.

"Naru, kau bersekolah dimana sekarang?" dan semua hening. Naruto bingung harus menjawab apa

"Eung… saya tidak bersekolah Oji-san" ujar Naruto mengigit bibir bawahnya kuat – kuat menandakan ia sedikit gugup dan malu. Melihat Otouto-nya tidak nyaman Kyubi memecah suasana.

"Ah, Oba-san mau mencoba ramen buatan Naru-chan?"

"Ah, ha'i. ittadaikimasu"

~.~

Saat ini Naruto dan Sasuke ah lebih tepatnya Naruto, Sasuke, dan Pom Pom berada di halaman rumah Naruto. Naruto ditugasi untuk menemani Sasuke karna Naruko sedang sakit dan Kyubi yang menemani Itachi.

Suasananya sedikit awkward karna keduanya bingung harus mulai pembicaraan darimana

"Ekhem. Untuk pertanyaan dari otou-san aku minta maaf"

"Tidak apa – apa. Aku mengerti" ujar Naruto sambil mengusap Pom Pom.

Ini bukan untuk pertama kalinya ia ditanya oleh pertanyaan seperti itu teman Ayah dan Ibunya serta teman Nee-chan dan Nii-channya juga jika bertandang kerumah dan melihat Naruto akan menanyakan pertanyaan yang sama. Jika sudah begitu Naruto hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia tidak bersekolah.

Mungkin karna takut melukai hatinya, baik teman dari Kyubi dan Naruko jarang sekali mereka ajak untuk bertandang kerumahnya.

"Eum mau melihat – lihat sekitar?"

"Tentu"

~.~

"Bisakah mukamu tidak kecut begitu?"

Pertanyaan konyol yang dilempar Itachi untuk Kyubi. Ya dia sendiri bahkan sudah tahu jawabannya si sulung Namikaze ini tak akan pernah berbaik hati mengantar Itachi keliling kompleks kalau bukan atas suruhan orangtuanya.

"Kau sudah tahu jawabannya bukan? Bahwa aku benar benar membencimu dan si pantat ayam itu"

"Namanya Sasuke bukan pantat ayam"

"Terserah"

"Sebenarnya kami kesini karna permintaan Sasuke"

Langkah Kyubi terhenti sejenak.

"Kenapa. Kok berhenti"

"Bukan apa – apa lanjutkan"

"Sasuke sepertinya tertarik oleh salah satu dari adikmu"

Kali ini Kyubi benar – benar membeku.

Sasuke tidak mungkin memilih Naruko karna ia tahu seberapa hebatnya permusuhan dua orang itu maka yang tersisa hanya satu.

Namikaze Naruto.

~.~

Saat ini keadaan diruang tamu begitu serius baik Keluarga Namikaze maupun Keluarga Uchiha

"Suatu kebanggan kalian mau datang kerumah kecil kami. Bukan bermaksud buruk atau apa, tapi pasti ada hal yang penting yang kalian ingin bicarakan bukan?" uzar sang kepala keluarga Namikazw, Minato.

"Begini Minato daripada seorang teman maupun anak buah kau sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri dan untuk hal itu kita perlu ikatan yang kuat?"

"Maksudnya?" Kushina mencoba bertanya.

"Kami ingin menjodohkan putra kami dengan anak mu Kushina" ujar Mikoto tersenyum hangat.

Ini benar – benar diluar dugaan.

"Anak kami yang cukup umur hanyalah Kyubi, namun ia seorang laki – laki. Sedangkan Naruko bahkan belum genap tujuh belas tahun"

"Kami tidak mempermasalahkan jenis kelamin dan usia, Minato"

Minato mengerti arh pembicaraan ini kemana. Sudah pasti Naruto-lah yang dimaksud, hanya Naruto satu – satunya anak laki – laki mereka yang mempunya 'hal istimewa' tersebut.

Sebenarnya Kyubi juga mempunyainya namun sikap bandelnya membuat ia masih mendapat kesempatan untuk menikah dengan perempuan, sedangkan Naruto? Bahkan perempuan pun membenci dirinya.

Minato belum siap untuk menjodohkan Naruto. Ia tidak mempermasalahkan jika nanti pasangan anak bungsunya itu kelak memanglah seorang laki – laki. Namun yang menjadi masalah adalah sanggupkan pasangannya tersebut membahagiakan Naruto?

Hampir tujuh belas tahun hidup bersama putra bungsunya tersebut. Sudah cukup untuk mengetahui betapa rapuh dan pedihnya seorang Namikaze Naruto. Jika diibaratkan Naruto adalah Kristal bening yang mudah pecah kapan saja.

"Kalau memang boleh tahu, siapa yang sebenarnya ingin kalian jodohkan" Kushina bertanya dengan nada was – was sambil memgang erat tangan suaminya.

"Kami berniat menjodohkan Sasuke" ucap Fugaku terhenti

"Dengan Naruto" lanjut Mikoto.

~.~

Berjalan dalam keheningan membuat Sasuke dan Naruto tidak menyadari bahwa mereka sampai pada tempat pertama kali mereka bertemu.

Kebun Maple dengan pohon paling rindang ditengahnya

"Nah, Sasuke-kun. Ini adalah tempat bermainku bersama pom – pom"

Oh ya Sasuke masih pnya ingatan segar pertemuan pertama mereka berdua adalah disini.

TES.

Bintik putih dan lembut menyentuh ujung hidung Naruto membuat ia mendongak keatas.

Salju pertama.

"Sasuke-kun"

"Apa?"

"Mari buat permohonan di salju pertama" ujar Naruto langsung menutup matanya.

"Kiba-chan mari buat permohonan di salju pertama"

Naruto langsung membuka matanya.

"Ada apa? Permohonan-mu sudah selesai"

"Belum…" ujar Naruto menatap Sasuke lekat

"Apa permohonanmu Kiba-kun?"

"Mempunyai sepeda, Naru?"

"Bertemu dengan dia lagi."

Naruto tersentak tubuhnya tiba – tiba hilang keseimbangan dan hampir jatuh jika Sasuke tidak sigap menopang Naruto dan membantunya berdiri.

"Hey. Apa kau baik – baik saja"

"Ah. Ya tentu aku baik – baik saja" ujar Naruto linglung sendiri.

Entah kenapa suara – suara itu melintas diotaknya namun ia tidak ingat mengapa ia berkata seperti itu.

Mereka berdua berteduh di pohon itu berdiri menikmatinya jatuhan butir butir kapas tersebut.

Sasuke membalut tubuh Naruto dengan mantel hangatnya takut Naruto kedinginan melihat ia tiba – tiba diam membeku.

"Apa kau kedinginan?"

"Ya sedikit tapi-"

"Eung…apa kau kedinginan?"

"Apa kau kedinginan?" Naruto membalik pertanyaan tersebut membuat Sasuke terkekeh.

"Dobe! Tentu saja aku kedinginan" ujar Sasuke menanggapi hal itu lucu.

"Dobe! Tentu saja aku kedinginan"

"Kiba-kun mari buat permohonan di salju pertama"

"Bertemu dengan dia lagi"

"Eung…apa kau kedinginan?"

"Apa aku boleh mencium matamu?"

"Pompomnie…Pompomnie… kamu dimana? Hari sudah mulai gelap dan hujan mulai turun…"

"Bertemu dengan dia lagi. Aku ingin bertemu dengan dia lagi Kiba-kun"

BRUK

Naruto tiba – tiba terjatuh, ia sulit mengatur nafasnya, dadanya terasa sesak. Suara – suara itu berputar terus menerus bagai kaset rusak. Hal itu tentu menjadi kepanikan bagi Sasuke.

"Naru! Naruto! Sadar Naru!" ujar Sasuke mencoba mengembalikan kesadaran Naruto. Dia mengecek seluruh isi kantong saku pakaian Naruto namun ia tak menemukan obat ataupun alat bantu pernapasan lainnya.

"Hah…Hah…hah…hhh…hhh…" Nafas Naruto masih belum stabil.

Tidak ada pilihan lain, Sasuke mencium bibir itu lembut sambil melebarkan mulut sang pirang dan memberikan udara yang biasa selagi tangannya menekan dadanya. Sasuke memberi Nafas Buatan semampu yang ia bisa. Nafas terakhir dari Sasuke membuat Naruto dapat kembali mengatur nafasnya namun dirinya masih tidak tenang terbukti dari genggaman tangan naruto di kemeja Sasuke. Sasuke memeluk Naruto yang menangis entah karena apa.

"Sasuke-kun…"

"Hn?"

"Ada bagian dari memori ingatanku yang hilang, dan itu menyakitkan karna aku tidak bisa mengingatnya"

TO BE COUNTINUED


Author Notes : well, as usual kesibukan yang menyita hingga menyebabkannya jadi jarang update but thanks to Readers bahkan Siders*dengan harapan mereka mau meninggalkan jejak sih* yang mau baca fav,follow, dan review

see u next time~~~