.

.

.

.

Jungkook masih cukup waras untuk menolak permintaan Noona gilanya.

Maka dia mengusir ketiga pria tampan—sayangnya, bajingan—itu dari apartemen, tanpa menghiraukan teriakan manja Ryuko yang meminta mereka tetap berada di tempat. Jungkook bersyukur, ketiganya hanya menurut kala dirinya mendorong pelan tubuh mereka seperti mengusir anak kucing.

"Kau tidak asyik, bunny." Ryuko duduk di sofa seraya melipat kedua kakinya. Dia meminum soda yang masih tersisa.

"Aku cuma mempertahankan harga diriku," dengan langkah besar, Jungkook menghampiri kulkas lalu meneguk susu dinginnya. "aku ini laki-laki."

Sambil memejamkan mata, Ryuko terkekeh. Dia mengangkat kaleng sodanya tinggi-tinggi, menggoyangnya pelan. "Harga diri? Laki-laki? Selera humormu bagus juga."

Jungkook mendengus. Sama sekali tak mengerti otak Ryuko yang terkadang pintar itu. Bahkan Jungkook tak menemukan titik lucu pada kalimatnya tadi, meskipun kalimat itu diucapkan dengan nada jenaka. "Terserah. Aku mau membersihkan kamar tamu dulu." Dia kembali melangkah menuju sebuah kamar.

"Padahal aku cuma mau lihat bagaimana para gay bercinta secara langsung," Ryuko bergumam. Tangannya memainkan ponsel demi membunuh rasa bosan. Sama sekali tak ada niatan membantu Jungkook yang kerepotan membersihkan kamar tamu.

.

.

.

.

"Tae,"

Taehyung mendongak, lalu tersenyum tipis. Dia berjalan mendekati Hoseok dan memeluknya erat. "Long time no see, Hyung."

"Kukira kita sudah putus, bocah." Hoseok tertawa ringan. Membuka pagarnya lebih lebar, membuka jalan agar Taehyung memasukkan motornya ke halaman rumah. Dia dengan iseng ikut duduk di jok, membiarkan Taehyung mengendarai motornya pelan menyusuri halaman rumahnya yang luas.

"Kalau Hyung mau putus, aku ikut saja."

Hoseok refleks menoyor kepala Taehyung. Anak itu berkata putus semudah bagaimana caranya mengumpat. "Kau pacaran dengan Jimin, ya?"

Taehyung memiringkan kepala ke kanan. "Hyung tau?"

"Ya, tau." Hoseok memejamkan matanya. "Jimin itu adik kelasku di kursus dance. Dia banyak cerita tentangmu. Kau selingkuh dariku, atau dari dia?" dia kembali menoyor kepala Taehyung seraya terkekeh.

"Hah? Dari dia, tentu. Hyung, kan, selingkuhanku." Dan Taehyung hanya terkekeh kala dirinya mendapatkan toyoran ketiga dari yang lebih tua. Menggoda Hoseok itu mengasyikkan, maka dari itu dia sedikit enggan melepas pria hangat itu.

"Bocah mesum kurang ajar. Kau menyakiti hatiku," dia meletakkan kedua tangan di dada, sambil menunjukkan raut sedih berlebihan. Bahkan Hoseok merintih pelan. Yang malah membuat Taehyung terbahak.

"Kau memang tau cara menghiburku, Hyung." Taehyung memarkir motornya di sebelah motor biru. "Tidak salah aku memacarimu."

"Ya ya ya, terserah. Aku tidak peduli. Kenapa? Ada masalah dengan Jimin?" setelah turun dari motor, Hoseok melenggang menuju rumah, dengan Taehyung yang mengekor di belakangnya. Dia menggunakan isyarat tangan, menyuruh pelayannya mengambil minuman. "Dan yang terpenting, sekarang hubungan kita apa?"

"Bukan Jimin,"

Taehyung terdiam. Lama, membuat Hoseok memutar kedua bola mata jengah, lalu beralih memegang ponsel dan mengiyakan pelayan yang menaruh minuman di meja. Jika Taehyung sudah diam begini, biasanya dia akan menggoda anak itu. Namun, masih ada rasa sakit di hatinya karena mengetahui bahwa Taehyung hanya mempermainkannya.

Meskipun begitu, dia tetap menyayangi bajingan kecil satu itu.

"Oke, bukan Jimin. Dan mungkin bukan siapa-siapa, kalau kau diam sampai besok." Masa bodoh dengan nada menyindir dalam ucapannya.

"Hyung ingat Ryuko?"

Ibu jari Hoseok yang tengah mengusap layar ponsel berhenti bergerak. Ekor matanya melirik Taehyung, mengamati wajah gelisahnya.

"Ingat," dia memutuskan untuk menaruh ponselnya di meja. "selalu. Kenapa? Kau bertemu dengannya? Itu wajar. Ini sudah bertahun-tahun sejak dia pergi ke Australia. Mungkin kuliahnya sudah selesai."

Taehyung menggeleng pelan. "Dia dari Jepang, bukan Australia." Menyenderkan tubuhnya lelah pada sofa. Dia menutup kedua matanya dengan punggung tangan kiri.

"Oh."

Hening. Taehyung kembali terdiam, dan Hoseok terlalu malas untuk memancingnya bercerita. Sekali-kali, anak itu harus belajar cara membuka hatinya tanpa harus dipancing dulu.

Hoseok dapat melihat genggaman Taehyung mengeras.

"Nenek tau."

Lirihannya sangat pelan, bahkan nyaris tak terdengar. Membuat Hoseok sedikit bingung, kalau saja dia tak pintar membaca gestur bibir Taehyung. Hanya dengan kata 'Nenek', itu berarti Taehyung tengah menghadapi masalah besar.

"Nenekmu? Lalu?" Hoseok meraih gelas yang belum disentuhnya sejak tadi. Meminum isinya perlahan, seraya menatap bagaimana cara Taehyung menggigit bibir bawahnya sendiri.

"Dia gila," Hoseok dapat mendengar nada rengekan di dalamnya. "kau juga tau, sudah saatnya dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa, Hyung. Dia gila."

Taehyung menggoyangkan tubuhnya pelan, khas orang yang tengah merengek. Hoseok tersenyum. Dia beringsut mendekati Taehyung, mengusap punggung tangannya menenangkan. "Hubungannya dengan Ryuko?"

Taehyung memandang Hoseok lirih, lalu menggeleng. Hoseok bergumam dalam hati, itu berarti Taehyung tak bisa memberi tau perihal masalahnya.

"Tapi Hyung,"

"Ya?"

"Ryuko tidak mengingatku."

.

.

.

.

"Sial,"

Jungkook mempercepat larinya. Kepalanya refeks menengok ke belakang saat mendengar langkah kaki mendekat. Kembali memfokuskan pandangannya ke depan, Jungkook merapal kata-kata penenang dalam hati. Meski hanya dapat melihat siluetnya karena cahaya yang temaram, Jungkook tau jelas siapa orang itu. Jantungnya berdegup kencang, dia menggigit bibirnya sendiri hingga mengeluarkan darah.

"Dia setan? Kenapa dia bisa mengejarku," Jungkook mendesah. Di pertigaan koridor, dia memilih lorong sebelah kiri. Membuka pintu ruangan dengan kasar, lalu panik saat tak menemukan kunci pintu pada lubang kunci. Dia menutup pintu rapat-rapat, berharap bajingan itu berlari ke arah sebaliknya.

Tubuhnya merosot dibalik lemari buku. Berusaha menetralkan nafasnya, Jungkook meraba keningnya. Dia kembali mendesah, kenapa demam datang di masa kritis begini?

Setengah jam dia bertahan disana tanpa mendengar suara apapun. Jungkook berdiri, memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Dia membuka pintu perlahan, memusatkan fokusnya pada telinga. Tidak ada langkah kaki yang terdengar. Jungkook menarik nafas dalam-dalam, lalu berlari keluar gedung. Tanpa berani menoleh.

Jungkook meraba kantung celananya dengan panik begitu dia berada di samping mobilnya. Otaknya berusaha memproses dimana dia meletakkan kunci mobilnya. Dia menepuk keningnya sendiri, menyadari kebodohannya sebelum kembali berlari. Tentu saja kunci mobilnya tidak ada padanya. Kunci mobil itu ada di tas, dan Jungkook kehilangan tas nya.

"Gila gila gila," Jungkook nyaris menyerah. Kakinya pegal luar biasa. "Dia masih mengejarku? Masih?" matanya berbinar begitu melihat sebuah gedung dua puluh lantai. Apartemennya.

Dia berlari masuk ke dalam, menabrak beberapa orang sebelum akhirnya sampai di depan lift. Begitu lift terbuka, dia segera menekan angka lima belas dengan tidak sabar. Menyandarkan tubuhnya sebentar, nafasnya tak beraturan. Dia berdoa dalam hati, semoga Taehyung tak mengejarnya hingga apartemen.

Ya, Kim-bajingan-Taehyung.

Masih tercetak jelas dalam ingatan Jungkook, bagaimana Taehyung menatapnya kelaparan seperti singa puasa yang menemukan mangsa. Dalam hati, Jungkook merutuki tingkah bodohnya, niat mengambil buku catatan di kelas malah membawanya pada masalah. Lagipula, kenapa Taehyung ada di kampus semalam ini?

Terlambat.

Taehyung menarik lengan Jungkook tepat sebelum dia membuka pintu apartemen, lalu menyudutkannya pada tembok. Menatap Jungkook lapar, mata Taehyung terpaku pada bibir yang memerah karena darah itu. Dia menjilat bibirnya sendiri, membayangkan rasa bibir Jungkook yang menggiurkan.

Jungkook mendesis, jaraknya dengan Taehyung sangat minim. Bahkan dengkulnya dapat merasakan celana Taehyung yang menggembung. Dia kembali mengeluh dalam hati, harusnya dia tidak keluar dari apartemen tadi.

Taehyung mengunci pergelangan Jungkook dengan satu tangan, menariknya ke atas, lalu memperkikis jaraknya dengan Jungkook. Bibirnya menyentuh bibir Jungkook dengan perlahan, menjilatnya penuh rasa. Jungkook mendesis, rasa perih menjalari bibirnya yang sobek akibat dia gigit. Dia melenguh, saat Taehyung melumat bibirnya pelan. Seakan menyedot darah yang keluar dari sana. Rasa besi bercampur dengan saliva. Taehyung tak berniat menggigit bibir itu, tak ingin membuat luka sobek itu melebar.

Ketika Jungkook mulai balas melumat, Taehyung menjauhkan wajahnya dan meletakkan kepalanya di bahu kanan Jungkook. Cekalan tangannya pada pergelangan tangan Jungkook pun dilepas. Dia merengkuh tubuh Jungkook erat, membuat Jungkook terheran.

"Hyu—"

"Aku mau kau melompat di atasku."

Mata Jungkook membola. Apa-apaan ini.

"Ta—"

"Kalau kau tidak mau, kurasa lubang Jimin masih longgar."

"Hyung," Jungkook menyahut cepat. Dia menarik kasar surai Taehyung agar mendongak menatapnya. "kau aneh."

Taehyung terkekeh. Dia mengelus pipi Jungkook pelan. "Iya, aku aneh." Dan Jungkook semakin bingung dibuatnya.

"Kenapa kau sangat cantik, Jeon?" menangkup pipi Jungkook dengan sebelah tangan, Taehyung kembali mendaratkan ciuman di bibir.

Jungkook menggeleng pelan. Tidak. Ada yang salah.

Dia kembali menarik surai belakang Taehyung, mengundang geraman dari sang empunya. "Apa sih?" sungut Taehyung, persis seperti orang mabuk.

Orang mabuk?

Jungkook baru menyadarinya. Bau alkohol mulai terhirup, dan dia menyentil pelan kening Taehyung. "Dasar. Hidupmu terlalu mudah untuk lari ke alkohol, Hyung. Ayo masuk, semoga Ryuu Noona sudah tidur."

Dan seseorang berlari sambil berjinjit, masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu kamar tepat sebelum pintu apartemen dibuka.

.

.

.

.

Hae.

Dan ternyata aku ga siap bikin foursome huehue. Banyak yang review juga, jangan pake foursome. Ya udahlah atuh ya, foursome nya diganti konflik sajah.

Kris-Mingyu ora muncul. Kemana kalian mas? Lagi suka bang hobi, jadi bang hobi yang muncul XD

Puasa hiatus g y? atau malah berhenti total?

Btw, gaya penulisanku berubah keknya.

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.