Iam Not Angel
Summary :
Naruto jadi artis? Kok mendadak Naruto begitu terkenal seantero Konoha. Teroris? Masa sih cewek lemah nan miskin macam Naruto jadi begitu ditakuti semua gengster dan Yakuza. Sebenarnya siapa Naruto itu? Sorry summary rada gak nyambung and kurang OK. Maklum masih pupuk bawang.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort and Friendship
WARNING
Cerita Pasaran, Typos, OOC, AU, Newbi, Republish, and many mores
Pair : Tebak sendiri ^-^
Author note : Buat yang udah review thank you BGT. Berkat review kalian, aku jadi semangat nerusin fic ini. Sebelumnya aku minta maaf kalo ceritanya agak bulat dan kurang detail. Itu karena aku terlalu fokus pada konflik aja, tapi ku usahakan untuk lebih detail sehingga para reder bisa merasakan emosi para karakter dan lebih ngena di hati.
Dont Like Dont Read
Chapter 9
Dimana ini? Kenapa gelap? Gaara berusaha membuka dua kelopak matanya, tapi susah sekali. Rasanya kelopak matanya seperti dilem. Ia juga sulit menggerakkan tubuhnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Terakhir kali yang diingatnya ada seseorang yang membututinya sejak ia keluar dari SPBU dan sengaja mendesak mobilnya hingga keluar dari jalur. Gaara berusaha menahan laju mobil yang sebaik yang ia bisa karena selain ada gangguan dari Sang Penguntit, rem mobilnya juga blong. "Gawat ini benar gawat.." Pikirnya.
Ia berusaha bersikap tenang dan menghubungi Sasuke sambil fokus menyetir agar mobil tetap terkendali. "Halo, Sas! Ini gawat. Ada yang mem…. Aaaaaaaaa" Teriak Gaara.
Ia lupa dan benar-benar lupa ada mobil yang membututinya sejak tadi dan akhirnya benturan tak bisa dihindarkan. Mobilnya oleng sedangkan mobil Sang Penabrak hanya ringsek lalu malarikan diri ketika mobil yang dikendarai Gaara salto tujuh kali. Untung refleks Gaara bagus, sebelum mobil salto, ia sudah lompat keluar dari mobil. Tubuhnya membentur aspal dan berguling-guling hingga menabrak pagar pembatas jalan. Dan setelah itu ia tak sadarkan diri.
Saat sadar pertama kali, ia samar-samar mendengar suara seorang cewek yang sudah tak asing lagi. Ia menangis tersedu-sedu. Bisa ku rasakan emosinya yang kalut dan cemas. Siapa dia? Akukah yang dikhawatirkannya? Tapi itu tak mungkin. Selama ini tak ada orang yang peduli dan sayang padaku. Keluargaku saja menganggapku sampah. Mungkin itu orang lain. Rasa sakit seolah menikam hatinya. Pedih hati ini. Ia tak ingin apa-apa. Ia hanya ingin satu saja orang yang peduli padanya. Dia rindu semua itu.
Ku rasakan seseorang menggenggam erat tanganku, tak putus-putusnya ia membisikkan kata itu padaku. "Tenanglah semua akan baik-baik saja. Kau akan selamat. "Eh ja ja jadi. Jadi aku yang dikhawatirkannya?" Ada rasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Syukurlah akhirnya aku menemukannya. Tanpa sadar bibirku tersenyum untuk pertama kali semenjak kepergian Yashamaru, pamanku satu-satunya yang sayang padaku.
"Ambillah darah saya! Golongan darah kami sama. Dan ini, ini sebagai jaminannya. Sisanya akan saya lunasi nanti karena saya harus ke bank dulu untuk mengambil uang. Saya mohon selamatkan Gaara!" katanya samar-samar terdengar di telinga Gaara sebelum kegelapan kembali menariknya.
Kini ia mendengar suara menenangkan itu lagi. Ia tampak kesal dari nada suaranya. "Uuh, kenapa gak ada yang ngangkat sih? Emang mereka gak khawatir apa? Aduh gimana ini? Masa dia ku tinggal sendirian? Kalau ada apa-apa gimana? Tapi kalo gak pulang gimana dengan Ino? Ia sendirian di rumah. Aduh Kiba cepat datang dong!" Harapnya.
Oooh, jadi dia menghubungi keluargaku. Percuma mereka tak akan pernah menganggkatnya. Tadi dia bilang Ino dan Kiba, berarti ini Naruto, pantas aku merasa familiar dengan suaranya. Dia benar-benar aneh. Untuk apa ia mempedulikan musuhnya? Kenapa gak ditinggal saja? Dengan hati menahan rasa sakit yang mengoyak hati, dalam diam ia menyuruh Naruto tak segan untuk meninggalkannya. Tapi jauh di sudut hatinya yang terdalam, ia berharap dia tinggal. Bolehkan sesekali ia egois. Ia sudah lama tak merasakan ini, perhatian dan berbagi rasa cemas yang hanya tertuju padanya.
Menyedihkan, sungguh ia menyedihkan. Bisa-bisanya ia mengharapkan hal itu. Memang ia siapanya Naruto? Tapi tetap saja rasa bahagia menyeruak didada karena Naruto tak meninggalkannya ia terus menemaninya sambil membaca buku matematika. Please dech gak elit banget ni orang, gak ada sisi feminim dan romantis kali ya? Pantas jomblo sepanjang masa. Tapi gak apa-apalah yang penting ia gak sendirian.
"Kau sudah sadar? Syukurlah!" pekikmu senang. Kau berusaha menggerak-gerakkan tanganku menunjuk minuman. Tenggorokanku kering "Maaf kau tak boleh minum dulu. Kau baru saja operasi. Satu jam lagi baru kau boleh minum. Sabar ya!" bujukmu. Hey, masa aku masih harus nunggu sejam lagi. Haus tahu! Aku bisa mati kehausan. Aku marah dalam diam.
Sepertinya ia mengerti. Ia bergerak ke arah sisi tempat tidurku mengambil botol aqua dan kapas. Untuk apa kapas itu. "Maaf kau benar-benar belum boleh minum. Kalo maksa nanti lukamu tambah parah. Aku olesin air saja ya biar bibirmu gak kering." Dengan lembut ia mengusap bibirku dengan kapas yang sudah dibasahi. Senyum tak pernah luntur dari bibirmu. Sesekali kau mengusap lenganku seolah menenangkanku dan berkali-kali membisikkan "Semua baik-baik saja." Suaramu bagai melodi yang membuatku mengantuk lagi.
Gaara POV
Gaara kembali tidur, mungkin obat biusnya masih bekerja. Aku kembali berusaha menelepon keluarganya dan ketiga teman tapi gak diangkat malah sekarang batunya lowbat. Tadi ia lupa ngecash HP. Dasar payah. Coba HP Gaara gak hancur, mungkinn.. Entahlah aku gak yakin ada perbedaan. Sepertinya tak ada yang peduli padanya, pantas ia selalu kelihatan kesepian.
Brukkk, pintu dibuka begitu kasar membuat orang yang di dalam terlonjak kaget. Kiba muncul dengan penampilan super berantakan. Keringat menetes deras membasahi kening dan baju kemejanya. Nafasnya ngos-ngosan. Sepertinya Kiba habis melakukan aktifitas fisik yang menguras energi.
"Elo gak apa-apa kan? Mana yang sakit? Gimana bisa kamu kecelakaan? Pas pisah tadi kamu baik-baik saja." Tanya Kiba bertubi-tubi.
"Aku gak apa-apa. Bukan aku yang kecelakaan, tapi Gaara. Mana Ino?"
"Masih dibawah, tadi aku tinggal. Habis kita khawatir banget pas denger kamu kecelakaan lalu lintas. Elo tahu? Ino terus-terusan nyalahin aku karena gak nemenin kamu? Kupingku rasanya panas banget."
"Kok ditinggal dibawah? Maaf udah bikin kalian panik. Habis aku bingung banget. Kondisi Gaara parah. Aku tak bisa menghubungi keluarga maupun teman-teman gengnya. Jadi yang terpikir cuma kamu dan Ino. Untung tadi siang kamu maksa aku buat nyimpen nomermu. Kalo gak? Habis deh aku. Ntar aku akan minta maaf pada nenek Chiyo karena make HPnya untuk kepentingan pribadiku."
"Gak perlu kali Nar? Elo tu kelewat jujur. Tapi terserah kamu sajalah. Tahu gak? Tadi pas denger kamu kecelakaan, aku langsung terbayang dengan orang itu, orang yang mengerikan yang pernah kamu ceritain waktu itu."
"Ku pikir kau benar. Orang itu memang benar ada. Mungkin orang itu yang mencelakai Gaara." Naruto lalu cerita soal laporan polisi awal mula kejadian kecelakaan yang menimpa Gaara. Sebelum mobil Gaara salto, ada mobil yang menyerempetnya hingga keluar jalur. Mobil yang menyerempet Gaara ditemukan 3 km setelahnya terjun ke sungai, sedangkan pengendaranya tidak diketahui hidup atau tidak.
"Kalo dugaanku benar, pasti mobil Gaara ditemukan dalam keadaan remnya blong. Sepertinya mereka berniat membuatnya kasus tabrak lari. Kita lihat CCTV pas kejadian kecelakaan. Kita lihat siapa saja yang ada di lokasi. Aku yakin itu bisa jadi petunjuk penting untuk menemukan pelakunya. Kemungkinan besar mereka akan mengirim seseorang untuk memastikan Gaara sudah mati atau tidak."
"Gawat. Kenapa jadi serumit ini sih?"
"Masalahnya tidak rumit. Orang yang ada di belakang semua ini yang membuatnya jadi rumit. Kita harus lebih berhati-hati sekarang. Sebaiknya kau awasi Hinata. Entah kenapa aku merasa setelah Gaara, Hyuga yang jadi sasaran berikutnya."
"Aku tahu. Aku selalu membuntuti Hinata untuk memastikan keselamatannya dari kemarin, hanya hari ini saja yang tidak. Kemarin nyaris saja ketahuan Neji."
"Baguslah. Lalu Sai dan Sasuke gimana? Kau megnawasi Gaara kan?"
"Aku yang akan mengawasi Sai." Kata Ino tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Jangan!" (Kiba)
"Kamu dengerin pembicaraan kita? Sejak kapan?" (Naruto)
"Kau tak bisa melarangku, Naruto. Keputusanku sudah bulat. Aku tak mau anakku jadi yatim. Aku masih berharap Sai sadar. Aku percaya Sai bukanlah orang yang jahat. Suatu saat aku yakin ia akan menerima kami. Aku dengerin semuanya sejak Kiba bilang orang itu."
"Hah, kekuatan hormon emang gak ada bandingannya." Batin Naruto.
"Dasar ibu-ibu!" batin Kiba.
"Aku tahu perasaanmu, tapi ini sangat berbahaya. Biar aku dan Naruto yang menyelesaikannya."
"Jangan menganggapku lemah hanya karena aku hamil. Emang kamu gak tahu seorang ibu kekuatannya jauh lebih hebat dibanding kalian berdua. Instingnya lebih tajam. Aku juga tim ini kan?"
"Sudahlah Kib!"
"Tapi Nar?"
"Ino tahu batasnya kok. Tapi kau harus janji pada kita untuk hati-hati. Aku akan membuatkanmu radar jadi kau tak harus menguntit Sai, cukup dari kejauhan. Kalo ada bahaya, cepat hubungi kami! Tak masalah kan?"
Ino mengangguk puas. Sebenarnya ia ingin menguntit secara langsung, tapi cara ini juga tak masalah. Ia harus menjaga kandungannya kan? Ia yakin Naruto dan Kiba kombinasi yang pas. Pikiran mereka langsung klik begitu, meski mereka belum kenal terlalu lama.
Mereka sibuk berdiskusi membuat rencana untuk mengungkap keberadaan orang itu. Kiba menghubungi petugas CCTV, sedangkan Ino mencari tahu tukang bengkel, sedangkan Naruto tidur karena ia kelelahan. Ia capai harus membantu Gaara mulai dari lokasi kecelakaan hingga ia selesai operasi, udah gitu masih harus jadi pendonor lagi. Kebayang dong capeknya. Untung BGT besok libur dan ia sedang free gak ada kerjaan, jadi ia bisa istirahat cukup lama.
Di tengah kesibukan mereka, tak ada satupun yang menyadari bahwa ada orang lain yang mendengarnya. Orang tersebut menghubungi seseorang agar menghapus rekaman CCTV kecelakaan Gaara.
"Sepertinya aku memang harus menyiapkan hadiah khusus untuk gadis ini. Ia akan jadi penghalang rencananya besarnya." Ucapnya. Tak ada senyum, hanya saja sorot matanya menunjukkan kebengisan yang sepertinya dirasakan Naruto.
Naruto tak bisa tidur nyenyak ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang kelihatannya sepele, tapi besar artinya. Sesuatu itu yang jadi kunci utamanya. Tapi ia benar-benar lupa apa itu.
"Maaf Nar, aku gagal. Aku tak dapat info soal CCTV itu. Kata petugasnya CCTVnya rusak, jadi tak dapat gambarnya." Kata Kiba ketika Naruto terbangun dengan raut wajah bersalah.
"Apa?" Teriak Naruto membuat Kiba makin bersalah. Naruto tahu seharusnya ia tak berteriak. Ia tahu seharusnya ia minta maaf dan mengatakan kalo Kiba tak salah. Tapi ia tak punya waktu untuk itu semua. Ada hal penting yang harus dilakukannya. Ia berlari keluar kamar dan koridor sepi. Ia lalu berlari lagi ke petugas CCTV, mencari sesuatu dan hasilnya wa katta. Ia menemukan seorang pria bertopi hitam yang berkulit unik berwarna kebiruan seperti ikan hiu. Sepertinya ia mulai dapat titik terang. Ia pun kembali lagi.
"Orang itu tadi ada di sini?"
"Siapa?"
"Komplotan orang yang mencelakakan Gaara. Ia pasti yang membuat rekaman CCTV kecelakaan Gaara rusak untuk menghilangkan jejak."
"Apa? Kalo begitu kita tidak punya petunjuk dong."
"Tenang, aku sudah tahu identitas penguping itu."
"Apa tak apa-apa, bicara sekeras itu. Kalo ada yang nguping lagi gimana?"
"Tenang, orangnya sudah pergi, sedang Gaara masih pingsan. Orang itu bernama Kisame dari kota Amegakure. Dulu ia anggota geng Akatsuki. Ia keluar karena Pain, leadernya membubarkan geng dan beralih profesi jadi bartender cafe Akatsuki. Sepertinya ia masih ingin hidup di dunia hitam."
"Tahu dari mana?"
"Dari Pain. Aku kenal pas ia kena masalah di pasar. Ia dituduh penipu gara-gara tak dapat membayar. Ia tak tahu kalo dompetnya jatuh di jalan."
"Oh, begitu. Kamu hebat, bisa kenalan dengan orang-orang hebat."
"Ah, gak juga. Biasa aja. Sekarang masalahnya menemukan pada siapa Kisame bekerja. Ada gosip yang mengatakan ia bekerja pada Orochimaru, salah satu Yakuza yang membelot dari kepemimpinan ayahnya Sai. Ku dengar Orochimaru pernah punya masalah dengan ayahnya Sai, Gaara, Neji, dan Sasuke sekaligus. Gara-gara mereka usahanya hancur bahkan dikeluarkan dari kelompok."
"Kalo begitu ini semua ulah Orochimaru itu?"
"Belum tentu juga. Kita tak punya bukti, meski ia punya motif kuat."
"Memangnya keberadaan Kisame tidak bisa jadi bukti?"
"Tidak. Itu hanya rumor, dugaan sementara. Meski Orochimaru konon super licik, tapi ia tak pernah membuat rencana serumit dan serapi ini. Dan yang lebih penting ia tak punya akses ke kota ini semenjak ia dikeluarkan dari organisasi. Dengan kata lain ia sudah hancur secara moral maupun finansial."
"Aduh rumit baget sih. Siapa sih orang itu?"
""Tenang kita pasti bisa menangkapnya."
Gaara yang ternyata sudah sadar, diam-diam mendengarkan semua isi pembicaraan mereka. Benar dugaannya Naruto orang yang luar biasa. Ia semakin yakin kalo Naruto itu sebenarnya seorang agen mata-mata pemerintah. Kemampuan analisis, kecekatan, otaknya yang brilian, dan kekuatan fisiknya itu lho menyerupai para agen seperti di film-film buatan Hollywood. Mulai detik itu Gaara berjanji untuk tak mengganggu Naruto. Selain karena utang budi, ia juga nyadar diri. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Di mata Naruto, mungkin ia hanya bocah kecil yang sedang berlagak memamerkan kekuatan.
SKIP TIME
"Dasar bodoh, kerja gitu aja tak becus!"
"Ampun, Tuan. Kami sudah bertindak sesuai intruksi." 'Dor dor dor.'
Orang itu menembakkan tiga peluru tepat di kepala, jantung, dan paru-paru anak buahnya karena dinilai gagal menjalankan tugas. "Aku akan memaafkanmu setelah kamu jadi mayat." Ujarnya sadis dengan kejam menendang kepalanya hingga matanya jatuh dari kelopak matanya.
Ia marah luar biasa. Gadis itu lagi-lagi menghancurkan rencananya. Ia bahkan berhasil mendeteksi salah satu anak buahnya. Ia tahu dari perang info yang sedang berlangsung. Ia mulai khawatir gadis itu lama kelamaan akan berhasil sampai padanya. Ini tak bisa dibiarkan. Rencana untuk melenyapkannya harus dipercepat. Kali tak boleh gagal lagi.
"Kisame, gadis itu sudah tahu tentangmu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?"
"Ya, aku tahu. Kau tenang saja. Aku tak akan mengecewakanmu."
Ia telah menyiapkan panggung untuk melenyapkan target kedua yakni Hyuga Neji. Ia juga bisa merasakan tubuh indah Hinata Hyuga yang konon masih suci dan bohai. Hanya membayangkannya saja, ia sudah bergairah. Ini akan jadi hal yang menyenangkan. Besok akan jadi penentuan. Setelah mereka berdua, ia akan menghabisi gadis yang jadi duri dalam daging Tuannya. Ia harus hati-hati kali ini. Ia tak boleh kecolongan lagi dan mengecewakan Tuannya..
TBC
Sory banget, updatenya agak telat.
