SYMBOL OF REVENGE
Chapter#9
KASUS PENCURIAN JANTUNG PARA PENYIHIR
Rate: M
.
.
.
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], High School DxD [Ichie Ishibumi]
Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary:
Penyelamat? Pahlawan? Ksatria? Tidak… Aku tidak tertarik menjadi sesuatu semacam itu… Hanya dendam.. Dendam yang kubawa sejak perang besar antara Kerajaan Kerajaan besar.. Perang yang menghancurkan kebahagiaanku… Dendam ini berubah menjadi sumber kekuatan.. Dan dengan kekuatan ini, akan kutuliskan namaku di kepala para Raja itu.. diriku sebagai symbol pembalasan dendam..
Don't Like Don't Read
Ide ini muncul setelah author mendengarkan lagu opening No Game No Life.. Entah kenapa.. Padahal gak ada hubungannya sama cerita ini..
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Tepat setelah rapat antara pihak Akademi Aincrad dan Akademi Kuou selesai, dilaporkan bahwa seseorang telah menjadi korban, salah satu penyihir yang sedang berpatroli di daerah Akademi. Jasad nya ditemukan oleh salah seorang murid dari Akademi. Pada bagian dada kiri korban terdapat lubang menandakan jantungnya telah diambil oleh Kakuzu. Setelah kematian penyihir dari pihak Satuan Penyihir Keamanan Kerajaan (anggap aja kek polisi), berita ini menyebar luas ke seluruh Aincrad dan membuat warga semakin cemas.
.
.
.
.
.
Saat ini Naruto tengah mengembangkan dan mengontrol kekuatannya lewat sebuah latihan pengontrolan kekuatan sihir yang dia lakukan setiap sore hari sepulang dari Akademi. Latihan yang dia lakukan ini berfungsi untuk meningkatkan kontrolnya terhadap sihir sihir khusus yang dia ciptakan. Dia memiliki lima sihir khusus… [Crow Vision], [Perfect Illusion] dan [Alternative Core] merupakan tiga dari kelima sihir tersebut.
"Haah~… Ini sungguh melelahkan, lebih melelahkan dari yang kukira."
"Kau baik baik saja?"
Naruto melirikkan matanya ke sisi lain di ruang latihan di dalam rumahnya. Sambil menghela nafas, dia mengambil botol minuman yang ada di sebelahnya kemudian meminumnya hingga habis. Lalu Akeno yang duduk di sebelahnya memberikan sedikit tatapan kekhawatiran padanya.
"Aku tidak akan membiarkan pencuri jantung itu berkeliaran... Akan kupastikan dia kutangkap dengan tanganku sendiri.."
Mendengar perkataan Naruto barusan, timbul sebuah pertanyaan yang mengganggu Akeno, berhubungan dengan pembunuhan Hyuuga dan rombongannya.
"Kenapa kau sangat ingin menangkap Kakuzu, Naruto-kun?"
"Hmm? Kenapa? Dia adalah kriminal besar yang mencuri jantung jantung dari penyihir tidak bersalah.. Aku akan menangkapnya,"
Mendengar jawaban itu keluar dari mulut Naruto, tentunya membuat Akeno terkejut.
"Kau ingin menangkapnya? Karena dia telah membunuh dan mengambil jantung para penyihir tidak bersalah?" tanya Akeno.
"Hmm..
Jawab Naruto singkat sambil menganggukkan kepalanya sekali. Dan seketika itulah timbul pertanyaan baru di benak Akeno.
"Kau sungguh aneh, Naruto-kun… Kau yang berada di sisi kegelapan.. dan bahkan tak segan segan membunuh rombongan pedagang Hyuuga yang tidak bersalah…, bilang ingin menangkap Kakuzu karena mengambil jantung para penyihir tak bersalah?"
Naruto masih dengan ekspresi santai, mengalihkan tatapannya ke Akeno dan memandangnya cukup lama sebelum akhirnya dia kembali menatap ke depan.
"Kau mengira bahwa para rombongan pedagang yang kubunuh itu tidak bersalah?"
Akeno sedikit mengerutkan keningnya. Dia memang sudah bersumpah akan bersama Naruto, dan sejujurnya sudah berniat mengorbankan segalanya demi tujuan Naruto, tapi setelah beberapa hari ini dia terpikir akan tujuan Naruto.., kenapa pula dia harus menghabisi orang orang tak bersalah? Dia hanya ingin balas dendam bukan?
"Akeno… Aku memang berada di sisi kegelapan.. tapi aku tidak membunuh dan membantai tanpa alasan.."
Akeno memiringkan kepalanya tidak paham. "…? Jadi maksudmu para pedagang itu bersalah?"
"Ah~… Sekitar 6 bulan yang lalu.., aku melihat sendiri setelah aku mendengar kabar dari pasar gelap… para rombongan pedagang yang bersama Hyuuga, mereka semua.. menjual senjata ilegal, sihir terlarang, dan barang barang gelap lainnya untuk kebutuhan perang dan kepentingan jahat lainnya. Akibatnya banyak orang tak bersalah tewas salah satunya adalah kejadian sebuah desa di pinggir Kerajaan hancur karena serangan dari bandir bandit bawahan Hidan yang membeli senjata dari mereka..,"
Fakta yang diucapkan Naruto barusan sedikit mengejutkan Akeno. Naruto bukan membunuh tanpa alasan tetapi memberi mereka hukuman.
"Tak usah menatapku seperti itu… Meski begitu pun aku tetap seorang penjahat, aku bermain hakim sendiri.. yang menurutku benar untuk kulakukan," jawab Naruto kemudian bangkit berdiri.
"Tapi..!"
"Akeno!" panggil Naruto segera sebelum Akeno menyelesaikan kalimatnya.
Naruto berjongkok kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Akeno hingga wajah mereka berdua hanya terpisahkan beberapa centimeter. Akeno menatap mata indah biru laut Naruto dan begitu pula sebaliknya Naruto menatap Akeno. Sungguh tak bisa dipercaya oleh Akeno bahwa pemilik mata ini biru laut yang indah ini telah membantai banyak orang.
"Akan kukatakan sekali lagi, Akeno…"
"Jangan pernah menganggapku orang yang baik… Karena aku ini berada disisi kegelapan, aku memiliki tujuan membantai para bangsawan dan membakar seluruh istana Kerajaan.. Aku tidak berniat jadi pahlawan atau apapun itu! …Semua yang kulakukan hanyalah demi tujuan dan kepuasan kami bertiga semata.."
Kata Naruto dengan nada yang sedikit dingin dan dijawab sebuah anggukan oleh Akeno.
"Kukira kau sudah paham saat memutuskan bergabung bersama kami.."
"Aku paham… Aku bahkan sudah siap dikuasai kegelapan bila harus membunuh dan membantai.. hanya saja…, aku…"
Kata Akeno terputus sambil mengalihkan tatapannya dari Naruto.
"Hanya saja apa?"
Akeno mungkin terlihat sedikit ragu untuk mengatakannya..
"…Hanya saja, aku ingin tahu… apa yang kau pikirkan… aku ingin tahu seperti apa dirimu… karena aku sudah memutuskan untuk bersama denganmu selamanya…, bahkan bila neraka menanti kita… aku ingin lebih dekat serta tau segalanya mengenai laki laki yang kucintai," jawab Akeno dengan rona merah di wajahnya sambil menatap Naruto. Meski terdapat rona mereh di wajahnya pun, kesan wanita dewasa atau kesan seorang onee-san pun tetap tak bisa dihilangkan darinya. Seharusnya itu pun memiliki daya tarik yang tersendiri bagi kebanyakan laki laki.
Sayangnya tidak untuk Naruto yang sudah sedikit kehilangan kemanusiaannya…
"Hah~… Akeno.."
"Kau tidak perlu tau segalanya tentangku… Kau hanya harus bersamaku dan menjadi wanita ku yang akan membantuku meraih apa yang kumau. Itu hakmu bila kau mencintaiku, tapi kukatakan padamu bahwa aku tidak akan pernah mencintai lagi.." jawab Naruto dengan nada dingin.
Mendengar jawaban yang begitu dingin dari Naruto, Akeno hanya bisa tertunduk kecewa lalu menganggukkan kepalanya mengerti.
"Ya.. tidak akan lagi.." kata Naruto pelan.
Pada saat mengatakan itu, entah kenapa dia teringat dengan Rossweisse yang sudah menjadi bagian dari Uchiha. Meski dia sudah tau bahwa dia harus membunuh Rossweisse dan sudah membuang perasaan cinta yang wajarnya dimiliki setiap manusia, tapi tetap saja masih sulit bahkan bagi Naruto yang penuh akan kegelapan. Dia terkadang masih memikirkan apa yang dilakukan oleh Rossweisse dan Sasuke saat di kediaman Uchiha. Dia tak bisa berhenti untuk tidak memiliki rasa membunuh yang begitu kuat kepada keduanya.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, di Akademi Aincrad
"Oke, minna… Mari kita belajar dan buat hari ini seperti hari biasanya! Tidak ada yang perlu ditakutkan, para penyihir yang berpatroli merupakan satuan murid gabungan dari wakil Akademi Kuou dan wakil Akademi Aincrad dan mereka semua merupakan penyihir yang hebat, salah satunya adalah Naruto. Murid dari Akademi Aincrad yang telah membunuh Hidan seorang buronan kelas S yang dijuluki 'Si Manusia Abadi'."
Dan itulah sepenggal kata kata singkat dari dua idola sekolah yang juga merupakan Wakil Ketua Dewan Siswa, Koyuki dan Sara. Kata kata mereka setidaknya dapat membuat murid murid di Akademi menjadi lebih tenang meski ada buronan kelas S yang sedang berkeliaran di sekitar mereka.
"Hmm… Tak kusangka Dewan Siswa ternyata lebih dari mampu untuk menenangkan murid murid Akademi dari ancaman buronan sekelas Kakuzu," kata Ultear menatap ke sebuah alat sihir di salah satu sudut gerbang sekolah yang fungsinya untuk menampilkan suara pengumuman atau bahkan gambar.
"Dulio… dia bertindak cepat sebagai Ketua Dewan Siswa…, kuakui dia merupakan pemimpin yang baik di Akademi ini,"
Kata Naruto yang terdiam di samping Ultear sambil melihat ke arah yang sama dengan Ultear.
"Aku sedikit ragu Kakuzu akan muncul kembali di Akademi setelah berita ini menjadi hangat di perbincangkan," tambah Ulquiorra.
Naruto mengalihkan pandangannya ke depan melihat situasi yang tampaknya bisa dikendalikan oleh Dewan Siswa. Tak hanya beberapa murid unggulan dari tahun pertama hingga ketiga namun juga terlihat beberapa penyihir dari Satuan Penyihir Keamanan Kerajaan bahkan ksatria dan penyihir Kerajaan pun ada disana. "Hmm.. Mereka bahkan meminta ksatria dan penyihir Kerajaan untuk berjaga di Akademi ini," kata Ulquiorra.
"Bagaimana dengan respon dari Grigori?" tanya Ultear kepada Naruto.
"Aku sudah menanyakannya kepada Akeno kemarin. Azazel-sensei juga sudah menempatkan beberapa penyihir kelas atas untuk berjaga di Akademi."
Seharusnya kejadian kemarin adalah sebuah pukulan telak bagi Grigori karena sesungguhnya wilayah Akademi ini dikendalikan oleh mereka. Tapi justru keamanan mereka bisa dilewati oleh Kakuzu hingga menyebabkan salah satu orang yang berpatroli mati dengan jantung yang terambil. "Dengan adanya pihak dari Akademi Kuou.., tentu membuat kita semakin terbantu seharusnya.." kata Ultear.
"Kita belum bisa menyimpulkan.. Memang benar pria bernama Sairaorg itu cukup kuat, dan mereka juga memiliki [Red Dragon Emperor].. tapi kau lihat cara bertempurnya kemarin saat menyerang Naruto? Dia sangat gegabah… Dan itu bisa membuatnya kehilangan nyawanya saat harus bertarung melawan musuh yang licik seperti Kakuzu,"
Mendengar pendapat Ulquiorra, Ultear setuju. Menurutnya pun juga sama, Issei merupakan orang yang gegabah. Dia bisa mati karenanya. Mungkin justru orang seperti dia lah yang akan merepotkan pihak Akademi Aincrad dalam menangkap Kakuzu.
"Jadi, apa kau memiliki rencana untuk bisa menangkap Kakuzu?" tanya Ultear mengalihkan pandangannya ke arah Naruto.
"Saa~… Nampaknya aku memiliki beberapa rencana bagus untuk memancing si brengsek itu keluar," jawab Naruto dengan sedikit senyuman dingin.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
'Hari ini belum ada laporan sedikit pun mengenai Kakuzu..' kata Naruto dalam hati saat jam pelajaran sedang berlangsung.
Saat ini, apa yang menjadi fokusnya bukanlah pelajaran Sahariel-sensei mengenai Magical Beast tapi sebuah rencana untuk menangkap Kakuzu. Dia sebenarnya sudah memikirkan rencana ini sejak tadi, akan tetapi dia butuh bebarapa orang untuk membantunya.
'Kakuzu ya… Menurut data yang ada, dia mengincar jantung para penyihir pengguna [Elemental Magic] yang kegunaannya untuk menambah umur serta memperkuat sihirnya.. Dia adalah pengguna lima elemen yang jarang ditemui atau bisa dikatakan sangat langka..'
Murid murid Akademi melakukan kegiatan mereka seperti biasanya, pelajaran pun berlangsung seperti biasanya dan belum ada laporang mengenai kemunculan Kakuzu dari berbagai tim yang sedang berpatroli atas perintah Kepala Sekolah Azazel. Namun meski begitu, bukan berarti mereka bisa tenang, karena ada dugaan bahwa Kakuzu menyamar menjadi salah satu petugas sekolah atau bahkan menyamar menjadi salah satu penyihir Kerajaan. Oleh karena itu, tanpa memberitahu Dulio, Dewan Siswa atau yang lainnya… Naruto berniat mengumpulkan beberapa orang yang dia butuhkan dalam rencananya untuk menangkap Kakuzu saat jam istirahat sedang berlangsung. Mereka adalah Ultear dan Ulquiorra yang sudah pasti kemudian ada Kyuubi, Gaara dan Samui.
Suara bel berbunyi tanda berakhirnya pelajaran dan istirahat…
"Baiklah, kita lanjutkan minggu depan pelajaran mengenai Magical Beast ini…" kata Sahariel mengemasi buku bukunya sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Baik.."
Siswa siswi kelas A tahun pertama segera berhamburan meninggalkan ruang kelas untuk pergi ke cafeteria atau makan siang di taman. Tempat tempat seperti itu sangat ramai dikunjungi oleh siswa siswi ketika istirahat. Sedangkan Naruto… dia lebih memilih untuk pergi mencari Kyuubi, Samui dan Gaara yang bisa membantunya menangkap Kakuzu. Dia bangkit dari kursinya kemudian berjalan ke arah pintu keluar kelas sebelum sebuah suara memanggilnya…
"Naruto-kun!"
Naruto menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Dia melihat seorang gadis cantik dengan rambut putih indah panjangnya sedang menatapnya penuh harapan. 'Apa maunya?'
"Ada yang bisa kubantu, Otsutsuki-san?"
Kaguya menampakkan ekspresi wajah kesal tidak terima dengan panggilan Naruto barusan. "Sudah kubilang untuk tidak memanggilku dengan nama keluarga ku, Naruto-kun.., kau bisa memanggilku Kaguya,"
Naruto memutar kedua bola matanya lalu menjawab, "Baiklah.. Jadi apa yang bisa kubantu, Kaguya-san?"
"A-A-Apa aku boleh tau… kemana kau akan pergi..?" tanya Kaguya sambil mengalihkan pandangannya dan sesekali melirik ke arah Naruto.
'Untuk apa dia bertanya? Kenapa gadis ini suka sekali mencampuri urusan orang lain?' batin Naruto.
"Aku akan pergi menemui Senju-san untuk meminta bantuannya.."
Mendengar jawaban Naruto, Kaguya langsung meresponnya terkejut. Naruto berniat mencari Kyuubi untuk meminta bantuannya. Kenapa harus Kyuubi? Kenapa bukan dirinya yang lebih dekat dan tak perlu jauh jauh sampai harus berjalan hingga ke kelas D.
"K-Kenapa kau tidak meminta bantuanku saja, Naruto-kun?"
"Hmm.. Karena Kyuubi mengenal dua orang yang bisa kumintai tolong juga,"
Ketika mendengarnya, Kaguya hanya bisa menaikkan satu alisnya sambil berucap, "Ha?"
"Aku ingin meminta tolong kepada gadis bernama Samui dan juga laki laki bernama Gaara itu, mereka berdua merupakan murid pindahan dari cabang luar,"
Kaguya dengan ekspresi merengek langsung menggenggam tangan Naruto untuk menahannya pergi. "Kalau begitu, aku ikut denganmu!"
Naruto langsung menatap Kaguya yang masih memasang wajah penuh harapan. "K-Kaguya-san…"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Pada akhirnya Naruto harus rela dirinya diikuti oleh Kaguya hingga dia sampai di kelas D. Sedikit menyebalkan baginya karena gadis ini merengek tanpa alasan yang jelas dan memintanya untuk ikut bersamanya. Terlebih dia juga memaksa Naruto untuk menerima bantuan darinya meski Naruto sendiri tidak memintanya. Bahkan karena gadis ini, dia jadi diperhatikan di sepanjang lorong menuju kelas D. Sungguh sebenarnya murid murid yang melintas berpikiran bahwa Kaguya memiliki hubungan khusus dengannya terlebih ekspresi wajah Kaguya yang bahagia semakin mengisyaratkan bahwa ada sesuatu di antara mereka.
"Permisi.." kata Naruto masuk ke dalam kelas D.
Dia segera mencari Kyuubi, Samui dan Gaara di dalam kelas D, dan dia menemukan mereka bertiga sedang duduk di sudut kelas sambil membicarakan sesuatu. 'Syukurlah mereka bertiga ada disini..'
"N-Naruto-kun? Kau kah itu?" tanya Kyuubi tidak percaya kalau Naruto datang ke kelasnya. Dia segera berdiri secepat mungkin, meski akhirnya dia kecewa begitu melihat seorang gadis yang muncul di belakang Naruto.
"Hai, Kyuubi.." sapa Kaguya.
Kyuubi langsung mengubah ekspresinya menjadi ekspresi datar yang kesal akan kehadiran Kaguya. "A-Ah.. hai, Kaguya.."
Setelah cukup lama dia dan Kaguya saling memberikan tatapan sengit, akhirnya dia menanyakan tujuan Naruto. "Jadi, ada apa hingga kau datang ke kelasku, Naruto-kun? Apa kau mencari seseorang?" tanya Kyuubi dengan tingkah lakunya yang berniat mencari perhatian Naruto.
"Hmm, sebenarnya aku mencarimu, Senju-san." jawab Naruto terus terang.
Ekspresi Kyuubi langsung berubah seketika, awalnya dia terkejut… namun setelah melihat mimik wajah Kaguya yang kesal, dia jadi semakin bersemangat. "K-Kau datang kemari mencariku, N-Naruto-kun?" tanya Kyuubi dengan penuh harap.
"Ha~.. Sebenarnya aku ingin minta bantuan darimu, Senju-san."
Tiba tiba kalimat Naruto terpotong ketika jari telunjuk Kyuubi menyentuh bibirnya. Naruto lantas terkejut dengan perbuatan gadis itu yang dilakukannya tiba tiba. "Tolong jangan panggil aku dengan nama keluargaku~.. panggil namaku, Naruto-kun~…" kata Kyuubi dengan nada dan sedikit desahan yang begitu menggairahkan.
Amarah Kaguya semakin memuncak ketika Kyuubi berani melakukan hal barusan kepada Naruto. Sedangkan Naruto sendiri hanya menunjukkan wajah datar yang tak terpengaruh sama sekali dengan tingkah gadis di hadapannya. "Baiklah, Kyuubi-san.. tapi setidaknya biarkan aku selesaikan kalimatku.."
"Baik.. Jadi apa tujuanmu mencariku, Naruto-kun?"
"Aku ingin meminta bantuanmu demi rencanaku untuk menangkap Kakuzu…"
Kaguya dan Kyuubi terkejut mendengarnya bahkan Gaara dan Samui yang sejak tadi acuh tak acuh pun ikut terkejut mendengarnya. Tak lama kemudian, Kyuubi menaikkan kedua alisnya sambil bertanya, "Kau memiliki rencana untuk menangkap Kakuzu, Naruto-kun?"
"Ya, begitulah.."
"Kenapa kau tidak meminta tolong Dewan Siswa atau setidaknya memberitahu mereka dulu tentang rencanamu?" tanya Kyuubi.
Naruto kini yang menaikkan kedua alisnya. "Darimana kau tahu aku tidak memberitahu nya kepada Dewan Siswa?" tanya Naruto.
"Aku ini tidaklah bodoh, Naruto-kun.. Jika kau memiliki rencana ini sejak kemarin, kau pasti sudah memberitahukan kepada Dewan Siswa sejak kemarin atau meminta bantuanku kemarin.. Itu artinya kau baru terpikir sekarang dan istirahat masih baru saja.. tapi kau tidak pergi ke Dewan Siswa dan malah pergi meminta bantuan dariku," jawab Kyuubi yang dijawab sebuah senyuman dari Naruto.
'Hmm.. Gadis ini ternyata boleh juga..'
"Kau benar… Jadi bagaimana? Apa kalian mau mendengarkan atau tidak?" tanya Naruto tak hanya kepada Kyuubi namun juga kepada Samui dan Gaara.
Samui dan Gaara yang sejak tadi mengamati sontak bingung dengan pertanyaan Naruto. "Kami juga?"
"Tentu saja.. Aku membutuhkan bantuan kalian berdua demi rencanaku menangkap Kakuzu,"
Gaara dan Samui terlihat kembali berpikir sebelum menyetujui permintaan Naruto. "Apa yang kami dapat dengan membantumu menangkap Kakuzu?" tanya Samui kali ini.
Naruto tak memikirkan hal itu sebelumnya, dia mengira akan mudah meminta bantuan mereka berdua jika dirinya mengajak Kyuubi namun ternyata dia salah. Dia harus tau apa timbal balik untuk mereka yang sudah membantunya menangkap Kakuzu. "Bagaimana kalau.. kalian bisa dapat seluruh perhatian dan penghargaan kalau kalian lah yang menangkap Kakuzu?"
Samui mengernyitkan alisnya bingung dengan tawaran Naruto.
"Tunggu, Naruto-kun! Jika kau memberikan mereka penghargaan atas penangkapannya lalu apa yang kau dapat?" tanya Kaguya yang berdiri di samping Naruto.
Naruto hanya menghela nafas. "Aku tidak membutuhkan apapun… Tujuanku hanya ingin menangkap Kakuzu, hanya sebatas itu.. Aku tidak peduli jika bukan aku yang dianggap menangkapnya.."
Samui dan Gaara yang mendengarnya kemudian tersenyum dingin kepada Naruto sebelum akhirnya mereka menyetujui untuk bekerja sama dengan Naruto. "Baiklah, kami akan mendengarkan.." jawab Samui.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Salah satu sudut Akademi yang jarang dikunjungi oleh murid murid Akademi.
Tempat itu adalah sebuah taman di bagian belakang Akademi yang mana sangat jarang bagi siswa dan siswi Akademi menggunakan taman tersebut. Mereka yang menggunakannya hanyalah para murid yang ingin menyendiri atau memang sedang ingin merenung disana. Kini Gaara dan Samui tengah berdua disana seperti sepasang kekasih. Semua ini adalah bagian dari rencana Naruto untuk memancing Kakuzu keluar. "Kenapa Naruto sangat yakin tempat seperti inilah yang akan menjadi sasaran Kakuzu?" tanya Samui kepada Gaara yang bersamanya.
"Tempat tempat ramai seperti cafeteria dan taman depan tidaklah cocok menjadi tempat Kakuzu beraksi, karena banyak murid dan banyak yang melihat disana.. Justru tempat seperti inilah yang cocok untuk Kakuzu bertindak. Naruto berniat menjadikan kita sebagai umpan disini," jawab Gaara.
"Jadi begitu… Kita membutuhkan umpan untuk menangkap mangsa," kata Samui.
"Bukankah kita yang menjadi mangsa dari buronan itu? Aku memiliki elemen angin dan kau pengguna elemen petir, kita memang umpan untuk memancingnya keluar.. tapi saat ini bisa dikatakan kalau kita adalah mangsanya," kata Gaara yang tidak setuju dengan pernyataan Samui barusan.
"Kenapa? Kau takut?"
"Hmm.. Maaf saja.."
Gaara dan Samui masih dengan posisi mereka saat ini yang duduk bersebelahan di sebuah kursi di taman tersebut. Mereka memang tak begitu meyakinkan untuk disebut sebagai sepasang kekasih dalam peran yang mereka jalani saat ini. Namun melihat dari jauh, siapapun pasti mengira kalau mereka sedang bermesraan apalagi mereka hanya berdua disana. "Aku masih belum merasakan hawa kehadiran yang aneh dengan elemen pasir dan elemen anginku.."
Ucap Gaara sembari menggerakkan tangannya untuk mengatur elemen pasirnya bergerak ke beberapa tempat yang dia curigai tanpa diketahui oleh Kakuzu yang mungkin sedang mengintai mereka berdua disana.
"Hmm.. Ada satu hal lagi yang menggangguku.." kata Samui sambil melihat keadaan sekitar.
Gaara tanpa mengurangi penjagaannya ke sekitar mulai mendengar apa yang akan di tanyakan Samui kepadanya. "Bagaimana cara Kakuzu bisa tahu bahwa targetnya adalah pengguna [Elemental Magic]..?"
"Aku juga tadi memikirkan pertanyaan yang sama…, kurasa dia memiliki semacam kekuatan atau penglihatan yang memungkinkan baginya untuk mengetahui apakah targetnya memiliki [Elemental Magic].."
Mereka sejujurnya sudah cukup bosan untuk menunggu. Sudah cukup lama mereka duduk disana, bahkan sebentar lagi jam istirahat akan selesai namun Kakuzu sama sekali tak menunjukkan tanda tanda kalau dirinya akan muncul disana. Gaara dan Samui tampaknya juga sudah mengurangi penjagaan mereka dan bersiap untuk kembali ke kelas. "Dia masih belum datang,"
"Aku ragu kalau dia akan datang sekarang.. Kurasa dia tidak mengincar tempat ini.."
Kata Gaara berdiri dari kursi panjang yang didudukinya bersama Samui kemudian menoleh ke samping kanan dan kiri.
"Aku sedikit kecewa dengan si pirang itu.. Kukira dia lebih pintar atau memiliki banyak pertimbangan, ternyata aku salah.."
Gaara dan Samui akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas tepat sebelum bel tanda berakhirnya istirahat berbunyi, namun mereka dikejutkan oleh sebuah suara langkah kaki yang tiba tiba saja muncul di belakang mereka berdua.
TAP TAP TAP TAP
"Apa aku mengganggu kalian?"
Gaara dan Samui langsung membalikkan tubuh mereka. Mereka berdua terkejut begitu menemukan seseorang berpenampilan aneh yang memakai masker serta pakaian hitam sepenuhnya. Mereka berdua langsung memasang lingkaran sihir untuk menyerang dan bertahan sekaligus. "Siapa kau? Sedang apa kau disini dan kenapa kau muncul tiba tiba?"
Orang itu hanya mendengus lalu berkata, "Hmm.. Apa perlu ditanyakan lagi siapa diriku dan tujuanku berhadapan dengan kalian?"
Gaara mengerutkan keningnya lalu mengeluarkan elemen pasir dengan jumlah yang cukup besar di sekitar dirinya dan Samui. "Ternyata benar…"
Pasir pasir Gaara yang semula hanya mengelilingi mereka berdua kemudian membentuk semacam pertahanan dari berbagai arah. "Pengguna elemen pasir dan elemen angin.. Lalu gadis cantik itu, dia pengguna elemen petir.. Betapa beruntungnya diriku karena [Elemental Magic] kalian diatas rata rata orang orang biasa,"
"[Lightning Strike]!"
Samui mengangkat tangan kanannya ke depan dengan posisi telapak tangan menghadap Kakuzu. Seketika lingkaran sihir terbentuk dan keluar sihir elemen petir dasar dari dalam lingkaran sihir tersebut. Kakuzu yang menjadi target serangan tersebut, langsung berlari menghindari serangan Samui kemudian dia melompat ke atas benteng pertahanan pasir yang dibentuk oleh Gaara sambil mengeluarkan sebuah lingkaran sihir elemen api.
"Biar kubakar kalian berdua disini.."
"[Burning Explosion]!"
BWOOOOSSHHHH
Gaara memusatkan semua pertahanan pasirnya dalam satu titik serangan yang dilepaskan oleh Kakuzu. Dia meringis kesakitan ketika menerima sedikit serangan elemen api Kakuzu yang begitu kuat, namun dia bisa menghentikannya. Kemudian dia kembali menoleh ke samping begitu firasatnya mengatakan sesuatu yang berbahaya, dia melebarkan matanya melihat sebuah sosok hitam besar bertopeng aneh yang mengeluarkan lingkaran sihir elemen petir. 'Sialan!'
BZZZT BZZZT
BLARRRR
Kilatan petir yang dilepaskan oleh makhluk hitam aneh itu menghantam tempat pijakan Gaara dengan kuat hingga menyebabkan tanah yang dipijaknya hancur. Beruntungnya dia sempat menghindarinya dengan elemen pasirnya sambil membawa Samui. "Pergerakan yang sangat bagus.. Kukira tadinya pertarungan ini tidak akan berlangsung lebih dari 10 detik.."
Samui dan Gaara tersenyum sambil merasakan sakit. Keduanya tampak cukup kelelahan meski baru 10 detik awal menghadapi Kakuzu. "Kau terlalu meremehkan siswa dan siswi Akademi Aincrad.."
Gaara berucap selagi dirinya menatap ke arah Kakuzu yang sedang sibuk mengeluarkan hawa hitam aneh dari tubuhnya. Iris biru Samui menajam ketika dia melihat sesosok makhluk hitam keluar dari dalam tubuh Kakuzu. Bentuknya hampir sama dengan makhluk hitam lainnya yang tadi menyerang mereka dengan elemen petir, hanya saja yang kali ini lebih pendek. Lalu Samui mengeluarkan sebuah pedang kecil dari dalam lingkaran sihir penyimpanannya.
"Kau akan bermain pedang?"
Tanya Gaara tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Samui dan masih bersiaga dengan serangan Kakuzu yang berikutnya. Setidaknya mereka harus menahannya sebentar lagi hingga Naruto, Kaguya dan Kyuubi datang membawa bala bantuan.
"Tak usah lindungi aku.. prioritaskan saja untuk menyerangnya, aku bisa melindungi diriku sendiri..,"
Kata Samui mengambil kuda kuda dengan pedang kecil yang dia gunakan sebagai senjata utamanya. Dia kemudian mengalirkan elemen petir ke pedangnya untuk mempertajam dan memperkuat pedang yang ia gunakan. Kakuzu yang memperhatikan hal tersebut menjadi sedikit antusias dengan teknik teknik elemen petir milik Samui.
"Kita akan membagi serangan! Pancing gerakannya dengan menggunakan elemen pasir mu dan akan kuhabisi dia dengan elemen petirku!" kata Samui menoleh ke arah Gaara.
"Bagaimana dengan makhluk hitam yang bersamanya?"
Tanya Gaara melirik ke arah dua makhluk hitam aneh yang tadi keluar dari bagian belakang tubuh Kakuzu.
"Jangan khawatirkan itu… Kita habisi saja Kakuzu dan aku yakin kedua makhluk itu juga akan menghilang!"
"Aku mengerti…"
BAAATTTTSSS
Samui bergerak cepat dengan bantuan elemen petir yang dia gunakan. Kakuzu yang melihat pergerakan tiba tiba dari Samui barusan, segera mengontrol kedua makhluk hitam yang bersamanya itu. Kedua makhluk itu langsung berdiri di hadapan Samui dan menghadangnya untuk bergerak semakin dekat dengan Kakuzu.
"[Blue Lightning Sharp, Vertical Slash]"
Samui memberikan tebasan vertikal kepada kedua makhluk itu namun nampaknya tebasan itu sama sekali belum mempan untuk menghancurkan keduanya. Melihat kesempatannya terbuka lebar, Kakuzu segera mengontrol kembali salah satu makhluk hitam yang lebih pendek. Sekali lagi, makhluk hitam itu mengeluarkan lingkaran sihir elemen api tepat di hadapan Samui.
"Tidak akan semudah itu… [Absolute Defense, Sand Wall]"
Gaara mengangkat kedua tangannya dan menciptakan sebuah lingkaran sihir. Pasir pasirnya kemudian segera mengelilingi Samui membentuk semacam tembok pasir yang akan menjaga Samui di dalamnya. Merasakan serangannya takkan berbuah banyak karena dinding pasir tersebut, Kakuzu kembali mengaktifkan sebuah lingkaran sihir dengan satu tangannya.
"Pasirmu akan kulenyapkan… [Water Cannon]!"
Seketika muncul meriam air dalam jumlah banyak dari lingkaran sihir yang diciptakan oleh Kakuzu. Meriam air itu menghantam pasir pasir Gaara hingga menyebabkan dinding pasir Gaara pun tak dapat melindungi Samui. "Sialan…"
"Kami belum selesai!"
Dari dalam dinding pasir yang sudah lenyap itu, Samui sudah menyiapkan dua lingkaran sihir elemen petir yang siap untuk diaktifkan. Suara gemuruh keluar dari dalam dua lingkaran sihir tersebut, listriknya menyengat ke berbagai sudut di daerah tersebut. Kakuzu bahkan sudah bersiaga dengan satu makhluk hitam yang berjaga di depannya untuk menerima serangan Samui. Sedangkan satu lagi makhluk hitam yang lainnya masih dengan posisinya memasang lingkaran sihir elemen api.
"[Blue Bolt Lightning]!"
BLAAARRRRRR
Yang barusan terdengar adalah suara sihir elemen petir milik Samui yang menghantam makhluk hitam yang berjaga di hadapan Kakuzu. Sedangkan makhluk hitam yang lainnya sudah siap melepaskan sihirnya kepada Samui. Melihatnya, Gaara segera berlari ke arah Samui sembari menyelimuti tangannya dengan elemen pasir miliknya. Elemen pasirnya terkumpul semakin banyak di tangannya sebelum akhirnya dia melepaskannya ke arah satu makhluk hitam yang tersisa. "[Sand Rebellion]!"
Menyadari serangan Gaara, Kakuzu segera mengubah haluan serangannya dari Samui menjadi Gaara. Elemen api yang keluar dari lingkaran sihir makhluk hitam itu kemudian membentuk semacam cincin api berdiameter dua setengah meter yang langsung dilepaskan ke arah serangan Gaara. Kedua serangan berbenturan mengakibatkan sebuah ledakan yang bahkan terdengar ke beberapa sudut sekolah paling dekat dengan area tersebut.
BLAAARRRR
BWOOOOOOSSSHHH
"Hosh.. hosh.. hosh.."
Gaara dan Samui cukup banyak mengeluarkan keringat untuk pertarungan ini. Meski belum ada lima menit sejak pertarungan dimulai, mereka sudah bisa merasakan stamina mereka habis karena harus berhadapan dengan Kakuzu. Jika mereka harus menunggu lebih lama lagi, sudah dipastikan bahwa Kakuzu akan membunuh mereka dan mengambil jantung mereka berdua. "Ini gawat.. Kita terpojok…"
"Aku tahu… tapi setidaknya kita harus menunggu si pirang, Otsutsuki-san dan Senju-san datang menolong kita," kata Samui meringis kesakitan sambil memegangi telapak tangan kanannya dengan tangan kiri.
Gaara melihat kedua telapak tangannya yang penuh keringat lalu menatap ke arah Kakuzu dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Kemudian mengepalkan tangannya kuat. "Jika kita kehabisan [Mana] disini, setidaknya kita masih bisa bertarung dengan kekuatan fisik melawannya!"
Ucap Gaara sambil melemparkan pedang kecil Samui yang terjatuh kepada Samui. Samui menangkapnya sambil tersenyum kemudian matanya kembali terfokus kepada lawan di hadapannya. "Kau benar…"
"Akan kumulai…" ucap Gaara yang meski kelelahan, dia mencoba berlari menghindari segala serangan sihir elemen api dasar yang ditujukan kepadanya. Kakuzu yang merasa tertantang pun juga terlihat berniat menyerang Gaara dengan kekuatan fisik. Dia segera mengembalikan dua makhluk hitam pengguna elemen petir dan elemen api yang tadi melindunginya dari serangan Samui kembali ke dalam tubuhnya kemudian dia berlari ke arah Gaara sambil menatap tajam ke arahnya.
Gaara memberikan pukulan ke arah wajah Kakuzu dengan tangan kanannya, namun Kakuzu berhasil menepisnya dengan mudah. Melihat arah gerakan Kakuzu yang mengincar perutnya, dengan tenaga yang tersisa dia kembali mengaktifkan elemen pasir sebagai perisai sederhananya.
BUGH
Suara pukulan Kakuzu yang dihentikan elemen pasir Gaara. Tanpa disadari oleh Kakuzu, tangannya tertangkap oleh elemen pasir Gaara yang menyebabkan dirinya tak bisa bergerak dari tanah pijakannya. "Jangan pernah meremehkan Akademi Aincrad!"
Ucap Gaara memberikan pukulan dengan tangan kirinya yang langsung menghantam wajah bagian kanan Kakuzu dengan cukup keras.
"Urgghhh.." rintih Kakuzu yang tidak bisa bergerak dari pijakannya karena tangannya yang tertahan.
"Ini belum selesai!"
Ternyata Samui sudah melompat di atas Gaara kemudian melewatinya sambil memegang pedang kecilnya dengan posisi ujung pedangnya mengarah ke bawah tepat pada bagian kepala Kakuzu. Dia kemudian memberikan sedikit lapisan elemen petir pada pedangnya untuk menambah penetrasi dari tusukannya namun tak disangka oleh keduanya, Kakuzu memutus tangan kanannya yang terjerat elemen pasir milik Gaara, kemudian menghindar ke belakang sambil mengaktifkan lingkaran sihir elemen api dan elemen petir bersamaan. 'Celaka!'
Gaara dan Samui panik karena posisi ini sangat tidak menguntungkan bagi mereka berdua. Samui yang gagal dengan tusukannya tentu berada di depan Gaara saat ini, sedangkan Gaara yang ada dibelakangnya bahkan tidak sempat mengaktifkan sihir elemen pasirnya untuk membentuk pertahanan. Mereka benar benar tidak menyangka bahwa tangan kanan Kakuzu bisa terlepas begitu saja. Dan ketika mereka melihat ke arah tangan kanan Kakuzu, mereka baru tersadar kalau tubuh dan tangan Kakuzu hanya tersambung dengan media benang tanpa adanya saluran darah di dalamnya.
"Kalian berdua… Cukup sampai disini permainan kita!"
Ucap Kakuzu sebelum melepaskan kedua sihirnya.
BAAATTSS
Tiba tiba saja, tepat sebelum sihir tersebut di aktifkan, seseorang meraih tangan kiri Kakuzu yang sedang mempertahankan lingkaran sihirnya kemudian menariknya ke belakang. Gaara dan Samui tentu saja terkejut tapi Kakuzu lebih terkejut begitu menemukan bahwa orang yang berdiri di belakangnya sudah bersiap memukulnya dengan semacam benda aneh di tangannya. Melihat keberadaan orang itu, Gaara dan Samui langsung melebarkan matanya begitu pula dengan Kakuzu yang melihat sekilas sinar hijau yang keluar dari benda aneh di tangan laki laki tersebut.
"TERIMA INI, BRENGSEK!"
[BOOOOOSSSSTTTT]
BUUUUUMMMMMMMM
.
.
"Uaaaaakkkhhhh!"
Kakuzu terlempar sangat jauh sebelum akhirnya tubuhnya menghantam keras ke dinding batas wilayah Akademi hingga menyebabkan dinding setebal satu meter itu hancur pada sudut dimana Kakuzu terhantam. Sedangkan itu Gaara dan Samui langsung roboh terduduk di tanah sambil meringis kesakitan melihat Kakuzu yang sudah dikalahkan. Tubuh keduanya seakan merasakan kelelahan yang luar biasa, mental mereka juga terasa sangat diuji dalam pertarungan ini apalagi mereka hampir mati jika bukan karena laki laki yang tiba tiba datang menolong mereka ini.
Laki laki yang barusan memukul Kakuzu itu langsung menoleh ke arah Samui dan Gaara lalu memberikan tangannya untuk digapai oleh keduanya.
"Kalian berdua tidak apa apa?"
Tanya laki laki itu. Gaara menepuk nepukkan baju bagian depannya untuk membersihkan pasir kemudian dia segera menoleh ke arah pria tersebut. Namun baru saja Gaara akan meraih tangan laki laki tersebut, dia langsung menatap aneh ke arah wajah laki laki itu.
"Ah.. aku sungguh kelelahan.." ucap Samui sambil memegang kepalanya dengan tangan kirinya.
Laki laki itu menatap ke arah lain… Gaara yang mengikuti arah tatapan laki laki itu kemudian berhenti kepada satu titik yaitu… bagian dada Samui. Ya… laki laki itu tengah menatap mesum ke arah payudara Samui, bisa terlihat dari ekspresi nya yang benar benar mesum saat ini. "Hmmm…"
Gaara hanya menghela nafas santai lalu berdiri sambil membantu gadis di sebelahnya berdiri. "Bisa kau hentikan menatap bagian dada gadis ini?" kata Gaara dengan tatapan datar kepada laki laki di hadapannya.
"E-Eh!?"
Laki laki tersebut langsung merubah ekspresinya. Dia nampak sedikit terkejut ketika mengetahui kalau Gaara tahu apa yang sedang diperhatikannya.
"Hmm?"
Samui terlihat berpikir dan mengingat ingat begitu melihat wajah laki laki yang barusan menolongnya. "Hmm.. Bukankah kau adalah murid perwakilan dari Akademi Kuou itu? Yang kemarin sempat bertengkar dengan si pirang Naruto kan?" tanya Samui sambil menunjuk laki laki tersebut.
"Etto? Si pirang Naruto?"
Tanya laki laki tersebut sambil mengingat ingat kejadian kemarin. Kemudian dia teringat kalau kemarin dia sempat bertengkar dengan laki laki pirang itu.
"Ah, jadi namanya Naruto!"
Gaara kemudian melihat ke sekitar nya lalu menoleh ke arah Kakuzu yang nampaknya sudah tak berdaya. Setelah itu, tatapannya kembali dia fokuskan kepada laki laki di hadapannya. "Hm, kau sendiri.. Hyoudou Issei, perwakilan dari Akademi Kuou.. Kau adalah pemilik artefak kuno [Longinus] yang menyimpan jiwa dan kekuatan [Red Dragon Emperor] di dalamnya, yaitu [Boosted Gear]."
Ucap Gaara menyebutkan dan menjelaskan identitas laki laki di hadapannya. Issei hanya tersenyum mendengarnya kemudian menjawab, "Ya, tepat sekali.." sambil menggaruk kepalanya.
"Kenapa kau bisa ada disini..?"
Tanya Gaara melirik ke sekitar dan tak menemukan siapapun yang bersamanya.
"Hmm.. Aku tiba tiba saja diperintah oleh si pirang bernama Naruto itu ketika kami bertemu di lorong untuk datang kesini dan membantu kalian yang katanya sedang berhadapan dengan Kakuzu," jawab Issei sambil mengingat ingat pertemuannya dengan Naruto di lorong tadi.
"Jadi dimana Naruto hingga bukan dia sendiri yang datang kesini tapi malah kau yang datang kesini?" tanya Gaara.
Lalu tiba tiba saja tiga orang yang mereka kenal jatuh dari atap sambil membawa semacam benda hitam. "Aku disini…"
Dia adalah Naruto.. dan kedua orang lainnya adalah Kaguya dan Kyuubi. Gaara dan Samui langsung secara otomatis mengalihkan pandangan mereka kepada benda yang dibawa oleh Naruto sekarang. Benda itu merupakan bagian atas dari makhluk hitam yang sama persis dengan yang mereka lawan tadi.
"Maaf aku terlambat, tapi aku sudah menyuruh Hyoudou untuk datang kesini. Tadi aku merasakan energy lain yang datang dari arah yang berbeda jadi aku meminta Hyoudou untuk datang kemari membantu kalian, lalu begitu kuperiksa energy aneh itu yang datang dari arah yang berbeda, kami sudah berhadapan dengan tiga makhluk pengguna elemen air, tanah dan angin ini,"
Ucap Naruto menunjukkan bagian atas dari tiga makhluk hitam itu. "Apa kalian baik baik saja?" tanya Kyuubi khawatir.
"Kami baik baik saja…" jawab Samui tersenyum kepada Kyuubi.
Melihat keadaan keduanya yang nampaknya tak begitu parah, Naruto mengalihkan pandangannya kepada Issei. "Terima kasih, Hyoudou.." ucap Naruto sambil menepuk bahu Issei.
"Ah.. Bukan masalah besar,"
Naruto kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kakuzu yang nampaknya sudah tak berdaya lagi jika dilihat dari jauh. "Hmm.. jadi apa kalian tahu sesuatu mengenai makhluk hitam aneh ini saat bertarung melawan Kakuzu?" tanya Naruto kepada Samui dan Gaara.
Gaara berjalan mendekat dengan satu kaki yang terluka. Bisa dilihat dari cara berjalannya yang sedikit pincang kemudian dia menyentuh 3 makhluk hitam yang dibawa oleh Naruto. "Makhluk ini adalah bagian tubuh Kakuzu… Dari analisaku, masing masing makhluk membawa satu elemen yang dimiliki oleh Kakuzu. Dan kurasa tiga makhluk ini juga merupakan bagian dari jantung kehidupan Kakuzu sendiri," jawab Gaara yang menjelaskan analisanya sambil melihat ke arah Kakuzu.
"Ba-Bagian jantung?" tanya Kyuubi dan Kaguya yang kemudian melihat ke arah tiga makhluk yang dibawa Naruto dengan tatapan jijik.
"Hmm, jadi begitu.. Ini masuk akal.." kata Naruto menatap ketiga makhluk yang dibawanya.
Naruto mungkin sudah bisa menarik kesimpulan dari kekuatan yang digunakan oleh Kakuzu. Dia juga sudah melihat tangan kanan Kakuzu yang tergeletak di tanah dan melihat dari jauh bagian bagian tubuh Kakuzu. Tubuh tubuh Kakuzu hanya tersambung kan dengan benang hitam aneh yang dia produksi, dengan kemampuan aneh benang tersebut, dia dapat menyambungkan jantung jantungnya ke dalam satu tubuh. Tubuhnya sendiri juga tak terdiri dari banyak organ. Dengan begitu, dia bisa hidup sangat lama menggunakan jantung jantung yang dia curi dari korban korbannya serta menambah kekuatan [Elemental Magic] nya.
"Kalau begitu.. Mungkin kesimpulannya sudah bisa kuungkap dengan adanya jasad serta buktinya…"
Dan ketika semuanya terdengar seperti telah selesai, Tiba tiba saja Ultear dan Ulquiorra datang sambil membawa makhluk hitam lagi yang sangat mirip dengan makhluk hitam yang dibawa Naruto dan yang dilawan oleh Gaara bersama Samui tadi. "Hah~.. Ada apa lagi ini?" tanya Samui mengeluh begitu melihat benda yang dibawa Ulquiorra.
"Ada apa?" tanya Naruto kepada Ulquiorra dan Ultear yang baru saja tiba disana.
"Naruto… Kami menemukan satu makhluk hitam aneh ini ketika kami sedang mencarimu.. Dia memiliki elemen petir dan memiliki kekuatan bertempur yang sanggup membunuh seseorang. Jadi kami membawanya kesini untuk kau lihat, mungkin saja ini ada hubungannya dengan…," ucapan Ultear terpotong ketika Ulquiorra menyentuh bahunya dan menunjuk ke arah Naruto. Kemudian Ultear melihat apa yang dibawa Naruto saat ini. Benda yang dibawa Naruto terlihat sangat mirip dengan makhluk yang baru saja dikalahkan olehnya dan Ulquiorra.
Naruto terlihat kembali berpikir mengenai kesimpulannya. "Bukankah kau tadi bilang bahwa masing masing makhluk hitam yang merupakan jantung Kakuzu membawa masing masing satu elemen?" tanya Naruto kepada Gaara. Namun Gaara nampaknya juga terlihat bingung dengan makhluk yang dibawa oleh Ultear dan Ulquiorra.
"Ya.. Lagipula aku dan Samui tadi jelas yakin bahwa kami berhadapan dengan makhluk pengguna elemen petir dan elemen api, tapi kenapa mereka berdua datang kesini membawa bangkai makhluk hitam itu sambil mengatakan bahwa yang mereka lawan adalah makhluk pengguna elemen petir?" tanya Gaara kembali memikirkannya dengan ekspresi bingung. "Tunggu, sebelumnya dia juga menggunakan elemen air saat mematahkan dinding pasir-!"
Lalu ketika Gaara menoleh ke arah Kakuzu, dia terkejut…
Naruto, Kaguya, Kyuubi, Issei, Ultear, Ulquiorra dan Samui juga sama terkejutnya dengan Gaara begitu mereka ikut melihat keadaan Kakuzu. Jasad dari pria yang telah mereka lawan, dan pria yang merupakan tersangka pencurian jantung para penyihir [Elemental Magic] telah hilang dari tempat itu.
"Dia kabur…" ucap Ulquiorra pelan.
Mereka semua terdiam beberapa saat memandangi tempat Kakuzu jatuh tak berdaya tadi. Tak mereka sangka kalau turunnya pengawasan mereka mengakibatkan Kakuzu dapat melarikan diri tanpa diketahui.
"Hah~…"
Naruto menghela nafas sedikit panik meski wajahnya tetap terlihat dingin. "Hyoudou…" panggil Naruto kepada Issei.
"A-Ada apa?" tanya Issei yang masih terkejut.
Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari tempat Kakuzu tadi kembali bertanya, "Berapa jumlah total jantung yang telah dicuri oleh Kakuzu?"
Mendengar pertanyaan itu, Issei sontak terkejut dan kembali mengingat ingat data yang diberikan oleh Rias kepadanya. "Hmm.. Yang dilaporkan ada 7 jumlahnya di Kerajaan Kuou dan 4 dari 7 jantung tersebut adalah jantung dari murid Akademi Kuou.. seperti yang ada di data kemarin, sedangkan sebenarnya masih ada 3 kasus lagi pencurian jantung yang belum terdata di Kuou.."
Jawab Issei menjelaskan jumlah sebenarnya dari jantung yang diambil oleh Kakuzu.
"Dengan ditambahnya korban kejadian kemarin saat penyihir dari Satuan Penyihir Keamanan Kerajaan tewas, total ada 11 jantung yang harusnya dimiliki oleh Kakuzu.. Dikurangi dengan 3 makhluk yang aku, Kaguya dan Kyuubi bunuh lalu 1 lagi yang dibunuh oleh Ultear dan Ulquiorra. Artinya dia masih memiliki 7 jantung lagi jika Gaara dan Samui tadi tak berhasil menghancurkan sepenuhnya 2 makhluk yang mereka lawan."
Jelas Naruto sambil menajamkan matanya menatap sesuatu yang tidak jelas. "Aku yakin sebenarnya ada jauh lebih banyak jantung yang sudah dia kumpulkan sebelumnya…"
Naruto membalikkan tubuhnya menghadap Ulquiorra, Ultear, Gaara, Samui, Kaguya, Kyuubi dan Issei. Dia terdiam sesaat memandangi mereka dan tak satu pun juga dari mereka yang mampu melontarkan pendapat. Lalu setelah berpikir cukup lama dia kembali menyatakan,
"Hari ini mungkin bisa menjadi hari pertempuran antara Kakuzu melawan Akademi Aincrad.."
TBC
.
.
Halo, para reader.. saya kembali dengan 6000 word.. wuih mampus mampus dah lu bacanya. Ane susah banget mau bikin chap dengan 6000 word gak kek dulu lagi yang rasanya semangat pas update WFTH.. Ane kerjain ini 4 jam nonstop sambil mikir nyari ide dari pagi (Untung ane udah libur abis ujian) jadi maaf klo ada typo karena ane ngebut berusaha update (#Sad). Untuk jadwal update ane selanjutnya mungkin ane bakal ngelanjutin ini lagi karena aku lagi buntu ide buat ngerjain WFTH. Dan kemaren juga ada yang nanyain apa aku akan update Lord of Apocalypse atau tidak? Jawabannya belum… bukan tidak.. Nunggu salah satu dari WFTH atau SOR tamat dulu. (Tamatnya masih lama -_-).
Update selanjutnya mungkin hmm.. hari jumat atau sabtu kali.
See you in next chap
Jangan lupa tinggalkan review! Biar ane tambah semangat ngerjainnya!
