.
.
.
.
.
Luhan POV
"Oh Sehun, selamat pagi," kataku sambil membuka penutup mata yang digunakannya, kemudian memain-mainkan hidungnya dan memberikan kecupan di keningnya. Pria itu pun perlahan membuka matanya sambil tersenyum. Dia membalas kecupan tadi dengan memberikan ciuman ke pipi ku.
Aigoo, kamilah pasangan ter-romantis dan termesra abad ini sebelum aku memberikan sedikit komentar padanya, "Kapan ya kebiasaan nge-cess mu itu bisa hilang? Aku sedih melihat ada pulau baru lagi di bantalmu."
PLETAK!
Dan Sehun tidak tinggal diam kukomentari seperti itu, dia langsung menjitak kepalaku. Aku langsung menyusupkan kepalaku ke bantal untuk meredakan rasa sakit. Kami baru saja berbaikan, tetapi kali ini Sehun melakukan kekerasan rumah tangga terhadapku.
"Ahh ! Aku kesal!" jeritku.
Dengan cueknya dia melenggang menuju kamar mandi yang letaknya memang berada di dalam kamar dia kemudian keluar lagi dan berkata, "Yeobo, tidak mau mandi sama-sama?" Aku langsung menjawabnya dengan 'bantal terbang' yang menghantam tepat di wajahnya. Ya~ Ha~ rasakan, biar begini dulu aku pernah menjadi anggota klub basket, walau hanya 2 bulan.
Setelah dia asyik dengan kegiatan mengguyur tubuhnya dan aku selesai merapikan tempat tidur. Aku langsung menuju dapur, akan kusiapkan sarapan untuknya. Tetapi sepertinya percuma, eomma sudah selesai menyiapkan sarapan pagi dan aku hanya termangu melihat makanan yang sudah siap itu.
"Eomma, aku kan sudah menikah. Harusnya aku yang menyiapkan sarapan untuk suamiku."
Eomma langsung mengerenyitkan menaruh tangannya di dahiku kemudian ke dahinya. "Luhan, sepertinya sakitmu kemarin sangat parah sampai bisa mengubah sifatmu."
"Aigoo~ Aigoo~ apakah ini omongan yang pantas dari seorang ibu yang melihat anaknya menjadi lebih baik? Harusnya eomma bahagia. Aku sudah mau menyiapkan sarapan sendiri. Aku sudah berubah, Eomma!"
"Apa?! Kau mau membuat makanan untuk suamimu?!" seru Yifan dari belakang yang membuatku langsung tersentak kaget. Kehadiran makhluk satu ini memang selalu membuat sensasi tersendiri yang sulit untuk di deskripsikan.
"Memangnya kenapa? Bagus, kan? Lagipula itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang 'istri'," kataku sambil tersenyum bangga padanya.
"Cihhh... Sehabis Sehun memakan masakan buatanmu, saat itu juga kau langsung menjadi 'janda'! Percayalah padaku. Lebih baik tidak usah!"
"Omo~ Kalian meremehkanku?"
"Bukan meremehkan, tetapi hanya mencegah hal buruk terjadi," timpal appa yang sedari tadi memang ada di dapur sambil membaca koran pagi.
"Ahh Appa juga ikut-ikutan. Huh, aku mau kembali ke kamar saja melanjutkan tidurku. Mendengarkan komentar kalian, membuat mood-ku rusak saja!"
Saat aku keluar dari dapur, kudengar bel berbunyi. Aku pun melongok melihat interphone. Siapa pria di luar itu? Aku tidak mengenalnya.
"Yo, cari siapa?" tanyaku.
"Aku mau menjemput Baekhyun," sahutnya.
Aha~ Ada pria yang menjemput Baekhyun. Tergelitik rasa penasaran, aku pun bertanya lagi padanya. "Siapa kau?"
"Aku Kai, Baekhyun sudah berangkat?"
"Belum, sebentar kupanggilkan dia."
Aku pun bergegas ke kamar Baekhyun. Dia sedang merapikan dasi nya saat aku masuk.
"Baekhyun hyung, ada seorang pria yang menjemputmu. Namanya Kai. Dia itu pacarmu ya?"
Wajah Baekhyun seketika merah padam mendengar perkataanku.
"Sungguh dia kemari? Oh Tuhan... Aku harus cepat-cepat."
Dia langsung mengambil tasnya dan terburu-buru keluar kamar. Aha~ Baekhyun yang sedang jatuh cinta. Karena yang empunya ruangan sudah pergi, aku juga tidak mungkin berlama-lama di sana. Maka aku pun kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Di sana kulihat Sehun juga sudah siap dengan seragamnya.
"Sehun, di bawah ada pacar kakakmu loh, wajahnya lucu sekali–hitam lagi–. Tampaknya Baekhyun hyung sangat suka padanya."
"Siapa yang ada di bawah? Pacar Baekhyun hyung ada di sini? Jangan-jangan si Playboy yang dibilang Yifan. Namanya Kai 'kan?" tanya Sehun tapi dengan nada suara yang tidak mengenakkan.
"Aigoo, Sehun, jangan bilang kau tidak suka kalau kakakmu punya pacar, ya?"
"Tentu saja. Baekhyun hyung masih polos. Apalagi Yifan bilang kalau Kai itu playboy. Kakakku dalam bahaya bila didekatnya."
"Tampang seperti itu tidak mungkin jadi playboy. Lagipula aku sudah bilang padamu. Jangan terlalu percaya dengan ucapan Yifan. Dia itu suka berlebihan. Dan apa-apaan itu?! Kau saja sudah menikah! Kenapa kakakmu tak kau ijinkan pacaran!?"
Tanpa mendengarku, Sehun membanting pintu saat keluar kamar. Aku hanya bisa menahan emosi melihat kelakuannya itu. "Baekhyun hyung, kau mendapat seorang adik yang kelewat overprotected. Malang sekali dirimu."
Aku pun berbaring. Kembali ke tujuan semula, mau melanjutkan tidur. Aku masih punya izin tidak masuk sekolah untuk 2 hari jadi aku punya kesempatan beristirahat. Tapi susah sekali memejamkan mata. Aku melihat ponsel Sehun tergeletak di atas meja belajar. Aku belum pernah melihat isi ponsel nya. Iseng-iseng aku pun mengambilnya dan mengecek inbox. Ada pesan dari Zitao. Ragu-ragu rasanya saat mau membuka isi pesan rasa penasaran memenangkan segalanya. Aku membaca pesan itu.
Sehuna, jangan benci aku. Aku mencintaimu. Kumohon temui aku. Kumohon jangan acuhkan aku. Sehuna, kumohon.
"Apa-apaan bocah ini? Semalam kan mereka sudah bertemu. Sebenarnya apa yang terjadi sih?"
Tanpa ragu lagi aku membuka semua pesan yang berasal dari Zitao. Yang tersisa setelah membacanya adalah rasa kesal dan benci terhadap bocah itu. Aku sangat muak dengan semua pesan-pesannya. Semuanya berisi kalimat bahwa dia menginginkan Sehun. Aku heran kenapa Sehun tidak menghapus pesan dari bocah itu. Ingin menangis lagi rasanya. Tapi tidak jadi karena Sehun kembali. Dia cukup terkejut melihat ponsel-nya ada di tanganku. Aku melemparkan ponsel itu ke arahnya, dia berhasil mengelak dan membiarkan ponsel itu jatuh dengan keras di lantai. Dia menghampiriku dan menarikku kedalam pelukannya.
"Kenapa? Harusnya kau lebih tegas padanya. Aku benci sifatmu ini, Sehun."
"Maaf. Aku sudah berusaha sebisa mungkin."
"Berusaha seperti apa? Jelas-jelas kau terlalu baik padanya. Dia terlalu berharap padamu. Aku melihat jelas itu. Dia juga mengatakannya kemarin saat kau membantunya. Dia akan semakin mencintaimu kalau kau terlalu baik padanya."
"Luhan-ya, aku sudah tegas padanya. Aku sudah menolaknya. Aku baik padanya karena dia butuh aku."
"Justru itu, jangan terlalu baik! Jangan memberi harapan! Kau ini seorang pria, harusnya kau tahu dia akan makin melambung karena sikapmu itu. Kau bahkan tidak menghapus pesan-pesan darinya. Jika dia tahu itu, dia akan semakin senang dan semakin berharap."
"Maafkan aku!"
"Jangan hanya bisa meminta maaf. Kumohon Sehun, aku tidak ingin dia menjadi duri dalam hubungan kita. Aku hanya ingin kau tegas padanya."
Dia melepaskan pelukannya. Saat kami berbicara tadi, aku sama sekali tidak melihat matanya. Dan sekarang aku dapat melihatnya. Matanya berkaca-kaca. Aku tahu dia sangat terbebani dengan hal ini.
"Aku pergi dulu. Banyak-banyaklah beristirahat!"
Aku meraih tangannya, lalu menciuminya. "Aku takut. Sekarang aku sangat takut. Aku takut kau bertemu dengannya. Aku takut memikirkan kalau-kalau di dalam hatimu ternyata ada dirinya. Aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak mau."
"Luhan-ah–"
"Kumohon Sehun. Kali ini aku yang memohon. Aku tidak ingin kau bertemu dengannya. Biarkan kali ini aku yang memohon. Aku juga tidak mau kalah darinya. Aku mencintaimu lebih dari apapun. Tegaskan padanya kalau kau sudah memilikiku. Tegaskan padanya kalau dia sudah tidak ada harapan lagi. Kumohon!"
"Baiklah. Aku akan menegaskan itu. Tapi itu artinya aku harus bertemu dengannya. Saat aku bertemu dia, aku akan bilang bahwa aku sudah mempunyai orang yang sangat kucintai, yaitu Xi Luhan. Aku tidak ingin orang yang kucintai terluka karena ketidaktegasanku. Aku tidak ingin dia mengacuhkan ku lagi, aku juga tidak ingin melihatnya menagisi ku lagi."
"Benarkah? Kau berjanji akan mengatakan itu padanya? Kau tidak akan ragu?"
"Janji. Akan kukatakan semuanya. Sekarang aku pergi dulu sebelum terlambat." Aku mengangguk mengizinkannya. Dia lalu berbalik menuju pintu tetapi sebelumnya memungut ponsel-nya yang kulempar tadi. " tidak rusak. Lain kali kalau marah jangan melempar barang lagi. Aku belum bisa membeli barang ini dengan uang sendiri. Kalau rusak, habislah sudah."
"Siapa suruh tidak menghapus pesan itu," sungutku.
"Aku memang tidak terbiasa menghapus pesan masuk. Akan kuhapus saat di bus. Aku pergi ya."
Dia pergi dan sekarang aku sendirian. Saatnya melanjutkan tidur tetapi... Ah~ Aku lupa. Aku belum bertanya apa yang dilakukannya tadi pada Kai dan Baekhyun?
.
.
.
.
Sabtu siang yang cukup dingin di SMA Paran. Seperti biasa kami berlatih setiap sabtu di sini. Wajah-wajah anggota klub baik yang mendapat peran di panggung maupun hanya di belakang layar semuanya sama. Masam total dengan dahi terlipat pertanda stress.
"Ah~ Zitao belum datang juga. Akan kubunuh dia kalau tidak ikut latihan hari ini," maki Kyungsoo.
"Emosi Kyungsoo sedang labil. Jangan mendekat kalau masih mau pulang dalam kondisi utuh!" seru Chanyeol yang membuat mata Kyungsoo langsung mendelik padanya.
"Aku datang. Aku bawa permen buat semuanya. Kalau mau, ayo kemari!" sapa Sehun yang memang baru saja datang.
"Sehun, aku tidak sedang mimpi 'kan?" tanya Chanyeol yang langsung menghampiri Sehun dengan teman-teman yang lain. Mereka saling berebut mengambil permen yang dibawa Sehun.
"Hyung, aku kan juga mau melihat kalian kalau latihan."
"Iya, tapi kan tidak biasanya," sahut Chanyeol yang kini sudah mendapatkan permen terbanyak.
Sehun tersenyum tidak membalas perkataan Chanyeol. Dia malah memandangiku. Ya, aku tahu maksudnya datang ke latihan kali ini. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tetapi aku juga punya rencana.
"Zitao tidak datang juga. Apa kita masih harus menunggunya?" tanya Kyungsoo yang dibalas dengan anggukan dan teriakan untuk menunggu dari teman-teman yang lain. "Baiklah, kita tunggu dia. Kalau sampai setengah jam lagi dia belum datang, kita tinggalkan saja."
Karena masih harus menunggu kedatangan Zitao, aku pun menghampiri Minseok yang sedang asyik dengan naskahnya untuk menjalankan rencanaku. "Keluar dulu, yuk! Ada yang mau kubicarakan," ajakku.
Dia menurut. Tanpa bertanya apa mauku dia langsung meraih mantelnya dan mengikutiku berjalan ke arah halaman belakang. "Ada apa?" tanyanya setelah kami berdua duduk di bangku panjang.
"Minseok-ssi, adegan ciuman kita lebih baik dihapuskan saja!"
"Kenapa? Kita kan sudah melatihnya lama."
"Ah, aku tahu itu. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lagi melakukannya."
"Hah? Jangan-jangan karena sekarang kau sudah punya pacar, ya?"
Aku mengangguk. Dia memang cerdas, tahu dengan cepat maksudku. "Pacarku itu sangat pencemburu. Aku takut nanti dia marah," ujarku.
"Tapi itu hanya akting. Harusnya dia mengerti."
"Aku juga sudah mengatakan itu, tapi hubungan kami masih sangat labil. Kumohon, bantu aku menjelaskan pada sutradara nanti. Lagi pula ini drama sekolah. Tidak baik kan kalau orang tua kita menonton adegan ciuman kita nanti," rayuku.
"Baiklah. Tidak masalah. Tapi, kapan kalian jadian? Aku kira selama ini kau masih sendiri."
"Sebenarnya sudah lama. Sejak akhir musim semi, tapi kami sering bertengkar dan baru saja berbaikan."
Dia mengangguk tanda mengerti. Tetapi kemudian dia berkata, "Jadi, kencan kita besok bagaimana?"
"Itu... Terserah kau saja."
"Ambilah!" katanya sambil menyerahkan dua lembar tiket, "Mana mungkin aku pergi kencan dengan orang yang sudah punya pacar. Ambilah dan bersenang-senang dengan pacarmu!"
"Minseok-ssi, bagaimana aku harus membalas semua kebaikanmu?"
"Sudahlah, tak apa. Asal kau tidak menangis lagi seperti malam itu, aku sudah senang."
"Minseok-ssi, aku–"
Dia meletakan telunjuknya ke bibirku. Dia tidak ingin aku melanjutkan ucapanku. Dia lalu mengelus rambutku. Entah kenapa untuk kali ini, aku sangat tidak ingin melihat matanya, padahal bagian wajahnya itulah yang paling kusuka.
"Aku sudah terlambat rupanya," gumamnya lirih tetapi masih dapat kudengar. Kami membisu cukup lama sampai kesunyian itu dipecahkan oleh dering ponsel kami. "Kita harus kembali ke ruang latihan sudah datang," ajaknya.
"Ya, Kyungsoo juga sudah mengabariku."
Tanpa memandang ku lagi, dia berjalan mendahului. Entah kenapa, aku merasa kikuk setelah mendengar gumamannya tadi. Rupanya selama ini aku juga sudah memberikan harapan padanya.
.
.
.
.
Aku mengucek mataku. Masih tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat. Aku sudah sering melihat orang berciuman. Tetapi untuk melihat yang melakukan hal itu adalah Baekhyun, ini baru pertama kalinya. Aku melihat mereka berciuman sangat mesra tanpa memperdulikan pandangan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Aku mengalihkan pandangan ke arah Sehun. Terlihat sangat syok. Sementara Yifan, aku melihatnya beberapa kali menelan ludah. Aku dapat menangkap kekesalan di raut wajahnya.
"Lebih baik kita pulang saja. Kita sudah mengikuti kencan mereka dari pagi. Sudah saatnya kita akhiri kegiatan menguntit ini," saranku.
"Baiklah, aku juga sudah bosan. Aku pulang duluan. Kalian berdua bersenang-senanglah di sini. Mumpung lagi di Namsan tower, tidak setiap hari kan kalian kemari? Berkencanlah seperti pasangan-pasangan yang lain. Aku pergi," pamit Yifan meninggalkan aku berdua dengan Sehun.
Aku menyikut tangan Sehun, berharap dia mengajakku melihat pemandangan kota Seoul dan berhenti memandang tajam ke arah Baekhyun dan Kai. Tetapi diacuhkan. Aku menatap nanar ke arah teropong yang sedang menganggur. Aku kembali hendak menyikut tangan Sehun tetapi tidak berhasil. Ketika aku menoleh, aku sudah tidak melihat dia di sampingku melainkan sedang berjalan ke arah Baekhyun. Dengan cepat aku mencoba menyusulnya. Tetapi tidak berhasil. Sehun sudah di samping Baekhyun dan Kai.
"Kencan kalian berakhir. Baekhyun hyung, ikut aku pulang!" titah Sehun sambil menarik tangan Baekhyun.
"Oh Sehun, aku tidak mau!" sahut Baekhyun sembari menepis tangannya yang dipegangi Sehun. Dia meraih lengan kanan Kai, kemudian berusaha melindungi dirinya di belakang punggung pria itu.
"Baekhyun, menurutlah dengan saudara-mu! Pulanglah!" bujuk Kai.
Baekhyun menggeleng, dia malah semakin mempererat pelukannya pada Kai. Pria itu lantas menarik tubuh Baekhyun ke hadapannya. Memegangi kedua pipi Baekhyun, lalu mengecup keningnya. Kemudian berkata, "Pulanglah, tidak apa-apa, kok. Telpon aku setelah sampai rumah, ya?"
"Ya... ya... ya... Sampai kapan kalian mesra-mesraan begitu? Ayo, kita pulang Baekhyun hyung!" amuk Sehun sambil menarik tangan Baekhyun. Baekhyun hanya bisa menatap dengan sedih ke arah kekasihnya itu.
.
.
.
.
"Oh Sehun, apa salah Kai sampai kau tidak mengizinkan aku bersama dia? Lagipula aku kakakmu!" jerit Baekhyun saat Sehun mendorongnya masuk ke kamarnya. Sehun menutup pintu kamar Baekhyun tanpa mengizinkan aku masuk ke sana. Aku hanya bisa mendengarkan pertengkaran mereka dari luar dan tidak bisa melerai. Kulihat Yifan juga duduk ikut mendengarkan.
"Hyung belum cukup umur, belajar saja yang giat!" teriak Sehun menceramahi
"Belum cukup umur? Kau saja hanya di bawah satu tahun denganku sudah menikah. Jadi kau juga sebenarnya belum pantas 'kan?" bantah Baekhyun.
"Hal yang terjadi dengan diriku itu berbeda."
"Tak ada yang berbeda, aku hanya ingin bersenang-senang dan menikmati masa mudaku. Ini pertama kalinya dalam hidupku ada orang yang bilang dia menyukaiku. Aku tidak rela karena ke arogananmu aku harus pisah dengannya. Aku tidak mau. Tidak rela!"
"Baekhyun hyung, Sejak kecil kita tidak pernah bertengkar seperti ini. Tapi karena pria itu hyung jadi pembantah? Kau... kau..."
"Ya Tuhan, ini pertama kalinya mereka bertengkar rupanya. Dasar Sehun seperti anak-anak saja," batinku masih menguping pembicaraan mereka.
"Ini salah-mu! Kau yang membuatku marah, kau yang membuatku berani membantah," sungut Baekhyun tak mau kalah.
"Aku hanya tidak ingin hyung pacaran dengan playboy itu."
"Siapa sih yang bilang Kai playboy? Oh ya, pasti Yifan. Jangan mempercayai ucapannya, dia memang selalu mengusiliku dan tidak mau melihatku senang sedikit saja."
Yifan yang memang sedang ikut menguping bersamaku jadi tersentak dan senyum-senyum sendiri.
"Bukan hanya karena dia playboy, tapi aku takut sesuatu yang buruk menimpamu hyung. Aku takut kalau hyung yang nanti menerima karma karena perbuatanku," seru Sehun yang tentu saja membuatku tersentak mendengarnya. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah diperbuatnya sampai berkata seperti itu.
"Karma?" tanya Baekhyun tak mengerti.
"Hyung tahu kan, aku menikahi Luhan karena 'kecelakaan'? Aku tak mau hyung juga seperti itu. Biasanya dalam suatu keluarga kalau anak lelakinya menikahi anak orang karena suatu insiden, saudaranya juga akan mengalami hal yang sama. Maksudku karma karena itu," jelas Sehun.
"Apa? Aku yakin kau hanya mengarang saja supaya aku putus dengan Kai. Aku tahu kalau kau dan Luhan belum pernah–"
Baekhyun tidak melanjutkan perkataannya karena Sehun memotongnya, "tentu saja sudah pernah! Kalau tidak untuk apa kami dinikahkan?"
"Tapi Luhan bilang–"
"Aha, tentu saja dia lupa. Dia mabuk saat itu."
"Aa~ Sehun. Keluar kau! Aku mau bicara!" jeritkuku.
"Omo~ Ternyata dia menguping diluar," gumam Sehun.
Sehun keluar dari kamar Baekhyun saat itu juga. Aku menggeram kesal kepadanya. Tega-teganya dia berbohong seperti itu. Aku pun menarik tangannya, menyuruhnya mengikutiku menuju kamar kami. Sebetulnya selain alasan untuk memarahinya yang sudah berbohong, aku juga punya rencana yang akan dijalankan oleh ahjusshiku.
Luhan POV END
.
.
.
.
"Kenapa mengajakku ke tempat seperti ini?" tanya Baekhyun pada Yifan.
"Kenapa? Tidak suka?" balas Yifan.
"Aku belum pernah bermain ski es," kata Baekhyun sedih, "Aku tahu kau mengajakku ke tempat ini untuk mengerjaiku lagi, kan? Kau ingin aku ditertawakan orang-orang karena tidak bisa bermain ski?"
"Kenapa kau selalu berburuk sangka padaku? Luhan yang memberikan tiket masuk ke tempat ini padaku. Jadi, bukan karena aku sengaja. Aku bahkan tidak tau kau tidak bisa main ski!"
Baekhyun tidak tahu harus membalas dengan apa lagi, sehingga dia pun melanjutkan, "Karena kau.. karena kaulah yang membuatku harus putus dengan Kai. Kau mengatakan hal-hal buruk tentangnya pada Sehun."
"Dia memang tidak sebaik yang kau kira. Kami sudah lama berteman, aku sudah tahu dia luar dan dalam. Kalian tidak akan cocok."
"Tapi kau sendiri yang bilang kalau kami pasti akan berpacaran. Sebenarnya apa sih maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Aku juga tidak mengerti," sahut Yifan sambil menatap wajah Baekhyun. "Baekhyun, daripada kita bertengkar terus, lebih baik kita turun ke arena saja! Aku akan mengajarimu bermain ski."
Baekhyun pun menurut, mereka kemudian mengganti sepatu yang mereka gunakan dengan sepatu ski, lalu bersiap menuju arena cukup ketakutan karena tidak bisa menyeimbangkan diri. Tetapi, Yifan menuntunnya dengan hati-hati. Di arena es, Yifan memengangi Baekhyun agar bisa berjalan kemudian mengajak Baekhyun berputar-putar. Saat itu juga Baekhyun sudah melupakan kesedihannya.
Tidak butuh waktu lama, Baekhyun sudah bisa berjalan tanpa harus dipegangi, dia senang sekali. Dia mulai berjalan dengan menaikan kecepatannya. Tetapi tampaknya ia lupa, itu hari pertamanya bermain ski, tidak mungkin dia bisa langsung mahir. Ia pun terjatuh. Yifan yang semulanya ingin menolong Baekhyun agar tidak terjatuh, malah ikutan terjatuh juga dengan posisi menindih tubuh Baekhyun.
"Kau berat sekali, cepatlah bangkit Yifan-ssi! Badanku sakit sekali," keluh Baekhyun.
Yifan tidak menanggapi, dia malah asyik memandangi wajah Baekhyun. Dan secara tiba-tiba Yifan mencium bibir gadis itu. Entah kenapa Baekhyun merasa tidak kuasa menolak perlakuan Yifan itu. Dia membiarkan saja pria itu melumat bibirnya. Baekhyun sudah tidak bisa berpikir lagi. Yang ada di otaknya sekarang adalah kebingungan. Setelah ciuman itu berakhir pun yang ada dimata Baekhyun saat menatap Yifan adalah kebingungan.
"Aku mencintaimu, Oh Baekhyun," ungkap Yifan yang membuat Baekhyun semakin bingung. Yifan yang merasa dirinya tidak direspons melanjutkan lagi, "Oh Baekhyun... Saranghaeyo, wo ai ni, aisiteru, I love you, te a mo."
"Yifan-ssi, aku tidak mengerti," sahut Baekhyun.
"Baekhyun-ah. Aku menyukaimu, masa masih tidak mengerti sih?" seru Yifan gregetan.
"Aku tahu, tapi..." Baekhyun masih kebingungan melanjutkan perkataannya.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Yifan.
"Jadi, karena kau menyukaiku. Karena alasan itu kau selalu mengerjaiku?"
"Bukan, aku suka mengerjaimu karena kau sangat polos. Tapi semakin aku menjahilimu, semakin aku tahu kalau sebenarnya aku menyukaimu. Sangat suka."
"Tapi, aku sudah punya Kai," Mendengar itu, Yifan langsung duduk di samping Baekhyun. Wajahnya sangat muram. "Aku sangat tidak mengerti. Aku takut mempercayai perkataanmu. Karena selain kebingungan, aku juga merasa bahwa kau hanya ingin mengisengiku. Aku merasa kau sedang mengerjaiku seperti biasa. Maafkan aku, aku tidak mau kau permainkan lagi."
Setelah mengatakan itu, Baekhyun melepas sepatu skinya. Kemudian dengan kaki telanjang dia berjalan keluar dari arena ski. Dia memutuskan untuk pulang sendiri. Sementara Yifan hanya bisa termangu, dia sedang menuai apa yang selalu ditaburnya. Baekhyun bocah yang selalu dikerjainya dan sekarang disukainya tidak mempercayai ucapannya. Yifan merutuk diri. Ini pertama kali dalam hidupnya ditolak oleh seseorang.
.
.
.
.
Luhan POV
"Aigoo... Ahjussi, kau sudah habis berapa botol?" pekikku saat menjemput Yifan di sebuah warung tenda yang memang biasanya tempat untuk orang-orang minum.
"Kenapa malah kau? Yang kutelepon untuk minta jemput kan Baekhyun?"tanyanya heran.
"Cih, kau salah. Yang kau telpon itu aku!"
Yifan lalu mengecek ponselnya dan benar saja yang dia telepon itu bukannya Baekhyun, melainkan aku. Dia merutuk kesal, kemudian mau meminum lagi shoju yang masih tersisa di gelasnya, tetapi aku merampas gelas itu dan meneguknya.
"Ya, Xi Luhan. Kau ingin aku marah ya?"
"Seharusnya yang marah itu aku! Apa yang kusuruh saat kau mengajak Baekhyun ke arena ski? Aku menyuruhmu supaya mengajak Kai kesana supaya kencan mereka berlanjut! Tapi apa yang sudah kau lakukan?" Dia hanya mengerling, lalu memakan sotong di hadapannya tanpa memperdulikan dan menawariku. "Ahjussi, sebenarnya ada apa sih?" tanyaku penasaran karena diacuhkan.
"Baekhyun menolakku. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku ditolak."
Aku hanya bisa melongo mendengar pengakuannya. Ini berita terbesar abad ini. Sebenarnya aku ingin tertawa sih, tetapi itu hal yang paling tidak baik saat salah seorang kerabatmu patah hati.
"Bagaimana mungkin dia menerimamu, dia kan sudah punya Kai," seruku masih sambil menahan tawa.
"Huh, dia pikir Kai itu pria baik. Dia sudah ditipu," kata Yifan. Terlihat sekali kalau dia sudah setengah sadar. Tapi lagi-lagi aku tergelitik rasa penasaran ingin mengorek lagi lebih banyak informasi. Aku tahu orang yang sedang mabuk tidak akan berbohong, jadi ini kesempatanku untuk mengetahui lebih banyak kenyataan yang ada pada ahjussi ku ini.
"Kau juga tidak lebih baik kok, kau hanya lebih tampan saja," ujarku dan dia pun tersenyum mendengarnya.
"Tentu saja. Aku lebih baik beribu-ribu kali darinya. Luhan-ya, kau ingin tahu alasanku pulang ke rumahmu bukannya tinggal di asrama lagi?"
Aku mengganguk cepat, ini dia yang kunantikan. Alasan dia memilih tinggal bersama kami bukannya di asrama. Padahal dulu ibuku selalu memaksanya untuk tinggal bersama kami dan dia selalu menolak dengan alasan tidak bebas. Tetapi setelah aku menikah, dia malah tiba-tiba datang ke rumah dan berkata ingin tinggal bersama kami. Benar-benar aneh. Aku tidak percaya kalau itu dilakukannya hanya karena bosan.
"Kai yang menyuruhku, dia ingin aku merekam malam-malam indahmu dengan suamimu. Dia bilang pasti seru menonton saat kau dan suami mu yang masih anak SMA memadu cinta. Kai itu penggemar porno. Dan dia bilang sudah bosan menonton yang hanya akting. Dia ingin yang real," kata Yifan panjang lebar dan kemudian langsung tertidur.
Aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasannya. Ya Tuhan, ternyata ada hal buruk yang terpendam selama ini dan yang membuatnya adalah pamanku sendiri. Kami ini masih punya hubungan darah tetapi tampaknya dia bisa tega melakukan sesuatu hanya demi kesenangan diri. Aku sudah tau kalau dia memang aneh, tapi tidak menyangka dia bisa setega itu dan yang lebih buruk sekarang dia sedang mabuk dan tertidur. Sesungguhnya ingin rasanya aku meninggalkannya. Tetapi aku tidak tega, aku pun membopongnya sampai ke taksi yang mengantar kami pulang. Sepanjang jalan aku mengutuk dan memakinya, perbuatan yang percuma karena dia tidak mendengarkan.
"Huh, lihat saja ahjussi. Kau tidak akan selamat dari amukan eomma saat kita sampai rumah nanti. Lihat saja!" kataku gemas.
.
.
.
.
.
TBC
Huahuahuaaa akhirnya apdet juga :")
Maaf baru apdet sekarang. Ini dikarenakan tugas sekolah yang menumpuk ditambah bentar lagi author mau UN T_T
Otak author juga lagi buntu kkk~
Terima kasih untuk para readers yang masih setia membaca fict abal-abal ini, author terhura :")
Oke sekian dari cuap cuap author,
Sekali lagi terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca fict ini,
Dan jangan lupa review-nya
