.

.

.


HEART OF EMPEROR


Heart of Emperor

Heart of Emperor©Hachi Breeze

Character adapted©Naruto©Masashi Kishimoto

©SasuHina

©2013


.

.

.

Sasori duduk sambil menatap gulungan mantra yang dipesan Hinata. Gulungan yang sudah ia sucikan itu membentuk suatu segel dengan bahasa lain, bahasa yang tak bisa dimengerti semua orang yang duduk di ruangan kuil Haruno. Sai masih menopang dagunya memikirkan tulisan bahasa yang tertulis di atas gulungan sementara Sakura masih membuka lembaran buku tua milik keluarganya berharap kode yang tertera bisa ia pecahkan. Sasuke dan Hinata masih duduk diam sambil membantu mencari maksud tulisan itu di buku usang milik leluhur Sakura. Semuanya masih sibuk mencari sesuatu berharap menemukan jawabannya, tapi hanya Naruto yang tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya duduk sambil tersenyum memandang gulungan itu.

Angin yang berhembus semilir menembus shoji di antara roka kuil itu membawa sedikit hawa panas menyentuh kulit Hinata. Wajah gadis itu mendongak ke atas dan mencari sesuatu di samping kanan-kirinya. Sasuke berpaling dari buku yang ada dipangkuannya ke arah Hinata. Gadis itu berdiri terburu-buru. Sasori menjadi memerhatikan Hinata ketika gadis itu masih terlihat linglung. Kedua bola matanya yang berwarna hijau membulat seketika saat pantulan wajah Hinata terpantul di kedua bola matanya. Pemuda itu juga berdiri sambil meraih omikuji.

Ia meleparkan omikuji sekenanya. Berhamburan memenuhi tatami ruangan itu. Ada beberapa yang terbang bersama angin hingga mengenai Sai.

"Hinata, ada apa?"

"Aku mencium bau api … Sasuke-san, "

Sasori meraih kertas omikuji dengan menggunakan pandangan kedua matanya yang berbeda. Sakura mengamati sambil mengumpulkan beberapa omikuji yang berhamburan. Naruto masih mengamati dengan takjub.

"Hinata-san,kuatkan dirimu. Karena kurasa … sebentar lagi kerajaan Hyuuga akan berada dalam masa kehancuran."

.

.

.

Hanabi terbangun dari tanah dimana beberapa menit yang lalu ia terlempar karena ledakan yang dilemparkan ke kerajaan Hyuuga. Gaara memegang punggungnya yang terasa amat sakit karena benturan saat menangkap tubuh Hanabi ketika gadis itu berlari dengan terburu-buru ingin memasuki kerajaan Hyuuga yang hampir terbakar habis. Gadis itu tidak menangis ketika kerajaannya hampir habis, hanya saja disana tergambar raut wajah kekhawatiran. Neji mengeluarkan katana dari sarung pedang yang sedari tadi dipertahankannya. Mulai maju menyerang beberapa orang yang terlihat mengerikan di hadapannya.

"I-itu … , kenapa bisa pasukan perang kerajaan Sabaku seperti ini?"

Gaara memandang tak percaya ketika melihat baju perang yang berlambang kerajaannya tengah dipakai oleh orang-orang dengan bentuk mengerikan seperti ini. Seingatnya, kerajaannya dan juga kerajaan Hyuuga akan membentuk suatu aliansi dimana keduanya akan melakukan perluasan wilayah kerajaan. Tapi kenapa ini … ?

"Sihir. Aku bisa merasakan jika mereka dimainkan seperti boneka dengan menggunakan sihir."

Hanabi seolah bisa menjelaskan apa yang tak bisa dicerna dengan logika Gaara. Beberapa pengawal Gaara sudah maju melindungi Gaara bersama Neji. Hanabi berdiri sambil menutup sisi kimononya yang sobek. Rambut panjang Hanabi juga berantakan. Gadis itu mengulurkan tangannya ketika Gaara hendak berdiri.

"Hanabi-san, kau mau kemana? Jangan pergi kesana! Kerajaanmu sudah hancur!"

"Aku harus menemukan tou-sanku. Aku tak bisa meninggalkannya. Maafkan aku."

Hanabi berlari meninggalkan Gaara yang berusaha mencegahnya memasuki reruntuhan kerajaan Hyuuga. Gaara mendecih ketika tak melihat lagi bayangan putri Hyuuga itu di antara puing-puing reruntuhan kerajaan Hyuuga. Hanabi sudah menghilang memasuki kerajaan lebih jauh, dan Gaara sangat merasa direpotkan. Ia menerobos kobaran api dengan lengannya sebagai tameng. Neji yang menyadari itu, hanya bisa mengikuti dari belakang. Memastikan jika keduanya itu baik-baik saja, meskipun terbesit di benaknya tentang Hiashi-sama dan juga ayahnya.

Hanabi melangkah dengan terburu-buru mencari sosok ayahnya. Di dalam kerajaan, banyak sekali pasukan penyerang yang membuat kerajaannya hancur. Ruangannya juga tinggal puing-puing saja. ia berjalan mencari kotak bening pengisi jiwanya. Ia berjongkok ketika benda itu masih ada dan bersinar redup saat kulit jemari tangannya menyimpannya di balik kimono. Hanabi berdiri dan menghirup aroma terbakar dari kerajaannya. Jiwa-jiwa yang kotor dan terpisah dari raga kini bisa Hanabi rasakan mengisi dirinya. Energi negative itu membuat Hanabi semakin kebal. Kelopak mata Hanabi terbuka ketika ia bisa merasakan jiwa ayahnya. Ia melangkah dan menabrak musuh hingga terjatuh. Hanabi masih terduduk memandangi musuhnya yang siap menghunuskan pedang ke arahnya jika saja tidak Gaara hentikan dengan sebuah serangan terlebih dahulu.

Pemuda itu menghembuskan napasnya tidak beraturan. Ia beralih memandang ke arah Hanabi. Gadis itu menghirup sesuatu, menghirup jiwa dari orang yang baru saja Gaara hunus dan pemuda itu tak mengerti.

"Kubilang ini berbahaya kan, Hanabi-san!"

Hanabi berdiri sambil menatap pemuda itu sedikit memicingkan kedua matanya. Kemudian ia tersenyum.

"Hanya saja kau tidak tahu, Gaara-san. Aku hanyalah monster yang tak bisa kau mengerti. Api adalah nyawaku, karena itu jangan khawatir."

Hanabi berlalu melewati Gaara yang sudah tak bisa bernapas dengan benar karena api yang membakar oksigen di sekitarnya. Neji pun melakukan hal yang sama di belakang Gaara. Keduanya mengikuti Hanabi yang lari terburu-buru. Gadis itu membuka shoji yang menghubungkan halaman belakang kerajaannya. Menuruni roka dengan kaki telanjang.

"Tou-san!"

Hiashi mendongakan kepalanya ketika Hanabi berlari terburu-buru menghampirinya. Hizashi menebas beberapa musuh di depannya dengan ganas untuk membuka jalan. Dibantu dengan Neji dan Gaara yang datang. Hanabi menjatuhkan tubuhnya di dekat Hiashi ketika melihat pria itu sudah penuh dengan darah. Pria paruh baya itu masih tersenyum sambil mencoba meraih wajah Hanabi.

"Tou-san lega kau tidak apa-apa sayang."

Hanabi meraih wajah Hiashi yang sudah terlihat kelelahan. Jemarinya menelusuri lekuk wajah wibawa yang mulai banyak kerutan umur, tak lagi segagah sewaktu masa mudanya. Kimono Hiashi sudah bernoda darah dimana-mana. Sama seperti Hizashi yang Hanabi pandang dari belakang. Pamannya itu sudah terluka sangat banyak di setiap bagian tubuhnya, hanya saja ia masih berusaha keras melindungi tubuh saudaranya yang sudah tak bisa bergerak lagi.

"Tou-san jangan pergi."

"Tou-san tidak akan pergi Hanabi, hanya saja tou-san merasa tubuh ini sudah sangat lelah. Tak bisa seperti dulu ketika masih menjadi ronin. Tou-san sudah tua, dan aku ingin beristirahat sebentar disini. Di atas pangkuanmu dengan memandang wajahmu yang sedikit mirip dengan kakakmu."

Hanabi mengeluarkan kotak beningnya yang tadi tersimpan. Ia membukanya dengan sebelah tangan.

"Tou-san bisa beristirahat disini. Tou-san bisa meninggalkan raga tou-san yang rapuh, tapi jangan tinggalkan kami."

Kedua mata Hiashi mulai terpejam ketika Hanabi membuka kotak itu. Pria itu terlelap dengan damai ketika jiwanya mulai berpindah ke wadah tampungan milik Hanabi. Jiwa Hiashi meninggalkan tubuhnya yang sudah tak bernyawa di atas pangkuan Hanabi. Mengisi kotak bening yang penuh jiwa milik Hanabi. Dan untuk saat ini, Hanabi tidak akan menggunakan kotak itu untuk memakan jiwa lagi. Ia akan menjadikan benda itu jimat.

Ia meletakan tubuh ayahnya yang kosong dan beralih menatap ketiga lelaki yang masih bertarung. Hizashi jatuh ketika tubuhnya sudah tak bisa menahan luka-lukanya lebih lama lagi. Matanya menggelap ketika tubuhnya terasa berat. Ia hanya bisa memandang tubuh Hiashi yang tak bergerak beberapa langkah di dekatnya. Ia merangkak mendekat.

Hanabi melancarkan kuda-kudanya yang tak sempurna karena jepitan kimononya yang berantakan. Ular raksasa melilit sempurna tubuh Neji yang berusaha melindungi Gaara. Menggantikan pemuda itu dari serangan ular. Hanabi hendak mengejar ular besar yang membawa Neji itu keluar. Gaara terbatuk-batuk karena banyak sekali karbon monoksida yang mengisi paru-parunya. Pembakaran oksigen dengan api itu memang buruk untuk pernapasan. ia sudah mencapai titiknya. Hanabi meraih tubuh Gaara dan memanipulasi api dari sebelah tangannya yang kosong untuk menyerang.

"Sudah kubilang kan jika aku ini hanyalah monster."

.

.

.

Napas Hinata tercekat ketika melihat sisa-sisa kerajaannya yang hancur total. Ia menuruni kuda yang ditungganginya bersama Sasuke. Membuat Sasuke terburu-buru menangkap tubuh gadis itu saat ia menuruni kuda. Sakura masih duduk menyamping di atas kuda yang sama dengan Sai. Sasori masih memeluk punggung Naruto ketika pemuda asing ini memacu kuda sangat cepat. Semuanya sudah sampai di depan kerajaan Hyuuga. Hinata dengan ragu melangkah kan kakinya memasuki puing-puing kerajaannya. Sasuke mengamati baju perang dari beberapa mayat yang tergeletak disana. Lambang kerajaan Sabaku.

"Tou-san,"

Hinata hendak mengeluarkan kekuatan rohnya, tapi Sakura sudah melarangnya. Gadis itu tidak akan mengijinkan Hinata kehilangan energinya untuk kedua kali sebelum pemulihannya total. Gadis miiko itu tak berani menanggung resikonya. Ketiga kuda mereka biarkan disana ketika mereka menjelajah masuk ke dalam sisa kerajaan itu. Hinata masih memegang erat kimono Sasuke. Gadis itu melirik dengan sedih isi kerajaannya yang ia rindukan kini sudah menjadi abu.

Roka kerajaan itu berderit seakan akan patah. Api masih berkobar di kerajaan itu hingga membuat mereka menutupi hidung mereka. Hinata berlari ketika menemukan tubuh Hiashi dan Hizashi tergeletak tak jauh. Tubuh pamannya yang tak bergerak membuat Hinata menutup mulutnya. Pandangannya beralih pada Hiashi yang sudah tak bernyawa namun tetap menyunggingkan senyuman yang Hinata rindu. Kelima orang yang ada di belakangnya hanya berdiri dengan diam melihat punggung Hinata yang bergetar karena menangis. Sai memimpin do'a untuk kepergian orang terpenting bagi Hinata. Sasori dan Sakura mengikuti do'a yang terdengar. Naruto hanya menunduk mendengarkan kalimat-kalimat dari bahasa yang belum sepenuhnya ia kuasai benar.

Api dari dalam kerajaan tiba-tiba berkobar dengan sangat besar ketika mereka semua selesai berdo'a. Sasuke hendak mengeluarkan katana ketika melihat sosok dari dalam api berjalan mendekat. Wajah kelelahan Hanabi yang sudah mengeluarkan banyak energi dan menopang tubuh Gaara terlihat jelas.

"H-hina … , "

Hanabi menjatuhkan tubuhnya bersama dengan Gaara ketika ia sudah tak bisa lagi menahan beban. Sai dan Naruto bisa menangkap kedua tubuh itu sebelum membentur keras roka yang lapuk itu.

"Hubungi Yamakan-san!"

.

.

.

Orochimaru mengusapkan belatinya yang sudah penuh darah manusia itu ke wajahnya berkali-kali. Tak ada rasa jijik bagi pria itu. Terlebih lagi darah dari sang raja kerajaan Sabaku sudah bisa ia kuasai. Dengan begini kerajaan Sabaku sudah bisa ia kuasai total. Kerajaan yang sepi itu kini menggema suara tawanya yang merasa sangat bangga dan puas akan hasil kerjanya. Pengawal-pengawal kerajaan banyak yang tumbang di ruangan itu dengan darah memenuhi tatami. Beberapa dari pengawal yang mulanya sudah tak bernyawa itu mulai hidup kembali bersamaan dengan sihir dan mantra yang Orochimaru lontarkan.

Temari memandang jijik ke arah Orochimaru dengan matanya yang sudah sembab. Ayahnya yang bagaikan seonggok boneka di dekat Orochimaru sana membuatnya ingin menangis. Sebagai penerus kerajaan, ia tak bisa mempertahankan kerajaan untuk tetap di tangannya, bukan ditangan pria dengan sihir dan mantra seperti Orochimaru. Tapi Temari tak bisa melakukan apa-apa selain ketakutan dari ancaman yang Orochimaru berikan. Terlebih ketika ular besar itu membawa seseorang yang Temari kenal, gadis itu semakin takut. Orochimaru semakin tertawa bahagia ketika ularnya melilit Neji yang mulai membiru kehabisan napas.

Tubuh Neji jatuh begitu saja ketika lilitan itu mengendur. Pemuda itu tak bergerak selain untuk mengambil napas dan mendelikan matanya ke arah Orochimaru. Ular raksasa itu mendekati Orochimaru, membisikan suatu berita untuk tuannya. Dan kemudian pria itu tertawa sangat keras, menggema di ruangan hingga Temari semakin mengeratkan tubuhnya untuk menutup telinga. Orochimaru mulai mengendus tubuh Neji dengan tawa bengisnya.

"Rupanya kau sangat dekat dengan sesuatu yang selama ini aku cari,"

Orochimaru membenarkan posisinya sambil berbalik menuju singgasana sang raja. Mendudukan dirinya tanpa memerdulikan tatapan tajam Temari.

"Kerajaan Hyuuga sudah hancur. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan menghancurkan semua kerajaan, terutama kerajaan Uchiha."

.

.

.

Hanabi mengerjapkan matanya menatap wajah Itachi yang terlihat khawatir di atasnya. Hanabi sedikit tersenyum sambil meletakan jemarinya di depan bibirnya. Kemudian meletakannya di depan bibir Itachi. Pemuda itu mencium telunjuk gadis itu dengan perlahan sambil mengembalikan telunjuk gadis itu ke bibir merahnya.

"Aku merindukanmu."

Hanabi memeluk perut Itachi dengan erat ketika pemuda itu membelai lembut rambut kepalanya. Ino, Sakura, dan Mikoto duduk melingkari Itachi dan Hanabi. Ino masih melancarkan suplai energi ke tubuh Hanabi. Sementara Fugaku duduk di depan bersama pemuda lainnya. Gaara menekan luka di bahunya sambil melirik ke arah Hanabi yang masih memeluk erat tubuh Itachi. Kerajaan Uchiha hari itu terlihat begitu ramai setelah berita penyerangan kerajaan Hyuuga hingga hancur sudah sampai ke telinga sang raja. Sai dan Naruto duduk di samping Fugaku dan Sasuke yang menghadap halaman kerajaan. Perlahan Sasori memandang punggung Gaara perlahan. Hinata duduk menghadap shoji yang menjadi sekat di ruangan itu. Gadis itu tidak bisa melewati batas yang sudah dipasang oleh miiko-miiko muda ini untuk memberi mantra pelindung.

Hinata hanya bisa mendengarkan suara dari balik shoji.

"Kami tidak menyalahkanmu Gaara-san atas apa yang sudah terjadi."

"Tidak, aku merasa mengkhianati Hyuuga jika seperti ini. Dan lagi … aku merasa ada yang aneh dengan kerajaanku."

Hening yang terjadi begitu lama membuat ruangan terasa seperti ruangan kamar Hanabi, gadis itu masih menatap wajah Itachi."Hinata,"

Hanabi bangun dari tidurnya di pangkuan Itachi. Gadis itu melirik shoji yang ia yakini Hinata berada disana. Gadis itu merangkak mendekat dengan keadaannya yang sudah lebih rapi dari sebelumnya.

"Aku menyelamatkan jiwa ayah, jika itu yang kau mau tau."

Hanabi meletakan kotak bening yang ia simpan lalu digesernya mendekat ke shoji. Menyodorkan benda yang kini menjadi benda kesayangannya itu untuk Hinata lihat.

.

.

.

Hanabi menyandarkan kepalanya di pundak Itachi sambil menatap kosong halaman kerajaan Uchiha. Mereka berdua masih duduk di tepi roka kerajaan dengan diam. Kedua jemari mereka saling bertautan. Lengan kanan Hanabi yang sudah terlalu banyak ia gunakan untuk membunuh musuh di kerajaan Hyuuga kini sudah disembuhkan oleh Ino. Rambut panjang Hanabi tergerai di cahaya malam yang menyinari roka sepi itu. Itachi semakin mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Hanabi sambil mengecup puncak kepala gadis itu.

"Aku disisimu. Kau tak sendirian, ingat."

"Iya, tak apa."

Naruto menggeser shoji sambil tersenyum kecil memanggil Hanabi dan Itachi untuk masuk ke dalam. Lingkaran kecil yang sudah terbentuk di tengah ruangan kerajaan Uchiha itu membuat Itachi dan Hanabi mengerti. Semuanya sudah duduk berkumpul disana, untuk melakukan rapat kecil.

"Aku baru tahu, ternyata nona Hinata dan nona ini adalah saudara kembar."

"Maksudmu Hanabi-san dan Hinata-san, Naruto-san?"

"Aku juga baru tahu jika kerajaan Hyuuga memiliki putri kembar."

"Ada begitu banyak hal yang kalian bertiga tak mengerti tentang asal-usul Hyuuga sebelumnya, Sai-san, Naruto-san, Gaara-san."

Sasori tersenyum hangat ketika ketiga pemuda baru itu memerhatikan kedua putri kerajaan yang sudah hancur itu duduk berseberangan. Sakura dan Ino masih merajut sesuatu di kedua tangan kecil mereka, dibantu dengan Mikoto yang membuatnya menjadi semakin cepat. Ratu kerajaan Uchiha itu memberikan beberapa teknik merajutnya yang cepat untuk membantu kedua miiko ini. Hinata menggenggam jemari Sasuke ketika jemarinya masih bergetar. Hanabi masih memerhatikan disamping Itachi sambil tersenyum.

"Akhirnya kita bertemu, Hinata."

Hinata masih menatap lurus gadis di hadapannya yang tengah tersenyum sambil menyeringai itu. Rambut keduanya sama-sama tergerai ketika mengenakan kimono berwarna sesuai energi jiwa mereka. Hinata hanya tersenyum hangat sambil mengelus kimono dengan sebelah tangannya. Tak tahu harus berkata apa untuk menyambut pertemuan yang panjang selama ini. Sasori berdehem mengalihkan perhatian sambil menghamburkan kembali omikuji di atas tatami ruangan itu.

"Dari pandangan masa depanku, Orochimaru adalah seseorang yang akan mengakhiri masa berjaya samurai untuk yang terakhir kalinya. Dan sebelum masa itu berakhir, perang besar akan terjadi,"

Pemuda itu masih memikirkan kata-kata untuk melanjutkan kalimatnya sambil membuka salah satu omikuji.

"Kita tak pernah tahu bagaimana dia. Setahuku yang tertulis disini, ia merupakan seorang ahli sihir yang berbahaya. Karena itu, aku mohon bantuannya untuk Hinata-san tetap hidup hingga akhir agar masa depan dan sejarah kehidupan manusia tetap terjaga,"

"Bukan berarti aku merelakan Hanabi-san terbunuh, kita pastinya menginginkan keduanya untuk tetap hidup. Tapi, dalam pandangan masa depan di kedua mataku ini mengatakan tali itu dipegang oleh Hinata-san. Sebisa mungkin aku dan Ino-san akan menjaga Hanabi-sama ketika semuanya menjaga Hinata-sama."

Fugaku masih menopang dagunya sambil berpikir ketika melihat hasil ramalan Sasori. Kertas-kertas itu berantakan di atas tatami yang dilingkari oleh dua belas orang itu. Mikoto menyelesaikan rajutan itu dengan sentuhan terakhir mantra dari Ino dan Sakura. Miiko itu menyerahkan benda itu kepada Sasori.

"Sakura-san dan Ino-san sudah menyiapkan benda ini. Ini akan membantu menekan tekanan energi kalian berdua sehingga kalian bisa saling melakukan kontak fisik dalam misi kali ini, kita membutuhkan kerja sama untuk melawan Orochimaru. Kita tak tahu apa yang di inginkannya hingga menghancurkan Hyuuga. Jangan sampai benda ini terlepas dari kalian, ini terbuat dari mantra yang sulit untuk menekan dan membuat kalian berdua bisa berdekatan tanpa harus saling mencuri jiwa,"

Penjelasan panjang Sasori di akhiri dengan menyerahkan sepasang pita obi kepada Hanabi dan Hinata. Keduanya masih memerhatikan secara seksama benda manis pelengkap obi di tangan mereka.

"Ah, dan lagi. Benda itu bisa mengaburkan hawa energi besar kalian dari orang-orang seperti kami yang selalu berurusan dengan arwah, sihir dan mantra."

.

.

.

Temari mengobati luka-luka di tubuh Neji dengan perlahan. Gadis itu dengan telaten mengobati pemuda yang terbaring di atas futonnya. Rambutnya ia ikat ke belakang agar tidak menyusahkannya. Temari menyalakan lilin ketika ia harus membakar beberapa racikan daun khas kerajaan yang sudah dipercaya bisa mengobati luka. Neji meringis kesakitan ketika bubuk panas itu menyentuh kulitnya yang teluka. Rasa perih menjalar membuat tubuhnya merasa ngilu. Temari menenangkan Neji dengan perlahan dan mengurangi takaran bubuk daun itu.

"Apakah sakit, Hyuuga-san? Maafkan aku."

Temari membantu Neji yang memaksa bangun dari tidurnya ketika gadis itu mengobati. Neji memegang bahu dan dada bagian kanannya yang terasa paling ngilu.

"Dimana adikku, Hyuuga-san?"

Neji memandang Temari dengan bingung. Kemudian ia menatap ruangan dimana dirinya dan gadis itu berada. Ah iya, Neji mulai mengingatnya sekarang.

"Dia bersama putri kerajaan Hyuuga. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Sebenarnya apa tujuanmu menyerang kerajaan Hyuuga hingga hancur?"

"Tidak. Itu bukan kehendak kami. Orochimaru yang melakukan, dia membunuh semua keluargaku. Beruntung Gaara tidak ada disini dan dia masih hidup."

Neji masih memerhatikan gadis itu sambil melirik lukanya yang sudah terobati, ia paham. Terakhir kali ia menginjakan kaki di kerajaan Sabaku, keadaannya tidak seperti ini. Terlebih lagi pengawal kerajaan yang seperti mayat hidup itu. Semuanya nampak benar-benar berbeda. Neji meraih tubuh gadis di depannya dengan tangan kiri. Menempatkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya untuk menangis.

"Aku yakin kita akan selamat. Adikmu pasti akan datang menyelamatkanmu."

.

.

.

Naruto berteriak kegirangan ketika festival yang di datanginya ini sangat menyenangkan. Sakura dan Ino berjalan berdampingan mengikuti Naruto. Memandang pemuda asing itu dengan gemas ketika menjelaskan apa hal-hal yang tak ia ketahui. Sai mengawasi dari belakang. Beberapa menit untuk mengawasi ke-empat orang di depannya dan beberapa menit kemudian mengawasi Sasori yang masih asyik menghabiskan makanannya. Semuanya berpencar untuk melakukan penyelidikan di daerah dekat kerajaan Sabaku. Sasuke dan Itachi berjaga dari depan panggung. Sementara Gaara berjaga di belakang panggung. Hinata dan Hanabi akan melakukan pengawasan dari panggung dimana mereka berdua akan melakukan kabuki. Selagi sibuk, sisanya akan melakukan pengawasan dengan cara berbaur bersama penduduk desa di festival ini.

Hinata dan Hanabi sudah mengenakan tali yang diberikan oleh Sasori. Keduanya berdiri berhadapan sebelum melakukan pementasan kabuki. Keduanya bagaiakan bercermin satu sama lain ketika melihat wajah masing-masing. Ini pertama kalinya Hanabi melihat wajah Hinata secara langsung tanpa harus kain penutup seperti biasanya. Dan ini juga pertama kalinya untuk Hinata bisa sedekat ini dengan adik kembarnya. Hinata menelusuri wajah Hanabi dengan jemarinya, tersenyum kecil sambil menarik adik kembarnya itu ke dalam pelukannya.

"Sudah lama aku ingin melakukan ini. Selagi aku bisa memelukmu, biarkan aku seperti ini."

Hanabi masih terdiam tak melakukan apa-apa. Kimono yang mereka berdua kenakan hari ini sama. Penampilan yang sama, hanya saja gaya mereka yang sedikit berbeda dalam berekspresi.

"Terima kasih kau telah membuatku melihat tou-san untuk terakhir kalinya."

"Jangan banyak bicara, lakukan yang terbaik untuk hari ini."

.

.

.

Hinata memainkan shimasen dengan sangat lembut ketika Hanabi menari di hadapannya. Keduanya memainkan perannya dengan sangat baik. Permainan kedua Hyuuga itu membuat semua orang terpesona. Sasuke dan Itachi hanya tersenyum sambil memerhatikan keduanya. Naruto yang paling antusias menyaksikan kabuki kali ini. Ini pertama kalinya ia melihat kabuki. Sementara bagian depan masih dalam pesona Hinata dan Hanabi yang menampilkan kabuki dengan penampilan terbaik mereka, Gaara hanya duduk termenung di belakang panggung sambil memikirkan kerajaannya.

Riasan wajah Hanabi menarik Gaara kembali ke dunianya sekarang. Pemuda itu sempat beberapa kali bertemu pandang dengan gadis Hyuuga itu. Namun ia tak seberapa memerhatikan Itachi di bawah sana yang juga melakukan hal yang sama.

.

.

.

"Aku memiliki kenalan yang bisa kita jadikan tempat peristirahatan kali ini."

"Jelas saja, ini kan daerah wilayahmu, Gaara-san."

Naruto menepuk punggung Gaara perlahan sambil tersenyum senang setelah menyaksikan kabuki. Gaara hanya mengangguk sambil mengeluarkan beberapa kertas yang disimpan mengenai kenalan dekatnya.

"Kita lanjutkan besok, kita harus menahan energi tubuh kita."

"Iya! Aku ingin mandi!"

"Ino, berhentilah mendorongku!"

.

.

.


T.B.C


[Kolom Review Balasan]:

Aizy evilkyu : hahaha iya nih kemaren lagi update kilat soalnya minggu lalu lagi senggang banget. Nah minggu ini aduh tugas ekolahnya sungguh mengerikan untuk dikerjakan. :'( hahaha iya nih, disini Orochimaru berusaha buat nguasain daerah kerajaan-kerajaan disitu. Yups bener banget, di akhir cerita nanti Hinata-Hanabi bakalan ketemu Orochimaru dan musuhan buat nentuin kehidupan dan masa depan. Aduh dibocorin enggak ya?! xD tapi meskipun Hachi gak ngomong, kayaknya Aizy-san sudah tahu jawabannya, kan? :3 hehe, walaupun gak ada perjodohan … Hachi udah siapin lamaran buat *************** (kebanyakan bintangnya woi!) hahaha xD . iya pastinya Hanabi bakalan tetep milih Itachi kok xD aku ngerasa jahat banget deh, rasanya tiap karakter disini mesti selalu aja aku siksa satu satu :') iya, konflik sudah mulai dibahas! :D

Cecil hime : iya, itu 2 konsep cinta segitiga yang Hachi pake :D hohoho. Ah masalah Naruto, disini Hachi buat Naruto seperti bule yang baru kenal budaya baru makanya dia antusias banget disini :D . masalah aku dapet ide, aku itu dapet idenya dadakan banget loh -_- makanya kadang baik, kadang juga enggak. Makanya maafkan ya jika ini membuatmu kecewa :(

Riz riz 21 : hahaha maafkan Hachi, Riz-san xD perasaan Hachi udah ngomong/promosi lewat facebook deh xD #ditabok. Iya minggu kemaren Hachi lagi senggang banget makanya langsung ngebut chapter dua sekaligus. Tapi minggu ini sungguh menyiksa :'( maaf ya cuman satu chapter dan agak jelek pula :( . hahaha tidak apa-apa kok ;) kamu kayak gitu udah buat aku jadi semangat kok, penyemangatku pas lagi butuh dorongan motivasi :) terima kasih sudah mau menunggu dengan ketidak sempurnaan ini :'3

Kensuchan : saya sudah bilang kok Kensuchan-san ._. via facebook tapi pas promosi dan ngomong kalo udah updatena xD #dakdakdak-ditabok. Hahaha tenang aja Kensuchan-san, Hachi udah siapin kok SasuHina bakalan jadi suami-istri. Tapi itu nantinya :3 belum waktu scent yang tepat disini xD #ditendang. Terima kasih sudah mau mampir Kensuchan-san :D

J Vickovie : hahaha saya malah kasihan sama Hinatanya kalo dijadikan bahan rebutan seperti itu xD takut salah nempatin hati entar xD iya nih, saya ngerasa jahat banget mempermainkan banyak karakter disini :'( sampe harus ngebunuh om Hiashi sama om Hizashi demi kelangsungan konflik ini hiks :'( iya, om Orochimaru mau nguasain semua kerajaan dengan cara yang sedikit err … licik.

Debu : iya udah update :) konfliknya bakalan banyak sih, tapi bingung ngetiknya satu-satu ini bakalan mulai darimana.

Kaname : waduh, terima kasih banget sampe nungguin segala. Jadi ngerepotin. Maafkan ya. Minggu kemaren saya update chapter 8 itu jam 4 pagi -_-v hahaha iya saya akan buat yang greget nanti :')

Kiki : wah kayaknya ada penggemarnya om Orochimaru nih xD hahaha

Momiji : hahaha kalo begitu masih lama dong Momiji-san :D soalnya ini romantisannya bakalan kegabung sama beberapa action. Dan gak sekentara seperti chapter sebelum-sebelumnya. Tapi Hachi usahakan bakalan ada lagi romance nya :3 terima kasih atas masukannya.


[Author Note]:

Maafkan ya updatenya lama sekali. Hachi banyak tugas di sekolah :(

Entahlah ini ceritanya seadanya aja ya soalnya Hachi ngetiknya ini udah nahan beberapa hari yang lalu waktu tiduran (lagi). Maaf jika lagi-lagi ini sangat mengecewakan dan banyak kesalahan, typo, atau sejenisnya.

Sekali lagi terima kasih. Sampai jumpa chapter depan!