Author Note : Mengapaaaaa~? Mengapa diriku lama update? Gyaaa! Biar saya jelaskan. Ada tiga hal yang menyebabkan itu. Satu, writer's block. Dua, tidak ada kuota internet. Tiga, kesalahan dari pihak fanfiction. Saya sampai berhari-hari gagal update karena selalu muncul kalimat 'Fanfiction error type 2'. Entah apa maksudnya. Maaf, lambat, saudara-saudara. Karena itulah, di chapter 9 ini adalah chapter terpanjang yang saya buat, nyaris 7000 words! Itu semua untuk meredamkan kekesalan anda dan kebutekan anda karena terlalu lama menunggu. Nah, inilah balasan dari review semuanya!

.

Gilank

Terima kasih, terima kasih. Dukunganmu akan selalu membuatku semangat menamatkan kisah seru kita ini. Review balik!

Ohohoho, sebenarnya saya juga bingung mengkategorikan Kuina itu baik atau jahat. Dan masalah festival, tahan sebentar lagi, ya. Dalam beberapa chapter kedepan akan segera rilis. Lalu inilah saatnya melihat Zoro bodoh itu melayani pelanggan. Semoga tidak nista.

Review kembali.

Yadi

Oh, tidak apa-apa. Saya juga gagal update cepat karena berada pada kawasan yang menyebalkan. Kalau gak salah, kamu penggemar ZoRobin, 'kan? Gyahahaha, chapter inilah yang kamu tunggu-tunggu! Semoga suka!

Nico Meisya

Salam kenal, Nico Meisya.

Aduuuuuuuh, dibilang fanfic terfavorit dirimu sepanjang dirimu membaca fanfic one piece bener-bener bikin saya melayang ke langit ketujuh! Terima kasih atas pujiannya tentang cara penulisan dan ceritanya. Berhubung kamu sama dengan guest Yadi, pairing ZoRobin di chapter ini menurut saya cukup manis untuk dibaca.

Silahkan tinggalkan review kembali.

Vira D Ace

Kalau ada foto spektakuler itu pastinya mereka bisa ditaklukan, buehehehe! Omong-omong, Shichibukai tentu saja bakal ikut serta dalam hal merusuh di festival nanti. Biar lebih seru begitu, heheh.

Oh ya, cerita kamu sudah saya terima. Saya akan publish cerita kamu yang berjudul Frustation itu. Semoga disukai oleh penggemar One Piece lainnya.

Akrisna Rengga D

Sayang sekali, pembacaku. Saya paling tidak tahu menjawab apa kalau ditanya soal tanggal update. Kemarin seminggu sekali, lalu dua minggu sekali, sekarang nyaris tiga minggu. Yah, pokoknya lihat saja terus di just ini fanfiction apakah fanfic ini sudah update atau belum.

Review untuk chapter ini ditunggu, ya.

Ryo

YOSHAAAA! SEMANGAT SAMPAI AKHIR! Review lagi!

Aizen

Semoga saja semakin chapter bertambah, semakin seru ceritanya. Ini kelanjutannya, pembacaku. Semoga suka. Reviewnya jangan lupa.

MUN

Hehehe, saya humoris menjawab review anda kemarin. Jelas dong saya anak baik-baik. Tapi saya akui, kalau masalah buat cerita romance, saya semakin meningkat. Mungkin karena dikelilingi teman-teman yang tergila-gila dengan love zone kali, ya? Hehehe!

Terima kasih atas reviewnya. Review lagi #balas peluk.

Ilogic

Kalau soal misi percintaan, saya berani menjamin bahwa mereka lebih licik dari kompeni Belanda atau Jepang sekalipun, hahaha! Silahkan tinggalkan review lagi.

.

Bagi pembaca yang berakun, saya sudah balas lewat PM. Nah, sekarang lebih baik anda scroll down saja dan segera baca. Semoga suka, ya. Kalau ada kesalahan, langsung katakan saja. Selamat membaca!

.

Disclaimer : Oda Eiichiro

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

Chapter Nine : Battlefield is ready!

By Josephine La Rose99

.

.

Note :

Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.

OOC, miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!

Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.

Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.

Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.

Happy reading!

.

.

.

.

.

.

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

CHAPTER NINE

BATTLEFIELD IS READY!

By Josephine La Rose99

.

.

.

"Teropong,"

"Ceklis,"

"Peta skema,"

"Ceklis,"

"Alat pemancar,"

"Ceklis lagi,"

"Penyadap suara,"

"Juga ceklis,"

"Kamera CCTV berkualitas tinggi,"

"Sangat ceklis!"

"Walkie talkie?"

"On it!"

"Kalian sedang apa?" Ace sweatdrop melihat tingkah laku Sabo dan Kuina berada diambang batas perikenormalan. Oh ayolah, mereka hanya datang ke sebuah café es krim untuk memantau rencana Kuina. Cukup membawa diri saja, 'kan? Untuk apa harus membawa ditambah memasang peralatan merepotkan seperti teropong, peta, pemancar, bahkan sampai CCTV segala!? Memangnya mau perang? Tinggal membawa senjata milik agen-agen Ayahnya, maka lengkap sudah misi mereka ini sebagai kelompok teroris.

Tahu begini, Ace tidak akan mau bergabung dengan misi absurd mereka berdua yang sekarang membuat seisi café membludak akibat barang-barang tidak penting Kuina dan Sabo. Kalau Ayahnya sampai tahu. Dia pasti akan dihabisi saat ini juga. Huh, memang merepotkan memiliki keluarga abnormal begini. Sudah kram bokongnya duduk dikursi ruang pengawasan café Canataria. Dilihatnya lagi keadaan CCTV yang sudah mereka pasang atas izin dari manajer.

Benar-benar membosankan. Dirinya harus berkarat diruang penuh alat-alat ini demi mengawasi pasukan pelayan baru lewat kamera. Ace merasa mungkin dia bisa keluar dari jurusan Universitasnya dan mendaftar jadi mata-mata Jepang. Well, berpengalaman,' kan?

Biarkan Ace merutuk, tapi kedua tokoh utama misi kita mengacuhkan Ace. Kuina lebih memilih menyebutkan barang-barang sementara Sabo menandainya di kertas. Saking banyaknya barang yang dipakai, Kuina berhenti mengabsen barang karena sudah semuanya disebut.

"Hmmm… Sepertinya sudah semuanya. Bagaimana, Sabo? Apa ada yang kurang?" tanya Kuina bingung ingin menyebutkan apalagi.

"Err… tunggu sebentar," Sabo bergumam sambil mengecek list, "Oke, sudah semuanya. Kita bisa mulai,"

"Yosshhh!" Kuina segera mengangkat tasnya yang oh so besarnya. Astaga, apa saja isi didalam tas nistanya itu? Ini mau memantau café atau mau berkemping? Nah, itu juga yang mampir dikepala Ace. Yah, beginilah nasibmu jika terdampar diantara orang-orang tidak waras. Dengan santai, Kuina dan Sabo melenggang siap keluar dari ruangan.

Lalu Ace? Hanya bisa tersenyum kecut dan merutuk dalam hati. Ace, penulis cuma memberimu penderitaan dalam sehari ini saja. Bertahanlah.

"Oi, Kuina. Orang-orang suruhanmu sudah kau panggil kemari?" tanya Ace sambil menekan beberapa tuas kecil di meja kendali. Langsung saja tampilan layar besar didepannya yang dari hitam buram menjadi tampilan beberapa bagian café yang siap dipantau.

"Oh, sudah pasti! Mereka sudah siap sedia untuk segera bertempur hari ini!" jawabnya antusias.

Ace sweatdrop sambil membatin, "Memang dirimu kata ini PERANG!?"


.

.


Pakaian ala butler melekat ditubuh Zoro, Sanji, dan Luffy yang sekarang duduk manis didalam mobil pribadi Luffy. Oh, jangan berpikir si idiot Luffy yang menyetir. Lebih tepatnya akibat sikap over protective sang Ayah, manusia yang dari tadi mengendalikan kemudi adalah salah satu agen terpercaya Dragon. Sebut saja Smoker. Pria perokok berat itu sukses membuat ketiga cowok itu batuk-batuk dahsyat berkat asap nista dari rokoknya itu.

"Smoker-san, bisakah kau jangan merokok didalam mobil?" pinta Luffy dengan mata memerah saking terlalu banyak asap yang menari-nari dimatanya.

"Tuan muda, anda tahu betul saya tidak mungkin mengabulkan permintaan Tuan yang satu ini," jawab Smoker formal dan sopan sekali.

"Hoi, dia itu Tuan muda yang harus kau layani. Seharusnya kau patuhi dia," celetuk Zoro kesal.

Smoker tanpa melirik Zoro langsung membalas, "Aku bekerja pada Ayahnya, bukan dia. Perintah Dragon-sama adalah mengantar Tuan muda dan kalian. Dia tidak ada mengatakan aku tidak boleh merokok di mobil,"

Kalah telak. Percuma berdebat panjang dengan agen keras kepala satu ini. Cih, masih lebih baik Wiper daripada dia. Apalagi mata setan tidak bersahabatnya itu. Ingin sekali Zoro mencolok mata sialan itu dengan pedang kayunya.

"Omong-omong, Smoker-san…" celetuk Sanji yang terus diam memperhatikan perdebatan kedua sahabatnya dengan si agen sial, "Kenapa tadi Ace-san dan Sabo-san tidak mengantar keberangkatan kami? Mereka tidak ada di rumah atau apa?"

Ck ck ck, ternyata para pangeran kita belum tahu, saudara-saudara. Mereka belum tahu bahwa ketiga detektif kurang kerjaan kita sudah stand by di café dimana rencana Kuina akan dilaksanakan. Wajar saja mereka tidak tahu. Soalnya pagi-pagi sekali aka jam 6 (whuttzz!?), Kuina datang dengan segerobak peralatan, menggeret kedua bersaudara Monkey dari sarangnya, dan terbang lalu mendarat di TKP. Sementara Luffy dan kawan-kawan masih berada didunia mimpi.

Sementara ditanyai begitu, Smoker terdiam. Sebenarnya dia tahu alasan kenapa Ace dan Sabo tidak bisa mengantar mereka. Tapi dia merasa tidak ada artinya dia memberitahu anak-anak ini. Dan terlebih lagi, dia tidak percaya bisa terlibat dalam misi kekanakan begini. Misi penyatuan cinta, eh? Huh, memang dasar anak muda zaman sekarang, hanya bisa serius tentang hal-hal yang tidak penting.

"Tuan Ace pergi bersama Tuan Sabo ke tempat kerja sambilan sejak pagi," jawab Smoker berbohong.

Luffy menyipitkan kedua matanya. Dia merasakan ada yang aneh dan lantas menatap Smoker curiga, "Bukannya Ace sedang cuti kerja sambilan untuk beberapa hari kedepan?"

TING! Bunyi alarm terdengar dikepala Smoker. Sepertinya alasannya barusan justru menimbulkan aura-aura penasaran dari ketiga bocah didalam mobil. Dalam hati, dia merutuki dirinya sendiri. Benar juga, dia lupa! Ace juga pernah mengatakan itu padanya, "Hmm… entahlah. Kata Tuan Ace ada panggilan mendadak dari pemilik tempat dia bekerja," Smoker kali ini mengarang alasan bebas layaknya pelajaran mengarang bahasa Jepang.

Dewi keberuntungan berpihak padanya. Untung saja Luffy itu termasuk idiot dari kedua saudaranya yang lain. Dia percaya saja dengan alasan omong kosong Smoker. Astaga, apa dia tidak bisa mencium keanehan disini? Apa sedikitpun tidak terlintas dikepalanya kenapa Kakaknya meminta dia bekerja di café milik Rayleigh?

Eh, tunggu dulu. Rayleigh?


.

.


"RAYLEIGH-SAN!?" teriakan nista para pekerja paksa terdengar di ruang manajer café Canataria. Ketiga pelayan wanita kita shock berat begitu mengetahui manajer tempat mereka ditelantarkan(?) adalah salah satu guru senior Tokyo Galaxy. Hancock dan Nami masih menganga ria, sedangkan Robin menunjuk Rayleigh tidak percaya. Orang yang ditunjuk cuma tertawa karena dia sudah menebak bagaimana reaksi ketiga cewek ini.

"Hahaha, jadi Ace belum memberi tahu kalian kalau aku pemilik tempat ini?" tanya Rayleigh mengusap-usap dagunya sambil memerhatikan mereka. Pakaian butler ternyata cocok juga. Kalau begini, pendapatan café bisa meningkat tajam dengan adanya ketiga malaikat ini, 'kan?

Hancock, Nami, dan Robin menggeleng. Mereka memang tidak tahu apa-apa.

Rayleigh manggut-manggut mengerti. Ternyata apa yang dikatakan Ace benar. Diam-diam dia memuji Monkey bersaudara itu bisa membuat rencana konyol begini. Mendatangkan ketiga pangeran dan ketiga putri untuk bekerja melayani pelanggan sekaligus perjodohan. Ck ck ck, Rayleigh bingung harus merutuki dirinya yang entah kenapa bisa SETUJU ikut campur, atau tertawa karena polosnya anak-anak didepannya itu.

Sebentar dia melirik jam dinding di kirinya. Sudah waktunya untuk bekerja tapi ketiga budak cowok itu masih belum datang. Yah, tapi sudahlah. Lagipula apa sulitnya jadi pelayan dalam sehari? "Kalian boleh bekerja sekarang. Tapi ingat, bekerja berpasangan. Nami dengan Sanji, Robin dengan Zoro dan Hancock dengan Luffy. Utamakan pelanggan dari apapun. Apalagi hari ini adalah event besar-besaran. Aku tidak ingin kalian gagal menyenangkan hati semua pelangganku, paham?"

"Baik," jawab mereka kompak dan membungkuk hormat.

"Kalau begitu, kalian keluarlah…" lanjut Rayleigh lagi. Saat mereka bertiga berbalik, ternyata Rayleigh masih belum selesai bicara, "Kecuali kamu, Hancock,"

"?" Hancock menaikkan sebelah alisnya, bingung. Seperti dia, Nami dan Robin juga bingung. Tapi begitu menoleh pada Rayleigh yang balas menatap serius, terpaksa mereka lebih dulu keluar daripada ketua mereka.

Blam! Pintu ruangan resmi tertutup. Hanya meninggalkan dua manusia yang saling berhadapan. Hancock sedikit melirik ke arah pintu. Setelah yakin bahwa hanya tinggal mereka berdua, dia segera bertanya, "Lalu? Apa yang ingin kau bicarakan, Rayleigh-san?"

"Luffy-kun,"

"!" wajah Hancock spontan memerah saat nama itu keluar dari mulut Rayleigh.

Rayleigh tersenyum kecil melihat reaksi Hancock, "Kamu kenal dia?"

"Ya-yah… begitulah…" jawab Hancock pelan, tidak berani menatap Rayleigh, "Kenapa dengan dia?"

"Kamu pacaran dengannya?"

"… Eh?"

Tu-tunggu dulu! Tunggu dulu sebentar! Apa kata Rayleigh tadi? Pacaran? Maksudnya dengan Luffy, begitu? Dia? Seorang ratu kecantikan dari Human Academy School harus bersanding dengan ketua OSIS idiot dari sekolah rival? No, no, no, no! NOOO! Membayangkan itu saja, Hancock yakin semua orang pasti akan menertawakannya karena 'Bisa-bisanya cewek secantik Hancock-sama berpacaran dengan cowok yang punya senyum keledai sarap'.

Tapi anehnya, seluruh tubuhnya memanas seperti dia baru saja selamat sampai tujuan dari gurun Gobi. Rayleigh bisa melihat jelas keluar asap dari telinga Hancock. Senyumnya makin melebar. Memang tidak sia-sia dia ikut dalam rencana ini. Khu khu khu, percintaan anak muda tidak pernah membosankan.

"Heeeee… jadi benar, ya? Selamat, Hancock! Akhirnya kamu punya pacar juga!" goda Rayleigh sambil mengangkat-angkat alisnya.

"Pa-pacar?! Di-dia bukan pacarku! Ma-mana mungkin diriku yang secantik ini tergila-gila pada si bodoh itu!" Hancock membalas gagap dan cukup panik. Well, kelabakan istilahnya.

Tidak akan pernah seumur hidupnya dia mengakui bahwa dirinya jatuh cinta. Seorang Boa Hancock yang digilai sejuta lelaki selalu mengklaim bahwa dirinyalah yang membuat semua orang jatuh cinta padanya. Terlalu percaya diri, katakan saja begitu. Tapi pembaca pasti tahu kalau untuk Luffy harus diberi pengecualian, 'kan?

Keras kepala adalah sifat paling utama Hancock. Rayleigh tahu itu. Tapi dia tidak menyangka dia akan sekeras kepala ini. Kalau begini, terpaksa dia harus mengucapkan kalimat jitu yang akan membantu Sabo dan Ace dalam rencananya, "Eh, begitu ya? Padahal kemarin Luffy-kun mengatakan padaku kalau dia menyukaimu,"

"…"

"…"

"…Hah?" waktu di dunia Hancock berhenti sesaat.

Mari kita kembali menganalisis apa yang terjadi disini.

Rayleigh mengatakan Luffy apa tadi? Suka? Ini maksudnya suka pada Hancock? Benar juga, mana mungkin dengan penulis cerita ini(Plak!). Tapi kapan Luffy bilang begitu? Perasaan di chapter kemarin tidak ada. Ck, baiklah penulis mulai menyebalkan. Kembali ke cerita.

Luffy menyukaiku? Kalimat itu terus mengulang dipikiran Hancock. Membayangkan wajah idiot Luffy yang tersenyum padanya mengatakan 'Aku menyukaimu' sukses membuat dirinya panas dingin. He-hey, tunggu dulu! I-ini bukan cinta, 'kan? Ya, 'kan?

"Aku cuma bercanda, hahahaha!"

GLODAK! Hancock jatuh dengan posisi sangat tidak elit. Dasar bodoh. Bisa-bisanya dia percaya apa kata Pak tua didepannya itu. Mana mungkin si bodoh Luffy mengerti soal cinta. Kalau disuruh memilih antara cewek atau makanan, cowok itu SERATUS PERSEN bakal milih makanan.

"RAYLEIGH-SAN!" teriak Hancock kesal.

"Kenapa? Apa jangan-jangan kau benar-benar mengharapkan dia berkata begitu, hm?" ledek Rayleigh.

Mendadak tubuh Hancock tegang, "Ti-tidak! Tentu saja tidak!"

"Hahaha, yosh yosh… bergabunglah bersama teman-temanmu. Bekerja dengan baik," lanjut Rayleigh merasa bahwa ini sudah cukup untuk memberikan sedikit 'pemanasan'.

"Jadi aku ditahan lebih lama di ruangan sial ini cuma untuk membicarakan hal omong kosong ini?" tanya Hancock tidak percaya.

"Aku cuma ingin menguji apakah kau punya perasaan pada anak atasanku itu. Soalnya kata Sabo kalian saling memiliki rasa lebih dari 'peduli'," Rayleigh malah memeragakan gerakan tanda kutip segala pada bagian 'peduli'. Hancock semakin memerah wajahnya, tapi sesaat kemudian dia menyadari sesuatu.

"Sabo?" jujur, begitu nama itu disebut, Hancock sudah berfirasat buruk. Jangan-jangan si bodoh itu—

"Iya. Katanya dia berhasil mendapatkan bukti dari dua momen kalian. Entah apa maksudnya,"

BLUSH.

"Menurutmu apa maksud Sabo itu? Bukti apa?" ohohoho, ternyata Rayleigh masih belum melihat foto nista hasil kerja spektakuler dua gendeng bersaudara. Dan tentu saja mereka tidak semudah itu memperlihatkannya pada orang lain.

"Aku keluar!" tanpa membuang banyak waktu, Hancok segera berbalik, meraih kenop pintu, dan menutupnya dengan kasar.

BLAM! Dengan begini, resmi sudah cuma Rayleigh di ruang manajer. Rayleih melongo melihat Hancock tiba-tiba bereaksi begitu. Hmm, sepertinya dia sudah bisa mencium bau-bau keanehan pada diri ketua geng Angels.


.


Hancock masih belum beranjak dari pintu ruangan manajer café. Dia berdiri diam mematung disitu sambil memikirkan sesuatu. Wajahnya merona tipis mengingat omongan bodoh Rayleigh.

"Kamu pacaran dengannya?"

Sssshhhhh… brengsek, wajahnya sukses berasap sekarang. Padahal sudah susah payah dia melupakan dua kejadian sial bersama Luffy itu, tapi Pak tua sialan itu malah mengingatkannya lagi. Dan lebih parah, dia harus bekerja bersama cowok yang berhasilnya membuatnya malu bukan kepalang. Siapa lagi kalau bukan adik bungsu Ace itu?

Sudahlah, tak ada artinya dia terus memikirkan itu. Mending dia bekerja sekarang, begitulah keputusan Hancock. Makanya dia segera berbalik badan dan—

"Eh? LUFFY!?" Hancock nyaris terjengkang saking kagetnya melihat sosok cowok itu sedang menatap tajam kearahnya.

Astaga, kaget sekali! Tapi, sejak kapan dia disini? Apa jangan-jangan dia menguping pembicaraan didalam tadi?

"Hancock, ayo pulang!" kata Luffy aneh dan sangat serius. Tangannya langsung memegang pergelangan tangan Hancock.

Oh, jangan lupakan kalau mereka tidak sendirian disana. Tentu saja pasukan Luffy aka ZoSanji dan pasukan Hancock RoNami sedang memerhatikan tingkah laku mereka. Mereka berempat saling tatap karena harus diakui, jarang-jarang mereka melihat Luffy seperti ini. Apalagi itu, ekspresi langka Hancock.

"Ng? Maksudnya 'pulang'?" kali ini Hancock yang heran. Belum ada setengah jam dia disini, apa harus secepat ini dia pulang? Lalu bayaran kerja sambilannya bagaimana? Nami yang membayarnya? Penulis berani bersumpah demi gunung yang gonjang-ganjing bahwa itu sangat MUSTAHIL terjadi.

"Wajahmu merah, pasti kau sakit. Makanya ayo pulang,"

"Ah… i-itu, aku tidak sakit, Luffy. Aku baik-baik saja, percayalah. Benar 'kan, teman-teman?" Hancock melirik kedua temannya yang memandangnya aneh.

"Yah… saat kita kemari, kau memang baik-baik saja," jawab Nami.

"Tapi wajahmu merah sekali, Hancock. Mungkin kau terkena demam," balas Robin khawatir.

"Su-sungguh, aku benar-benar baik-baik sa—" belum sempat Hancock mengelak, seluruh wajahnya terbakar seperti kepiting rebus(?) begitu Luffy mendekati wajahnya dan menempelkan dahinya di dahi Hancock.

WHATTTT!? Posisi super romantis ini otomatis menjadi sebab dari Zoro, Nami, dan Sanji jawdrop tiga meter. Beda lagi dari Robin yang sempat terkejut tapi malah senyum-senyum tidak jelas. Lalat-lalat yang sedang bingung mencari tempat peristirahatan jadi tertarik untuk mampir sebentar di tiga gua batu(?). Tapi tidak jadi lantaran bau busuk menyengat keluar dari gua-gua tersebut.

Sekitar lima detik Luffy sedang betah diposisinya, dia kemudian menarik dahinya kembali lalu mengatakan, "Benar juga. Suhu tubuhmu tidak panas,"

Mungkin, sebaiknya para pembaca harus bangkit dari tempat duduk agar segera menangkap Hancock yang kelihatannya sebentar lagi akan pingsan.


.

.


Café Canataria dipenuhi pengunjung dalam jumlah besar. Bahkan mereka tidak pernah kedatangan pengunjung sebanyak ini. Dengan menu baru mereka, café berhasil dipromosikan sekaligus semakin tenar berkat adanya anggota tidak lengkap Angels dan Five Princes. Luffy dan kawan-kawan sibuk lari kesana kemari, mencatat pesanan, mengantar pesanan, membersihkan meja dan sebagainya. Sedangkan kedua detektif kurang kerjaan kita bersembunyi dibalik tanaman pagar tepat didepan café bagian luar (Café Rayleigh terpisah dua bagian. Café bagian dalam dan bagian luar. Khusus untuk Luffy dan yang lainnya melayani pelanggan di bagian luar). Mengawasi keadaan menggunakan teropong. Mereka lebih mirip maniak sekarang.

"Oke, semua bersiap di posisi. Pasukan mie akan lebih dulu memasuki area 1 sesuai rencana. Kemudian pasukan bakpao dan pasukan biskuit menyusul atas aba-abaku, mengerti?" beda lagi dengan situasi para pelayan baru, Kuina malah bertingkah layaknya komandan tentara di pertempuran merebutkan wilayah. Walkie talkie terus beraksi sejak mereka bedua bersembunyi.

"Roger that!" balas sekelompok orang dari seberang.

"Good! Now, pasukan mie masuk ke medan perang!" ucapnya serius.

"Pasukan mie, pasukan bakpao, pasukan biskuit? Apa tidak ada nama pasukan yang lebih baik dari itu?" tanya Sabo sweatdrop melihat Kuina memberi nama asal pada orang-orang suruhannya.

"Berisik! Pokoknya lihat saja situasinya! Yo, Ace-san, pastikan matamu tidak lepas dari CCTV," Kuina mengindahkan protes Sabo dan memilih fokus pada misi.

Jawaban Ace dari walkie talkie milik Sabo terdengar, "Siap laksanakan! Kamera aktif di area 1,"

Mungkin pembaca jika berada didekat Kuina pasti bingung yang mana orang-orang yang dimaksud 'pasukan mie' mengingat ramainya pengunjung. Tetapi beruntungnya tidak ada satupun pengunjung yang datang dan duduk di siang hari nan panas itu karena kursi penuh atau sudah dipesan khusus. Sehingga mudah saja mengenali sekelompok orang yang masuk dari depan kanan café.

Dua cowok dan satu cewek cukup cantik dengan santainya menuju satu meja dengan lima kursi kosong. Bisa kita tebak bahwa meja itu bisa kosong berkat aksi nista Kuina. Dengan gaya preman, salah satu dari mereka berteriak, "Hoy, dimana pelayannya?"

Luffy dan Hancock sebagai pelayan posisi terdekat segera mendekati cowok sial sok bersikap bos itu. Begitu sampai, Hancock mengeluarkan buku catatan kecil dan pena, "Selamat datang di café Canataria. Anda ingin memesan apa?"

"Aku ingin pesan—MUGIWARA!?" cowok itu melotot angker setelah menyadari Luffy ada disampingnya menatapnya bingung.

"Hm?" Luffy tampak berpikir sejenak. Dia sepertinya tidak asing dengan orang ini, "Buggy?"

Oalah, ternyata si manusia badut jadi-jadian, Buggy. Berarti pasukan mie itu maksudnya Buggy dan anak buahnya? Ada-ada saja Kuina mengirim mereka kemari. Dan kalau dilihat dari terkejutnya Buggy, berarti Kuina tidak memberitahu bahwa Luffy bekerja di café itu.

"Kenapa kau disini?" tanya Luffy.

"Seharusnya aku yang tanya begitu! Kenapa kau disini?" tanya Buggy balik.

"Oh, aku bekerja seharian disini hari ini. Lagipula, tumben sekali kau ke café es krim. Bukannya biasanya ke kedai dango didekat sekolah kita?"

"Mana kutahu! Aku disuruh datang kemari oleh teman Alvida. Katanya apapun yang kumakan disini akan dibayar oleh temannya itu. Kalau tidak, untuk apa aku datang ke tempat milik Rayleigh-san ini?"

"Alvida?" gumam Luffy. Kemudian matanya beralih pada cewek yang duduk disamping Buggy, "Oh, hei, Alvida! Lama tidak jumpa!"

Hancock melongo sesaat begitu cewek bernama Alvida itu bangkit dari duduknya dan menarik Luffy untuk duduk disampingnya, "Luffy-kun, kau tahu? Aku rindu sekali padamu! Sejak urusan festival SMA, kamu jarang sekali aktif di sekolah,"

Luffy cuma cengengesan, "Ahahaha, apa boleh buat, aku sibuk sekali mengurus semua hal. Untung saja ada Hancock dan teman-temannya yang membantu kami,"

"Hancock?" Alvida tahu siapa cewek yang dimaksud Luffy. Siapa yang tidak mengenal Hancock? Dan Alvida juga tahu bahwa cewek yang sedang berdiri siap mencatat pesanan itu adalah dia! "Ooohh… kau bekerja sama dengannya?" lanjut Alvida lagi menatap Hancock jijik. Jujur, Hancock ingin sekali mendamprat cewek itu sekarang.

"Maaf menganggu momen kemesraan kalian. Tapi apa tidak ada satupun dari kalian ingin memesan?" Hancock tidak tahan lagi. Dia benar-benar ingin angkat kaki dari tempat itu sekarang juga. Melihat Alvida menyandarkan diri di bahu Luffy sukses membuatnya PANAS!

Brengsek! Apa-apaan cewek itu? Berani-beraninya dia bertingkah begitu didepan Hancock? Ahahaha! Ternyata langkah satu Kuina berhasil dengan sukses!

"Bawakan saja empat es krim menu baru itu lalu empat pancake dan empat dessert," jawab Galdino alias Mr. 3. Entah kenapa dia dipanggil begitu.

"Baiklah, es krim, pancake, dan dessert untuk empat orang…" gumam Hancock sambil mencatat. Tapi penanya nyaris patah saking emosinya karena mendengar Alvida mengatakan, "Luffy, kamu manis sekali dengan pakaian butler begini!"

Sialan! Emosinya benar-benar memuncak! Kenapa dirinya harus bekerja disini bersama Luffy!?

"Luffy!" panggil Hancock ketus. Tapi Luffy malah asyik berceloteh dengan Alvida, "Luffy!" panggilnya lagi.

Luffy pun kemudian menoleh, "Hm? Ada apa, Hancock?"

"Apa yang kau lakukan? Kita sedang bekerja sekarang! Ayo ke dapur!"

"Kau duluan saja. Aku masih belum selesai mengobrol dengan Alvida," jiah! Si bodoh Luffy benar-benar tidak peka. Apa dia tidak lihat aura-aura busuk keluar dari tubuh Hancock?

Sudah cukup. Hancock benar-benar muak. Dia tidak tahan lagi melihat pemandangan didepannya. Karena itu dia segera berlalu sambil menghentakkan sepatunya keras-keras. Buggy, Alvida, Luffy, dan Mr.3 bingung sendiri melihat Hancock kesal dengan alasan tidak jelas (Alasannya jelas sekali, bodoh!).


.


Sementara itu, Kuina terus mengawasi salah satu pasangan kita lewat teropong. Senyum setan tak lepas dari wajahnya saat mengetahui rencananya berjalan sesuai kehendak. Sabo pun juga terkekeh iblis mendengar ucapan Ace dari talkie walkie, "CCTV berhasil menangkap momennya. Sistem perekam dan sistem potret aman,"

"Oke, satu pasangan beres," gumam Sabo pelan, "Kuina, sekarang giliran pasangan kedua,"

"Copy that," Kuina segera menekan salah satu tombol talkienya dan bicara penuh perintah, "Pasukan bakpao, sekarang giliranmu!"

Terdengar helaan napas pasrah dari seberang. Mungkin pasukan bakpao ini diserang penyesalan karena terpaksa ikut dalam misi ini, "Aku cuma seorang. Untuk apa kau menyebutku pasukan?" suara seorang cowok yang dimaksud Kuina dengan 'Pasukan bakpao' menyahut.

"Sudah, jangan cerewet. Sudah kubilang, 'kan? Diantara ketiga pasangan, aku paling menginginkan bersatunya pasangan kedua. Jadi jangan sampai gagal," kata Kuina kesal cowok itu terlalu banyak protes, "Sabo, suruh Ace-san mengawasi area 2," lanjutnya lagi.

"Tak perlu. Aku sudah tahu," bukan Sabo yang menjawab, justru Ace. Jelas saja. Siapa yang tidak dengar suara perintah Kuina yang lebih mirip Ibu tiri itu?

.


Situasi Zoro-Robin …

.

Kalau café ini memiliki peraturan 'tebas semua orang yang cari masalah', maka sudah dilakukan Zoro dari tadi. Dia benci mengakuinya tapi berkat senyum brengsek nan manis Robin, banyak pengunjung yang selalu memanggilnya untuk hanya sekedar berkenalan, dan menjadikan 'memesan' sebagai alasan kedua. Sebenarnya Zoro senang saja aktif bekerja begini. Tapi melihat berkali-kali punggung tangan Robin diciumi pria-pria hidung belang, lama-lama dia tidak tahan juga.

Sama seperti sekarang. Dia harus menahan diri melihat seorang cowok berandalan sedang mencium punggung tangan Robin untuk kesekian kalinya. Padahal dia sudah selesai memesan. Dasar pengunjung brengsek.

"Sayang sekali kamu cuma bekerja di hari ini, Nico-san. Padahal aku rela datang setiap hari kemari jika yang menyambutku adalah gadis secantik dirimu," rayuan busuk dilontarkan preman itu.

"Ahahaha, kau terlalu berlebihan. Kalau begitu, kami permisi dulu untuk menyiapkan pesananmu," balas Robin kemudian berlalu sambil menarik lengan Zoro yang asyik mematung.

Robin sebenarnya menyadari perubahan suasana Zoro setiap kali pengunjung pria menggodanya. Tapi dia masih belum mengerti kenapa dia begitu. Karena itulah dia berusaha cuek sambil terus membawa Zoro ke dapur, tempat dimana para koki menunggu.

Begitu diambang pintu dapur, Robin berkata pada salah satu koki, "Pesanan untuk meja nomor 21, satu orang,"

"Yosh, apa pesanannya?" tanya sang koki.

"Emm, pesanannya…" Robin beralih pada Zoro yang masih diam, "Kenshi-san, apa pesanan dia tadi?"

Zoro mendelik tajam. Jadi dari tadi perempuan ini terus digoda tapi satupun pesanan dari berandalan itu tidak ada yang ingat? "Es krim menu terbaru, sukiyaki, dan kentang goreng," begitu Zoro menyebutnya satu-persatu, koki itupun segera mengambil bahan-bahan masakan yang diperlukan.

Sementara koki itu sibuk, Robin kembali lagi menarik lengan Zoro untuk kembali melayani pelanggan. Tapi kali ini, Zoro merasa ini sudah cukup dan melepaskan tangan cewek itu dari lengannya. Robin sedikit terkejut melihat sikap aneh Zoro. Tidak biasanya dia begini.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

Zoro mendengus kesal, ternyata dia baru tahu kalau Robin adalah cewek yang tidak peka, "Kau tanya 'kenapa'? Apa maksudmu?"

Robin menyipitkan mata. Dia tidak mengerti sama sekali apa mau Zoro, "Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kamu aneh seharian ini,"

"Aku aneh? Bukannya kau yang aneh disini?"

"Hah?"

"Jadi setelah menerima ajakan kencan Cavendish, kau berniat menerima ajakan kencan dari laki-laki lain yang menggodamu di café ini?"

"Ajakan kencan? Tunggu dulu, kalau kamu bicara soal Caven, aku masih belum menerimanya," elak Robin.

"Masih belum, eh? Berarti ada kemungkinan kau akan menyetujuinya?" emosi Zoro naik ke ubun-ubun.

Robin sedikit panik melihat Zoro sedikit…. Marah? "Zoro, kamu salah paham," Robin berusaha menormalkan pikiran Zoro bahwa ini bukan saatnya membicarakan itu. Mereka sedang bekerja, 'kan?

"Oh, ya? Lalu apa ciuman di punggung tanganmu itu? Apa kau selalu membiarkan mereka menciummu begitu?" Zoro tidak mau mengalah, saudara-saudara.

"Itu agar mereka lebih tertarik untuk memesan banyak. Kurasa setiap restoran ataupun café yang memiliki pelayan wanita pasti pernah melakukan itu," alasan logis dari Robin, "Lagipula kenapa kamu marah?"

TIK! Zoro membeku. Benar juga, kenapa dia harus marah? Tidak ada untungnya, 'kan? Mau berapa kalipun cewek didepannya ini dicium laki-laki, dia sama sekali tidak punya hak untuk marah. LALU KENAPA DIA SEKARANG TERLIHAT MARAH?

Robin menghela napas karena Zoro masih belum menjawab pertanyaannya. Kemudian dia tersenyum kecil sambil meraih tangan Zoro. Seketika Zoro tersadar dari lamunannya dan bingung apa yang akan dilakukan Robin. Perlahan Robin mengenggam tangan Zoro lalu mengarahkan punggung tangannya ke wajah Zoro. Zoro tidak mengelak, dia terus memerhatikannya.

Mata Zoro terbelalak saat bibirnya menyentuh punggung tangan Robin. Kulit hitam manis begitu lembut bisa dirasakannya langsung. Dan dia tidak tahu kenapa wajahnya tiba-tiba merona tipis. Melihat ekspresi Zoro berubah, Robin tertawa pelan. Sepertinya suasana hatinya kembali membaik.

"Kamu sudah senang sekarang, Zoro?" tanya Robin pelan. Zoro tidak menjawab, bibirnya masih menyatu dengan tangan Robin.

Bukan Robin yang menurunkan tangannya, tapi Zoro. Cowok berambut hijau lumut itu dengan perlahan menurunkan tangan Robin sambil tetap mengenggamnya. Hey, tunggu dulu! Bukan hanya dia yang melihat ini, 'kan? Dia yakin bahwa wajah Robin juga memerah.

Lama mereka saling bertatapan. Bahkan para pelayan lain yang berlalu lalang juga ikut heran melihat mereka bertingkah aneh dengan wajah seperti tomat busuk. Hingga akhirnya setelah entah berapa lama saling bertatapan, "Ro-Robin…" Zoro ingin mengatakan sesuatu, tapi—

"HOI, MARIMO! SEDANG APA KAU!? CEPAT KEMBALI BEKERJA!" teriakan nista Sanji berhasil merusak suasana diantara mereka dan spontan mereka berdua melepaskan genggaman satu sama lain sambil menoleh kearah lain.

Sanji brengsek! Apa dia tidak lihat situasi sekarang sedang genting? Padahal, penulis bersusah payah membuatnya romantis. Tapi koki mesum sialan itu merusaknya. Penulis yakin diujung sana Kuina sudah merutuk dalam hati.


.


Kuina nyaris meremukkan teropongnya melihat adegan romantis yang sangat tidak mungkin dialami Zoro gagal total berkat si alis pelintir. Sabo yang juga mengawasi dengan teropong cuma bisa menyengir.

"Brengsek! Apa-apaan Sanji itu!? Padahal tinggal sedikit lagi Zoro akan mengakui dirinya cemburu!" rutuk Kuina kesal.

"Hah? Memangnya kau bisa mendengar percakapan mereka? Aku memang tahu suasananya jadi rusak, tapi dari jarak sejauh ini mana bisa terdengar apa yang mereka bicarakan,"

"Aku meminta Rayleigh-san memasang alat penyadap suara di pakaian mereka," jawab Kuina singkat sambil menunjuk ear zoom yang menempel ditelinganya.

"Heee…." Sabo mengusap-usap dagunya, "Ace, apa kau berhasil mendapatkan momennya?" tanya Sabo pada Ace kembali memastikan.

"Semuanya aman terkendali. Bahkan aku berhasil mengabadikan adegan ciuman singkat itu," jawab Ace santai.

"Hoooo!" Sabo dan Kuina jadi naik semangatnya berkat hasil kerja Ace, "Kita akhirnya punya satu foto spektakuler lagi!" Sabo dan Kuina tos di udara(?), ck ck ck (Omong-omong, Kuina sudah tahu soal foto nista hasil jepretan Ace dan Sabo itu sebelum berangkat ke cafe).


.


"Apa yang kau lakukan dengan Robin-chan, kepala lumut?" biarkan ketiga detektif kita sedang bersuka cita. Lebih baik kita kembali melihat Sanji yang malah menginterogasi Zoro seperti penjahat tertangkap basah. Untung saja dia tidak melihat adegan kecupan singkat itu.

"Memangnya apa yang kulakukan?" tanya Zoro balik.

"Kau tadi menggenggam tangannya!" balas Sanji.

Zoro mendelik kenapa Sanji harus protes soal itu, "Apa salah aku menggenggam tangannya?"

"SALAH!" jelas, 'kan? Namanya juga si koki pecinta wanita. Nami disikat, bahkan sampai Robin juga, heleh-heleh.

"Dia itu bukan pacarmu, alis pelintir sialan!" alasan yang bagus, Zoro.

"Walaupun bukan, tapi bukan berarti kau seenaknya saja menyentuh tangannya!"

Robin cengengesan melihat kedua cowok itu malah bertengkar karena dia. Kemudian, dia menyadari kedatangan Nami yang membawa nampan kosong kearah mereka. Tampak raut bingung di wajah Nami, tapi langsung berubah menjadi malaikat pencabut nyawa saat Sanji malah meninggalkannya seenaknya melayani pelanggan, sementara dia disini.

PLETAK! Nampan Nami sukses singgah di kepala Sanji sampai cowok itu jatuh menyusruk lantai. Zoro dan Robin melongo. Dan belum sempat mereka menyelamatkan Sanji dari amukan Nami, Nami sudah lebih dulu menarik rambutnya dan menatap wajahnya.

"Dengar, cowok sialan! Aku tidak peduli kondisimu bagaimana tapi aku tidak ingin kehilangan 12000 yenku hari ini! Jadi lebih baik bekerja samalah denganku sebelum aku mematahkan semua tulangmu yang akan membuatmu menyesal telah berurusan denganku, kau mengerti?" seru Nami ditelinga Sanji. Mari berharap semoga Sanji tidak akan memiliki gangguan pendengaran setelah ini.

"Ha, Ha'i, Nami-san…" jawab Sanji pelan. Setelah itu, Namipun melepaskan rambut Sanji dan kembali lagi cowok itu jatuh terduduk di lantai. Robin sweatdrop parah. Ternyata salah satu sobatnya ini memang lebih mengutamakan uang daripada cowok. Kasihan Sanji, ck ck ck.

"Oh, ya, Robin, ada yang mencarimu," lanjut Nami lagi menoleh pada Robin.

"Mencariku? Siapa?" tanya Robin bingung.

Serius, Zoro berfirasat bahwa yang mencari cewek sial itu pasti LAKI-LAKI.

"Law, di meja nomor 34," jawaban singkat dari Nami sukses membuat ketiga orang itu menyipitkan mata.

Law? Trafalgar Law maksudnya? Untuk apa teman Franky datang kemari untuk mencari Robin? Sanji dan Zoro mulai menebak-nebak, sedangkan Robin menggangguk paham lalu kemudian berlalu dari mereka.

.


Sementara itu di ruang pengawasan…

.

"Law? Apa yang dia lakukan disini?" gumam Ace jauh lebih bingung melihat salah satu kenalannya ada di café ini. Dia yakin tidak salah mengenali walaupun lewat kamera pengawas, "Hey, Kuina, apa dia salah satu suruhanmu?"

"Tepat sekali, Ace-san. Hari ini dia akan menjadi ujian cinta bagi Zoro. Dia kunobatkan sebagai pasukan bakpao!" balas Kuina percaya diri. Ace menyengir mendengar nama konyol pasukan ciptaan Kuina.

"Memang dia punya hubungan apa dengan Robin?" terdengar pertanyaan Sabo juga dari walkie talkie milik Ace. Sama sepertinya, Sabo juga heran kenapa Law harus terlibat dengan ini semua.

"Law itu teman masa kecilnya. Mereka cukup akrab," balas Kuina, "Sudahlah, awasi saja mereka, Ace-san. Jangan sampai kehilangan momen bagus!"

"Aku tahu," Ace langsung menekan tombol yang mengubah seluruh layar pengawas khusus untuk meja Law.


.


Trafalgar Law. Cowok satu sekolah dengan Luffy dan kawan-kawan menjadi penentu hubungan ZoRobin selanjutnya sedang duduk manis menunggu kedatangan Robin. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Kuina sudah menceritakan semuanya dan akhir misi pasangan kedua ada ditangannya. Dia tidak boleh gagal. Lagipula dia juga tertarik dengan fakta bahwa Robin memiliki hubungan MENARIK dengan Zoro.

Dilihatnya Robin datang mendekat padanya, ekspresi segera berubah. Ekspresi misi aktif! Dan saat Robin sudah berdiri didepannya, dia langsung berkata, "Lama tidak bertemu, Robin? Bagaimana kabarmu?"

Robin tersenyum simpul, "Aku baik-baik saja. Omong-omong kamu tahu darimana kau disini?"

"Yah, kau tak perlu tahu siapa itu," oh ayolah, yang benar saja dia harus mengatakan kalau Kuina yang menyuruhnya kemari, "Maukah kau menemani teman lamamu ini mengobrol sekitar lima menit dengan es krim terenak di café ini?"

Robin terdiam sejenak. Tanpa membalas, dia tersenyum (lagi) dan berbalik menuju dapur.


.

.


Dapur umum, tepatnya ruangan khusus para pelayan menunggu pesanan siap diantarkan, Nami terkejut melihat Hancock kerepotan membawa pesanan sendirian. Tapi lebih tepatnya diajauh lebih terkejut menyadari bahwa si Monkey bungsu bodoh itu tidak ada disampingnya. Mana dia? Kabur?

"Hancock, mana Luffy?" tanya Nami penasaran dari belakang Hancock.

Hancock tidak menjawab. Dia lebih memilih meletakkan cangkir-cangkir es krim pada nampan, "Hoi, Hancock, kau dengar aku?"

"Dia sedang berkencan," jawab Hancock singat dengan nada datar lalu pergi begitu saja membawa serta nampannya menuju bagian depan café.

Nami melongo. Dia tidak salah dengar, 'kan? Luffy? Si bodoh itu sedang berkencan? Memang dia punya pacar? Orang bodoh mana yang mau berpacaran dengannya? Sebelum muncul pemikiran aneh dikepalanya, Nami segera keluar dari ruangan, berniat mengejar Hancock. Tapi tidak jadi berkat dia tidak sengaja melihat Zoro sedang melayani pelanggan tidak jauh darinya.

Dengan santai si kepala lumut itu mengeluarkan notes kecil dan berkata pada pelanggan, "Apa pesananmu, keparat?"

Krik-krik, krik-krik….

Pelanggannya cengo. Nami tepuk jidat. Memang keputusan yang salah meminta Zoro melayani pelanggan.

"Kutanya, apa pesananmu, bedebah?" lagi-lagi kalimat penuh sensor.

"Hei, begitukah caramu melayani tamu?" tamu mengamuk. Itu sudah jelas. Siapa yang tidak marah dipanggil begitu? Dasar Zoro bodoh.

"Sebelum kau protes, aku tahu kau adalah salah satu pria yang mencium punggung tangan rekan kerjaku tadi. Jadi kurasa aku tidak perlu bersikap baik padamu," ohohoho! Ternyata Zoro menghapal semua pria yang menggoda Robin, saudara-saudara! Kuina diujung sana bertos-tos tidak jelas dengan Sabo saking senangnya. Mereka sekarang sangat yakin kalau Zoro CEMBURU, hahaha!

"Kalau kau bicara seperti itu lagi, aku tidak mau bayar!" ucap pelanggan itu serius. Dia marah sambil berdiri dan menggebrak meja dengan kasar. Beruntung karena suasana ramai, situasi itu tidak jadi pusat perhatian.

BUAGH! Siku kanan Zoro menyikut kuat dagu pelanggan itu sampai dua giginya tanggal. Darah menetes dari mulut pria itu. Sedangkan Nami menutup mulutnya saking shock melihatnya.

APA-APAAN SI ZORO ITU!?

"A-apa yang kau lakukan!?" teriak si pelanggan.

"Ah, maaf. Kepalaku jadi gatal karena mendengar omong kosongmu. Jadi sikuku tidak sengaja mengenaimu tadi…" jawab Zoro santai sambil menggaruk pelan belakang kepalanya, "Tapi kalau kau masih ingin melanjutkan omong kosongmu, mungkin berikutnya bokongku yang akan terasa gatal dan lututku akan mendarat diwajahmu. Mau?" Zoro menekankan kalimatnya dengan aura-aura membunuh. Pria itu jadi bergetar karena ketakutan.

"Ti-tidak… a-aku pasti akan membayar…" jawab pria itu pasrah, hahaha! Malang sekali nasib pria itu harus berhadapan dengan Zoro hari ini.

Sebelum Nami berniat mendekati Zoro, membujuknya untuk tidak terlalu emosi pada pelanggan, Robin ternyata sudah kembali dan masuk ke dapur. Niat dibatalkan. Nami memilih mengikuti Robin. Dia mendengar temannya itu menyebutkan pesanan pada salah satu koki, tapi tidak segera berlalu untuk menemani Zoro bekerja, malah berdiam diri disitu.

"Robin, tidak kembali bekerja bersama Zoro?" tanya Nami.

"Ah, Law memintaku untuk menemaninya mengobrol, hanya lima menit. Setelah itu aku akan bekerja lagi," jawab Robin.

Nami membulatkan bibirnya, dia mengerti. Lagipula tidak ada salahnya menemani sebentar teman lama, 'kan? Dan bicara soal menemani, Robin dan Nami menyipitkan mata ketika menyadari Hancock kembali ke dapur untuk mengatakan pesanan pelanggan. Disisi lain, mereka takjub juga melihat teman mereka segiat ini. Tapi Luffy tidak bersamanya.

"Hancock, Luffy tidak bersamamu?" tanya Robin pada Hancock yang berdiri menunggu pesanan siap antar.

Raut wajah Hancock dari serius berubah menjadi kesal. Dia melipat lengannya sambil menoleh kearah lain. Dia tahu pasti teman-temannya akan bertanya kenapa Luffy tidak bersamanya. Tapi dia benar-benar tidak ingin membahas itu sekarang.

"Tidak tahu," jawab dia asal.

"Bukankah katamu dia sedang kencan?" sahut Nami.

"Kencan?" kali ini Robin yang penasaran, "Luffy kencan dengan siapa?" suatu rekor Luffy yang tidak peka itu mengerti berkencan.

"Mana kutahu. Tanya saja padanya," balas Nami menunjuk Hancock yang masih terdiam.

"Bisakah kalian tidak menyebut namanya didepanku?" ucap Hancock ketus. Dia hanya ingin menghapus keberadaan Luffy dan Alvida dikepalanya, "Lagipula kalian sendiri kenapa sendirian? Mana Sanji dan Zoro?"

"Justru aku kemari mengambil pesanan untuk memberikannya pada Sanji," jawab Nami logis.

"Aku juga sama. Mengambil pesanan untuk diberikan pada Zoro sementara aku mengambil pesanan untuk pelanggan lain," sambung Robin.

Cih, Hancock merutuk dalam hati. Ternyata hanya dirinya yang paling sial diantara mereka. Pasangan kerjanya malah memilih makan sambil mengobrol dengan cewek lain sementara dia bekerja mati-matian.

"Pesanan meja 34, meja 50, meja 56, meja 12, meja 22 dan meja 73 sudah siap!" teriak salah satu koki dari arah dapur. Sontak ketiga tokoh utama cewek kita bergerak untuk mengambil pesanan.

Mereka mengambil pesanan-pesanan itu dengan sigap dari meja makanan. Begitu keluar dari dapur, Robin menyadari keberadaan Luffy yang tidak jauh dari mereka, bersama dengan sekelompok orang yang cukup dikenalnya. Diperhatikannya orang-orang itu dengan seksama.

Cowok itu sedang bersama Buggy dan teman-temannya, huh? Pikir Robin pada awalnya. Tapi saat melihat Alvida menyuapi Luffy, akhirnya dia mengerti kenapa suasana hati Hancock berubah. Dia menoleh pada Hancock yang bersiap pergi mengantar pesanan. Dia memutuskan dia harus menghentikan langkah ketua gengnya itu sebelum salah paham semakin menjadi-jadi.

Hancock terkejut Robin menghalangi jalannya, "Robin, kenapa kau—"

"Percayalah, Luffy tidak punya hubungan apa-apa dengan perempuan manapun. Kau tidak perlu cemburu. Lebih baik sekarang antarkan saja pesanan itu lalu paksa Luffy kembali bekerja, mengerti?"

Wajah Hancock kembali memanas. Robin tersenyum kecil lalu pergi dari sana untuk memberikan pesanan pelanggan yang Zoro berikan pada koki sebelum Zoro meninggalkan dapur sebelumnya.

Hancock kembali memikirkan perkataan Robin dipikirannya. Err, ini tidak mungkin, 'kan? Dia cemburu pada Luffy? Berarti selama ini, Hancock…

"Aku menyukai si idiot itu?"


.

.


"Kau mau ke tempat Law lagi?" tanya Zoro langsung ke intinya begitu Robin selesai memberikan pesanan pelanggan padanya.

"Ya, dia ingin mengobrol denganku. Kenapa?"

"Bisakah kita fokus bekerja, perempuan? Kenapa kau malah memusatkan perhatianmu padanya?" tampak jelas nada cemburu dari perkataan Zoro. Yah, meski dia tidak mau mengakuinya.

"Fufufu, Zoro, kamu ini…" Robin merasa lucu dengan sikap kekanakan Zoro. Dia kemudian mencubit pelan pipinya gemas. Zoro melongo Robin bersikap begini padanya. Dan ketika dia berniat menghentikan Robin, cewek itu lebih dulu berkata, "Tunggu sebentar. Aku pasti akan kembali," kemudian Robin melangkah menuju Law menunggunya.

Zoro menyentuh pipinya yang barusan dicubit pelan Robin. Perlahan-lahan dia mengelusnya dengan bibir sedikit terbuka. Dia benci mengakui ini, tapi dia suka saat Robin menyentuhnya. Yah, bukan dalam artian mesum.

Eh? TIDAK! TIDAK BOLEH! Zoro kembali teringat taruhannya dengan Kuina. Dia tidak boleh cemburu pada Robin karena Law! Dia tidak ingin kalah! Dia harus membuktikan pada Kuina kalau selama ini dia salah. Dia tidak jatuh cinta pada siapapun, terutama Robin (keras kepala, lagi-lagi).

Tanpa disadari Zoro, Sanji dan Nami terus memerhatikan mereka. Dari gerak-gerik bahkan percakapan. Sanji sejujurnya lebih tidak terima saat Robin mencubit pelan pipi Zoro, sedangkan Nami mencium sebuah keanehan sejak mereka mulai bekerja.

"Hei, Sanji-kun, bukankah ini aneh?" tanya Nami.

"Hah? Apanya yang aneh?"

"Sejak kita mulai bekerja, dari tadi berdatangan orang-orang yang tidak mungkin datang kemari. Contohnya Buggy, Alvida dan Mr.3…" Nami menunjuk Buggy dan yang lainnya yang duduk cukup jauh. Entah bagaimana dia bisa mengenal badut bodoh itu, "Lalu sekarang Law…" lanjutnya menunjuk Law yang tersenyum melihat Robin datang dengan es krim pesanannya.

"Lalu kenapa? Tidak ada yang aneh menurutku," komen Sanji tidak mengerti.

"Tidak. Kursi mereka itu memang kosong dari awal. Itu artinya itu kursi pesanan. Tapi anehnya tidak ada pelayan khusus yang melayani mereka, padahal mereka sudah memesan lebih dulu…"

"Err, jadi?"

"Jadi itu artinya mereka datang kemari atas pesanan dari orang lain. Pasti ada yang menyuruh mereka datang," tepuk tangan dan kaki anda untuk nona Nami si jenius! Ternyata dia NYARIS menyadari bahwa Kuina, Sabo, dan Ace dalang dibalik ini.

"Lagipula, orang-orang itu terlihat mencoba memisahkan kita. Contohnya Luffy dan Hancock. Sekarang Zoro dengan Robin," Nami terus menganalisis fakta seperti detektif.

"Tenang saja, Nami-swan! Tidak ada satupun yang dapat memisahkan cinta kita!" lain lagi dengan Sanji. Si bodoh itu malah jatuh pada kesimpulan yang salah. Sekarang matanya sudah berubah jadi mata lope-lope. Nami sweatdrop.

"Bukannya tadi kau sempat berpisah dariku karena tergoda dengan pelanggan wanita?" batin Nami tidak habis pikir kenapa dirinya harus berakhir bersama si mesum ini.

Oh, Kami-sama, sampai kapan diriku harus berada di tempat menyebalkan ini? Nami tertunduk lesu dan pasrah ketika Sanji menyeretnya menuju pelanggan selanjutnya. Lama-lama dia bisa mati terbunuh disini sebelum dia dibayar. Oke, kali ini Nami terlalu lebay walau fakta membuktikan.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: YOOOOOOO, CHAPTER 9 SUDAH SELESAI! Lanjut ke chapter 10! Silahkan tinggalkan saran, kesan, dan ide anda pada kotak review. Sampai jumpa!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^