The Wall

.

.

.

.

.

Chapter VIII

.

.

.

.

.

Menjelang makan malam, Baekhyun masih tertidur pulas, selagi Chanyeol memakai baju kasualnya. Pria yang lebih tinggi itu tersenyum lebar. Wajah Baekhyun saat tertidur sama indahnya dengan wajah malaikat dalam penggambaran para pelukis. Pujangga sekalipun pasti akan memujanya. Chanyeol menunduk sedikit ke arah ranjang dan mengusap pelan pipi tembam itu.

"Sayang?"

Perut Chanyeol berbunga sendiri. Selepas ciuman hebat di balkon, Baekhyun mulai mengijinkan panggilan indah itu. Mereka tidak berpacaran. Chanyeol dengan sangat percaya diri berkata mereka tidak perlu membuat status pacaran. Baekhyun adalah tunangannya. Calon suaminya. Bukan pacarnya.

"Hey, Baby Byun." Chanyeol terkekeh. "Ayo bangun. Keluargamu sudah dibawah."

"Hng.."

Senyum Chanyeol berkembang semakin lebar. Matanya tiada bosan memandangi pria mungil itu. "Ayo. Bersiaplah. Kita turun sama-sama."

"Kenapa appa dan eomma tidak langsung kesini saja?" Baekhyun, tanpa sadar, merengut manja.

"Aku bilang pada mereka kalau kau sedang istirahat. Karena itu, mari bergegas dan jangan buat mereka menunggu lebih lama, oke?"

Hembusan nafas pelan terdengar. Baekhyun mulai membuka matanya lebar-lebar. Si mungil itu merenggangkan badannya sesekali. Saat netranya memandang Chanyeol, sebersit sinar jahil terbentuk. Baekhyun bergerak mendekat, mencium pipi Chanyeol dan memasang wajah puppy menggemaskan yang menjadi andalannya.

"Gendong~ Chanyeolie gendong~"

Ya, Byun Baekhyun. Park Chanyeol jadi tidak sabar untuk menikahimu.

.

.

.

"Itu terlalu berbahaya."

Krystal menyahut di tengah mulutnya yang masih mengunyah makanan. Sehun menghela nafas dan menoleh ke Minhyuk. Ketiganya kini berada di teras restoran makanan cepat saji. Video ciuman Chanyeol dan Baekhyun ada di tengah meja. Sehun baru saja mengemukakan keinginannya mengunggah video itu ke media sosial.

"Krystal benar, Sehun." Ucap Minhyuk akhirnya. "Penggemar dadakan mereka kebanyakan siswa sekolah yang belum cukup umur. Ciuman di hotel jelas bukan pelajaran yang bagus untuk mereka."

Dalam hati, Sehun menyetujui pendapat dua sahabatnya ini. Tapi, masalahnya ini adalah satu-satunya cara yang bisa membuat Daehyun berhenti dengan rencananya.

"Tapi, tidak ada jalan lain. Pesta pertunangan mulai besok. Kita tidak bisa membiarkan Jung Daehyun menggagalkannya."

Krystal dan Minhyuk terdiam, saling berpandangan bingung. Jemari Krystal bergerak menekan tombol play pada video tadi. Teknik pengambilan Sehun lumayan bagus. Video itu seolah sempurna didukung tempat yang strategis dan resolusi kamera handphone yang bagus.

"Video yang bagus. Kalian punya bakat."

Hening sesaat sebelum ketiganya menoleh panik. Sosok Yoora dan Kyuhyun ada di belakang mereka, berdiri menjulang. Yoora tersenyum manis melirik video yang masih terputar di meja. Krystal berdehem canggung dan mematikannya.

"Nona Park." Minhyuk menegur sopan disertai sebuah senyuman.

"Aku kenal wajah kalian." Yoora tersenyum semakin lebar. "Putra-putri konglomerat Korea tidak terlalu sulit untuk dihafalkan wajahnya."

Ketiganya saling berpandangan, bingung menanggapi si sulung Park. Kyuhyun yang berada di belakang Yoora pun masih terdiam. Pengawal Keluarga Byun itu pasti ditugasi menemani. Sehun mencelos. Itu artinya Keluarga Byun juga telah sampai Jeju. Waktu mereka menyelamatkan pertunangan semakin sedikit.

"Saat pertama kali melihat kalian memasuki hotel yang sama, aku sama sekali tidak curiga." Yoora memulai. "Tapi, saat aku melihat Sehun merekam semua itu dari lantai satu, aku mulai bertanya-tanya. Apa sebenarnya tujuan kalian kesini? Kalian jelas bukan hanya ingin menghadiri pesta pertunangan adikku."

"Nona Park." Sehun berkata hati-hati. "Kau salah paham. Kami tidak bermaksud jelek."

"Lalu?"

Sehun menatap Minhyuk, meminta pertolongan. Sementara, Krystal masih menunduk. Rasanya nyalinya ciut berhadapan langsung dengan putri sulung keluarga Park. Di sisi lain, Minhyuk akhirnya menghela nafas, mulai mengatur kata per kata.

"Begini, Nona Park. Bagaimana jika kita berbisnis?"

Alis Yoora terangkat satu. "Apa kau akan mengajakku taruhan?"

"Teknisnya, ya. Tapi, tidak dengan uang. Juga, tidak untuk membuktikan mana yang salah mana yang benar. Kita lakukan sebuah perjanjian untung-rugi."

Sehun berdecak. Pembicaraan apa ini. "Apa maksudmu, Hyung?"

"Kami akan memberitahu apa yang akan kami lalukan disini. Kau cukup mendengarkan. Tapi setelahnya, kau wajib membantu." Minhyuk mulai percaya diri. "Seperti penjual, rahasia kami adalah barang yang kami jual. Uangmu adalah bantuan yang wajib kau keluarkan, apapun bentuknya. Sepakat?"

Yoora menahan nafasnya. Pewaris-pewaris muda ini membuatnya takjub. Ia melirik sekitar sebentar. "Sepakat."

Dan, benang-benang rencana mulai bermunculan di otak Minhyuk, seiring dengan senyum kepuasannya.

.

.

.

"Tidak mau! Aku ingin Baekhyun Samchon!"

Junsu menghela nafas. "Apa Yoora belum kembali? Aish anak itu!"

Hyesun dan Jaehyun tersenyum geli melihat gaya manja Manse yang menolak disuapi sang nenek. Orangtua Baekhyun itu juga senang dalam hati. Melihat bagaimana keluarga Park menerima putra semata wayang mereka dengan baik benar-benar membuat siapapun lega.

"Maaf, maaf. Aku baru turun." Seunghoon menarik kursk sebelum membungkuk minta maaf. Pria itu melirik sekitar meja makan. "Loh, dimana istriku?"

"Appa! Baekhyun Samchon mana?"

Seunghoon terbengong. Dirinya yang tadi tertidur lebih lama masih bingung apa yang terjadi di ruang makan hotel mewah itu. Junsu menatapnya lelah.

"Istrimu tadi mengidam. Pengawal Keluarga Byun menemaninya ke restoran cepat saji."

"Apa?" Seunghoon melebarkan matanya. Merasa bersalah karena tidur terlalu lama. "Maafkan aku. Harusnya aku yang mengantarnya tadi."

"Sudahlah kau juga lelah." Yoochun menyahut dan terkekeh. "Apa kau melihat Chanyeol dan Baekhyun? Mereka belum turun."

"Tidak, Appa. Mungkin mereka sebentar lagi turun."

Yoochun hanya mengangguk dan kembali mengobrol dengan Jaehyun. Beberapa pelayan berdatangan dan menaruh makanan-makanan lanjutan. Manse masih cemberut. Bersikeras menunggu Baekhyun menyuapinya.

"Oh, sudah ramai."

"BAEKHYUN SAMCHON!"

Terkejut, Baekhyun sedikit melebarkan matanya. Namun, tersenyum saat Manse menghambur kedalam pelukannya. Bocah itu memeluk Baekhyun seperti koala. Mau tak mau, Baekhyun menggendongnya.

"Aigoo. Maafkan dia, Baekhyun."

Baekhyun tersenyum. "Tidak apa, Eomonim."

Mata Hyesun bertabrakan dengan mata sang anak. Sambil tetap menggendong Manse, Baekhyun memutar kearah orangtuanya dan mencium mereka. Sementara Chanyeol menarik kursi untuk dirinya dan Baekhyun.

"Kau terlihat menikmati waktumu disini." Jaehyun menggoda, disahuti tawa menggelegar Yoochun.

"Dia bersama calon mertuanya. Tentu semuanya akan baik." Hyesun ikut menanggapi.

Wajah Baekhyun merahlah sudah. Pemuda itu hanya tersenyum malu sambil bergerak menuju sisi Chanyeol. Manse bersikeras tetap bersamanya. Jadi, dengan sedikit kesulitan, Baekhyun membawa bocah itu keatas pangkuannya.

"Baiklah, karena sudah berkumpul semua.."

"Appa, Yoora belum datang." Seunghoon menengahi. Yoochun berdecak.

"Aku ingin memimpin cheers dengan wine. Ibu hamil jelas tidak boleh meminumnya." Sungut Yoochun layaknya anak kecil, membuat Junsu menggeleng tak percaya. "Sudahlah, Ayo kita mulai. Untuk pesta pertunangan yang lancar. Cheers!"

Semuanya mengangkat gelas ramping berisi wine milik mereka. "Cheers!"

"Cheers? Keju? Baekhyun Samchon ayo suapi aku keju~~~~~~~"

Tawa keras terdengar selepas si kecil Manse kembali merengut. Malam yang indah, keluarga lengkap, pertunangan di depan mata. Baekhyun jelas tidak pernah bermimpi jika hidupnya akan sebegini sempurnanya.

.

.

.

Esok Hari, Pukul 18.40, Dua puluh menit menjelang acara.

"Dengar, ya, kalian semua berjaga di depan, koridor menuju area kamar, belakang dan juga pintu masuk utama. Awasi siapapun yang masuk dan keluar. Di dapur aman?"

"Aman, Nyonya."

Park Yoochun dan Byun Jaehyun saling menatap tak mengerti saat hall utama hotel itu dikelilingi petugas safari hitam. Layaknya petugas profesional, mereka berjaga di setiap sisi. Anehnya, sepengetahuan Yoochun, ia tidak pernah membayar mereka. Yoochun menatap Yoora yang sibuk memberi perintah.

"Yoora? Siapa mereka?"

Yoora menoleh saat Ayah juga calon besan keluarganya datang menghampiri. Wanita yang sudah mengenakan gaun indah berwarna krem itu tersenyum. Beberapa petugas membungkuk meminta izin undur diri.

"Ayah? Tuan Byun? Kalian sudah turun?"

"Siapa mereka?" Yoochun menunjuk para petugas dengan dagunya. "Rasa-rasanya aku tidak pernah menyewa petugas tambahan."

"Aku pun begitu." Jaehyun menanggapi. "Apa ada yang terjadi? Darimana mereka datang?"

"Itu dari kami, Tuan Byun, Tuan Park."

Tepat.

Yoora bersorak dalam hati. Sosok Minhyuk dan Sehun datang tepat waktu. Kedua pemuda yang telah memakai tuksedo hitam membungkuk sesaat, memberi hormat pada yang lebih tua.

"Dari kalian?" Yoochun mengernyit heran. "Tapi untuk apa?"

Minhyuk tersenyum. "Belakangan, popularitas Chanyeol dan Baekhyun berada di titik tertinggi. Tentu acara ini butuh tenaga tambahan. Lagipula, Baekhyun adalah sahabat kami. Anggap saja, ini hadiah."

"Astaga." Jaehyun terkekeh. "Sebenarnya tidak perlu, nak. Tapi Terimakasih. Dimana ayahmu?"

"Oh, Paman Kang meminta izin tidak hadir. Beliau ada di Australia." Sahut Sehun, dengan senyum tipisnya.

"Ah, si Kang itu. Padahal ini satu-satunya waktu kita untuk berkumpul." Sungut Yoochun bercanda. "Kalau begitu, kami permisi dulu. Pesta akan di mulai sebentar lagi. Nikmatilah."

Minhyuk, Sehun dan Yoora membungkuk sopan saat Yoochun dan Jaehyun berlalu menuju venue utama. Yoora menghembuskan nafas leganya. Ia menatap dua pemuda tadi.

"Aku hampir saja kehilangan kata." Yoora mendesah. "Apa Krystal sudah siap di posisinya?"

"Tentu, Nona." Minhyuk tersenyum lebar. "Semoga dia bisa menjalankannya dengan baik."

Sehun berdehem. "Harus. Semua harus berhasil."

.

.

.

Daehyun mengancingkan kemeja putihnya dan memasang jas hitam. Rambutnya sudah dipoles pomade dan rapih dengan bentuk indah, memamerkan keningnya. Suara pintu di belakangnya terdengar. Dahi Daehyun berkerut saat melihat sosok yang dikenalnya masuk.

"Krystal? Dari mana kau tahu..."

"Oppa!" Krystal berjalan kearah Daehyun dan menatapnya tajam. "Kita harus bicara."

Daehyun menghela nafas kasar. "Keluarlah. Aku akan segera ke pesta."

"Begitu pun aku. Kita bisa pergi bersama. Jadi, ayo duduk dulu. Aku perlu berbicara hal penting."

Daehyun meliriknya. "Soal apa?"

"Baekhyun."

Gerakan tangan Daehyun pada jasnya berhenti. Ah, dia mengerti. Krystal mungkin mencium gelagat lain dari kehadirannya pada pesta ini. Ia melipat bibirnya sebentar dan menoleh pada Krystal.

"Kau tahu sesuatu?"

"Aku tahu semuanya." Sahut Krystal. "Kau tidak bisa melakukan ini. Mereka sudah bahagia. Tidak bisakah kau merelakan Baekhyun?"

Diluar dugaan, Daehyun tertawa keras. "Krystal. Ini bukan soal merelakan. Tidak bisakah kau ingat berapa kali keluarga Park menginjak keluarga Jung?"

"Oppa.."

"Jessica Noona.. mereka membuat nama Jessica Noona seperti pelacur.. bahkan dia tidak bisa hidup di negaranya sendiri. Kau tahu itu, Krystal? Jessica itu kakakmu!"

"Aku tahu." Krystal mengepalkan jarinya. Berusaha lebih kuat. "Aku jauh lebih tahu dari dirimu. Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan?"

"Kakek memberitahu..."

"Justru itu. Apapun yang kau ketahui hanya bersumber dari Kakek! Kau tidak pernah bertanya! Kau tidak pernah mau mencari tahu! Kau hanya bisa menerima."

Daehyun mengernyit bingung. "Krystal, apa maksudmu?"

Gadis Jung itu menghela nafasnya banyak-banyak. Ia melirik jam dinding di kamar Daehyun. Pukul tujuh lewat sepuluh. Acara inti pasti sudahlah dimulai. Krystal kembali menatap Daehyun.

"Duduklah. Akan kuceritakan hal yang perlu kau tahu."

.

.

.

Para tamu mulai memenuhi hall utama hotel. Meja-meja penuh makanan telah disediakan. Hiasan hall telah diubah dengan warna emas indah. Yoora berdiri di sisi Seunghoon. Manse masih mengemil kue diantara mereka.

Seorang pengusaha. Yuan shanshan. Itu yang aku selidiki. Daehyun meneleponnya malam itu.

Kemarin malam, Yoora merelakan waktu tidurnya hilang satu jam demi nama itu. Pengusaha asal China Yuan Li adalah nama yang tidak asing. Pengusaha media yang terkenal hingga seluruh negara Asia. Yuan Shanshan adalah putri satu-satunya. Yoora bahkan menemukan undangan khusus untuk dirinya. Perusahaan juga mengundang wanita itu rupanya.

"Eomma, mau kue?"

Yoora tersenyum dan mengelus rambut Manse. "Tidak, sayang. Kau saja yang makan, ya?"

Mata Yoora kembali awas dengan tamu-tamu yang mulai memenuhi ruang. Ia ingat. Wajah lancip, rambut pendek dan tubuh tinggi semampai. Visual yang ia temukan setelah menyelam mesin pencari malam tadi. Belum ada. Wanita itu belum datang.

Tunggu.

Bulat matanya menyipit. Figur yang dihafalnya memasuki hall dengan gaun merah berdada rendah. Yoora tersenyum. Kena kau.

"Oppa, aku ke toilet sebentar, ya?"

Seunghoon menatap istrinya sebentar. "Kenapa? Perutmu sakit? Mual?"

"Tidak, tidak." Yoora tersenyum. "Aku hanya ingin buang air kecil. Tolong jaga Manse, ya?"

"Tentu. Telepon aku kalau kau butuh oke?"

Yoora mengangguk. Ia berjalan pelan menyelip beberapa tamu dan berhenti di sebuah pintu kaca. Tubuhnya membelakangi pintu itu. Yuan Shanshan ada di baliknya. Sibuk dengan handphone entah untuk apa.

"Kemana anak itu?!"

Daehyun kah? Benak Yoora penuh dengan dugaan. Jika yang coba dihubungi Yuan adalah Daehyun, berarti Sehun dan Minhyuk benar soal dugaan mereka. Kurang ajar. Apa maksud wanita gila ini ingin menghancurkan kebahagiaan adiknya?

"Oh, akhirnya kau mengangkat teleponku."

Yoora berubah waswas. Apa Krystal gagal melakukan tugasnya?

"Ya, aku sudah disini." Suara Yuan terasa menyebalkan di telinga Yoora. "Bagaimana dengan rencana kita?"

Hening menyambut. Yoora memasang telinganya lebar-lebar. Ia berusaha tenang. Perutnya tidak boleh bermasalah disini. Ia harus tenang. Atau Plan B dilaksanakan. Yuan belum bersuara. Sampai, sebuah desisan terdengar.

"Kau tidak bercanda Daehyun? Apa maksudmu membatalkan segalanya?!"

Ah. Krystal melakukan hal yang benar.

"Kau tidak bisa melakukan itu! Daehyun, kita sudah sepakat!" Wajah Yuan memerah karena amarah. "Baiklah, jika kau tidak mau melakukannya, biar aku yang— apa? Apa maksudmu dengan rekaman? Daehyun! Daehyun!"

Yoora buru-buru menepikan tubuhnya saat Yuan mengumpat dan menghembuskan nafasnya kasar. Wajah wanita bergaun merah itu penuh amarah. Walau tidak tahu apa rencananya, Yoora lega jika Daehyun membatalkan semuanya.

Dan memang baguslah jika tidak akan ada rencana lanjutan.

Tungkai Yuan kini terayun menyusuri koridor, terus menuju luar hotel. Yoora membalikkan badannya dan melirik wanita itu. Sebuah mobil terlihat menjemput Yuan dan mereka pergi meninggalkan hotel. Yoora tersenyum lega.

"Enyahlah!" Lalu, ia tersadar. "Oh, aku harus menelepon Minhyuk dan Sehun."

.

.

.

"Dengan ini, saya selaku pembawa acara mempersilahkan kedua insan untuk saling bertukar cincin. Silahkan."

Pembawa acara itu tersenyum, begitu pun undangan lain. Seorang gadis kecil yang masih saudara jauh Chanyeol menaiki panggung dengan gaunnya yang lucu. Ditangannya, sebuah baki dengan dua kotak beludru ditaruh dengan rapi. Chanyeol tersenyum dan mengambil salah satunya.

"Untuk Tuan Park Chanyeol, silahkan memasang cincin di jari tengah Tuan Byun Baekhyun."

Chanyeol membuka kotak beludru itu dan meraih jemari kanan Baekhyun. Jemari lentik itu diusapnya sesaat. Dengan perlahan, ia mulai mengalungi jari indah itu dengan cincin pertunangan mereka.

"Baiklah. Sekarang, giliran Tuan Byun Baekhyun."

Wajah Baekhyun memerah. Ia membuka kotak beludru lainnya dan mengambil cincin dengan diameter lebih besar dari miliknya. Ia meraih tangan besar Chanyeol dan mulai memasangkan cincin indah itu. Baekhyun tersenyum malu. Gemuruh tepuk tangan mengakhiri acara inti.

"Okay! Mari kita sambut pasangan paling spektakuler tahun ini! Park Chanyeol dan Byun Baekhyun! Tuan, mohon tunjukkan cincin kalian untuk dokumentasi."

Beberapa kamera dari media yang diizinkan masuk mulai memotret pose keduanya. Gemuruh tepuk tangan masih mengiringi hingga Park Yoochun mengambil alih. Di tangannya, lagi-lagi, segelas wine terangkat.

"Untuk pertunangan yang hebat! Cheers!"

.

.

.

Daehyun berjalan menyusuri parkiran dengan tatapan kosong. Dia, pada akhirnya, memilih menyerah dengan cintanya. Dua tahun ia mengejar Baekhyun. Tidak ada tanggapan. Tidak ada balasan.

Jessica dan Chanyeol mengarang semuanya. Sejak awal tidak ada yang menyakiti ataupun tersakiti diantara keduanya. Jessica unnie sudah menikah dengan pria Taiwan dua tahun lalu, saat kau masih di Inggris bersama kakek. Appa dan Eommaku sengaja tidak memberi tahu demi kesehatan Kakek. Saat kau akhirnya kembali setelah kakek meninggal, semuanya terasa sangat panjang untuk diceritakan. Aku tidak tahu itu justru memupuk dendam yang tidak seharusnya dalam dirimu. Maafkan kami, Oppa. Ayah dan Ibumu akan sedih di surga jika kau melanjutkan rencana gila ini.

Sekelumit kalimat panjang Krystal kembali menguasai otaknya. Pria itu hampir tidak percaya. Tapi, tangis Krystal merupakan jawaban atas segalanya. Adik sepupunya itu tidak pernah berbohong. Pun berbohong, dia tidak akan melakukan itu untuk keluarganya. Tungkainya terus berjalan, mencoba membelah jalan umum di sisi hotel.

"TUAN! AWAS!"

.

.

.

Pesta yang berlangsung hampir dua setengah jam itu akhirnya berakhir. Chanyeol dan Baekhyun sudah kembali ke kamar mereka. Sepanjang pesta, teman-teman Baekhyun membuatnya mabuk. Efeknya luar biasa, setidaknya bagi Chanyeol, karena,

"Hoeeeeek!"

Chanyeol menatapnya miris. "Kau yakin tidak butuh dokter, Baekhyunie?"

"Tidak—hoek! Uhuk! A-air! Hoek!"

Chanyeol panik sendiri. "Tunggu, tunggu disini."

Pemuda tinggi itu meninggalkan wastafel dan berlari kembali ke nakas di sisi ranjang. Ia mengambil segelas air mineral dan memberinya pada Baekhyun. Yang lebih mungik menghapus sisa salivanya dan menegak habis air dalam gelas.

"Kau yakin Baekhyunie? Perutmu oke? Aku panggilkan dokter, ya?"

Baekhyun menggeleng dan menaruh gelas di sisi wastafel. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Hanya butuh istirahat. Perutku memang kurang baik belakangan ini."

"Kalau begitu, ayo istirahat. Ya?" Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan meremasnya pelan. Baekhyun menatap genggaman tangan itu sesaat, lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Chanyeol.

"Terima kasih."

Chanyeol mengernyit. "Untuk?"

"Membuktikan padaku kalau kau adalah pria yang baik. Untuk sampai dititik percaya padamu, aku harus berusaha menghilangkan traumaku." Baekhyun menahan nafasnya. "Maafkan aku, tapi kejadian itu begitu membekas."

"Justru aku yang harus minta maaf. Aku— aku selalu mencarimu setelah itu. Tanpa tahu kau begitu dekat. Terimakasih telah berada disini."

Baekhyun kembali memerah. Dua hari ini, Chanyeol terus-terusan membuat dirinya merasa spesial. Pemuda mungil itu balas menggenggam jemari Chanyeol. Jari-jari yang besar, berkebalikan dengan jari ramping miliknya. Chanyeol tersenyum. Pria itu meraih pundak Baekhyun dan memeluknya erat.

"Aku mencintaimu."

Mata indah Baekhyun terpejam, menikmati friksi indah dari kalimat Chanyeol. Tangannya bergerak membalas pelukan yang lebih tinggi. Lebih erat, seakan enggan melepaskan. Trauma masa remajanya kini menjadi calon suaminya. Selama ini Baekhyun mengira kalau dia takut, enggan menghadapi masa depan karena trauma.

Tapi, ternyata, dia hanya jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang merebut keperjakaannya.

"Aku juga. Aku juga mencintaimu."

.

.

.

Manhattan, USA.

Sebuah rumah sederhana dengan pagar pendek berwarna putih menjadi tujuan seorang pria tinggi, hari ini. Pria itu keluar dari mobil hitam mewahnya dan mulai berjalan menyusuri halaman. Ia merogoh sebuah kertas dari kantong mantel panjangnya.

30F, Winston Street, Manhattan. Tepat.

Jemarinya beralih menekan sebuah bel. Dua menit tanpa respon, langkah pelan terdengar dari balik pintu, disusul figur seorang gadis remaja dengan wajah khas Amerika Latin. Gadis itu menatapnya skeptis.

"Can I help you?"

Pria itu tersenyum. "Can I speak to your Mom?"

"Who are you? My mom still in her work. Do you have a message?"

Pria itu tersenyum simpul. Tidak mungkin. Dirinya sudah menyelidiki segala kehidupan orang yang bersangkutan. Jadwal, kapan dia keluar, makanan favorit, hingga ukuran sepatu. Simpelnya, ia tidak mudah dibohongi.

"Tell your Mom, My name is Shim Changmin." Pria itu tersenyum. "I am here as my master's request. Byun Baekhyun. Do you remember him, Cecilia?"

Gadis di depannya terkejut. Tubuhnya kaku disusul matanya yang berair. Kepalanya mengangguk keras dan pintu dibukanya lebar-lebar.

"Please, Please come in. Mama! Mama! Baekhyun is looking for us! Mama! Baekhyun is sending his people!"

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Chapter delapaaaan akhirnya datangggg. Eh btw maaf ya udah gantungin ff abal ini. Tapi, ini buat kalian. Semoga suka! Dan, HAPPY BIRTHDAY PARK CHANYEOL! SEMOGA TETAP SAYANG BAYI SEMOKKU SI BAEKHYUN!

Spesial ulang tahun , aku update bareng para author lain. Waktu update mulai jam sepuluh malam hari ini sampai sepuluh malam besok ya! Pokoknya seharian ditanggal 27! Mari ditunggu~

Blood Type B, Park Ayoung ft. Azova10, Baeclarity, Peachybloom, Cactus93, Hyurien92, Pandananaa, Silvie Vienoy, Nisachu, Lolliyeol.

Akhir bacot, selamat malam selamat menikmati! Maaf gak ada ena-ena, nikah dulu dong. Nanti Baekhyun dikira gampangan. (?)